• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Perbandingan Kenyamanan Pengguna Ruang Publik Terpadu Ramah Anak

N/A
N/A
Dea Putri Ghassani

Academic year: 2024

Membagikan "Studi Perbandingan Kenyamanan Pengguna Ruang Publik Terpadu Ramah Anak"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

USULAN RISET INTERNAL DOSEN MUDA

STUDI PERBANDINGAN KENYAMANAN PENGGUNA RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK

(STUDI KASUS: RPTRA AKASIA DAN RPTRA PANDAWA)

TIM PENGUSUL

DEA PUTRI GHASSANI, ST, MT (0303029101) MONA ANGGIANI, ST, MT (0314038101) RONA FIKA JAMILA, ST, MT (0329048401)

BIDANG ILMU ARSITEKTUR UNIVERSITAS MERCU BUANA

April 2018

(2)

HALAMAN PENGESAHAN DOSEN MUDA

Judul Riset : Studi Perbandingan Kenyamanan Pengguna Ruang Publik Terpadu Ramah Anak

(Studi Kasus: RPTRA Akasia dan RPTRA Pandawa ) Ketua Peneliti:

a. Nama Lengkap : Dea Putri Ghassani, ST, MT

b. NIDN : 0303029101

c. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli d. Bidang Ilmu : Arsitektur e. Nomor HP : 087831133586

f. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1):

a. NamaLengkap : Mona Anggiani, ST, MT b. NIDN : 0314038101

c. PerguruanTinggi : Universitas Mercu Buana Anggota Peneliti (2):

a. Nama Lengkap : Rona Fika Jamila, ST, MT b. NIDN : 0329048401

c. Perguruan Tinggi : Universitas Mercu Buana Anggota Mahasiswa (1):

a. NamaLengkap : - b. NIM : - c. Perguruan Tinggi : -

Lama Riset Keseluruhan : 8 (delapan) bulan Lokasi Dosen Kampus : Meruya

Lokasi Riset : Jakarta Barat

Luaran Penelitian : Publikasi Nasional (Jurnal Vitruvian) Biaya Riset Keseluruhan : Rp 4.000.000 (empat juta rupiah)

Jakarta, 07 April 2018 Mengetahui,

Kaprodi Arsitektur

Ir. Joni Hardi, MT NIP. 194690160

Ketua Peneliti,

Dea Putri Ghassani, ST, MT NIDN. 0303029101 Ketua Kelompok Riset,

Bidang Ilmu Arsitektur

Dr. Ir. Tin Budi Utami, MT NIP. 192680078

Kepala Pusat RISET,

Dr. Devi Fitrianah, S. Kom., MTI NIP. 106780273

(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...2

RINGKASAN...3

BAB 1. PENDAHULUAN...4

1.1 Latar Belakang...4

1.2. Rumusan Masalah...6

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian...6

1.4. Kontribusi Penelitian...6

1.5 Rencana Target Capaian...6

BAB 2. RIP...7

2.1 Rencana Induk Penelitian UMB...7

2.2 Road Map Penelitian...8

BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA...9

3.1. Ruang Publik Terbuka...9

3.2 RPTRA...12

3.2.1 Definisi RPTRA...12

3.2.2 Peraturan RPTRA...13

3.3 Kenyamanan...14

3.3.1 Definisi Kenyamanan...14

3.3.2 Kriteria Kenyamanan...15

BAB 4. METODE PENELITIAN...19

4.1 Lokasi Penelitian...19

4.2 Waktu Penelitian...20

4.3 Metode Penelitian dan Analisa Data...20

4.4 Metode Alur Riset...21

4.5 Uji Kecukupan Data...21

4.6 Agregasi Data...22

BAB 5. RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN...23

5.1 Rencana Anggaran Biaya...23

5.2 Jadwal Penelitian...23

DAFTAR PUSTAKA...24

LAMPIRAN...25

(4)

RINGKASAN

Salah satu kebutuhan manusia dalam menjalani hidup ini adalah melakukan kegiatan pada ruang terbuka. Ruang terbuka saat ini, sudah cukup mulau bermunculan, dan banyak yang dinamakan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). RPTRA mulai ada pada tahun 2015, sebagai salah satu usaha untuk mewujudkan program Kota Layak Anak (KLA).

RPTRA yang berada di tengah area perumahan ini, ada yang dibangun atas dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta ada yang dibangun atas dana Corporate Social Responsibility (CSR). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan ada atau tidaknya perbedaan pada kedua RPTRA yang dibangun dengan sumber dana yang berbeda tersebut.

Dengan metode penelitian yang dilakukan, yaitu metode penelitian kuantitatif, penelitian ditujukan untuk melihat perbedaannya.

Keywords: ruang public, ruang terbuka, ruang terbuka public, rptra.

(5)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu kebutuhan alamiah seorang manusia adalah berkegiatan di ruang luar. Secara manusiawi, manusia butuh kegiatan bersosialisasi juga dengan manusia lainnya. Banyak kegiatan sosialisasi manusia ini yang terkadang dilakukan pada ruang terbuka. Ruang terbuka publik, sudah sewajarnya memang diadakan pada wilayah perumahan. Sehingga seseorang yang tinggal di area perumahan tertentu dapat juga melakukan aktifitas pada ruang terbuka yang dekat dengan rumahnya.

Ruang terbuka atau taman pada perumahan, kini banyak yang telah diperbaharui kondisinya.

Mulai di tahun 2015, Jakarta berbenah terhadap fasilitas ini. Banyak ruang terbuka publik yang diperbaiki dan kemudian dinamakan menjadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Awal keberadaan RPTRA, hanya berada di 6 lokasi saja, yaitu Cideng, Cililitan, Pulogadung, Pulau Untung Jawa (Kepulauan Seribu), Gandaria Selatan, dan Kembangan Utara (Savitri, 2015). Meningkat jumlahnya di Januari 2017 menjadi sebanyak 186 titik (Carina, 2017), RPTRA semakin banyak keberadaannya (Gambar 1).

Kedekatan fasilitas publik harus menjadi perhatian, seperti bank dan kantor pos, klinik

Gambar 1 - Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (sumber: http://www.koran-jakarta.com)

(6)

demikian kota akan menjadi lebih humanis, berkeadilan, dan berkelanjutan. (Joga, 2013).

Keberadaan RPTRA sebagai fasilitas publik memang tidak dapat dipungkiri keberadaannya, yang memang dibutuhkan oleh setiap manusia dan menjadikan tempat yang layak.

RPTRA, selain memang fasilitas publik, merupakan salah satu usaha perwujudan menuju langkah Kota Layak Anak (KLA). Kebijakan KLA ini mulai diusung pada tahun 2009 yang salah satu latar belakangnya adalah Program Nasional Bagi Anak Indonesia. Ruang lingkup KLA meliputi pembangunan tumbuh kembang dan perlindungan anak sebagai wujud pemenuhan hak anak. Indikator KLA adalah tersedianya pemenuhan atas hak anak di segala bidang sebagai warga kota, berperan dan berpartisipatif aktif dalam perencanaan dan pembangunan kota sesuai kemampuan dan kebutuhan anak (Joga, 2013).

Kini, keberadaan RPTRA setidaknya sangat membantu sebagai tempat masyarakat melakukan kegiatan pada ruang terbuka. RPTRA kini dipergunakan oleh khalayak ramai sebagai tempat bersosialisasi, berolah raga, bahkan ada juga sebagai ruang hijau karena di RPTRA ada juga penghijauan. Di beberapa RPTRA, bahkan ada kegiatan untuk pemisahan sampah-sampah berdasarkan materialnya (bank sampah).

Di dalam Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 349 Tahun 2015, RPTRA dibangun dalam rangka mewujudkan komitmen Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta guna menjamin terpenuhinya hak anak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta

mendapat perlindungan terhadap kekerasan dan diskriminasi.

RPTRA sudah disediakan oleh pemerintah, baik RPTRA yang dibangun atas dana Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) maupun dibangun atas dana bantuan pihak swasta sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). RPTRA juga sudah banyak dibangun dan digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Yang kini perlu diperhatikan, salah satunya adalah melihat respon dari masyarakat, bagaimana keberadaan RPTRA tersebut.

Ruang terbuka publik merupakan ruang yang penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kenyamanan, rileksasi, dan melakukan kegiatan aktif atau kegiatan pasif di luar aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan masyarakat (Carr et al,

(7)

1992). Keberadaan RPTRA merupakan tempat yang cukup penting bagi warga, khususnya bagi anak-anak dan umumnya bagi warga yang telah dewasa.

Berdasarkan latar belakang penjelasan di atas, maka peneliti merasakan perlunya mengetahui sejauh mana RPTRA yang sudah dibangun tersebut dapat membuat nyaman penggunanya, baik RPTRA yang dibangun atas dana APBD maupun atas dana CSR.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan permasalahan dari penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kenyamanan pengunjung pada RPTRA Akasia dan RPTRA Pandawa 2. Adakah perbedaan kenyamanan pengunjung RPTRA yang dibangun oleh

pemerintah dibandingkan dengan RPTRA yang dibangun oleh dana CSR?

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kenyamanan pengunjung RPTRA Akasia dan RPTRA Pandawa

2. Untuk mengetahui perbedaan kenyamanan pengunjung RPTRA yang dibangun oleh pemerintah dibandingkan dengan RPTRA yang dibangun oleh dana CSR?.

1.4. Kontribusi Penelitian Kontribusi pada penelitian ini:

1. Memberikan gambaran kondisi RPTRA yang dibangun oleh dana APBD dibandingkan dengan yang dibangun oleh dana CSR.

2. Hasil penelitian ini pada nantinya akan diterbitkan pada Jurnal Vitruvian di tahun 2020, jurnal Nasional Ber-ISBN.

1.5 Rencana Target Capaian

Adapun rencana target luaran yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah:

Table 1 – Target Capaian Luaran

No JENIS LUARAN INDIKATOR CAPAIAN

1 Publikasi Ilmiah Nasional (Vitruvian)

Submitted

(8)

BAB 2. RIP

2.1 Rencana Induk Penelitian UMB

Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Pergutuan Tinggi, maka penelitian merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebaik-baiknya dengan mempertimbangkan aspek mutu dan kualitas penelitian. Dalam rangka menjaga mutu dan kualitas penelitian inilah, diperlukan adanya penjaminan mutu internal yang meliputi penjaminan mutu penelitian.

Rencana Induk Penelitian Universitas Mercu Buana (RIP – UMB) merupakan pedoman, arah dalam perencanaan penelitian di setiap 5 (lima) tahun dan implementasinya di tataran Universitas Mercu Buana dalam rangka membangun penelitian Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bermutu, unggul, dan bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Selain itu, RIP – UMB juga merupakan pengendalian dan evaluasi kegiatan penelitian agar sesuai dengan tujuan penelitian.

Penelitian ini dilakukan dengan merujuk pada salah satu topik Rekayasa dan Teknologi Ramah Lingkungan dengan Sub Topik Ruang Terbuka Publik yang diangkat pada Rencana Induk Penelitian Universitas Mercu Buana tahun 2016 – 2020, Bidang Ilmu Arsitektur (Gambar 2 – terarsir).

(9)

2.2 Road Map Penelitian

Setelah melakukan penelitian sebelumnya dengan topik Ruang Terbuka Publik, pada penelitian kali ini, peneliti juga akan mengambil topik yang sama dengan penelitian sebelumnya (Gambar 3). Diharapkan dengan sejalannya topik yang diambil oleh peneliti dan merujuk kepada RIP – UMB, dapat mendukung dan mensinergikan penelitian secara keseluruhan.

Gambar 3 – Peta Jalan Penelitian

Gambar 4 – Road Map Penelitian

(10)

BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Ruang Publik Terbuka

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008, ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaanya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang terbuka, terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dana atau mengelompok, penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang terbuka non-hijau adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk ke dalam RTH, berupa lahan yang diperkeras maupun berupa badan air.

Ruang terbuka pada dasarnya dibuat untuk memenuhi salah satu kebutuhan manusia sebagai mahluk yang memerlukan kegiatan bersosialisasi (Shaftoe, 2008). Seyogyanya, taman dibuat memang untuk menampung salah satu kebutuhan hidup manusia dalam hal kegiatan yang bersifat:

a) Sosialisasi, seperti berkumpul dengan manusia lainnya b) Kesehatan, seperti untuk mendapatkan udara yang bersih c) Kesejahteraan, seperti untuk melakukan relaksasi

d) Tempat belajar, dalam artian belajar tentang kehidupan

e) Toleransi, dimana ruang tersebut dipergunakan sama-sama dan dijaga sama-sama f) Solidaritas, dimana pada ruang tersebut dapat dijadikan sebagai satu ruang untuk

penyampaian aspirasi.

Perumahan merupakan salah satu pengisi kota. Hubungan antara perumahan dan ruang public terbuka adalah sangat erat adanya seperti yang dinyatakan pada pernyataan Carmona. Ruang kota harus menyediakan ruang public yang cukup untuk memelihara interaksi antar penghuninya. Ruang public ini sendiri terbentuk dari lingkungan alami dan buatan (Carmona et al, 2008).

(11)

Parkinson (2012) membedakan sifat public dan privat berdasarkan beberapa ide, antara lain:

a) Publik

 Merupakan ruang yang dapat diakses secara bebas.

 Dipertimbangkan dapat mempengaruhi dan memberi manaat pada setiap orang.

 Ada sekelompok orang atau grup yang berpotensi untuk bertanggung jawab atas penelolaan ruang tersebut dan menetapkan aturan pengendalian.

 Status kepemilikan di bawah pemerintah atau masyarakat.

b) Privat

 Merupakan ruang yang tidak dapat diakses secara bebas.

 Dipertimbangkan memberi pengaruh dan manfaat hanya kepada individu tertentu.

 Status kepemilikan di bawah individu tertentu.

Setiap perencanaan dalam pengadaan ruang terbuka bagi warga, haruslah memenuhi beberapa persyaratan tertentu. Hal ini dimaksudkan agar ruang terbuka yang sudah dibangun dapat digunakan secara maksimal bagi warga yang akan dilayani oleh ruang terbuka tersebut.

Beberapa kriteria ruang terbuka yang baik menurut Aulia Hariz (2013) adalah:

a) Mudah aksesnya, dalam artian bahwa ruang terbuka tersebut mudah untuk didatangi oleh target penggunanya. Selain mudah untuk didatangi, ruang terbuka tersebut juga haruslah mudah terlihat bagi warga tersebut.

b) Menarik bagi pengguna, dalam artian ruang terbuka yang disediakan merupakan ruang yang dapat memberikan kesenangan bagi warga yang dilayaninya.

c) Nyaman dan aman, dalam artian bahwa ruang terbuka tersebut haruslah memberikan rasa nyaman dan aman terhadap warga yang dilayaninya.

d) Mengikat masyarakat, dalam artian ruang public yang dibagun memberikan makna dan keterkaitan bagi warga yang dilayaninya.

Ruang terbuka merupakan ruang yang direncanakan karena kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas Bersama di udara terbuka. Dengan adanya pertemuan bersama dan relasi antara orang banyak, kemungkinan akan timbul bermacam-macam kegiatan di ruang

(12)

umum terbuka tersebut. Sebetulnya ruang terbuka merupakan salah satu jenis dari ruang umum (Budihardjo, 2013).

Eko Budihardjo di dalam buku Kota Berkelanjutan (2013), menjelaskan fungsi dan peranan ruang terbuka:

Ruang tidak dapat dipisahkan dari manusia baik secara psikologis, emosional ataupun dimensional. Manusia berada dalam ruang, bergerak, menghayati dan berfikir, juga membuat ruang untuk menciptakan dunianya. Ruang terbuka sebenarnya merupakan wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakat di wilayah tersebut.

Karena itu, ruang terbuka mempunyai kontribusi yang akan diberikan kepada manusia berupa dampak yang positif.

Fungsi-fungsi ruang terbuka terbuka:

Fungsi umum:

a. Tempat bermain dan berolahraga b. Tempat bersantai

c. Tempat komunikasi sosial

d. Tempat peralihan, tempat menunggu

e. Sebagai ruang terbuka untuk mendapatkan udara segar dengan lingkungan f. Sebagai sarana penghubung antara suatu tempat dengan tempat lainnya g. Sebagai pembatas atau jarak di antara massa bangunan

Fungsi Ekologis:

a. Penyegaran udara b. Menyerap air hujan c. Pengendalian banjir

d. Memelihara ekosistem tertentu e. Pelembut arsitektur bangunan

Laurie di dalam Budihardjo (2013) menyatakan bahwa ruang terbuka dapat dikelompokkan menjadi beberapa, yaitu:

1. Ruang terbuka sebagai sumber produksi, yaitu antara lain perhutanan, produksi mineral, peternakan, pengairan, dan lain-lain

2. Ruang terbuka sebagai perlindungan, misalnya cagar alam, daerah budaya dan sejarah.

(13)

3. Ruang terbuka untuk kesehatan, kenyamanan, antara lain: untuk melindungi kualitas air, pengaturan pembuangan air dan sampah, memperbaiki dan mempertahakan kualitas udara, rekreasi, taman lingkungan, taman kota.

3.2 RPTRA

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) adalah ruang terbuka publik yang dicetuskan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam mewujudkan kota yang ramah anak di tengah padatnya kota, padatnya penduduk, dan juga padatnya permukiman. Kebutuhan akan area hijau dan juga tempat bermain anak di tengah padatnya pemukiman, mendorong pemerintah DKI Jakarta berkomitmen untuk membangun ruang terbuka public yang ramah anak.

Tujuan dibangunnya RPTRA adalah sebagai sarana tempat berinteraksi dan bertoleransi. Di tempat ini anak dilatih untuk saling berinteraksi dan bertoleransi tidak hanya kepada sesama anak saja namun juga dengan pengunjung lainnya yang berada di RPTRA. RPTRA juga dimaksudkan untuk memberi dampak positif dalam merubah perilaku anak menjadi lebih baik di era globalisasi ini.

Di tahun 2017 sampai dengan saat ini, pemerintah provinsi DKI Jakarta sudah membangun RPTRA sebanyak 290 taman. Untuk tahun 2018, akan dibangun 47 RPTRA dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (www.megapolitan.kompas.com, 2018). Awal mulanya pembiayaan pembangunan RPTRA Provinsi DKI Jakarta tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan melalui kerjasama pemerintah provinsi DKI Jakarta dengan pihak swasta yaitu melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari beberapa perusahaan swasta di Jakarta. Proses pembangunan dan perawatan RPTRA melibatkan peran aktif masyarakat sekitar dan dikoordinir oleh ibu-ibu PKK, sehingga keterlibatan warga memberikan posisi warga sebagai pemilik dan pengelola taman

3.2.1 Definisi RPTRA

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau juga dikenal dengan singkatan RPTRA adalah konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai permainan, pengawasan CCTV, dan ruangan-ruangan yang melayani kepentingan komuniti yang ada di sekitar RPTRA tersebut, seperti ruang

(14)

perpustakaan, PKK Mart, ruang laktasi, dan lainnya. RPTRA juga dibangun di tengah pemukiman warga, terutama lapisan bawah dan padat penduduk, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh warga di sekitar. (www.wikipedia.com, 2017).

3.2.2 Peraturan RPTRA

Pembangunan RPTRA dimaksudkan untuk memberikan ruang sebagai tempat untuk berinteraksi dan tempat bermain anak dengan memiliki beberapa fasilitas seperti perpustakaan, tempat bermain, tempat berolahraga, dan sebagainya.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 123 tahun 2017, mengenai fungsi RPTRA adalah sebagai berikut:

a. Taman terbuka public

b. Tempat interaksi masyarakat segala umur, mulai dari dalam kandungan sampai dengan usia lansia

c. Prasarana dan sarana kemitraan antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hak anak.

d. Bagian dari prasaran dan sarana KLA

e. Ruang terbuka hijau dan temapat penyerapan air tanah

f. Prasarana dan sarana kegiatan social warga termasuk pengembangan pengetahuan dan keterampilan kader PKK

g. Usaha peningkatan pendapatan keluarga h. Pusat informasi dan konsultasi keluarga

i. Halaman keluarga yang asri, teratur, indah dan nyaman j. System informasi dan manajemen

Selain fungsi RPTRA, Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 123 juga mengatur mengenai kebutuhan prasarana dan sarana RPTRA, yaitu:

1. Tanah yang dibutuhkan untuk pembangunan RPTRA paling sedikit 750 m²

2. Prasarana dan sarana RPTRA merupakan asset daerah dengan status kekayaan tidak dipisahkan

3. Prasarana dan sarana RPTRA dalam bentuk pemberian/hibah dari pihak ketiga merupakan penerimaan barang daerah yang dicatat sebagai asset daerah dan diberi tanda papan kepemilikan asset.

(15)

4. Kebutuhan prasarana RPTRA terdiri dari prasarana didalam bangunan maupun diluar bangunan.

5. Prasarana didalam bangun sebagaimana dimaksudkan terdiri dari:

 Ruang serbaguna

 Ruang perpustakaan

 Ruang laktasi

 Ruang pengelola

 Ruang PKK mart

 Toilet

 Tempat cuci tangan ramah anak dan difabel

 Gudang

 Dapur bersih (pantry)

6. Prasarana diluar bangunan sebagaimana dimaksudkan terdiri dari:

 Lapangan olahraga

 Tempat bermain anak

 Jalur lari/jogging track

 Jalur refleksi

 Panggung terbuka (amphi theatre)

 Kolam gizi

 Taman obat keluarga, sayuran dan taman produktif

 Parker sepeda

 Bangku taman 3.3 Kenyamanan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyaman adalah segar; sehat sedangkan kenyamanan adalah keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan dan beberapa bahasa asing menerjemahkan kenyamanan sebagai suatu kondisi rileks, dimana tidak dirasakan sakit di antara seluruh anggota tubuh.

3.3.1 Definisi Kenyamanan

Kenyamanan menurut Satwiko (2009) dengan latar belakang arsitektur dan fisika bangunan menjelaskan bahwa kenyamanan dan perasaan nyaman adalah penilaian

(16)

komprehensif seseorang terhadap lingkungannya. Manusia menilai kondisi lingkungan berdasarkan rangsangan yang masuk ke dalam dirinya. Dalam hal ini yang terlibat tidak hanya masalah fisik biologis, namun juga perasaan. Suara, cahaya, aroma, suhu dan lain-lain rangsangan ditangkap sekaligus, lalu diolah oleh otak, kemudian otak akan memberikan penilaian relatif apakah kondisi itu nyaman atau tidak. Ketidaknyamanan pada suatu faktor dapat ditutupi oleh faktor lain.

Sedangkan kenyamanan menurut Hakim (2012) dalam bukunya Komponen Perancangan Aristektur Lansekap, kenyamanan ditentukan oleh beberapa unsur pembentuk dalam perancangan yakni sirkulasi, daya alam/iklim, kebisingan, aroma/bau-bauan, bentuk, keamanan, kebersihan, keindahan dan penerangan.

3.3.2 Kriteria Kenyamanan

Menurut Satwiko (2009) dalam bukunya Fisika Bangunan, Kenyamanan secara fisik dalam bangunan dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Kenyamanan Termal

Yaitu kondisi dimana manusia merasa nyaman terhadap temperatur dan iklim lingkungannya.

b. Kenyamanan Audial

Adalah kondisi dimana manusia merasa nyaman terhadap suara yang ada di sekitarnya.

c. Kenyamanan Visual

Adalah kondisi dimana manusia merasa tidak terganggu dengan kondisi sekeliling yang diterima oleh indra penglihatannya. Pada umumnya terkait intensitas cahaya yang ada di sekitarnya.

Sedangkan menurut Hakim (2012), kenyamanan ditentukan oleh beberapa hal seperti berikut:

a. Sirkulasi

Kenyamanan dapat berkurang karena sirkulasi yang kurang baik, seperti tidak adanya pembagian ruang yang jelas untuk sirkulasi manusia dan kendaraan bermotor, atau tidak ada sirkulasi antara ruang satu dengan lainnya. Sirkulasi dibedakan menjadi dua yaitu sirkulasi di dalam ruang dan sirkulasi di luar ruang atau peralihan antara dalam dan luar seperti foyer atau lobi, koridor, atau hall.

b. Daya alam atau Iklim

Daya alam atau iklim yang dapat berpengaruh pada kenyamanan antara lain:

(17)

 Radiasi matahari

Radiasi matahari berlebih dapat mengurangi kenyamanan, terutama pada siang hari, sehingga diperlukan adanya peneduh (shading) pada bagian yang terekspos oleh sinar matahari.

 Angin

Arah angin perlu diperhatikan dalam merancang, sehingga tercipta pergerakan angin mikro yang sejuk dan memberikan kenyamanan. Pada ruang-ruang yang luas dan terbuka perlu diadakan elemen-elemen penghalang angin supaya kecepatan angin yang kencang dapat dikurangi.

 Curah hujan

Faktor curah hujan sering menimbulkan gangguan pada aktivitas manusia di ruang publik, sehingga perlu diperhatikan saat merancang bukaan, khususnya di daerah tropis dimana curah hujan tinggi dan kecepatan angin relatif kencang.

 Temperatur

Jika temperatur ruang sangat rendah maka temperatur permukaan kulit akan menurun dan sebaliknya jika temperatur dalam ruang tinggi akan mengalami kenaikan pula. Pengaruh bagi aktivitas kerja adalah bahwa temperatur yang terlalu dingin akan menurunkan gairah kerja dan temperatur yang terlampau panas dapat membuat kelelahan dalam bekerja dan cenderung banyak membuat kesalahan. Sehingga diperlukan temperatur optimal untuk orang dapat beraktivitas dengan baik.

c. Kebisingan

Pada daerah pada seperti perkantoran atau industri, kebisingan adalah satu masalah pokok yang bisa mengganggu kenyamanan bagi orang di sekitarnya.

Banyak cara untuk mengurangi kebisingan, salah satunya dengan menggunakan alat pelindung diri (ear muff, ear plug), kebisingan juga dapat direduksi dengan memberi barrier atau penghalang antara sumber kebisingan dengan pengguna ruang.

d. Aroma atau bau-bauan

Aroma atau bau-bauan yang mengganggu dapat mengurangi kenyamanan orang yang berada di sekitarnya. Aroma wewangian pun relatif secara personal.

(18)

Wewangian yang menyenangkan untuk seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.

e. Bentuk

Bentuk dari perancangan harus disesuaikan dengan ukuran standar manusia agar dapat menimbulkan rasa nyaman.

f. Keamanan

Keamanan merupakan masalah terpenting, karena ini dapat mengganggu dan menghambat aktivitas yang akan dilakukan. Keamanan bukan saja berarti dari segi kejahatan (kriminal), tapi juga termasuk kekuatan konstruksi, bentuk ruang, dan kejelasan fungsi.

g. Kebersihan

Sesuatu yang bersih selain menambah daya tarik lokasi, juga menambah rasa nyaman karena bebas dari kotoran sampah dan mengeliminasi bau-bauan yang tidak sedap yang ditimbulkannya.

h. Keindahan

Keindahan merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk memperoleh kenyamanan karena mencakup masalah kepuasan batin dan pancaindra. Untuk menilai keindahan cukup sulit karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda untuk menyatakan sesuatu itu indah atau tidak. Dalam hal kenyamanan, keindahan dapat diperoleh dari segi bentuk maupun warna.

i. Penerangan

Untuk mendapatkan penerangan yang baik dalam ruang perlu memperhatikan beberapa hal yaitu cahaya alami, kuat penerangan, kualitas cahaya, daya penerangan, pemilihan dan peletakan lampu. Pencahayaan alami di sini dapat membantu penerangan buatan dalam batas-batas tertentu, baik dan kualitasnya maupun jarak jangkauannya dalam ruangan.

(19)

BAB 4. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian akan diadakan pada RPTRA Akasia di Tebet, Jakarta Selatan dan RPTRA Pandawa di Kedoya, Jakarta Barat. Penelitian dilakukan pada dua lokasi mengingat riset ini bertujuan untuk melihat perbandingan pada kedua RPTRA tersebut, apakah ada perbedaan diantara keduanya, menyesuaikan dengan perumusan permasalahan penelitian. Berikut adalah peta lokasi penelitian yang akan diambil.

Gambar 5 – Lokasi RPTRA Pandawa

(20)

4.2 Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan pada hari kerja dan jam kerja. Hal ini dilakukan dengan maksud, selama observasi peneliti, pada hari kerja, target responden lebih banyak melakukan aktvitas di RPTRA tersebut bila dibandingkan di hari libur (akhir pekan atau libur nasional).

4.3 Metode Penelitian dan Analisa Data

Metode yang akan digunakan pada penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif. Data-data yang akan digunakan, terdiri dari data primer dan data sekunder. Untuk data primer, dikumpulkan dengan melakukan observasi ke objek penelitian. Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, maka data-data tersebut akan dianalisa.

Data sekunder juga dikumpulkan oleh peneliti melalui wawancara dengan beberapa narasumber, seperti pengguna ruang terbuka publik dan tokoh masyarakat setempat (Pengurus RT). Wawancara hanya sebagai factor pendukung penelitian, tidak untuk analisis data.

4.4 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau suatu subyek yang mempunyai kualitas atau karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian untuk ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini, populasi digunakan untuk

Gambar 6 – Lokasi RPTRA Akasia, Tebet, Jakarta Selatan

(21)

mengambil sampel yang menjadi sumber data di lapangan. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi (Sugiyono, 2010).

Sampel yang diambil harus mewakili populasi yang ada dan sampel diambil secara acak atau yang biasa disebut random sampling dari populasi heterogen. Karena responden berasal dari latar belakang dan usia yang berbeda-beda. Jenis populasi dibedakan menjadi populasi.

Yang menjadi populasi sampling pada penelitian ini adalah pengguna atau pengunjung RPTRA Pandawa dan juga RPTRA akasia, baik yang intensitasnya sering maupun yang intensitasnya jarang dengan jumlah responden sebanyak 30 responden. Kriteria sampel responden diambil secara acak atau biasa disebut random sampling dengan batasan adalah orang dewasa pengguna atau pengunjung RPTRA.

4.5 Metode Alur Riset

Berikut di bawah ini merupakan alur metode riset penelitian:1 LATAR BELAKANG PENELITIAN

MERUMUSKAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN

KAJIAN PUSTAKA

RUANG TERBUKA

PUBLIK RPTRA KENYAMANANPENGUNJ

UNG

PENENTUAN VARIABEL

PENGUMPULAN DATA

ANALISA & PEMBAHASAN

(22)

4.5 Uji Kecukupan Data

Uji kecukupan data pada penelitian ini ditujukan untuk melihat sejauh mana data yang diambil dapat memenuhi untuk menjadikan penelitian ini berguna. Mengingat jika data yang diambil tidak cukup, maka data tidak dapat digunakan. Kecukupan data penelitian kali ini menggunakan perhitungan sebagai berikut:

Keterangan:

k = Tingkat Keyakinan (99% ≈ 3, 95% ≈ 2) s = Derajat Ketelitian

N = Jumlah Data Pengamatan N’ = Jumlah Data Teoritis x = Data Pengamatan

Jika N’ ≤ N maka data dianggap cukup, namun jika N’ > N data tidak cukup (kurang) dan perlu dilakukan penambahan data.

4.6 Agregasi Data

Data akan diagregasi sesuai dengan pengelompokan kegiatan pada objek penelitian.

Pengelompokan data ini berdasarkan kegiatan-kegiatan yang ada pada objek penelitian.

4.7 Variabel penelitian

Indikator perbandingan yang digunakan dalam penenlitian ini adalah kesesuaian standar RPTRA yang telah ditetapkan dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta nomor 123 tahun 2017 dan variable kenyamanan diukur terhadap sarana dan prasarana yang terdapat dalam RPTRA sesuai dengan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 123. Variabel kenyamanan dapat dilihat dari:

 Sirkulasi

 Termal

 Bentuk

Gambar 7 – Alur Riset Penelitian

(23)

 Keamanan

 Kebersihan

 Keindahan

Berikut adalah penjabaran variable, sub variable dan indicator dari kenyamanan:

Variabel Sub-Variabel Indikator

Kenyamanan

Jalur pedestrian Akses masuk Masuk Tata Letak Fasilitas

Termal Atap bangunan

Pepohonan

Keamanan Lokasi pintu masuk

Pagar pembatas Material alat bermain Penerangan

Ukuran alat bermain Elemen alat bermain

Elemen Tempat duduk (bangku taman)

Ukuran tempat duduk

Kebersihan Tempat sampah

Toilet Ruang

Keindahan Layout

Desain Warna

(24)

BAB 5. RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

5.1 Rencana Anggaran Biaya

Biaya penelitian ini adalah sebesar Rp 4.000.000. (empat juta rupiah). Dana ini direncanakan untuk biaya honor peneliti, pembelian pulsa untuk data, buaya observasi di lokasi penelitian, sewa kamera dan komputer, biaya cetak, admininistrasi dan pembelian alat tulis dan kertas.

Table 2 – Rencana Angaran Biaya

No Jenis Pengeluaran

Biaya yang Diusulkan (Rp) Tahun I (2018)

1 Honorarium peneliti 1.200.000

2 Sewa kamera 500.000

3 Sewa komputer 800.000

4 Observasi dan pengumpulan data di objek 1.000.000

5 Administrasi 500.000

Jumlah 4.000.000

5.2 Jadwal Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan selama 8 (delapan) bulan. Kegiatan-kegaitan yang akan dilakukan dalam penelitian antara lain adalah membuat proposal penelitian, membuat desain dan kerangka penelitian, menyusun variable penelitian, melakukan survey lapangan, menyusun data hasil survey lapangan, membuat analisis penelitian, menyusun draft hasil analisis dan membuat laporan dan kesimpulan.

(25)

Table 3 – Jadwal Kegiatan Penelitian No. Kegiatan

2018

I II III IV V VI VII VII

I 1 Proposal Penelitian X

2 Desain dan Kerangka Penelitian

X x

3 Penyusunan

Instrumen Penelitian

x

4 Survey Lapangan x x

5 Data Strukturing x

6 Analisis x x x x

7 Draft Hasil Penelitian x x

8 Penyusunan Laporan x x

DAFTAR PUSTAKA

Budihardjo, Eko. 2013. Kota Berkelanjutan (Sustainable City). Bandung: Penerbit PT.

Alumni.

Carina, Jessi. 2017. Pemprov DKI Targetkan Pembangunan 200 RPTRA Tahun 2017. 16 Maret 2017. Diakses dari http://kompas.com pada 01 April 2018.

Carmona M., Magalhaes S., Hammond L. 2008. Public Space, The Management Dimension.

Routledge, Taylor and Francis Group, London and New York.

Carr, S. Francis, M. Rivlin, L.G, & Stone, A. M. 1992. Public Space. New York: Cambridge University.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta. 2015. Tim Pelaksana Pembanunan dan Pemeliharaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak. Jakarta.

Haris, Aulia. 2013. Evaluasi Keberhasilan Taman Lingkungan di Perumahan Padat Sebagai Ruang Terbuka Publik. Volume 24, No. 2, pp. 109 - 124

Joga, Nirwono. 2013. Gerakan Kota Hijau. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Parkinson, John. 2012. Democracy and Public Space. New York: Oxford University Press.

Hakim, Rustam. 2012. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Jakarta: Bumi Aksara.

Indonesia, Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, No. 123 Tahun 2017.

Satwiko, Prasasto. 2009. Fisika Bangunan. Yogyakarta : Penerbit ANDI.

Yogyakarta.

(26)

Savitri, Ayunda Windyastuti. 2015. Mengenal Lebih Jauh RPTRA, Taman Multifungsi di Sudut-sudut Ibu Kota.25 Juni 2015. Diakses dari http://detik.com pada 01 April 2018.

Shaftoe, Henry. 2008. Convivial Urban Space; Creating Effective Public Space. United Kingdom: Earthscan.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatid, dan R & D. Alfabeta: Bandung.

Website:

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/05/15405641/kadis-perumahan- sebut-jumlah-rptra-di-jakarta-sudah-lampaui-target

LAMPIRAN

Lampiran 1 – Dukungan Sarana dan Prasarana Riset

Dalam penelitian ini team peneliti membutuhkan perangkat komputer untuk menginput data tabulasi dan jaringan Wi-Fi mengumpulkan data dari sumber primer. Kedua fasilitas ini telah tersedia di Universitas Mercu Buana.

Lampiran 2 – Susunan Organisasi Tim Peneliti

No Nama / NIDN Instansi Asal Bidang

Ilmu

Alokasi Waktu (jam/

minggu)

Uraian Tugas

1 Dea Putri Ghassani, ST, MT (NIDN: 0303029101)

Universitas

Mercu Buana Arsitektur 8 Ketua Penelitian

2 Mona Anggiani, ST, MT (NIDN: 0314038101)

Universitas

Mercu Buana Arsitektur 4 Anggota Penelitian

(27)

3 Rona Fika Jamila, ST, MT (NIDN: 0329048401)

Universitas

Mercu Buana Arsitektur 4 Anggota Penelitian

Lampiran 3 – Biodata Tim Peneliti

3.1 Ketua

A. Identitas Ketua Peneliti

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Dea Putri Ghassani, S.T, M.T.

2 Jenis Kelamin Perempuan

3 Jabatan Fungsional Asisten Ahli

4 NIP/NIK/Identitas lainnya 216910019

5 NIDN 0303029101

6 Tempat dan Tanggal Lahir Malang, 3 Februari 1991

7 E-mail [email protected]

9 Nomor Telepon/HP 087831133586

10 Alamat Kantor Universitas Mercu Buana, Meruya – Jakarta Barat

11 Nomor Telepon/Faks 021 – 584 0816

12 Lulusan yang Telah Dihasilkan

13 Mata Kuliah yg Diampu 1. Estetika Bentuk 2. Bahan Bangunan

B. Riwayat Pendidikan Ketua Penelitian

Deskripsi S-1 S-2

Nama Perguruan

Tinggi Universitas Diponegoro Universitas Diponegoro

Bidang Ilmu Arsitektur Arsitektur

Tahun Masuk – Lulus 2009-2013 2012-2014 (program fast track)

Judul Skripsi/Tesis

Wisma Undip di Kampus Tembalang Penekanan Desain : Green

Architecture

Pengaruh Keberagaman Activity Support terhadap Terbentuknya Citra Kawasan di Jalan Pandanaran

Kota Semarang Nama Pembimbing

1. Dr. Ir. Erni Setyowati, MT 2. Dr. Ir. Bambang Setioko,

M.Eng

1. Prof. Dr. Ir. Bambang Setioko, M.Eng

2. Prof. Dr. Ing. Ir. Gagoek Hardiman C. Pengalaman Penelitian 5 tahun Terakhir

Tahun Judul Penelitian Sumber Pendanaan

Jumlah Pendanaan

(Rp)

(28)

2014

Pengaruh Keberagaman Activity Support terhadap Terbentuknya Citra Kawasan di

Jalan Pandanaran Kota Semarang

Pribadi 2.000.000

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidak- sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.

Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan Usulan Penelitian Internal.

Jakarta, 07 April 2018

(Dea Putri Ghassani, ST, MT)

3.2 Anggota Penelitian

A. Identitas Anggota Peneliti (1)

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Mona Anggiani, ST, MT

2 Jenis Kelamin Perempuan

3 Jabatan Fungsional Asisten Ahli

4 NIP/NIK/Identitas lainnya 612810447

5 NIDN 0314038101

6 Tempat dan Tanggal Lahir Jakarta, 14 Maret 1981

7 E-mail [email protected]

9 Nomor Telepon/HP 08151606909

10 Alamat Kantor Universitas Mercu Buana, Meruya – Jakarta Barat

11 Nomor Telepon/Faks 021 – 584 0816

12 Lulusan yang Telah Dihasilkan

13 Mata Kuliah yg Diampu 1. Tapak Lingkungan

2. Perancangan Arsitektur Dasar 3. Estate Management

B. Riwayat Pendidikan Peneliti (1)

Deskripsi S-1 S-2

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Mercu Buana Jakarta

Universitas Tarumanagara Jakarta

(29)

Bidang Ilmu Arsitektur Perenc. Wilayah dan Kota

Tahun Masuk – Lulus 1999 - 2003 2005 – 2006

Judul Skripsi/Tesis

Revitalisasi Perumahan Tentara Nasional Indonesia di Komplek

Hankam Slipi

Pola Kemitraan Pengadaan Perumahan Karyawan Industri di

Kawasan Industri MM 2100 Cibitung

Nama Pembimbing Dr. Ir. Tin Budi Utami, MT Ir. Mudji Indarwanto, MM, MT

Dr. Ir. Lana Winayanti, MCP Ir. Kemal Taruc, MBA, MSc C. Pengalaman Penelitian 5 tahun Terakhir Peneliti (1)

Tahun Judul Penelitian Sumber Pendanaan

Jumlah Pendanaan

(Rp) 2017 Studi Kepuasan Pengguna Ruang

Komunal pada Perumahan Cluster di Wilayah Tangerang Selatan

Ristekdikti 16.500.000

2017

Keterikatan Mahasiswa Terhadap Ruang Public Kampus, Studi Kasus: Kampus

Universitas Mercu Buana Meruya.

UMB 5.000.000

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidak- sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.

Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan Usulan Penelitian Internal.

Jakarta, Mei 2018

Mona Anggiani, ST, MT

B. Identitas Anggota Peneliti (2)

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Rona Fika Jamila, ST, MT

2 Jenis Kelamin Perempuan

3 Jabatan Fungsional Asisten Ahli

4 NIP/NIK/Identitas lainnya 186490043 / 612840450

5 NIDN 0329048401

6 Tempat dan Tanggal Lahir Semarang, 29 April 1984

7 E-mail [email protected]

9 Nomor Telepon/HP 0817245264

10 Alamat Kantor Universitas Mercu Buana, Meruya – Jakarta Barat

11 Nomor Telepon/Faks 021 – 584 0816

12 Lulusan yang Telah Dihasilkan

(30)

13 Mata Kuliah yg Diampu 1. Menggambar Arsitektur 2. Estetika Bentuk

3. Perancangan Arsitektur Dasar

Lampiran 4 – Surat Pernyataan Peneliti

SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI/PELAKSANA

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Dea Putri Ghassani, ST, MT NIDN : 0303029101

Pangkat/Golongan : Tenaga Pengajar Jabatan Fungsional : Asisten Ahli

(31)

Dengan ini menyatakan bahwa laporan penelitian saya dengan judul:

STUDI PERBANDINGAN KENYAMANAN PENGGUNA RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK

(STUDI KASUS: RPTRA AKASIA DAN RPTRA PANDAWA) yang dilaporkan ke Pusat Penelitan UMB untuk tahun anggaran 2018

bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh lembaga/ sumber dana lain.

Bilamana dikemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima kekas universitas Mercubuana.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar- benarnya.

Jakarta, 07 April 2018 Mengetahui,

Kaprodi Arsitektur,

Ir. Joni Hardi, MT NIP. 194690160

Ketua Peneliti,

Dea Putri Ghassani, ST, MT NIP. 216910019

(32)

Lampiran 5 – Surat Pernyataan Luaran Riset

SURAT PERNYATAAN LUARAN RISET

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Dea Putri Ghassani, ST, MT NIDN : 0303029101

Pangkat/Golongan : Tenaga Pengajar Jabatan Fungsional : Asisten Ahli

Dengan ini men yatakan bahwa Riset saya dengan judul:

STUDI PERBANDINGAN KENYAMANAN PENGGUNA RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK

(STUDI KASUS: RPTRA AKASIA DAN RPTRA PANDAWA)

dengan Luaran Riset akan berupa:

No Jenis Luaran Keterangan

1. Publikasi Ilmiah Nasional Ya

2. Publikasi Ilmiah Nasional Terakreditasi Tidak

3. Publikasi Ilmiah Internasional Tidak

4. Publikasi Ilmiah Internasional Bereputasi Tidak

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pern yataan ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan seluruh biaya riset yang sudah diterima ke kas Universitas Mercu Buana.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar- benarnya.

Yang Menyatakan, Ketua Peneliti

Dea Putri Ghassani, ST, MT NIP. 216910019 Mengetahui,

Ketua Kelompok Riset, Bidang Ilmu Arsitektur

Dr. Ir. Tin Budi Utami, MT NIP. 192680078

(33)

Lampiran 6 – Lembar Revisi

LEMBAR REVISI SEMINAR USULAN RISET INTERNAL

Nama : Dea Putri Ghassani, ST., MT NIDN : 0303029101

Pangkat/Golongan : Tenaga Pengajar

Reviewer I : -

Reviewer II : -

Judul Riset : Studi Perbandingan Kenyamanan Pengguna Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (Studi Kasus: RPTRA Akasia Dan RPTRA Pandawa) Telah melakukan revisi sesuai dengan saran yang disampaikan dengan rincian sebagai berikut:

No Nama

Reviewer Saran/Pertanyaan Hasil Revisi Status

1 Reviewer 2 Proposal cukup rapi dan dipersiapkan dengan

baik Nihil Nihil

2 Reviewer 2 Sebutkan nama jurnal yang dituju Jurnal Vitruvian Direvisi (Hal. 01) 3 Reviewer 2 Metode penelitian belum dibuat rinci dan

tahapan yang jelas sesuai tujuan penelitian (masih terlalu umum).

Merinci tahapan

metode penelitian Direvisi (Hal. 19-22)

4 Reviewer 2 Bab 4 (metode):

Sajikan taman (petanya) yang akan diteliti

.

Instrumen penelitian untuk mengukur kenyamanan dibuat, bagaimana variabel-

variabel sub variabelnya. Bagaimana mengukurnya?

Menambahka n peta

Melengkapi intstrumen

penelitian

Direvisi (Hal. 19-22)

5 Reviewer 2 Berapa responden & bagaimana kriterianya. Melengkapi

jumlah responden Direvisi (Hal. 20) 6 Reviewer 2 Jika ada wawancara, bagaimana dan kapan

wawancaranya, siapa? Bagaimana diolah dan dianalisis?

Tidak ada wawancara untuk

dianalisa

Dijelaskan (Hal. 20) 7 Reviewer 2 Lampirkan CV anggota peneliti belum ada. Melengkapi CV

Anggota Peneliti Direvisi (Hal. 27-28)

(34)
(35)

Lampiran 6 – Lembar Revisi dari reviewer

(36)

Gambar

Gambar 1 - Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (sumber: http://www.koran-jakarta.com)
Gambar 3 – Peta Jalan Penelitian
Gambar 5 – Lokasi RPTRA Pandawa
Gambar 6 – Lokasi RPTRA Akasia, Tebet, Jakarta Selatan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana sikap warga Kelurahan Angke mengenai program Corporate Social Responsibility Sinar Mas Land “Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terbuka Ramah

Tanam kota Batu telah mulai menerapkan konsep ruang bermain ramah anak terlihat seluruh permainan diperuntukan bagi anak anak untuk mengetahui lebih mendalam tentang

Kesesuaian aspek aksesibilitas pada kedua sub-Variabel yaitu keudahan menjangkau taman dan jalan yang ramah anak berdasarkan penelitian ruang publik yang tidak

Program perwujudan lingkungan untuk anak diawali oleh penelitian Kevin Lynch (1977), mengenai persepsi anak terhadap ruang kota. Penelitian tersebut menyatakan bahwa

Kesimpulan penelitian ini adalah dalam segi aksesibilitas dan sirkulasi RPTRA belum sesuai dengan kriteria taman terbuka publik dalam suatu wilayah, kualitas RPTRA

Ruang terbuka publik yang memberikan kenyamanan terhadap pengguna adalah terdapat banyak teduhan, pedestrian yang baik, tempat duduk, arena bermain anak, tempat jualan makanan

Pentingnya penelitian ini untuk mengetahui ruang Kedai Kopi Tephisisi dalam memenuhi kenyamanan gerak pengguna ruang terhadap tata pola layout furniture kedai kopi, supaya pengguna

SIAR IV 2023 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR|550 EVALUASI ASPEK KEAMANAN DAN KESELAMATAN PADA LAPANGAN DESA SINGOPURAN SEBAGAI RUANG PUBLIK RAMAH ANAK Tri Apriliana Program Studi