SISTEM IRIGASI SUBAK DAN TANTANGAN SERTA UPAYA MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI
Oleh :
Ayu’s Dwipa Yani 2005511110
PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2022
SISTEM IRIGASI SUBAK DAN TANTANGAN SERTA UPAYA MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI
Ayu’s Dwipa Yani
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana Email : [email protected]
Abstrak
Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Bali. Sistem irigasi subak pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu sistem teknologi sepadan, sekaligus sebagai sistem kebudayaan. Dalam menjalankan kehidupan, masyarakat Bali menggunakan konsep dasar Tri Hita Karana, yang juga dijadikan konsep dasar dalam subak. Sumber air subak, yang merupakan komponen fundamental, biasanya berasal dari mata air yang mengalir ke sebuah sungai yang dikelola sedemikian rupa oleh para petani subak dengan system
“meminjam air”, yang secara konkret merupakan sistem yang penekanannnya lebih kearah gotong- royong dan saling bahu membahu, bukan sistem utang piutang.Di masa globalisasi seperti sekarang, subak sebagai salah satu lembaga tradisional di Bali tentunya dihadapkan dengan berbagai tantangan. Melihat subak yang masih bertahan hingga saat ini sejak awal berdirinya, maka seharusnya subak mampu menghadapi tantangan saat ini dan kedepannya. Diperlukan upaya pemberdayaan subak untuk meningkatkan eksistensi dan potensi subak. Hal ini bertujuan mempertahankan dan menguatkan eksistensi subak dan anggotanya agar dapat bertahan menghadapi tantangan sekarang dan di masa yang akan mendatang.
Kata kunci: subak, Tri Hita Karana, tantangan, eksistensi, potensi, sistem irigasi.
1. PENDAHULUAN
Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Bali. Sistem irigasi subak pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu sistem teknologi sepadan, sekaligus sebagai sistem kebudayaan.
Subak telah menjadi kebudayaan turun temurun sejak dulu dan biasanya memiliki pura Uluncarik yang diperuntukkan untuk Dewi Sri sebagi Dewi Kemakmuran dan Kesuburan.
Menurut Perda Provinsi Bali No. 9 tahun 2012, subak merupakan organisasi tradisional di bidang tata guna air dan atau tata tanaman di tingkat usaha tani pada masyarakat adat Bali yang bersifat sosioagraris, religius, dan ekonomis yang secara historis terus tumbuh dan berkembang.
Sistem subak diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada tanggal 29 Juni 2012 di Kota Saint Petersbug, Rusia. UNESCO mengakui subak sebagai warisan budaya dunia setelah memenuhi persyaratan yaitu merupakan tradisi budaya yang membentuk lanskap pulau Bali. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki subak yaitu :
1. Memiliki hak otonom untuk mengurus rumah tangga sendiri sejak awal terbentuk 2. Melaksanakan ritual keagamaan dalam kegiatan subak yang diharapkan dapat
mewujudkan ketentraman dan keharmonisan antara petani dengan Tuhan maupun petani dengan sesama dan lingkungannya.
3. Setiap sistem irigasi subak memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu setiap hamparan sawah dari anggota memiliki tembuku pengalapan (tempat masuknya air) dan pengutangan (tempat keluarnya air) tersendiri.
4. Subak memiliki satu atau lebih sumber air Bersama dan satu atau lebih Pura Bedugul.
Di masa globalisasi seperti sekarang, subak sebagai salah satu lembaga tradisional di Bali tentunya dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tantangan tersebut dapat menjadi ancaman sekaligus peluang untuk memperkuat dan mengembangkan subak. Adalah tanggung jawab kita untuk mempertahankan eksistensi subak, bukan hanya mempertahankan namun juga menyesuaikan dan mengembangkan nilai – nilai lama yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan dan tuntutan saat ini. Hal ini bertujuan mempertahankan dan menguatkan eksistensi subak dan anggotanya agar dapat bertahan menghadapi tantangan sekarang dan di masa yang akan mendatang.
2. PEMBAHASAN
2. 1Konsep Dasar Subak
Dalam menjalankan kehidupan, masyarakat Bali menggunakan konsep dasar Tri Hita Karana, yang juga dijadikan konsep dasar dalam subak. Tri Hita Karana adalah ajaran filosofi agama Hindu. Tri Hita Karana memiliki pengertian tiga penyebab kebahagiaan yang dapat dicapai dengan menjaga keharmonisan antar ketiga unsur yaitu Parhayangan (Tuhan), Pawongan (manusia), dan Palemahan (lingkungan). Melekatnya konsep dasar Tri Hita Karana pada masyarakat Bali serta pengaruhnya terhadap aspek kehidupan masyarakat, maka konsep ini diterapkan dalam subak dengan harapan akan menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta. Implementasi konsep Tri Hita Karana dalam subak adalah sebagai berikut :
➢ Parhyangan
Setiap subak memiliki pura tersendiri yang disebut Pura Subak/ Pura Ulun Carik, Pura Bedugul,/ Pura Ulun Empelan atau sebutan lain, sebagai unsur Ketuhanan di dalam subak itu sendiri.
➢ Pawongan
Subak memiliki anggota yang disebut kramasubak atau di beberapa tempat disebut krama carik sebagai unsur kemasyarakatan.
➢ Palemahan
Subak memiliki wilayah/ areal pertanian dengan batas alam tertentu seperti sungai, jalan, pematang besar, desa dan lain-lain.
Wujud Tri Hita Karana dalam Sistem Irigasi Subak antara lain :
1. Air dianggap bernilai dan dihormati dan merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
2. Adanya pura sebagai tempat pemujaan Tuhan.
3. Secara rutin dilaksanakan upacara keagamaan.
4. Pengelolaan air irigasi dengan konsep harmoni dan kebersamaan 5. Adanya awig-awig.
6. Hak atas air dan lahan dihormati.
7. Setiap blok/komplek persawahan milik petani memiliki bangunan sadap dan saluran drainase.
2. 2Sistem Irigasi dan Bangunan Air
Semua petak sawah yang ada di sebuah wilayah merupakan satu kesatuan. Dengan demikian, ketika salah satu area sawah mengalami gangguan maka sawah lainnya juga akan terganggu. Sama seperti sistem irigasi lainnya, setiap petani berhak atas bendungan air (pengalapan), parit (jelinjing) dan sebuah saluran air menuju lahan (cakangan).
Pembuatan, pemeliharaan dan pengelolaan fasilitas irigasi subak ini dilakukan bersama oleh anggota subak di daerah tersebut. Sumber air subak, yang merupakan komponen fundamental, biasanya berasal dari mata air yang mengalir ke sebuah sungai yang dikelola sedemikian rupa oleh para petani subak dengan system “meminjam air”, yang secara konkret merupakan sistem yang penekanannnya lebih kearah gotong- royong dan saling bahu membahu, bukan sistem utang piutang. Dalam subak, juga harus memiliki 1 bangunan bagi serta pura yang terpasang di pematang masing- masing sawah. Pura ini merupakan syarat utama subak. Sistem irigasi subak dipimpin oleh seorang pekaseh yang mana merupakan seorang pengatur dari system irigasi ini. Pekaseh atau kelian subak merupakan birokrat yang otonom.
Pengelolaan air irigasi subak adalah menyangkut organisasi pengelola yang disebut subak beserta seperangkat pengaturan operasional organisasi yang disebut awig awig (Sumarta, 1992). Organisasi subak dipimpin oleh seorang ketua yang disebut pekaseh.
Dalam operasional hariannya, ketua dibantu seorang sekretaris yang disebut penyarikan.
Pekaseh memimpin wilayah-wilayah operasional yang lebih kecil yaitu unit tempek yang diketuai oleh kelian tempek (Tim Peneliti IPB dan Unud, 1973). Selanjutnya, organisasi yang terbawah merupakan anggota kelompok yang disebut kerama subak. Struktur organisasi subak juga telah dilengkapi dengan pengurus yang lainnya seperti bendahara yang disebut dengan petengen, dan pembantu umum atau sebutannya adalah saye. Adapun struktur organisasi subak dapat dilihat pada Gambar dibawah.
Adapun tugas dan fungsi dari masing-masing pengurus subak adalah sesuai dengan hasil kesekapatan yang telah dituangkan di dalam awig-awig subak. Kelian Subak mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai berikut:
a. Bertanggung jawab pada seluruh kegiatan internal subak;
b. Menyampaikan berbagai informasi dan melaksanakan kebijaksanaan dari pemerintah kepada anggota subak;
c. Memimpin rapat subak seta mengambil dan menetapkan keputusan subak dengan mengakomodasikan berbagai kepentingan anggota subak;
d. Mengkoordinasikan penyusunan perencanaan subak bersama dengan anggota;
e. Menjadi penghubung antar pihak subak dengan pihak luar (pemerintah).
Sekretaris atau penyarikan subak memiliki tugas - tugas sebagai berikut:
a. Mencatatkan semua kegiatan yang bersifat administratif di subak dalam setiap pertemuan subak dalam bentuk notulen;
b. Membuat inventarisasi terhadap semua barang inventaris yang dimiliki oleh subak;
c. Memiliki tanggung jawab langsung kepada kelihan subak.
Bendahara atau petengen yang terkadang disebut juga juru raksa pada subak memiliki tugas-tugas sebagai berikut:
a. Mencatatkan secara tertib segala kekayaan yang dimiliki oleh subak;
b. Mencatatkan aliran keuangan subak baik yang diperuntukan bagi kepentingan anggota termasuk pembelian sarana dan prasarana subak termasuk penerimaan/pemasukan kas subak;
c. Memiliki tanggung jawab kepada kelian subak terhadap segala pemasukan dan pengeluaran terhadap keuangan atau kekayaan subak.
Sementara itu, saye subak memiliki beberapa tugas yaitu:
a. Membantu penyampaian segala perintah/ informasi dan pengurus subak kepada seluruh anggota melalui kelihan tempek;
b. Memiliki tanggung jawab kepada kelian subak maupun kelian tempek atas segala perintah atau informasi yang ditugaskan kepadanya.
Jaringan irigasi (bangunan dan saluran irigasi) adalah seperti bendung (empelan), terowongan, jaringan utama (saluran primer dan sekunder), bangunan bagi, bangunan bagi sadap, dan lain sebagainya ) serta fasilitas irigasi, seperti pintu air; selain fisik sawah-sawah dalam persubakan. Secara umum aspek fisik dalam unit pelayanan wilayah subak meliputi areal sawah, jaringan dan bangunan.
Bangunan utama dalam subak adalah bangunan saluran irigasi yan terdiri atas:
1. Empelan atau bendungan untuk membendung air sungai dan mngalirkan ke areal persawahan. Ukuran bendungan bervariasi bergantung pada jumlah subak yang menggunakan.
2. Telabah adalah saluran penyalur air langsung dari bendungan.
3. Tembuku atau bangunan bagi air diberikan nama sesuai nama saluran air di sebelah hulunya. Misalnya tembuku aya untuk bangunan yang membagi air dari telabah aya ke telabah gede. Sedangkan tembuku gede membagi air dari telabah gede ke telabah cerik.
4. Pengalapan yaitu lahan sawah tempat petani memanen hasil pertanian dan merupakan lahan sawah yang paling utama. Pada setiap pengalapan terdapat sebuah pelinggih atau bangunan suci yang disebut Sanggah Catu.
Dalam suatu unit subak, jaringan pelayanan irigasinya dimulai dengan empelan (bendung) pada ruas sungai. Kemudian pada satu atau kedua sisi ruas sungai dapat dibuat bangunan pintu pemasukan air yang disebut buka (intake), yang dilanjutkan dengan saluran air yang disebut telabah (saluran primer). Pada unit subak, empelan merupakan wilayah hulu yang ditandai oleh adanya bangunan suci yang disebut Pura Ulun Empelan (Sumarta, 1992). Selanjutnya, pada akhir dari telabah (saluran primer) ini, terdapat bangunan bagi yang disebut tembuku aya (bangunan bagi sekunder), selanjutnya diikuti dengan saluran yang disebut telabah pemaron (saluran sekunder) sampai pada areal sawah. Jaringan irigasi sistem subak, secara umum adalah sumber airnya sangat bergantung pada debit air di sungai yang disadap. Terdapat kecenderungan bahwa debit air sungai sangat dipengaruhi oleh musim, dimana selama musim hujan debit air yang disadap jumlahnya melimpah, sebaliknya pada musim kemarau debit air yang disadap sangat minim. Seperti yang dijelaskan oleh Pasandaran (1980), bahwa unsur pengelolaan akan semakin nampak peranannya justru pada kondisi debit air minimum, seperti ditunjukkan oleh adanya praktek pergiliran tanaman.
2. 3Tantangan Subak Saat Ini
1. Persaingan Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian Lokal dan Impor yang Semakin Tajam Persaingan dalam pemasaran hasil pertanian dari dalam negeri dan luar negeri semakin tajam. Bahkan saat ini, pasar swalayan di kota – kota besar termasuk Denpasar sudah kebanjiran produk impor sehingga hasil pertanian lokas semakin tergeser. Untuk tetap mampu bertahan dan bersaing di era ekonomi global seperti sekarang, sudah saatnya kkta meingkatkan mutu dan kualitas hasil pertanian.
Para petani anggota subak selama ini masih bertindak secara individual. Padahal, petani kita sebagian besar adalah petani dengan luas Garapan yang tergolong sempit, dengan permodalan terbatas dan posisi tawar yang lemah. Kelembagaan subak belum dimanfaatkan secara optimal sebagai wadah Bertani yang beroirientasi agribisnis.
Dalam menghadapi persaingan sat ini, sudah selayaknya petani menjadikan subak sebagai wadah dalam melaksanakan kegiatan berorientasi bisnisbukan sekedar sebagai tujuan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.
2. Berkurangnya Areal Persawahan Beririgasi Akibat Alih Fungsi Lahan
Di Bali, dalam beberapa tahun belakangan, diperkirakan sekitar 1000 ha areal persawahan per tahun telah beralihfungsi . Berkurangnya areal persawahan terjadi sangat pesat terutama di daerah perkotaan. Diperkirakan, hasil dalam Bertani yang kurang memuaskan menyebabkan para petani tergiur dengan harga tanah yang melambung tinggi. Jika hal ini terus terjadi, subak akan dapat saja mengalami kepunahan dan hal ini akan berpengaruh pada kebudayaan Bali mengingat subak adalah salah satu pilar kebudayaan Bali.
3. Ketersediaan Air Semakin Terbatas
Meningkatnya kebutuhan air dalam segi kuantitas maupun kualitas seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di bidang pemukiman, industri, maupun pariwisata. Pemanfaatan air dari berbagai sektor diluar pertanian dengan sektor pertanian akan mengalami peningkatan dan cenderung menjurus kea rah konflik. Mengingat air menjadi semakin langka maka para petani anggota subak dituntut untuk mampu mengelola air secara lebih efisien dan demikian pula para pemakai air lainnya agar mampu mengembangkan budaya hemat air.
4. Kerusakan Lingkungan khususnya Pencemaran Sumberdaya Air
Di beberapa tempat telah muncul keluhan-keluhan dari para petani tentang adanya pencemaran lingkungan khususnya sumberdaya air pada sungai dan saluran irigasi akibat adanya limbah industri dan limbah dari hotel serta pemukiman. Kecenderungan menurunnya kualitas air ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah industri yang mengeluarkan limbah beracun yang disalurkan melalui sungai maupun saluran irigasi. Dalam kaitan ini subak dituntut untuk mampu berperan aktif dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.
5. Penyerahan Kembali Tanggung Jawab Pengelolaan Jaringan Irigasi kepada Petani Keterbatasan kemampuan pemerintah dalam hal pendanaan dan personil dalam melakukan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi maka kebijakan yang dikeluarkan adalah dengan memberikan tanggung jawab pengelolaan jaringan irigasi kepada petani dan subak. Untuk jaringan irigasi di atas 500 ha para petani diwajibkan membayar Iuran Pelayanan Irigasi (IPAIR). Sedangkan untuk yang di bawah 500 ha diserahkan sepenuhnya kepada P3A/subak melalui program Penyerahan Irigasi Kecil (PIK).
Adanya tuntutan finansial akibat tanggung jawab memikul beban OP jaringan irigasi maka subak seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui
berbagai kegiatan pengumpulan dana bersama. Misalnya, dengan memanfaatkan lembaga subak sebagai wahana untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berorientasi ekonomi/ agribisnis.
6. Berkurangnya Minat Pemuda untuk Bekerja Sebagai Petani
Ada kecenderungan bahwa berusahatani di sawah dianggap tidak lagi dapat mendukung peningkatan kesejahteraan petani dibandingkan dengan bekerja di sektor industri dan jasa khususnya yang berkaitan dengan pariwisata. Hal ini disebabkan karena sempitnya luas tanah garapan dan rendahnya nilai tukar petani. Bekerja di luar sektor pertanian cenderung lebih menarik dibandingkan jadi petani yang serba bergelimang lumpur dan penuh resiko akibat kegagalan panen dan fluktuasi harga.
Dapat dimengerti kalau pemuda-pemuda desa dari keluarga petani cenderung meninggalkan orang tua mereka dan pergi ke kota mencoba mencari pekerjaan yang lebih bergengsi. Selain itu, para generasi muda yang mencari ilmu di bidang pertanian juga cenderung memilih bekerja di sekto lain yang dianggap lebih menjanjikan, padahal tanggung jawab kita yang seharusnya memajukan pertanian dengan ilmu dan teknologi saat ini. Dapat diduga pula bahwa dalam beberapa tahun mendatang yang tinggal di daerah pedesaan bekerja sebagai petani adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut yang tentunya kurang produktif lagi. Kecenderungan ini kiranya dapat berimplikasi negatif terhadap kehidupan subak itu sendiri. Subak sebagai organisasi petani dituntut untuk mampu menciptakan kondisi yang dapat menarik kaum muda untuk bekerja sebagai petani modern dan profesional.
2.4 Upaya Mempertahankan Eksistensi Subak
Melihat subak yang masih bertahan hingga saat ini sejak awal berdirinya, maka seharusnya subak mampu menghadapi tantangan saat ini dan kedepannya. Diperlukan upaya pemberdayaan subak untuk meningkatkan eksistensi dan potensi subak. Subak memiliki bebeapa potensi yang dapat dikembangkan antara lain :
➢ Pengawasan dan monitoring dapat dilakukan oleh semua anggota subak baik pengurus maupun anggota dalam menerapkan peraturan yang telah disepakati.
➢ Semangat gotong royong yang tinggi.
➢ Batas wilayah yang jelas berdasarkan prinsip hidrologis.
➢ Subak mempunyai landasan filosofis Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, Tuhan, dan lingkungan.
Selain potensi, subak juga memiliki beberapa kelemahan antara lain :
➢ Belum memiliki status badan hukum.
➢ Sempitnya luas garapan petani dan banyak yang bukan pemilik lahan.
➢ Kurangnya pemilikan modal dan lemahnya posisi tawar karena bertindak sendiri terkait produksi dan pemasaran.
➢ Terbatasnya kemampuan petani terhadap teknologi saat ini.
Tantangan dan kelemahan subak diharapkan menjadi peluang subak untuk berkembang dan berinovasi agar tetap dapat mempertahan eksistensi dan kesejahteraan anggota subak. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperkuat eksistensi subak antara lain : A. Mendorong dan memfasilitasi wadah koordinasi subak gede dan subak agung.
B. Mengadakan program pemberian status badan hukum bagi subak agar dapat lebih berkembang sebagai Lembaga yang berorientasi agribisnis.
C. Mengadakan program pelatihan dan penyuluhan bagi para petani terutama pengurus subak.
D. Menggalang kerjasama antar subak dan LSM atau instansi terkait.
3. KESIMPULAN DAN SARAN
Tantangan yang dihadapi subak tidak hanya dari masa sekarang namun juga yang akan datang, antara lain : liberalisasi perdagangan, alih fungsi lahan, terbatasnya ketersediaan air karena kebutuhan yang meningkat dan penurunan kualitas akibat pencemaran, dan berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Melihat potensi yang dimilki subak, tantangan – tantangan tersebut seharusnya dapat menjadikan subak lebih berkembang dan memperkuat eksistensinya. Potensi tersebut misalnya: adanya struktur organisasi yang jelas dilengkapi dengan aturan-aturan beserta sanksi-sanksi yang ketat; semangat gotong- royong yang tinggi; memiliki landasan filosofis Tri Hita Karana; adanya mekanisme penanganan konflik.
Meski memiliki potensi yang baik, subak juga memiliki kelemahan yang harus diperhatikan. Sebaiknya perlu dilakukan beberapa upaya untuk terus memperkuat dan mempertahankan eksistensi subak antara lain: memfasilitasi pembentukan subak-gede dan subak-agung; mengadakan program-program yang relevan dalam rangka lebih memperkokoh kelembagaan subak, seperti misalnya pemberian status badan hukum, program pelatihan dan pendidikan serta penyuluhan dalam berbagai bidang; menetapkan kebijakan yang dapat mengurangi percepatan alih fungsi sawah; memfasilitasi pengembangan subak yang mampu berperan ganda yakni sebagai lembaga irigasi sekaligus sebagai lembaga ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA
Budiasa, I, W., 2010. “Peran Ganda Subak Untuk Pertanian Berkelanjutan Di Provinsi Bali”, AGRISEP Vol. 9 No. 2, September 2010 Hal: 153 -165. Denpasar: Universitas Udayana.
Pradnyawathi, Ni Luh M. and Adnyana, G,M., 2017. “Pengelolaan Air Irigasi Sistem Subak”.
dwijenAgro Vol 3 No.2, November 2017. Denpasar: Universitas Udayana.
Sutawan, N., 2012. “Eksistensi Subak Di Bali: Mampukah Bertahan Menghadapai Berbagai Tantangan”, Denpasar: Universitas Warmadewa.
Sutawan, N., M. Swara, W. Windia, W. Suteja, W. Sudana dan K. Suamba, 1995. Penerimaan dan Pengeluaran Organisasi Subak dan Subak-gede di Lingkungan Subak-agung Yeh Ho, Kabupaten Tabanan dan Subak-agung Gangga Luhur, Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali.
Denpasar: Universitas Udayana. Mimeo.
Windia,W. S. Pusposutardjo, N. Sutawan, P. Sudira, S. S. Arif, 1995. Sistem Irigasi Subak Dengan Landasan Tri Hita Karana (Thk) Sebagai Teknologi Sepadan Dalam Pertanian Beririgasi.