MAKALAH
TEKNIK BUDIDAYA PADI DI LAHAN RAWA PASANG SURUT (STUDI KASUS)
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Produksi Padi dan Jagung kelas A
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Ir. Hj. Yuyun Yuwariah, MS.
Disusun oleh:
Kelompok 1
Siti Robiah Nurfajriah 150510210005
Ruri Ruhiat 150510210015
Aulia Zahrah 150510210025
Dinda Mutiara Damayanti 150510210030
Mikyal Karima 150510210135
Muhammad Al Faatih Mufiid 150510210238
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN 2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia - Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Teknik Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut (Studi Kasus)”. Tujuan penulisan makalah untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pada Mata Kuliah Produksi Padi dan Jagung. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang bagaimana budidaya padi di lahan rawa pasang surut, dan mengetahui produktivitas yang dihasilkan padi ketika ditanami di lahan rawa pasang surut..
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini. Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penyusun menunggu kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Jatinangor, 21 November 2023
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...1
BAB I PENDAHULUAN...3
1.1 Latar Belakang... 3
1.2 Rumusan Masalah...4
1.3 Tujuan Penulisan...4
BAB II PEMBAHASAN...5
2.1 Lahan Rawa Pasang Surut... 5
2.2 Teknik Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut...5
2.3 Aspek dalam Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut...6
2.4 Tantangan dan Hambatan dalam Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut... 8
2.5 Potensi Hasil atau Produktivitas Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut...8
BAB III STUDI KASUS... 10
3.1 Metode Budidaya Padi pada Studi Kasus... 10
3.2 Potensi Hasil Padi pada Studi Kasus... 13
3.3 Kelebihan, Kekurangan dan Solusi pada Studi Kasus... 14
PENUTUP...16
4.1 Kesimpulan Makalah... 16
DAFTAR PUSTAKA... 17
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lahan rawa di Indonesia mempunyai peran yang semakin penting dan strategis dalam pembangunan pertanian, terutama dengan latar belakang pesatnya pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri serta semakin berkurangnya lahan subur akibat penggunaan non-pertanian. Dinamika perkembangan penduduk dan pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat akan menyebabkan peningkatan kebutuhan pangan, termasuk gizi, dan tantangan ke depan akan mencakup upaya peningkatan produksi pangan pada khususnya dan produksi pertanian pada umumnya. Oleh karena itu, intensifikasi, ekspansi, dan diversifikasi pertanian merupakan syarat dan tantangan yang tidak bisa dihindari.
Mengingat terbatasnya jumlah lahan subur yang tersedia dan permintaan produk pertanian yang meningkat pesat, penggunaan lahan suboptimal, termasuk lahan rawa, merupakan pilihan yang logis. Namun, kontribusi lahan rawa terhadap produksi pertanian masih rendah karena penggunaan lahan yang kurang optimal. Aspek kimia tanah dan lingkungan yang sering menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pola tanam yang masih didominasi IP 100, dan penerapan teknologi pada lahan yang masih terbatas merupakan potret kondisi lahan yang paling penting.
Sifat-sifat kimia tanah yang tidak mendukung pertumbuhan tanaman meliputi: PH tanah rendah, kadar Al, Fe, Mn, SO4 dalam tanah yang tinggi, salinitas tanah tinggi yaitu P, Cu, Zn, B dengan kadar hara tanah rendah. Keasaman tanah di lahan rawa, khususnya lahan rawa yang baru dibuka, sangat tinggi (pH tanah < 4) dan kandungan Fe2+ tanah juga tinggi (300–400 ppm) (Widjaja-Adhi dkk. 2000). Penyebab permasalahan pada tanah sulfat masam adalah adanya pirit teroksidasi (FeS2). Lapisan pirit ini sebenarnya tetap berada pada lapisan bawah dan berada pada kondisi anaerobik, namun akibat pengembangan lahan seperti reklamasi dan pembajakan, pirit tersingkap bahkan sebagian muncul ke permukaan tanah sehingga menyebabkan oksidasi (Dent, 1986). Pirit tidak stabil dan mudah teroksidasi dalam kondisi aerobik, mengakibatkan penurunan keasaman tanah secara drastis, mencapai
pH 2-3 dan menghambat pertumbuhan sehat hampir semua tanaman (Mensvoort et al. al.
1996).
Selain faktor tanah, cekaman lingkungan akibat deraan perubahan iklim (banjir, kekeringan, intrusi air laut, dan lain-lain) juga menambah kesulitan petani dalam mengelola lahannya. Dengan demikian maka perlu teknologi pengelolaan lahan yang dapat mengatasi masalah tanah dan cekaman lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Penataan lahan perlu dilakukan pada lahan pasang surut tanah sulfat masam untuk membuat lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut:
1. Apa itu lahan rawa pasang surut?
2. Bagaimana teknik budidaya padi di lahan rawa pasang surut?
3. Aspek apa saja yang perlu diperhatikan dalam budidaya padi di lahan rawa pasang surut?
4. Apa saja tantangan dan hambatan dalam budidaya padi di lahan rawa pasang surut?
5. Bagaimana potensi hasil atau produktivitas budidaya padi di lahan rawa pasang surut?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut:
1. Agar mahasiswa mampu mengetahui lahan rawa pasang surut
2. Agar mahasiswa mampu memahami teknik budidaya padi di lahan rawa pasang surut 3. Agar mahasiswa mampu memperhatikan aspek dalam budidaya padi di lahan rawa
pasang surut
4. Agar mahasiswa mampu mengetahui tantangan dan hambatan dalam budidaya padi di lahan rawa pasang surut
5. Agar mahasiswa mampu mengetahui potensi hasil atau produktivitas budidaya padi di lahan rawa pasang surut
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Lahan Rawa Pasang Surut
Lahan pasang surut merupakan jenis lahan yang ketersediaan airnya dipengaruhi oleh luapan air sungai maupun laut. Lahan pasang surut dapat diklasifikasikan berdasarkan tinggi rendahnya pasang atau luapan air. Adapun klasifikasi tersebut terdiri dari lahan tipe A yang selalu terluapi air saat terjadinya pasang, baik pasang tunggal (besar) ataupun pasang ganda (kecil), lahan tipe B yang hanya terluapi air pada saat pasang tunggal, lahan tipe C yang tidak terluapi air saat pasang tunggal ataupun ganda tetapi secara tidak langsung mempengaruhi muka air tanah kurang dari 50 cm, dan lahan tipe D yang memiliki karakteristik seperti lahan tipe C tetapi muka air tanah lebih dari 50 cm (Masganti dkk., 2017).
Luas lahan pasang surut di Indonesia menurut BBSDLP (2016) yakni sekitar 8,92 juta hektar. Adapun luas lahan yang telah direklamasi sekitar 2,83 juta ha dan lahan yang belum direklamasi sekitar 6,09 juta ha. Menurut Darsani & Alwi (2022) lahan rawa pasang surut berpotensi untuk dijadikan lahan sawah. Sekitar 407.594 ha lahan pasang surut telah diubah menjadi lahan sawah pada tahun 2011 (Ritung (2011) di dalam Darsani & Alwi, 2022).
Adapun potensi lahan pasang surut yang dapat dijadikan lahan sawah yakni sekitar 2,979.850 ha (Darsani & Alwi, 2022).
2.2 Teknik Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut
Teknik budidaya / sistem tanam padi secara konvensional pada lahan rawa pasang surut pada umumnya terdiri dari sistem tegel, sistem jajar legowo dan RAISA.
1. Sistem Tegel
Sistem tegel merupakan sistem tanaman padi dengan jarak tanam yang dibentuk kotak-kotak menyerupai tegel atau ubin dengan menyusun benih secara tandur (tanam mundur). Sistem tegel ini memiliki cukup banyak kekurangan diantaranya yaitu mengurangi produktivitas padi karena hanya tanaman pinggir saja yang mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak, jarak tanam terlalu dekat sehingga terjadi kesulitan dalam pemupukan, dan tingkat serangan organisme pengganggu tanaman meningkat karena jarak tanam yang kurang teratur.
2. Sistem Jajar Legowo
Sistem jajar legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan cara mengatur jarak tanam antar rumpun dan barisan sehingga terjadi pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebarkan jarak antar barisan sehingga dapat memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir. Sistem jajar legowo juga memberikan ruang tumbuh lebih longgar sekaligus populasi lebih tinggi serta mampu memberikan sirkulasi udara dan pemanfaatan sinar matahari lebih baik untuk tanaman, selain itu sistem ini memudahkan dalam pemupukan dan pengendalian hama penyakit.
3. Produksi Padi Sawah Pasang Surut Intensif, Super dan Aktual (RAISA)
Teknologi sistem produksi padi sawah pasang surut intensif, super dan aktual (RAISA) merupakan rangkai komponen teknologi yang pada prinsipnya mengambil dari Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi pasang surut (Hariyadi, 2021). Namun demikian komponennya menjadi aktual, karena menggunakan hasil inovasi Balitbangtan terkini untuk pengelolaan dan sistem produksi padi di lahan rawa pasang surut.
Dikatakan intensif karena teknologi ini mendorong peningkatan hasil dan peluang peningkatan indeks pertanaman dari 1 menjadi 2 atau 3 kali dalam satu tahun.
Teknologi Sistem Produksi Padi Sawah Pasang Surut Intensif, Super, dan Aktual (RAISA) menggunakan inovasi dari Balitbangtan, yang mencakup berbagai komponen teknologi untuk pengelolaan dan sistem produksi padi di lahan rawa pasang surut.
Beberapa komponen teknologi yang digunakan dalam RAISA antara lain adalah persiapan lahan, penggunaan pupuk hayati biotara, pengendalian hama penyakit, dan aplikasi teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi pasang surut. Selain itu, Balitbangtan juga telah mengembangkan varietas padi unggul baru untuk lahan pasang surut (Amin, 2021). Dengan menggunakan inovasi ini, teknologi RAISA bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi padi dan keberlanjutan usaha tani di lahan pasang surut.
2.3 Aspek dalam Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut
Dalam kegiatan budidaya padi di lahan rawa pasang surut, terdapat aspek-aspek yang perlu diperhatikan agar penanaman dapat dilakukan secara optimal. Berikut merupakan aspek-aspek yang perlu diperhatikan agar budidaya padi di lahan rawa pasang surut:
1. Perluasan areal
Perluasan areal lahan rawa pasang surut terbuka luas karena potensi lahan rawa pasang surut yang cocok untuk pertanian ada sekitar antara 14,97 juta ha (BBSDLP 2014).
Angka ini menunjukkan potensi luasan yang cukup besar, sehingga dibutuhkan upaya untuk dapat memanfaatkan lahan ini sebagai sumber produksi pertanian.
2. Peningkatan Indeks Pertanaman
Peningkatan IP dan produksi ini perlu dukungan teknologi pengelolaan air untuk meningkatkan ketersediaan air, khususnya pada musim kemarau. Selain itu penggunaan varietas unggul umur pendek dan produktivitas tinggi juga penting untuk menggantikan varietas lokal yang berumur panjang
3. Pengelolaan air
Pengelolaan air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan pertanian di lahan pasang surut dalam kaitannya dengan optimalisasi pendayagunaan dan pelestarian sumberdaya lahannya (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah 1998). Pengaturan tata air ini bukan hanya untuk mengurangi atau menambah ketersediaan air permukaan, melainkan juga untuk mengurangi kemasaman tanah, mencegah pemasaman tanah akibat teroksidasinya lapisan pirit, mencegah bahaya salinitas, bahaya banjir, dan mencuci senyawa beracun yang terakumulasi di zona perakaran tanaman (Suryadi et al. 2010) 4. Varietas umur genjah
Varietas unggul mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan lokal, karena memiliki umur pendek (115-135 hari) dibandingkan varietas lokal 9-11 bulan, sehingga dapat tanam dua kali setahun (IP 200), serta hasil tinggi, seperti varietas Margasari, Martapura, Inpara-1,2, 3, 4, 5, 6, dan 7 dapat menghasilkan 3,5-5,0 t ha-1, dan tahan masam, genangan dan keracunan.
5. Peningkatan produktivitas
Untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa perlu masukan teknologi inovasi, antara lain, penataan lahan, pengolahan tanah, ameliorasi dan pemupukan berimbang, dan pengendalian gulma, hama dan penyakit yang intensif dan terpadu serta penguatan kelembagaan.
6. Ameliorasi dan pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara dari luar ke dalam tanah agar tingkat ketersediaannya meningkat. Penambahan unsur hara dilakukan berdasarkan status hara
tanah dan kebutuhan tanaman agar kondisi hara dalam tanah berimbang atau sesuai target produktivitas tanaman yang akan dicapai.
2.4 Tantangan dan Hambatan dalam Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut
Dalam kegiatan budidaya padi di lahan rawa pasang surut tidak selalu berjalan dengan baik. Ada kalanya terdapat tantangan maupun hambatan yang akan terjadi dalam kegiatan budidaya tersebut. Berikut merupakan tantangan dan hambatan yang perlu diatasi dan diketahui sebelum melakukan kegiatan budidaya padi di lahan rawa pasang surut:
1. Tingkat kesuburan lahan dikatakan rendah
2. Petani masih banyak menggunakan cara tradisional 3. Tingginya serangan organisme pengganggu
4. Pemanfaatan lahan belum optimal 5. Tingkat pH tanah yang rendah
6. Petani cenderung sulit mengelola lahan akibat adanya cekaman lingkungan dari perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, intrusi air laut, dan sebagainya.
Di sisi lain, pengembangan dan optimalisasi pemanfaatan lahan rawa pasang surut juga menghadapi hambatan non-teknis antara lain:
1. Permodalan
2. Ketersediaan tenaga kerja
3. Penguasaan teknologi oleh petani
2.5 Potensi Hasil atau Produktivitas Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut
Pengelolaan lahan yang baik, ketersediaan infrastruktur dan sarana produksi yang memadai, disertai oleh kebijakan insentif yang tepat lahan pasang surut mampu menghasilkan produksi yang cukup tinggi, karena tanaman padi mempunyai kemampuan adaptasi yang lebih baik di lahan pasang surut Suwarno et al. (2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penanaman varietas adaptif (Koesrini, dkk., 2011), hasil padi di lahan rawa pasang surut dapat ditingkatkan. Hasil penelitian ternyata lahan rawa pasang surut mampu menghasilkan padi 7- 8 ton GKG ha-1 di Telang, Sumatera Selatan dan 5-6 ton GKG ha-1 di Bintang Mas, Kalimantan Barat (Sutanto, 2009). Pada lahan sawah yang sering terluap air mengakibatkan terjadinya perubahan potensial redoks (Eh) dan keasaman tanah
(pH) yang sangat berpengaruh terhadap penyediaan dan pengambilan hara serta akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi padi (Ponnamperuma, 1985).
Varietas Pandan Wangi memerlukan kondisi iklim yang baik, namun adaptasi pandan Wangi di daerah pasang surut dengan kendala teknis yang cukup tinggi dibandingkan dengan daerah asalnya menunjukkan adaptasi yang tinggi terlihat dari produksi yang dicapai masih diatas 5 ton/ha, sedangkan potensi hasil adalah 7,4 t/ha GKG dan rerata hasil 5,7 t GKG per ha (Keputusan Menteri Pertanian, 2004). Setiap varietas akan mempunyai produktivitas optimal pada kondisi lahan yang sesuai, namun tidak tidak semua varietas mampu tumbuh dan berkembang pada berbagai agroekosistem (Kustiyanto, 2001). Varietas yang mempunyai tingkat produktivitas paling tinggi umumnya adalah Inpari 42 Varietas Inpari 42 merupakan salah satu varietasGreen Super Rice(GSR) yang dirancang mampu tetap berdaya hasil tinggi pada kondisi optimum maupun pada kondisi lingkungan tumbuh yang kurang baik, umumnya dihasilkan produktivitas nya yaitu 6-7 ton/ha.
BAB III STUDI KASUS
3.1 Metode Budidaya Padi pada Studi Kasus
Surjan berasal dari bahasa Jawa lurik atau garis-garis. Metode budidaya padi dengan sistem surjan terlihat dari atas seperti susunan garis-garis berselang-seling antara bagian guludan dan bagian tabukan. Bagian atas sistem surjan biasanya ditanami oleh tanaman tanaman lahan kering seperti palawija, sayuran, dan hortikultura, sedangkan bagian bawahnya ditanami padi sawah. Sistem surjan pada dasarnya merupakan kearifan lokal masyarakat petani di lahan rawa untuk kebutuhan hidupnya. Petani menata lahannya menjadi dua bagian, yaitu bagian yang ditinggikan (guludan) dan bagian yang digali (tabukan) sehingga terbentuklah sistem sawah dan sistem tegalan dalam satu hamparan. Dalam sistem ini petani dapat mengoptimalkan ruang dan waktu usaha tani dengan beragam komoditas dan pola tanam. Seiring dengan bertambahnya waktu, pengelolaan sistem surjan telah mengalami berbagai modifikasi dengan mengakomodasi hasil-hasil penelitian mutakhir, seperti minimum tillage, penggunaan herbisida, varietas unggul baru, dan lain-lain.
Gambar 3.1 Keragaman sistem surjan di lahan pasang surut pola padi + jeruk (kiri); padi + sayuran (kanan)
Penerapan sistem surjan di lahan rawa sangat sesuai dengan kondisi dan kendala lahan rawa yang berkaitan dengan kondisi hidrologi atau tata air yang belum dapat dikuasai secara baik yang menyebabkan resiko kegagalan dalam usaha tani sangat tinggi (Noor, 2004).
Dalam arti lain, surjan di lahan rawa ini bertujuan untuk menekan resiko kegagalan dalam usaha tani, sehingga jika terjadi gagal panen pada padi, masih ada panen palawija atau
sayuran sebagai sumber pendapatan. Petani menerapkan pola tanam polikultur dalam sistem surjan, yaitu menanam beberapa jenis tanaman budidaya, baik yang ditanam di bagian tabukan maupun guludan. Pola tanam polikultur bermanfaat dalam pengendalian hama secara alami. Menurut Reijntjes et al. (1999), pola tanam polikultur memberikan efek positif untuk mengurangi populasi serangga hama, penyakit dan gulma.
Sistem surjan merupakan salah satu bentuk upaya penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman di lahan rawa. Secara umum lebar guludan 3-5 m, dan tinggi 0,5-0,6 m, sedangkan tabukan dibuat dengan lebar 3-20 m. Setiap ha lahan dapat dibuat 6-10 guludan, dan 5-9 tabukan ( gambar 3.2)
Gambar 3.2 Bentuk dan penampang melintang surjan Keterangan:
● Lebar guludan L = 3 m sampai dengan 6 m
● Tinggi guludan D = 0,6 m sampai dengan 0,8 m
● Lebar tabukan B = 3 m sampai dengan 20 m
● Talud/kelerengan T=0,5:1 sampai dengan 2:1 (horizontal: vertikal)
● Panjang P = sesuai kondisi lapangan
Seiring pesatnya perkembangan teknologi pertanian, sistem surjan berkembang dan dilengkapi berbagai teknologi untuk meningkatkan produksi tanaman, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim di lahan pasang surut. Beberapa teknologi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pengelolaan Air
Sistem tata air di lahan pasang surut adalah aliran satu arah, yang dirancang sedemikian rupa agar air dapat dikelola untuk masuk dan keluar melalui saluran tersier
atau handil yang berlainan. Maka pada masing-masing muara saluran tersier dipasang pintu air otomatis tipe flapgates. Pintu air pada saluran pemasukan (irigasi) dirancang semi otomatis, yakni hanya membuka kedalam pada saat air pasang dan menutup sendiri pada saat air surut. Sistem aliran satu arah ini memungkinkan terjadinya sirkulasi air dalam satu arah baik air permukaan maupun air bawah tanah. Air yang masuk melalui saluran irigasi kedalam petakan lahan dialirkan melalui saluran drainase. Selanjutnya pada saluran kuarter dipasang pintu pengatur tinggi muka air yang dapat dibuka dan ditutup secara manual sesuai dengan keperluan.
2. Penataan Tanaman
Pemanfaatan lahan rawa secara optimum dengan peningkatan indeks pertanaman akan memberikan kontribusi cukup besar dalam peningkatan produksi beras nasional..
Karena berumur genjah, penggunaan varietas unggul didukung dengan pengelolaan air dan tanah yang baik memungkinkan petani dapat menanamnya 2 kali dalam setahun.
Maka penggunaan varietas unggul selain meningkatkan produksi persatuan luas juga meningkatkan produksi persatuan waktu. Pengelolaan hara dan penggunaan varietas toleran di lahan sulfat masam telah terbukti meningkatkan hasil berbagai jenis sayuran.
Adanya penemuan-penemuan varietas yang tahan salinitas, kekeringan, dan genangan merupakan harapan dari seluruh penduduk dunia dalam menghadapi perubahan iklim di masa mendatang, sehingga ancaman kelaparan dan krisis pangan dapat teratasi.
3. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dengan olah tanah minimal dan tanpa olah tanah (TOT) adalah pengelolaan lahan yang tepat dalam menghadapi perubahan iklim. Sistem tanpa olah tanah selain melindungi tanah dari kerusakan juga dapat menurunkan temperatur tanah, menurut Rinaldi et al. (2000) manajemen tanpa olah tanah dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air, menurunkan evaporasi dan temperatur serta meningkatkan infiltrasi dan hasil tanaman. Selain itu, Simatupang et al. (2000) juga mengungkapkan bahwa hasil padi pada perlakuan TOT lebih tinggi dibanding perlakuan tajak selama 4 musim tanam berturut-turut.
4. Pengaturan Waktu Tanam
Balitbangtan melalui Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) dan Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) telah mengembangkan sistem
informasi Kalender Tanam Terpadu Lahan Rawa. Penyusunan Kalender Tanam (Katam) Lahan Rawa dimulai sejak tahun 2011 hingga kini sistem tersebut terus diupdate. Sistem Informasi Katam Rawa menyediakan informasi tentang potensi pola tanam, waktu tanam, luas areal tanam potensial dan rekomendasi teknologi adaptif pada level Kecamatan yang pada akhirnya berfungsi dalam pengamanan produksi dan pencapaian program peningkatan produksi beras nasional (P2BN).
5. Teknologi Pemupukan
Berdasarkan penelitian Mukhlis et al. (2010), menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hayati BIOTARA dapat meningkatkan efisiensi pupuk anorganik >30% dan dapat meningkatkan hasil padi 20,78 - 34,44% . Bahan pembawa (carrier) yang baik merupakan salah satu syarat yang menentukan mutu pupuk hayati. Dalam formulasi pupuk hayati, bahan pembawa harus memberikan lingkungan hidup yang baik bagi mikrobanya selama produksi, transportasi, dan penyimpanan sebelum pupuk hayati tersebut digunakan agar populasi minimal mikroba yang hidup terpenuhi.
3.2 Potensi Hasil Padi pada Studi Kasus
Tingkat produktivitas tanaman padi di lahan pasang surut dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah kondisi fisik lahan, pemupukan, penggunaan varietas dan juga serangan hama dan penyakit. Produksi tanaman di lahan pasang surut dapat ditingkatkan dengan penggunaan varietas adaptif. Seperti Inpara (Inbrida Padi Rawa) merupakan varietas yang adaptif lahan rawa dan telah dilepas Balitbangtan sejak tahun 2012. Tujuh varietas Inpara yang sudah dilepas, yaitu: Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Inpara 6 dan Inpara 7 memiliki potensi hasil tinggi (4-7 ton/ha), adaptif di lahan rawa (genangan, kemasaman tinggi, dan keracunan besi), dan umurnya lebih genjah (115-135 hari) dibandingkan varietas lokal (210-270 hari). Penerapan tata air berpengaruh terhadap produktivitas dimana sistem aliran satu arah tersebut di lahan sulfat masam telah terbukti meningkatkan produktivitas lahan. Noorginayuwati (1990) melaporkan bahwa penerapan pengelolaan air satu arah (one way flow system) memberikan hasil padi paling tinggi dibandingkan dengan tata air tradisional maupun pengelolaan air dua arah.
Tabel 3.1 Produksi padi pada tiga tipe pengelolaan air di lahan pasang surut sulfat masam, Danda Jaya, Kalimantan Selatan
Peningkatan produktivitas lahan dan hasil padi ini berhubungan erat dengan terjadinya perbaikan kualitas air tanah setelah adanya penerapan sistem aliran satu arah, terutama menurunnya kandungan Fe2+, Al3+ dan SO42- (Vadari et al. 1990).
3.3 Kelebihan, Kekurangan dan Solusi pada Studi Kasus
Kegiatan budidaya padi di lahan pasang surut menggunakan teknik budidaya sistem surjan memiliki beberapa keuntungan yang dapat dirasakan oleh para petani yang menerapkan sistem tersebut. Berikut merupakan keuntungan dari sistem surjan untuk budidaya padi di lahan pasang surut antara lain:
1. Keuntungan ekonomi lebih tinggi, karena menerapkan sistem multi-guna lahan dan multi-komoditas sehingga hasil panen yang didapatkan lebih beragam. Hal tersebut berkontribusi terhadap hasil pendapatan petani yang menjadi lebih tinggi
2. Mengurangi terjadinya serangan hama dan patogen dengan cara memutus siklus hidupnya. Hal ini terjadi karena adanya keragaman jenis tanaman yang ditanam sehingga meningkatkan kelimpahan musuh alami. Berdasarkan hasil penelitian, keberadaan hama kepinding pada lahan dengan sistem surjan lebih rendah dari pada sistem sawah lembaran (sawah pada umumnya). Hal tersebut karena adanya modifikasi habitat dengan alur basah dan alur kering sehingga melibatkan lebih banyak komponen hayati yang saling berinteraksi dan ekosistem yang ada berjalan lebih stabil
3. Meningkatkan ketersediaan pangan, karena sistem surjan memenuhi tiga prinsip ketahanan pangan yakni (1) memperluas areal yang dapat ditanami untuk tanaman pangan; (2) meningkatkan hasil tanaman per satuan luas; dan (3) meningkatkan jumlah tanaman yang dapat ditanam untuk setiap tahunnya
4. Menekan terjadinya kerugian akibat kegagalan panen. Sistem surjan yang menerapkan pola tumpang sari melibatkan tanaman lain selain padi yang dapat ditanam pada daerah tunggukan, sehingga apabila terjadi kegagalan dalam pemanenan padi petani masih bisa mendapatkan hasil dari hasil panen tanaman lain yang ditumpangsarikan
5. Meningkatkan daya guna tenaga kerja keluarga tani
Sementara itu, budidaya padi menggunakan sistem surjan di lahan pasang surut juga memiliki beberapa kekurangan dalam penerapannya antara lain sebagai berikut:
1. Kesulitan dalam pengelolaan lahan. Sistem surjan di lahan rawa pasang surut melibatkan kesulitan pengelolaan lahan, seperti tanaman yang tergenang dan mati jika dalam periodik air pasang lebih dari 15 hari.
2. Kondisi fisika dan kimia tanah. Lahan pasang surut mengalami fluktuasi rejim air dan beragam kondisi fisika dan kimia tanah, yang mempengaruhi keberhasilan sistem surjan.
3. Kemasaman tanah. Kemasaman tanah pada lahan pasang surut dapat menyebabkan keterbatasan dalam pengembangan sistem surjan.
4. Pengontrolan kelebihan air. Sistem surjan menggunakan bagian lembah lahan sebagai pengontrol kelebihan air, yang menjadi penampung kelebihan air. Namun, tanaman yang tumbuh di bagian bukit akan selalu terpengaruh dari genangan air yang tinggi.
Adapun solusi untuk mengatasi kekurangan tersebut agar budidaya padi di lahan pasang surut menjadi lebih optimal antara lain:
1. Pengelolaan lahan yang baik. Petani dapat melakukan pengelolaan lahan yang baik dengan memperhatikan periodik air pasang dan menghindari tanaman yang tergenang dan mati jika dalam periodik air pasang lebih dari 15 hari.
2. Pemilihan varietas padi yang tepat. Pemilihan varietas padi yang tepat dapat membantu mengatasi kekurangan sistem surjan. Varietas padi yang cocok untuk lahan pasang surut adalah varietas yang tahan terhadap genangan air dan memiliki daya tahan terhadap penyakit.
3. Penggunaan teknologi. Petani dapat menggunakan teknologi untuk mengatasi kekurangan sistem surjan, seperti penggunaan pompa air untuk mengontrol kelebihan air dan penggunaan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.
4. Peningkatan keterampilan. Petani dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam mengelola lahan pasang surut dengan mengikuti pelatihan dan lokakarya.
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan Makalah
Lahan pasang surut merupakan jenis lahan yang ketersediaan airnya dipengaruhi oleh luapan air sungai ataupun laut. Lahan pasang surut dapat diklasifikasikan berdasarkan tinggi rendahnya pasang atau luapan air. Terdapat teknik budidaya pada lahan sawah pasang surut yang umum dilakukan yaitu sistem tegel, jajar legowo, dan RAISA. Aspek yang perlu diperhatikan dalam budidaya padi pada lahan sawah pasang surut antara lain perluasan areal, peningkatan IP, pengelolaan air, varietas umur genjah, peningkatan produktivitas,serta ameliorasi dan pemupukan.Dalam kegiatannya juga terdapat hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam budidaya padi di lahan rawa pasang surut. Pengelolaan lahan yang baik, ketersediaan infrastruktur dan sarana produksi yang memadai, disertai oleh kebijakan insentif yang tepat lahan pasang surut mampu menghasilkan produksi yang cukup tinggi, karena tanaman padi mempunyai kemampuan adaptasi yang lebih baik di lahan pasang surut.
Sistem Surjan merupakan salah satu bentuk pengelolaan lahan yang biasa dilakukan oleh petani pasang surut dan terbukti mampu memprediksi perubahan iklim. Sistem ini memiliki aspek budaya, lingkungan, dan ekonomi serta memadukan pengetahuan lokal dengan inovasi teknologi terkini. Paket teknologi untuk sistem Surjan meliputi: sistem pengelolaan air searah dengan gerbang otomatis (flaps) dan balok penghalang, penggunaan tanaman yang diadaptasi di lahan basah pasang surut, pengolahan tanah minimal, kalender tanam lahan basah terintegrasi, penerapan DSS di lahan basah pasang surut dan penggunaan Pupuk Biotara.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, K. (2022). Analisis Efisiensi Usahatani Padi Sawah Pasang Surut Di Kelurahan Kempas Jaya Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau (Doctoral dissertation, Universitas Islam Riau).
Amin, M. (2021, September 7).BPTP Balitbangtan Kalsel Sukses Kembangkan Padi Unggul di Lahan Pasang Surut. ANTARA News Kalimantan Selatan. Retrieved November 22, 2023, fromhttps://kalsel.antaranews.com/berita/277914/bptp-balitbangtan-kalsel- sukses-kembangkan-padi-unggul-di-lahan-pasang-surut
Darsani, Y. R., & Alwi, M. (2022). Inovasi Teknologi Budidaya Padi Unggul di Lahan Rawa Pasang Surut Tipe Luapan C: Kasus Desa Matang Danau, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, vol. 18(1).
41-54.
Hariyadi. (2021, 12 14).Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut. pertanian-mesuji.id.
https://pertanian-mesuji.id/budidaya-padi-di-lahan-rawa-pasang-surut/
Hendra, NP Sri Ratmini. (2019). Produktivitas Varietas Padi Lahan Rawa Pasang Surut pada Berbagai Tipe Luapan Air Pasang. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2019, Palembang 4-5 September 2019.pp. 559-566. Palembang: Unsri Press
Masganti, Nurhayati, Yuliani, N. (2017). Peningkatan Produktivitas Padi di Lahan Pasang Surut dengan Pupuk P dan Kompos Jerami Padi. Jurnal Tanah dan Iklim Vol. 41 No. 1:
17-24.
Mukhlis, Y. Lestari, A. Budiman. 2010. Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Pupuk Mikroba “Biotara” Untuk Meningkatkan Efisiensi Pemupukan > 30% Dan Produksi Padi > 20% Di Lahan Sulfat Masam. Laporan Hasil Penelitian Tahun 2010. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Banjarbaru. Banjarbaru.
Noorginayuwati, 1991. Pengaruh Perbaikan Tata Air Terhadap Produktivitas Lahan Tenaga Kerja dan Pendapatan Rata-rata di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan. Laporan Hasil Penelitian Tahun 1991. Balai Penelitian Tanaman Pangan Banjarbaru.
Banjarbaru.
Noor, M. 2004. Lahan Rawa.; Sifat dan Pengelolaan Tanah Bermasalah Sulfat Masam.PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta, 241 hlm.
Nursyamsi, D., Noor, M., & Haryono. (2014). Sistem Surjan Model Pertanian Lahan Rawa Adaptif Perubahan Iklim. Jakarta: IAARD Press
Peran Si Jago (Sistem Jajar Legowo) dalam Peningkatan Produktivitas Padi di Desa Kalirandu (no date). Program Pusat Pengembangan Informatika dan Desa. Available at:
https://puspindes.pemalangkab.go.id/peran-si-jago-sistem-jajar-legowo-dalam-peningk atan-produktifitas-padi-di-desa-kalirandu/ (Accessed: 22 November 2023). .
Reijntjes, C., B. Haverkort dan A.W. Bayer. 1999. Pertanian Masa Depan, Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. ILEIA. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta. pp: 88-107
Rinaldi, M., G. Rana, M. Introna. 2000.Effects of Partial Cover of Durum Wheat Straw on Soil Evaporation in a Semi-arid Region. In: Ferreira, M.I., Jones, H.G. (Eds.), Proceedings of the Third International Sympoosium on Irrigation of Horticultural Crops, June 28–July 2, 1999, Lisbon (P), Acta Hort. 537, 159–165.
Simatupang, R. S., L. Indrayati., dan Sardjijo. 2000. Teknologi Olah Tanah Konservasi Mendukung Peningkatan Produksi Padi di Lahan Pasang Surut. Dalam prosiding Simposium Nasional Perhimpunan Agronomi Indonesia, Bogor. Hal. 290-300.