• Tidak ada hasil yang ditemukan

Symptoms of Depression, Anxiety and Stress in Patients With Chronic Otitis Media

N/A
N/A
KURNIAWATI SEKAR YUNASTI

Academic year: 2023

Membagikan "Symptoms of Depression, Anxiety and Stress in Patients With Chronic Otitis Media"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Symptoms of Depression, Anxiety and Stress in Patients With Chronic

Otitis Media

Kurniawati Sekar Yunasti / 42220678

Journal Reading

Pembimbing :

dr. Arin Dwi Iswarini, Sp.THT-KL, M.Kes

(2)

Source: PLoS ONE 17(7):e0270793 DOI: 10.1371/journal.pone.0270293

Published: 1 July 2022 Author: Ana D. Jotic, Ana M.

Opankovic, Zorana Z. Radin, Ljiliana Cvorovic, Katarina R. Savic

Vujovic, Sanja B. Krejovic–Trivic, Bojana M. Bukurov, Biljana R.

Milicic, Jasmina D. Stojanovic

(3)

ABSTRAK

Tujuan: untuk menilai intensitas depresi, kecemasan, dan gejala stress pada pasien dengan otitis media kronis, serta memeriksa apakah data demografi pasien, karakteristik, dan gejala otitis yang dilaporkan mempengaruhi depresi, kecemasan, dan gejala stress pasien.

Bahan dan Metode: melibatkan 316 pasien dewasa yang didiagnosis

otitis media kronis unilateral atau bilateral dengan atau tanpa

kolesteatoma. Dengan menggunakan Chronic Otitis Media

Questionnaire 12 (COMQ-12) untuk menilai dampak OMK dan

Depression Anxiety Stress Scale 21 (DASS-21) untuk menilai depresi,

kecemasan, dan stress.

(4)

Hasil: Tingkat kecemasan dan stress terdeteksi pada 70,57%. 13,29% pasien memiliki skor yang mengindikasikan gangguan depresi. Nilai rata-rata dari COMQ-12 adalah 26,24. Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa prediktor positif yang signifikan untuk skor kecemasan yang lebih tinggi adalah rata-rata nada murni (pure tone average) pada telinga dengan pendengaran yang lebih baik dan lebih buruk (p<0,05). Drainase telinga, masalah pendengaran, tinitus merupakan prediktor positif yang signifikan untuk skor DASS-21 yang lebih tinggi.

Kesimpulan: adanya korelasi antara tingkat kecemasan, depresi dan stress dengan tingkat keparahan gejala OMK dan kualitas hidup. Tingkat pendengaran pada telinga yang baik dan buruk merupakan predictor yang signifikan terhadap kecemasan dan stress pada pasien OMK

(5)

PENDAHULUAN

Otitis Media Kronis (OMK) adalah masalah kesehatan yang mempengaruhi 65- 330 juta orang di seluruh dunia. OMK dan komplikasinya menyebabkan 21.000-28.000 kematian setiap tahun.

OMK menyebabkan kerusakan pada membran timpani, rantai osikular, dan tulang di sekitarnya. Gejala paling umum penyakit ini adalah gangguan pendengaran, tinnitus, dan vertigo.

Gejala OMK yang terus menerus akan menyebabkan adanya keterbatan dalam rutinitas sehari-hari yang mempengaruhi quality of life (QOL) dan kesehatan mental pasien.

Gejala kecemasan dan depresi dapat memiliki efek yang mendalam terkait penyakit OMK. Penelitian mengenai hal tersebut masih jarang dipublikasikan.

(6)

• Kuisioner COMQ-12 yang baru dikembangkan memberikan wawasan beban penyakit secara keseluruhan melalui sudut pandang pasien.

Melalui pengalaman pasien dan prioritas gejala pasien dapat menilai efek OMK pada kesehatan mental pasen.

• Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kejadian dan intensitas

gejala depresi, kecemasan dan stress pada pasien OMK menggunakan

kuisioner khusus. Tujuan lainnya adalah untuk memeriksa apakah data

demografi pasien, karakterikstik klinis, temuan audiometri, intensitas

gejala OMK yang dilaporkan secara spesifik dan pengaruhnya pada

Quality of Life (QOL) pasien

(7)

Bahan dan Metode

Desain dan populasi

Menggunakan metode penelitian cross-sectional dengan 316 sampel pasien yang didiagnosa dengan OMK unilateral atau bilateral dengan atau tanpa kolesteatoma. Sampel pasien dewasa usia ≥ 18 tahun, didiagnosis di Klinik Otorhinolaringologi dan Bedah Maksilofasial, Pusat Klinik Serbia dari Oktober 2017-Oktober 2019. Kriteria eksklusi:

o

COM yang sebelumnya pernah dioperasi dengan kolesteatoma (skuamosa) atau tanpa kolesteatoma (mukosa)

o

Adanya penyakit otorhinolaringologi lain dan didiagnosis sebelumnya mengalami gangguan kecemasan, depresi atau penyakit jiwa lainnya.

(8)

Pemeriksaan Klinis dan Penilaian Gejala

Semua pasien melakukan pemeriksaan otorhinolaringologi lengkap, otomikroskopi, audiometri, dan tomografi terkomputerisasi (computerized tomography/CT)

COMQ-12 adalah kuesioner terdiri dari 12 pertanyaan yang berkaitan dengan tingkat keparahan gejala OMK seperti keluarnya cairan dari telinga, telinga berbau, masalah pendengaran di rumah, masalah pendengaran saat berbicara dengan orang lain, rasa tidak nyaman didalam atau disekitar telinga, pusing atau merasa tidak seimbang, tinnitus, seputar aktivitas gaya hidup dan pekerjaan, pengaruh layanan kesehatan seperti kunjungan ke dokter atau mengkonsumsi obat-obatan, serta dapat umum dari gangguan terhadap kehidupan pasien. Tingkat keparahan setiap gejala dinilai skala 0 hingga 5. Skor yang tinggi menunjukkan kualitas hidup lebih buruk pada pasien OMK (skor maksimum 40)

(9)

DASS-21 digunakan untuk menilai gejala depresi, kecemasan, dan stress.

DASS-21 terdiri dari tiga skala untuk mengukur status emosional dari depresi, kecemasan dan stress. Skala depresi mengevaluasi disforia, keputusasaan, depresi diri, kurangnya minat, anhedonia, dan inersia. Skala kecemasan menilai otonom, efek otot rangka, kecemasan situasional dan pengalaman subjektif dari kecemasan. Skala stress sensitif terhadap tingkat antusias non-spesifik yang kronis. Skala ini menilai kesulitan untuk rileks, antusias, gugup, mudah marah/gelisah, mudah tersinggung/terlalu aktif dan tidak sabar. Skor pada tingkat keparahan depresi adalah ringan (5-6), sedang (7- 10), berat (11-13), dan sangat berat (>14). Skor depresi 0-4 dianggap normal.

Sedangkan untuk skor pada tingkat keparahan kecemasan adalah ringan (4-5), sedang (6-7), berat (8-9), dan sangat berat (>10). Skor kecemasan dari 0-6 dianggap normal. Skor stress dinilai sebagai ringan (8-9), sedang (10-12), berat (13-16), dan sangat berat (>17). Skor stress dari 0-7 dianggap normal.

(10)

Ukuran sampel dan analisis statistic

• Analisis dilakukan dengan IBP SPSS Statistics v28 (Paket Statistik untuk Ilmu Sosial, SPSS Inc., Chicago, Illinois). Jika tingkat signifikansi α = 0,05 (5%) dan kekuatan statistic uji 1- β =0,8 (80%), jumlah sampel yang diperlukan adalah 316 subjek dengan OMK berdasarkan penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya.

• Untuk analisis statistik, metode regresi linier univariabel dan

multivariabel digunakan untuk menentukan prediktor dari skor item

DASS-21.

(11)

Hasil

Penelitian

(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

• Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara kecemasan, depresi dan penyakit kronis

• Dalam penelitian ini, sejumlah besar pasien dengan OMK (70,57%) memenuhi kriteria kecemasan yang diukur dengan DASS-21.

• Gangguan kecemasan jarang terjadi sendirian dan sering dikaitkan dengan depresi atau masalah kesehatan mental lainnya

Pembahasan

(21)

Mayoritas penelitian menemukan bahwa pasien cenderung mengalami depresi atau kecemasan setelah didiagnosis dengan penyakit kronis

Dalam penelitian ini, skor subskala depresi, kecemasan, dan stres DASS- 21 masing-masing secara signifikan berkorelasi positif dengan tingkat keparahan gejala spesifik penyakit. Keterbatasan yang diberlakukan pada rutinitas harian pasien dapat menyebabkan frustrasi, kesedihan, dan kesusahan.

Isolasi sosial, jarangnya kontak dengan keluarga dan teman, dan menghindari situasi tertentu sering terjadi dalam kehidupan pasien dengan penyakit telinga kronis, terutama pada pasien dengan gangguan pendengaran

Kecemasan dan depresi dapat meningkat pada pasien OMK karena

ketidakpastian tentang prognosis penyakit, ketakutan akan memburuknya

gejala dan dampak penyakit pada masa depan pasien

(22)

Satu-satunya faktor prediktif positif dari skor kecemasan dan stres DASS- 21 adalah nilai PTA yang lebih tinggi pada telinga yang pendengarannya lebih baik dan lebih buruk.

Gejala OMK lainnya (seperti keluarnya cairan dari telinga, rasa tidak nyaman pada telinga, pusing, tinnitus, penggunaan obat, dll.) dapat berubah-ubah selama penyakit berlangsung dan bergantung pada infeksi aktif yang ada padaruang telinga tengah

Kesulitan pendengaran yang dirasakan sendiri saat berbicara dengan orang lain dalam kelompok atau di lingkungan yang bising, merupakan prediktor untuk peningkatan skor depresi

Depresi setelah mengalami gangguan pendengaran terjadi pada berbagai

kelompok usia. Usia muda berhubungan dengan stigma dan diskriminasi,

sedangkan pada usia tua adanya penurunan kognitif dan isolasi sosial

yang dikombinasikan dengan peningkatan kecacatan, morbiditas, dan

kesehatanyang lebih buruk berperan dalam terjadinya gejala depresi

(23)

Kekuatan, Keterbatasan, dan Implikasi untuk Praktik pada Penelitian

• Dalam penelitian ini, sejumlah besar pasien OMK melaporkan gejala kecemasan dan stres yang memburuk seiring dengan semakin parahnya gejala penyakit

.

Oleh sebab itu, gangguan pendengaran harus menjadi fokus pengobatan OMK agar dapat membantu pasien secara efektif dan meningkatkan kesehatan mental serta kualitas hidupnya. Penting adanya skrining depresi pada pasien dengan OMK.

• Hasil penelitian ini mendukung fakta bahwa masalah psikologis harus

ditangani secara aktif saat merawat pasien dengan OMK untuk

meningkatkan hasil pengobatan dan kualitas hidup pasien tersebut

(24)

• Keterbatasan penelitian yaitu studi penelitian cross-sectional ini hanya

dilakukan pada satu fasilitas medis. Data dikumpulkan ketika pasien

dirujuk untuk rencana perawatan definitive dan fokusnya hanya pada

pasien yang sebelumnya tidak diobati yang didiagnosis OMK.

(25)

Kesimpulan

Adanya hubungan antara tingkat

kecemasan, depresi dan stress yang

dilaporkan dengan tingkat keparahan

gejala OMK dan kualitas hidup.

(26)

—Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini terjadi karena sebagian besar pasien membiarkan gejala dan tanda rinitis alerginya tanpa pengobatan yang adekuat sehingga inflamasi pada hidung dan tuba

Kesimpulan : hipertensi resisten tampaknya tidak terkait dengan hasil klinis yang merugikan pada pasien dengan gagal jantung, kenyataanya mungkin menjadi faktor protektif

Pendahuluan Masalah yang terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisis, pasien merasakan cemas karena proses dialisis yang cukup panjang dan lama, sehingga

Hal ini terjadi karena sebagian besar pasien membiarkan gejala dan tanda rinitis alerginya tanpa pengobatan yang adekuat sehingga inflamasi pada hidung dan tuba

Identification of Pseudomonas aeruginosa strains collected from patients with chronic tubotympanic suppurative otitis media in Purwokerto, Indonesia.. aHighly probable; bSecure;

اذل اب هجوت هب دنور ور هب شیازفا یرامیب ان نمزم ییاسر هیلک و عویش تلاکشم سرتسا و یگدرسفا و بارطضا یتخانشناور رد زیلایدومه نارامیب و ضراوع و یاهدمایپ یشان زا نآ نینچمه و اب هجوت هب

اذل اب هجوت هب دنور ور هب شیازفا یرامیب ان نمزم ییاسر هیلک و عویش تلاکشم سرتسا و یگدرسفا و بارطضا یتخانشناور رد زیلایدومه نارامیب و ضراوع و یاهدمایپ یشان زا نآ نینچمه و اب هجوت هب

Namun, Penelitian terkait dengan status psikologis depresi, kecemasan dan stres pengguna dan pasien rehabilitasi narkoba yang dihubungkan dengan tingkat spitualitas belum didapatkan