• Tidak ada hasil yang ditemukan

sustainable development ruang terbuka hijau di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "sustainable development ruang terbuka hijau di"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Bagaimana pengelolaan ruang terbuka hijau yang dilakukan pemerintah daerah sesuai dengan Strategi Pembangunan Berkelanjutan Perkotaan di Kabupaten Takalar? Bagaimana ruang terbuka hijau yang dikelola swasta sesuai dengan Strategi Pembangunan Berkelanjutan Perkotaan di Kabupaten Takalar? Bagaimana pengelolaan ruang terbuka hijau masyarakat sejalan dengan Strategi Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Perkotaan di Kabupaten Takalar?

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Manfaat Praktis: Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan pemerintah dalam melaksanakan pengelolaan ruang terbuka hijau sesuai dengan strategi pembangunan berkelanjutan.

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Ruang Terbuka Hijau

Ruang terbuka hijau (kawasan) adalah ruang-ruang di kota atau kawasan yang lebih luas, baik yang berbentuk zona/kawasan maupun berupa kawasan/jalur yang diperluas dengan pemanfaatan yang lebih terbuka dan pada hakikatnya bebas dari bangunan. Pada ruang terbuka hijau (Open Green Space/OGS), pemanfaatannya lebih banyak berupa penghijauan alami atau vegetasi atau budidaya tanaman (Kustiwan, 2009). Ruang terbuka hijau dikelompokkan menjadi dua, yaitu ruang terbuka alami yang terdiri dari habitat alam alami, kawasan hutan lindung, dan taman nasional yang sengaja dilestarikan oleh pemerintah agar tidak mengalami kerusakan.

Sedangkan ruang terbuka hijau tidak alami adalah ruang terbuka yang dibangun seperti taman, lapangan olah raga, pemakaman, dan jalur hijau lainnya yang sengaja dibangun oleh pemerintah. Ruang terbuka hijau dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen pembangunan berkelanjutan dan termasuk dalam pilar lingkungan hidup, dimana betapapun pesatnya pembangunan yang terjadi di perkotaan, tetap perlu memperhatikan aspek lingkungan sekitar (Lussetyowati, 2011). ). Sesuai dengan UU Penataan Ruang no. 26 Tahun 2007, Pasal 29 menyebutkan kawasan terbuka hijau dibagi menjadi kawasan terbuka hijau publik dan kawasan terbuka hijau swasta.

Ruang Terbuka Hijau Publik adalah ruang terbuka hijau yang dipergunakan untuk kepentingan masyarakat umum dan dimiliki serta dikelola oleh pemerintah. Ruang terbuka hijau publik meliputi taman kota, pemakaman umum, dan jalur hijau di sepanjang jalan, sungai, dan pantai. Sedangkan ruang terbuka hijau privat adalah taman atau halaman rumah/bangunan milik masyarakat/swasta yang ditanami tanaman.

1 Tahun 2007 tentang Peraturan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, ruang terbuka adalah ruang-ruang yang berada di dalam kota atau kawasan yang lebih luas, baik berupa zona/kawasan maupun berupa kawasan garis panjang yang dalam pemanfaatannya lebih terbuka dan pada hakikatnya tanpa adanya ruang terbuka hijau. bangunan. Ruang terbuka hijau meliputi: taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan perumahan, hutan kota, hutan lindung, pemakaman umum, lapangan olah raga dan jalur hijau (Saputra, 2013). Ruang terbuka hijau tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem kota demi kelangsungan fungsi ekologis dan berfungsinya kota secara sehat dan wajar, namun juga dapat berfungsi sebagai pengisi ruang dalam kota.

Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau oleh pemerintah sejalan dengan Strategi Pembangunan Berkelanjutan, kata para ahli. Pengelolaan ruang terbuka hijau oleh sektor swasta sejalan dengan strategi pembangunan berkelanjutan, kata para ahli. Pengelolaan ruang terbuka hijau oleh masyarakat sejalan dengan strategi pembangunan berkelanjutan, kata para ahli.

Ruang Terbuka Hijau Dalam Regulasi

Pembentukan ruang terbuka hijau perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 mencerminkan karakter alam atau budaya setempat. Kawasan yang mempunyai ruang terbuka hijau perkotaan sebagaimana dimaksud pada subbab 1 mencakup ruang terbuka hijau perkotaan pribadi. Misalnya, dana swadaya (dana yang diperoleh langsung dari masyarakat setempat untuk membiayai sebagian anggaran proyek) dan partisipasi dalam menjaga dan menjaga kebersihan ruang terbuka hijau guna mempercantik kawasan perkotaan.

Tujuan penggunaan penelitian deskriptif kualitatif adalah untuk memberikan gambaran mengenai pengelolaan ruang terbuka hijau dalam pembangunan berkelanjutan di kawasan perkotaan Kabupaten Takalar. Penelitian ini bertipe fenomenologis yaitu penjelasan dan gambaran pengalaman informan mengenai pengelolaan ruang terbuka hijau di Kabupaten Takalar. Demikian observasi yang dilakukan peneliti langsung di lapangan untuk memperoleh data mengenai pengelolaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan Kabupaten Takalar.

Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh informasi penelitian mengenai pengelolaan ruang terbuka hijau di perkotaan. Luas ruang terbuka hijau setiap taman di wilayah kota kabupaten Takalar adalah sebagai berikut. “Sebagai anggota masyarakat, saya kurang berpartisipasi dalam pengelolaan ruang terbuka hijau karena kurangnya sosialisasi” (Wawancara FW 08 April 2019).

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat kurang berpartisipasi dalam pengelolaan ruang terbuka hijau karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah. Pemerintah daerah hendaknya melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang konservasi, pemeliharaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) dalam program ruang terbuka hijau (RTH). Peran pemerintah daerah dalam pengembangan ruang terbuka hijau untuk pembangunan berkelanjutan di Kota Kediri (studi pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kediri).

Implementasi Undang-Undang Nomor 26 Republik Indonesia Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Dalam Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (Penelitian Penataan Ruang Dalam Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Kota Pasuruan).

Kerangka Fikir

Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini dimulai dari latar belakang masalah, selanjutnya dirumuskan dalam rumusan masalah dan dikaji secara teoritis dalam tinjauan pustaka. Ruang terbuka hijau di kota merupakan bagian penting yang mempengaruhi kehidupan manusia, sehingga perancangan ruang terbuka hijau merupakan pembangunan berkelanjutan. Pertumbuhan perkotaan yang pesat tanpa disertai konsep pembangunan berkelanjutan yang baik justru menyisakan banyak permasalahan yang juga merugikan ekologi perkotaan.

Kawasan perkotaan yang berkelanjutan ditandai dengan adanya interaksi yang seimbang dan hubungan timbal balik antara manusia dan alam yang hidup berdampingan di dalamnya. Pentingnya ruang terbuka hijau ditinjau dari segi sosial, ekonomi dan lingkungan, serta dari segi sosial, lahan terbuka berfungsi sebagai sumber peningkatan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Secara ekonomi, lahan terbuka hijau dapat membawa manfaat bagi perekonomian masyarakat sekitar, baik dari segi sarana usaha maupun nilai jual tanaman.

Dengan memperhatikan ketiga pilar tersebut maka fungsi ekologi, fungsi sosial/budaya, fungsi arsitektural, dan fungsi ekonomi dapat berperan dan menciptakan pembangunan berkelanjutan.

Deskriptif Fokus Penelitian

Konservasi keanekaragaman hayati menjamin sumber daya alam selalu dan terus menerus tersedia untuk masa kini dan masa depan. Dengan menggunakan pendekatan integratif, kita dapat mewujudkan hubungan kompleks antara manusia dan lingkungan untuk masa kini dan masa depan. Merencanakan pengelolaan dan penggunaan sumber daya yang mendukung pembangunan agar dapat terus digunakan dan dimanfaatkan.

METODE PENELITIAN

Jenis dan Tipe Penelitian

Sumber Data

Informan Penelitian

“Menurut saya, pemerintah saat ini kurang baik dalam mengelola ruang terbuka hijau karena pemerintah masih kurang memberikan perhatian khususnya dalam menjaga kelestarian ruang terbuka hijau” (Wawancara FW 08 April 2019). Dari hasil wawancara di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengelolaan ruang terbuka hijau untuk pembangunan yang menjamin kesetaraan dan keadilan sosial yang dilakukan oleh pihak swasta sudah baik dengan membangun taman TK BRI dan taman sudut digital untuk memberikan kontribusi terhadap keindahan kota dan dapat dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. “Menurut saya, pengelolaan ruang terbuka hijau yang dilakukan pihak swasta dengan memperhatikan keberagaman sudah baik karena ikut berpartisipasi dengan membuat taman-taman di perkotaan untuk mempercantik kota” (Wawancara FW 08 April 2019).

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan ruang terbuka hijau yang dilakukan pihak swasta sudah baik, yaitu dengan membangun ruang terbuka hijau swasta dan ikut serta dalam segala kegiatan pemerintahan serta membangun taman di perkotaan. untuk mempercantik kota. Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan ruang terbuka hijau yang dilakukan oleh pihak swasta meliputi pembangunan taman di perkotaan dan pelestarian keanekaragaman hayati untuk menambah keindahan kota. Pengelolaan ruang terbuka hijau oleh masyarakat yang sejalan dengan strategi pembangunan berkelanjutan adalah membangun ruang terbuka hijau swasta dengan cara menjaga dan merawatnya agar berkelanjutan.

Pengembangan ruang terbuka hijau dalam upaya mewujudkan kota berkelanjutan (kajian masterplan pembangunan RTH 2012-2032.

Tabel  4.1  Luas  Ruang  Terbuka  Hijau  Tiap  Taman  di  Wilayah  Perkotaan Kabupaten Takalar Tahun 2018
Tabel 4.1 Luas Ruang Terbuka Hijau Tiap Taman di Wilayah Perkotaan Kabupaten Takalar Tahun 2018

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan langkah selanjutnya dalam pengelolaan data dimana data diperoleh, diolah dan digunakan sedemikian rupa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam mengumpulkan hasil penelitian. Jumlah data yang diperoleh di lapangan cukup besar sehingga harus dicatat secara detail dan menyeluruh. Mereduksi data berarti merangkum/memilih hal-hal yang pokok, memusatkan perhatian pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola serta membuang yang tidak diperlukan.

Kesimpulan awal masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti pendukung yang kuat pada tahap pengumpulan data selanjutnya. Namun apabila kesimpulan data yang disajikan pada tahap awal didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten pada saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang disajikan merupakan kesimpulan yang kredibel.

Keabsahan Data

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan ruang terbuka hijau dilakukan oleh pihak swasta dengan membangun taman kota untuk melestarikan tanaman dan mempercantik kota sehingga masyarakat dapat berintegrasi dengan alam melalui ruang hijau dan dapat berpartisipasi jika ada. adalah kegiatan penghijauan. Implementasi peraturan daerah Kota Denpasar no.27 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar Dalam Hal Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kota Denpasar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tata Kelola Ruang Terbuka Hijau oleh Pemerintah Daerah

Tata Kelola Ruang Terbuka Hijau oleh Swasta Sesuai

Tata Kelola Ruang Terbuka Hijau oleh Masyarakat Sesuai

PENUTUP

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dapat disimpulkan diatas maka peneliti memberikan saran yang selanjutnya dapat menjadi masukan kepada pengurus wilayah departemen pekerjaan umum, perencanaan fisik, perumahan dan kawasan pengembangan di Kabupaten Takalar khususnya di bidang tata ruang dalam upaya untuk mengoptimalkan pelaksanaan Program Ruang Terbuka Hijau (RTH ) yaitu sebagai berikut. Dalam hal perencanaan, Pemerintah Kabupaten Takalar atau seluruh departemen dan lembaga yang terkait dengan ruang terbuka hijau tidak hanya mengacu pada peraturan resmi atau lembaga sehingga saling menunggu untuk melaksanakan persyaratan tersebut, tetapi juga dapat memahami tugas dan fungsinya sehingga dapat memenuhi kebutuhan tersebut. dapat menerapkannya secara teknis di lapangan. Memaksimalkan sosialisasi kepada masyarakat agar seluruh masyarakat di seluruh Kabupaten Takalar dapat mengetahui dan ikut serta dalam pengelolaan dan kepedulian untuk mengembangkan ruang terbuka hijau bagi wilayah Kabupaten Takalar itu sendiri.

Gambar

Tabel 4.1 Luas ruang terbuka hijau tiap taman di wilayah perkotaan
Tabel  4.1  Luas  Ruang  Terbuka  Hijau  Tiap  Taman  di  Wilayah  Perkotaan Kabupaten Takalar Tahun 2018

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa luasan total Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Jambi adalah sebesar 14,922 Ha yang meliputi taman kota, hutan kota dan

Ruang Terbuka Hijau RTH di wilayah perkotaan merupakan bagian dari penataan ruang kawasan perkotaan yang memilki manfaat kehidupan yang sangat tinggi, tidak saja dapat menjaga dan