Proposal Penelitian
DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER: KEPRIBADIAN TOKOH
SYANUM DALAM NOVEL PANGERAN HATI KARYA MELLYANA DHIAN (KAJIAN PSIKOLOGI BEHAVIORISME SKINNER)
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Seminar Proposal
Oleh:
Ayu Salsabillah 2201210002
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN MEDAN, 2023
PROPOSAL PENELITIAN
DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER: KEPRIBADIAN TOKOH
SYANUM DALAM NOVEL PANGERAN HATI KARYA MELLYANA DHIAN (KAJIAN PSIKOLOGI BEHAVIORISME SKINNER)
Dipersiapkan dan Disusun oleh
Oleh:
Ayu Salsabillah 2201210002
telah disetujui oleh Pembimbing Skripsi untuk dijadikan pada Seminar Proposal Penelitian
Pembimbing Skripsi
Dr. Muharrina Harahap, S.S., M.Hum.
NIP. 198303112009122005
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN MEDAN, 2023
iii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kepada Allah SWT berkat Rahmat, Hidayah, dan Karunia-Nya kepada kita semua sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul “Dissociative Identity Disorder: Kepribadian Tokoh Syanum Dalam Novel Pangeran Hati Karya Mellyana Dhian (Kajian Psikologi Behaviorisme Skinner)”.
Laporan proposal skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mengerjakan skripsi pada program Strata-1 di Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan.
Peneliti menyadari dalam penyusunan proposal skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Karena itu pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Muharrina Harahap, S.S., M.Hum., selaku Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, sekaligus Dosen Pembimbing.
2. Bapak Dr. M. Oky Fardian Gafari, S.Sos., M.Hum., selaku Ketua Prodi Sastra Indonesia.
3. Ibu Heny Anggreini, M.A. selaku Dosen Pembimbing atas bimbingan, saran, dan motivasi yang diberikan.
4. Segenap Dosen Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan yang telah memberikan ilmunya kepada peneliti.
5. Orang tua, saudara-saudara, sahabat, dan teman-teman seperjuangan peneliti, atas doa, bimbingan, serta kasih sayang yang selalu tercurah selama ini.
Peneliti menyadari proposal skripsi ini tidak luput dari berbagai kekurangan. Peneliti mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan perbaikannya sehingga akhirnya laporan proposal skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi bidang pendidikan dan penerapan di lapangan serta bisa dikembangkan lagi lebih lanjut.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
iv
Medan, Mei 2023
Ayu Salsabillah 2201210002
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 4
1.3 Batasan Masalah ... 5
1.4 Rumusan Masalah ... 5
1.5 Tujuan Penelitian ... 5
1.6 Manfaat Penelitian ... 6
1.6.1 Manfaat Teoritis ... 6
1.6.2 Manfaat Praktis ... 6
BAB 2 LANDASAN TEORI, TINJAUAN PUSTAKA, DAN KERANGKA KONSEPTUAL ... 7
2.1 Landasan Teori ... 7
2.1.1 Teori Psikologi Behavior B.F Skinner ... 7
2.1.2 Dissociative identity disorder (DID) ... 10
2.2 Tinjauan Pustaka ... 13
2.3 Kerangka Konseptual ... 14
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 16
3.1 Metode Penelitian ... 16
3.2 Data dan Sumber Data ... 16
3.3 Instrumen Penelitian ... 16
vi
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 17 3.5 Teknik Analisis Data ... 17 DAFTAR PUSTAKA ... 18
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tingkah laku dipahami sebagai respon yang ditunjukkan oleh individu terhadap stimulus yang diterima. Menurut kaum behavioris perbendaharaan perilaku manusia diperoleh melalui proses belajar. Belajar yang berarti perubahan perilaku manusia merupakan hasil dari pengaruh lingkungan (E.Koeswara, 1991:77).
Tokoh dalam sebuah karya sastra selalu ditampilkan dengan perilaku yang beraneka ragam. Sama halnya seperti manusia, perilaku yang tampak tersebut belum tentu menggambarkan diri yang sesungguhnya dan apa yang diperlihatkan belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi sebab manusia pada umumnya berusaha untuk menutupinya. Kejujuran, kecintaan, kemunafikan, dan lain-lain, berada dalam batin masing-masing yang kadang terlihat gejalanya dari luar dan kadang tidak (Endraswara, 2008:8-9). Oleh karena itu karya sastra tidak akan pernah bisa lepas dari aspek kejiwaan sehingga membutuhkan bantuan ilmu psikologi untuk menggali lebih dalam mengenai karakter kepribadian hingga masalah yang dialami tokoh di dalam suatu karya sastra.
Setiap individu memiliki perilaku dan keunikan tersendiri antara satu sama lain. Perilaku sendiri memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian individu. Perilaku seseorang dapat diketahui dari bagaimana cara dirinya dalam menyikapi persoalan yang mucul dalam kehidupan masyarakat. Hal ini lah menjadikan latar belakang pentingnya untuk membahas lebih lanjut mengenai perilaku manusia.
Perilaku yang tertanam pada individu itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi akibat ada stimulus yang diberikan oleh individu lain. Stimulus yang diberikan berupa stimulus ekstrnal maupun stimulus internal. Dalam sebuah novel, perilaku tokoh-tokoh dalam cerita berbeda antar satu dengan yang lain Berbagai macam perilaku digambarkan oleh pengarang.
Mulai dari perilaku yang sesuai dengan norma sosial hingga perilaku menyimpang dengan norma yang berlaku. Kelakuan dari para tokoh merupakan
2
cerminan keadaan jiwa seseorang. Melalui perilaku inilah para tokoh dalam novel dapat dikaji dengan pendekatan psikologi sastra.
Psikologi dalam ranah sastra memiliki fungsi untuk mempelajari kondisi kejiwaan tokoh dalam sebuah novel. Karena psikologi sastra sering dimanfaatkan untuk memahami kejiwaan dari para tokoh dalam karya sastra Sejalan dengan pendapat Ahmadi (2016-49) menjelaskan psikologi adalah jendela jiwa dan sastra adalah representrasi dari manusia dalam mencapai hasrat yang diinginkan. Kondisi ini lah merupakan hubungan yang saling terikat antar keduanya.
Setiap tokoh dalam novel memiliki karakteristik perilaku, dan ciri khas yang berbeda. Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Adanya pengarah terhadap perilaku seseorang dikaji lebih lanjut dalam teori psikologi behaviorisme miliki B.F skinner, Sejalan dengan pendapat Skinner (Alvisol, 2019- 339), yang berpendapat tingkah laku manusia dapat dikontrol dan dirubah dengan adanya perubahan lingkungan sekitarnya.
Salah satu faktor pengendali adanya perubahan perilaku pada seseorang adalah lingkungan. Menurut Skinner (2013:202) organisme (individu) dapat menolak sifat dan kontrol yang mengikat dalam lingkungan namun sebagian kontrol akan terlihat jelas. Skinner berpendapat individu dapat mudah terpengaruh dalam berbagai macam hal yang berada di sekitarnya Perubahan perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungan sekitar tempat tinggalnya dan akan berubah ketika adanya perubahan lingkungan sekitar yang memberikan stimulus-stimulus pada individu tersebut.
Stimulus-stimulus yang dimaksud dapat berasal dari lingkungan ataupun dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Perilaku individu cenderung terbentuk setelah adanya rangsangan misalnya dari orang terdekat atau orang-orang tercinta, misalnya keluarga, sahabat. Perilaku dapat pula terbentuk dari orang yang tidak disukai.
Menurut Skinner perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respons.
3
Skinner percaya bahwa kepribadian akan dapat diketahui dari perkembangan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya secara berkelanjutan. Bagi Skinner, semua perilaku manusia ditentukan secara sadar atau tidak sadar.
Begitu juga yang tergambar dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian memaparkan kompleksitas perilaku tokoh Syanum yang terlihat dari perilakunya yang berubah-ubah karena penyakit Dissociative Identity Disorder (DID) yang diderita nya dan tidak terlepas dari lingkungan masa lalu nya. Novel ini mengisahkan perjalanan percintaan Syanumhingga menyingkap perubahan perilaku Syanum yang dipenuhi dengan hubungan percintaan, kekecewaan, pengkhianatan, dan konflik keluarga.
Syanum adalah seorang gadis pengidap penyakit Dissociative Identity Disorder (DID). Keluarga nya yang berasal dari golongan sosialita membuat ia diasingkan ke desa karena dianggap aib keluarga. Sedari kecil Syanum dirawat oleh ART dan Prof. Syarif yang merupakan seorang dokter penyakit jiwa. Tetapi karena Prof. Syarif juga memiliki banyak kesibukan di desa beliau menugaskan murid kepercayaan nya Iqbal Danugraha untuk membantu mengawasi Syanum. Iqbal Danugraha merupakan seorang anak kiai pemilik pesantren yang saat ini sedang melakukan internship di desa Gua tempat Syanum diasingkan.
Pada saat ayahnya gencar melakukan kampanye keberadaan dirinya terekspos ke media membuat masyarakat menduga-duga bahwa Syanum disembunyikan karena memiliki penyakit. Saat itu semua kepribadian Syanum berebut untuk mengambil alih raga Syanum. Namun kehadiran Iqbal sedikit demi sedikit membantu penyembuhan Syanum. Mulai dari kepergian salah satu kepribadian Syanum sampai munculnya kepribadian baru yang membuat terkuaknya penyebab Syanum memiliki kepribadian ganda.
Tidak hanya sebagai obat dari penyakit jiwa Syanum, Iqbal pun berhasil mencuri hati Syanum. Tidak lengkap rasanya jika cinta tanpa luka, di saat Syanum merasakan benih-benih cinta Iqbal dijodohkan dengan Anza putri semata wayang Prof, Syarif yang merupakan seorang dokter sekaligus kakak tingkat Iqbal di kampus.
4
Permasalahan perilaku tokoh Syanum dihadirkan melalui hubungannya dengan tokoh lain. Berbagai peristiwa yang terjadi dari hubungan antar tokoh tersebut menciptakan kekuatan aspek penokohan dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian. Hal itu membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap novel Pangeran Hati melalui tokoh Syanum. Pertama, peneliti menjadikan Novel Pangeran Hati yang ditulis oleh Mellyana Dhian sebagai bahan material dalam penelitian ini karena, terdapat masalah kompleksitas perilaku tokoh Syanum yang ditunjukkan melalui perilakunya yang berubah-ubah. Setiap Syanum merasakan kesedihan atau ketakutan maka kepribadian lainnya akan muncul sebagai wujud penggambaran suasana hati Syanum.
Kedua, obyek kulitan yang dipilih berupa novel Pangeran Hati belum pernah dikaji dengan pendekatan psikologi. Terutama yang berkaitan dengan kelakuan dari tokoh utama perempuan dalam novel ini. Pendekatan psikologi diperlukan untuk mengetahui perilaku dari tokoh berkepribadian ganda.
Berdasarkan fenomena di atas menjadi latar belakang, pembahasan penelitian ini menggunakan teori psikologi behaviorisme B.F Skinner. Kemudian, akan di aplikasikan pada novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian dengan berfokus pada tiga hal, yakni Stimulus yang mengawali respon tokoh Syanum, respon tokoh Syanum ketika mendapat stimulus tokoh lain dan perkembangan kepribadian tokoh Syanum dalam novel.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah, yaitu sebagai berikut.
1. Ketidakadilan yang diterima oleh anak perempuan berkepribadian ganda untuk merasakan kasih sayang.
2. Ketidakberdayaan tokoh utama lelaki saat dijodohkan oleh orang tuanya.
3. Masyarakat yang masih menganggap penyakit adalah aib sehingga orang yang memiliki penyakit harus diasingkan.
4. Perubahan perilaku Syanum saat berhadapan dengan lingkungan sekitar disebabkan oleh penyakit yang dideritanya.
5 1.3 Batasan Masalah
Menghindari batasan yang luas dan hasil yang mengambang dalam penelitian, sangat penting adanya batasan masalah. Dengan Batasan masalah penelitian menjadi terarah. Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini dibatasi dengan fokus terhadap ketidakadilan yang diterima anak berkepribadian ganda karena penyakit DID yang dianggap sebagai aib keluarga sehingga terjadi perubahan perilaku dari tokoh utama perempuan berkepribadian ganda.
1.4 Rumusan Masalah
Permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sangatlah beragam, mulai dari permasalahan percintaan hingga konflik keluarga tentunya semua itu merupakan stimulus-stimulus dapat mempengaruhi perilaku sesorang dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa persoalan yang telah disampaikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana stimulus yang mengawali perilaku tokoh utama perempuan dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian?
2. Bagaimana proses perubahan perilaku (proses pengkondisian) tokoh utama perempuan dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian berdasarkan kontrol yang diterimanya?
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam pnelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan stimulus yang mengawali perilaku tokoh utama perempuan dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian.
2. Mendeskripsikan perubahan perilaku tokoh utama perempuan dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian berdasarkan pengkondisian diterima.
6 1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini bermanfaat sebagai bekal pengalaman penelitian di bidang psikologi sastra khususnya psikologi tokoh Syanum dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian. Penelitian ini pula dapat menambah pengetahuan tentang pentingnya mengetahui psikologi seseorang untuk memotivasi diri untuk menyikapi persoalan-persoalan kehidupan dengan berprinsip, semangat dan optimisme.
1.6.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan praktis kepada mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan mengenai roman Pangeran Hati karya Mellyana Dhian yang didalamnya terdapat perilaku-perilaku manusia yang mengarah pada teori behaviorisme. Dengan demikian, penelitian ini juga dapat digunakan sebagai contoh analisis sastra yang titik tolaknya adalah keadaan manusia yang sebenarnya yaitu perilaku.
7
BAB 2
LANDASAN TEORI, TINJAUAN PUSTAKA, DAN KERANGKA KONSEPTUAL
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Psikologi Behavior B.F Skinner
Skinner lahir di Susquehanna Pensylvania pada tahun 1904, bapaknya seorang pengacara dan pernah kuliah di fakultas sastra, serta pernah menggeluti karya sastra. Skinner melanjutkan kuliah pada Fakultas Psikologi Universitas Harvard dan menamatkan pendidikannya (Ph. D). Psikolog yang berpengaruh pada Skinner adalah J. B. Watson dan E. L. Thorndike. Selain itu juga dipengaruhi oleh beberapa pemikiran filsuf yang beraliran behavior seperti Bertran Russel, Ernest Mach, Henri Poincare, dan Percy Bridgmen (Badrun, 2005: 13).
Pada psikologi behavioral, manusia dapat menganalisis kepribadian manusia dengan dua cara yaitu analisis stimulus dan respon. Adanya stimulus espon tersebut dapat menciptakan pengendalian diri pada manusia yang terbentuk dari agen eksternalnya.
• Konsep Stimulus
Stimulus adalah ransangan dari luar individu yang sedang terjadi pada diri manusia dan membentuk sebuah perilaku pada manusia, Stimulus terjadi karena beberapa variabel yang ada apa lingkungan sekitarnya. Sejarah pada lingkungan itu juga dapat menyebabkan adanya variabel yang menciptakan stimulus. Lingkungan merupakan agen eksternal , apabila kehadirannya dapat mempengaruhi manusia (Skinner, 1966). Menciptakan stimulus yang sesuai tentu saja harus mengetahui seberapa besar efek pengaruh terhadap manusia. Ada stimulus yang hanya sebagai angin
8
saja. Misalnya manusia tersebut merespon namun respon yang dilakukan tidak bertahan lama dan terkadang ada pula stimulus tersebut tidak dapat respon , karena kurangnya tingkatan daya pengaruh terhadap manusia. Agar stimulus tersebut efektif maka perlu adanya penguatan bisa berupa penguatan yang dilakukan secara berulang.
• Konsep Respon
Menurut Skinner (2013: 75), respon adalah perilaku yang telah dikendalikan oleh stimulus. Respon adalah tindakan atau hasil dari ransangan yang terjadi pada manusia saat mendapat stimulus pada dirinya, sehingga menciptakan suatu tingkah laku.
Menurut Skinner (1966), keberhasilan respon diukur berdasarkan tingkatan fungsi dari stimulus itu sendiri karena respon juga terbentuk dari stimulus yang berkondisi. Respon tidak selalu menghasilkan hal setara dengan stimulus yang telah diberikan. Respon biasanya dipengaruhi oleh rangkaian stimulus, maka respon tidak selalu bisa ditentukan. Ada manusia mendapatkan banyak stimulus tetapi hal ini dapat menciptakan respon yang berbeda, seperti ketika manusia mendapatkan musibah, tentu saja pasti terdapat stimulus negatif. Namun stimulus negatif tersebut tidak selalu menghasilkan respon negatif, bisa saja berubah menjadi respon positif. Hal ini biasanya dikarekan terdapat respon baru setelahnya sehingga menciptakan pemikiran dan tindakan baru. Maka untuk menghasilkan respon yang sesuai perlu adanya kontribusi stimulus yang kuat. Refleks merupakan respon yang terjadi berdasarkan naluri atau murni dari stimulus yang telah terkondisi. Ketika manusia merasa lapar, tentu saja ia akan memenuhi rasa lapar tersebut dengan
9
cara makan (Skinner, 1966). Skinner juga menjelaskan hal lain, refleks juga dapat tercipta dari dorongan emosi manusia.
• Konsep Pengendalian Diri
Menurut Skinner (2013: 355-357), manusia melakukan pengendalian dirinya sendiri ketika manusia tersebut telah memiliki sebuah konsekuensi yang saling bertentangan, disaat mengalami stimulus postif dan negatif. Konsekuensi yang bersifat postif dan negatif dapat menciptakan dua respon yang saling berkaitan, yaitu respon pengendali merupakan pengendalian yang dilakukan dengan cara mempengaruhi seseorang, sehingga berubah menjadi respon yang dikendalikan. Biasanya, hal yang menjadi dasar dari sumber pengendalian adalah tanggung jawab pribadiindividu. Selain itu, agen eksternal juga ikut berkontribusi dalam pencipta dan penentu pengendalian diri manusia (Skinner, 2013: 372-374).
Perhatian Skinner berpusat pada tingkah laku yang dapat dikontrol, tingkah laku yang dapat diubah, yaitu pada ciri-ciri yang bersifat relatif tetap. Kontrol itu lebih mengarah pada pengubahan yang lingkungan yang dapat mengahsilkan tingkah laku yang berbeda. Skinner (dalam Badrun, 2005: 14 – 15), juga menyatakan bahwa aspek lingkungan dan pengalaman akan lebih banyak berperan dalam tingkah laku.
Teori psikologi behavior hanya mengkaji perilaku yang tanpak dari manusia tersebut. Perilaku yang tercermin lewat ucapan dan perbuatan merupakan data atau fakta empiris yang menjadi agen penunjuk jiwa atau mental seseorang (Siswantoro, 2005: 27).
Teori behavior beranggapan bahwa perilaku manusia disikapi sebagai respon yang akan muncul jika ada stimulus. Stimulus tertentu akan menimbulkan respon tertentu. Skinner dalam Badrun
10
(2005: 15) membagi dua stimulus: (1) tidak terkondisi, yang bersifat alami, misalnya rasa lapar dan haus yang dialamai oleh setiap manusia, dan (2) stimulus berkondisi, yaitu hasil manipulasi manusia untuk menghasilkan perilaku tertentu yang diharapkan.
Berkaitan dengan stimulus tadi, Skinner membagi tingkah laku (respon) menjadi dua: (1) tingkah laku tak terkondisi, yang bersifat alami misalnya orang kepanasan mencari tempat yang sejuk, dan (2) tingkah laku berkondisi, yaitu yang muncul karena adanya stimulus terkondisi.
Pendapat ini menegaskan bahwa teori behavior ini berpijak pada anggapan bahwa keperibadian manusia merupakan hasil bentukan dari lingkungan tempat ia berada, sehingga manusia menjadi jahat, beriman, penurut atau pembangkang.
Kelebihan teori ini adalah prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Skinner didasarkan pada percobaan yang eksak dan dia sangat memperhatikan dan memberi penghargaan yang tinggi pada yang terkontrol dengan baik (Badrun, 2005: 14). Kelemahan teori ini yakni dalam percobaan yang dilakukan oleh Skinner yang menggunakan tikus sebagai objeknya, sedangkan teori ini diterapkan pada manusia. Secara tidak langsung Skinner menyamakan manusia dengan tikus.
2.1.2 Dissociative identity disorder (DID)
Dissociative identity disorder (DID) atau yang sebelumnya dikenal dengan sebutan multiple personality (kepribadian ganda) merupakan sebuah kelainan mental di mana sang penderita memiliki dua atau lebih kepribadian atau identitas yang mengambil alih kontrol perilaku dari individu, biasanya diikuti dengan ketidakmampuan untuk mengingat informasi personal yang penting (Ringrose, 2018). Gangguan ini ditandai dengan perpecahan identitas dibandingkan dengan bertambahnya kepribadian secara
11
terpisah. Oleh karenanya sekarang disebut dissociative identity disorder atau gangguan keterpisahan identitas, dan bukan multiple personality yang merujuk pada pertambahan kepribadian (Spiegel et al, 2011).
DID sejak dahulu merupakan ganguan mental yang cukup langka, disebutkan bahwa penderitanya hanya ada 2% dari populasi dan lebih sering dialami oleh perempuan (www.nami.org). Ganguan ini mayoritas dialami sebagai cara mengatasi trauma yang dimiliki oleh individu penderitanya. Baik itu sebagai cara untuk melupakan rasa syok yang dialami atau sebagai pertahanan diri dari trauma yang dimiliki.
Pecahan identitas yang dimiliki oleh penderita DID bisa mengacu pada dirinya di masa lalu seperti masa kecilnya, dari impresi orang sekitarnya atau identitas yang ingin dimiliki individu, atau bahkan seseorang yang sama sekali bukan dirinya (Haddock, 2001).
Identitas yang berbeda-beda ini menjadi menarik, karena tiap kepingannya pasti memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Mulai dari cara bicara, cara berpenampilan, dan bahkan kebutuhan yang mereka miliki. Penderita DID juga dapat menanamkan memori palsu di dalam dirinya untuk melengkapi pecahan identitas lain yang dimiliknya (Haddock, 2001). Adanya keterpisahan identitas menjadi beberapa kepingan yang berbeda- beda dan hidup dalam satu tubuh, dapat diasumsikan di tiap kepingan tersebut memiliki identitas yang ditampilkan secara berbeda pula, apalagi identitas tersebut muncul dengan karakteristik yang unik untuk setiap kepingannya.
Reaksi dari tokoh lain dalam film menghadapi tokoh DID juga menarik, terutama karena tokoh lain hanya memiliki satu identitas yang utuh sementara tokoh DID pada waktu yang berbeda bisa menjadi pecahan identitas yang berbeda. Identitas sendiri merupakan
12
kolektivitas atau diri yang sebenarnya yang ````tersembunyi dalam banyak hal lain, bentuk ‘diri’ yang lebih superficial atau artificial yang seseorang dengan satu sejarah dan leluhur miliki bersama (Hall, 1996). Hall (1996) juga menyebutkan identitas dimiliki dan/atau diadopsi melalui kultur dan konstruksi sosial dalam suatu masyarakat. Identitas sebagai pendirian seseorang terhadap bagaimana seseorang tersebut ingin dilihat dan bagaimana seseorang mengidentifikasikan dirinya sendiri, disalurkan melalui cara bersikap, penampilan, dan bahkan melalui peran yang dilakukan dalam tatanan masyarakat sosial (Hall, 1996).
Makna terus diproduksi dan dipertukarkan dalam setiap interaksi pribadi dan sosial di mana kita mengambil bagian. Hal itu juga diproduksi di berbagai media berbeda, yang mengedarkan makna di antara berbagai budaya dalam skala dan dengan kecepatan yang hingga ini tidak diketahui dalam sejarah (Wood, 2010). Makna yang memberikan sebuah nyawa dari identitas, diproduksi dan distribusikan melalui media. Membentuk sebuah makna dan identitas yang baru pada orag lain dalam prosesnya (Wood, 2010).
Identitas dapat disebut sebagai sense of self, di mana seseorang secara psikologis menempatkan dirinya dalam suatu grup dan/atau pengkelompokan tertentu, untuk meberikan kesan kesamaan sekaligus keberbedaan (Lawler, 2008). Identitas berasal dari bahasa latin idem yang berarti identik, manusia merupakan seseorang yang sama sejak lahir (identik), tetapi manusia juga berbagi keidentikan dengan yang lain (Lawler, 2008). Identitas yang umum adalah jenis kelamin (perempuan dan laki-laki), kewarganegaraan, warna kulit, dan lainnya. Di sisi lain, ada aspek identitas yang unik dan memperlihatkan keberbedaan mereka dari yang lain. Pengkategorian identitas itu sangat luas dan membutuhkan identifikasi secara personal yang dilakukan seumur hidup.
13
Identitas juga menunjukan sebuah individualitas, sebuah kecenderungan untuk mendefinisikan diri sebagai properti individu yang unik dan murni dari seseorang. Mendefinisikan diri secara personal dan bukan identitas kolektif. Pandangan alternatif yang berasal dari teori kategorisasi diri adalah bahwa ada banyak tingkatan kategorisasi diri, dari tingkat pribadi ke individu ke tingkat kelompok dan kolektif, di mana identitas pribadi hanya satu, dan bahwa diri kelompok tidak istimewa tetapi bersama dan normatif, dibangun antara lain melalui interaksi dan pengaruh sosial (Simon, 2004).
2.2 Tinjauan Pustaka
Sebuah penelitian agar mempunyai orisinilitas perlu adanya kajian pustaka yang berfungsi untuk memberikan pemaparan tentang penelitian dan analisis terdahulu yang telah dilakukan. Penelitian yang dijadikan sebagai kajian pustaku dalam penelitian ini diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Siti Ulfah (2009) dan Setyaningsih (2011). Referensi di atas deskripsikan sebagai berikut:
Penelitian yang dilakukan oleh Siti Ulfah (2009) dengan judul Psikologi Kepribadian tokoh utama dalam novel Habbu karya Mashuri. Dalam penelitian tersebut di bahas mengenai proses tokoh utama mengalami kejiwaan karena bimbang akibat pergaulan, pergaulan yang bisa membawanya pada kenyataan hidup yang membuatnya semakin baik maupun buruk. Dalam penelitian ini Siti Ulfah menggunakan teori kepribadian Fread Metode yang digunakan ialah metode pendekatan psikologi yang menganalisis keseluruhan karya sastra dari segi intrinsik dan ekstrinsik Permasalahan yang dimunculkan dalam novel tersebut yaitu psikologi kepribadian tokoh utama dalam novel Hubbu karyn Mashuri
Penelitian yang dilakukan oleh Siti Ulfah jika dibandingkan dengan penelitian ini terdapat persamaan dan perbedaan. Persanaannya yaitu sama-sama menggunakan teori Psikologi Kepribadian. Perbedaannya terdapat pada focus penelitian, jika Siti Ulfah lebih membahas struktur pembangun novel secara keseluruhan dari segi intrinsik dan ekstrinsik serta psikologi kepribadian tokoh
14
utuma dengan menggunakan teori psikologi kepribadian Freud. Penelitian ini lebih membahas perilaku tokoh utama dengan menggunakan Psikologi kepribadian B.F.
Skinner yang dapat dijadikan sebagai teori yang lebih terfokus pada perilaku tokoh utama dalam merespon stimulus yang di dapatnya dari tokob lain.
Penelitian yang dilakukan oleh Setyaningsih (2011) dengan judul Watak dan Perilaku Tokoh Matsumi dalam Novel Perempuan Kembang Jempun karya Lan Fan, penelitian ini berupa pengungkapan watak tokoh Matsumi dan perilaku tokoh utama dalam novel Perempuan Kembang Jepun. Adapun teori yang digunakan Setyaningsih adalah teori tingkah laku antarpribadi (FIRO), Permasalahan yang dimunculkan dalam penelitian tersebut, yaitu watak, perilaku. serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku tokoh utama dalam Novel Perempuan Kembang Jempun berdasarkan pendapat Jalaludin Rakhmat.
Berdasarkan penelitian tersebut, penulis mendapatkan persamaan dan perbedaan yang menonjol. Persamaannya terletak pada topik yang diangkat yaitu tentang perilaku dan respon. Perbedaannya terletak pada apa yang diteliti, di mana penelitian tersebut merupakan penelitian langsung di lapangan pada beberapa subjek, sedangkan pada penelitian yang dilakukan penulis merupakan penelitian yang dilakukan berdasarkan isi dari novel.
2.3 Kerangka Konseptual
Karya sastra diciptakan sebagai pembawa pesan yang disampaikan oleh pengarang dengan apa yang dilihat dan dialami dalam lingkungan masyarakat.
Respon pengarang tentang peristiwa dan tokoh dalam karya sastra menjadi pembawa pesan yang efektif dan bersifat massal dalam kehidupan masyarakat. Kali ini peneliti membahas karya sastra dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian yang menceritakan tentang masalah sosial.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti bermaksud untuk meneliti novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Mengetahui masalah sosial yang ada di dalam novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian tersebut menjadi tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti.
15
Psikologi sastra adalah suatu disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh imajiner atau tokoh-tokoh faktual yang ada di dalamnya. Hal ini merangsang untuk melakukan penjelajahan ke dalam batin atau kejiwaan untuk mengetahui lebih lanjut tentang seluk beluk manusia yang beraneka ragam (Semi dalam Sangidu 2005:30).
Tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa analisis psikologi sastra sama sekali terlepas dengan kebutuhan masyarakat. Sesuai dengan hakikatnya, karya sastra memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara tidak langsung. Melalui pemahaman terhadap tokoh-tokohnya, misalnya, masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi, dan penyimpangan-penyimpangan lain yang terjadi dalam masyarakat, khususnya dalam kaitannya dengan psike (Ratna 2004:342-343)
16
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Fokus penelitian ini yaitu bertujuan mendriskripsikan aspek psikologis tokoh utama perempuan dalam isi novel. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif untuk mengetahui perilaku tokoh serta mendeskripsikannya dengan menggunakan pendekatan Psikologi sastra teori Behaviorisme B.F Skinner.
Menurut Bogdan dan Taylor, Sujarweni. 2014:19 (dalam Hasbi, Nur. 2020.
Tindakan Sosial Tokoh Utama dalam Novel The Punk Karya Gideon Sams:
Tinjauan Sosiologi Sastra) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu keadaan konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik.
3.2 Data dan Sumber Data
Data penelitian ini adalah rangkaian dari paragraf, kalimat, monolog, dan dialog pada novel. Data ini dinilai dengan tiga aspek yaitu stimulus. respon, dan pengendalian diri pada tokoh utama. Data ini juga dianggap relevan dengan teori Behaviorisme B.F. Skinner. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel yang berjudul Pangeran Hati karya Mellyana Dhian, yang diterbitkan Loveable, tahun 2019, cetakan pertama dengan tebal 324 halaman.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi pada saat penelitian. Kemudian data merupakan suatu kesimpulan atau penemuan dalam penelitian yang mengandung kebenaran dan empiris. Metode pengumpulan data adalah metode baca-catat.
17
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah instrumen dokumentasi yang dikembangkan untuk penelitian dengan menggunakan pendekatan analisis. Alat pendukung yang digunakan adalah alat tulis, buku, novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian , serta buku dan jurnal pendukung.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yaitu dengan menggunakan teknik studi pustaka.
Teknik studi pustaka merupakan penemuan mengenai sumber- sumber yang berhubungan dengan objek penelitian (Faruk, 2017: 56-57). Zed (2008: 17) mengatakan ada empat langkah riset kepustakaan, yaitu (1) menyiapkan alat yang diperlukan untuk penelitian, (2) menyiapkan bahan penelitian yang dijadikan sumber utama dalam penelitian, (3) mengorganisasikan waktu, (4) proses membaca, dan mencatat bahan-bahan penelitian.
Pada point kedua, menjelaskan mengenai bahan penelitian pertama yang digunakan berupa buku referensi, buku teks, dan jurnal ilmiah berhubungan dengan teori behaviorisme B.F. Skinner. Bahan penelitian kedua yang digunakan berupa novel Pangeran Hati karya Mellyana Dhian.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian ini adalah teknik deskriptif analisis.
Menurut Ratna (2013: 53), deskriptif analisis adalah teknik analisis sumber data dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang tersimpan di dalamnya, dan dilanjutkan dengan tahapan analisis. Pada teknik analisis data ini bertujuan mendeskripsikan proses perubahan tingkah laku tokoh utama dengan berbagai stimulus yang di dapatkannya.
Berdasarkan penyataan di atas, maka tahapan-tahapan analisis pada penelitian ini adalah (1) menganalisis data berdasarkan rumusan masalah, (2) menginterpretasikan hasil analisis, (3) menyusun kesimpulan dari hasil analisis sumber data. (4) menafsirkan hasil tersebut pada pembahasan penelitian.
18
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. Anas. (2015). Psikologi Sastra. Surabaya: Unesa University Press.
Ahmadi, Anas (2019) Metode Penelitian Sastra. Gresik: Graniti.
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Endraswara, Suwardi. (2008). Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta:
Medpress
Endraswara. Suwardi (2008). Metodologi Penelitian Psikologi Sastra. Jakarta:
MedPress.
Faruk. (2017) Metode Penelitian Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nurgiyantoro, Burhan. (2015). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurhayati, Eti. (2014). Psikologi Perempuan. Yogyakarta Pustaka Belajar.
Ratna, Nyoman Kutha. (2013). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Semiun, Yustinus (2020). Behavioristik: Teori-teori Kepribadian. Yogyakarta: PT Kanisius.
Siswanto. (2015). Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Skinner, Burrhus Frederic. (2013). Ilmu pengetahuan dan Perilaku Manusia.
Terjemahan Maufur. MA. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Belajar.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
ALFABETA.
Wiyatmi. (2011). Psikologi Sastra Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Kanwa Publisher.
Pramudia, Ferdianto Adi. & Indarti, Titik. (2021). Perilaku Tokoh Dalam Novel
“Journal of Terror: Kembar” Karya Sweta Kartika (Kajian Psikologi Kepribadian B.F Skinner), 8(6), 34-42.
Rahmaniyah, Fakhita. & Ahmadi, Anas. (2021). Pengendalian Diri Tokoh Utama Pada Novel Sawitri Dan Tujuh Pohon Kelahiran Karya Mashdar Zainal (Kajian Psikologi Behaviorisme B.F Skinner), 8(3), 157-169.