LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI BALAI BESAR KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PROVINSI NTT
“TINGKAH LAKU BERTELUR PENYU LEKANG (Lepidochelys olivaceae E.) DI TAMAN WISATA ALAM MENIPO DESA ENORAEN KECAMATAN AMARASI TIMUR KABUPATEN
KUPANG”
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Penilaian Mata Kuliah Praktek Kerja Lapangan Pada Program Studi Biologi Fakultas Sains Dan Teknik
Universitas Nusa Cendana
OLEH
SEPTIANY ANUGRAH KADANG 1606050124
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
2018
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang
Praktek Kerja Lapangan adalah salah satu kegiatan akademik yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa di Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana yang bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa secara mandiri dalam penyelesaian tugas serta mengembangkan cakrawala berpikir mahasiswa dalam pengayaan wawasan ilmiah praktis di lapangan. Alasan memilih tempat PKL di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT karena Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) merupakan salah satu instansi teknis yang relevan dengan Program Studi Biologi.
Balai besar konservasi sumber daya alam (BBKSDA) NTT merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknisi (UPT) di bidang konervasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementrian Kehutanan. Balai Besar KSDA NTT mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Buru serta konservasi tumbuhan dan satwa liar di dalam dan luar kawasan.
Ada berbagai tumbuhan dan satwa yang dapat di temui di TWA Pulau Menipo yakni tipe vegetasi hutan kering, savana yang di dominasi jenis-jenis Lontar (Borrassus flabelifer), hutan pantai yang ditumbuhi Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) dan hutan Mangrove yang di dominasi oleh jenis Rhizophora mucronata dan Bruguiera sp. Ada juga potensi Fauna yang terdapat di TWA Pulau Menipo adalah Rusa Timor (Cervus timorensis), Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), Penyu Lekang (Lepidochelys olivachea
Eschsholtz), Penyu Tempayan (Caretta carreta Linnaeus), Buaya muara (Crocodylus porosus), Kalong (Pteropus vampyrus) dan lain-lain.
TWA Menipo tergolong tipe hutan pantai. Jenis vegetasi yang mendominasi adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia). Beberapa sarang yang ditemukan cenderung berada di bawah naungan cemara. Kondisi ini berpengaruh positif terhadap aktifitas peneluran penyu yang sangat menyukai vegetasi cemara sebagai vegetasi naungannya untuk bersarang. Berdasarkan karakter fisik tersebut, terlihat bahwa Pulau menipo potensial bagi penyu untuk membuat sarang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nuitja (1992), bahwa penyu cenderung memilih tempat bertelur dengan kemiringan ≤ 300. Kawasan pantai di TWA Menipo memiliki kondisi pantai yang sangat baik untuk tempat penyu meletakkan telur, selain memiliki panjang garis pantai sekitar 8,3 km, pantai ini aman dari gangguan aktivitas masyarakat umum karena akses ke lokasi pantainya yang cukup sulit. Penyu yang terdapat di Taman Wisata Alam Menipo yaitu Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), dan Penyu Tempayan (Caretta carreta Linnaeus).
Proses peneluran, yaitu penyu naik dan muncul dari hempasan ombak, kemudian naik ke pantai lalu berdiam sebentar dan melihat sekelilingnya, penyu akan bergerak melacak pasir yang cocok untuk membuat sarang. Jika tidak cocok, penyu tersebut akan mencari tempat lain. Setelah mendapat tempat bertelur yang cocok, penyu menggali kubangan untuk tumpuan tubuhnya (body fit), penyu akan memulai proses penggalian lubang sarang dengan menggunakan flipper belakang secara bergantian. Umumnya penyu membutuhkan waktu 45 menit untuk menggali sarang dan 10-20 menit untuk meletakkan telurnya. Sarang telur ditimbun dengan pasir menggunakan tubuh dan keempat flipper (Syamsuni, 2016). Penyu akan membuat jejak penyamaran untuk menghilangkan lokasi bertelurnya. Kemudian penyu kembali ke laut menuju hamparan ombak dan menghilang diantara gelombang.
Penyu lekang bertelur 2-3 kali dalam setahun dengan interval waktu 10 sampai 14 hari. Penyu kemudian kembali bertelur di pantai semula setelah 3-4 tahun (Anonim,2009). Musim bertelur penyu pada daerah tropis lebih awal datangnya yaitu antara bulan Desember sampai April dan mungkin dilakukan oleh penyu sampai beberapa kali (Marcovaldi, 2001). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengambil judul “Tingkah laku bertelur penyu lekang (Lepidochelys olivaceae E.) di Taman Wisata Alam Menipo Desa Enoraen Kecamatan Amarasi Timur Kabupaten Kupang”
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dilakukannya PKL adalah bagaimana perilaku bertelur penyu lekang (Lepidochelys olivaceae E.) di Taman Wisata Alam Menipo Desa Enoraen Kecamatan Amarasi Timur Kabupaten Kupang.
C.
TujuanAdapun tujuan dilaksanakannya PKL adalah mengetahui dan mempelajari perilaku bertelur penyu lekang (Lepidochelys olivaceae E.) di Taman Wisata Alam Menipo Desa Enoraen Kecamatan Amarasi Timur Kabupaten Kupang.
D.
ManfaatManfaat dilaksanakannya PKL adalah sebagai berikut :
1)
Sebagai acuan untuk pengenalan lapangan dalam rangka proses penyusunan tugas akhir.2) Sebagrai informasi untuk pengambilan kebijakan ke depan ditingkat BBKSDA NTT.
BAB II
TINAJUAN PUSTAKA A. Siklus Hidup
Seluruh spesies penyu memiliki siklus hidup yang sama. Penyu mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan 20-25 tahun untuk mendapai usia dewasa (siap bertelur). Penyu dewasa hidup bertahun-tahun di satu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menepuh jarak yang jauh, yaitu bisa mencapai 3.000 km dari ruaya pakan ke pantai peneluran. pada umur sekitar 20- 50 tahun, penyu jantan dan betina bermigrasi ke daerah peneluran di sekitar daerah kelahirannya. Perkawinan penyu dewasa terjadi di laut lepas, satu atau dua bulan sebelum peneluran pertama di musim bertelur (Anonim, 2009).
Penyu betina melakukan perkawinan lebih dari satu jantan dan menyimpan sperma di dalam spermatheca dan dapat dipergunakan saat ovulasi. Penyu jantan biasanya kembali ke ruaya pakannya sesudah penyu betina menyelesaikan kegiatan bertelur setiap dua minggu di pantai. Penyu betina akan keluar dari laut jika telah siap untuk bertelur, dengan menggunakan sirip depannya menyeret tubuhnya ke pantai peneluran. Penyu betina membuat lubang badan dengan sirip depan, lalu menggali lubang sarang dengan kedalaman 30-60 cm menggunakan sirip belakang. Jika pasirnya terlalu kering dan tidak cocok untuk bertelur, penyu akan berpidah ke lokasi lain. Kebanyakan penyu memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk menggali sarang dan sekitar 10-20 menit untuk bertelur. Setelah meletakkan telurnnya, penyu menutup lubang sarang dengan pasir menggunakan sirip belakangnya.
Penyu betina juga setia kembali pada tempat bertelurnya serta dapat bermigrasi antara tempat mencari makan dengan lokasi reproduksi. Namun, ada beberapa faktor yang merubah pola migrasi seperti perubahan iklim, kelangkaan pakan di alam, banyaknya predator termasuk gangguan manusia, dan terjadi
bencana alam yang hebat di daerah peneluran, misalnya tsunami. Suhu sarang saat inkubasi sangat menentukan jenis kelamin tukik (Anonim,2009).
Beberapa spesies penyu laut, setelah ditetaskan kemungkinan yang terjadi adalah penyu akan hanyut di laut terbuka untuk beberapa tahun, dan saat dewasa penyu akan melakukan migrasi secara periodic hingga 2.700 km antara tempat mencari makan dan tempat kawin. Studi aral tagging menunjukkan bahwa betina yang akan bertelur kembali ke sarang pada pantai tertentu untuk musim berikutnya. Siklus hidup penyu dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Siklus Hidup Penyu (Anonim, tahun 2009) B. Perilaku
Perilaku yaitu tindakan atau aksi yang mengubah hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Perilaku tersebut dapat di pengaruhi oleh faktor dalam (endogen) dan faktor luar (eksogen). Faktor dalam disebabkan oleh aktifitas hormon atau saraf, sedangkan faktor luar disebabkan oleh predator atau iklim. (Kimball, 1983). Perilaku berdasarkan asalnya dapat di bagi menjadi dua yaitu :
1. Perilaku bawaan yaitu perilaku yang dibawa sejak lahir atau diwariskan dari nenek moyangnya (misalnya perilaku lebah dalam membuat sarang)
2. Perilaku terajar yaitu perilaku yang menjadi berubah akibat pengalaman individu organisme itu sendiri (misalnya melatih gajah untuk duduk)
Mengamati atau meneliti perilaku suatu satwa, terlebih dahulu kita harus menentukan deskripsi tipe perilaku yang akan dipelajari. Lenher (1979) membagi deskripsi perilaku menjadi dua :
Deskripsi empiris, yakni penggambaran perilaku dalam bentuk gerakan tubuh atau bagian-bagian tubuh (misalnya gerakan memperlihatkan gigi)
Deskripsi fungsional, yakni penggambaran perilaku berdasar fungsi perilaku (misalnya ancaman dengan memperlihatkan gigi)
Selanjutnya setelah deskripsi perilaku ditetapkan, maka menurut Lehner (1979) perilaku tersebut dapat dikategorikan berdasarkan lama waktunya yaitu :
State adalah perilaku satwa yang sedang terjadi, dapat dihitung dalam waktu lamanya berperilaku, misalnya perilaku bertelur penyu
Even adalah perilaku satwa atau state kejadiannya berlangsung dengan cepat, hanya dapat dihitung kejadiannya, misalnya perubahan perilaku makan ke istirahat.
Perilaku satwa merupakan ekspresi satwa sebagai akibat dari rangsangan (stimulus) yang datang dari dalam maupun luar tubuhnya (Suramto, 1979). Pada hakekatnya rangsangan akan menimbulkan suatu perubahan baik didalam atau diluar tubuh satwa.
C.
Pengaruh Faktor Lingkungan Pada Pembuatan Sarang Penyua.
SuhuSuhu pasir sangat berpengaruh pada proses peneluran dan penetasan penyu, suhu pasir yang terlalu tinggi (>35 C) akan menyulitkan penyu⁰ untuk membuat sarang, sedangkan suhu terlalu rendah (<25 C) akan⁰ berpengaruh pada massa inkubasi dan tingkat keberhasilan penetasan penyu (Dharmadi san Wiadnyana 2008). Pertumbuhan embrio penyu sangat dipengaruhi oleh suhu. Embrio akan tumbuh optimal pada kisaran suhu 24-33 C dan akan mati apabila diluar kisaran suhu tertentu⁰ (Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut 2009). Semakin tinggi suhu pasir, maka telur akan cepat menetas. Penelitian pada telur penyu hijau yang ditempatkan pada suhu pasir yang berbeda menunjukkan bahwa telur yang diinkubasi pada suhu 32 C menetas dalam waktu 50 hari,⁰ sedangkan telur yang diinkubasi pada suhu pasir 24 C menetas dalam⁰ waktu lebih dari 80 hari (Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut 2009).
b.
VegetasiPenyu hijau memiliki kecenderungan untuk memilih tempat bertelur di daerah pantai yang berlatar belakang vegetasi pohon pandan (Pandanus tectorius) yang lebat, seperti terdapat di Pulau Berhala dan Kepulauan Heron di Australia (Bustard 1972). Penyu hijau cenderung membuat sarang dibawah naungan pohon pandan laut, karena system perakaran pandan laut memungkinkan kelembaban pasir, membersihkan kestabilan suhu pada pasir dan member rasa aman pada penyu saat melakukan penggalian sarang. Tekstur pasir yang relative halus, vegetasi pantai yang didominasi oleh jenis tanaman kangkung laut (Ipomea pescaprae) yang merambat, pandan laut (Pandanus tectorius), serta waru (Thespesia populnea) merupakan habitat yang disukai oleh penyu hijau sebagai lokasi
peneluran (Nuitja,1992). Selanjutnya dijelaskan, kehadiran hutan yang lebat memberikan pengaruh yang baik pada kestabilan populasi penyu yang bertelur. Jika pohon-pohon tumbuh dengan lebat, maka daun-daun yang jatuh lama-kelamaan mengalami proses dekomposisi menjadi partikel-partikel mineral dan langsung hanyut terbawa air ke laut. Proses tersebut berlangsung secara terus menerus sehingga kesuburan perairan dapat tetap terjamin. Kesuburan perairan manjadi kebutuhan biota yang hidup di daerah tersebut, seperti tumbuhnya rumputan laut dan tersedianya invertebrate laut berypa zooplankton, dimana invertrbrata laut merupakan makanan yang dibutuhkan oleh populasi penyu hijau yang masih juvenil (tukik).
c.
CuacaCuaca adalah keadaan udara pada suatu daerah yang sempit dalam waktu yang relativ singkat. Unsur-unsur dari cuaca meliputi suhu udara, radiasi, tekanan udara, kelembapan udara, keadaan awan, dan curah hujan.
Cuaca dan laut memiliki interaksi yang erat karena perubahan cuaca dapat mempengaruhi kondisi laut. Angin sangat menetukan terjadinya gemlombang dan arus di permukaan laut, sedangkan curah hujan dapat menentukan salinitas air laut. Sebaliknya, proses fisik air laut seperti terjadinya air naik (upwelling) dapat memengaruhi keadaan cuaca setempat (Nuitja, 1987). Tingkah laku bertelur penyu sangat berkaitan dengan faktor cuaca. Di Pantai Pangumbahan, penyu hijau akan muncul dari hempasan ombak jika angin bertiup kencang, terutama pada saat bulan purnama. Pada musim barat, angin bertiup kencang dan kadangkala disertai dengan badai yang sangat besar. Angin yang kencang menyebabkan ombak menjadi besar dan menerbangkan butiran-butiran pasir dan benda-benda ringan lainnya di sepanjang pantai.
Dalam periode itu daerah peneluran akan lebih keras dan lebih sulit untuk digali akibat cuaca hujan yang tinggi. Kesulitan penggalian dan hujan yang jatuh terus-menerus memberikan pengalaman bagi penyu untuk menunda proses bertelurnya. Dapat disimpulkan bahwa unsur cuaca yang paling berpengaruh pada pendaratan penyu adalah curah hujan yang turun di sekitar pantai peneluran penyu (Nuitja,1992).
D.
Biologi Penyu Lekanga.
Taksonomi Penyu LekangMenurut Jatu (2007), klasifikasi penyu lekang adalah:
Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Sauropsida Order : Testudinata Family : Cheloniidae Genus : Lepidochelys
Species : Lepidochelys olivacea Nama local : Penyu lekang
b. Ciri-ciri Morfologi
Spesies ini mudah dikenali dengan tubuhnya yang agak datar, kepalanya besar dengan dua pasang sisik prefontal (sisik yang ada di kanan dan kiri mata). Warna tubuh bagian atas pada penyu muda (immature) adalah abu-abu, sedangkan pada penyu dewasa (addult) berwarna hijau olive.
Bagian bawah berwarna putih pada penyu muda, dan penyu dewasa mendekati kuning (Pritchard et. Al, 1983). Sisik lateral dikatakan berjumlah 5-9 pasang, namun biasanya berjumlah 6-8 pasang (Carr, 1952).
Sekilas hampir tidak ada perbedaan dengan kerabatnya dari genus yang sama, yaitu Lepidochelys kempii, namun apabila diamati lebih mendalam akan terlihat perbedaannya. Marquez (1990) menyatakan bahwa penyu lekang lebih ramping dan ringan dibanding Lepidochelys kempii.
Reptil ini mempunyai rumah yang mebungkus tubuhnya. Rumah terdiri dari 2 bagian, bagian atas disebut dengan karapas atau batok punggung sedang bagian bawah atau perut disebut plastron. Karapas tersusun atas 2 lapisan, yakni lapisan dalam dan lapisan luar. Lapisan luar merupakan lapisan epidermal yang berbentuk sisik-sisik yang keras.
Lapisan dalam merupakan tempat menempelnya tulang belakang, kecuali tulang leher dan tulang ekor sehingga kedua tulang tersebut dapat bergerak bebas (Frazer, 1983). Bentuk karapas pada penyu dewasa bila dilihat dari atas hampir bulat (Marquez, 1990). Pada sisi lateral naik membengkok keatas dan mendatar pada permukaannya. Lebar karapas lurus (Straught Carapace Width, SCW) 90% panjang karapas lurus (Straight Carapace Lenghth, SCL).
Gambar 2. Penyu lekang. Sumber : Marques,1990
Karapas berpori dengan 5-9 pasang sisik punggung (costal scuter) yang tidak saling tumpang tindih. Kadang-kadang jumlah antara jumlah sisik kiri dan kanan berbeda (Anonimous, 1988). Mempunyai cakar pada
setiap lengan, punggung berwarna abu-abu dan pada bagian perut berwarna putih kekuningan (Fischer, 1978).
Kepala kecil berukuran sekitar 22% dari ukuran karapas. Mempunyai moncong yang keras tertutup oleh 2 pasang perisai depan yang merupakan ciri khusus spesies ini (Anonimous, 1988). Mulut tidak bergigi karena peranan gigi digantikan oleh adanya sepasang rahang yang kuat dan mampu melumatkan, mengigit bahkan mencabik mangsanya. Untuk membedakan jenis kelaminnya pada penyu jantan mempunyai ekor yang panjang dan satu cakar lengkung pada setiap sirip depan (Halliday, 1982)
Nuitja (1992) menyatakan bahwa ditemukan penyu lekang berukuran 150 cm di West Indies. Pendapat lain yang menyatakan ukuran panjang rata-rata penyu ini adalah 75 cm (Halliday et. Al, 1982)
c. Reproduksi Penyu Lekang
Reproduksi penyu adalah proses regenerasi yang dilakukan penyu dewasa jantan dan betina melalui tahap perkawinan, peneluran sanmpai menghasilkan generasi baru(tukik). Semua jenis penyu laut bertelur lebih dari satu kali, dalam satu periode musim. Bioreproduksi menurut Nuitja (1992), yaitu penyu laut yang bertelur di daerah empat musim terutama di bagian ekuator. Proses peneluran, yaitu penyu naik dan muncul dari hempasan ombak, kemudian naik ke pantai lalu berdiam sebentar dan melihat sekelilingnya, setelah itu penyu bergerak melacak pasir yang cocok untuk membuat sarang. Jika tidak cocok, penyu tersebut akan mencari tempat lain. Setelah mendapat tempat bertelur yang cocok, penyu menggali kubamgan untuk tumpuan tubuhnya (body fit), lalu dilanjutkan dengan menggali sarang telur. Umumnya penyu membutuhkan waktu 45 menit untuk menggali sarang dan 10-20 menit untuk meletakkan telurnya. Sarang
telur ditimbun dengan pasir menggunakan ke empat kakinya (Syamsuni, 2016).
Setelah itu penyu membuat jejak penyamaran untun menghilangkan lokasi bertelurnya. Penyu kembali ke laut menuju hamparan ombak dan menghilang diantara gelombang. Pergerakan penyu ketika kembali ke laut, ada yang bergerak lurus atau melalui jalan berkelok-kelok. Penyu lekang di suriname dilaporkan bertelur 2-3 kali dalam setahun dengan interval waktu 10 sampai 14 hari. Setelah 3-4 tahun kemudian, penyu tersebut kembali bertelur di pantai semula. Penyu lekang mempunyai keunikan pada massa bersarang tahunan (Arribada) di Orissa (India), yaitu beberapa ribu ekor penyu berimigrasi menuju tempat reproduksi (breeding ground) untuk kawin dan bersarang secara bersamaan (Anonim,2009).
Lamanya periode inklubasi telur secara berturut-turut, yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata) 43-80 hari, penyu lekang (Lepidochelys olivacea) 46-91 hari, penyu hijau (Chelonia mydas) 43-70 hari, penyupenyu kempi (Dermochelys imbricata) 45-58 hari. Peyu tempayan (Carreta carreta) 46-69 hari, dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) 50-70 hari. Jenis kelamin penyu ditentukan oleh besarnya suhu lingkungan atau suhu sarang. Suhu tinggi akan menghasilkan individu betina, sedangkan pada suhu rendah akan menghasilkan individu jantan. Suhu penentuan jenis kelamin pada penyu sisik dan penyu belimbing, yaitu 29- 30 C. Penyu tempayan juga berada pada suhu 30 C. Besarnya suhu yang⁰ ⁰ seperti ini akan menghasilkan individu betina. Sebaliknya, dibawah suhu inkubasi 29 C - 30 C akan menghasilkan individu jantan. Sedangkan pada⁰ ⁰ penyu lekang, yaitu suhu inkubasi 28 C akan menghasilkan individu jantan⁰ (Anonim,2009).
d. Perilaku Bertelur
Penyu lekang bertelur setiap tahun, tidak seperti jenis lainnya bertelur setiap 3-4 tahun sekali (Anonimous, 1988). Selain itu jenis ini mempunyai karakteristik yang unik yakni pola bertelur dalam jumlah yang besar yang disebut Arribada atau Aribazones. Koloni peneluran tersebar pernah dijumpai adalah di Timur Pasifik, dimana 5.000 ekor lebih penyu lekang bertelur sepanjang pantai Mexico dan Costa Rica (Carr, 1986).
Penyu lekang melakukan Arribada di pantai Playa Nastica Costa Rica pada tanggal 11 Agustus 1990, mulai pukul 04:30 satu jam sebelum pasang tertinggi sampai pukul 09.30 waktu setempat. Total penyu yang mendarat sekitar 100 ekor dan masih sekitar 600-700 ekor lainnya berenang di sepanjang ombak. Pada kedalaman 3-6 m dibawah permukaan laut pada saat surut, penyu tampak dalam keadaan tidur. Kemudian pada pukul 17:15 WIB mereka mulai bergerak naik menuju daratan hingga pukul 03:00 WIB untuk bertelur. Saat itu penyu yang naik untuk bertelur berjumlah 3.000- 4.000 ekor (Cornelius, 1990).
Penyu lekang sangat peka pada suhu, sehingga tidak pernah di temui penyu yang bertelur pada siang hari. Sore hari ketika pasir sudah menjadi dingin, penyu-penyu akan menuju pantai dan akan semakin banyak ketika hari semakin malam, dan menjelang pagi bersiap meninggalkan pantai (Marquez, 1990).
Penyu lekang bertelur di malam hari, mempunyai kesukaan pantai pendaratan yang landai dengan kemiringan 30°C- 40°C, bebasa dari gelombang pasang dengan pasir yang halur berwarna putih (Anonimous, 1993). Mereka muncul dari lautan dikegelapan malam menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum menuju tempat peneluran dengan paling banyak 2 kali berhenti untuk mengetahui situasi pasir yang akan dibuat sarang telurnya.
Kemudian akan mulai menggali lubang tubuh (Body pit) menggunakan sepasang kaki depan sebanyak 25-30 kali. Seusai penggalian lubang tubuh penyu akan melangkah kedepan dan dengan sepasang kaki belakangnya
membuat tempat peletakan telur-telurnya (egg ehamber), kemudian penyu akan bertelur selama kurang lebih 25 menit. Kegiatan selanjutnya adalah penutupan sarang dengan pasir diakhiri dengan penandaan pasir yang menutupi sarang dengan cara mengoyang-goyangkan tubuh di atas sarang.
Setelah semua proses berakhir induk penyu akan kembali menuju lautan.
Ada perbedaan perilaku bertelur antara penyu lekang dengan penyu hijau, yaitu penyu lekang hanya sedikit menggali lubang tubuhnya dibanding penyu hijau. Jejak penyu lekang yang dibuat pada pasir sebelum bertelur mempuyai lebar kurang lebih 80 cm dengan lintasan yang dangkal, tanda diagonal yang di buat oleh kaki depan tidak simetris. Sarang yang dibuat oleh penyu lekang mempunyai kedalaman 40 cm dengan diameter 17 cm pada permukaan dengan permukaan lebih besar beberapa cm meter lagi dibagian bawah (Anonimous, 1993).
Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor induk penyu lekang lebih sedikit dari jumlah telur yang dihasilkan oleh jenis lainnya. Telur yang dihasilkan berwarna putih dengan berat 29-36 gr, pada sarang bagian bawah berat telurnya adalah 29-32 gr (Nuitja, 1992). Kemudian kurang lebih 14 hari induk penyu akan kembali datang untuk bertelur disekitar tempat penelurannya yang pertama, hal ini akan berulang 4-5 kali dalam setahun.
e. Habitat Bertelur
Penyu lekang umumnya berimingrasi sepanjang paparan benua dan mencari makan di perairan yang hangat, cenderung sudah ditemuakn pada musim panas dan bertelur dimusim bertelur pada pantai yang landai yang halus sampai sedang atau sedikit kasar. Lokasi pantai peneluran biasanya terisolasi, kadan-kadang juga ditemukan terpisah dari tempat peneluran utama seperti di daerah pesisir laguna. Pencarian tempat bertelur menuju
tempat peneluran secara bergerombol (arribazones) ada hubungan dengan menghindari predator untuk melindungi generasi mereka.
Menurut Carr (1952) dalam Darmawan (1995) induk penyu akan bertelur pada pantai yang tidak jauh dari daerah sumber makanan , sedangkan Ehrenfold (1979) dalam Darmawan (1995) menyatakan bahwa pemilihan lokasi bertelur di tandai dengan tipe pantai. Beberpa individu memiliki lokasi peneluran yang sama dengan lokasi peneluran tahun sebelumnya.
Berdasar penelitian Marten dalam Hutabarat (1996) dikemukakan bahwa penyu memiliki kemoreseptor yang dapat mengenali zat kimia tertentu yang pernah dicium sebelumnya. Dengan kemoreseptor tersebut penyu lekang yang berada disekitar pantai dapat mengenali bau feromon.
Bau feromon kemudian merangsang penyu untuk bertelur bersama-sama.
Formasi vegetasi hutan pantai juga mempengaruhi lokasi peneluran.
Carr (1952) menyatakan penyu di pantai Costa Rica umumnya membuat sarang di pantai yang hampir tidak ada vegetasinya bebas dari sampah dan tidak jauh dari batas pasang surut tertinggi. Menurut Komara (1981) dalam Suharso (1995) semua jenis penyu laut, baik yang hidup di perairan Atlantik maupun Pasifik pada umunya gemar berada di laut yang dangkal dan bervegetasi.
BAB III
METODE PELAKSANAAN PKL
A. Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Kegiatan
Praktek Kerja Lapangan berlangsung selama 1 bulan, yakni dari tanggal 3 Agustus 2017 sampai 3 September 2018 di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan adalah alat tulis, ember, senter, meteran dan kamera.
C. Metode Pelaksanaan PKL
Metode yang digunakan yaitu pengamatan langsung atau observasi sacara langsung di lapangan. Selain itu juga dilakukan wawancara dengan kepala resort
dan petugas lapangan dan mendapatkan materi dari petugas lapangan mengenai simaksi dan satwa prioritas NTT. Serta studi pustaka atau literature yang relevan
D. Prosedur Pengamatan di Lapangan
1. Alat dan bahan yang akan digunakan saat pengamatan di lapangan disiapkan yaitu berupa alat tulis, ember, senter, meteran dan kamera.
2. Diamati penyu yang naik ke darat untuk mencari tempat bertelur. Penyu yang naik ke darat dan telah mendapat tempat untuk bertelur, terlebih dahulu akan membersihkan sarang tempatnya untuk bertelur.
3. Penyu mulai menggali lubang dengan menggunakan kaki belakang untuk bertelur.
4. Penyu mulai bertelur, setelah selesai bertelur penyu menutup lubang sarang dengan memukul-mukul permukaan sarang dengan tubuh dan keempat flipper.
5. Penyu yang telah selesai bertelur akan bergerak kembali ke laut
E. Analisis Data
Data dianalisis secara deskriptif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perilaku Bertelur Penyu Lekang di TWA Menipo
Hasil dari Praktek Kerja Lapangan antara lain, mempelajari kegiatan administrasi di kantor dan dapat terlibat langsung dalam kegiatan di lapangan yakni mempelajari dan mengetahui jenis satwa yang terdapat di Kawasan TWA Menipo khusunya mengenai tingkah laku bertelur penyu dan karakteristik sarang alami Penyu Lekang (Lepidochelys olivachea) di TWA Menipo. Mahasiswa juga mendapatkan materi tentang simaksi (Surat Masuk Kawasan Konservasi) merupakan izin yang diberikan oleh petugas yang berwenang kepada pemohon untuk masuk kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Buru.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, ditemukan 1 ekor penyu lekang yang mendarat dan bertelur pada tanggal 27 Agustus 2018 pukul 22:01
WITA. Penyu mulai muncul dari gelombang laut lalu menoleh ke arah kiri dan kanan dengan dua kali berhenti untuk mengetahui kondisi pasir dan vegetasi yang akan dijadikan tempat pembuatan sarang. Vegetasi berperan penting dalam melindungi sarang penyu dari pengaruh matahari dan perubahan suhu yang tajam di sekitar sarang serta menghindarinya dari predator. Vegetasi yang terdapat di sekitar TWA Menipo tergolong tipe hutan pantai. Jenis vegetasi yang mendominasi adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia) . Beberapa sarang yang ditemukan cenderung berada di bawah naungan cemara. Kondisi ini berpengaruh positif terhadap aktifitas peneluran penyu yang sangat menyukai vegetasi cemara sebagai vegetasi naungannya untuk bersarang. Berdasarkan karakter fisik tersebut, terlihat bahwa Pulau menipo potensial bagi penyu untuk membuat sarang.
Waktu penyu lekang menuju tempat yang cocok untuk pembuatan sarang adalah pada pukul 22:23 WITA. Penyu lebih menyukai tempat yang sepi untuk bertelur dikarenakan penyu termasuk hewan yang sangat peka terhadap gangguan pergerakan maupun penyinaran, jika terancam penyu akan segera kembali ke laut. Oleh sebab itu penyu memilih bertelur pada tengah malam. Penyu mebersihkan tempatnya sebelum bertelur. Setelah penyu merasa aman penyu tersebut mulai menggali lubang menggunakan kaki belakang dengan kedalaman sarang berkisar antara 30-40 cm dan rata-rata diameter sarangnya 30 cm. Seusai penggalian, penyu mulai bertelur, penyu mengeluarkan telur satu per satu, kadangkala serentak dua sampai tiga telur. Jumlah telur yang dihasilkan penyu 50 butir. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pegawai bahwa, penyu hanya dapat menghasilkan 50 butir telur dikarenakan penyu baru pertama kali mendarat dan bertelur sehingga jumlah telur yang dihasilkannya sedikit.
Berdasarkan sumber yang diperoleh jumlah telur dari jenis penyu lekang setiap sarang antara 30-147 telur. (Nuitja, 1992).
Pada saat proses bertelur berlangsung, penyu terlihat mengeluaran air mata yang merupakan salah satu proses mengeluarkan kelebihan kadar garam dalam tubuhnya (Osmoregulasi) (Nuitja, 1992). Penyu akan menimbun sarang dengan pasir menggunakan flipper belakang setelah selesai bertelur, lalu memadatkan pasir pada permukaan sarang dengan cara memukul-mukul permukaan sarang dengan tubuhnya dan keempat flipper. Hal ini dilakukan penyu agar telur penyu terlindungi dari predator. Selain itu, penyu juga membuat sarang semu (penyamaran) untuk mengelabui predator. Waktu penutupan lubang adalah pada pukul 23:00 WITA. Penyu bergerak kembali ke laut setelah melakukan aktifitas peneluran pada waktu 23;12 WITA. Adapun proses pembuatan sarang dan peneluran yang diamati tertera pada gambar 1.
a b
c d
Gambar 1. a) Proses pembuatan sarang; b) Penyu lekang saat bertelur; c) Penyu lekang menimbun sarang; d) Jejak penyu lekang betina di TWA Menipo
Sarang penyu mencapai kedalaman sekitar 40-80 cm dengan diameter lubang bagian atas antara 20-30 cm. Kedalaman sarang erat kaitannya dengan suhu dan keberhasilan penetasan. Semakin dalam sarang, maka suhu semakin tetap bila dibandingkan dengan suhu permukaan sarang, dan suhu pada bagian tengah sarang lebih tinggi dibandingkan suhu pada bagian permukaan dan samping sarang (Nuitja, 1992). Semakin dalam sarang semakin besar pula energi yang dibutuhkan tukik yang menetas untuk merangkak dan sampai dipermukaan sarang, sehingga mempengaruhi tingkat keberhasilan kemunculan tukik tersebut.
Hasil pengamatan yang dilakukan, mahasiswa tidak melakukan pengukuran terhadap suhu pasir karena keterbatasan alat. Berdasarkan sumber yang diperoleh, pertumbuhan embrio penyu sangat dipengaruhi oleh suhu. Suhu mempengaruhi keberhasilan penetasan telur penyu, jika suhu terlalu rendah di bawah 24ºC dapat mengakibatkan lamanya masa inkubasi telur sedangkan jika suhu terlalu tinggi di atas 33ºC dapat mengakibatkan tukik mati (Yusuf,2000) Embrio akan tumbuh optimal pada kisaran suhu 24-33°C (Anonim 2009).
Berdasarkan hasil wawancara dan sumber yang didapat rata-rata suhu pasir di kawasan pantai TWA Menipo berkisar antara 25 c⁰ 34⁰c
Penyu Lekang yang ada di TWA Pulau Menipo biasanya bertelur di pantai berpasir gelap yang mudah digali dan dianggap aman untuk bertelur.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, penyu Lekang (Lepidochelys olivachea) yang terdapat di kawasan TWA Pulau Menipo akan memilih lokasi pendaratan dengan jenis pasir halus dengan hamparan yang luas dan landai serta substrat pasir yang berwarna gelap. Seperti halnya kondisi habitat peneluran penyu, kawasan TWA Pulau Menipo termasuk daerah pesisir, umumnya berupa pasir putih halus. Penyu bertelur di pantai yang berpasir halus, karena pasir halus lebih mudah digali dari pada pasir kasar dan kerikil (Nybakken, 1988). Tekstur pasir pantai juga mempengaruhi penyerapan air dan
keberhasilan penetasan. Pasir kasar lebih sedikit menyimpan air daripada pasir halus, karena pasir kasar mempunyai pori yang lebih besar (Ackerman, 1997).
Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas, selain vegetasi dan tekstur pasir ada juga faktor lain yang berpengaruh pada pemilihan lokasi bertelur penyu lekang antara lain kemiringan pantai dan keberadaan pemangsa. TWA Menipo memiliki kisaran kemiringan antara 28˚-32˚. Hal ini menunjukan bahwa pantai tersebut termasuk pantai yang landai sehingga memudahkan penyu menuju daratan untuk mencari lokasi dan membuat lubang sebagai tempat peneluran.
Pemangsa telur penyu, adalah babi hutan (Sus serofa), ajing hutan (Cuon alpinus), dan biawak air (Varanus salvator) (Nuitja, 1992).
BAB V Penutup A. Kesimpulan
Tingkah laku bertelur penyu lekang di TWA Menipo sebagai berikut ; Waktu penyu lekang menuju tempat yang cocok untuk pembuatan sarang adalah pada pukul 22:23 WITA. Penyu mebersihkan tempatnya sebelum bertelur. Setelah penyu merasa aman penyu tersebut mulai menggali lubang menggunakan kaki belakang dengan kedalaman sarang berkirar antara 30-40 cm dan rata-rata diameter sarangnya 30 cm. Seusai penggalian, penyu mulai bertelur, penyu mengeluarkan telur satu per satu, kadangkala serentak dua sampai tiga telur.
Jumlah telur yang dihasilkan penyu 50 butir.
Penyu akan menimbun sarang dengan pasir menggunakan flipper belakang setelah selesai bertelur, lalu memadatkan pasir pada permukaan sarang dengan cara memukul-mukul permukaan sarang dengan tubuhnya dan keempat flipper,
waktu penutupan lubang adalah pada pukul 23:00 WITA. Penyu bergerak kembali ke laut setelah melakukan aktifitas peneluran pada waktu 23;12 WITA
B. Saran
1) Diharapkan adanya pembuatan sarang semi alami yang lebih memadai sehingga telur-telur penyu yang disimpan di sarang semi alami lebih aman.
2) Diharapkan adanya penginapan yang lebih memadai di TWA Menipo sehingga para petugas bisa lebih nyaman ketika bermalam di Menipo.
3) Diperlukan perhatian khusus utuk konservasi penyu di TWA Menipo sehingga kelestarian penyu lekang tetap terjaga