Studi Serial Retensi Pengetahuan Masyarakat Awam Post Training Tentang Hands Only Cpr
Indah Dwi Aulya1, Antoni Eka Fajar Maulana2, Nia Firdianty3, I Made Eka Santosa4 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mataram (STIKES) Mataram
Henti Jantung masih menjadi masalah besar di seluruh dunia dan menjadi masalah global yang terus didiskusikan oleh tenaga Kesehatan. Di negara maju sekalipun, masalah henti jantung masih menjadi fokus utama untuk diselesaikan. Di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah secara konsisten tetap menduduki peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Masyarakat awam sangat potensial dalam perannya sebagai Bystander CPR untuk membantu menyelesaikan kasus henti jantung di berbagai situasi termasuk di lingkungan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat retensi pengetahuan masyarakat awam tentang hands only CPR dengan studi serial. Desain penelitian ini adalah jenis Penelitian Deskriptif dengan subjek penelitian ini adalah mahasiswa aktif STIKES Mataram program studi S1 Keperawatan semester 2 dengan populasi 63 orang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas dan data yang dihasilkan diolah menggunakan analisis deskriptif sederhana. Pada tahap awal sebelum dilakukannya pelatihan (Pre) variabel pengetahuan rata-rata responden sebanyak 48,8%, Kemudian sesaat setelah dilakukan pelatihan (post 1), kemampuan pengetahuan rata-rata responden mencapai 85,7%. Kemudian pada hasil post test kedua (dua minggu setelah pelatihan) dan ketiga (1 bulan setelah pelatihan) berturut turut menurun menjadi 77,9% dan 73,0%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelatihan mampu meningkatkan pengetahuan responden tentang Hands Only CPR sesaat setelah pelatihan, kemudian diikuti dengan penurunan pengetahuan yang tidak signifikan atau dengan kata lain cenderung stabil pada post test kedua (2 minggu setelah pelatihan) dan post test ketiga (1 bulan setelah pelatihan).
Keywords:
Serial Studies Knowledge retention Hands Only CPR
Cardiac arrest is still a big problem around the world and is a global problem that continues to be discussed by health professionals. Even in developed countries, the problem of cardiac arrest is still the main focus to be resolved. In Indonesia, heart and blood vessel disease consistently ranks as the first cause of death in Indonesia. Lay person has great potential in its role as a CPR Bystander to help resolve cases of cardiac arrest in various situations, including in the community. The purpose of this study was to look at the retention of knowledge of Lay person about hands only CPR with a serial study.
The design of this research is Descriptive Research with the subjects of this study were active students of STIKES Mataram in the 2nd semester of Nursing program with a population of 63 people. Sampling using total sampling, the number of population that can be used as a sample is 63 respondents. The research instrument uses a questionnaire that has been tested for validity and reliability and the resulting data is processed using simple descriptive analysis. At the initial stage before the training (Pre) the average knowledge variable of the respondents was 48.8%, then shortly after the training (post 1), the average knowledge ability of the respondents reached 85.7%. Then the results of the second post test (two weeks after training) and third (1 month after training) decreased to 77.9% and 73.0%
respectively. This study concluded that the training was able to increase respondents' knowledge about Hands Only CPR shortly after the training, then followed by an insignificant decrease in knowledge or in other words tended to be stable in the second post test (2 weeks after training) and third post test (1 month after training).
This is an open access article under the Lisensi Creative Commons Atribusi-Berbagi Serupa 4.0 Internasional
Corresponding Author:
Ovy Puspita Dewi DK
Politeknik Kesehatan Kartini Bali Email: [email protected]
1. PENDAHULUAN
Henti Jantung adalah masih menjadi masalah besar di seluruh dunia dan menjadi masalah global yang terus didiskusikan oleh tenaga Kesehatan. Di negara maju sekalipun, masalah henti jantung masih menjadi fokus utama untuk diselesaikan, contohnya di Amerika Serikat, kejadian OHCA (Out Of Hospital Cardiac Arrest) tercatat lebih dari 300.000 kasus dan menyebabkan kematian setiap tahunnya dengan survival rate yang bervariasi dengan rata-rata kurang dari 10% dari seluruh kejadian (Bobrow, Leari dan Heighmen, 2011). American Heart Association (2013) menyebutkan bahwa angka kejadian OHCA mencapai 359.400 kasus dengan survival rate mencapai 9,5%.
Vol. 4 No. 1 Juni 2023
p-ISSN : 2830-4748, e-ISSN: 2830-4772
DOI: 10.58258/rehat.v3i1.4688/ https://ejournal.mandalanursa.org/index.php/Rehat
Article Info Abstract
Article history:
Diterima : 18 Mei 2023 Terbit : 02 Juni 2023
Article Info Abstrak
Article history:
Accepted : 18 Mei 2023 Publish : 02 Juny 2023
Di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah secara konsisten tetap menduduki peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Beberapa sumber menyebutkan jumlah kejadian henti jantung di Indonesia sangat beragam. Penderita henti jantung baik di dalam maupun di luar rumah sakit yang berhasil dihimpun dari RSU. dr. Sayidiman Magetan tercatat sebanyak 82 kasus pada tahun 2013 dan 92 kasus hingga bulan oktober 2014 (RSUD. Dr. Sayidiman, 2014).
Jumlah angka kematian dengan henti jantung di RSU Anutapura Palu tahun 2010 sejumlah 20 kasus, tahun 2011 sejumlah 31 kasus, tahun 2012 sejumlah 39 kasus (Aminudin, 2013).
Peristiwa henti jantung memerlukan tindakan resusitasi kardiopumuner (CPR) yang terintergasi yang disebut dengan Chain Of Survival (rantai kehidupan) (Travers et al, 2010). CPR yang berkualitas merupakan faktor kunci yang mempengaruhi kelangsungan hidup pasien. CPR standar mampu menyediakan sepertiga dari pasokan darah normal ke otak dan 10-20% dari aliran darah normal ke jantung (Ong et al, 2012). Penguasaan ketrampilan CPR harus mampu dilakukan dengan baik saat dibutuhkan dalam semua keadaan (Janti, 2010).
Masyarakat awam sangat potensial dalam perannya sebagai Bystander CPR untuk membantu menyelesaikan kasus henti jantung di berbagai situasi termasuk di lingkungan masyarakat (Kardong et al, 2010). Peran efektif dari Bystander CPR mampu menggandakan angka kemungkinan keselamatan pasien henti jantung. Fenomena di atas memunculkan fakta pentingnya penguasaan dan retensi kemampuan bantuan hidup dasar baik pada orang awam maupun tenaga medis (Parnell dan Larsen, 2007). Salah satu upaya peningkatan kemampuan CPR pada masyarakat awam adalah dengan melakukan pelatihan. Peningkatan pemahaman pengetahuan dan ketrampilan dalam penanganan henti jantung mampu memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan survival rate pada kasus henti jantung (Glaa dan Chick, 2011). Namun pada kenyataannya, pelatihan resusitasi jantung paru tidak selalu diiringi dengan retensi kemampuan pada setiap individunya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kemampuan seseorang dalam melakukan resusitasi jantung paru akan terus menurun seiring berjalanya waktu. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada orang awam menunjukkan bahwa 80% subjek mengalami penurunan kemampuan resusitasi jantung paru setahun setelah pelatihan (Christensona et al, 2007). Berdasarkan keseluruhan fenomena di atas, peneliti ingin mengkaji lebih jauh tentang retensi pengetahuan resusitasi jantung paru pada masyarakat awam.
2. BAHAN DAN METODE
Desain penelitian ini adalah jenis Penelitian Deskriptif dengan subjek penelitian ini adalah mahasiswa aktif STIKES Mataram program studi S1 Keperawatan semester 2 dengan populasi 63 orang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas dan data yang dihasilkan diolah menggunakan analisis deskriptif sederhana.
3. HASIL
A. Data Umum
Tabel 1.1 Distribusi Berdasarkan Jenis No. Jenis Kelamin Frekuensi(n) Prosentas e(%)
1 Laki-Laki 19 30,2
2 Perampuan 44 69,8
Total 63 100
Berdasarkan Jenis Kelamin, distribusi responden dalam penelitian ini adalah laki laki sebanyak 19 responden (30,2%), dan
44 perempuan (69,8%).
B. Data Khusus
Tabel 1.2 Tingkat Pengetahuan Responden Sebelum Mendapatkan Pelatihan Hands Only CPR
No Tingkat Pengetahuan Frekuensi Prosentase e(%)
1 Kurang 44 69,8
2 Cukup 19 30,2
3 Baik 0 0
Total 63 100
Dari table diatas, menunjukkan tingkat pengetahuan responden sesaat setelah mengikuti pelatihan Hands Only CPR, dimana pengetahuan responden meningkat secara signifikan dimana sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 60 responden (95,3%), hanya 3 responden (4,7%) yang berada di tingkat pengetahuan cukup.
Tabel 1.3 Tingkat Pengetahuan Responden Sebelum Mendapatkan Pelatihan Hands Only CPR
No Tingkat Pengetahuan Frekuensi Prosentase e(%)
1 Kurang 0 0
2 Cukup 3 4,7
3 Baik 60 95,3
Total 63 100
Dari table diatas, menunjukkan tingkat pengetahuan responden sesaat setelah mengikuti pelatihan Hands Only CPR, dimana pengetahuan responden meningkat secara signifikan dimana sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 60 responden (95,3%), hanya 3 responden (4,7%) yang berada di tingkat pengetahuan cukup.
Tabel 1. 4 Tingkat Pengetahuan Responden Sebelum Mendapatkan Pelatihan Hands Only CPR
No Tingkat Pengetahuan Frekuensi Prosentase e(%)
1 Kurang 0 0
2 Cukup 10 15,8
3 Baik 53 84,2
Total 63 100
Dari tabel diatas, menunjukkan tingkat pengetahuan responden 2 minggu setelah mengikuti pelatihan Hands Only CPR, dimana pengetahuan responden secara umum terlihat stabil, namun teridentifikasi adanya sedikit penurunan pengetahuan walaupun masih tetap dalam klasifikasi pengetahuan yang sama.
Tabel 1. 5 Tingkat Pengetahuan Responden Sebelum Mendapatkan Pelatihan Hands Only CPR
No Tingkat Pengetahuan Frekuensi Prosentase e(%)
1 Kurang 2 3,2
2 Cukup 18 28,6
3 Baik 43 68,2
Total 63 100
Dari tabel diatas, tidak terlihat adanya penurunan pengetahuan responden yang signifikan.
terdapat 43 responden (68,2%) tetap berada di tingkat pengetahuan yang baik, dan terdapat 18 responden (28,6%) yang berada di tingkat pengetahuan cukup, dan ditahap ini terdapat juga 2 responden (3,2%) yang berada ditingkat pengetahuan yang kurang.
4. PEMBAHASAN
Secara umum, rata – rata pengetahuan responden meningkat secara signifikan sesaat setelah pelatihan dan cenderung stabil hingga pengambilan data pada minggu ke empat dilakukan.
Gambar berikut menunjukkan rata rata prosentase pengetahuan responden sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan Hands only CPR, baik sesaat setelah pelatihan, 2 minggu dan 1 bulan setelah pelatihan.
Pengetahuan Responden sebelum mendapatkan Pelatihan dan Sesaat setelah mendapatkan Pelatihan.
Variabel pengetahuan tampak berkembang dinamis seiring waktu. Pada tahap awal sebelum dilakukannya pelatihan (Pre) variabel pengetahuan rata-rata responden sebanyak 48,8%, Kemudian sesaat setelah dilakukan pelatihan (post 1), kemampuan pengetahuan rata-rata responden mencapai 86,1%.
Pengetahuan merupakan kegiatan mental yang dikembangkan melalui proses belajar dan disimpan dalam ingatan, akan digali saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan (Sukiarko, 2007).
Sebuah penelitian yang melibatkan orang awam menunjukkan bahwa pengetahuan responden meningkat setelah dilakukannya pelatihan CPR. Peningkatan pengetahuan umumnya disertai dengan peningkatan komitmen dan kepercayaan diri untuk melakukan CPR dalam kondisi nyata (Cokkinos et al, 2012). Dalam proses pelatihan, responden mendapatkan materi melalui metode ceramah, tanya jawab, memperhatikan video dan melakukan simulasi langsung.
Penggunaan multi media pembelajaran berupa video diduga mampu memberikan dapak positif terhadap peningkatan pengetahuan. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa penggunaan video sebagai media pembelajaran mampu memperluas penyebaran pengetahuan dan menciptakan kenyamanan pada subjek dalam menerima pengetahuan baru tentang resusitasi jantung paru (Blewer et al, 2010).
Pengetahuan Responden setelah 2 minggu mendapatkan Pelatihan.
Penurunan rata rata kemampuan pengetahuan mulai tampak pada pengukuran ke tiga (post 2) yang dilakukan dua minggu setelah pelatihan dilaksanakan. Analisa sederhana sesaat setelah pelatihan (post 1) dan dua minggu setelah pelatihan (post2) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan retensi pengetahuan resusitasi jantung paru dewasa hingga empat minggu setelah pelatihan. Pengetahuan cenderung stabil pada fase ini, meskipun tampak adanya deviasi negatif yang tidak signifikan.
Secara teoritis, pengetahuan dan kemampuan resusitasi jantung paru umumnya cenderung stabil dan terdeteksi menurun dengan intensitas kecil dalam tiga sampai enam bulan (Soar et al, 2010). Usia dan pengalaman diduga menjadi hal yang berpengaruh, hal ini berkaitan dengan
proses kognitif dan degeneratif. Disisi lain, Penggunaan media dalam metode pembelajan dan latihan akan memberikan kesan tersendiri pagi peserta didik sehingga akan menyimpan lebih lama dalm memori ingatan (Arthur et al, 1998). Sifat pengetahuan Hands Only CPR yang didapat melalui proses menghafal (tingkatan pengetahuan paling rendah) memungkinkan terjadinya hilang atau berkurangnya pengetahuan dalam penelitian ini. Minimnya kesempatan melakukan tindakan sesuai pengetahuan yang telah didapat secara langsung mengakibatkan pengetahuan responden terdegradasi. Hal ini dapat dikaitkan dengan tidak terbentuknya kesan memori yang cukup kuat untuk mempertahankan pengetahuan responden.
Pengetahuan Responden setelah 1 bulan mendapatkan Pelatihan.
Rata – rata pengetahuan responden stabil hingga minggu ke empat. Analisa sederhana 2 minggu setelah pelatihan (post2) dan empat minggu setelah pelatihan dilakukan (post3) menunjukkan tidak terdapat perbedaan retensi pengetahuan Hands Only CPR. Hasil analisa pengetahuan pada fase ini identik dengan analisa pada fase sebelumnya (post 1 dan post 2) dimana penurunan pengetahuan tidak terjadi secara signifikan atau dengan kata lain cenderung stabil.
Walaupun ada beberapa responden yang masuk dalam kategori pengetahuan kurang, namun dengan pengkajian lebih lanjut terhadap komponen pengetahuan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan pada fase ini.
Tindakan pembelajaran mandiri setelah pelatihan (Refresing/Overtraining) sangat memungkinkan menjadi faktor lain yang diduga memiliki kontribusi terhadap retensi pengetahuan responden. Tindakan overtraining didefinisikan sebagai proses belajar di luar pelatihan inti.
Pelatihan lanjutan ini diduga mendorong proses automacity atau proceduralisation (menyimpan pengetahuan ke dalam memori jangka panjang) sehingga mengurangi tuntutan kemampuan kognitif dan memungkinkan memori jangka panjang berfungsi dengan baik (Anderson, 1983 dalam Stothard dan Nicholson , 2011).
Faktor motivasi dan minat juga memiliki peranan penting dalam mempertahankan tingkat pengetahuan pada fase ini. Peserta didik yang memiliki motivasi yang baik dan tepat dalam mengikuti pelatihan akan memperhatikan dengan detail dari setiap materi yang diberikan selama pelatihan sehingga dianggap mampu menyimpan memori lebih lama (Arthur. Et al, 1998).
5. SIMPULAN
Pelatihan yang dilakukan terbukti mampu meningkatkan pengetahuan responden tentang Hands only CPR. Analisa sederhana sesaat setelah pelatihan (post 1) dan dua minggu setelah pelatihan (post2) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan retensi pengetahuan resusitasi jantung paru dewasa hingga empat minggu setelah pelatihan. Hasil analisa pengetahuan pada fase post 3 (1 bulan setelah pelatihan) identik dengan analisa pada fase sebelumnya, dimana penurunan pengetahuan tidak terjadi secara signifikan atau dengan kata lain cenderung stabil. Pengkajian lebih lanjut terhadap komponen sub pengetahuan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan pada fase ini.
6. DAFTAR PUSTAKA
AHA. (2013). Heart Disease and Stroke Statistics-2013 Update online. Diakses 7 april 2022 http://www.heart.org/HEARTORG/Gen eral/Cardiac
ArrestStatistics_UCM_448311_Article. jsp
Amminudin. (2013). Analisis faktor yang berhubungan dengan kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest di ruangan ICCU dan ICU rsu anutapura palu. Jurnal Keperawatan Soedirman Volume 8, No.3, Nopember 2013
Avisar, Lorraine., Shiyovich ,Arthur., Aharonson-Daniel, Limor and Nesher , Lior. (2013).
Cardiopulmonary Resuscitation Skills Retention and SelfConfidence of Preclinical Medical Students. IMAJ • VOL 15 • october 2013
Bobrow, Bently., Leari, Marrion and Heighmen. (2011). CPR between lifeand death : closing the CPR knowledge and practice gap.Elsevier CPR performance count no 1/2011
Christensona, Jim., Nafziger, Sarah., Compton, Scoot., Vijayaraghavan, Kris., Slater, Brian., Ledingham, Robbert, Powel, Judy dan McBurnie, Ann. (2007). The effect of time on CPR and automated external defibrillator skills in the Public Access Defibrillation Trial. Resuscitation (2007) 74, 52—62
Glaa Besma and Chick. (2011). Trained nurse location meodel for in-hospital cardiac arrest survival, the bussines school of the word, INSEAD.
Jacobsa,Ian., Finna,Judith C., Jelinek b,George A., Oxerc, Harry F and Peter L. Thompsond.
(2011). Effect of adrenaline on survival in out-of- hospital cardiac arrest: A randomised double-blind placebo-controlled trial. Resuscitation 82 (2011) 1138– 1143
Jannti, Hellena. (2010). Cardiopulmonarry Resuscitation (CPR) Quality and Education. University of Eastern Findlan : finland Jones, Shirley. A. (2005). ECG Note : Interpretation And management Guide. Phyladelphia : Davis Company
Notoatmodjo, Sukidjo. (2010). Metodologi Riset Kesehatan.Jakarta : Rineka Cipta
Parnell,Melinda M. and Larsen, Peter D. (2007). Poor quality teaching in lay person CPR courses.
Resuscitation (2007) 73, 271—278
Soar, Jasmeet., Mancini, Mary., Farhan, Billy, Dennet, Jenifer., Fin, Judith., Hueming Ma, Perkins, David., Rodger, David., Hasisky, Mary., Jakobs, Ian and Morley. (2010). part 12: Education, Implementation and Teams 2010 International Concensus on CPR and Emergency Cardio vascullar Care Science with Treatment recomendation. Recussitation 81s(2010) e288- e332 Stothard, Christina and Nicholson, Robin. (2001). Skill Acquisition and Retention in Training:
DSTO Support to the Army Ammunition Study. Land Operations Division Electronics and Surveillance Research Laboratory
Sukiarko, Edy. (2007). Pengaruh Pelatihan Dengan Metode Belajar Berdasarkan.