• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Studi Kasus SPG Perusahaan “R” di Semarang)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "(Studi Kasus SPG Perusahaan “R” di Semarang) "

Copied!
57
0
0

Teks penuh

Tesis ini merupakan hasil penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap bisnis SPG perusahaan (Studi Kasus Perusahaan SPG “R” di Semarang). Permasalahan penelitian ini adalah 1) Bagaimana persepsi masyarakat terhadap profesi Sales Promotion Girl (SPG) pada perusahaan “R” di Semarang?; Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap profesi Sales Promotion Girl (SPG) pada perusahaan “R” di Semarang dan respon Sales Promotion Girl (SPG) terhadap persepsi masyarakat terhadap dirinya.

Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat umum mempersepsikan profesi sales Promotion Girl (SPG) pada perusahaan “R” di Semarang memandang profesi tersebut relatif positif. Sales Promotion Girls (SPG) menyikapi persepsi masyarakat terhadap dirinya, mereka tidak setuju dengan persepsi masyarakat terhadap dirinya, umumnya mereka lebih bersikap pendiam atau bisa dibilang cuek atau tidak peduli dengan pandangan masyarakat terhadap dirinya.

Latar Belakang Masalah

Tampilan SPG yang menarik dinilai dapat membantu memperkenalkan suatu produk dan menarik perhatian konsumen terhadap produk tersebut. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, SPG yang menarik diharapkan dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli suatu produk. Dampak yang dialami SPG misalnya secara fisik bekerja sebagai SPG mengharuskan anda berdiri dalam waktu yang lama sehingga membuat otot menjadi kaku dan tampilan SPG terkadang mengundang ejekan dari banyak pengunjung.

Sedangkan secara tidak langsung, penampilan SPG yang tergolong seksi membuat pengunjung khususnya kaum pria melirik atau menggoda SPG tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan upaya untuk mencoba memberikan penjelasan mengenai pandangan masyarakat terhadap penampilan SPG dan bagaimana SPG menyikapi peraturan perusahaan.

Rumusan Masalah

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Keunikan penelitian mengenai kekerasan simbolik terhadap SPG di perusahaan “R” ini berbeda dengan penelitian sebelumnya karena persepsi masyarakat umum terhadap SPG adalah negatif, terutama terkait penampilan SPG yang menonjolkan riasan dan cara berpakaian yang berlebihan. pakaian mini. dan seragam yang seksi, inilah yang berujung pada kekerasan, baik fisik maupun simbolik. Secara teoritis diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dan kekerasan simbolik yang dihadapi SPG. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu-ilmu sosial dengan tema yang sama dan dapat dijadikan sebagai titik tolak penelitian serupa yang melibatkan kajian berbeda dan lebih luas.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk dapat memberikan toleransi terhadap peraturan yang dibuat kepada karyawannya atau SPG agar tidak terjadi kekerasan simbolik di kemudian hari.

Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian skripsi yang dilakukan oleh Lika Puspita, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu dengan judul “Fenomenologi Interaksi Simbolik Pada Sales Promotion Girl Rokok Djarum di Kota Bengkulu.” Dijelaskan simbol-simbol yang digunakan Sales Promotion Girl (SPG) rokok Djarum dalam memasarkan produknya yang konsumennya sebagian besar didominasi laki-laki. Sales Promotion Girl menampilkan simbol-simbol dalam penampilannya yaitu busana perusahaan sebagai identitas SPG.

Kedua, penelitian serupa terkait Sales Promotion Girls (SPG) yang dilakukan oleh Nur Afta Lestari dengan judul “Eksploitasi Perempuan Sales Promotion Girls”. Jurnal ini menjelaskan bahwa perempuan yang bekerja sebagai sales Promotion Girl mempunyai alasan ekonomi dalam melakukan pekerjaan tersebut, yaitu SPG ekonomi. Jurnal ini melakukan penelitian SPG secara umum, sedangkan peneliti menggunakan SPG khusus dalam pemasaran produk rokok. 7 Lika Puspita, “Interaksi Simbolik Sales Promotion Girl (Fenomenologi Interaksi Simbolik pada Sales Promotion Gadis Rokok Djarum di Kota Bengkulu), di http://repository.unib.ac.id/9226/I,II ,III,I -14- seperti-FS.pdf.

Ketiga, Nicke Virawati Samsudin dan Arief Sudrajat (2013) meneliti “Eksploitasi Tubuh pada Sales Promotion Girl (SPG) Rokok. Ketika Sales Promotion Girl bekerja, nampaknya ia menerima perlakuan yang kurang menyenangkan dari konsumen, misalnya dengan memegang paha, menjambak bokongnya, dan terkadang konsumen sengaja memegang tangannya saat mengambil uang kembalian dari SPG 9. Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Regenovia Cahya Trisilawati (2014) Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul Analisis Gender dan Rasionalitas Keagamaan pada Cigarette Sales Promotion Girl (SPG) (Studi Kasus) Rokok SPG di Alun-alun.

8Nur Afta Lestari, “Eksploitasi 'Gadis Promosi' Perempuan”, Jurnal Komunitas Volume 4 Nomor 2 Universitas Negeri Semarang dan Persatuan Antropologi Indonesia, 2012, hal. 140. 9Nicke Virawati Samsudin dan Arief Sudrajat “Pemanfaatan Tubuh Anak Perempuan untuk Promosi Penjualan Rokok (SPG)”, Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya, 2013, hal. 1. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan simbol-simbol Jawa dalam peran Masa Narka, karena sejarah membenarkan keberadaan simbol-simbol tersebut.

Kerangka Teori

Modal sosial adalah seperangkat sumber daya aktual atau potensial yang terkait dengan kepemilikan jaringan aktual atau potensial yang terkait dengan kepemilikan jaringan hubungan yang saling diketahui dan/atau saling diakui yang memberikan dukungan modal bersama kepada anggotanya. Modal sosial dapat diwujudkan dalam bentuk praktis seperti persahabatan, kemudian dalam bentuk institusi seperti suku, ras, perusahaan. Modal sosial yang dibentuk oleh suatu jaringan hubungan tidak begitu saja ada secara alamiah (naturally give), namun harus diusahakan.

Modal sosial harus dipupuk karena modal sosial merupakan hasil strategi investasi tindakan individu dan kolektif dalam kurun waktu sekarang atau berkelanjutan, yang bertujuan untuk memantapkan atau menciptakan hubungan sosial yang bermanfaat langsung, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Modal sosial ditinjau dari cara kerja modal sosial itu sendiri, yang tidak menekankan pada hubungan sosial seperti definisi Bourdieu, namun menekankan pada struktur sosial. Fungsi yang dapat diidentifikasi dari modal sosial adalah nilai dari aspek struktur sosial, yang mengacu pada seperangkat kewajiban dan harapan, jaringan informasi, norma dan sanksi efektif yang dapat memaksa atau mendorong seseorang untuk berperilaku agar tetap eksis dalam masyarakat. pelestarian sikapnya terhadap orang lain.

Bourdieu tertarik mengembangkan konsep modal sosial sebagai sumber modal ekonomi individu, sedangkan Coleman lebih tertarik mengembangkan bagaimana modal sosial dalam jaringan keluarga dan komunitas berfungsi sebagai sumber modal manusia. Modal sosial juga dapat diartikan sebagai kepercayaan, norma, dan jaringan yang memfasilitasi kerja sama untuk mencapai keuntungan bersama. Aspek modal sosial yang dapat membedakan hasil pembangunan ekonomi dan politik di tingkat regional dan nasional adalah norma.

Modal sosial merupakan perekat antar anggota masyarakat untuk memelihara kesatuan komunitas/masyarakat yang dilambangkan dengan jaringan hubungan sosial yang bercirikan norma kepercayaan dan hubungan timbal balik yang mengantarkan masyarakat menuju pencapaian kepentingan bersama. Modal sosial mempunyai enam fungsi penting, yaitu: (1) Trust dalam arti kepercayaan yaitu bidang psikologis individu sebagai sikap yang akan mendorong seseorang mengambil keputusan setelah mempertimbangkan risiko yang akan diterimanya;. Modal sosial mempunyai dua ukuran utama, yaitu: (1) jaringan sosial (networks) dan (2) karakteristik jaringan sosial (networkcharacters).

Norma-norma yang membentuk modal sosial dapat bervariasi mulai dari hubungan timbal balik antara dua sahabat hingga hubungan yang kompleks dan kemudian diperluas hingga doktrin. Modal budaya dapat diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu: pertama, dalam keadaan “tubuh”, modal budaya dapat berupa watak fisik dan mental yang dihargai pada suatu daerah tertentu.

Metode Penelitian

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif jelas berbeda dengan penelitian non-kualitatif. 22 Sampel dalam penelitian kualitatif tidak disebut responden, melainkan antara narasumber, partisipan, informan, teman, dan guru dalam penelitian. Pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif juga tidak disebut sampling statistik, melainkan sampling teoritis karena tujuan penelitian kualitatif adalah menghasilkan teori.23. Sampling dalam penelitian kualitatif merupakan suatu pilihan dalam penelitian untuk mencakup aspek peristiwa mana dan siapa yang menjadi fokus pada waktu dan situasi tertentu, karena dilakukan secara terus menerus sepanjang penelitian.

Penelitian kualitatif umumnya mengambil sampel yang lebih kecil dan lebih berorientasi pada penelitian proses dibandingkan penelitian produk. Sumber data merupakan informasi yang diperoleh peneliti untuk menunjang keabsahan penelitian dan mempermudah proses analisis data. Sumber data primer, data primer adalah data yang diperoleh peneliti melalui wawancara, informan dalam penelitian ini adalah para pengunjung dan perusahaan “R” yang ada di semarang.

26 Mukhtar,”Pedoman Tesis, Tesis dan Artikel Ilmiah: Panduan Berbasis Penelitian Kualitatif, Lapangan dan Kepustakaan” (Ciputat: Gaun Persada Press, 2007), hal. 90. Wawancara Selain menggunakan metode observasi, penulis juga menggunakan metode wawancara dalam mengumpulkan data dalam penelitian. 30 Dalam hal ini, penulis hanya melakukan kontak intensif dengan perusahaan SPG “R” di Semarang dan tidak terlibat langsung dalam kehidupan para informan.

Dalam penelitian kualitatif, analisis data adalah proses pencarian dan pengumpulan data secara sistematis yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain agar mudah dipahami dan temuannya dikomunikasikan kepada orang lain. Tahap selanjutnya adalah analisis data yang dilakukan setelah data terkumpul dari hasil penelitian di lapangan. Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh, yang kemudian mengembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis.

Sistematika Pembahasan

Kesimpulan

Meskipun sebagian besar SPG tidak setuju dengan apa yang masyarakat pikirkan tentang mereka, SPG umumnya mengambil sikap yang lebih tenang atau mungkin acuh tak acuh atau tidak peduli terhadap pandangan masyarakat terhadap diri mereka sendiri. Menurut sumber dalam penelitian ini, para SPG akhirnya sudah terbiasa dengan persepsi masyarakat terhadap mereka, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubahnya.

Saran

Namun hal tersebut tidak membuat mereka mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai SPG, karena mereka mempunyai motivasi dan pemikiran tersendiri dalam memilih dan menjalankan profesi tersebut. Untuk penelitian selanjutnya dengan tema yang sama mengenai gadis promosional, sebaiknya dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai gaya hidup, komunikasi masyarakat dan terkait dengan masyarakat luas mengenai kekerasan simbolik. Aunullah, Indi, Bahasa dan Kekuatan Simbolik dalam Pandangan Pierre Bourdieu, Yogyakarta: Penelitian Tesis, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2006.

Interaksi simbolik gadis promosi (fenomonologi interaksi simbolik pada gadis promosi rokok Djarum di Bengkulu.

Referensi

Dokumen terkait

menjadikan guru sebagai fasilitator sedang siswa menjadi pusat pembelajaran (student centered). Diantara tolak ukur keberhasilan suatu pembelajaran adalah sejauh mana

Bertitik tolak dari faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh manajemen dan kepentingan investor yang didasarkan pada kinerja keuangan maka berdasarkan hasil penelitian sebelumnya

Tolak ukur yang sering dipakai untuk mengukur nilai perusahaan adalah price book value, yang dapat diartikan sebagai hasil dari perbandingan antara harga saham

Menurut Irawati (2008), profitability ratio adalah ―rasio yang dapat dipakai sebagai tolak ukur efisiensi terhadap pemakaian aktiva pada suatu perusahaan atau

Dalam penelitian sebelumnya, beberapa faktor yang telah diteliti ialah pengungkapan media (Andriany et al, 2017), kepemilikan institusional, ukuran komite audit,

Bertitik tolak dari paparan yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai data penurunan permintaan rumah dan beberapa fakta yang terjadi di perumahan Puri Dinar Mas

untuk mendapatkan tolak ukur tertentu yang membandingkan kinerja suatu perusahaan pada tahun tertentu dengan kinerja tahun sebelumnya dan sesudahnya atau

Akhirnya, penelitian ini mengajukan dua pertanyaan penelitian atau rumusan masalah yang belum dijawab oleh studi-studi sebelumnya, yaitu: (i) belum ada studi sebelumnya yang