• Tidak ada hasil yang ditemukan

sustainable konflik politik pra dan pasca - etheses UIN Mataram

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "sustainable konflik politik pra dan pasca - etheses UIN Mataram"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

1

SUSTAINABLE KONFLIK POLITIK PRA DAN PASCA PEMILIHAN KEPALA DESA DAN IMPLIKASI MANUAL DI

DESA RORA KECEMATAN DONGGO KABUPATEN BIMA SKRIPSI

OLEH:

FIFI ARIANI NIM. 160.105.022

JURUSANPENDIDIKAN IPS EKONOMI FAKULTASTARBIYAHDANKEGURUAN(FTK) UNIVERSITASISLAMNEGERI(UIN) MATARAM 2021

(2)

2

SUSTAINABLE KONFLIK POLITIK PRA DAN PASCA PEMILIHAN KEPALA DESA DAN IMPLIKASI MANUAL DI

DESA RORA KECEMATAN DONGGO KABUPATEN BIMA

Skripsi

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Fifi Ariani NIM. 160.105.022

JURUSAN PENDIDIKAN IPS EKONOMI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2021

(3)

3

(4)

4

(5)

5 PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Fifi Ariani

NIM : 160105022

Jurusan : IPS-Ekonomi

Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Sustainable Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Kepala Desa Dan Implikasi Manual Di Desa Rora Kecematan Donggo Kabupaten Bima” ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya, jika saya terbukti melakukan plagiat tulisan/karya orang lain, siap menerima sanksi yang telah ditentukan lembaga.

Mataram, 25 Desember 2021 Saya yang menyatakan

Fifi Ariani

(6)

6

(7)

7 MOTTO

ِاَو ْْۚمُكَل ُ ّٰاللّ ِحَسْفَي اْىُحَسْفاَف ِسِل ٰجَمْلا ىِف اْىُحَّسَفَت ْمُكَل َلْيِق اَذِا آْٰىُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي ُ ّٰاللّ ِعَفْزَي اْوُزُشْناَف اْوُزُشْنا َلْيِق اَذ

ُّٰاللَّو ٍۗ ت ٰجَرَد َمْلِعْلا اىُتْوُا َنْيِذَّلاَو ْْۙمُكْنِم اْىُنَمٰا َنْيِذَّلا زْيِيَب َ ْىُلَمْعَت اَمِم

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang- orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

Rasulullah bersabda: Barangsiapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. HR. Musilm.

(8)

8

PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan buat orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku...

1. Puji syukur saya panjatkan atas kemurahan ALLAH SWT yang telah memberi kemudahan dalam setiap perjuangan untuk menyelesaikan skripsi ini

2. Terimakasih, kupersembahkan untuk kedua orang tuatercinta Bapak Ahmad dan Ibu Nurbaya yang tiada pernah hentinya selama ini memberiku semangat, doa, dorongan nasehat, menjaga, mendidikku dan kasih sayang serta pengorbanan yang tak tergantikan oleh apapun. Bapak Ibu terimalah bukti kecil ini sebagai kado keseriusanku untuk membalas semua pengorbananmu.

3. Untuk keluarga besar di rumah yang selalu memberikan support Adek-adeku tersayang (Adi, Dion), bibi serta paman dan Ua, serta kelurga besar yang tersayang

4. Just for my people‟s yang special yang sudah membantuku dalam skripsi ini mulai awal sampai akhir skripsi Putra M. Ridwan yang selalu mengantar maupun menemani tiada kata lelah selama bimbingan skripsi,

5. Almamaterku Tercinta

(9)

9

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, puji syukur kehadirat allah SWT, yang telah mencurahkan segala bentuk ksih sayangnya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan manusia arti tentang kebijakan.

Dengan terselesainya skripsi ini, peneliti menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu membimbing dalam menyelesaikan skripsi ini. Peneliti tunjukan kepada yang terhormat:

1. Dr. Baharuddin, M.Ag., selaku pembimbing pertama dan Bapak Dr.

Muhammad Liwa Irruba”I, M.Pd selaku pembimbing kedua yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan arahan serta bimbingan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Ahmad Khalakul Khairil, M. Ag, Selaku Ketua Jurusan dan Bapak Muh. Zainur Rahman, M.Pd Selaku Sekertaris Jurusan

3. Dr. H Mutawali, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram

4. Bapak Dr. Jumarim Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

5. Kepada Bapak/Ibu dosen, dilingkungan jurusan Pendidikan Tadris IPS yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu. Terimakasih telah begitu banyak menyalurkan ilmunya kepada peneliti selama di UIN Mataram

Peneliti menyadari begitu banyak kekurangan dalam penelitian ini, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat peneliti harapkan bagi kemajuan dimasa mendatang.

Akhirnya, semoga skripsi ini bisa menambah keilmuan bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.

Mataram, 25 Desember 2021

Peneliti

(10)

10

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK ... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 6

1. Tujuan Penelitian ... 6

2. Manfaat Penelitian ... 7

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 7

1. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

2. Keterbatasan Penelitian ... 7

E. Telaah Pustaka ... 8

F. Kerangka Teori ... 11

a. Konflik ... 11

b. Sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan ... 14

c. Imlikasi sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan ... 17

G. Metode Penelitian ... 18

1. Pendekatan Penelitian ... 18

2. Kehadiran peneliti ... 18

3. Lokasi Penelitian ... 19

4. Sumber Data ... 21

5. Prosedur Pengumpulan Data ... 23

6. Teknik Analisis Data ... 26

7. Pengecekan Keabsaahan Data ... 27

(11)

11

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 29

a. Gambaran Umum Kabupaten Bima ... 29

b. Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Calon Kepala Desa Pilkades Serentak Tahun 2016 Di Kabupaten Bima ... 32

c. Sustainable Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Kepala Kabupaten Bima ... 43

d. Implikasi Sustainable Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Kepala Desa Di Desa Rora ... 52

BAB III PEMBAHASAN ... 58

A. Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Rivalitas Calon Kepala Desa Pilkades Serentak Tahun 2016 Di Kabupaten Bima ... 58

B. Sustainable Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Kepala Desa di Kabupaten Bima ... 66

C. Implikasi Sustainable Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Kepala Desa Di Desa Rora ... 74

BAB V PENUTUP ... 76

A.Kesimpulan ... 77

B.Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

(12)

12

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Dokumentasi Penelitian

Lampiran 2 Surat Rekomendasi Penelitaian dari BANKESPOLDAGRI NTB Lampiran 3 Surat Izin Penelitian Dari Desa Rora Kec. Donggo Kab. Bima Lampiran 4 Surat Rekomonedasi penelitian dari FTK UIN Mataram Lampiran 5 Kartu Konsultasi

(13)

13 ABSTRAK

SUSTAINABLE KONFLIK POLITIK PRA DAN PASCA PEMILIHAN KEPALA DESA DAN IMPLIKASI MANUAL DI DESA RORA

KECEMATAN DONGGO KABUPATEN BIMA OLEH:

FIFI ARIANI NIM. 160.105.022

Penelitian ini bertujuan untuk menggali data lapangan, data berupa informasih tentang jalanya pesta pemilihan Kepala Desa Rora Kecematan Donggo yang terjadi pada tahun 2016, sehingga penulis menyimpulkan tujuan dari penelitian yaitu sebagai berikut: Agar bisa melihat konflik politik pra dan setalah pesta demokrasi pilkades serentak di Kabupaten Bima, ntuk mengetahui sustainable konflik politik pra dan setalah pesta demokrasi pilkades serentak di Kabupaten Bima, Bagaimana implikasi sustainable konflik politik pra dan setalah pesta demokrasi pilkades serentak di Kabupaten Bima. Penelitian ini mengunakana pendekatan penelitian adalah semua yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Pendekatan mengunakan deskriptif ah pendekatan yang menunakan hasil penelitianya berupa bukan angka angka melaikan data- data yang berupa data hasil pengamatan dan analisis. Dengan mengunakan metode pengupulan data secara obesrvasi, wawancara dan dokumentasi. Tehnik analisis data dalam penalitian inin adalah Reduksi Data, Penyajian Data (display data) dan Penarikan Kesimpulan (verification). Hasil Penelitiani adalah pada penelnilirtian ini untuk membedah peneliti majukan adalah Konflik, sustainable, dan Implikasi pesta demokrasi, pra dan setalah pemilihan calon kepala desa di Kabupaten Bima,yangmana I rora secara bersamaan tahun 2016 hasil wawancara dengan petinggi Desa Rora, dalampenelitian ini benar telah terjadi konflik dalam proses kampanye pada saat pelihan kepala desa di desa Rora. Hal ini di indikasiakikan pada penelitian ini di temukan adanya pemaksaan, intimidasi oleh salah satu calon, kekeran fisik terhadap pendukung, ditemukanya permainan pembayaran pake uang, fantisme cukup tinggi oleh pendukung calon masing masing para pendukung masing masing calon kades, hal ini tidak sesuai dengan semangat yang dib gun tentang pelihan kepala desa sebagai ajang unutk mencari pemimpiin yang juur adil dan tanggung jawab, dimana kepala desa tujuangan adalah membangun desanya.

Kata Kunci: Konflik Politik Pemilihan Kepala Desa Dan Implikasi

(14)

14 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demokarasi merupakan bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu Negara sabagai upaya mewujut kan keadaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas Negara untuk dijadikan oleh pemerintahan Negara tersebut.

Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama dalam hubungan sosial. Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat 2 (dua) asas pokok demokrasi, yaitu: 1) pegakuan partisipasi rakya dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakil-wakil rakyat untuk lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jurdil : dan 2) pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya tindakan pemerintah untuk melindungi hak-hak asasi manusia demi kepentingan bersama1

Dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 2017 Tentang penyelenggara pemilihan umum bahwa pemilihan umum, selanjutnya disingkat pemilu adalah sasaran pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara lngsung,umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara kesatuan republik Indonesia berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar negara repblik Indonesia tahun 1945 (pasal 1 ayat 1) selain dari pada itu

1Lukman Hakim, „‟Sikap social Masyarakat Pasca Pemilihan Kepala Desa dena Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima Tahun, (Skripsi, Fak Ilmu Pengetauan Sosial, STKIP Bima, 2014),hlm.1.

(15)

15

penyelengaraan pemilu berpedoman pada asas : 1) Mandiri, 2) Jujur 3) Adil, 4) Kepastian, 5) Tertib, 6) Kepentingan umum, 7)Keterbukaan, 8) Proporsionalitas, 9) Profesionalitas, 10) Akutabilitas, 11) Efesiensi dan 12) Efektifutas .

Pemilihan umum di Indonesia menganut asas „‟Luber‟‟ yang merupakan singkatan dari „‟Langsung umum, Bebas dan Rahasia‟‟ Asal „‟luber‟‟ sudah ada sejak jaman Orde baru. Langsung berarti pemilihan diharuskan memberikan suaranya secara lansung dan tidak boleh diwakilkan. Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga Negara yang sudah memiliki hak menggunakan suara. Bebas berarti pemilihan diharuskan memberikan suara yang di berikan oeleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri.

Kemudian di erat reformasi berkembang pula asas „‟jurdil‟‟ yang merupakan singkatan dari „‟ jujur dan adil‟‟. Asas jujur mengadung arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga Negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyatv yang akan terpilih. Asas adil adalah perlakuan yang sama terhadap peserta pemiluk dan pemilih, tampah ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap peserta atau pemilihan tertentu. Asas jujut dan adil mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun peserta pemilu, tetapi juga penyelenggaraan pemilu

Dalam undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang pemerintahan daerah disebutkan bahwa desa adalah kesatuan masyarakat hokum yang memiliki batasan-batasan wilaya yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat

(16)

16

yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara kesatuan republik Indonesia. Selanjutnya pemerintahan daerah mengakui adanya otonomi yang dimiliki oleh desa dan kepala desa dapat diberikan penugasan ataupun pendelegasian dari pemerintah ataupun pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah tertentu. Dengan demikian urusan pemerintah yang menjadi kewenangan desa mencakup urusan pemerintah yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa, diserahkan pengaturannya kepada desa, tugas pembantuan dari pemerintahan dan pemerintah dan pemerintah daerah,urusan pemerintah lainnya yang oleh peraturan peraturan perudang-undang yang diserahkan kepada desa.

Berdasarkan hal tersebut, maka dalam pemilihan pemimpin desa sangat berbeda dengan pemilihan lurah. Pemilihan kepala desa, atau seringkali disingkat pilkades, adalah suatu pemilihan kapala desa secara langsung oleh warga desasetempat. Berbeda dengan lurah yang merupakan pegawai negeri sipilyang dipilih langsung oleh walikota .

Berdasarkan praturan pemerintah republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa bahwa kepala desa dipilih langsung oleh penduduk desa dari calon yang memenuhi syarat. Selanjutnya pemilihan kepala desa bersifat lansung,umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Akhir-akhir ini ada kecenderungan pilkades dilakukan secarah serentak dalam satu kabupaten, yang difasilitaskan oleh pemerintah daerah. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan pelaksanaannya lebuh efektif, efisien, dan lebih terkoordinasi dari sisi keamanan. Mengingat banyak sekali kasus-kasus yang terjadisetelah diadakanya pilkades yang dimana di satu sisi, masa pendukung

(17)

17

yang kalahtidak mau menerima kekalahannya, dan disatu sisi banyak menimbulkan kerugian Negara yang sangat besar.

Kehidupan masyarakat pendesaan tidak terlepas dari hidup bergontong- royong, sistem kehidupan berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan.

Masyarakat desa melakukan kerja sama secara bergotong-royong, karena masyarakat desa sadar bahwa di dalam kehidupannyan pada hakikatnya tidak terlepas daring saling ketergatungan antar sesamanya, sehingga masyarakat desa selalu berusaha untuk memelihara hubungan yang baik dengan sesamanya. Sikap gotong-royong memiliki nilai-nilai luhur yang positif karena memeratakan kepentingan bersama juga kepentingan individu itu sendiri, sikap gotong-royong merupakan suatu sikap positif dalam pembangunan.2

Berdasarkan uraian diatas sitausi pasca pemilihan kepala desa di Desa Rora banyak terjadi konflik horizontal antara masyarakat atau antar pendukung kepala desa sehingga dalam peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Sustainablekonflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Kepala Desa Dan Implikasi Manual Di Desa Rora Kecematan Donggo Kabupaten Bima”

2Lukman Hakim, „‟Sikap social Masyarakat Pasca Pemilihan Kepala Desa dena Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima Tahun, (Skripsi, Fak Ilmu Pengetauan Sosial, STKIP Bima, 2014),hlm.1.

(18)

18 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan diatas maka rumusan masalah penelitian yang penulis dapat rumuskan sebagai berikut :

a. Bagaimanakah konflik politik pra dan pasca pemilihan calon Kepala Desa serentak tahun 2016 di Kabupaten Bima?

b. Bagaimanakah sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan Kepala Desa Rora di Kecematan Donggo Kabupaten Bima?

c. Bagaimana implikasi sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan Kepala Desa Rora di kecematan donggo Kabupaten bima?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian

Penelitian lapangan ini untuk memperoleh data informasih mengenai jalannya penyelenggaraan pemilihan Kepala Desa Rora Kecematan Donggo banyak terjadi konflik politik. Penelitian lapangan:

ini dimaksudkan untuk mendapatkan fakta di lapangan terkait dengan a. Untuk mengetahui konflik politik pra dan pasca pemilihan

Kepala Desa pilkades serentak di Kabupaten Bima

b. Untuk mengetahui sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan Kepala Desa di Kabupaten Bima

c. Bagaimana implikasi sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan Kepala Desa di Kabupaten bima?

(19)

19 2. Manfaat penelitian

a. untuk memperluas dan memper dalam pemahaman penelitian dalam didang pemerintahan khususnya dalam pemilihan kepala desa.

b. untuk cerminan dalam melihat sistem pemilihan kepala desa dalam mewujudkan demokrasi di tingkat desa.

c. untuk memberikan pengetahuan dan wawasan bagi para akademisi khususnya dan masyarakatpada umumnya mengenai sistem pemilihan kepala desa.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Dalam penelitian ini adapun ruang lingkup dan keterbatasan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Ruang lingkup penelitian a. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah masyarakat di Desa Rora yang berumur 25 sampai dengan 55 tahundengan jumlah orang

b. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah sikap sosial masyarakat di desa rora kacamatan donggo kebupaten bima.

2. Keterbatasan penelitian

Penelitian ini terbatas pada bentuk-bentuk sikap dan sosial masyarakat pasca pilkades.

(20)

20 E. TELAAH PUSTAKA

Tinjauan pustaka berguna untuk membantu Penelitian ini dalammenentukan langkah-langkah sistematis dari teori dan rivalitas politik.

Tinjauan pustaka dijadikan referensi dalam menggunakan analisa rivalitaspolitik pada penelitian ini sehingga Penelitian ini dapat dengan tepat menggunakan rivalitas politik pada objek yang akan diteliti. Berikut adalah tinjauan pustaka yang telah Penelitian ini kumpulkan, sebagai referensidengan karasteristik judul yang sama dengan judul penelitian.

1. Asriadi, “Relasi Kepala Desa dan Msyarakat Pasca Pilkades di Desa Kecamatan Bontosiku Kabupaten Kepulauan SelayarPeriode 2008- 2013”.(Makassar: Fak. Ushuluddin dan Filsafat UIN alauddin Makassar.3

Dalam skripsinya penelitian di Desa Loiyolo bahwa Kepala Desa berpihak kepada pendukungnya.Hubungan Kepala Desa dan masyarakat dusun Padangoge, dusun Paragangan dan dusun Baringan.Baik karena melayani masyarakat, dan bergaul dengan masyarakat.Dari segi pembangunan untuk mediakan sarana dan prasarana di tiga dusun ini Kepala Desa melakukan dengan efektif dan kurang efektif.Memberikan bantuan secara merata karena merupakan pendukungnya.Sedangkan hubungan Kepala Desa dan Masyarakat di Dusun Sangkeha dan Dusun Lebo tidak baik karena kebanyakan bukan

3Asriadi, “Relasi Kepala Desa dan Msyarakat Pasca Pilkades di Desa Kecamatan Bontosiku Kabupaten Kepulauan SelayarPeriode 2008-2013.(Skripsi, Makassar: Fak. Ushuluddin dan Filsafat UIN alauddin Makassar, 2013) hlm.xi.

(21)

21

pendukung Kepala Desa sehingga kurang diperhatikan.Dari segi pembangunan Kepala Desa, kurang meyediakan sarana dan prasarana.Kepala Desa dalam member bantuan secara tidak merata.

Berdampak pada pembangunan dan bantuan kepada masyarakat di setiap Dusun akibat dari berpihaknya Kepala Desa terhadap pendukung dan bukan pendukungnya

Studi ini memberi focus perhatian pada relasi Desa danmasyarakat pasca pilkades oleh sebab itu studi ini tidak menganalisisbagaimana proses terjadinya rivalitas baik pra maupun pasca pilkade.

2. Feri Budirso, Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Serentak Di Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang Tahun 2012 Dan Dampak Yang Ditimbulkan, Skripsi (Tegal: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pancasakti Tegal),4

Hasilpenelitian dapat disimpulkan bahwa 1) Pelaksanaan Pilkadesserentak di Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang meliputisosialisasi perda, pembentukan panitia, pendaftaran calon, penjaringandan penyaringan calon, pengundian tanda gambar, pelaksanaankampanye, pemungutan suara, pengitungan suara dan penetapancalon terpilih; 2) Dampak sosial pelaksanaan pemilihan Kepala Desaserentak di Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang meliputikewenangan panitia pilkades, lembaga yang

4Feri Budirso, „‟Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Serentak di Kecematan Petaruka Kabupaten Pemalang dan Dampak yang di Timbulkan ,(Skripsi, Tegal Ilmu Social dan Ilmu Politik Univesitas Pancasakti Tegal, 2015), hlm 9.

(22)

22

berwenangmengatasi sengketa pilakdes dan faktor keamanan. Upaya yangdilakukan pemerintah Kabupaten Pemalang dalam mengatasidampak pelaksanaan pemilihan Kepala Desa serentak di KecamatanPetarukan Kabupaten Pemalang meliputi upaya penegakan aturandan upaya sosialisasi dengan meningkatkan partispasi masyarakat di tingkat Desa.

Studi ini memberi focus perhatian kepada PelaksanaanPemilihan Kepala Desa Serentak Di Kecamatan Petarukan KabupatenPemalang Tahun 2012 Dan Dampak Yang Ditimbulkan oleh sebab itustudi ini tidak menganalisis bagaimana proses terjadinya rivalitaspilkades baik pra maupun pasca pilkades.

3. Chevy Fantastic, “Konflik Politik Dalam Proses Pemilihan Kepala Desa Tahun 2007 Di Desa Tarempa Barat Kecamatan Siantan Kabupaten Kepulauan Anambas”, Skripsi,( Tanjungpinang: Fak. Ilmu Sosial dan Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji,20014)5

Dari hasil penelitian tentang konflikpolitik dalam pemilihan Kepala Desa tahun 2007 di Desa tarempaBarat Kecamatan Siantan Kabupaten Kepulauan Anambas adabeberapa bentuk konflik politik yang terjadi. Hal ini dikarenakan olehadanya pemaksaan, ancaman dan kekerasaan Fisik serta adanya moneypolitik, fanatisme yang berlebihan dari pendukung calon kades, juga adanya kepentingan politik yang begitu menggebu dari kandidat calonKepala Desa yang ingin berkuasa

5Chevy Fantastic, “Konflik Politik Dalam Proses Pemilihan Kepala Desa Tahun 2017 Di Desa Tarempa Barat Kecematan Siananta Kabupaten Kepulauan Anambas”,( Skripsi ,

Tanjungpinang : Fak Ilmu Social dan Politik Universitas Marintim Raja Ali Haji ,20014), hlm.ii

(23)

23

sehingga menghilangkan nilai-nilai substansi untuk apa sebenarnya menjadi Kepala Desa, yang manatujuan sebenarnya adalah membangun Desa. Penelitian inimenggunakan metode pengambilan data berupa: metode observasi,metode wawancara dan metode dokumentasi. Pengambilan data padaresponden masyarakat dalam konflik politik dalam proses pemilihanKepala Desa di Desa tarempa barat sebagai informen penelitian.Analisa data menggunakan analisa data kualitatif6

Studi ini memberi focus perhatian pada Konflik Politik DalamProses Pemilihan Kepala Desa oleh sebab itu studi ini tidakmenganalisis bagaimana proses terjadinya rivalitas baik pra maupunpasca pilkades.

F. KERANGKA TEORI

A. Konflik

Konflik adalah proses pertentangan yang diekspresikan di antara dua pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai objek konflik, menggunakan pola prilaku dan interaksi konflik yang menghasilkan keluaran konflik.(Wirawan, 2010:5).7

Perbedaan pendapat , perdebatan, persaingan bahkan pertentangan dan perebutan dalam upayah mendapatkan dan mempertahankan nilai-nilai tersebut konflik. Oleh karenah itu menurtut pandangan konflik, pada

6 Chevy Fantastic, “Konflik Politik Dalam Proses Pemilihan Kepala Desa Tahun 2007 Di Desa Tarempa Barat Kecamatan Siantan Kabupaten Kepulauan Anambas”,(Skripsi,

Tanjungpinang: Fak. Ilmu Sosial dan Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji,20014), hlm.ii

7 Wirawan‟‟Konflik Dan Menejemen Konflik,Salembah Humanika, ( Jakarta:2010)

(24)

24

dasarnya politik adalah konflik. Pandangan ini ada benarnya sebab konflik merupakan gejalah yang serbah hadir dalam masyarakat, termaksud dalam proses politi. Selain itu konflik merupakan gejala yang melekat dalam proses politik.

1. Sumber konflik a. Perbedaan pilihan

Konflik politik di kecematan tala raya di awali dari pemilihan kepala desa didesa talang besar dan desapangilia,dimana dua bulan sebelum dilaksanakan pemilihan kepala desa di kedua desa tersebut lebih duluh melakukan pemilihan kepala desa sehingga konflik di kecematan talaga raya berlanjut pada saat pemilihan kepala daera,hal ini di sebabkan karena antara pihak yang kalah dan pihak yang menang dalam pemilihan kepala desa berbeda dukungan. Perbedaan dukungan ini ternyata memperpanjang konflik kedua belah pihak sampai pada saat masuknya musim kampanye pilkada di kabupaten buton tengah.

Pada saat kampanye berlangsung , setiap malam masing-masing kubu saling menjaga,dan saling mencurigai satu sama lain kondisi ini telah membawah suasana desa yang tadinya bersahabat menjadi sangat mencekam.

b. Salah paham

Pemahaman yang salah adalah salah satu hal yang saling bertentangan. Secara umum,keterampilan komunikasi yang buruk

(25)

25

menyebabkan kondisi ini. Kemampuan untuk berkomunikasi baik dalam hal pengiriman dan penerimaan informas8

Beberapa informasi yang diterima oleh seseorang dapat dikacaukan jika konteks atau tujuan informasi tersebut berbeda dari informasi yang diberikan atau di kirimkan oleh orang tersebut. Dalam banyak kasus,dari hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari hingga kesalahp pahaman oleh elit politik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Kesalah pahaman dalam pilkades di kecematan talaga raya telah membawah konflik yang berkepanjangan mulai dari sebelum pilkades sampai pilkades selesai.Salah paham dalam masyarakat ini terkait dengan pengadaan sumber air bersih.Pengadaan sumber air bersih di kecematan talaga raya di mulai pada awal tahun 2017 oleh Bupati pelaksanaan yang kembali mencalonkan diri dalam pilkades bulan Februari 2017. Pengadaan air bersih ini ternyata teleh membawa kesalah pahaman dalam masyarakat,hal ini di sebabkan karena para pendukung dari incumbent mempolitisasi air tersebut dengan menyampaikan kepada para warga yang bukan pendukung bahwa air tersebut milik bupati, sehingga bagi warga yang tidak memilih bupati incumbent dilarang mengambil air.

8Maharudin, nurdinr, „‟Resolusi Konflik Pemilihan Kepala Desa‟‟, Aketik, Vol. 3, nomor 2, Desember 2019, hlm. 200.

(26)

26 c. Ada pihak yang dirugikan

Tindakan salah satu pihak dapat dianggap merugikan pihak lain atau pihak lain akan merasa dirugikan sejauh seseorang yang9

dirugikan tidak nyaman. Tindakan para pendukung calon dalam pemberian dukungan di kecematan talaga raya telah membawa kerugian yang dirasakan oleh masyrakat adalah pembagian atau pengelokasian air bersih yang sudah sekian puluh tahun di harapkan oleh masyarakat untuk kesejahteraan tapi ternyata di politisasi oleh sebagian orang sehingga yang bisa menyabut pipah untuk mendapatkan air bersih hanya kelompoknya saja.

B. Sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan

Dalam mempertahankan sumber-sumber yang di anggap penting dalam demokrasi pluralistic,Negara/pemerintah merupakan wahana tempat terjadinya interaksi kepentingan berbagai kelompok dan penetapan keputusannya. Perbedaan kepentingan inilah yang menimbulkan berbagai konflik karena setiap masyarakat mengiginkan agar tuntutan yang penting bagi dirinya terpenuhi.

1. Sumber konflik politik

Salah satu sumber konflik politik adalah adanya struktur yang terdiri dari penguasa politik dan jumlah orang yang dikuasai.Struktur ini menyebabkan bahwa konflik politik yang

9Ibid, hlm.201.

(27)

27

utama adalah antara penguasa politik dan jumlah orang yang menjadi obyek kekuasaan politik.Konflik yang hebat antara pengua politik dengan rakyatnya sendiri karena ketidak mampuan penguasa politik memahami dan membela kepentingan rakyat10.Rakyat tidaklah patut disalahkan sebagai penyebab konflik politik.Hal itu perlu diperhatikan bahwa konflik politik ditimbulkan oleh adanya keterbatasan sumber daya dan posisi. Semakin tinggih tingkah kalangkaan sumber daya dibutuhkan untuk hidup semakin besar kemungkinan terjadinya konflik politik

Konflik politik juga dapat muncul kepermukaan pada dasarnya ada dua hal yaitu karena adanya kemajemukan vertical. Maksud dari kemajemukan horizontal ialah struktur masyarakat yang menjemuk secara social dalam arti perbedaan pekerjaan atau profesi seperti petani, buruh, pedagang ,pengusaha, dan lain lain. Kemajemukan vertical adalah struktur masyarakat yang terpolarisasikan menurut pemikiran kekayaan, pengetahuan dan kekuasaan.

2. Tipe konflik

Tipe konflik dikelompokan menjadi dua tipe. Kedua tipe ini meliputi konflik positif dan konflik negatif. Yang dimaksud dengan konflik positif ialah yang tak mengancam eksistensi

10Ibid, hlm. 19.

(28)

28

positif ,yang biasa disalurkan leawat mekanisme penyelesaian konflik politik, yang biasanya disalurkan lewat mekanisme penyelesaian konflik yang disepakati bersama dalam konstitusi.

Mekanisme yang dimaksud ialah lembaga-lembaga demokrasi, seperti partai politik, badan-badan perwakilan rakyat, pengadilan ,pemerintah, pers, dan forum-forum terbuka yang lain. Konflik negatif ialah konflik yang dapat mengancam eksistensi sistem politik yang biasa disalurkan melalui cara-cara nonkosntitusional, seperti kudeta, separtisme, dan revolusi.11 3. Penyelesaian konflik politik

Consensus politik merupakan penyelesaian konflik politik seacar damai. Dengan demikian penyelesaian konflik berhasil dicapai. Maswadi Rauh menyatakan bahwa penyelesaian konflik politik dapat dilakukan dengan pemilu sebagai cara mencapai consensus politik, dan pemungutan suara. Pemilu sebagai cara mencampai konsesnsus politik, merupakan konsesnsus politik yang terjadi antara pihak-pihak yang terlibat konflik politik yang biasanya berjumlah banyak diselesaikan oleh rakyat melalui pemilu. Referendum yang merupaka pemilu untuk menyelesaikan perbedaan tentang maslah tertentu dapat di kategorikan dalam pemilu.12

11Alif Abadi , Konflik Pikades di Kabupaten Bulukumba ,Skripsi Ushuluddin Filsafat dan Politik Unifersitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Hlm.21.

12Mawasdi Rauh, (2001) Hlm 35-36

(29)

29

C. Imlikasi sustainable konflik politik pra dan pasca pemilihan

Langkah-langkah dalam menyelesaikan konflik pemilihan Kepala Desa batukaraeng kecematan pa‟jukukang kabupaten banteng namun bagian ini peneliti kembali mempertenggas bahwa yang menjadi langkah dalam menyelesaikan konflik dalam melalui pendekatan menurut Hardijanan,A.M (1994), mengemukakan tehnik-tehnik pengelolaan konflik yaitu :

1. Bersaing (competing)

Banyaknya rentetan yang terjadi packa pemilihan Kepala Desa tentunya promatur yang terpili maupun yang tidak terpilih bersaing dalam melakukan pendekatan baik pendekatan kepeda masyarakat maupun pendekataan terhadap pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah kabupaten bima.

Persaingan-persaingan yang terlahir bukan hanya berbentuk pendekatan yang di lakukan kepada pihak pemerintahan namun ketika kembali menyimak sedikit prosesi tentang masa kampanye sebelum berlangsungnya pemilihan Kepala Desa, para calon Kepala Desa aktif dalam melakukan berbagai hal untuk merebut simpati masyarakat mulai dari persaingan yang bentuk fisik maupun persaingan-persaingan berbentuk nonfisik.

Kemudian persaingan yang di lakukan pasca pemilihan adalah pesaingan dalam hal melakukan pendekatan terhadap

(30)

30

masyarakat agar bisa mempengaruhi dan merubah haluan masyarakat dari yang sepakat menjadi tidak sepakat maupun dari yang tidak sepakat menjadi sepakat

2. Kerja sama (collaborating)

Kondisi tidak amam dalam wilaya Desa Batukaraeng pasca pemilihan sangat menekan fisikologi masyarakat karena pada saat itu banyak kelompok-kelompok yang saling mengancamdan saling mengganggu antara satu dengan yang lainnya terutama antara pihak yang kalah denga pihak yang menang dalam pertarungan pemilihan kepala desa tersebut.13

Di tengah marahnya konflik para pendukung berat ketiga calon yang kalah mengambil kesempatan untuk melakukankonsolidasi dalam upayah berkerja sama untuk menumbangkan promatur yang terpilih.

Dalam konsolidasi yang dilakukan di antara ketiga calon yang kalah menghasilkan kesepakatan untuk berkerja mengarahkan massa dalam melakukan aksi unjuk rasa yang berlokasi pada kantor dewa perwakilan rakyat daerah kabupaten banteng (DPRD), dan kantor bupati banteng dengan menyatakan sikap bahwa menolak keras ketika pemerintah kabupaten bantengmelakukan pelantikan atas promatur yang terpilih dengan alasan banyaknya kecurangan-kecurangan yang

13Ahmad taufik, „‟hamrun „‟Tata Kelolah Konflik dalam Pemilihan Kepala Desa di Kabupaten Banteng „‟Politikom Indonesia , Vol ,3, nomor 1,Juli 2018 ,hlm 19-20

(31)

31

dapat masyarakat rasakan pada pemilihan kepala desa Batukaraeng. Pada saat aksi unjung rasa dilakukan tepatnya pada 26 agustus 2015 dengan masa sekitar kurang lebih 100 orang di mobilisasi oleh ketiga calon kepala desa yang di kalah.

3. Komromi (compromising)

Konflik-konflik yang terjadi tentunya memiliki sebab akibat yang timbul dikarenakan gesekan antara beberapa pihak yang ada. Oleh karenah itu pemerintah dengan pihak yang menang dalam pemilihan kepala desa berkerja sama untuk mengakomodasi masyarakat dalam bentuk mengharuskan pihak-pihak yang terlibat saling memberikan kebebasan.

4. Menghindari (avoiding)

menghidari pemicuh dalam penanganandan upayah menyelesaikan konflik adalah upayah menyelesaikan konflik dalah tokoh-tokoh masyarakat yang ada di desa batukaraeng.14

Berdasarkan beberapa pernyataan informasi penelitian dapat menganalisis perang aktif berkerja sama dengan tokoh- tokoh masyarakat setempat sehingga dalam mengarahkan calon-calon untuk tidak beraktifitas, pemerintah tidak hanya sekedar mengarahkan akan tetapi memiliki strategi sendiri

14Ibid, hlm. 22

(32)

32

untuk meredam prilaku propokasi serta menyadarkan masyarakat akan tidak adanya kecurangan yang di lakukan oleh pemerintah serta aparat-aparat yang terkait dalam proses pemilihan kepala desa batukaraeng kecematan pa‟jukukang kabupaten banteng.

G. Metodo Penelitian

1. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian adalah semua yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian.Pendekatan kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini untuk menggali secara lebih mendalam tentang konflik politik pra dan pasca pemilihan kepala Desa kecematan donggo kabupaten bima.

2. Kehadiran peneliti

Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrumen aktif dalam upaya mengumpulkan data-data dilapangan.Sedangkan instrumen pengumpulan data berupa dokumen- dokumen lainnya dapat digunakan sebagai penunjang keabsahan hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrument pendukung.Oleh karena itu, kehadiran peneliti secara langsung dilapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti sangat diperlukan.

(33)

33 3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang peneliti jadikan objek penelitian adalah Di desa Rora Kecematan Donggo. Kabupaten Bima.

4. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian terdapat dua data,yaitu:

a. Sumber data primer

Menurut sugiyono (2009:298) penelitian kualitatif tidak mengunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi social tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan pada populasi, tetapi di transferkan ditempat yang lain pada situasi social yang dimiliki kesamaan dengan situasi soaial pada kasus yang dipelajari15. Hal ini didukung juga oleh pendapat Sukmadinata (2010:285) yang menyatakan bahwa untuk penelitian kualitatif jumlah dan keterwakilan berdasarkan strata dan iuster tidak menjadi masalah,karena penelitian kualitatif tidak mengunakan sampel dan populasi. Selnjutnya sampel dalam penelitian kualitatif bukan disampel statistic tetapi sampel teoritis karena tujuan penelitian

15Sugiyono, 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung : CV, Alfabeta. hlm. 298

(34)

34

kualitatif adalah untuk menghasilkan teori16

Dalam penelitian kualitatif sumber data primer tidak disebut sebagai responden akan tetapi disebut informan. Jumlah informan tidak ditentukan , karena data dapat diperoleh sewaktu-waktu sesuai dengan fakta saat dilapangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Nana Syaodih Sukmadinata (2010: 208-103).Sempel penelitian kualitatif dapat bekisar dari 1 (satu) sampai 40 (empat puluh) orang bahkanlebih. Penentuan besarnya sampel didasarkan atas tujuan penelitian , fokus dari penelitian,cara pengupulan data,kelayakan informan keharusan informan ,kelengkapan informan.

Selanjutnya menurut pendapat Nasution (dalam Sugiyono 2009 :302) bahwa penentuan unit sampel diangap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf „‟redundancy‟‟ (datanya telah jenuh, ditambah sampelnya tidak memberikan informasi yang baru), artinya bahwa dengan mengunakan sumber data selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berate.

Selanjutnya untuk pengambilan informasi digunakan tehnik sampling dengan mengunakan tehnik purposiveyaitu tehnik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2009: 300)

Dalam hal ini untuk mengetahui konflik politik yang berkelnjutan pra dan paska pemilihan kepla desa rora kecematan

16Lukmanul Hakim Sikap Social Masyarakat Pasca Pemilihan Kepala Desa Dena Kecematan Madapangga Kabupaten Bima ,(skripsi Fak Ilmu Pengetahuan Social STKIP Bima 2014), hlm. 25

(35)

35

donggo kabupaten bima ditentukan sunber informasi yaitu 2 (dua) orang took masyarakat, 1 (satu) orang pemudah, Kepala Desa terpilih ,Calon Kepala Desa yang kalah.

b. Sumber data Sekunder a). foto

foto atau dokumen ini dapat menjadi data yang berharga untuk membuktikan kebenaran hasil penelitian.17 Adapun dokumen berupa foto dalam penelitian ini adalah foto yang dihasilkan sendiri oleh penelitian pada saat melakukan pengamatan dilapangan yang berkaitan dengan aktifitas masyarakat dan aktifitas penulisan dalam melakukan proses wawancara.

b). Data Monografi

Data Monografi yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi, barang-barang tertulis, surat-surat serta manuskip dan catatan- catatan penting yang dibutuhkan dalam kajian penelitian dalam menyusun skripsi

5. Prosedur pengumpulan data

Prosedur pengumpulan data merupakan salah satu bagian terpenting dalam penelitian, dengan demikian peneliti menggunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data.

a. Metode Observasi

17 Ibid hlm 26

(36)

36

Observasi membantu kita untuk memahami dan berpartisipasi dalam dunia. Adalah lebih tepat mendiskusikan riset observasi dalam termaksud tehnik-tehnaik, bukan sekedar satu tehnik, riset observasi bisa dipakai untuk mendapatkan data kuantitatif deskriptif tentang kejadian yang muncul dari prilaku atau pristiwa tertentu. Atau bisa membuat deskripsi kualitatif tentang prilaku atau kultu kelompok tertentu, institusi tertentu , atau komunitas tertentu. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah peneliti turun kelapangan untuk memahami sebuah fenomenah konflik menjelang maupun pasca pilkades untuk mendapatkan informasi yang di butuhkan terkait masalah konflik pilkades tersebut.

Dan berupah konfil-konflik yang terjadi di masyarakat pada saat saya melakukan observasi adalah saingan politik yang tidak sehat seperti hubungan anggota keluarga yang kurang baik akibat bedanya pemilihan dan para calon melakukan penyuapan terhadap masyarakat b. Metode Wawancara

Pedoman wawancara

Nama : Iskandar H Awahap

Alamat : Desa Rora Kecematan Donggo Kabupaten Bima

NO VARIABLE KISI-KISI PERTAYAAN

(37)

37 1 Rivalitas

konflik politik

a. Mengapa terjadinya konflik anatar

pendukung kepala desa b.Sejak kapan terjadinya

usaha-usah yang di tempuh warga negarah untuk membicarakan dan mewujutkan kebaikan bersama c. Apakah segalah hal

yang berkaitan dengan penyelengaraan Negara dan pemerintah

d.Mengapa terjadi politik sebagai kegiatan yang di arahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat pemilihan kepala desa

e. Apakah semenjak terjadinya kegiatan yang berkaitan dengan

a. Bagaimana terjadinya konflik politik antar pendukung kepala desa b. Bagaiamana terjadinya

usaha-usaha yang di tempuh warga Negara untuk

membicarakan dan mewujutkan kebaikan bersama

c. Bagaimana terjadinya penyelengaraan Negara dan pemerintah

d. Bagaiamana terjadinya politik sebagai kegiatan yang di arahkan untuk mencari dan

mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat

pemilihan kepala desa e. Bagaimana terjadinya kegiatan yang berkaitan denganperumuhan dan pelaksanaankebijakan

(38)

38

perumusan dan

pelaksanaan kebijakan umum kepala desa.

umum kepala desa f. Bagaimana terjadinya

konflik dalam rangkah atau mempertahankan sumber- sumber yang di anggap penting

a. Mengapa terjadinya pmaksaan terhadap masyarakat

b.Kenapa terjadi ancaman terhadap masyarakat

a. Bagaimana terjadi pemaksaan terhadap masyarakat

b. Bagaimana terjadinya ancaman terhadap masyarakat.

c. Metode Dokumentasi.

Dokumentasi adalah barang-barang tertulis sedang dalam melakukan dokumentasi, penelitian menyelidiki bendah-bendah tertulis seperti buku-buku,majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya

Dari paparan diatas disimpilkan bahwa dokumentasih adalah suatu tehnikpengupulan datan dengan menghipun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, maupun berupa gambar.

6. Tehnik Analisis Data

Tehnik analisis data adalah proses penyusunan data agar dapat

(39)

39

ditafsirkan. Menyusun berarti menggolongkannya dalam pola, tema dan kategori.Tafsiran atau interprestasi artinya memberikan makna kepada analisis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep.18

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang mencakup tiga kegiatan utama, yaitu:19

a. Reduksi Data (data reduction)

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.

Ketika penulis melakukan penelitian tentu saja akan mendapatkan data yang banyak dan relatif beragam. Itu sebababnya perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini ditulis dalam bentuk laporan atau data yang terperinci.

b. Penyajian Data (display data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data yaitu mengelompokan data secara keseluruhan

18Elvinaro Ardianto, Metodologi Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2011), h. 215.

19Imam Gunawan, Metodologi Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), h.210-212.

(40)

40

berdasarkan jenis data observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam hal ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat dengan teks bersifat naratif.

c. Penarikan Kesimpulan (verification)

Langkah ini adalah langkah terakhir yang dilakukan kegiatan dalam analisis data dalam penelitian ini. Data yang telah dikelompohkan dalam bentuk sajian data, kemudian disimpulkan sasuai dengan fokus dan tujuan penelitian sehinggah menciptakan kesimpulan yang kredibel.

7. Pengecekan keabsahan Data

Dalam hal ini peneliti menggunakan triangulasi sumber.Triangulasi sumber yaitu menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai sumber memperoleh data. Membandingkandata temuan dengan data-data llain seperti data.20

20 Imam Gunawan, Metodologi Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hlm.219.

(41)

41 BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Gambaran Umum Kabupaten Bima

Kabupaten Bima, yang merupakan bagian dari propinsi NTB, berada di ujung timur propinsi NTB. Luas wilayah Kabupaten Bima mencapai 4.374,65 km2, terdiri atas 315,96 Km2 atau 7,22 persen lahan sawah dan 4.058,69 Km2 atau 92,78 persen lahan bukan sawah. Luas lahan sawah ini meningkat sebanyak 8,53 km2 jika dibandingkan tahun 2008 yang luasnya 307,43 Km2. Peningkatan luas areal sawah ini didorong oleh semakin berkurangnya luas hutan, baik itu hutan negara maupun luas hutan rakyat.

Di antara 18 kecamatan di Kabupaten Bima, Kecamatan Sanggar dan Tambora memiliki wilayah yang paling luas, masing-masing 16,46 persen dan 11,54 persen dari luas wilayah kabupaten. Dari sisi jarak ke pusat pemerintahan Kabupaten, Kecamatan Sanggar dan Tambora merupakan kecamatan yang berlokasi terjauh, dimana jarak masing-masing sekitar 130 km dan 250 km. Kecamatan Donggo mempunyai ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut sehingga menjadikan Kecamatan ini sebagai

(42)

42

kecamatan dengan lokasi ketinggian tertinggi di atas permukaan laut.

Rata-rata curah hujan selama tahun 2009 mencapai 63,87 mm per bulan dengan hari hujan rata-rata 5,81 hari per bulan, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang mencapai 84,36 mm per bulan dengan banyak hari hujan rata-rata 6,9 hari per bulan. Curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari, Februari dan Desember yaitu 188,8 mm, 181,4 mm dan 335,6 mm.21

1. Keadaan Georafis dan Demografis Kabupaten Bima

Kabupaten Bima adalah sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Barat, Indonesia.Ibu kotanya ialah Woha, dan pada tahn 2020 jumlah penduduk

kabupaten ini sekitar 488.577 jiwa.Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari Kota Bima).Secara geografis Kabupaten Bima berada pada posisi 117°40”- 119°10” Bujur Timur dan 70°30” Lintang Selatan.

Secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran.Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering. Oleh karena keterbatasan lahan pertanian seperti itu dan dikaitkan pertumbuhan penduduk kedepan, akan menyebabkan daya dukung lahan semakin sempit. Konsekuensinya diperlukan transformasi dan reorientasi

21https://www.google.com/gambaran+umum+kabupaten+bima&oq=gambaran+umum+

kabupaten+bima&gs

(43)

43

basis ekonomi dari pertanian tradisional ke pertanian wirausaha dan sektor industri kecil dan perdagangan. Dilihat dari ketinggian dari permukaàn laut, Kecamatan Donggo merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut, sedangkan daerah yang terendah adalah Kecamatan Sape dan Sanggar yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari permukaan laut.

Di Kabupaten Bima terdapat lima buah gunung, yakni:

Gunung Tambora di Kecamatan Tambora Gunung Sangiang di Kecamatan Wera Gunung Maria di Kecarnatan Wawo Gunung Lambitu di Kecamatan Lambitu

Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo, merupakan gunung tertinggi di wilayah ini dengan ketinggian 4.775 m.

Wilayah Kabupaten Bima beriklim tropis bertipe (Aw) dengan rata-rata hari hujan relatif pendek.Keadaan curah hujan tahunan rata-rata tercatat 58.75 mm, maka dapat disimpulkan Kabupaten Bima adalah daerah berkategori kering hampir sepanjang tahun yang berdampak pada kecilnya persediaan air dan keringnya sebagian besar sungai.Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember, Januari, dan Februari dengan rata-rata tercatat 171 mm dengan hari hujan rata-rata ≥15 hari dan musim kering terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September di mana tidak tejadi hujan.Kabupaten Bima pada umumnya memiliki drainase yang tergenang dan tidak tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas 1.085 Ha atau

(44)

44

0,02% dengan lokasi terbesar di wilayah pesisir pantai. Sedangkan luas lokasi yang tergenang terus menerus adalah seluas 194 Ha, yaitu wilayah Dam Roka, Dam Sumi dan Dam Pelaparado, sedangkan Wilayah yang tidak pernah tergenang di Kabupaten Bima adalah seluas 457.989 Ha.22 2. Kondisi Umum Desa Rora Kecematan Donggo Kabupten Bima

a. Letak Geografis

Wilayah Desa Rora Kecematan Donggo secara geografis merupakan daerah yang berada di sekitaran kaki gunung donggo tepatnya dibagian selatatanya lereng gunung donggo dan bagian baratnya Kabupaten Bima. Dilihat dari topografi ketinggian Desa Rora merupakan daerah lereng gunung yang ada di kaki gunung donggo dengan ketinggian dari permukaan lain berada antara 9000 -10.000 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 3523 mm/tahun, kelembaban udara 40% pertahun.23Secara administrasi Desa Rora dibatasi oleh

1) Sebelah Barat : Kabupaten Dompu ( Desa Magge Nae) 2) Sebelah Timur :Desa Palama Kecepatan Donggo 3) Sebelah Selatan :Desa Mada Wau Kec. Mada Pangga 4) Sebelah Utara : DesaBumi Pajo, Desa Ndano Nae

Luas wilayah Desa Rora adalah 1000.000 km2, jarak antara Desa Rora dengan kota Bima sekitar 65 km. Keberadaan Desa Rora Kecamatan Donggao ini di bawah bukit-bukit kecil di sekitarnya di kelilingi oleh gunung-gunung dan sawah-sawah, sekitar Desa ini ada, Desa Madawau,

22 https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bima

23 Profil Desa Rora 2020

(45)

45

Desa Ndano Nae, Ada Desa Palama,Desa Bumi Pajo Dan Desa Magge Nae Kabupaten Dompu. Desa Rora ini kehidupan masyarakatnya sangat baik dan solidaritas sangat baik terlihat dalam kegiatan-kegiatan besar dan acara sunnatan, acara pernikahan, gotong royong dan lain- lain.

b. Kondisi Alam dan ciri wilayah

Wilayah DesaRora secara umum mempunyai ciri geologis berupa daerah penguungan atau perbukitan, bawah dan perkebunan, sebagian wilayah merupakan tanah liar dan lereng gunung. Dari keseluruhan luas wilayah Desa Rora, kawasanhutan dan pengunungan merupakan yang terbesar yang terdiri atas kawasan hutan, bukit, pengunungan dan hutan rakyat.Selain itu wilayah kawasan.Gambaran kondisi alam dan ciri geografis wilayah Desa Rora hampir setiap dusun sama karakternya, dengan karakter sama inilah sehingga cukup mudah mengenal ciri-ciri fisik masing-masing dusun tersebut.

Adapun pendidikan, sistem kepercayaan, sistem kesenian, pola perkampungan dan mata pencaharian antara lain:

1. Pendidikan

Pendidikan merupakan program yang tidak kalah pentingnya bagi kebijaksanaan pengaturan masalah kepedudukan.Pendidikan adalah salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan sumber daya manusia (SDM). Faktor pendidikan merupakan salah satu modal yang bermanfaat dan akan dapat dinikmati

(46)

46

oleh penduduk untuk masa yang sangat panjang yang sering disebut dengan masa depan. Mengenai tingkat pendidikan penduduk di Desa Rora dapat di lihat pada tabel berikut ini:24

No Pendidikan Jumlah

1. TK 56

2 SD 330

3 SMP 247

4 SMA 230

5 D3 26

6 Sarjana 132

7 S2 Dan S3 3

24 Ibid hlm 41

(47)

47 2. Mata Pencaharian

Mata pencaharian selain sebagai sumber nafkah dapat dijadikan tolak ukur penemuhan ekonomi penduduk dan secara tidak langsung berkaitan erat dengan usaha yang di gelutinya. Berikut ini adalah data mengenai mata pencaharian yang digeluti penduduk di Desa Rora seperti tabel dibawah ini:

No Mata Pencaharian Jumlah orang

1 Pedagang 87

2 PNS 46

3 Petani 569

4 Buruh Tani 1364

5 Tukang Kayu dan Batu 24

6 Supir 32

7 Peternak 67

3. Pola Perkampungan

Pola perkampungan adalah dimana pola perkampungan di Desa Rora adanya pola hidup mengelompokan karena di Desa Rora terdiri dari 3 dusun yang mempunyai tempat yang berdekatan untukperumahan atau perkarangan dari tiga dusun tersebut.Mengenai pemukimanpenduduk, rumah-rumah penduduk di Desa Rora di bangunsangat berdekatan dan rata-rata memiliki rumah batu yang di

(48)

48

pagari dengan kayubambu dan mereka lebih cenderung membangun rumah-rumah diatas tanahwarisan di sekitar rumah orang tua mereka.

4. Sistem Kepercayaan

Masyarakat di DesaRora adalah pemeluk agama Islam yang taat.

Segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam dan segala aktivitas hidup sehari-hari harus sejalan dengan ajaran agama Islam.Karena Islam tidak mengajarkan sesuatu yang buruk dan selalu menuju pada arah kebaikan.Menuju kebaikan di landasi oleh ahklakulkarimah (moral yang baik sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam).Masyarakat di Desa Rora Islam bukan hanya sebuah agama, tetapi juga sebuah budaya, sehingga ajaran Islam tidak dapat dipisahkan dengan kebiasaan hidup sehari-hari pada masyarakat setempat.Masuknya ajaran Islam di Bima dan Donggo tidak mematikan tradisi-tradisi masyarakat yang telah berkembang sebelumnya.Beberapa adat dan kebiasaan lokal masih tetap berjalan beriringan dengan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-quran. Kepercayaan lokal tradisional berkaitan dengan dunia spiritual masih ada dalam konsep hidup masyarakat di Desa Rora masih percaya akan adanya roh leluhur serta mengenal akan adanya unsur-unsur gaib dan roh halus sebagai sumber malapetaka dan kesejahteran hidup manusia, arwah leluhur dianggap tetap hidup dan mempertahankan tindakan anak cucunya. Sehubungan dengan kepercayaan demikian timbul

(49)

49

sistem pemujaan dan persembahan kepada arwah leluhur dan mahluk halus melalui upacara selamatan maupun sajian-sajian.25

5. Sistem Kesenian

Kesenian budaya Donggo ialah budaya yang dimilik oleh Dou “Dou Donggo” atau masyarakat suku Donggo khususnya di Desa Rora.Harus diketahui bahwa tingkat di daerah Bima, karena kesenian budaya Mbojo, milik masyarakat Mbojo di daerah Dompu dan Bima.Jadi daerah dompu dan Bima memiliki satu seni budaya.Leluhur kita pada masa kerajaan dan kesultanaan sangat mencintai seni budayanya.Pada masa itu, kesenian budaya bima atau Donggo sangat terkenal. Kalau ada upacara khitanan, khataman Al- quran dan upacara pernikahan selalu diramaikan dengan pertujukan atau kesenian budaya Donggo di Desa Rora tersebut.

B. Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Calon Kepala Desa Pilkades Serentak Tahun 2016 Di Kabupaten Bima

Konflik terjadi karana adanya perbedaan pendapat, perselisihan, persainagan anatara individu dan kelompok antara warga dan kelompok warga, oleh sebab adanya perbedaan pendapat, perdebatan, persaingan, bahkan pertentangan dan perebutan dalam upaya mendapatan dan mempertahanka nnilai-nilai disebut konflik. Oleh karenaitu, menurut pandangan konflik, pada dasarnya politik adalah konflik. Pandangan ini ada benarnya sebab konflik merupakan gejala yang serba hadir dalam masyarakat,

25 Ibid

(50)

50

termasuk dalam proses politik. Selain itu,konflik merupakan gejala yang melekat dalam proses politik.26

Berdasarkan hal tersebut ada beberapa yang mengatakan tentang konflik Istilah konflik dalam ilmu politik seringkali dikaitkan dengankekerasan seperti kerusuhan, kudeta terorisme, dan reformasi.Konflikmengandung pengertian “benturan27 Jadikonflik dirumuskan secara luas sebagai perbedaan pendapat, persaingandan pertentangan diantara sejumlah individu, kelompok ataupunorganisasi dalam upaya mendapatkan atau mempertahankan sumbersumber dari keputusan yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah.Yang dimaksud dengan pemerintah meliputi lembaga, legislatif,yudikatif, dan eksekutif.Sebaliknya secara sempit konflik politik dapatdirumuskan sebagai kegiatan kolektif warga masyarakat yang yangdiarahkan untuk menentang kebijakan umum dan pelaksanaannya, jugaperilaku penguasa, beserta segenap aturan, struktur, dan prosedur yangmengatur hubungan-hubungan diantara partisipan politik.

Teori Konflik Simon Fisher dan Ibrahim dkk antara lainadalah28: Teori Kebutuhan dan Teori Identitas. Teori kebutuhanmanusia berasumsi bahwa “Konflik berakar dalam disebabkan olehkebutuhan dasar manusia- fisik, mental dan social yang tidak terpenuhiatau yang dihalangi”.Menurut teori ini bahwa konflik terjadidisebabkan oleh benturan kepentingan antar

26 Ibid

27Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia WidiaSarana Indonesia, 1992), h. 149

28Sukardi, Penangan Konflik Sosial Dengan Pendekatan Keadilan Retoratif,(Jurnal Hukum & Pembangunan 46 No. 1, 2016).

(51)

51

manusia dalammemperjuangkan pemenuhan kebutuhan dasar baik fisik maupunmental dan social yang dalam kondisi tidak terpenuhi.

Bentuk-bentukkonflikpolitik pradan pasca pemilhan kepala desayangdapatdiidentifikasidaripeneltianyangdilakukanolehpeneliti dalam pemilhan kepala Desa Rora Pada periode 2016-2021 antara lain sebagai berikut:

1. Adanyapemaksaaan

Wawancara dengan BapakIskandar selaku KepalaDesaRora di kantor Desa pada hari senin, 09 Agustus 2021 pukul 19 : 33 Wita dikediamannya Rt 01 Rw 01menyatakan29

“Adanya pemaksaan yang dilakukan olehtim pendukung calon kepala desa yang lain. Pemaksaan dalam bentuk tekanan kepada masyarakat agar warga disekitar dusun tempat calon kades tinggal agar memilih beliau untuk mendapatkan suara pemilih

Hal tersebut di atas sesuai dengan pendapat dengan salah satu informan yaitu kepala desa dapat penulis analisis ternyata menurut narasumber tersebut benara danya pemaksaan yang dilakukan tim pendukung calon kepala desa yang lain, untuk medapatkan suara pemilih tim pendukung dari calon kepala desa yang lain rela membuat tekanan kepada masyarakat sekitar agar mendapa tsuara pemilih, ini merupakan konflik politik yang selalu terjadi dalam setiap pemilihan kepala desadidesa Rora.

29 Hasil Wawancara Dengan Kepala Desa Terpilih Desa Rora terpilih 2016 2 Desember 2020

(52)

52

Apa yang dikemukakan oleh Iskandar didukung oleh penjelasan dari Addu latif selaku ketua BPD Rora dan apa yang disampaikan oleh Ketua BPD Rora didukung oleh Abidin H. Ishaka sebagai warga Desa Rora sebagaiberikut:30

„‟Ada, padawaktu pemilihankades sayadantetanggasaya dipaksaolehtimpendukungcalonkadesyangdatangkerumahs ayauntukmemilihcalonkadesyangikutdalampemilihandanm erekamenjanjikanakanmenggartiskan mobil dan kursi buat warga desa .” (4 Desember 2020)

Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwasannya bertdasarkan pengakuan informasi yang mengalami langsung dilapangan mengenai pemaksaan oleh satu tim pendukung memang benar adanya itu bukan sebuah isu biasa tentunya hal seperni ini akan dapat memicu ketik nyamanan masyarakat dalam memilih kepala desa atau pemimpin yang sesuai hati nurani mereka hal semaca ini merupakan benih-benih dari konflik yang akan mengarah kepada konflik politik.

Hasil penjelasan Iskandar, bedah pendapat dengan Abdulatif selaku ketua BPD Desa Rora dan apa yang dkemukakan oleh Ketua BPD Rora didukungoleh Abidin H. Ishaka masyarakat desa rora begitu juga yang disampaikan oleh Ramlidan Abidin didukung oleh Edy Kusawanto masyarakat Rora sebagai berikut:

“Ada Buk, saya sendiri sebagai masyarakat di desa dusun pemikiman pernah didatangi tim pendukung, merek memaksa saya untuk memilih calon kepaladesa yang

30Hasil Wawancara Dengan Kepala Desa Terpilih Desa Rora terpilih 2016 2 Desember 2020

(53)

53

mereka dukung, kalaw tidak mereka mengancamtentang hukungan.”(Desember 2020)31

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpilkan bahwa menurut pandangan warga desa rora memang benar adanya unsur pemaksaan oleh salah satu tim sukses kepala desa yang mana didemokrasi langsung seperti ini cara pemaksaan baik secara halus maupun kasar cenderung menjadi suatu kebiasaan yang biasa-biasa saja namun tidfak dapat dibuktikan secara nyata,hasil dari observasi dilapangan juga benar ada pemaksaan-pemaksaan yang ditunjukan kepada masyarakat namuntidak berdampak pada konfliksecara kekerasan fisik tetapi berupa perdebatan yang membuat warga atau masyarakat takut dan kawatir dalam proses pemilihan ataupun selesai pemilihan.

Wawancara dengan Yadin disampaikanolehSekretaris Desa Rora,juga berbeda dengan Adulatif ketua BPDRora dan apa yang dijelskan Ketua BPD Rora didukungolehAbidin masyarakatDesaRora begitujugayangdisampaikan oleh Ramli dan Edy di dukung oleh Edy Purawanto juga didukung olehYahyan, toko masyarakatRora sbb:32

“Benar ada, dari salahsatucalonkades,sayatak berani menyebutkannya. Ada warga yang dipaksa untuk memilih calon tersebut, karna masihsatukeluraga, jaditim pendukungnyatidak segan untuk memaksanya”.(Desember 2020)

Hasil wawancara dengan seluruh informan dapat disimpulkan

31 Hasil Wawancara DenganRamlidan Abiding Desa Roar Desember 2020

32Hasil Wawancara Dengan Kepala Desa Terpilih Desa Rora terpilih 2016 2 Desember 2020

(54)

54

yaitu memang benar adanya pemaksaan oleh calon Kepla Desa Rora Kecematan Donggo kepada masyarakat sehingga dapat dianalisisbhwa pada tahapan atau proses pemilihan kepala Desa di Desa Rora Kecematan Donggo memang benar ditemukan unsur pemaksaan tehdapa warga atau masyarakat.

2. Adanya ancaman terhadap penduduk.

Apakah dalam pemilihan kepala desa pada tahun 2016 yang lalu terdapat unsure ancaman yang ditujukan kepada masyarakat untuk memilih salah satu calon kepala desa pada waktu itu”?. Sepertiyang yang dijelaskan oleh Iskandar yang merupakan calon Kepala Desa yang menanng pada pemilihan Kepala Desa tahun 2016 lalu adalah sebagai berikut:

„‟Tentu saja tidak ada apalagi berbentuk ancaman seperti yang sudah saya kemukakan tadi mereka yangikut pemilihan

Referensi

Dokumen terkait