KIALITAS INFRASTUKTUR DASAR (IKID) KABUPATEN SIKKA TAHUN 2023
UNIVERSITAS NUSA NIPA
Tim Peneliti dan Penyusun
Kajian Indeks Kualitas Infrastuktur Dasar Kabupaten Sikka Tahun 2023
Dr. Firminus Kontantinus Bhara, ST.,MT Dr. Cornelia Hildegardis, ST.,MT
Harry Janto Jepira, ST.,MEM Dedi Imanuel Pau, ST.,M.Eng
Ambrosius Alfonso Korasony Sevili Gobang, ST.,MT
Berkerjasama dengan
BADAN PERENCANAAN DAN PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN KABUPATEN SIKKA 2023
SURVEI KUALITAS INFRASTUKTUR DASAR (IKID) KABUPATEN SIKKA TAHUN 2023
Tim Peneliti dan Penyusun
Dr. Firminus Kontantinus Bhara, ST.,MT Dr. Cornelia Hildegardis, ST.,MT
Harry Janto Jepira, ST.,MEM Dedi Imanuel Pau, ST.,M.Eng
Ambrosius Alfonso Korasony Sevili Gobang, ST.,MT
Maumere, 12 November 2023 Mengetahui,
Ketua Tim Pelaksana,
Dr. Yosefina Andia Dekrita,SE.,MM NIDN. 0805076603
Kepala Badan Perencanaan dan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Sikka,
Margaretha M. Da Maga Bapa, ST. M.Eng NIP.19761206 200012 2 003
Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Berkat- Nya, kami bisa menyelesaikan Laporan indeks kualitas infrastruktur dasar Kabupaten Sikka tahun 2023. Laporan ini merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi tim yang terlibat dalam penelitian serta pengumpulan data yang akurat dan terpercaya.
Infrastruktur dasar merupakan tulang punggung pembangunan suatu daerah, yang meliputi jaringan transportasi, air bersih, sanitasi, energi, dan telekomunikasi. Melalui laporan ini, kami berharap dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang kondisi infrastruktur dasar di Kabupaten Sikka pada tahun 2023.
Laporan ini juga diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, stakeholder, dan masyarakat dalam mengidentifikasi kekurangan dan potensi pengembangan infrastruktur dasar di Kabupaten Sikka. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi infrastruktur, diharapkan dapat dilakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, laporan ini juga diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pemangku kepentingan dalam merancang program dan kebijakan yang berfokus pada pengembangan infrastruktur dasar yang berkelanjutan dan inklusif. Dalam era yang semakin kompleks dan dinamis ini, diperlukan pendekatan inovatif dan kolaboratif untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan.
Akhir kata, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. Semoga laporan indeks kualitas infrastruktur dasar Kabupaten Sikka tahun 2023 ini dapat memberikan informasi yang berharga dan bermanfaat bagi pembaca.
November, 2023
Tim Penyusun
DAFTAR GAMBAR ... 1
DAFTAR TABEL ... 2
BAB I. PENDAHULUAN ... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 7
1.3 Maksud dan Tujuan ... 8
1.4 Ruang Lingkup Penelitian ... 8
1.5 Dasar Hukum ... 9
BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH ... 11
2.1 Aspek Geografi dan Demografi ... 11
2.2 Aspek Demografi ... 12
2.3 Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar ... 13
2.4 Defenisi Konsep ... 20
BAB III. METODELOGI PENELITIAN ... 24
3.1 Jenis Penelitian ... 24
3.2 Subjek dan Objek Penelitian ... 24
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24
3.4 Jenis Data dan Sumber Data ... 24
3.5 Metode Sampling ... 25
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 26
3.7 Teknik Analisis Data ... 27
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 36
4.1 Rekapan Hasil Pengamatan ... 36
BAB V. KESIMPULAN ... 45
5.1 Kesimpulan ... 45
5.2 Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 47
LAMPIRAN ... 49
Lampiran 1: Surat Rekomendasi Statistik Layak IKID: ... 49
Lampiran 2: Surat Tugas Survei ... 51
Lampiran 3: Foto-Foto Pengambilan Data ... 52
Gambar 2. 1 Peta Geografis Kabupaten Sikka (Data Bapelitbang Kab. Sikka, 2022)………10 Gambar 2. 2 Grafik presentase cakupan rumah sehat tahun 2018-2020 (Berita Daerah Kabupaten
Sikka, 2022) ... 18
Tabel 2. 1 Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Kecamatan di Kabupaten Sikka
Tahun 2021 ... 12
Tabel 2. 2 Jumlah Daerah Irigasi yang menjadi wewenang Kabupaten Sikka ... 14
Tabel 2. 3 Persentase penduduk berakses air bersih di Kabupaten Sikka ... 15
Tabel 2. 4 Komponen Akses Sanitasi Layak dan Akses Sanitasi Aman ... 15
Tabel 2. 5 Status Jalan di Kabupaten Sikka ... 17
Tabel 2. 6 Rasio Panjang Jalan Per Satuan Penduduk Kabupaten Sikka Tahun 2018-2021 ... 18
Tabel 2. 7 Pelabuhan Laut, Pelabuhan Udara, dan Terminal Bus di Kabupaten Sikka Tahun 2018-2021 ... 19
Tabel 3. 1 Infrastruktur yang menjadi sampel penelitian... 25
Tabel 3. 2 Form Survei Indeks Kualitas Pembangunan Infrastruktur Dasar: ... 27
Tabel 3. 3 Indikator Indeks Infrastruktur Dasar ... 28
Tabel 3. 4 Tabel skor dari data jawaban ... 35
Tabel 4. 1 Hasil pengamatan saluran irigasi Koro ... 36
Tabel 4. 2 Hasil Pengamatan Jaringan Irigasi Kojablo ... 36
Tabel 4. 3 Hasil survei akses air minum layak ... 37
Tabel 4. 4 Hasil survei akses air limbah/sanitasi layak... 37
Tabel 4. 5 Hasil survei drainase lokasi Kelurahan Kota Uneng ... 38
Tabel 4. 6 Hasil survei drainase lokasi Kelurahan Kabor ... 38
Tabel 4. 7 Hasil survei drainase lokasi Kelurahan Beru ... 38
Tabel 4. 8 Hasil survei jalan raya ruas Jalan Moan Toda ... 39
Tabel 4. 9 Hasil survei jalan raya ruas Koting-Gehak ... 39
Tabel 4. 10 Hasil survei jalan raya ruas Lokaria-Habighar ... 39
Tabel 4. 11 Hasil survei Jembatan Wairklau 1 ... 40
Tabel 4. 12 Hasil survei Jembatan Wairklau 2 ... 40
Tabel 4. 13 Hasil survei Jembatan Tebuk ... 40
Tabel 4. 14 Hasil survei Jembatan Puho. ... 40
Tabel 4. 15 Hasil survei Rumah Layak Huni ... 41
Tabel 4. 16 Rekapan Lampu Penerangan Jalan ... 42
Tabel 4. 17 Rekapan Lampu Penerangan Jalan ... 42
Tabel 4. 20 Hasil survei Pelabuhan Lorens Say ... 43 Tabel 4. 21 Hasil survei Bandara Frans Seda. ... 44
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infrastruktur merupakan sistem fisik yang dibutuhkan masyarakat untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar, baik dalam lingkup sosial maupun ekonomi (Kodoatie, 2003; Pranessy, dkk., 2012). Keberadaan infrastruktur secara tidak langsung akan mempengaruhi kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat, sehingga kondisi infrastruktur menjadi salah satu prioritas perencanaan pembangunan di Indonesia. Perencanaan infrastruktur tidak hanya melihat pada kondisi fisik sarana dan prasarana saja, namun juga memperhatikan keramahan terhadap kondisi lingkungan hidup perkotaan dan perdesaan. Proses perencanaan dan pembangunan infrastruktur juga diupayakan untuk meningkatkan pelayanan infrastruktur serta mengembangkan konsep pembangunan berkelanjutan.
Proses perencanaan pembangunan infrastruktur di Indonesia bertumpu pada pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2018. Sejalan dengan SPM, Pemerintah Pusat mendorong Pemerintah Daerah untuk memenuhi tantangan global yaitu mengembangkan konsep pembangunan berkelanjutan, yang di dalamnya juga terdapat tujuan pembangunan infrastruktur berkelajutan. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 mengenai Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), dimana TPB (Sustainable Development Goals/SDGs) merupakan suatu rencana aksi yang telah disepakati secara internasional untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta melindungi lingkungan di masa kini hingga masa mendatang. Konsep pembangunan ini bersifat holistik, dengan mempertimbangkan seluruh aspek pembangunan secara seimbang dan terintegrasi. TPB memiliki 17 tujuanpembangunan berkelanjutan, dimana bidang infrastruktur dan pengembangan wilayah juga ikut berperan penting dalam penerapannya, terutama pada tujuan ke-
inklusif dan berkelanjutan serta membantu perkembangan inovasi, tujuan ke-11 yaitu menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan, serta tujuan ke-15 yaitu melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan, mengelola hutan secara lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati.
Berbagai isu dan permasalahan infrastruktur menjadi hal yang perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti guna mencapai pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dengan konsep Smart Infrastructure, Blue-Green Infrastructure, Resilience Infrastructure, dan Liveable Infrastructure (Li F., dkk., 2017; Fajariyah, dkk., 2018; IAP, 2017). Mengacu pada Perda No. 8 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Perda No. 3 Tahun 2019 tentang RPJMD (RPJMD) Kabupaten Sikka tahun 2018- 2023, menggambarkan Kabupaten Sikka di masa mendatang dapat mengintegrasikan sistem pengelolaan infrastruktur secaraterpadu serta berorientasi pada pemenuhan pelayanan sarana dan prasarana untuk seluruh golongan masyarakat serta menjamin tercapainya penggunaan sumber daya Kabupaten Sikka yang efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan. Namun berbagai kendala dalam bidang infrastruktur saat ini masih terjadi. Permasalahan di bidang infrastruktur menjadi tantangan bagi perencanaan di Kabupaten Sikka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sikka selalu meningkat di setiap tahunnya. Adanya peningkatan jumlah penduduk ini mengakibatkan kebutuhan lahan untuk permukiman dan juga kebutuhan infrastruktur penunjang semakin bertambah, sedangkan ketersediaan lahan relatif konstan. Kondisi tersebut mengakibatkan adanya perubahan penggunaan lahan dari ruang terbuka hijau menjadi ruang terbangun.
Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Sikka, bersinggungan dengan sejumlah permasalahan, terutama banjir dan rob. Permasalahan banjir dan robdi Kabupaten Sikka tidak hanya disebabkan oleh kondisi kota yang memiliki area pesisir Laut Flores serta adanya fenomena penurunan permukaan tanah dengan peningkatan permukaan air laut. Permasalahan banjir dan rob juga diakibatkan oleh faktor perubahan iklim dan peningkatan curah hujan. Kondisi tersebut disertai dengan adanya lonjakan kenaikan pemanfaatan penggunaan lahan hijau menjadi
kurangnya area vegetasi sebagai ruang tangkapan air hujan (Astuti, dkk., 2020).
Banjir pada bulan Januari dan Desember 2022 silam di sejumlah titik menunjukkan tekanan yang signifikan pada infrastruktur drainase perkotaan, sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas masyarakat. Kondisitersebut menunjukkan bahwa hingga saat ini pembangunan dan manajemen infrastruktur perkotaan perlu dikaitkan dengan penyelesaian masalah banjir dan rob di Kabupaten Sikka.
Adapun faktor eksternal lain yang mendorong untuk pengkajian infrastruktur di Kabupaten Sikka yaitu pada aspek kesehatan. Pandemi COVID-19 yang terjadi lebih dari setahun ini mendorong munculnya adaptasi menuju kebiasaan baru yang diduga akan mempengaruhi pergeseran peran infrastruktur.
Infrastruktur juga menjadi aspek penting dalam kemajuan perekonomian, terutama berpengaruh terhadap daya saing wilayah (Al Mismary & Wahyono, 2020; Sumadiasa, dkk., 2016). Jaringan jalan dan jembatan yang baik dan menjangkau seluruh kawasan semakin mempermudah aksesibilitas dan mobilitas perpindahan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Infrastruktur air bersih juga mempengaruhi perekonomian dalam hal proses produksi yang membutuhkan keterjaminan air bersih, serta infrastruktur permukiman yang mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia.
Kondisi di atas menjadi faktor pendorong untuk mengkaji indeks kualitas infrastruktur dasar di Kabupaten Sikka. Proses perencanaan pembangunan infrastruktur tentunya dengan memperhatikan aspek pemenuhan atau terkait dengan kuantitas, kualitas infrastruktur, serta perlunya infrastruktur yang dapat digunakan secara optimal. Pembangunan infrastruktur tidak hanya membutuhkan tindakan yang tepat, namun juga harus adaptif dan berdaya tahan dalam menghadapi perubahan-perubahan kondisi. Untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan di Kabupaten Sikka, dibutuhkan adanya penelitian dan pengembangan yang tepat, komprehensif, dan terintegrasi. Adanya penelitian terkait indeks kualitas infrastruktur ini akan menjadi landasan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan yang optimal bagi pemerintah terkait agar dapat mencapai visi dan misi pembangunan Kabupaten Sikka.
1.2.1 Identifikasi Masalah
Kabupaten Sikka merupakan salah satu wilayah di propinsi Nusa Tenggara Timur telah memberikan pelayanan bagi wilayah di sekitarnya khususnya di daratan Flores. Kondisi tersebut menyebabkan Kabupaten Sikka memiliki fasilitas yang lebih lengkap daripada wilayah di sekitarnya. Oleh karena itu, Kabupaten Sikka menjadi salah satu tujuan migrasi penduduk dari wilayah sekitarnya. Adanya peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan lonjakan keperluan peningkatan permukiman dan juga fasilitas permukiman yang lebih memadahi. Hal ini menyebabkan adanya perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Sikka yang semula merupakan ruang terbuka hijau dikonversi menjadi ruang terbangun sehingga menyebabkan berkurangnya area vegetasi hijau untuk menangkap limpahan air hujan. Di samping kondisi Kabupaten Sikka yang memiliki area pesisir Laut Flores dan Laut Sawu yang menyebabkan kerentanan terhadap penurunan permukaan tanah, banjir pasang laut dan rob.
Permasalahan Kabupaten Sikka ini perlu segera diatasi karena apabila semakin lama dibiarkan akan semakin memperparah kondisi kawasan yang juga akan mengganggu akitivitas masyarakat. Pada proses perencanaan infrastruktur perlu diperhatikan dengan menyesuaikan kebutuhan penduduk, peraturan yang mengikat, serta mengikuti konsep pembangunan berkelanjutan. Perencanaan infrastruktur ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah maupun stakeholders terkait untuk mewujudkan kelengkapan infrastruktur yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, adapun berbagai sasaran yang perlu dilaksanakan yaitu meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan ekosistem wilayah, kesesuaian kondisi tata ruang dengan rencana tata ruang, dan peningkatan pelayanan sarana prasarana, permukiman dan transportasi. Bapelitbang Kabupaten Sikka memprioritaskan perwujudan tata ruang dan infrastruktur yang berkelanjutan. Akan tetapi pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan masih sering diadaptasi secara teoritis dan belum diimplementasikan dengan baik serta belum mencapai visi dan misi Kabupaten Sikka secara optimal. Salah satu hambatan yang mengakibatkan hal tersebut terjadi yaitu belum adanya penelitian yang komprehensif untuk dijadikan sebagai acuan atau landasan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Sikka.
1.3.1 Maksud
Maksud dari kajian strategis dan penyusunan Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar Kabupaten Sikka tahun 2023 ini adalah untuk mengukur kualitas infrastruktur dasar yang ada melalui pengamatan dan perhitungan prosentase kualitas fisik infrastruktur yang telah digunakan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Sikka.
1.3.2 Tujuan
Tujuan dari kajian strategis dan penyusunan Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar Kabupaten Sikka tahun 2023 sebagai berikut:
1. Teridentifikasinya infrastruktur sebagai basis data untuk kajian perencanaan dan pembangunan infrastruktur,
2. Tersusunnya indeks kualitas infrastruktur dasar yang dapat memberikan gambaran pembangunan infrastruktur,
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
1.4.1 Ruang Lingkup Teritori
Ruang lingkup teritori meliputi wilayah dari kegiatan ini yaitu dibatasi oleh batasan administrasi Kabupaten Sikka dan dipilih beberapa lokasi sebagai representasi wilayah secara keseluruhan. Secara administratif, Kabupaten Sikka terbagi menjadi 21 Kecamatan, 147 Desa dan 13 Kelurahan. Pada tahun 2022, jumlah penduduk Kabupaten Sikka tercatat sebanyak 327.254 jiwa dengan luas wilayah 7.436,10 km2. Menurut penggunaannya, luas lahan terbangun sebesar 12,05% sedangkan lahan tidak terbangun sebesar 87,95%.
1.4.2 Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup substansi meliputi materi dalam kegiatan ini merupakan batasan dalam terminologi infrastruktur dasar beserta kasus yang dikaji lebih lanjut untuk menentukan indeks kualitas infrastruktur dasar yang ada di Kabupaten Sikka.
Pembahasan lingkup materi dalam bidang infrastruktur yang dimaksud adalah program prioritas di bidang infrastruktur serta lingkup kegiatan pendukung berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016. Adapun rinciannya sebagai berikut:
Sikka Tahun 2018-2023
Ruang lingkup materi dalam kegiatan ini berpedoman pada ketentuan yang berlaku, utamanya yaitu RPJMD Kabupaten Sikka tahun 2018-2023. Hal tersebut dikarenakan kajian strategis penelitian harus selaras dengan visi dan misi Kabupaten Sikka tahun 2018-2023. Berdasarkan RPJMD Kabupaten Sikka tahun 2021-2026 tersebut terdapat program-program prioritas mengenai bidang infrastruktur dan pengembangan wilayah.
b. Aspek dalam kajian indeks kualitas infrastruktur dasar ini meliputi Irigasi, Rumah Tangga dengan Akses Air Minum, Rumah Tangga dengan Akses Air Limbah dan Sanitasi Layak, Drainase Kota, Sarana Prasarana Jalan dan Jembatan, Permukiman, dan Infrastruktur Perhubungan.
1.5 Dasar Hukum
Landasan pelaksanaan pelaksanaan survei Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar (IKID) Kabupaten Sikka tahun 2023 mengacu pada:
1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 01/
PRT/M/2014 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 29/PRT/M/2018 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Standar Pelayanan Minimal Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 22/PRT/M/2008 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknik Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, Penghunian, Pengalihan Status, Dan Pengalihan Hak Atas Rumah Negara.
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No 12/PRT/M/2015, Tahun 2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14/
PRT/M/2015 Tahun 2015 tentang Kriteria dan Penetapam Saluran Irigasi.
6. Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). (2017) Tentang Prosedur Pemeliharaan Jembatan.
Indonesia, (1993), Tentang PanduanPemeriksaan Jembatan.
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tentang Angkutan Jalan.
10. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor: PM 132 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Terminal Angkutan Jalan.
11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No 12/PRT/M/2014, Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.
12. Peraturan Bupati Sikka Nomor 8 Tahun 2022 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2023.
13. Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Bangunan Tahan Gempa.
14. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tahun 2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
15. Kebijakan nasional tentang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) berbasis masyarakat dan Permenkes Nonor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
16. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL).
17. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Persyaratan Minimal.
18. Direktorat Pembinaan Jalan Kota, Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan Perkotaan NO. 12/S/BNKT/ 1991, Direktorat Jenderal Binamarga, Jakarta, 8, 1992.
19. Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2005-2025.
BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi
A. Letak, Batas dan Luas Wilayah
Kabupaten Sikka terletak di ujung timur Pulau Flores, memiliki luas wilayah 1.731,91 Km2 atau 173.191 Ha dengan batas-batas administrasi wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara: berbatasan dengan Laut Flores;
Sebelah Timur: berbatasan dengan Kabupaten Flores Timur;
Sebelah Barat: berbatasan dengan Kabupaten Ende;
Sebelah Selatan: berbatasan dengan Laut Sawu.
Gambar 2. 1 Peta Geografis Kabupaten Sikka (Data Bapelitbang Kabupaten Sikka, 2022)
Berdasarkan peta tersebut dapat dijelaskan bahwa secara geografis, Kabupaten Sikka terletak pada 8o22’– 8o50’ Lintang Selatan dan 121o55’40” – 122o41’30” Bujur Timur.
Secara administratif Kabupaten Sikka terbagi atas 21 Kecamatan, 13 Kelurahan, 147 Desa dan 34 Desa Persiapan.
Kecamatan dengan desa/kelurahan terbanyak terdapat di Kecamatan Talibura dan Nita masing- masing sebanyak 12 desa, sedangkan kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan paling sedikit adalah Kecamatan Mapitara dan Alok Barat masing- masing sebanyak 4 desa/ kelurahan.
2.2 Aspek Demografi
Jumlah penduduk di Kabupaten Sikka mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jumlah penduduk Kabupaten Sikka pada tahun 2017 sebesar 315.477 jiwa. Tahun 2018 sebesar 317.292 jiwa dan tahun 2019 sebesar 318.920 jiwa. Pada tahun 2020 meningkat menjadi 323.828 jiwa, kemudian pada tahun 2021 mencapai 327.254 jiwa. Rasio jenis kelamin (sex ratio) merupakan perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan.
Perhitungan ini dapat menjadi pertimbangan untuk mengetahui dinamika kependudukan berdasarkan jenis kelamin, serta secara lebih jauh dapat diarahkan pada rasio ketergantungan (dependency ratio). Sex ratio Kabupaten Sikka dapat dilihat pada Tabel 2.1. dibawah ini:
Tabel 2. 1 Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Kecamatan di Kabupaten Sikka Tahun 2021
No. Kecamatan Rasio Jenis Kelamin (%)
Persentase Penduduk (%)
Kepadatan Penduduk (km2)
1. Paga 92,7 5,08 199
2. Mego 94,6 4,02 117
3. Tanawawo 98,4 2,76 112
4. Lela 90.7 3,58 371
5. Bola 86,2 3,34 190
6. Doreng 93,5 3,73 397
7. Mapitara 95,4 2,07 83
8. Talibura 93,7 6,98 87
9. Waigete 94,5 7,77 116
10. Waiblama 98,9 2,52 57
11. Kewapante 87,9 4,60 617
12. Hewokloang 90,8 2,80 516
13. Kangae 89 5,62 474
14. Palue 85,3 2,93 232
15 Koting 93,4 2,02 278
16. Nelle 89,4 1,91 422
17. Nita 100,1 7,06 162
18. Magepanda 94,1 3,96 77
19. Alok 97,3 10,06 2229
20. Alok Barat 98,4 7,06 365
21. Alok Timur 94,8 10,13 356
Kabupaten Sikka 93,29 100 187
Sumber: Kabupaten Sikka Dalam Angka Tahun 2022
2.3 Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar
Infrastruktur juga disebut prasarana juga mencakup barbagai macam hal yang bersangkutan dengan pengangkutan, konstruksi, pasokan listrik dan lain-lain. Infastruktur adalah kondisi dasar atau kerangka dasar dari suatu organisasi atau sistem. Indeks kualitas infrastruktur dasar di Kabupaten Sikka sampai tahun 2022 sebesar 55,85 (KAK Pabelitbang, 2023). Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar dapat dilihat dari indikator antara lain:
2.3.1 Persentase Jaringan Irigasi dalam Kondisi Baik
Kabupaten Sikka terdapat 35 Daerah lrigasi (DI) yang menjadi kewenangan Kabupaten dengan total luasan 4357 Ha berdasarkan Permen PU Nomor 14/PRT/M/2015 tanggal 21 April 2015. Sawah irigasi seluas kurang lebih 3.106 Ha terdapat di Kecamatan Paga, Kecamatan Tanawawo, Kecamatan Mego, Kecamatan Talibura, Kecamatan Waigete, Kecamatan Nita, Kecamatan Waiblama dan Kecamatan Magepanda.
D.I kewenangan Pemerintah Provinsi meliputi DI. Kolisia dan DI.
Magepanda.
D.I kewenangan Kabupaten meliputi D.I. Kolisia, D.I. Delang, D.I.
Ahuwair, D.I. Hebing, D.I. Ijuartubou, D.I. Kaliwajo, D.I. Koro, D.I. Nangarasong, D.I. Nebe, D.I. Oeroang, D.I. Pruda, D.I.
Puunaka, D.I. Tendaki, D.I. Umatau, D.I. Wairita, D.I. Waigete, dan D.I. Wairhewat (Perbup Sikka Nomor 20, 2021),
Adapun Daerah Irigasi yang akan ditangani tahun 2024 adalah: D.I.
Koro, D.I. Gute dan D.I. Kojablo (PUPR Kabupaten Sikka, 2023)
Tabel 2. 2 Jumlah Daerah Irigasi yang menjadi wewenang Kabupaten Sikka
No. Kecamatan Jumlah
1. Magepanda 7
2. Talibura 2
3. Mego 2
4. Waigete 2
5. Mapitara 1
6. Waiblama 2
Total 15
Sumber: PUPR Kabupaten Sikka, 2023
2.3.2 Persentase Rumah Tangga dengan Akses Air Minum Layak.
Rumah tangga pengguna air bersih adalah jumlah rumah tangga yang memiliki akses air bersih. Persentase penduduk berakses air bersih adalah penduduk yang berkases air bersih berbanding dengan jumlah penduduk.
Tabel 2. 3 Persentase penduduk berakses air bersih di Kabupaten Sikka
No Tahun Akses Air Bersih (%)
1 2020 38,36
2 2021 39,19
Sumber: Berita Daerah Kabupaten Sikka, 2022
2.3.3. Persentase Rumah Tangga dengan Akses Air Limbah atau Sanitasi Layak.
Persentase Rumah Tangga dengan Akses Air Limbah atau Sanitasi Layak adalah jumlah rumah tinggal yang bersanitasi layak berbanding seluruh jumlah rumah tinggal. Persentase cakupan sistem limbah setempat yang memadai dalam skala kawasan di Kabupaten Sikka pada tahun 2020 sebesar 46,93% dan pada tahun 2021 sebesar 47,59%.
Rumah tangga dinilai memiliki akses sanitasi layak atau akses sanitasi aman apabila memenuhi seluruh kriteria dari komponen-komponen di bawah ini:
Tabel 2. 4 Komponen Akses Sanitasi Layak dan Akses Sanitasi Aman
Komponen Akses Layak Akses Aman
Bangunan Atas Kloset leher angsa Kloset leher angsa Bangunan Bawah Tengki Septik dan lubang
tanah (khusus pedesaan)
Tangki Septik atau Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL)
Pengguna Bangunan atas digunakan oleh rumah tangga sendiri atau bersama dengan rumah tangga lain tertentu.
Bangunan atas digunakan oleh satu rumah tangga
Frekuensi Penyedotan (tidak dinilai) Minimal sekali dalam
jangka waktu 5 tahun terakhir Sumber: Metadata target indikator sanitasi, 2019
2.3.4 Persentase Drainase Kota dalam Kondisi Baik.
Drainase adalah sistem prasarana dalam wilayah atau kota yang intinya berfungsi selain untuk mengendalikan dan mengalirkan limpasan air hujan yang berlebihan secara aman, juga untuk menyalurkan kelebihan air lainnya yang mempunyai dampak mengganggu dan atau mencemari lingkungan perkotaan/permukiman. Jadi drainase merupakan sarana untuk membuang
air baik air yang belum tercemar berlebih maupun air tercemar (air limbah) ke tempat yang aman. Permasalahan umum yang sering dihadapi pada setiap musim hujan adalah masalah banjir dan genangan air. Banjir dan genangan akan berdampak pada terganggunya kelancaran lalu lintas dan dapat menurunkan derajat kesehatan penduduk dan lingkungan. Terjadinya banjir dan genangan disebabkan oleh fungsi drainase kota belum tertangani secara menyeluruh baik dari segi perencanaan teknis maupun pelaksanaan fisiknya dan disamping kurangnya kesadaran masyarakat dalam memelihara saluran yang ada disekitarnya. Permasalahan tersebut merupakan dampak dari perkembangan penduduk dan bangunan fisik yang sangat cepat tapi tidak terkontrol dimana terjadi penyempitan areal resapan air terutama pada musim hujan, limpasan permukaan air langsung menuju saluran drainase.
Berkurangnya daerah resapan air menyebabkan saluran drainase tidak mampu menampung sehingga terjadi luapan dan banjir.
Rencana sistem jaringan drainase meliputi:
1. Sistem jaringan primer yaitu sistem jaringan drainase yang kemudian bermuara ke sungai Waioti, Napun Mu’u, Nangameting/Kalimati, Nangalimang/Kalimati, Nanga Lanang, Napung Langir, Wairklau, Wolomarang, Wailiti, Wair Nubat, Wair Ojang dan Patisomba; dan 2. Sistem jaringan sekunder terdapat di kiri dan kanan jalan Arteri Primer,
Kolektor Primer dan Lokal dengan jenis dan tipe saluran terbuka dan tertutup.
2.3.5 Persentase Kualitas Sarana dan Prasarana jalan dan Jembatan.
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
Persentase Kualitas Sarana dan Prasarana Jalan dan Jembatan merupakan panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik berbanding panjang seluruh
jalan kabupaten di daerah tersebut.
Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan propinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.
Tabel 2. 5 Status Jalan di Kabupaten Sikka
Status Jalan Nama Ruas Jalan
Nasional Waepare - Batas Flores Timur; Batas Kota Maumere-Waepare; Waipare – Bola; Maumere – Magepanda; Woloara - Bts. Kota Maumere; Nita – Woloara; Hepang – Nita; Lianunu – Hepang; Jl. Ahmad Yani - Jl.
Sudirman;
Propinsi Hepang – Sikka; Waepare – Bola.
Kabupaten Ihigetegera-Tadagahar; Bei-Baobatung; Baobatung-Dobo; Piring- Hewokloang; Wairotang-Sp. Kewapante; Kewapante - Sp. Habibola;
Namangkewa – Baomekot; Heo- Hewokloang; Riidetut – Hewokloang; Riidetut – Ipir; Ohe – Maget; Ohe – Kloangrotat;
Watublapi – Bola; Bola – Sikka; Bola – Hale; Hale – Kilawair; Gedo- Wojong; Rohot-Wolokoli; Habibola-Hebar; Waiara-Lakakotat;
Habiheret-Moko; Hoder-Wairkoro; Lago-Watukrong; Kubit – Ratekloang; Waigete – Hebing; Patiahu-Kilawair; Wairwuat-Warut;
Nangahale - Pruda (Batas Flores Timur); Tanarawa-Natarmage;
Tanarawa – Werang; Nangagete-Iang Loeng; Mauloo-Mageria;
Umauta-Wojong; Pemana-Ngolo; Petut-Keling; Wuladu -Bora;
Karmel -Lirikelang; Nangagete- Kajowain; Nita -Koting; Maumere- Koting; Dalam Kota Maumete; Woloara -Koting; Kisa-Magepanda;
Nele-Lebantour; Lingkar Luar.
Sumber: Tataran Transportasi Lokal Kabupaten Sikka Tahun 2021
Dari tabel 2.5, diambil ruas jalan dalam kota maumere karena merupakan ruas jalan terpanjang yang merupakan status Jalan Kebupaten yaitu 35,5 km (Tataran Transportasi Lokal Kabupaten Sikka, 2021).
2.3.6 Rasio Panjang Jalan per Satuan Penduduk.
Rasio Panjang Jalan Per Satuan Penduduk diperoleh dengan membagi jumlah panjang jalan (Km) dengan jumlah penduduk suatu wilayah. Rasio ini memiliki arti 1 Km jalan di wilayah tersebut berbanding dengan akses untuk melayani sejumlah penduduk. Semakin tinggi nilai rasio, maka semakin tinggi pula masyarakat yang dilayani. Rasio Panjang Jalan Per Satuan Penduduk Kabupaten Sikka Tahun 2018-2021 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2. 6 Rasio Panjang Jalan Per Satuan Penduduk Kabupaten Sikka Tahun 2018-2021
Indikator Satuan 2018 2019 2020 2021
Jumlah Panjang Jalan Km 844,25 844,25 844,25 844,25
Jumlah Penduduk jiwa 318.920 321.765 323.828 324.252
Rasio Panjang Jalan Per Satuan Penduduk Km/jiwa 0,002647 0,002624 0,002607 0,002604 Sumber : Dinas PUPR Kabupaten Sikka, 2022
Berdasarkan data di atas dapat dijelaskan bahwa Rasio Panjang Jalan Per Satuan Penduduk Kabupaten Sikka Tahun 2018-2021 mengalami penurunan disebabkan karena bertambahnya jumlah penduduk setiap tahun sedangkan panjang jalan Kabupaten tetap.
2.3.7 Persentase Kualitas Infrastruktur Permukiman.
Rumah sehat merupakan rumah yang memiliki kriteria minimal seperti komponen struktur, kecukupan luasan tempat tinggal, akses air minum, akses jamban sehat, lantai, ventilasi dan pencahayaan (Berita Daerah Kabupaten Sikka, 2022).
Gambar 2. 2 Grafik presentase cakupan rumah sehat tahun 2018-2020 (Berita Daerah Kabupaten Sikka, 2022)
Persentase Kualitas infrastruktur perhubungan.
a. Jumlah Pelabuhan Laut, Pelabuhan Udara, dan Terminal Angkutan Darat.
Pelabuhan Laut, Pelabuhan Udara, dan Terminal Bus adalah sarana transportasi yang mempunyai fungsi utama sebagai tempat pemberhentian sementara kendaraan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dan barang hingga sampai pada tujuan akhir suatu perjalanan, juga sebagai tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengoperasian.
Tabel 2. 7 Pelabuhan Laut, Pelabuhan Udara, dan Terminal Bus di Kabupaten Sikka Tahun 2018-2021
No Uraian Tahun
2018 2019 2020 2021
1 Bandar Udara 1 1 1 1
2 Terminal Angkitan Darat 2 2 2 2
3 Pelabuhan Penyeberangan 5 5 5 5
Sumber: Berita Daerah Kabupaten Sikka, 2022.
b. Lampu Lalu Lintas
Lampu Lalu lintas yang ada di Kabupaten Sikka tersebar pada 8 titik lokasi yaitu: Kantor Pengadilan, Patung Kuda, Polres, Gelora Samador, PLN, Eltari, Patung Kristus Raja, Toko Agung (Tataran Transportasi Lokal Kabupaten Sikka, 2021).
c. Lampu Penerangan Jalan
Lampu jalan atau dikenal juga sebagai Penerangan Jalan Umum (PJU) merupakan lampu yang digunakan untuk penerangan jalan dimalam hari sehingga mempermudah pengguna jalan melihat dengan lebih jelas jalan yang akan dilalui pada malam hari, sehingga dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas dan keamanan. Fungsi utama lampu penerangan jalan umum (PJU) adalah memberikan pencahayaan buatan bagi pengguna jalan sehingga mereka merasa aman dalam melakukan aktivitas perjalanan di malam hari.
2.4. Defenisi Konsep
Defenisi konsep beberapa indikator untuk menentukan indeks kualitas infrastruktur dasar sebagai berikut:
1. Jaringan irigasi:
a. Saluran Irigasi
Adanya retak pada saluran. Lebar retak > 1cm: kondisi salurannya rusak. Retak rambut atau tidak adanya retak: kondisi salurannya baik.
b. Mistar ukur.
Mistar ukur dapat berfungsi: kondisinya baik, mistar ukur tidak berfungsi: kondisinya rusak.
c. Pintu air.
Pintu air dapat beroperasi: kondisinya baik, pintu air tidak dapat beruperasi: kondisinya rusak.
2. Rumah tangga dengan akses air minum layak:
a. Sumber utama air minum, mandi dan cuci.
- Ledeng dengan meteran, ledeng tanpa meteran, sumur bor atau sumur pompa, sumur terlindungi, mata air terlindungi:
aksesnya baik.
- Air kemasan atau air isi ulang, sumur tak terlindungi, mata air tak terlindungi, sungai/danau/kolam, air hujan, tangki mobil/gerobak air: aksesnya tidak baik.
b. Jarak sumber air ke tempat pembuangan tinja.
Lebih dari 10 meter: Akses baik.
Kurang dari 10 meter: Akses tidak baik.
3. Rumah tangga dengan akses air limbah dan sanitasi layak a. Tempat buang air besar.:
- Jamban Sendiri/bersama (< 5 KK/jamban bersama: Akses Layak.
- Tidak ada jamban atau jamban umum (jika digunakan >5 KK dan/atau membayar): Akses tidak layak.
b. Jenis kloset yang digunakan:
- Leher Angsa: baik
- Bukan Leher Angsa: tidak baik c. Pembuangan limbah:
- IPAL: baik
- Bukan IPAL: tidak baik.
4. Drainase skala kota.
Genangan air.
- Kondisi fisik bangunan rusak: tidak baik.
- Ada tumpukan sampah: tidak baik.
- Ada rumput atau tumbuhan liar.
5. Jalan.
Kondisi permukaan perkerasan jalan.
- Tidak adanya kerusakan (retak, lubang, alur) per segmen ruas jalan:
kondisi jalan baik
- Adanya kerusakan (retak, lubang, alur) per segmen ruas jalan:
kondisi jalan tidak baik.
6. Jembatan.
Elemen-elemen jembatan yaitu: pondasi, kolom, balok, gelagar, dek, pengaku, peredam getaran, penahan angin, pagar pembatas.
- Lebih dari 80% elemen jembatan berfungsi: baik.
- Kurang dari 80% elemen jembatan tidak berfungsi: tidak baik.
7. Kualitas permukiman atau bangunan hunian.
a. Luas lantai bangunan hunian/jiwa - > 7,2 meter2/ jiwa: Layak - < 7,2 meter2/ jiwa: tidak layak.
b. Kondisi atap terluas - Bocor: Tidak layak - Tidak bocor: Layak.
c. Kondisi dinding terluas - Baik: Layak
- Rusak: Tidak layak.
d. Jenis lantai terluas - Tanah: Tidak layak - Bukan tanah: Layak.
8. Bandar Udara
Fasilitas utama bandar udara yaitu: landasan pacu, terminal penumpang, menara control, apron, cargo, stasiun pemadam kebakaran, toko dan restaurant, ruang tunggu VIP, pusat medis dan kesehatan, ruang ibadah, area parkir kendaraan, transportasi darat, kantor administrasi dan layanan.
- Fasilitas utama berfungsi: Baik.
- Fasilitas utama tidak berfungsi: Tidak baik.
9. Terminal
Fasilitas utama terminal yaitu: jalur keberangkatan, jalur kedatangan, ruang tunggu penumpang, tempat naik turun penumpang, tempat parkir kendaraan, papan informasi, pos kesehatan, fasilitas peribadahan, pos keamanan.
- Fasilitas utama berfungsi: Baik.
- Fasilitas utama tidak berfungsi: Tidak baik.
10. Pelabuhan
Fasilitas utama Pelabuhan yaitu: dermaga, terminal penumpang, Gudang dan area penyimpanan, crame dan alat bongkar muat, jalur akses, area parkir, falitas keselamatan/alat pemadam kebakaran, kantor administrasi dan layanan, area parkir, terminal cargo, restaurant dan toko, kios dan stasiun informasi.
- Fasilitas utama berfungsi: Baik.
- Fasilitas utama tidak berfungsi: Tidak baik.
11. Lampu Lalu Lintas.
Lampu lalu lintas menyala.
- Merah, Kuning dan Hijau menyala: Baik.
- Salah satu lampu tidak menyala: Tidak baik.
12. Lampu Penerangan Jalan.
Lampu penerangan jalan:
- Menyala; baik
- Tidak menyala: tidak baik Kuat Cahaya (Lux).
- Rata-rata kurang dari 30 Lux: Tidak baik.
- Rata-rata 30 Lux atau lebih: Baik
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus adalah metode penelitian yang berfokus pada pengumpulan informasi mengenai objek yang spesifik, kejadian atau aktivitas seperti kejadian atau peristiwa (Sekaran dan Bougie, 2013). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, yaitu penelitian yang diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan data yang mendeskripsikan karakteristik dari objek baik berupa kejadian atau situasi (Sekaran dan Bougie, 2013).
3.2 Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah Infrastruktur Dasar berupa Jaringan Irigasi, Akses Air Minum dan Sanitasi pada Rumah Tangga, Drainase Perkotaan, Jalan, Jembatan, Infrastruktur Permukiman dan Infrastruktur Perhubungan.
2. Objek Penelitian
Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar.
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini di Jaringan Irigasi, Akses Air Minum dan Sanitasi pada Rumah Tangga, Drainase Perkotaan, Jalan, Jembatan, Infrastruktur Permukiman dan Infrastruktur Perhubungan di Kabupaten Sikka.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada Bulan Agustus s/d Oktober 2023 3.4 Jenis Data dan Sumber Data
Data yang digunakan untuk penelitian ini yaitu:
1. Data Primer
Dalam melakukan penelitian ini yang menjadi data primer yaitu pengamatan di lapangan yang dilakukan secara langsung dengan pihak yang terkait.
2. Data Sekunder
Data sekunder bersumber dari data di dinas terkait, artikel, buku dan penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.5 Metode Sampling
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Sampling Porposive yaitu: teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2008). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 3.1.
Tabel 3. 1 Infrastruktur yang menjadi sampel penelitian:
No Infrastruktur Sampel Pertimbangan
1. Jaringan Irigasi Jaringan Irigasi Koro (Magepanda) Saluran irigasi terpanjang Jaringan Irigasi Kojablo (Talibura) Salah satu
terpanjang.
saluran irigasi 2. Rumah Tangga
dengan Akses Air Minum
Kelurahan Kota Uneng Kelurahan dalam kecamatan yang terpadat.
Salah satu Waiblama
desa di Kecamatan Kecamatan paling tidak padat.
3. Rumah Tangga dengan Akses Air Limbah dan Sanitasi.
Kelurahan Kota Uneng Kelurahan dalam kecamatan yang terpadat.
Salah satu desa di Kec. Waiblama Kecamatan paling tidak padat.
4. Drainase Kota Drainase dalam kota pada ruas jalan kabupaten di Kelurahan Kota Uneng, Kabor dan Beru.
Kelurahan dalam kecamatan yang terpadat yang berada pada kota.
5. Jalan Jalan Moan Toda Jalan dalam kota dengan
kapasitas terbesar.
Ruas Jalan Woloara-Koting Mewakili ruas jalan yang dekat dengan pusat kota.
Ruas jalan Lokaria-Habighar Mewakili ruas jalan dekat dengan terminal.
6. Jembatan Jembatan Wairkali I dan II. Jembatan di wilayah kota yang menjadi wewenang Pemda Sikka
Jembatan Tebuk dan Jembatan Puho Jembatan di wilayah pedesaan yang menjadi wewenang Pemda Sikka 7. Bangunan
Hunian
Kelurahan Kota Uneng Kelurahan dalam kecamatan yang terpadat.
Salah satu desa Waiblama.
di Kecamatan Kecamatan paling tidak padat.
8. Terminal Terminal Lokaria Madawat
dan Terminal Terminal yang berada dalam Kota Maumere
9. Bandar Udara Bandar Udara Frans Seda Satu satunya bandara yang ada di Kabupaten.
10. Pelabuhan Pelabuhan Lorens Say Pelabuhan terbesar di Kabupaten Sikka 11. Lampu
Lintas
Lalu Lampu-lampu lalu lintas di Kota Maumere
Semua lampu lalu lintas yang ada di Kota Maumere.
12. Lampu Penerangan Jalan
LPJ di Jalan Eltari Jalan pusat pemerintahan.
LPJ Litbang-pasar Alok Mewakili ruas jalan yang menjadi aktivitas
perdagangan.
LPJ Ruas jalan lingkar luar Mewakili ruas jalan alternatif yang dekat dari pusat kota.
Sumber: Olahan tim peneliti
3.6 Metode Pengumpulan Data 1. Observasi
Melakukan pengamatan langsung pada Jaringan Irigasi, Akses Air Minum dan Sanitasi pada Rumah Tangga, Drainase Perkotaan, Jalan, Jembatan, Infrastruktur Permukiman dan Infrastruktur Perhubungan.
2. Wawancara.
Wawancara dapat berupa wawancara personal, wawancara intersep, dan wawancara telepon. Menggunakan teknik wawancara untuk mengetahui permasalahan dan hal-hal lain dari responden mengenai kualitas infrastruktur dasar. Wawancara terstruktur dilakukan dengan menggunakan pertanyaan yang telah disiapkan. Wawancara yang dilakukan oleh penulis mengacu pada rincian pertanyaan kuesioner.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan kepada satu responden yaitu
kepala keluarga pada kelurahan/desa pada kecamatan terpadat dan kecamatan tidak terpadat, bertujuan untuk mengonfirmasi jawaban kuesioner dan mengetahui adanya masalah- masalah lain yang terjadi di infarastruktur perumahan.
3. Penelitian Kepustakaan
Peneliti juga mencari informasi untuk memperoleh data yang diperlukan dengan membaca, mempelajari, dan memahami buku-buku, karya ilmiah, data dari dinas-dinas terkait, dan bacaan lain yang berhubungan dengan topik penelitian.
3.7 Teknik Analisis Data
Langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam menganalisis penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan observasi lapangan dan mengisi pada form yang telah disediakan. Pertanyaan dengan pilihan jawaban “1” atau “0”. Formulir pengamatan dipaparkan pada tabel Tabel 3.2:
Tabel 3. 2 Form Survei Indeks Kualitas Pembangunan Infrastruktur Dasar:
Lembar Isian - Survei Infrastruktur Daerah Kabupaten Sikka Kajian Indeks Kualitas Pembangunan Infrastruktur Dasar
Tahun 2023 Nomor Quesioner :
Lokasi Sampel :
Hari/Tanggal :
Waktu (Pukul) :
Nama Surveior :
Validasi oleh Responden :
Tabel 3. 3 Indikator Indeks Infrastruktur Dasar 1. Jaringan Irigasi
2. Air Minum
3. Pengelolaan Air Limbah/Sanitasi
4. Drainase
5. Jalan
NO Ruas Jalan Kabupaten
A.5. JALAN Kecepatan Kendaraan (km/jam)
SKOR KONDISI JALAN
(15) 15
a b c
Kurang dari 40 km/jam
Lebih dari 40 km/jam
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1 2
Sub - Total Jumlah TOTAL PERSENTASE 6. Jembatan
NO Elemen Jembatan
A.5. JEMBATAN Elemen-elemen Jembatan
SKOR KONDISI JEMBATAN
(15) 15
a b c
Rusak Baik
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1 Pondasi 2 Kolom 3 Balok 4 Gelagar 5 Dek 6 Pengaku
7 Peredam Getaran 8 Penahan Angin 9 Pagar Pengaman
Sub - Total Jumlah TOTAL PERSENTASE
7. Kelayakan Bangunan Hunian
8. Bandara
NO Fasilitas Bandara
A.8. BANDARA Kondisi Fasilitas
SKOR KONDISI BANDARA
(15) 15
a b c
Tidak Ada Ada
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1 Landasan Pacu 2 Terminal Penumpang 3 Menara Kontrol 4 Apron
5 Bongkar Muat Cargo 6 Pemadam Kebakaran 7 Toko dan Restaurant 8 Ruang Tunggu VIP
9 Pusat Medis dan Kesehatan 10 Ruang Ibadah
11 Area Parkir Kendaraan 12 Transportasi Darat
13 Kantor Administrasi dan Layanan
Sub - Total Jumlah TOTAL PERSENTASE 9. Pelabuhan
NO Fasilitas Pelabuhan
A.9. PELABUHAN
Kondisi Fasilitas SKOR
KONDISI PELABUHAN
(15) 15
a b c
Tidak Ada Ada
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1 Dermaga
2 Terminal Penumpang
3 Gudang dan Area Penyimpanan 4 Crame dan alat bongkar muat 5 jalur akses
6 area parkir
7 fasilitas keselamatan (Alat pemadam kebakaran) 8 kantor administarsi dan layanan
9 area parkir 10 Terminal Kargo 11 Restorant dan toko
12 Kios dan Stasiun Informasi
Sub - Total Jumlah TOTAL PERSENTASE
10. Lampu Lalu Lintas
NO Letak Lampu Lalu Lintas
A.10. LAMPU LALU LINTAS
Lampu Lalu Lintas Menyala
SKOR KONDISI LAMPU LALU
LINTAS (15) 15
a b c
Salah Satu Lampu Tidak
Menyala
Merah, Kuning, Hijau Menyala
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1 2 3 4 5 6 7 8
Sub - Total Jumlah TOTAL PERSENTASE
11. Lampu Penerangan Jalan
NO Lokasi Lampu Penerangan Jalan
A.11. LAMPU PENERANGAN JALAN
Kuat Cahaya (lux)
SKOR KONDISI LPJ
(15) 15
a b c
Rata-rata Kurang dari 30
Lux
Rata-Rata 30 Lux atau Lebih
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1 2 3 4 5 6 7 8
Sub - Total Jumlah TOTAL PERSENTASE
Maumere, ... September 2023 Pelaksana Survei,
...
2. Merekap Hasil Isian Form
Peneliti menggunakan teknik analisis data yang diadopsi dari rumus perhitungan Arikunto, dkk (2016), untuk megetahui persentase indikator kualitas infrastruktur dasar. Adapun rumus perhitungan untuk mengukur persentase tersebut sebagai berikut:
P = F
N x 100%
Keterangan:
P = Tingkat persentase F = Frekuensi jawaban “ya”
N = Jumlah pengamatan
Jawaban “ya” akan memperoleh nilai 1 dan jawaban “tidak” akan memperoleh nilai 0. Pengukuran hasil digunakan untuk menentukan menentukan Indeks Kualitas Infrastruktur Dasar.
Berdasarkan uraian tersebut agar hasil penelitian akhir berupa pernyataan kualitatif, besarnya persentase dijadikan dasar bagi penentuan indeks atau presentase tingkat kerusakan (Permen PU No.12/PRT/M/2015). Skor dan kondisi dapat di lihat pada tabel skor yaitu tabel 3.4 sebagai berikut:
Tabel 3. 4 Tabel skor dari data jawaban
Skor Kondisi
91-100 % Baik
80-90 % Rusak Ringan
41-79 % Rusak Sedang
0-40 % Rusak Berat
Sumber: Permen PU No.12/PRT/M/2015
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Rekapan Hasil Pengamatan
A. Rekapan Hasil Pengamatan pada Saluran Irigasi.
Tabel 4. 1 Hasil pengamatan saluran irigasi Koro.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah Segmen
Presentase (%) 1 Tidak ada retak pada
saluran atau ada retak rambut
5 16 31,25
2 Mistar ukur dapat digunakan
0 16 0
3 Pintu air dapat beroperasi
0 16 0
Jumlah 5 48 10,42
Sumber: Hasil olahan data
Tabel 4. 2 Hasil Pengamatan Jaringan Irigasi Kojablo.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah Segmen
Presentase (%) 1 Tidak ada retak pada
saluran atau ada retak rambut.
12 14 85,71
2 Mistar ukur dapat digunakan.
12 12 100
3 Pintu air dapat beroperasi.
12 12 100
Jumlah 5 48 95,23
Sumber: Hasil olahan data
Persentase kondisi jaringan irigasi = 10,42+95,23 = 52,83 %.
2
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi saluran irigasi adalah rusak sedang (52,83%).
B. Rekapan Hasil Pengamatan Pada Akses Air Minum Layak.
Tabel 4. 3 Hasil survei akses air minum layak.
No Komponen Pengamatan Jumlah Jawaban
“Ya”
Jumlah Rumah Tangga
Presentase (%) 1. Sumber utama air minum,
mandi dan cuci berupa ledeng.
29 77 37,66
2. Sumber utama air minum, mandi dan cuci berupa sumur bor.
18 77 23,40
3. Sumber utama air minum, mandi dan cuci berupa mata air terlindung.
15 77 19,50
4. Sumber utama air minum, mandi dan cuci berupa air kemasan.
11 77 14,30
5. Jarak sumber air ke
penampungan tinja > 10 m
10 77 12,99
Jumlah 83 385 21,56
Sumber: Hasil olahan data
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi rumah tangga dengan akses air minum layak adalah rusak berat (21,56%)
C. Rekapan Hasil Pengamatan Pada Akses Air Limbah/Sanitasi Layak.
Tabel 4. 4 Hasil survei akses air limbah/sanitasi layak.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah Rumah tangga
Presentase (%) 1 Tempat buang air
besar di jambang sendiri/ jambang bersama < 5 KK
69 77 90
2 Jenis Kloset yang digunakan adalah leher angsa
66 77 85,71
3. Mempunyai IPAL 4 77 5,19
Jumlah 139 231 60,17
Sumber: Hasil olahan data
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi rumah tangga akses sir minum layak adalah rusak sedang (60,17%)
D. Rekapan Hasil Pengamatan pada Drainase Kota.
Tabel 4. 5 Hasil survei drainase lokasi Kelurahan Kota Uneng.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah Saluran
Presentase (%) 1 Kondisi fisik bangunan
masih baik.
6 9 66,67
Jumlah 6 9 66,67
Sumber: Hasil olahan data
Tabel 4. 6 Hasil survei drainase lokasi Kelurahan Kabor.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah Saluran
Presentase (%) 1 Kondisi fisik bangunan
masih baik.
1 7 14,29
Jumlah 1 7 14,29
Sumber: Hasil olahan data
Tabel 4. 7 Hasil survei drainase lokasi Kelurahan Beru
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah Saluran
Presentase (%) 1 Kondisi fisik bangunan
masih baik.
2 15 13,33
Jumlah 2 15 13,33
Sumber: Hasil olahan data
Persentase kondisi drainase = 66,67+14,29+13,33 = 31,43%,
2
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi drainase skala kota adalah rusak berat (31,43%).
E. Rekapan Hasil Pengamatan pada Jalan Raya.
Tabel 4. 8 Hasil survei jalan raya ruas Jalan Moan Toda.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah Segmen Ruas Jalan
Presentase (%) 1 Kondisi permukaan
jalan tidak ada lubang, retak, alur
2 4 50
Jumlah 2 4 50
Sumber: Hasil olahan data
Tabel 4. 9 Hasil survei jalan raya ruas Koting-Gehak.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah Segmen Ruas Jalan
Presentase (%) 1 Kondisi permukaan
jalan tidak ada lubang, retak, alur.
5 10 50
Jumlah 5 10 50
Sumber: Hasil olahan data
Tabel 4. 10 Hasil survei jalan raya ruas Lokaria-Habighar.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah Segmen Ruas Jalan
Presentase (%) 1 Kondisi permukaan
jalan tidak ada lubang, retak, alur
17 20 85
Jumlah 17 20 85
Sumber: Hasil olahan data
Persentase kondisi jalan raya = 50+50+85 = 61,67%,
3
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi jalan raya adalah rusak sedang (61,67%).
F. Rekapan Hasil Pengamatan pada Jembatan.
Tabel 4. 11 Hasil survei Jembatan Wairklau 1
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah elemen jembatan
Presentase (%) 1 Elemen jembatan
dalam kondisi baik
7 7 100
Jumlah 7 7 100
Sumber: Hasil olahan data
Tabel 4. 12 Hasil survei Jembatan Wairklau 2.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah elemen jembatan
Presentase (%) 1 Elemen jembatan
dalam kondisi baik
6 7 85,71
Jumlah 6 7 85,71
Sumber: Data hasil pengamatan.
Tabel 4. 13 Hasil survei Jembatan Tebuk.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah elemen jembatan
Presentase (%) 1 Elemen jembatan
dalam kondisi baik
5 7 71,42
Jumlah 5 7 71,42
Sumber: Data hasil pengamatan.
Tabel 4. 14 Hasil survei Jembatan Puho.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban
“Ya”
Jumlah elemen jembatan
Presentase (%) 1 Elemen jembatan
dalam kondisi baik
7 7 100
Jumlah 7 7 100
Sumber: Data hasil pengamatan.
Persentase kondisi jembatan = 100+85,71+71,42+100 = 89,28%
4
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi jembatan adalah:
rusak ringan (89,28%).
G. Rasio Panjang Jalan per Satuan Penduduk
1. Panjang ruas jalan Kabupaten adalah: 844,25 km (sumber: Bidang Jalan Jembatan Dinas PU Kabupaten Sikka, 2023), Panjang ruas jalan Propinsi adalah: 51,735 km dan panjang ruas jalan Nasional adalah: 110,79 (sumber: tatanan transportasi local Kabupaten Sikka, 2021).
Total panjang ruas jalan adalah: 1006,77 km.
2. Jumlah penduduk Kabupaten Sikka tahun 2023 adalah: 333.712 jiwa (sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sikka, 2023)
Jadi Rasio Panjang Jalan per Satuan Penduduk = 1006,77 : 333.712 = 0,00302 km/jiwa.
H. Rekapan Hasil Pengamatan pada Rumah Layak Huni.
Tabel 4. 15 Hasil survei Rumah Layak Huni.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah rumah
Presentase (%) 1. Luas lantai bangunan
hunian per jiwa >7,2 m2/jiwa
50 77 64,94
2. Kondisi atap tidak bocor
52 77 68,53
3. Dinding terluas dalam kondisi baik
41 77 53,25
4. Jenis lantai terluas bukan tanah
72 77 94,51
Jumlah 215 308 69,81
Sumber: Hasil olahan data
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi rumah layak huni adalah rusak sedang (69,81%).
I. Lampu Penerangan Jalan
Tabel 4. 16 Rekapan Lampu Penerangan Jalan
Jumlah Lampu Kondisi
Nyala Mati
1.189 452 737
Persentase kondisi nyala: 38,02%
Sumber: Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka, 2023
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi lampu penerangan jalan adalah: rusak berat (38,02%).
Tingkat pencahayaan lampu penerangan jalan:
Nusra
0 Lux 1 lampu kanan 0 Lux 1 lampu kiri
Perempatan Litbang: 20 lux Litbang: 4 lux
Eltari atas: 8 Lux lampu putih cuma sebelah Eltari atas, lampu kuning: 6 lux
Eltari bawah kantor bupati: Ukur dari atas 10 lux atas Perbandingan ukur dari bawah 6 lux.
J. Rekapan Hasil Pengamatan pada Lampu Lalu Lintas Tabel 4. 17 Rekapan Lampu Penerangan Jalan
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah tiang lampu
lali lintas
Presentase (%) 1 Lampu Merah, kuning
dan hijau menyala
11 30 36,67
Jumlah 11 30 36,67
Sumber: Hasil olahan data
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi lampu penerangan jalan adalah: rusak berat (36,67%).
K. Rekapan Hasil Survei Terminal:
Tabel 4. 18 Tabel Hasil survei Terminal Lokaria.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah fasilitas utama terminal
Presentase (%)
1 Adanya fasilitas utama pada terminal
5 9 55,56
Jumlah 5 9 55,56
Sumber: Hasil olahan data
Tabel 4. 19 Hasil survei Terminal Madawat.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah fasilitas utama terminal
Presentase (%)
1 Adanya fasilitas utama pada terminal
5 9 55,56
Jumlah 5 9 55,56
Sumber: Hasil olahan data
Persentase kondisi Terminal = 55,56+55,56 = 55,56%
2
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi terminal adalah:
rusak sedang (55,56%).
L. Rekapan Hasil Survei Pelabuhan:
Tabel 4. 20 Hasil survei Pelabuhan Lorens Say.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah fasilitas
utama pelabuhan
Presentase (%)
1 Adanya fasilitas utama pada Pelabuhan
9 12 75
Jumlah 9 12 75
Sumber: Hasil olahan data
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi pelabuhan adalah:
rusak sedang (75%).
M. Rekapan Hasil Survei pada Bandara Frans Seda
Tabel 4. 21 Hasil survei Bandara Frans Seda.
No Pengamatan Jumlah
Jawaban “Ya”
Jumlah fasilitas
utama bandara
Presentase (%)
1 Adanya fasilitas utama pada bandara
12 13 92,31
Jumlah 12 13 92,31
Sumber: Hasil olahan data
Berdasarkan Permen PU No.12/PRT/M/2015, kondisi bandara adalah:
baik (92,31%).
BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian indeks kualitas infrastruktur dasar dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kondisi saluran irigasi adalah rusak sedang (52,83%).
2. Kondisi rumah tangga dengan akses air minum layak adalah rusak berat (21,56%).
3. Kondisi rumah tangga dengan akses air limbah/sanitasi layak adalah rusak sedang (60,17%).
4. Kondisi drainase kota adalah rusak berat (31,43%).
5. Kondisi jalan raya adalah rusak sedang (61,67%).
6. Kondisi jembatan adalah rusak ringan (89,28%).
7. Rasio panjang jalan per satuan penduduk adalah 0,00302.
8. Kondisi rumah layak huni adalah rusak sedang (69,81%).
9. Kondisi lampu penerangan adalah rusak berat (38,02%).
10. Kondisi lampu lalu lintas adalah rusak berat (36,67%).
11. Kondisi terminal adalah rusak sedang (55,56%).
12. Kondisi pelabuhan adalah rusak sedang (75%).
13. Kondisi bandara adalah baik (92,31%).
Rata-rata kondisi indeks kualitas infrastruktur dasar Kabupaten Sikka tahun 2023 adalah kondisi rusak sedang (56,40%).
5.2 Saran
1. Diperlukan komitmen dan Kerjasama perangkat pemerintah dalam meningkatkan nilai dari masing-masing indeks indicator infrastruktur.
2. Diperlukan program-program yang menunjang diantara seluruh perangkat untuk memperoleh hasil yang maksimal dari masing-masing indeks indicator infrastruktur dasar.
3. Diperlukan pengukuran secara berkala dan berkelanjutan pada setiap indikator indeks infrastruktur dasar dengan cara tetap memperhatikan jumlah sampel, lokasi sampel dan alokasi waktu serta memperbaiki dan mencari solusi agar nilai indeks kualitas infrastruktur dasar dapat meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al Mismary, M. D., & Wahyono, H. (2020). Pengaruh Perkembangan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Banda Aceh. Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota.
2. Arikunto, Suharsimi. 2016. Manajemen Penelitian. Rineka Citra, Jakarta.
3. Berita Daerah Kabupaten Sikka, 2022 4. Kabupaten Sikka Dalam Angka Tahun 2022
5. Kodoatie, Robert J., 2003, Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
6. Marshando, P. dan Sumargo., 2020., Penilaian Kondisi, Solusi Penanganan, dan Prediksi Umur Sisa Jembatan Way Kendawai I Bandar Lampung Menggunakan Bridge Management System (BMS), Jurnal Teknik Sipil, Vol. 6 No. 1.
7. Metadata Target Indikator Sanitasi, 2019
8. Nurdiana, N., 2016, Evaluasi Iluminasi Lampu Penerangan Jalan Soekarno- Hatta Palembang, Universitas PGRI Palembang.
9. Oktiawan, Y., Daoed, D., Nurhamidah, 2023, Analisa Indeks Kinerja Jaringan Irigasi Studi Kasus Daerah Irigasi di Kabupaten Solok, Jurnal of Civil Engineering and Vocational Education, Universitas Andalas.
10. Permana, R, P., 2017., Kualitas Sarana dan Prasarana Terminal Dalam Rangka Meningkatkan Layanan Transportasi Publik, Skripsi, Universitas Brawijaya Malang.
11. Pranessy, Lise., Ridwan Nurazi., dan Merri Anitasari., 2012., Pengaruh Pembangunan Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu, Jurnal Ekonomi dan Perencanaan Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu, Vol. 04, No. 03. h. 51-62.
12. Rustan, F, R., Aprianti, E., Abdullah, A, T., Puspaningtyas, R., 2020., Kinerja Saluran Drainase Terhadap Genangan Air Pada Bahu Jalan D. I.
Panjaitan Menuju Bundaran Pesawat Lepo-Lepo, Universitas Sembilanbelas November, Kolaka.