• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP DAN HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN KOTA PARIAMAN

N/A
N/A
Bayu Krisna

Academic year: 2024

Membagikan "TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP DAN HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN KOTA PARIAMAN "

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

PRAKTEK KERJA LAPANGAN

TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP DAN HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN

KOTA PARIAMAN

Oleh :

MUHAMAD FAHRI DELFI NPM : 211016154246002

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN

UNIVERSITAS MUARA BUNGO

2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP

DAN HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN KOTA PARIAMAN

NAMA : MUHAMAD FAHRI DELFI

NPM : 211016154246002

PROGRAM STUDI : PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS : PERIKANAN UNIVERSITAS MUARA BUNGO

Disetujui Oleh

Dosen Pembimbing Dosen Penguji

Mohd. Yusuf Amrullah, S.Pi, M.Si , NIDN: 10.060581.04

Mengetahui, Dekan Fakultas Perikanan

Rini Hertati, S. Pi., M.Si NIDN. 10070975.02

KATA PENGANTAR

(3)

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul “TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP DAN HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN KOTA PARIAMAN’’.

Adapun tujuan dari penulisan proposal ini adalah untuk memenuhi syarat sebelum melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan di laksanakan di Perairan Pantai Kota Pariaman Provinsi Sumatra Barat.

Saya mengucapkan Terima kasih kepada Bapak (dosen pembimbing), selaku dosen Pembimbing saya yang telah membimbing saya dalam pembuatan proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini sehingga dapat selesai pada tepat waktu.

Saya menyadari, proposal yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun kami butuhkan demi kesempurnaan proposal ini.

Muara Bungo, Januari 2024

Penulis,

(4)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI Hal

LEMBAR PENGESAHAN...i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

DAFTAR GAMBAR...v

DAFTAR TABEL...vi

DAFTAR LAMPIRAN ...vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang...1

1.2. Tujuan...2

1.3. Manfaat...2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Alat Tangkap Payang...3

2.2. Kontruksi Payang...4

2.3. Pengoperasian Payang...5

2.4. Hasil Tangkapan... 5

2.5. Fishing Ground... 7

BAB III METODE PRAKTEK 3.1. Waktu dan Tempat...8

3.2. Alat Dan Bahan Praktek...8

3.3. Metode Pengambilan Data...8

3.4... Metode Analisis Data...9

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

Gambar 1. Kontruksi Payang... 5 Gambar 2. Peta kota Pariaman... 8

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel Hal

Tabel 1. Alat dan Bahan Praktek Kerja Lapangan...8

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Hal

Lampiran 1. Anggaran Biaya...

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kota Pariaman merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Padang Pariaman, yang terbentuk dengan berlakunya Undang-undang No. 12 Tahun 2002. Secara geografis, Kota Pariaman terletak dipantai barat pulau Sumatera dan berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Pada sisi utara, selatan dan timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Padang Pariaman dan di sebelah barat dengan Samudera Indonesia.

Secara astronomis, Kota Pariaman terletak antara 00° 33‘ 00 “ – 00° 40‘ 43“

Lintang Selatan dan 100° 04‘ 46“ – 100° 10‘ 55“ Bujur Timur. Tercatat memiliki luas wilayah 73,36 km2, dengan panjang garis pantai 12,00 km. Luas daratan kota ini setara dengan 0,17% dari luas daratan wilayah Provinsi Sumatera Barat, dengan 6 buah pulau- pulau kecil; Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso Duo dan Pulau Kasiak. Panjang pantai lebih kurang 12,7 km. Kota pariaman mempunyai dermaga kecil yang menjadi tempat penurunan ikan hasil tangkapan dari nelayan yang mencari ikan di Perairan Pantai Kota Priaman Provinsi Sumatra Barat.

Nelayan Kota Pariaman memiliki beragam alat tangkap ikan salah satunya adalah alat tangkap payang. Alat tangkap payang merupakan alat tangkap modifikasi yang menyerupai trawl kecil yang dioperasikan di permukaan perairan. Dari segi konstruksi alat tangkap tersebut hampir mirip dengan lampara, yang membedakan adalah tidak digunakannya otter board dalam pengoperasiannya. Payang juga mempunyai alat bantu yaitu rumpon. Payang termasuk kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat tarik (Kepmen KKP Kep.06/ MEN/2010 dan No.38/PERMEN-KP/2014) yaitu kelompok alat penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring.

Pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. Payang terdiri dari bagian kantong, badan/perut dan kaki/sayap. Namun ada juga nelayan yang membagi hanya menjadi 2 bagian, yaitu kantong dan sayap. Bagian kantong umumnya terdiri dari bagian-bagian kecil yang tiap bagian mempunyai nama sendiri-sendiri. Namun bagian-bagian ini untuk tiap daerah umumnya berbedabeda sesuai daerah masing-masing. Menurut Siswoyo, S.,& Rahmat, E.(2019), alat tangkap payang di daerah perikanan laut Indonesia dikenal dengan nama orang berbeda-beda, yaitu payang (Jakarta, Tegal, Pekalongan, Batang dan daerah lain di pantai utara Jawa, payang uras

(9)

(Selat Bali dan sekitarnya), payang ronggeng (Bali Utara), payang gerut (Bawean), payang puger (daerah Puger), payang jabur (Padelengan/ Madura, Lampung), Sulawesi dan Indonesia Timur pukat nike (Gorontalo), jala lompo (Kalimanatan Timur, Sulawesi), panja/pajala (Muna, Buton, Luwuk, Banggai), pukat buton (Air Tembaga, Gorontalo, Manokwari, Kupang, Kalabai, Kendari, Flores), jala uras (Sumbawa, Manggarai/Flores), pukat banting (Sumatera Utara, Aceh), pukat tengah (Pariaman, Sungai Limau, Perairan Tiku).

Besar mata jaring mulai dari bagian ujung kantong sampai dengan ujung kaki berbeda-beda, bervariasi mulai dari 1 cm sampai 40 cm. Berbeda dengan jaring trawl dimana bagian bawah mulut jaring lebih menonjol ke belakang. Hal ini dikarenakan payang tersebut umumnya digunakan untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagis yang biasanya hidup dibagian lapisan atas air. Bagian bawah mulut jaring lebih menonjol ke depan maka kesempatan lolos menjadi terhalang dan akhirnya masuk ke dalam kantong jaring (Suwarso & Hariati. 2003).

Alat tangkap payang merupakan alat tangkap modifikasi yang menyerupai trawl kecil yang dioperasikan di permukaan perairan. Dari segi konstruksi alat tangkap tersebut hampir mirip dengan lampara, yang membedakan adalah tidak digunakannya otter board dalam pengoperasiannya. Payang juga mempunyai alat bantu yaitu rumpon.

Untuk teknik pengoperasian alat tangkap dan hasil tangkapan alat tangkap payang, yang digunakan nelayan di Perairan Pantai Kota Pariaman hingga saat ini, Payang (Seine net) masih digunakan sebagai alat tangkap oleh para nelayan di Perairan Pantai Kota Pariaman. Oleh karena itu penulis ini akan melaksanka praktek kerja lapangan untuk mengetahui teknik pengoperasian alat tangkap dan hasil tangkapan alat tangkap payang di perairan Kota Pariaman.

1.2 Tujuan Praktek Kerja Lapangan

Adapun Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara Teknik Pengoperasian alat tangkap dan hasil tangkapan alat tangkap payang di perairan Kota Pariaman.

1.3 Manfaat Praktek Kerja Lapangan

Adapun manfaat dari Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam melakukan teknik pengoperasian alat tangkap payang dan mendeskripsikan cara teknik pengoperasiannya di Perairan Perikanan

(10)

Pantai serta diharapkan dapat memberi manfaat bagi pembaca ataupun stakeholder yang berperan dalam dunia perikanan.

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Alat Tangkap Payang

Alat tangkap payang merupakan alat tangkap yang dioperasikan dengan menangkap gerombol ikan pelagis kecil, jenis alat tangkap payang terdiri atas dua jenis yaitu payang jabur dan payang lais. Payang jabur adalah alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kecil berupa ikan teri/nike sedangkan payang lais adalah alat tangkap yang dioperasikan di atas kapal motor dengan pekerja 4-6 orang sesuai kapal . Menurut Purbayanto dkk, (2010) dalam Wujonarko, (2017), jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan dengan payang adalah ikan yang hidup bergerombol dalam jenis yang sama ataupun dalam jenis yang berbeda. Hasil tangkapan yang terutama jenis - jenis ikan pelagis kecil seperti ikan layar, selar,tongkol, kembung dan tembang.

Payang merupakan alat penangkap yang sudah sejak dulu dikenal nelayan Indonesia, alat ini masih termasuk dalam klasifikasi alat tangkap tradisional, karena pengoperasiannya masih sangat sederhana dan belum menggunakan alat bantu mekanis.

Selain itu, pengoperasian payang juga dilakukan pada daerah penangkapan di sekitar pantai sehingga produktivitas penangkapannya masih tergolong rendah Mustafa, N. W. (2022).

Menurut Purbayanto, et al., (2010) jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan dengan payang adalah ikan yang hidup bergerombol pada lapisan permukaan perairan, baik yang bergerombol dalam jenis yang sama ataupun dalam jenis yang berbeda. Hasil tangkapan yang terutama jenis - jenis ikan pelagis kecil seperti ikan layang, selar, tongkol, kembung, tembang. Alat tangkap payang termasuk pukat kantong lingkar yang umumnya terdiri atas bagian kantong dan sayap.

Alat tangkap payang mempunyai konstruksi kantong yang berbahan waring yang tentunya tidak memberi kesempatan ikan yang muda untuk tumbuh dan berkembang, bertambah nilai ekonominya serta kemungkinan berproduktif sebelum ikan tersebut tertangkap. Payang merupakan salah satu unit penangkapan yang produktif yang dipergunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya perikanan laut (Nur, H. (2021).

2.2 Kontruksi Payang

Menurut Badan Standarisasi Nasional (2005), bagian-bagian dari alat tangkap payang terdiri dari badan jaring, kantong jaring, sayap, tali ris atas, tali ris bawah dan juga tali selembar Sayap/kaki jaring (wing), yaitu bagian jaring yang terpanjang dan terletak di

(12)

ujung depan dari jaring payang. Sayap jaring terdiri atas sayap atas (upper wing) dan sayap bawah (lower wing). Medan jaring bawah (bosoom), yaitu bagian jaring yang terletak di bawah mulut jaring yang menjorok de depan. Medan jaring bawah merupakan selisih antara panjang sayap atas dan panjang sayap bawah. Badan jaring (body), yaitu bagian jaring yang terletak diantara bagian kantong dan bagian sayap jaring. Kantong jaring (cod end), yaitu bagian jaring yang terpendek dan terletak di ujung belakang dari pukat kantong payang. Tali ris atas (head rope), yaitu tali yang berfungsi untuk menggantungkan dan menghubungkan kedua sayap bagian atas, melalui mulut jaring bagian atas. Tali ris bawah (ground rope)¸ yaitu tali yang berfungsi untuk menghubungkan kedua sayap jaring bagian bawah, melalui bagian medan jaring bawah. Tali selambar (warp rope), yaitu tali yang berfungsi sebagai tali penarik pukat kantong payang ke atas geladak kapal.

Alat tangkap payang yang dioperasikan nelayan Majene terdiri atas tiga bagian utama, yaitu sayap, badan dan kantong. Ketiga bagian tersebut dirangkai antara satu bagian dengan bagian lainya hingga terbentuk satu kesatuan dengan konstruksi menyerupai kerucut dengan panjang total mencapai 120-152 meter. Alat tangkap payang ini dioperasikan oleh 8 - 12 orang termasuk juru mudi dan ABK yang bertugas saat operasi penangkapan, sedangkan anak payang yang bertugas mengiring kumpulan ikan masuk kedalam kantong, dan satu orang yang bertugas turun ke laut menggunakan pelampung ban untuk memperbaiki dan merapihkan bukaan jaring payang Nashry, et al (2006).

Payang terbuat dari bahan jaring yang terdiri dari bagian sayap (kiri dan kanan), badan, kantong, tali ris (atas dan bawah), tali selembar untuk menarik alat tangkap, pelampung dan pemberat. Ukuran setiap bagian jaring pada payang berbeda-beda, seperti bagian kantong yang mempunyai ukuran mata jaring (mesh size) yang paling kecil dikarenakan kantong berfungsi untuk tempat berkumpulnya hasil tangkapan yang terjaring.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gumilang (2010), alat tangkap payang memiliki dua buah sayap yang terletak di sebelah kanan dan sebelah kiri yang mempunyai panjang sekitar 100-200 m, bagian badan sepanjang 36-65 m dan kantong terletak di bagian paling belakang jaring yang merupakan tempat berkumpulnya hasil tangkapan adalah sepanjang 10-20 m.

(13)

Gambar 1. Kontruksi Payang

(Menurut Peraturan Menteri nomor 71 tahun 2016) Keterangan:

1. Sayap (wings) 2. Badan (body) 3. Kantong (cod end)

a. Tali Selambar (warp rope) b. Pemberat

c. Tali Ris Atas (head rope) d. Pelampung

e. Tali Pemberat

g. Tali Ris Bawah (ground rope)

2.3 Pengoperasian Payang

Teknik penangkapan penangkapan dengan alat tangkap payang menggunakan satu alat tangkap satu kapal (one boat system) dan system operasi hanya dilakukan selama satu hari (one day fishing). Tahapan operasional alat tangkap terdiri dari persiapan awal, penentuan fishing ground, setting, hauling, dan penanganan hasil tangkapan (handling).

Kecepatan melingkari gerombolan ikan, dan kecepatan penarikan tali merupakan factor penting dalam operasional payang. Hasil tangkapan dengan alat tangkapan payang adalah ikan pelagis kecil yaitu ikan cakalang, tongkol dan kembung, beberapa permasalahan yang timbul dalam teknis penangkapan yaitu rusaknya alat tangkap pada saat melakukan operasiaonal penangkapan dan kondisi cuaca yang tidak mendukung sehingga hasil tangkapan kurang optimal (Fitriani dan Pursetyo, 2012) dalam (Kurniawati, 2018).

(14)

Pengoperasian dengan menggunakan alat tangkap payang lais dilakukan dengan cara melihan tanda-tanda alami misalnya timbulnya perkumpulan burung-burung dipermukaan air dan penangkapan dibantu dengan bantuan rumpon. Rumpon adalah tempat pengumpulan ikan yang di lepas ditengah laut sebagai tempat tinggal ikan dan tempat pengoperasian masyarakat nelaya. Nur, H. (2021).

2.4 Hasil Tangkapan Payang

Hasil tangkap payang merupakan ikan pelagis atau bisa disebut juga ikan permukaan. Ikan hasil tangkapan payang terdiri dari berbagai jenis ikan yang biasa digunakan sebagi umpan seperti ikan layang (decapterus sp), ikan kawalinya (Rastrelliger sp), ikan sardine (Sardibella Sp), ikan teri (Stelopherus sp) dan ikan lolosi (Caesio sp) (Rahmat, E. (2016) dalam Kusuma (2019)

Distribusi ikan pada waktu pagi dan sore hari memiliki perbedaan, diakibatkan adanya pengaruh parameter lingkungan yang berbeda, sehingga dapat dilakukan penelitian komposisi hasil tangkapan payang pada waktu pagi dan sore hari di Perairan Pasalaban Bungus Selatan Padang Sumatera Barat untuk megetahui perbedaan dan waktu yang paling baik untuk pengoperasian alat tangkap payang. Pengoperasian payang dibagi dalam tiga tahap, yaitu penentuan daerah penangkapan ikan (fishing ground), penurunan jaring atau setting, dan tahap penarikan jaring atau hauling. Setting alat tangkap dilakukan setelah ditemukan gerombolan ikan, kemudian salah satu nelayan melepaskan sayap kanan jarring payang dan bersamaan dengan itu dua nelayan payang mengulur jaring, setting berlangsung selama kurang lebih 15menit (Zikrillah, 2020).

Penangkapan dengan menggunakan payang dapat dilakukan sepanjang tahun kecuali pada bulan-bulan tertentu dimana terjadi musim barat. Pada musim barat biasanya gelombang sangat besar sehingga nelayan tidak berani untuk melaut karena dapat membahayakan keselamatan jiwa mereka, selain itu pada musim barat hasil tangkapan relative sedikit (Suharyadie,2004).

Jenis ikan yang menjadi target penangkapan payang adalah ikan-ikan pelagis yang hidup bergerombol pada lapisan permukaan, baik yang bergerombol dalam jenis yang sama ataupun dalam jenis yang berbeda, seperti ikan laying, ikan lemuruk, ikan teri, ikan peperek, dan ikan kembung. Sedangkan produksi yang menjadi andalan alat tangkap payang adalah ikan teri nasi, karena ikan ini memiliki harga jual yang lumayan tinggi daripada jenis ikan lainnya (Rachman, dkk 2013).

(15)

Hasil tangkapan dengan alat tangkap payang adalah ikan pelagis kecil yaitu terinasi (Stolephorus Sp). Tahapan operasional alat tangkap payang terdiri dari persiapan awal,

"penentuan fishing ground setting, hauling, dan penanganan hasil tangkapan (hadling).

Kecepatan melingkari gerombolan ikan, dan kecepatan penarikan tali merupakan factor penting dalam pengoperasian tayang (Fitriani dan purestyo, 2012).

2.6. Fishing Ground

Penentuan daerah penangkapan yang dijadikan tujuan operasi penangkapan merupakan factor utama dalam menentukan berhasilnya operasi penangkapan ikan, daerah pengoperasian payang biasanya memiliki kualitas perairan yang subur akan rantai makanan seperti plankton, karena gerombolan ikan biasanya berada dalam perairan yang memiliki kesuburan, seperti terpenuhnya pakan alami dan kualitas parameter optimum dalama perairan. Penentuan daerah penangkapan yang dijadikan tujuan dalam menentukan berhasilnya operasi penangkapan ikan. Iskandar (2007)

Menurut Tambunsaribu, J. R. (2015), daerah penangkapan payang pada perairan yang tidak terlalu jauh dari pantai atau daerah subur yang tidak terdapat karang. Hasil tangkapan sangat tergantung keadaan daerah dan banyak sedikitnya ikan yang berkumpul disekitar daerah penangkapan.

(16)

BAB III

METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat praktek kerja lapangan ini dilaksanakan pada bulan Januari s/d Februari 2024 di perairan pantai Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat.

Gambar 2. Peta kota Pariaman

3.2 Alat dan Bahan Praktek

Alat dan bahan pada praktek kerja lapangan ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1 Alat dan Bahan Praktek Kerja Lapangan

No Alat & Bahan Kegunaan

1 Kamera (Handphone Dokumentasi Kegiatan

2 Alat Tulis Mencatat Data

3 Google Maps Mengetahui Titik Kordinat

4 Alat Tangap Payang Menangkap Ikan

3.3 Metode Pengambilan Data

Metode yang digunakan dalam pengambilan data Praktek Kerja Lapangan ini menggunakan metode survey. Metode survey yaitu metode dengan cara melakukan pengamatan langsung dilapangan di perairan pantai Kota Pariaman. Data yang diambil dalam praktek kerja lapangan ini ada 2 yaitu sebagai berikut:

1. Data Primer

Data primer yaitu data yang dilakukan melalui pengamatan langsung dan ikut serta dalam proses penangkapan dilapangan yaitu dengan cara mewawancarai beberapa

(17)

responden (nelayan/narasumber) yang berupa informasi mengenai tekhnik penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap payang serta hasil tangkapan alat tangkap payang.

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu diperoleh melalui studi pustaka dan instansi - instansi pemerintahan yang terkait dengan Prakte Kerja Lapangan. Untuk teknik penentuan responden menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan memilih 6 responden (nelayan) yang memiliki alat tangkap payang di perairan pantai Kota Pariaman. Data yang didapat berupa data primer mengenai hasil tangkapan alat tangkap payang.

Adapun prosedur dalam pengambilan data di lapangan adalah sebagai berikut:

1). Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan (kamera,alat tulis, dll)

2). Melakukan pengambilan data tekhnik pengoperasian ikan dan hasil tangkapan alat tangkap payang dengan cara mensurvey langsung di lapangan sekaligus mewawancarai nelayan (narasumber) tersebut.

3) Mencatat semua hasil wawancara.

4) Mendokumentasikan semua rangkaian kegiatan selama praktek kerja lapangan.

3.4 Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif yang dimana analisis deskriptif tersebut digunakan untuk mengetahui teknik pengoperasikan alat tangkap payang dan hasil tangkapan alat tangkap payang yang diperoleh dari data primer dan sekunder. Data tersebut akan ditampilkan dalam bentuk tabel.

(18)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kapal Payang

Kapal payang adalah salah satu jenis kapal ikan yang mengoperasikan alat tangkap payang dengan cara mengejar ataupun melingkari kelompok ikan. Kapal payang memiliki konstruksi khusus, yaitu memiliki tiang pengamat yang disebut kakapa (Ayodhyoa 1981).

Alat tangkap payang di Kota Pariaman dioperasikan menggunakan kapal yang sederhana dan tradisional dengan ukuran 5 GT. Kapal payang tersebut memiliki dimensi Panjang 10 meter, lebar 1.80 meter, tinggi 1 meter dan kapasitas muatan sebesar 3 - 5 ton.

Berikut Gambar kapal payang yang digunakan nelayan Kota Pariaman dapat dilihat pada (Gambar 2).

Gambar 2. Kapal Payang 4.2 Deskripsi Alat Tangkap Payang

Payang termasuk pukat kantong lingkar yang terdiri atas bagian kantong (bag), badan (body), dan dua buah sayap di bagian kiri dan kanan (wings), serta tali ris. Menurut von Brandt (2005), payang termasuk ke dalam kelompok seine net. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2005), payang merupakan salah satu pukat tarik yang pengoperasiannya menggunakan satu kapal. Berdasarkan SNI yang dikeluarkan oleh BSN tersebut, payang memiliki beberapa bagian, diantaranya sayap atau kaki jaring (wing) yang terdiri atas sayap atas (upper wing) dan sayap bawah (lower wing), medan jaring bawah (bosoom), badan jaring (body), kantong jaring (cod end), tali ris atas (head rope), tali ris

(19)

bawah (ground rope), dan tali selambar (warp rope). Alat ini dioperasikan dengan tali selambar di permukaan perairan dengan cara melingkari area seluas-luasnya pada gerombolan ikan pelagis, kemudian penarikan dan pengangkatan jaring ke atas kapal. Pada payang tali ris atas lebih panjang dari pada tali ris bawah dengan tujuan agar ikan dapat masuk ke dalam kantong jaring dengan mudah dan mencegah lolosnya ikan ke arah vertikal bawah.

Pukat payang adalah alat yang digunakan nelayan Kota Pariaman untuk menangkap ikan yang terbuat dari bahan jaring, berbentuk seperti kantong bagian badan jaring atau kepala jaring adalah 24 meter. Alat tangkap payang yang digunakan nelayan Kota Pariaman mempuyai Panjang 200 meter dan lebar 25 meter. Payang yang digunakan nelayan Kota Pariaman terdiri dari beberapa bagian yaitu:

1. Sayap, payang mempunyai 2 bagian sayap yaitu bagian sayap kiri dan bagian sayap kanan.

2. Kantong (cod end) adalah merupakan tempat berkumpulnya ikan yang terjaring.

3. Tali ris atas dan bawah, berfungsi untuk dipakai memasang atau menggantungkan badan jaring. Pemasangan tali ris bagian atas dipasang di bawah tali pelampung sedangkan tali ris bawah dipasang di atas tali pemberat.

4. Tari penarik (Selambar).

5. Pelampung, berfungsi untuk menghasilkan gaya apung pada Payang.

6. Tali pelampung, adalah tali yang digunakan untuk memasang pelampung.

7. Tali pemberat, adalah tali yang dipakai untuk memasang pemberat.

8. Pemberat, berfungsi untuk menghasilkan gaya berat pada Payang.

Berikut gambar jarring alat tangkap paying yang di gunakan nelayan kota pariaman dapat dilihat pada gambar 4 berikut :

1. Jaring, yang terdiri atas:

a. Sayap (wing), yaitu bagian jaring yang merupakan perpanjangan badan sampai ke tali selambar. Sayap merupakan bagian jaring yang terpanjang dan terletak di ujung depan dari jaring payang. Sayap merupakan lembaran jaring yang disatukan dan berfungsi sebagai

(20)

pengiring dan pengejut bagi ikan sehingga ikan mengarah ke mulut jaring. Sayap terdiri atas sayap kiri dan sayap kanan, memiliki ukuran mata jaring yang besar dari bagian lainnya dengan bentuk semakin mengecil pada bagian ujungnya.

Gambar 3. Sayap payang

b. Mulut jaring yang terdiri atas mulut bagian atas (upper lip) yang juga sebagai tempat diikatnya pelampung (float) dan mulut bagian bawah (underlip) yang juga sebagai tempat diikatnya pemberat (sinker). Badan jaring (body), merupakan bagian terbesar dari keseluruhan jaring yang terletak di antara bagian kantong dan bagian sayap jaring. Badan jaring berfungsi untuk menampung hasil tangkapan sementara sebelum terkurung masuk kantong.

Gambar 4. Mulut jaring

(21)

c. Kantong (cod end), merupakan tempat penampungan hasil tangkapan serta bagian jaring yang terpendek dan terletak di ujung belakang dari jaring payang.

Gsmbar 5. kantong 2. Tali-temali, terdiri atas:

a. Tali pelampung (head rope) yaitu tali yang diikatkan pada bagian upper lip dan berfungsi sebagai tempat diikatnya pelampung. Tali ini berfungsi untuk menggantungkan dan menghubungan kedua sayap bagian atas, melalui mulut jaring bagian atas. Head rope lebih panjang dari ground rope sehingga bagian bibir jaring bagian atas lebih menjorok ke dalam.

Gambar 6. Tali pelampung

(22)

b. Tali pemberat (ground rope) yaitu tali yang diikatkan pada bagian underlip dan berfungsi sebagai tempat diikatnya pemberat. Tali ini berfungsi untuk menghubungkan kedua sayap jaring bagian bawah, melalui mulut jaring bagian atas.

Gambar 7. Tali pemberat

c. Tali penarik (tali selambar) yaitu tali yang berfungsi untuk menarik jaring saat operasi penangkapan berlangsung. Tali selambar merupakan tali yang mengikat ujung sayap kiri dan kanan jaring, berfungsi menghubungkan antara jaring dan kapal atau perahu.

d. Tali kantong (cod line) yaitu tali yang berfungsi untuk mengikat ujung kantong agar hasil tangkapan tidak keluar dari bagian kantong.

3. Pelampung (float) Pelampung berfungsi untuk memperoleh daya apung pada jaring.

Pelampung terdiri atas 2 macam, yaitu pelampung tanda dan pelampung utama. Pelampung berfungsi untuk membantu bukan mulut jaring serta mempertahankan bentuk jaring sesuai yang diinginkan.

4. Pemberat (sinker) Fungsi pemberat adalah untuk menenggelamkan bagian tertentu jaring, menahan perubahan bentuk jaring dari pengaruh arus dan bersama-sama dengan pelampung memberi bentuk pada jaring serta menjaga mulut jaring agar selalu terbuka selama berlangsungnya penarikan jaring.

(23)

4.3 Metode dan Teknik Pengoperasian

Teknik penangkapan penangkapan dengan alat tangkap payang menggunakan satu alat tangkap satu kapal (one boat system) dan system operasinya dilakukan selama satu hari (one day fishing). Tahapan operasional alat tangkap terdiri dari persiapan awal, penentuan fishing ground, setting, hauling, dan penanganan hasil tangkapan (handling).

Kecepatan melingkari gerombolan ikan, dan kecepatan penarikan tali merupakan factor penting dalam operasional payang. Hasil tangkapan dengan alat tangkapan payang adalah ikan pelagis kecil yaitu ikan cakalang, tongkol dan kembung, beberapa permasalahan yang timbul dalam teknis penangkapan yaitu rusaknya alat tangkap pada saat melakukan operasiaonal penangkapan dan kondisi cuaca yang tidak mendukung sehingga hasil tangkapan kurang optimal (Fitriani dan Pursetyo, 2012) dalam (Kurniawati, 2018).

Pengoperasian dengan menggunakan alat tangkap payang dilakukan dengan cara melihan tanda-tanda alami misalnya timbulnya perkumpulan burung-burung dipermukaan air dan penangkapan dibantu dengan bantuan rumpon. Rumpon adalah tempat pengumpulan ikan yang di lepas ditengah laut sebagai tempat tinggal ikan dan tempat pengoperasian masyarakat nelaya. Nur, H. (2021).

Pengoperasian penangkapan menggunakan alat tangkap payang oleh nelayan kota pariaman di mulai pada pagi, sore dan malam. Pada pagi hari kegiatan penangkapan di mulai pada pukul 05:00 - 12:00 WIB, pada sore harinya kegiatan penangkapan di mulai pada pukul 16 : 00 – 18 : 00 WIB dan malam harinya mulai pukul 18 : 00 – 00 : 00 WIB.

Metode pengoperasian alat tangkap payang di lakukan beberapa Tahapan operasional alat tangkap terdiri dari persiapan awal, penentuan fishing ground, setting, hauling, dan penanganan hasil tangkapan (handling).

Nelayan yang mengoperasikan payang berjumlah 13 – 17 orang memiliki tugas berbeda-beda, diantaranya

(1) mengawasi untuk melihat tanda-tanda adanya gerombolan ikan,

(2) bertanggung jawab atas kelancaran pengoperasian, mengecek jaring ketika setting, (3) menguras air di lambung kapal selama melaut,

(4) mempersiapkan segala kelengkapan melaut dan mengarahkan kapal.

Secara umum, pembagian tugas pada operasi payang berdasarkan jabatan adalah (1) tekong, merupakan kapten kapal yang bertanggung jawab atas keberhasilan operasi penangkapan ikan,

(24)

(2) juru mudi, bertugas mengendalikan kemudi kapal menuju daerah penangkapan ikan/fishing ground sampai kembali ke pelabuhan asal/fishing base, serta bertanggung jawab terhadap kondisi mesin kapal,

(3) juru batu, bertugas menyusun alat tangkap sebelum atau sesudah hauling di atas kapal, (4) petawur, bertugas untuk menurunkan jaring,

(5) pengawas, bertugas mengawasi keberadaan ikan tujuan penangkapan, dan

(6) anak payang/tukang renang, bertugas menakut-nakuti ikan agar tidak lolos melewati bagian bawah kapal dan sayap payang. Tukang renang akan meloncat ke dalam air dan dilakukan berulang-ulang. Walaupun memiliki peran dan tugas masing-masing, semua nelayan yang ada di atas kapal selain juru mudi membantu dalam proses penarikan jaring.

Operasi penangkapan ikan dengan payang merupakan operasi penangkapan ikan yang dilakukan hanya 1 hari/one day fishing. Penurunan jaring saat operasi penangkapan ikan dipengaruhi oleh jumlah ikan yang tertangkap, biasanya 3 – 5 kali penurunan jaring.

Operasi penangkapan payang dapat dilakukan pada siang dan malam hari.

Langkah-langkan dalam operasi penangkapan menggunakan alat tangkap payang diantaranya adalah sebagai berikut:

Persiapan

Sebelum dilaksanakan operasi penangkapan ikan, maka terlebih dahulu dilaksanakan persiapan operasi penangkapan ikan. Persiapan ini meliputi persiapan alat tangkap, persiapan Anak Buah Kapal (ABK), persiapan kapal beserta mesin kapal dan perbekalan. Persiapan alat tangkap yaitu dengan melakukan pemeriksaan terhadap susunan dan peletakan alat tangkap payang dan persiapan tempat untuk meletakkan hasil tangkapan. Pemeriksaan susunan alat tangkap ini dilakukan oleh ABK. Jumlah ABK pada alat tangkap payang ini sebanyak 13 – 17 orang.

(25)

Penentuan Fishing Ground

Penentuan fishing ground penangkapan payang berdasarkan pada pengalaman nelayan masing-masing. Selain pengalaman pribadi nelayan, fishing ground juga berdasarkan pengaaman nelayan lain dengan alat tangkap yang sama yang telah mendapatkan hasil tangkapan yang banyak. Beberapa nelayan pula menggunakan alat bantu penangkapan berupa lampu dan rumpon untuk mempermudahkan nelayan dalam melakukan operasi penangkapan.

Penurunan Jaring (Setting)

Setting alat tangkap payang dilakukan setelah gerombolan ikan ditemukan.

Sebelum jaring diturunkan, terlebih dahulu dilakukan penurunan pelampung tanda, tali selambar pada alat tangkap dan dilanjut penurunan seluruh badan jaring ke perairan.

Penurunan alat tangkap dilakukan dengan melingkari gerombolan ikan kearah samping kapal dengan keadaan kapal yang bergerak menuju pelampung tanda yang telah diturunkan sehingga jaring membentuk lingkaran. Setelah proses melingkarkan selesai, mesin kapal dimatikan dan seluruh ABK akan menempatkan posisinya untuk melakukan hauling.

Proses setting ini membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit yang dimulai dari penurunan pelampung tanda hingga proses melingkarkan jaring selesai.

(26)

Penarikan Jaring (Hauling)

Proses penarikan jaring payang dimulai dengan penarikan pelampung tanda dan tali selambar ke atas kapal, kemudian dilakukan penarikan seluruh badan jaring hingga bagian kantong jaring. Proses hauling ini melibatkan seluruh ABK. Hasil tangkapan akan berkumpul di bagian kantong jaring yang di tarik terakhir. Kemudian, hasil tangkapan dimasukkan kedalam wadah-wadah yang telah dipersiapkan dan dipisah sesuai dengan jenis ikan yang tertangkap.

4.4 Hasil Tangkapan Payang

(27)

Daerah penangkapan untuk alat tangkap payang ini pada perairan yang tidak jauh dari daerah pantai atau daerah yang subur yang tidak terdapat karang. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh komposisi hasil tangkapan payang yaitu ikan Ayam – ayam (Aluterus Monoceros), ikan Tongkol (Auxis sp), ikan Teri (Stolephorus sp), ikan Kembung (Rastrelliger sp), Cumi – cumi (Loligo sp), ikan Selar (Caranx sp) dan ikan Bawal Hitam (Intan Herwindra, 2010).

Hasil tangkap dari alat tangkap payang adalah ikan – ikan permukaan. Terutama ikan – ikan pelagis kecil, yaitu ikan Layang, Selar, Kembung, Lemuru, Tembang, Japuh dan lain – lain. Hasil produksi perikanan laut secara nasional sebanyak 1. 922.781 ton (Diktat Manajemen Penangkapan Ikan, 2004).

Jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan alat tangkap payang adalah laying (decapterus sp), kembung (rastralliger sp), sunglir (eeuthynnus sp), selar (caranx sp), sunglir (elagatis sp), bawal hitam (formio sp). Jadi, umumnya yang tertangkap adalah ikan-ikan yang senang berada di daerah rumpon. Ikan laying merupakan hasil tangkapan yang dominan (Sudirman, 2004).

Berikut hasil tangkapan alat tangkap paying yang di gunakan nelayan kota pariaman :

Alat tangkap

Nama nasional

Nama lokal

Nama ilmiah Berat Jumlah Waktu dan titik kordinat

Ikan tongkol

Pelor Euthynnus affinis

30 kg

34 baskom Payang Ikan

tongkol batik

Batiak Euthynnus affinis

30 kg

10 baskom

Ikan kembung

Taneman Rastrellinger 30 kg

14 baskom Ikan

maco

Maco Bramidae 15

kg

2 baskom Ikan teri Bada teri engraulidae 30kg 4 baskom Ikan Tamban Spratelloide 30 1 baskom

(28)

tamban s gracilis kg

4.5 Daerah Penangkapan (Fishing Ground)

Penentuan daerah penangkapan yang dijadikan tujuan operasi penangkapan merupakan factor utama dalam menentukan berhasilnya operasi penangkapan ikan, daerah pengoperasian payang biasanya memiliki kualitas perairan yang subur akan rantai makanan seperti plankton, karena gerombolan ikan biasanya berada dalam perairan yang memiliki kesuburan, seperti terpenuhnya pakan alami dan kualitas parameter optimum dalama perairan. Penentuan daerah penangkapan yang dijadikan tujuan dalam menentukan berhasilnya operasi penangkapan ikan. Iskandar (2007) Menurut Jasi (2015)

Daerah penangkapan payang pada perairan yang tidak terlalu jauh dari pantai atau daerah subur yang tidak terdapat karang. Hasil tangkapan terutama jenis-jenis pelagik seperti Teri (Stelophorus sp), Layur (Trichiurus sp), Tongkol (Euthynnus sp), Tenggiri (Scomberomorusi sp),dan lainlain. Hasil tangkapan sangat tergantung keadaan daerah dan banyak sedikitnya ikan yang berkumpul disekitar daerah penangkapan.

Operasi penangkapan iakan di mulai dengan pencarian gerombolan ikan.

Keberadaan Gerombolan ikan dapat dilihat dengan ciri ciri seperti adanya loncatan ikan di atas permukaan air, adanya buih-buih air di permukaan air laut yang merupakan hasil pergerakan ikan di bawah permukaan air, adanya perubahan warna permukaan perairan menjadi lebih gelap dibandingkan sekitarnya akibat warna punggung ikan yang berada di bawah permukaan air dan adanya burung-burung yang menukik ke perairan untuk memangsa ikan.

(29)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Fitriani, N., & Pursetyo, K. T. TEKNIK PENANGKAPAN IKAN TERI NASI (Stolephorus sp.) DENGAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN PAMEKASAN JAWA TIMUR.

Gumilang, A. P. (2010). Tingkat Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Akibat Kenaikan Harga BBM Pada Nelayan Payang Di Ppi Bandengan Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon.

Iskandar D, Suzuki Y, Shiode D, Hu F, Tokai T. 2007. Pengaruh Pemasangan Umpan terhadap Daya Tangkap Gillnet. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Kurniawati, N. S. (2018). Komposisi Hasil Tangkapan Alat Tangkap Payang Di Pelabuhan Puger, Keca

Kusuma, A. P. (2019, December). Analisis Efisiensi Pendapatan Nelayan Tradisional Menggunakan Alat Tangkap Payang di Desa Masalima Kecamatan Masalembu Kabupaten Sumenep. In Prosiding: Seminar Nasional Ekonomi dan Teknologi (pp.

380-390).

Mustafa, N. W. (2022). Aspek Teknis dan Aspek Finansial Pengoperasian Payang di Majene= Technical and Financial Aspects of Payang Operation in Majene (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).

Nur, H. (2021). Analisis Alat Tangkap Payang yang Beroperasi di Perairan Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).

Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 6/Permen-Kp/2014 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Perikanan Budidaya Air Tawar, Perikanan Budidaya Air Payau, Dan Perikanan Budidaya Laut

Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 71/Permen- Kp/2016 Tentang Jalur Penangkapan Ikan Dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia

Purbayanto,A.,Mohammad Riyanto, dan Aristi Dian P.F. 2010. Fisiologi dan Tingkah Laku Ikan pada Perikanan Tangkap. IPB Press. Bogor.

(31)

Rachman, S. dkk. 2013. Analisis Faktor Produksi dan Kelayakan Usaha Alat Tangkap Payang di Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Jurnal ECSOFiM, 1.

Rahmat, E. (2016). Pengoperasian Jaring Payang di Perairan Pelabuhan Ratu. Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya dan Penangkapan, 10(1), 21-25.matan Puger, Kabupaten Jember, Jawatimur (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

Siswoyo, S., & Rahmat, E. (2019). TEKNIK OPERASIONAL JARING PAYANG DI PERAIRAN KOTAAGUNG LAMPUNG. Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya dan Penangkapan, 16(2), 87-90.

Suwarso & Hariati (2003). Biologi dan Ekologi Ikan Pelagis Kecil di Pantai Utara Jawa Barat dan Selat Sunda. Jurnal Penelitian Perikanan Laut Edisi Sumberdaya dan Penangkapan Vol 7 halaman 29- 36.

Tambunsaribu, J. R. (2015). Analisis Teknis Dan Finansial USAha Perikanan Tangkap Payang Di Pelabuhan Perikanan Pantai (Ppp) Wonokerto Kabupaten Pekalongan. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology, 4(4), 205-214.

ZIKRILLAH, M. (2020). Komposisi Hasil Tangkapan Alat Tangkap Payang Pada Waktu Pagi Dan Sore Hari Di Perairan Pasalaban Bungus Selatan Padang Sumatera Barat.

(32)

LAMPIRAN 1. Anggaran Biaya

Rencana anggaran biaya Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Perairan Perikanan Pantai Kota pariaman Provinsi Jambi.

N O

URAIAN VOLUME BIAYA

SATUAN

JUMLAH

1 Trasportasi

Keberangkatan

2 Rp.200.000 Rp.400.000

2 Penginapan 30 Rp.5.000 Rp.150.000

3 Makan Di Perjalanan 2 Rp. 50.000 Rp.100.000

4 Cetak Laporan 4 Rp. 50.000 Rp. 200.000

4 Konsumsi Di Tempat Magang

30 Rp.35.000 Rp.1.050.000

TOTAL Rp. 1.900.000

(33)

Gambar

Gambar 1. Kontruksi Payang
Gambar 2. Peta kota Pariaman
Tabel 1 Alat dan Bahan Praktek Kerja Lapangan
Gambar 2. Kapal Payang 4.2 Deskripsi Alat Tangkap Payang
+4

Referensi

Dokumen terkait

Tali ini terbuat dari bahan polyethylene multifilament (PE) dengan diameter tali 15 mm. Panjang tali selambar di sayap kanan dan kiri payang berbeda. Panjang tali selambar

nilai uji T, dapat diketahui faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan alat tangkap cantrang di wilayah Bulu adalah panjang jaring, panjang tali

Jaring insang (gill net) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali

Konstruksi jaring pada alat tangkap cantrang yang digunakan terdiri dari bagian sayap, badan dan kantong jaring dimana masing-masing bagian mempunyai ukuran yang

(Lampiran 1) adalah perahu, rangka bagan, jaring, bingkai jaring, roller, generator, lampu, rumah bagan. Tali ris terbuat dari bahan polyethilene dengan diameter 1 cm sebagai

Penelitian tersebut dilakukan menggunakan alat tangkap trawl dengan ukuran mata jaring 40 mm pada bagian kantong terhadap ikan kurisi (Nemipterus japonicus). Hasil dari

Nilai FRR nelayan Payang sebesar 28,64% yang artinya usaha penangkapan dengan alat tangkap Payang yang diperoleh tingginya nilai FRR dibandingkan suku bunga bank BRI sebesar

Data yang diperoleh dari hasil observasi dalam penelitian ini berupa data pengukuran jaring pukat cincin yang terdiri dari bagian kantong, badan, sayap dan jaring penguat, serta tali