• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Suma

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Suma"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

Menurut kosmologi masyarakat Rimba, dunia terbagi menjadi dua, yaitu dunia masyarakat Rimba dan dunia luar yang ditempati oleh bangsa Melayu (Terang). Artikel ini berisi uraian tentang kelompok etnis yang dikenal sebagai Orang Rimba (Orang Hutan), yang merupakan pemburu dan pengumpul nomaden dan tinggal di hutan di Jambi, Sumatra.

ORGANISASI SOSIAL DAN KEBUDAYAAN KELOMPOK MINORITAS INDONESIA

PENDAHULAN

Latar Belakang Permasalahan

Dalam tulisan ini, beberapa data dari suku tetangga masyarakat Rimba yaitu suku Batin Sembilan digunakan sebagai bahan studi banding, karena terdapat beberapa ciri yang berkaitan dengan kebudayaan masyarakat Rimba. Hal ini berdampak drastis terhadap penghidupan, kehidupan sosial dan aspek kehidupan masyarakat Rimba lainnya.

Perumusan Masalah

Sejak dahulu kala, masyarakat buta huruf disamakan dengan masyarakat terbelakang, karena struktur masyarakat tradisional sangat sederhana dibandingkan masyarakat pasca-tradisional. Tampaknya untuk memenuhi kebutuhan material masyarakat pasca-tradisional, perlu adanya akses terhadap hasil-hasil alam yang terletak di wilayah adat adat.

Maksud, Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Misalnya, kelompok ketiga yang benar-benar putus asa terlihat meminta uang di pinggir jalan utama. Di Indonesia, keberagaman penduduk terkadang menjadi penyebab kesalahpahaman yang berujung pada cepatnya gesekan antar kelompok.

Tinjauan Pustaka

Penggunaan teknik dan organisasi canggih yang dijelaskan di atas menyebabkan perubahan struktural sosial dalam masyarakat, perubahan peran keluarga, kepercayaan dan stratifikasi masyarakat pada peradaban pasca-tradisional. Kekuasaan keluarga inti masyarakat pascatradisional (nuclear family) dan sistem kekerabatan luas (extender kinship system) terhadap individu tidak sekuat kekuasaan masyarakat tradisional.

Landasan Teori

Keinginan untuk mengkaji konstruksi sosial budaya mengenai latar belakang aturan normatif juga diteliti oleh Claude Lévi-Strauss (1908-. Totemisme menurut Lévi-Strauss adalah dengan menggunakan konsep-konsep yang terdapat pada lingkungan alam sekitar manusia.

Metode Penelitian

Umumnya, ketika etnis minoritas memasuki masyarakat pasca-tradisional, mereka menjadi bagian dari masyarakat lapisan bawah. Sama halnya dengan hilangnya spesies flora dan fauna, keanekaragaman budaya juga terancam oleh aktivitas dan norma masyarakat pascatradisional yang sebenarnya cara hidupnya jauh lebih sempurna.

Persiapan Studi Lapangan

Literatur dan opini yang diterima mengenai kondisi masyarakat Rimba berkisar dari opini progresif, radikal, hingga konservatif. Seorang ahli Orang Rimba yang beberapa kali fasih berbahasa mereka melakukan penelitian dan menyatakan bahwa pengamat pertama seperti van Dongen dan van Hagen sebenarnya tidak mengamati bahwa setidaknya ada dua kelompok atau lebih yang meskipun gaya hidup mereka mirip dengan Orang Rimba lainnya. , sebenarnya berbeda.

Lokasi Studi Lapangan

Ketua kelompok Tarib dan Bering Pak Gera yang kelompoknya tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas. Hal ini menyebabkan pertemuan dengan kelompok Batin Sembilan di dekat Muara Bulian hanya beberapa hari dan sebagian besar studi lapangan dilakukan di lokasi Bukit Dua Belas. Secara administratif Bukit Dua Belas yang mempunyai luas kurang lebih 60.500 hektar ini terletak di empat kabupaten yaitu Batanghari, Sarolangun, Merangin dan Tebo.

Di Taman Nasional Bukit Duabelas terdapat 3 kawasan besar yaitu gugusan Makakal di sebelah barat, gugusan Kejasung di sebelah timur dan gugusan selatan dari pegunungan Bukit Duabelas yaitu gugusan Air Hitam. Di sebelah barat Taman Nasional terdapat suku Kubu yang sebenarnya merupakan suku Rimba dari kelompok Tele, di sebelah selatan Taman Nasional terdapat suku Kubu Pamenang di daerah dekat kota Bangko, dan suku Kubu Singkut. sekitar Sorolangun. Kawasan Bukit Duabelas terdiri dari beberapa bukit yaitu Bukit Subanpunai Banyak dengan ketinggian 160 meter, Pegunungan Panggang dengan ketinggian 328 meter, dan Bukit Kuaran dengan ketinggian 436 meter.

Informan

Teknik Pengumpulan Data

SEJARAH

Prasejarah

Ada pula hipotesis lain dari beberapa sejarawan yang menyatakan bahwa mereka belum menemukan bukti kuat adanya kemiripan ciri budaya dan bahasa di Yunnan dengan suku Melayu di Champa, Vietnam. Namun demikian, terdapat kesamaan aspek budaya dan bahasa Melayu dengan penduduk asli Melayu di Taiwan, Pulau Paskah, Hawaii, dan Selandia Baru. Vlekke mengemukakan teori lain yaitu bangsa Proto-Melayu bermigrasi dari Yunnan melalui Indo-China sebelum tahun 3000 SM untuk mencapai Indonesia.

Berbicara kepada para akademisi di Jambi, mereka menyatakan belum cukup bukti bahwa masyarakat Kubu, termasuk masyarakat Rimba, merupakan keturunan masyarakat yang sudah ada sebelum kedatangan bangsa Melayu Proto atau Deutro. Mengenai cara hidupnya, Lee menulis tambahan berikut: “Manusia yang berbudaya telah ada di bumi selama kira-kira 2.000.000 tahun; dia menjalani lebih dari 99 persen periode ini sebagai pemburu-pengumpul. Dari perkiraan 80 miliar orang yang pernah hidup seumur hidup di Bumi, lebih dari 90 persennya hidup sebagai pemburu” (Lee dan DeVore 1968: 3). Atau penulis menerjemahkannya sebagai berikut: Masyarakat yang berkebudayaan telah ada di dunia selama 2 juta tahun. masa lalu; Lebih dari 99 persen manusia hidup dari berburu dan meramu. Dari sekitar 80 miliar orang yang pernah hidup di bumi, lebih dari 90 persennya hidup dengan berburu dan meramu.

Sejarah

Pada tahun 1512, Tomé Pires mencatat bahwa masyarakat Jambi lebih mirip orang Palestina dan Jawa dibandingkan dengan orang Melayu. Pada tahun 1653 ada surat yang menyebutkan bahwa kapal dagang Vogel di pelabuhan Jambi mengadu kepada Raja Jambi bahwa ada kapal dagang Portugis di pelabuhannya (Wellan. Pada tahun 1688 Pangeran Pringgabaya yang berasal dari Jambi bentrok dengan saudaranya dan pindah ke Muara Tebo yang diberi nama Mangunjaya yang letaknya strategis.

Kerajaan baru mempunyai hubungan baik dengan Pagaruyung, masyarakat Rimba memperdagangkan hasil hutan melalui Jenang, seorang tengkulak, dan memberikan upeti kepada raja (jahan), serta menerima hadiah (serah) berupa pakaian dan pisau seperti parang, tembilang atau beliung. . dari kerajaan. (Andaya. Meskipun Palembang berada di bawah kekuasaan kolonial penuh pada tahun 1820, Jambi bertahan hingga tahun 1906. Pada tahun 1980-an wilayah selatan Bukit Duabelas dibuka untuk pemukiman transmigrasi dan lahan tersebut dibuka untuk perkebunan karet dan khususnya perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan kelapa sawit.

Mitos dan Sejarah Lisan

Dengan kuasa Tuhan, kura-kura itu mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki, kerana kura-kura itu telah menelan sirih yang dilepaskan oleh raja. Berita tentang anak penyu itu didengari oleh raja, selepas itu baginda memerintahkan bayi itu ditemui dan dibawa ke istananya. Kanak-kanak itu segera menunjukkan kepada raja, dia sangat terkejut dan bertanya kepada kanak-kanak itu bagaimana dia menjadi bapa penyu.

Semua orang senang, namun tak lama kemudian mereka mendapat kabar bahwa anak itu berasal dari kura-kura. Ketika mereka mengetahui asal usul raja, mereka tidak setuju dan tidak menerima raja yang lahir di kura-kura sebagai raja. Temenggung Tarib menceritakan, menurut sejarah lisan, masyarakat Rimba di Bukit Dua Belas berasal dari Kerajaan Pagaruyung yang pindah ke Jambi.

Pola Pemukiman dan Lingkungan

Setiap keluarga diberikan bagian tanah yang digunakan untuk menanam makanan pokok seperti singkong. Pohon-pohon yang bernilai tinggi dan singkong yang ditanam sendiri merupakan harta karun yang masih asli. Mereka mungkin meninggalkan habitatnya dan tinggal di hutan selama beberapa hari sebelum kembali.

Apabila masyarakat Rimba menemukan di hutan suatu pohon yang merupakan bagian dari tanah adatnya dan pohon tersebut mempunyai nilai guna yang tinggi, seperti pohon kedondong yang sarang lebahnya atau durian yang belum dimilikinya, maka orang tersebut dapat memasang papan tanda harta benda di atas atau disekitarnya. batangnya agar masyarakat Rimba yang lain mengetahui bahwa pohon tersebut bukan hanya harto samo melainkan milik pribadi. Buang air kecil atau besar biasanya dilakukan di atas tanah, agar tanah langsung terpupuk dan sungai yang digunakan sebagai air minum tidak tercemar. Mereka terkadang mencari nafkah di hutan yang jaraknya tidak kurang dari satu kilometer dari tempat tinggalnya.

Mata Pencarian

Makanan dan Hasil Hutan

Kebutuhan masyarakat Rimba seperti peralatan besi untuk dapur atau parang dan pisau, atau kain bekas yang digunakan untuk membayar denda, membayar ganti rugi atau sebagai mahar diperoleh dari pihak luar. Orang Rimba juga harus memenuhi pungutan yang diwajibkan oleh kerajaan hilir untuk menjaga perdamaian di wilayah Orang Rimba dan mencegah orang pintar atau orang luar memasuki hutan. Barang-barang yang ingin ditukarkan oleh masyarakat Rimba ditinggalkan di tepian sungai yang diketahui para pedagang yang lewat di tempat itu.

Akhirnya proses barter selesai dan para penghuni hutan mengambil barang-barang yang ditawarkan masyarakat Terang lalu bersembunyi dan masuk ke dalam hutan. Dahulu hasil hutan yang ingin ditukarkan oleh masyarakat Terang adalah gading, sebagian getah, jernang (Daemonorops hyigrophilus), jelutung, lilin, damar (Parashorea stellana) yang umumnya berasal dari pohon keluarga Dipterocarpaceae, dan lain-lain. Saat ini pola perdagangan telah berubah dan Orang Rimba memasok barang-barang seperti lateks karet (Hevea brassiliensis), ubi jalar, lateks.

Peralatan, Komunikasi & Seni

Penulis juga bertemu dengan seorang Rimba yang memiliki sepeda motor bekas, yang justru menyulitkannya dalam menjalani gaya hidup nomaden dan tradisi merantau. Seperti tikar untuk membungkus barang atau sebagai tempat tidur, dan wadah makanan, ubi, kain, damar, madu, garam dan lain-lain. Wadah berfungsi sebagai tempat menyimpan, membawa barang dan melengkapi sistem adat, atau sebagai alat tukar dalam upacara perkawinan.

Sebelum mempunyai kain untuk membuat sarung (kancut), masyarakat hutan membuat kain dari kulit kayu yang dipukul hingga lunak. Dahulu kala, pria mengenakan pakaian kain dan wanita mengenakan kain panjang yang memanjang dari pusar hingga di bawah lutut atau terkadang hingga betis. Pakaian tersebut merupakan pakaian adat masyarakat hutan yang memudahkan mereka dalam bergerak cepat di dalam hutan karena harus mengejar hewan buruan atau menghindari hal-hal yang berbahaya.

Pemunculan Inovasi

Penulis juga bertemu dengan warga desa yang menggarap perkebunan milik kelompok tradisional masyarakat Rimba. Masyarakat Orang Rimba menganggap hubungan endogami dengan keluarga inti (saudara kandung) atau hubungan dengan sesama darah adalah hal yang tabu. Hal ini dilakukan agar hubungan dengan para Dewa semakin baik dan bermanfaat bagi masyarakat Rimba.

Roh leluhur masyarakat Rimba dipercaya mengawasi kehidupan dan dapat dihubungi pada saat upacara salé. Sebelum orang luar, termasuk Orang Rimba yang ingin kembali ke tempat asalnya diizinkan oleh Temenggong, mereka harus bersiap. Masyarakat Orang Rimba telah mengambil getah pohon karet dan berencana menanam kelapa sawit untuk meningkatkan pendapatan mereka.

Orang Rimba sukar untuk bertahan dalam persekitaran yang timbul dalam interaksi dengan pendatang. Malah, adalah dihargai untuk menasihati orang Rimba mengenai harga pasaran supaya mereka tidak merasa tertipu.

Tabel 1 Jenis Tumbuhan Yang Bermanfaat Bagi Orang Rimba  No  Jenis Tumbuhan  Komsumsi Ekonomis  Obat  Bagian yang
Tabel 1 Jenis Tumbuhan Yang Bermanfaat Bagi Orang Rimba No Jenis Tumbuhan Komsumsi Ekonomis Obat Bagian yang

Taman Nasional Bukit Duabelas

Gambar

Tabel 1 Jenis Tumbuhan Yang Bermanfaat Bagi Orang Rimba  No  Jenis Tumbuhan  Komsumsi Ekonomis  Obat  Bagian yang
Tabel 4. Kelompok Tumbuhan Tesie Hutan Komersil Yang Dieksplotasi   No  Nama Lokal  Species  Familia  Status Keberadaan
Tabel 2. Jenis (Species) Buah-Buahan Yang Dimanfaatkan
Tabel 3 Jenis (Species) Tumbuhan Konsiae (Getah) Yang Dieksploitasi   No  Species  Familia  Nama Lokal  Status Keberadaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Perangkat Pembelajaran Fisika SMA berbasis model pembelajaran generatif pada materi listrik dinamis terintegrasi kelistrikan jantung dengan