Symptoms of Depression, Anxiety and Stress in Patients With Chronic
Otitis Media
Kurniawati Sekar Yunasti / 42220678
Journal Reading
Pembimbing :
dr. Arin Dwi Iswarini, Sp.THT-KL, M.Kes
Source: PLoS ONE 17(7):e0270793 DOI: 10.1371/journal.pone.0270293
Published: 1 July 2022 Author: Ana D. Jotic, Ana M.
Opankovic, Zorana Z. Radin, Ljiliana Cvorovic, Katarina R. Savic
Vujovic, Sanja B. Krejovic–Trivic, Bojana M. Bukurov, Biljana R.
Milicic, Jasmina D. Stojanovic
ABSTRAK
Tujuan: untuk menilai intensitas depresi, kecemasan, dan gejala stress pada pasien dengan otitis media kronis, serta memeriksa apakah data demografi pasien, karakteristik, dan gejala otitis yang dilaporkan mempengaruhi depresi, kecemasan, dan gejala stress pasien.
Bahan dan Metode: melibatkan 316 pasien dewasa yang didiagnosis
otitis media kronis unilateral atau bilateral dengan atau tanpa
kolesteatoma. Dengan menggunakan Chronic Otitis Media
Questionnaire 12 (COMQ-12) untuk menilai dampak OMK dan
Depression Anxiety Stress Scale 21 (DASS-21) untuk menilai depresi,
kecemasan, dan stress.
Hasil: Tingkat kecemasan dan stress terdeteksi pada 70,57%. 13,29% pasien memiliki skor yang mengindikasikan gangguan depresi. Nilai rata-rata dari COMQ-12 adalah 26,24. Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa prediktor positif yang signifikan untuk skor kecemasan yang lebih tinggi adalah rata-rata nada murni (pure tone average) pada telinga dengan pendengaran yang lebih baik dan lebih buruk (p<0,05). Drainase telinga, masalah pendengaran, tinitus merupakan prediktor positif yang signifikan untuk skor DASS-21 yang lebih tinggi.
Kesimpulan: adanya korelasi antara tingkat kecemasan, depresi dan stress dengan tingkat keparahan gejala OMK dan kualitas hidup. Tingkat pendengaran pada telinga yang baik dan buruk merupakan predictor yang signifikan terhadap kecemasan dan stress pada pasien OMK
PENDAHULUAN
● Otitis Media Kronis (OMK) adalah masalah kesehatan yang mempengaruhi 65- 330 juta orang di seluruh dunia. OMK dan komplikasinya menyebabkan 21.000-28.000 kematian setiap tahun.
● OMK menyebabkan kerusakan pada membran timpani, rantai osikular, dan tulang di sekitarnya. Gejala paling umum penyakit ini adalah gangguan pendengaran, tinnitus, dan vertigo.
● Gejala OMK yang terus menerus akan menyebabkan adanya keterbatan dalam rutinitas sehari-hari yang mempengaruhi quality of life (QOL) dan kesehatan mental pasien.
● Gejala kecemasan dan depresi dapat memiliki efek yang mendalam terkait penyakit OMK. Penelitian mengenai hal tersebut masih jarang dipublikasikan.
• Kuisioner COMQ-12 yang baru dikembangkan memberikan wawasan beban penyakit secara keseluruhan melalui sudut pandang pasien.
Melalui pengalaman pasien dan prioritas gejala pasien dapat menilai efek OMK pada kesehatan mental pasen.
• Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kejadian dan intensitas
gejala depresi, kecemasan dan stress pada pasien OMK menggunakan
kuisioner khusus. Tujuan lainnya adalah untuk memeriksa apakah data
demografi pasien, karakterikstik klinis, temuan audiometri, intensitas
gejala OMK yang dilaporkan secara spesifik dan pengaruhnya pada
Quality of Life (QOL) pasien
Bahan dan Metode
Desain dan populasi
Menggunakan metode penelitian cross-sectional dengan 316 sampel pasien yang didiagnosa dengan OMK unilateral atau bilateral dengan atau tanpa kolesteatoma. Sampel pasien dewasa usia ≥ 18 tahun, didiagnosis di Klinik Otorhinolaringologi dan Bedah Maksilofasial, Pusat Klinik Serbia dari Oktober 2017-Oktober 2019. Kriteria eksklusi:
o
COM yang sebelumnya pernah dioperasi dengan kolesteatoma (skuamosa) atau tanpa kolesteatoma (mukosa)o
Adanya penyakit otorhinolaringologi lain dan didiagnosis sebelumnya mengalami gangguan kecemasan, depresi atau penyakit jiwa lainnya.Pemeriksaan Klinis dan Penilaian Gejala
•
Semua pasien melakukan pemeriksaan otorhinolaringologi lengkap, otomikroskopi, audiometri, dan tomografi terkomputerisasi (computerized tomography/CT)•
COMQ-12 adalah kuesioner terdiri dari 12 pertanyaan yang berkaitan dengan tingkat keparahan gejala OMK seperti keluarnya cairan dari telinga, telinga berbau, masalah pendengaran di rumah, masalah pendengaran saat berbicara dengan orang lain, rasa tidak nyaman didalam atau disekitar telinga, pusing atau merasa tidak seimbang, tinnitus, seputar aktivitas gaya hidup dan pekerjaan, pengaruh layanan kesehatan seperti kunjungan ke dokter atau mengkonsumsi obat-obatan, serta dapat umum dari gangguan terhadap kehidupan pasien. Tingkat keparahan setiap gejala dinilai skala 0 hingga 5. Skor yang tinggi menunjukkan kualitas hidup lebih buruk pada pasien OMK (skor maksimum 40)•
DASS-21 digunakan untuk menilai gejala depresi, kecemasan, dan stress.DASS-21 terdiri dari tiga skala untuk mengukur status emosional dari depresi, kecemasan dan stress. Skala depresi mengevaluasi disforia, keputusasaan, depresi diri, kurangnya minat, anhedonia, dan inersia. Skala kecemasan menilai otonom, efek otot rangka, kecemasan situasional dan pengalaman subjektif dari kecemasan. Skala stress sensitif terhadap tingkat antusias non-spesifik yang kronis. Skala ini menilai kesulitan untuk rileks, antusias, gugup, mudah marah/gelisah, mudah tersinggung/terlalu aktif dan tidak sabar. Skor pada tingkat keparahan depresi adalah ringan (5-6), sedang (7- 10), berat (11-13), dan sangat berat (>14). Skor depresi 0-4 dianggap normal.
Sedangkan untuk skor pada tingkat keparahan kecemasan adalah ringan (4-5), sedang (6-7), berat (8-9), dan sangat berat (>10). Skor kecemasan dari 0-6 dianggap normal. Skor stress dinilai sebagai ringan (8-9), sedang (10-12), berat (13-16), dan sangat berat (>17). Skor stress dari 0-7 dianggap normal.
Ukuran sampel dan analisis statistic
• Analisis dilakukan dengan IBP SPSS Statistics v28 (Paket Statistik untuk Ilmu Sosial, SPSS Inc., Chicago, Illinois). Jika tingkat signifikansi α = 0,05 (5%) dan kekuatan statistic uji 1- β =0,8 (80%), jumlah sampel yang diperlukan adalah 316 subjek dengan OMK berdasarkan penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya.
• Untuk analisis statistik, metode regresi linier univariabel dan
multivariabel digunakan untuk menentukan prediktor dari skor item
DASS-21.
Hasil
Penelitian
• Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara kecemasan, depresi dan penyakit kronis
• Dalam penelitian ini, sejumlah besar pasien dengan OMK (70,57%) memenuhi kriteria kecemasan yang diukur dengan DASS-21.
• Gangguan kecemasan jarang terjadi sendirian dan sering dikaitkan dengan depresi atau masalah kesehatan mental lainnya
Pembahasan
•
Mayoritas penelitian menemukan bahwa pasien cenderung mengalami depresi atau kecemasan setelah didiagnosis dengan penyakit kronis
•
Dalam penelitian ini, skor subskala depresi, kecemasan, dan stres DASS- 21 masing-masing secara signifikan berkorelasi positif dengan tingkat keparahan gejala spesifik penyakit. Keterbatasan yang diberlakukan pada rutinitas harian pasien dapat menyebabkan frustrasi, kesedihan, dan kesusahan.
•
Isolasi sosial, jarangnya kontak dengan keluarga dan teman, dan menghindari situasi tertentu sering terjadi dalam kehidupan pasien dengan penyakit telinga kronis, terutama pada pasien dengan gangguan pendengaran
•
Kecemasan dan depresi dapat meningkat pada pasien OMK karena
ketidakpastian tentang prognosis penyakit, ketakutan akan memburuknya
gejala dan dampak penyakit pada masa depan pasien
•
Satu-satunya faktor prediktif positif dari skor kecemasan dan stres DASS- 21 adalah nilai PTA yang lebih tinggi pada telinga yang pendengarannya lebih baik dan lebih buruk.
•
Gejala OMK lainnya (seperti keluarnya cairan dari telinga, rasa tidak nyaman pada telinga, pusing, tinnitus, penggunaan obat, dll.) dapat berubah-ubah selama penyakit berlangsung dan bergantung pada infeksi aktif yang ada padaruang telinga tengah
•
Kesulitan pendengaran yang dirasakan sendiri saat berbicara dengan orang lain dalam kelompok atau di lingkungan yang bising, merupakan prediktor untuk peningkatan skor depresi
•
Depresi setelah mengalami gangguan pendengaran terjadi pada berbagai
kelompok usia. Usia muda berhubungan dengan stigma dan diskriminasi,
sedangkan pada usia tua adanya penurunan kognitif dan isolasi sosial
yang dikombinasikan dengan peningkatan kecacatan, morbiditas, dan
kesehatanyang lebih buruk berperan dalam terjadinya gejala depresi
Kekuatan, Keterbatasan, dan Implikasi untuk Praktik pada Penelitian