BAB 1 PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
5. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data merupakan salah satu bagian terpenting dalam penelitian, dengan demikian peneliti menggunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data.
a. Metode Observasi
17 Ibid hlm 26
36
Observasi membantu kita untuk memahami dan berpartisipasi dalam dunia. Adalah lebih tepat mendiskusikan riset observasi dalam termaksud tehnik-tehnaik, bukan sekedar satu tehnik, riset observasi bisa dipakai untuk mendapatkan data kuantitatif deskriptif tentang kejadian yang muncul dari prilaku atau pristiwa tertentu. Atau bisa membuat deskripsi kualitatif tentang prilaku atau kultu kelompok tertentu, institusi tertentu , atau komunitas tertentu. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah peneliti turun kelapangan untuk memahami sebuah fenomenah konflik menjelang maupun pasca pilkades untuk mendapatkan informasi yang di butuhkan terkait masalah konflik pilkades tersebut.
Dan berupah konfil-konflik yang terjadi di masyarakat pada saat saya melakukan observasi adalah saingan politik yang tidak sehat seperti hubungan anggota keluarga yang kurang baik akibat bedanya pemilihan dan para calon melakukan penyuapan terhadap masyarakat b. Metode Wawancara
Pedoman wawancara
Nama : Iskandar H Awahap
Alamat : Desa Rora Kecematan Donggo Kabupaten Bima
NO VARIABLE KISI-KISI PERTAYAAN
37 1 Rivalitas
konflik politik
a. Mengapa terjadinya konflik anatar
pendukung kepala desa b.Sejak kapan terjadinya
usaha-usah yang di tempuh warga negarah untuk membicarakan dan mewujutkan kebaikan bersama c. Apakah segalah hal
yang berkaitan dengan penyelengaraan Negara dan pemerintah
d.Mengapa terjadi politik sebagai kegiatan yang di arahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat pemilihan kepala desa
e. Apakah semenjak terjadinya kegiatan yang berkaitan dengan
a. Bagaimana terjadinya konflik politik antar pendukung kepala desa b. Bagaiamana terjadinya
usaha-usaha yang di tempuh warga Negara untuk
membicarakan dan mewujutkan kebaikan bersama
c. Bagaimana terjadinya penyelengaraan Negara dan pemerintah
d. Bagaiamana terjadinya politik sebagai kegiatan yang di arahkan untuk mencari dan
mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat
pemilihan kepala desa e. Bagaimana terjadinya kegiatan yang berkaitan denganperumuhan dan pelaksanaankebijakan
38
perumusan dan
pelaksanaan kebijakan umum kepala desa.
umum kepala desa f. Bagaimana terjadinya
konflik dalam rangkah atau mempertahankan sumber- sumber yang di anggap penting
a. Mengapa terjadinya pmaksaan terhadap masyarakat
b.Kenapa terjadi ancaman terhadap masyarakat
a. Bagaimana terjadi pemaksaan terhadap masyarakat
b. Bagaimana terjadinya ancaman terhadap masyarakat.
c. Metode Dokumentasi.
Dokumentasi adalah barang-barang tertulis sedang dalam melakukan dokumentasi, penelitian menyelidiki bendah-bendah tertulis seperti buku-buku,majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya
Dari paparan diatas disimpilkan bahwa dokumentasih adalah suatu tehnikpengupulan datan dengan menghipun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, maupun berupa gambar.
6. Tehnik Analisis Data
Tehnik analisis data adalah proses penyusunan data agar dapat
39
ditafsirkan. Menyusun berarti menggolongkannya dalam pola, tema dan kategori.Tafsiran atau interprestasi artinya memberikan makna kepada analisis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep.18
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang mencakup tiga kegiatan utama, yaitu:19
a. Reduksi Data (data reduction)
Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Ketika penulis melakukan penelitian tentu saja akan mendapatkan data yang banyak dan relatif beragam. Itu sebababnya perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini ditulis dalam bentuk laporan atau data yang terperinci.
b. Penyajian Data (display data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data yaitu mengelompokan data secara keseluruhan
18Elvinaro Ardianto, Metodologi Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2011), h. 215.
19Imam Gunawan, Metodologi Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), h.210-212.
40
berdasarkan jenis data observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam hal ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat dengan teks bersifat naratif.
c. Penarikan Kesimpulan (verification)
Langkah ini adalah langkah terakhir yang dilakukan kegiatan dalam analisis data dalam penelitian ini. Data yang telah dikelompohkan dalam bentuk sajian data, kemudian disimpulkan sasuai dengan fokus dan tujuan penelitian sehinggah menciptakan kesimpulan yang kredibel.
7. Pengecekan keabsahan Data
Dalam hal ini peneliti menggunakan triangulasi sumber.Triangulasi sumber yaitu menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai sumber memperoleh data. Membandingkandata temuan dengan data-data llain seperti data.20
20 Imam Gunawan, Metodologi Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hlm.219.
41 BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
A. Gambaran Umum Kabupaten Bima
Kabupaten Bima, yang merupakan bagian dari propinsi NTB, berada di ujung timur propinsi NTB. Luas wilayah Kabupaten Bima mencapai 4.374,65 km2, terdiri atas 315,96 Km2 atau 7,22 persen lahan sawah dan 4.058,69 Km2 atau 92,78 persen lahan bukan sawah. Luas lahan sawah ini meningkat sebanyak 8,53 km2 jika dibandingkan tahun 2008 yang luasnya 307,43 Km2. Peningkatan luas areal sawah ini didorong oleh semakin berkurangnya luas hutan, baik itu hutan negara maupun luas hutan rakyat.
Di antara 18 kecamatan di Kabupaten Bima, Kecamatan Sanggar dan Tambora memiliki wilayah yang paling luas, masing-masing 16,46 persen dan 11,54 persen dari luas wilayah kabupaten. Dari sisi jarak ke pusat pemerintahan Kabupaten, Kecamatan Sanggar dan Tambora merupakan kecamatan yang berlokasi terjauh, dimana jarak masing-masing sekitar 130 km dan 250 km. Kecamatan Donggo mempunyai ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut sehingga menjadikan Kecamatan ini sebagai
42
kecamatan dengan lokasi ketinggian tertinggi di atas permukaan laut.
Rata-rata curah hujan selama tahun 2009 mencapai 63,87 mm per bulan dengan hari hujan rata-rata 5,81 hari per bulan, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang mencapai 84,36 mm per bulan dengan banyak hari hujan rata-rata 6,9 hari per bulan. Curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari, Februari dan Desember yaitu 188,8 mm, 181,4 mm dan 335,6 mm.21
1. Keadaan Georafis dan Demografis Kabupaten Bima
Kabupaten Bima adalah sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Barat, Indonesia.Ibu kotanya ialah Woha, dan pada tahn 2020 jumlah penduduk
kabupaten ini sekitar 488.577 jiwa.Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari Kota Bima).Secara geografis Kabupaten Bima berada pada posisi 117°40”- 119°10” Bujur Timur dan 70°30” Lintang Selatan.
Secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran.Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering. Oleh karena keterbatasan lahan pertanian seperti itu dan dikaitkan pertumbuhan penduduk kedepan, akan menyebabkan daya dukung lahan semakin sempit. Konsekuensinya diperlukan transformasi dan reorientasi
21https://www.google.com/gambaran+umum+kabupaten+bima&oq=gambaran+umum+
kabupaten+bima&gs
43
basis ekonomi dari pertanian tradisional ke pertanian wirausaha dan sektor industri kecil dan perdagangan. Dilihat dari ketinggian dari permukaàn laut, Kecamatan Donggo merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut, sedangkan daerah yang terendah adalah Kecamatan Sape dan Sanggar yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari permukaan laut.
Di Kabupaten Bima terdapat lima buah gunung, yakni:
Gunung Tambora di Kecamatan Tambora Gunung Sangiang di Kecamatan Wera Gunung Maria di Kecarnatan Wawo Gunung Lambitu di Kecamatan Lambitu
Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo, merupakan gunung tertinggi di wilayah ini dengan ketinggian 4.775 m.
Wilayah Kabupaten Bima beriklim tropis bertipe (Aw) dengan rata-rata hari hujan relatif pendek.Keadaan curah hujan tahunan rata-rata tercatat 58.75 mm, maka dapat disimpulkan Kabupaten Bima adalah daerah berkategori kering hampir sepanjang tahun yang berdampak pada kecilnya persediaan air dan keringnya sebagian besar sungai.Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember, Januari, dan Februari dengan rata-rata tercatat 171 mm dengan hari hujan rata-rata ≥15 hari dan musim kering terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September di mana tidak tejadi hujan.Kabupaten Bima pada umumnya memiliki drainase yang tergenang dan tidak tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas 1.085 Ha atau
44
0,02% dengan lokasi terbesar di wilayah pesisir pantai. Sedangkan luas lokasi yang tergenang terus menerus adalah seluas 194 Ha, yaitu wilayah Dam Roka, Dam Sumi dan Dam Pelaparado, sedangkan Wilayah yang tidak pernah tergenang di Kabupaten Bima adalah seluas 457.989 Ha.22 2. Kondisi Umum Desa Rora Kecematan Donggo Kabupten Bima
a. Letak Geografis
Wilayah Desa Rora Kecematan Donggo secara geografis merupakan daerah yang berada di sekitaran kaki gunung donggo tepatnya dibagian selatatanya lereng gunung donggo dan bagian baratnya Kabupaten Bima. Dilihat dari topografi ketinggian Desa Rora merupakan daerah lereng gunung yang ada di kaki gunung donggo dengan ketinggian dari permukaan lain berada antara 9000 -10.000 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 3523 mm/tahun, kelembaban udara 40% pertahun.23Secara administrasi Desa Rora dibatasi oleh
1) Sebelah Barat : Kabupaten Dompu ( Desa Magge Nae) 2) Sebelah Timur :Desa Palama Kecepatan Donggo 3) Sebelah Selatan :Desa Mada Wau Kec. Mada Pangga 4) Sebelah Utara : DesaBumi Pajo, Desa Ndano Nae
Luas wilayah Desa Rora adalah 1000.000 km2, jarak antara Desa Rora dengan kota Bima sekitar 65 km. Keberadaan Desa Rora Kecamatan Donggao ini di bawah bukit-bukit kecil di sekitarnya di kelilingi oleh gunung-gunung dan sawah-sawah, sekitar Desa ini ada, Desa Madawau,
22 https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bima
23 Profil Desa Rora 2020
45
Desa Ndano Nae, Ada Desa Palama,Desa Bumi Pajo Dan Desa Magge Nae Kabupaten Dompu. Desa Rora ini kehidupan masyarakatnya sangat baik dan solidaritas sangat baik terlihat dalam kegiatan-kegiatan besar dan acara sunnatan, acara pernikahan, gotong royong dan lain- lain.
b. Kondisi Alam dan ciri wilayah
Wilayah DesaRora secara umum mempunyai ciri geologis berupa daerah penguungan atau perbukitan, bawah dan perkebunan, sebagian wilayah merupakan tanah liar dan lereng gunung. Dari keseluruhan luas wilayah Desa Rora, kawasanhutan dan pengunungan merupakan yang terbesar yang terdiri atas kawasan hutan, bukit, pengunungan dan hutan rakyat.Selain itu wilayah kawasan.Gambaran kondisi alam dan ciri geografis wilayah Desa Rora hampir setiap dusun sama karakternya, dengan karakter sama inilah sehingga cukup mudah mengenal ciri-ciri fisik masing-masing dusun tersebut.
Adapun pendidikan, sistem kepercayaan, sistem kesenian, pola perkampungan dan mata pencaharian antara lain:
1. Pendidikan
Pendidikan merupakan program yang tidak kalah pentingnya bagi kebijaksanaan pengaturan masalah kepedudukan.Pendidikan adalah salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan sumber daya manusia (SDM). Faktor pendidikan merupakan salah satu modal yang bermanfaat dan akan dapat dinikmati
46
oleh penduduk untuk masa yang sangat panjang yang sering disebut dengan masa depan. Mengenai tingkat pendidikan penduduk di Desa Rora dapat di lihat pada tabel berikut ini:24
No Pendidikan Jumlah
1. TK 56
2 SD 330
3 SMP 247
4 SMA 230
5 D3 26
6 Sarjana 132
7 S2 Dan S3 3
24 Ibid hlm 41
47 2. Mata Pencaharian
Mata pencaharian selain sebagai sumber nafkah dapat dijadikan tolak ukur penemuhan ekonomi penduduk dan secara tidak langsung berkaitan erat dengan usaha yang di gelutinya. Berikut ini adalah data mengenai mata pencaharian yang digeluti penduduk di Desa Rora seperti tabel dibawah ini:
No Mata Pencaharian Jumlah orang
1 Pedagang 87
2 PNS 46
3 Petani 569
4 Buruh Tani 1364
5 Tukang Kayu dan Batu 24
6 Supir 32
7 Peternak 67
3. Pola Perkampungan
Pola perkampungan adalah dimana pola perkampungan di Desa Rora adanya pola hidup mengelompokan karena di Desa Rora terdiri dari 3 dusun yang mempunyai tempat yang berdekatan untukperumahan atau perkarangan dari tiga dusun tersebut.Mengenai pemukimanpenduduk, rumah-rumah penduduk di Desa Rora di bangunsangat berdekatan dan rata-rata memiliki rumah batu yang di
48
pagari dengan kayubambu dan mereka lebih cenderung membangun rumah-rumah diatas tanahwarisan di sekitar rumah orang tua mereka.
4. Sistem Kepercayaan
Masyarakat di DesaRora adalah pemeluk agama Islam yang taat.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam dan segala aktivitas hidup sehari-hari harus sejalan dengan ajaran agama Islam.Karena Islam tidak mengajarkan sesuatu yang buruk dan selalu menuju pada arah kebaikan.Menuju kebaikan di landasi oleh ahklakulkarimah (moral yang baik sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam).Masyarakat di Desa Rora Islam bukan hanya sebuah agama, tetapi juga sebuah budaya, sehingga ajaran Islam tidak dapat dipisahkan dengan kebiasaan hidup sehari-hari pada masyarakat setempat.Masuknya ajaran Islam di Bima dan Donggo tidak mematikan tradisi-tradisi masyarakat yang telah berkembang sebelumnya.Beberapa adat dan kebiasaan lokal masih tetap berjalan beriringan dengan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-quran. Kepercayaan lokal tradisional berkaitan dengan dunia spiritual masih ada dalam konsep hidup masyarakat di Desa Rora masih percaya akan adanya roh leluhur serta mengenal akan adanya unsur-unsur gaib dan roh halus sebagai sumber malapetaka dan kesejahteran hidup manusia, arwah leluhur dianggap tetap hidup dan mempertahankan tindakan anak cucunya. Sehubungan dengan kepercayaan demikian timbul
49
sistem pemujaan dan persembahan kepada arwah leluhur dan mahluk halus melalui upacara selamatan maupun sajian-sajian.25
5. Sistem Kesenian
Kesenian budaya Donggo ialah budaya yang dimilik oleh Dou “Dou Donggo” atau masyarakat suku Donggo khususnya di Desa Rora.Harus diketahui bahwa tingkat di daerah Bima, karena kesenian budaya Mbojo, milik masyarakat Mbojo di daerah Dompu dan Bima.Jadi daerah dompu dan Bima memiliki satu seni budaya.Leluhur kita pada masa kerajaan dan kesultanaan sangat mencintai seni budayanya.Pada masa itu, kesenian budaya bima atau Donggo sangat terkenal. Kalau ada upacara khitanan, khataman Al- quran dan upacara pernikahan selalu diramaikan dengan pertujukan atau kesenian budaya Donggo di Desa Rora tersebut.
B. Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Calon Kepala Desa Pilkades Serentak Tahun 2016 Di Kabupaten Bima
Konflik terjadi karana adanya perbedaan pendapat, perselisihan, persainagan anatara individu dan kelompok antara warga dan kelompok warga, oleh sebab adanya perbedaan pendapat, perdebatan, persaingan, bahkan pertentangan dan perebutan dalam upaya mendapatan dan mempertahanka nnilai-nilai disebut konflik. Oleh karenaitu, menurut pandangan konflik, pada dasarnya politik adalah konflik. Pandangan ini ada benarnya sebab konflik merupakan gejala yang serba hadir dalam masyarakat,
25 Ibid
50
termasuk dalam proses politik. Selain itu,konflik merupakan gejala yang melekat dalam proses politik.26
Berdasarkan hal tersebut ada beberapa yang mengatakan tentang konflik Istilah konflik dalam ilmu politik seringkali dikaitkan dengankekerasan seperti kerusuhan, kudeta terorisme, dan reformasi.Konflikmengandung pengertian “benturan27 Jadikonflik dirumuskan secara luas sebagai perbedaan pendapat, persaingandan pertentangan diantara sejumlah individu, kelompok ataupunorganisasi dalam upaya mendapatkan atau mempertahankan sumbersumber dari keputusan yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah.Yang dimaksud dengan pemerintah meliputi lembaga, legislatif,yudikatif, dan eksekutif.Sebaliknya secara sempit konflik politik dapatdirumuskan sebagai kegiatan kolektif warga masyarakat yang yangdiarahkan untuk menentang kebijakan umum dan pelaksanaannya, jugaperilaku penguasa, beserta segenap aturan, struktur, dan prosedur yangmengatur hubungan-hubungan diantara partisipan politik.
Teori Konflik Simon Fisher dan Ibrahim dkk antara lainadalah28: Teori Kebutuhan dan Teori Identitas. Teori kebutuhanmanusia berasumsi bahwa “Konflik berakar dalam disebabkan olehkebutuhan dasar manusia- fisik, mental dan social yang tidak terpenuhiatau yang dihalangi”.Menurut teori ini bahwa konflik terjadidisebabkan oleh benturan kepentingan antar
26 Ibid
27Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia WidiaSarana Indonesia, 1992), h. 149
28Sukardi, Penangan Konflik Sosial Dengan Pendekatan Keadilan Retoratif,(Jurnal Hukum & Pembangunan 46 No. 1, 2016).
51
manusia dalammemperjuangkan pemenuhan kebutuhan dasar baik fisik maupunmental dan social yang dalam kondisi tidak terpenuhi.
Bentuk-bentukkonflikpolitik pradan pasca pemilhan kepala desayangdapatdiidentifikasidaripeneltianyangdilakukanolehpeneliti dalam pemilhan kepala Desa Rora Pada periode 2016-2021 antara lain sebagai berikut:
1. Adanyapemaksaaan
Wawancara dengan BapakIskandar selaku KepalaDesaRora di kantor Desa pada hari senin, 09 Agustus 2021 pukul 19 : 33 Wita dikediamannya Rt 01 Rw 01menyatakan29
“Adanya pemaksaan yang dilakukan olehtim pendukung calon kepala desa yang lain. Pemaksaan dalam bentuk tekanan kepada masyarakat agar warga disekitar dusun tempat calon kades tinggal agar memilih beliau untuk mendapatkan suara pemilih
Hal tersebut di atas sesuai dengan pendapat dengan salah satu informan yaitu kepala desa dapat penulis analisis ternyata menurut narasumber tersebut benara danya pemaksaan yang dilakukan tim pendukung calon kepala desa yang lain, untuk medapatkan suara pemilih tim pendukung dari calon kepala desa yang lain rela membuat tekanan kepada masyarakat sekitar agar mendapa tsuara pemilih, ini merupakan konflik politik yang selalu terjadi dalam setiap pemilihan kepala desadidesa Rora.
29 Hasil Wawancara Dengan Kepala Desa Terpilih Desa Rora terpilih 2016 2 Desember 2020
52
Apa yang dikemukakan oleh Iskandar didukung oleh penjelasan dari Addu latif selaku ketua BPD Rora dan apa yang disampaikan oleh Ketua BPD Rora didukung oleh Abidin H. Ishaka sebagai warga Desa Rora sebagaiberikut:30
„‟Ada, padawaktu pemilihankades sayadantetanggasaya dipaksaolehtimpendukungcalonkadesyangdatangkerumahs ayauntukmemilihcalonkadesyangikutdalampemilihandanm erekamenjanjikanakanmenggartiskan mobil dan kursi buat warga desa .” (4 Desember 2020)
Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwasannya bertdasarkan pengakuan informasi yang mengalami langsung dilapangan mengenai pemaksaan oleh satu tim pendukung memang benar adanya itu bukan sebuah isu biasa tentunya hal seperni ini akan dapat memicu ketik nyamanan masyarakat dalam memilih kepala desa atau pemimpin yang sesuai hati nurani mereka hal semaca ini merupakan benih-benih dari konflik yang akan mengarah kepada konflik politik.
Hasil penjelasan Iskandar, bedah pendapat dengan Abdulatif selaku ketua BPD Desa Rora dan apa yang dkemukakan oleh Ketua BPD Rora didukungoleh Abidin H. Ishaka masyarakat desa rora begitu juga yang disampaikan oleh Ramlidan Abidin didukung oleh Edy Kusawanto masyarakat Rora sebagai berikut:
“Ada Buk, saya sendiri sebagai masyarakat di desa dusun pemikiman pernah didatangi tim pendukung, merek memaksa saya untuk memilih calon kepaladesa yang
30Hasil Wawancara Dengan Kepala Desa Terpilih Desa Rora terpilih 2016 2 Desember 2020
53
mereka dukung, kalaw tidak mereka mengancamtentang hukungan.”(Desember 2020)31
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpilkan bahwa menurut pandangan warga desa rora memang benar adanya unsur pemaksaan oleh salah satu tim sukses kepala desa yang mana didemokrasi langsung seperti ini cara pemaksaan baik secara halus maupun kasar cenderung menjadi suatu kebiasaan yang biasa-biasa saja namun tidfak dapat dibuktikan secara nyata,hasil dari observasi dilapangan juga benar ada pemaksaan-pemaksaan yang ditunjukan kepada masyarakat namuntidak berdampak pada konfliksecara kekerasan fisik tetapi berupa perdebatan yang membuat warga atau masyarakat takut dan kawatir dalam proses pemilihan ataupun selesai pemilihan.
Wawancara dengan Yadin disampaikanolehSekretaris Desa Rora,juga berbeda dengan Adulatif ketua BPDRora dan apa yang dijelskan Ketua BPD Rora didukungolehAbidin masyarakatDesaRora begitujugayangdisampaikan oleh Ramli dan Edy di dukung oleh Edy Purawanto juga didukung olehYahyan, toko masyarakatRora sbb:32
“Benar ada, dari salahsatucalonkades,sayatak berani menyebutkannya. Ada warga yang dipaksa untuk memilih calon tersebut, karna masihsatukeluraga, jaditim pendukungnyatidak segan untuk memaksanya”.(Desember 2020)
Hasil wawancara dengan seluruh informan dapat disimpulkan
31 Hasil Wawancara DenganRamlidan Abiding Desa Roar Desember 2020
32Hasil Wawancara Dengan Kepala Desa Terpilih Desa Rora terpilih 2016 2 Desember 2020
54
yaitu memang benar adanya pemaksaan oleh calon Kepla Desa Rora Kecematan Donggo kepada masyarakat sehingga dapat dianalisisbhwa pada tahapan atau proses pemilihan kepala Desa di Desa Rora Kecematan Donggo memang benar ditemukan unsur pemaksaan tehdapa warga atau masyarakat.
2. Adanya ancaman terhadap penduduk.
Apakah dalam pemilihan kepala desa pada tahun 2016 yang lalu terdapat unsure ancaman yang ditujukan kepada masyarakat untuk memilih salah satu calon kepala desa pada waktu itu”?. Sepertiyang yang dijelaskan oleh Iskandar yang merupakan calon Kepala Desa yang menanng pada pemilihan Kepala Desa tahun 2016 lalu adalah sebagai berikut:
„‟Tentu saja tidak ada apalagi berbentuk ancaman seperti yang sudah saya kemukakan tadi mereka yangikut pemilihan kepala desa ataupun tidak memilih adalah keputusan masing masing orang tidak ada paksaan ataupun kalau ada itu haya isu saja untuk menjatuhkan citra calon kepaladesa.33
Dari hasil wawancara di atas dengan informan yaitu kandidat yang langsung mengikuti proses pemilihan sebagai calon mengatakan bahwa sanya tidak ada ancaman terhadap masyarakat namun hal ini menuru tpenulis belum tentu seperti itu adanya karena informan selaku kandidat bersama kepala desa yang lain pasti megatakan tidak.
Apa yang dikemukakan oleh Iskandar diatas tidak di sama apa yang dikemukakan Oleh Yadin Sekretaris Desa Rora sebagai berikut:
33 Hasil Wawancara Dengan Kepala Desa Rora Terpilih Iskandar
55
„‟Ancaman terhadap warga ada, masing-masing calon kepala desa melakukan strategi dengan cara apapun yang terpenting bisa menang dalam pemilihan kepala desa yaitu dengan ancaman akan dipersulit untuk urusan dikantor desa apabila nantinya menang.34
Berdasarkan hasil wawancara diatas dengan sekretaris desa yang mengatakan bahwasanya memang ada ancaman yang dilakukan oleh salah satu tim pendukung calon kepala desa ,namun penulis meragukan keterangan ini mengingat kepala desa terpilih adalah calon kandidat kepala desa yang ikut bertarung pada masa itu apalagi sekarang beliau telah menjadi atasannya sehingga kevaliditasan keterangan masih penulisragukan.
C. Sustainable Konflik Politik Pra Dan Pasca Pemilihan Kepala Kabupaten Bima
1. Factor-faktor terjadinya konflik
b. Maraknya Money Politik.
Money politik juga menjadi suatu pemicu yang mengakibatkan terjadinya konflik hal ini tentunya diakibatkan ketidak relaan kandidat yang kalah apalagi kandidat yang telah banyak menggelontorkan uang dalam pemilihan kepala Desa Rora pada tahun 2016 lalu, yang merasa telah habis-habisan sehingga satu- satunya jalan harus menang dan mengembalikan modal pemilihan kepala Desa yang telahhabis.
Hasil wawancara dengan Iskandar yang merupakan calon
34 Hasil Wawancara Dengan Yadin Sekretaris Desa Rora.