• Tidak ada hasil yang ditemukan

Template Baru JKB - KOSONG

N/A
N/A
beginner student

Academic year: 2023

Membagikan "Template Baru JKB - KOSONG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DALAM DAN AROMATERAPI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MERTOYUDAN 1

NASKAH PUBLIKASI

Finka Ryzkyka NIM. P1337420519077

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN MAGELANG JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2022

(2)

Pengelolaan Nyeri Kepala pada Pasien Hipertensi dengan Menggunakan Terapi Kombinasi Relaksasi Napas Dalam dan Aromaterapi di Wilayah

Kerja Puskesmas Mertoyudan 1

Finka Ryzkyka Heru Supriyatno1 2 Sunarko3 Dwi Ari Murti Widigdo4

1Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Magelang, Poltekkes Kemenkes Semarang

234Dosen Jurusan Keperawatan Magelang, Poltekkes Kemenkes Semarang

Corresponding author: Finka Ryzkyka Email: [email protected]

ABSTRAK

Hipertensi merupakan pembunuh diam-diam karena sebagian besar kasus biasanya tidak menunjukkan tanda gejala apapun secara spesifik, sehingga penderitanya sering kali tidak mengetahui jika dirinya terkena penyakit hipertensi ataupun baru mengetahui jika mereka terkena hipertensi setelah timbul komplikasi atau serangan. Gejala yang paling sering ditemukan pada penderita hipertensi diantaranya adalah nyeri kepala atau pusing, serta rasa pegal pada daerah tengkuk. Sensasi nyeri tersebut tentunya sangat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya apabila terjadi secara terus menerus. Intensitas nyeri kepala pada pasien hipertensi dapat dipercepat dengan dukungan penatalaksanaan asuhan keperawatan yang tepat menggunakan metode terapi komplementer yakni dengan teknik relaksasi napas dalam dan pemberian aromaterapi, yang pada pelaksanaannya mudah untuk dilakukan, sederhana, tanpa mengeluarkan banyak biaya, dan tidak memiliki efek samping. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pengelolaan nyeri kepala pada pasien hipertensi dengan menggunakan terapi kombinasi relaksasi napas dalam dan aromaterapi. Metode karya tulis ilmiah ini menggunakan desain studi kasus, di mana peneliti memaparkan hasil asuhan keperawatan dengan memfokuskan pada salah satu masalah penting dalam kasus yang dipilih. Subjek penelitian adalah seorang pasien hipertensi usia dewasa dengan nyeri kepala tension skala sedang diukur dengan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan asuhan keperawatan sebanyak 3 kali kunjungan dalam jangka waktu 3 hari, dengan intervensi pemberian terapi kombinasi relaksasi napas dalam dan aromaterapi memiliki pengaruh dalam menurunkan intensitas nyeri kepala tension yang dialami pasien.

Kata kunci : asuhan keperawatan; nyeri; terapi komplementer; hipertensi; aromaterapi

ABSTRACT

Hypertension is a silent killer because most cases usually do not show any signs of symptoms specifically, so sufferers often do not know if they have hypertension or only find out if they have hypertension after complications or attacks arise. Symptoms that are most often found in people with hypertension include headache or dizziness, as well as aches in the nape area. The painful sensation is certainly very disturbing to the daily activities of the sufferer if it occurs continuously. The intensity of headaches in hypertensive patients can be accelerated with the support of proper management of nursing care using complementary therapy methods, with slow deep breathing relaxation

1

(3)

techniques and the aromatherapy, which in its implementation is easy to do, simple, without spending much money, and has no side effects. The purpose of this study was to describe the management of headaches in hypertensive patients using a combination therapy of slow deep breathing relaxation and aromatherapy. This method of research uses a case study design, in which the researcher exposes the results of nursing care by focusing on one of the important issues in the selected case. The subject of the study was an adult hypertensive patient with a moderate tension headache measured by a Numeric Rating Scale (NRS). The results showed that after nursing care as many as 3 visits within a period of 3 days, with the intervention of giving a combination therapy of slow deep breathing relaxation and aromatherapy had an influence in reducing the intensity of headache tension experienced by patients.

Keywords : nursing care; pain; complementary therapy; hypertension; aromatherapy

Pendahuluan

Penyakit tidak menular telah menjadi penyebab utama kematian secara global pada saat ini, termasuk di negara- negara berkembang seperti Indonesia (Shilton et al., 2013). Hipertensi termasuk salah satu dari banyaknya penyakit tidak menular yang cukup berbahaya. Hipertensi merupakan suatu keadaan saat tekanan darah menjadi tinggi secara terus-menerus (lebih dari satu periode) dimana tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih (Irianto, 2014). Hipertensi dikatakan berbahaya karena merupakan faktor risiko utama dari penyakit serius seperti serangan jantung, gagal jantung, stroke dan penyakit ginjal yang mana pada tahun 2019 penyakit jantung iskemik dan stroke menjadi dua penyebab kematian utama di dunia (World Health Organization, 2020).

Anggapan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang berbahaya juga didukung oleh pendapat yang menyebut hipertensi sebagai silent killer, yang artinya hipertensi merupakan pembunuh diam-diam karena sebagian besar kasus biasanya tidak menunjukkan tanda peringatan atau gejala apapun secara spesifik, sehingga penderitanya sering kali tidak mengetahui jika dirinya terkena penyakit hipertensi ataupun baru

mengetahui jika mereka terkena hipertensi setelah timbul komplikasi atau serangan (Udjianti, 2013). Hipertensi juga dikenal sebagai heterogenous group of disease, yang berarti hipertensi dapat menyerang setiap orang dari berbagai kelompok umur dan sosial (Trisnawan, 2019).

Survey Riskesdas (2018), menyatakan prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥18 tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan terendah di Papua sebesar (22,2%). Perkiraan jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit hipertensi sangat beragam. Gejala yang paling sering ditemukan pada penderita hipertensi diantaranya adalah nyeri kepala atau pusing, serta rasa pegal pada daerah tengkuk (Udjianti, 2013). Sensasi nyeri tersebut tentunya sangat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya apabila terjadi secara terus menerus. Nyeri kepala yang terus menerus pada pasien hipertensi bahkan dianggap sebagai pertanda kemungkinan adanya masalah serius dalam tubuh, sekaligus dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit stroke dan kardiovaskular apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat (Finocchi & Sassos, 2017).

(4)

3

Penanganan nyeri kepala hipertensi terdiri dari dua terapi yaitu terapi farmakologis dan non farmakologis. Terapi farmakologis dilakukan dengan menggunakan obat- obatan hipertensi yang dianjurkan oleh dokter. Untuk terapi non farmakologis

diantaranya dengan cara

mempertahankan berat badan ideal, membatasi konsumsi alkohol, menghindari merokok, mengelola stress, aktivitas fisik, dan terapi masase (Wijaya

& Putri, 2013). Adapun terapi komplementer lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri kepala pada hipertensi yaitu dengan pemberian aromaterapi serta berbagai teknik relaksasi termasuk salah satunya teknik relaksasi napas dalam (Widharto, 2018).

Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan pada pasien hipertensi dengan masalah nyeri kepala menggunakan intervensi relaksasi napas dalam dan pemberian aromaterapi.

Fernalia dkk (2019) menyatakan bahwa terdapat penurunan intensitas skala nyeri pada 41 responden setelah pemberian intervensi relaksasi napas dalam. Rerata intensitas skala nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi napas dalam adalah 4,37 kemudian setelah diberikan teknik relaksasi napas dalam skala nyeri rata- rata menjadi 3,02. Hasil serupa dipaparkan oleh Lisdianto dkk (2022) di mana terdapat penurunan nyeri kepala pada pasien hipertensi setelah diberikan intervensi relaksasi napas dalam, dari intensitas rata-rata 4 kemudian menurun menjadi 2. Selain itu, Kusyati dkk (2018) dalam studi terapi kombinasi relaksasi napas dalam dan penggunaan aromaterapi lavender pada pasien hipertensi, melaporkan bahwa terdapat pengaruh penurunan tekanan darah setelah pemberian intervensi. Dari semula rata-rata tekanan darah 148/92 mmHg menjadi 145/90 mmHg. Adanya pengaruh yang cukup signifikan terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi setelah pemberian terapi

komplementer aromaterapi lavender juga dipaparkan dalam Sutrisno dkk (2021), awalnya rata-rata tekanan darah pada 12 responden 147/90 mmHg kemudian menurun menjadi 133/84 mmHg, dengan p value tekanan darah sistol dan diastol 0,000 (p < 0,05). Berdasarkan uraian di atas, maka penurunan intensitas nyeri kepala pada pasien hipertensi dapat dipercepat atau dimaksimalkan dengan dukungan penatalaksanaan asuhan keperawatan yang tepat menggunakan metode terapi komplementer yakni dengan teknik relaksasi napas dalam dan pemberian aromaterapi, yang pada pelaksanaannya mudah untuk dilakukan, sederhana, tanpa mengeluarkan banyak biaya, dan tidak memiliki efek samping. Oleh karena itu, Penulis tertarik untuk mengelola pasien nyeri kepala akibat hipertensi dengan menggunakan aromaterapi dan relaksasi napas dalam serta akan melaporkannya dalam karya tulis ilmiah yang berjudul “Pengelolaan Nyeri Kepala pada Pasien Hipertensi dengan Menggunakan Terapi Kombinasi Relaksasi Napas Dalam dan Aromaterapi di Wilayah Kerja Puskesmas Mertoyudan 1”.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus, di mana peneliti memaparkan hasil asuhan keperawatan dengan memfokuskan pada salah satu masalah penting dalam kasus yang dipilih yaitu asuhan keperawatan pada pasien hipertensi dengan fokus studi pengelolaan nyeri kepala menggunakan terapi kombinasi teknik relaksasi napas dalam dan pemberian aromaterapi di wilayah kerja Puskesmas Mertoyudan 1. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang pasien hipertensi usia dewasa dengan nyeri kepala tension skala sedang (skala 6) diukur dengan Numerical Rating Scale (NRS), dan rutin kontrol ke Puskesmas Mertoyudan 1. Instrumen penelitian atau alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini meliputi format pengkajian, alat kesehatan seperti sfigmomanometer dan stetoskop, alat

(5)

ukur skala intensitas nyeri yakni numerical rating scale (NRS), alat diffuser aromaterapi, SOP relaksasi napas dalam serta SOP pemberian aromaterapi.

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Etika penelitian yang meliputi informed concent, confidentiality, serta bebas dari eksploitasi menjadi acuan agar kerahasiaan identitas dan informasi pribadi responden dapat terjaga dengan baik.

Hasil dan Pembahasan

Pengkajian dilakukan pada 14 Mei 2022 terhadap Ny. M dengan keluhan utama nyeri kepala bagian depan dan rasa berat serta nyeri di tengkuk sejak 5 hari yang lalu (R), nyeri terasa seperti berat dan ditekan (Q) dengan skala 6 (S), nyerinya hilang timbul (T) disebabkan karena tekanan darah yang dialami pasien (P). Pasien tampak lemas sesekali mengerutkan dahi dan tampak memijat- mijat bagian tengkuknya. Tekanan darah 180/100 mmHg, suhu (S) 36,4°C, respiratory rate (RR) 20x/menit, nadi (N) 98x/menit. Pada riwayat kesehatan keluarga ditemukan data bahwa anggota keluarga Ny. M yang memiliki riwayat penyakit hipertensi adalah ibu pasien.

Hasil pengkajian pada pola manajemen dan persepsi kesehatan didapatkan data meliputi pasien menyadari bahwa kondisi kesehatannya saat ini perlu mendapatkan perhatian lebih dan kontrol dari tenaga kesehatan, maka dari itu pasien berusaha setidaknya satu bulan sekali memeriksakan diri ke Puskesmas Mertoyudan 1 terutama untuk kontrol tekanan darah. Pasien mengatakan apabila merasakan pusing, nyeri kepala dan berat di tengkuk namun tidak sempat ke puskesmas, pasien akan membeli obat amlodipin sendiri di apotek. Pasien mengatakan apabila merasakan pusing, nyeri kepala serta

berat di tengkuk pasien akan mengoleskan minyak angin aromaterapi pada bagian yang dirasa kurang nyaman, seperti di tengkuk dan di pelipis, ataupun pasien hirup melalui hidung. Saat pasien sakit aktivitas pasien sama yakni mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mencuci, melipat baju, memasak serta saat ada waktu senggang biasanya pasien menonton tv, namun pasien mengatakan saat keluhan nyeri kepala dan berat di tengkuknya kambuh, biasanya pasien menyempatkan untuk sesekali istirahat dengan tiduran di sofa maupun di kamar.

Terapi pengobatan yang diberikan kepada Ny. M diantaranya amlodipin 10 mg (10 tablet) 1x1 berfungsi untuk menurunkan tekanan darah tinggi, tiamin HCL (Vitamin B1) 50 mg (10 tab) 3x1 untuk menjaga fungsi saraf agar tetap baik, dan paracetamol 500 mg 3x1 berfungsi untuk meredakan nyeri kepala.

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh tersebut maka masalah keperawatan yang muncul yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler serebral) ditandai dengan mengeluh nyeri.

Perumusan diagnosis keperawatan pada pasien Ny. M telah sesuai dengan SDKI (2016). Nyeri akut adalah pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI 2016). Setelah ditetapkan diagnosis keperawatan pada Ny.

M berdasarkan dari data pengkajian fokus yang dilakukan, maka dapat disusun perencanaan yang akan diberikan kepada pasien sesuai dengan masalah pasien, sehingga tujuan dan kriteria hasil yang ditetapkan dapat tercapai. Rencana keperawatan pada Ny. M dengan diagnosis nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler serebral) ditandai dengan mengeluh nyeri yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali kunjungan dalam

(6)

5

kurun waktu 3 hari, masalah keperawatan dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien melaporkan nyerinya menurun setelah dilakukan manajemen nyeri; pasien mampu mengenali onset nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri);

pasien mampu memanajemen nyeri

secara mandiri (kemampuan

menggunakan teknik non-farmakologis

pasien meningkat); pasien

mengungkapkan rasa rileks atau nyaman meningkat setelah nyeri menurun.

Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang telah ditetapkan yaitu identifikasi lokasi, karakteristik, durasi frekuensi, kualitas, intensitas nyeri;

Identifikasi respons nyeri non verbal;

monitor TTV; ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri dengan teknik relaksasi napas dalam dan aromaterapi; kolaborasi dengan keluarga untuk kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (misal suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisingan). Intervensi keperawatan yang penulis susun sesuai dengan teori dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), 2016.

Implementasi pada pasien Ny. M dilakukan pada tanggal 14-16 Mei 2022.

Tindakan keperawatan yang diberikan pada Ny. M dengan nyeri akut antara lain : mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, mengidentifikasi respons nyeri non verbal, memonitor TTV, mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri dengan teknik relaksasi napas dalam dan aromaterapi.

Tindakan keperawatan yang pertama, yaitu mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi frekuensi, kualitas, intensitas nyeri yang diinterpretasikan dalam pengkajian symptom nyeri yakni PQRST, dengan P (Provoking/pemicu nyeri) yaitu faktor pencetus atau faktor yang memperburuk rasa nyeri, Q (Quality/kualitas nyeri) merupakan deskripsi seperti apa karakteristik nyeri

yang dirasakan, misalnya seperti tertekan atau seperti tertusuk, R (Region/lokasi nyeri) merupakan daerah yang mengalami sensasi

ketidaknyamanan nyeri, S

(Severity/intensitas nyeri), yaitu menggambarkan ringan hingga beratnya nyeri yang dialami, T (Time/waktu serangan) yaitu kapan nyeri timbul, seberapa sering nyeri dirasakan (Hinkle & Cheever, 2018). Pengkajian symptom nyeri ini dilakukan setiap sebelum dan setelah dilakukan tindakan keperawatan untuk memonitor nyeri yang dirasakan pasien.

Tindakan yang kedua adalah mengidentifikasi respons nyeri non verbal.

Tujuan dilakukan tindakan tersebut yaitu untuk mengobservasi ada atau tidaknya respons pasien terhadap sensasi nyeri yang dirasakan. Biasanya pasien yang mengalami nyeri dan merasa tidak nyaman akan menunjukkan ekspresi wajah yang merespon terhadap adanya nyeri, seperi meringis kesakitan, atau bersifat protektif terhadap bagian yang dirasa nyeri.

Tindakan yang ketiga adalah memonitor tanda-tanda vital (TTV) pasien.

Tanda-tanda vital yang dimonitor angtara lain tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi pernapasan. Tujuan dilakukan monitor tanda-tanda vital adalah untuk mengetahui adakah perubahan setelah dan sebelum pasien diberikan intervensi, terutama pada tekanan darah.

Tindakan keempat adalah

mengajarkan terapi kombinasi teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri dengan teknik relaksasi napas dalam dan aromaterapi. Data yang didapatkan selama 3 hari pengelolaan pasien melaporkan nyerinya berkurang setelah melakukan terapi kombinasi tersebut.

Teknik relaksasi napas dalam menjadi salah satu teknik yang paling sering dilakukan karena selain mudah dipraktikkan juga tidak membutuhkan alat bantu serta biaya. Teknik napas dalam mengajarkan pasien untuk mengambil napas secara dalam melalui hidung, menahan inspirasi secara maksimal, dan menghembuskan secara perlahan melalui mulut. Selain untuk

(7)

mengurangi sensasi nyeri yang dialami, teknik relaksasi napas dalam juga berguna untuk meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigen darah (Tamrin, Rosa, & Subagyo, 2019).

Sedangkan terapi aromaterapi yang diberikan kepada pasien adalah melalui cara inhalasi dengan dibantu alat diffuser aromaterapi, sehingga pasien dapat menghirup aroma uap yang menenagkan yang dikeluarkan oleh alat diffuser aromaterapi tersebut, dan mampu berdampak pada penurunan skala intensitas nyeri kepala dan tekanan darah pasien.

Terapi relaksasi bukan sebagai pengganti peran obat-obatan, tetapi diperlukan untuk mendukung kerja obat- obatan untuk mempersingkat episode nyeri. Kombinasi teknik relaksasi dan obat-obatan Pereda nyeri yang dilakukan secara simultan merupakan cara yang efektif untuk menghilangkan nyeri (Rosdahl & Kowalski, 2014).

Tindakan yang kelima adalah berkolaborasi dengan keluarga untuk kontrol lingkungan yang dapat memperberat rasa nyeri (misal suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisingan) agar pasien merasa nyaman dan nyerinya tidak dirasakan semakin memburuk.

Implementasi keperawatan dilakukan seluruhnya sesuai dengan perencanaan yang dibuat untuk mengatasi nyeri kepala pada pasien Ny.

M, dalam melaksanakan implementasi keperawatan penulis menyadari bahwa sikap kooperatif, respon baik pasien serta keluarga terhadap tindakan keperawatan yang diberikan menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran dan keberhasilan tindakan keperawatan.

Setelah menyusun rencana keperawatan dan melakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, penulis akan menilai sejauh mana tingkat keberhasilan yang didapatkan sesuai kriteria yang telah ditentukan. Evaluasi yang ditulis sesuai dengan kondisi pasien. Setelah tiga hari pengelolaan, penulis melakukan

evaluasi akhir (hari ketiga) pada tanggal 16 Mei 2022. Data subjektif yang didapatkan adalah pasien mengatakan nyeri kepala dan tengkuk berkurang jauh lebih baik dari sebelumnya dengan identifikasi nyeri diantaranya, nyeri diakibatkan karena peningkatan tekanan darah (P), nyeri dirasakan terasa seperti ditekan dan berat (Q), nyeri dirasakan di bagian kepala depan dan tengkuk (R), penurunan nyeri diinterpretasikan menggunakan skala nyeri numerik, pasien mengungkapkan skala nyerinya menjadi 3 (S), dan nyeri dirasakan hilang timbul (T). Pasien mengungkapkan nyerinya jauh berkurang setelah melakukan latihan terapi kombinasi relaksasi napas dalam dan pemberian aromaterapi. Selain itu, pasien juga merasa jauh lebih rileks setelah nyerinya berkurang. Pasien mengungkapkan setelah diajari cara melakukan relaksasi napas dalam, diberikan aromaterapi, dan minum obat dari puskesmas tidur pasien menjadi lebih nyenyak. Pasien mengatakan, saat nyeri muncul, pasien mencoba melakukan relaksasi napas dalam secara mandiri.

Data objektif pasien tampak lebih nyaman dan rileks, pasien mampu melakukan teknik relaksasi untuk mengontrol nyeri secara mandiri. TD : 150/80 mmHg, N : 101x/menit, RR : 20x/menit, S : 36,4°C. Pasien juga tampak sudah mampu mengenali onset nyerinya secara tepat.

Berdasarkan data yang diperoleh, nyeri kepala pasien teratasi karena terdapat penurunan intensitas nyeri dari yang semula pada skala nyeri sedang (skala 6) menurun menjadi ringan (skala 3) dengan manajemen nyeri, pasien mampu mengenali onset nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri), pasien mampu memanajemen nyeri secara mandiri (kemampuan menggunakan teknik non-farmakologis pasien meningkat), pasien mengungkapkan rasa rileks atau nyaman meningkat setelah nyeri menurun.

Planning untuk implementasi selanjutnya adalah anjurkan pasien melakukan teknik relaksasi napas dalam secara mandiri apabila merasa nyeri, anjurkan pasien untuk

(8)

7

mengonsumsi obat secara tertib, anjurkan keluarga untuk membantu menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Pasien meminum obat secara tertib, melakukan manajemen nyeri secara mandiri dengan benar, pasien kooperatif dalam melakukan tindakan keperawatan. Dalam 3 hari pelaksanaan asuhan keperawatan, didapati tekanan darah pasien menurun dengan angka paling signifikan pada hari pertama.

Penulis menyimpulkan hal tersebut dikarenakan pengaruh faktor lingkungan, pada hari pertama dilakukan tindakan keperawatan untuk manajemen nyeri pasien, kondisi lingkungan tenang karena di kediaman pasien hanya ada pasien dan suami pasien yang ikut mendampingi pasien saat diberikan tindakan keperawatan. Sedangkan pada hari kedua dan ketiga dilakukan tindakan keperawatan untuk memanajemen nyeri, kondisi lingkungan kediaman pasien cukup bising dan kurang kondusif dikarenakan banyak dari keluarga pasien yang yang berada di dalam rumah dan melakukan aktivitas masing-masing karena bertepatan dengan masih dalam suasana hari raya. Menurut Atmojo (2019), salah satu komponen dasar yang memengaruhi keberhasilan teknik relaksasi napas dalam adalah suasana yang tenang. Suasana yang tenang mampu memfokuskan pikiran dari hal- hal yang mengganggu.

Simpulan

Berdasarkan pembahasan

mengenai pengelolaan pada Ny. M dengan masalah nyeri kepala akibat hipertensi menggunakan terapi kombinasi teknik relaksasi napas dalam dan aromaterapi yang telah dilaksanakan selama 3 hari yakni sejak tanggal 14 Mei 2022 sampai 16 Mei 2022 di Wilayah Kerja Puskesmas Mertoyudan 1 maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Setelah melakukan pengkajian diperoleh hasil bahwa pasien dengan usia

59 tahun mengalami nyeri pada kepala bagian depan dan tengkuk karena adanya peningkatan tekanan darah, nyeri terasa seperti ditekan dan berat, dengan skala 6, intensitas nyeri dirasakan hilang timbul dan tekanan darah pasien 180/100 mmHg. Selain itu pasien tampak lemas, dan sesekali memijat-mijat area yang nyeri yakni pada kepala bagian depan dan tengkuk.

Pengkajian nyeri komprehensif menggunakan pengkajian symptom PQRST untuk menilai penyebab, kualitas, lokalisasi nyeri, skala nyeri, dan waktu timbulnya nyeri adalah hal yang tepat dilakukan.

Dengan pengkajian symptom PQRST penulis mampu mendapatkan data-data spesifik dan menyeluruh mengenai sensasi nyeri yang dialami pasien. Data-data yang penulis dapatkan, memudahkan penulis dalam merumuskan diagnosis keperawatan dan menyusun rencana keperawatan yang akan dilakukan. Dari data-data pengkajian baik subjektif maupun objektif tersebut diperoleh diagnosis keperawatan pada Ny.

M yaitu nyeri akut berhubungan dengan agens pencedera fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler serebral) ditandai dengan mengeluh nyeri.

Beberapa tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah nyeri akut semua dapat dilaksanakan sesuai intervensi yang dibuat selama 3 kali kunjungan dalam kurun waktu tiga hari. Kriteria hasil yang digunakan antara lain pasien melaporkan nyerinya menurun setelah dilakukan manajemen nyeri, pasien mampu mengenali onset nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri), pasien mampu memanajemen nyeri secara mandiri (kemampuan menggunakan teknik non-farmakologis pasien meningkat), pasien mengungkapkan rasa rileks atau nyaman meningkat setelah nyeri menurun. Seluruh tindakan keperawatan yang telah dilakukan tidak menimbulkan masalah baru pada pasien.

Hasil evaluasi keperawatan pasien Ny. M pada hari ketiga menunjukkan bahwa masalah keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agens pencedera fisiologis (peningkatan tekanan vaskuler

(9)

serebral) ditandai dengan mengeluh nyeri teratasi karena semua kriteria hasil pada rencana tindakan keperawatan tercapai.

Daftar Pustaka

[1] American Pain Society. (2008).

Principles of Analgesic Use in the Treatment of Acute Pain and Cancer Pain (6th ed.). Glenview: American Pain Society.

[2] Andarmoyo, S. (2013). Konsep &

Proses Keperawatan Nyeri.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

[3] Ardiansyah, M. (2012). Medikal

Bedah untuk Mahasiswa.

Yogyakarta: Diva Press.

[4] Aspiani, R. Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskular Aplikasi NIC & NOC (W. Praptiani (ed.)).

Jakarta: EGC.

[5] Atmojo, J. T. (2019). Efektivitas Terapi Relaksasi Benson Terhadap Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan. Vol 1 (8), 01-129, https://jurnalinterest.com/index.php/

int/article/view/117

[6] DeWit, S. C., Stromberg, H. K., &

Dallred, C. V. (2017). Medical- Surgical Nursing Concepts and Practice (3rd ed.). Elsevier Health Sciences.

[7] Fernalia, Priyanti, W., Effendi, S., &

Amita, D. (2019). Pengaruh Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Skala Nyeri Kepala Pada Pasien Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota

Bengkulu. MALAHAYATI

NURSING JOURNAL, 1(1), 25–34.

http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.

php/manuju/article/view/833

[8] Finocchi, C., & Sassos, D. (2017).

Headache and arterial hypertension.

38, 67–72.

https://doi.org/10.1007/s10072-017- 2893-x

[9] Hall, A. M., Perry, A. G., & Potter, Patricia Ann Stockert, P. A. (2020).

Fundamentals of Nursing (10th ed.).

Amsterdam: Elsevier.

[10] Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2018).

Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.).

Philadelphia: Wolters Kluwer.

[11] Hurst, M. (2015). Belajar Mudah Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta:

EGC.

[12] Irianto, K. (2014). Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung: Alfabeta.

[13] Jaelani. (2009). Aroma Terapi (1st ed.).

Jakarta: Pustaka Populer Obor.

[14] Kusyati, E., Santi, N. K., & Hapsari, S.

(2018). Kombinasi relaksasi napas dalam dan aroma terapi lavender efektif menurunkan tekanan darah. Junal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, 1, 76–

81.

https://prosiding.unimus.ac.id/index.ph p/semnas/article/view/41/41

[15] Lisdianto, J. T., Ludiana, & Pakarti, A.

T. (2022). Penerapan Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Nyeri Kepala Pada Penderita Penyakit Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Metro.

Jurnal Cendikia Muda, 2(September), 325–330.

[16] Muda, J. C., Mahendra, Y. P., Purwono, J., Ayubbana, S., Akademi, M., Dharma, K., Metro, W., Akademi, D., Dharma, K., & Metro, W. (2021).

Penerapan Aroma Terapi Mawar Terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi Pada Pasien Hipertensi. Jurnal Cendikia Muda, 1(2), 166–174.

http://jurnal.akperdharmawacana.ac.id/i ndex.php/JWC/article/view/197.

[17] Muttaqin, A. (2009). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta:

Salemba Medika.

[18] PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. (2016).

Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

(10)

9

[19] PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. (2018).

Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

[20] PPNI, Tim Pokja SLKI DPP.

(2019). Standar Luaran

Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

[21] Riyadi, S., & Harmoko. (2016).

Standard Operating Procedure dalam Praktik Klinik Keperawatan Dasar (Sutipyo (ed.)). Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

[22] Rosdahl, C. B., & Kowalski, M. T.

(2014). Buku ajar keperawatan dasar. Alih bahasa: Setiawan dan Anastasia Onny. Edisi 10. Jakarta:

EGC.

[23] Sembiring, S. P. K. (2018). Nyeri Kepala: Kenali dan Cegah.

Yogyakarta: Leutikaprio.

[24] Setyaningrum, N., & Suib, S.

(2019). Efektifitas Slow Deep Breathing Dengan Zikir Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi. IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices), 3(1), 35–41.

https://doi.org/10.18196/ijnp.3191.

[25] Setyawan, D., & Kusuma, M. A. B.

(2014). Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Pada Leher Terhadap Penurunan Intensiytas Nyeri Kepala Pada Pasien Hipertensi Di RSUD Tugurejo Semaranh. Jurnal Keperawatan dan Kebidanan. (JIKK), 1-11.

[26] Shilton, T., Champagne, B., Blanchard, C., Ibarra, L., &

Kasesmup, V. (2013). Towards a global framework for capacity building for non-communicable disease advocacy in low- and middle-income countries. Global Health Promotion, 20(4_suppl), 6–

19.

https://doi.org/10.1177/1757975913 501208.

[27] Silalahi, F. S. A., & Astarani, K.

(2018). Pijat Aromaterapi Efektif Menurunkan Insomnia Lansia. Jurnal STIKES, 11(2), 89–160.

[28] Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J.

L., & Cheever, K. H. (2010). Handbook for Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (12th ed.).

Philadelphia: Lippincott Williams &

Wilkins.

[29] Sutrisno, Widayati, C. N., &

Rahmawati, I. P. (2021). Pengaruh Pemberian Relaksasi Aromaterapi Lavender Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Hipertensi Dusun Pengkol, Desa Depok, Kecamatan Toroh. Journal of TSCNers, 6(1), 1–8.

http://ejournal.annurpurwodadi.ac.id/in dex.php/TSCNers/article/view/266.

[30] Tarwoto. (2013). Keperawatan Medikal Bedah : Gangguan Sistem Persarafan (II). Jakarta: Sagung Seto.

[31] Tawaang, E., Mulyadi, N., &

Palandeng, H. (2013). Pengaruh Teknik Relaksasi Napas Dalam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Sedang-Berat Di Ruang Irina C Blu Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jurnal Keperawatan UNSRAT, 1(1), 104995.

[32] Trisnawan, A. (2019). Mengenal Hipertensi (Ade (ed.)). Semarang:

Mutiara Aksara.

[33] Trisnawati, E., & Jenie, I. M. (2019).

Terapi Komplementer Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi: A Literatur Review. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 6(3), 641.

https://doi.org/10.35842/jkry.v6i3.370 [34] Udjianti, W. J. (2013). Keperawatan

Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.

[35] Widharto. (2018). Bahaya Hipertensi.

Jakarta Selatan: Sunda Kelapa Pustaka.

[36] Wijaya, A. S., & Putri, Y. M. (2013).

KMB 1 : Keperawatan Medikal Bedah Keperawatan Dewasa Teori dan Contoh ASKEP. Yogyakarta: Nuha Medika.

(11)

[37] World Health Organization. (2020).

Global Health Estimates 2019: Life expectancy and leading causes of death and disability globally, by WHO region and country, by age, sex and by income group. World

Health Organization.

https://www.who.int/data/gho/data/t hemes/mortality-and-global-health- estimates

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efektivitas teknik relaksasi napas dalam dan aromaterapi lavender terhadap intensitas nyeri menstruasi pada remaja di Madrasah

Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh latihan teknik relaksasi pernapasasn menggunakan aromaterapi lavender terhadap intensitas nyeri akibat luka post sectio

Kurnia Erlin (2011), penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Terapi Relaksasi Napas Dalam (Deep Breathing) Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi napas dalam terhadap perubahan tekanan darah pada pasien lansia dengan hipertensi

Perbedaan Nyeri Persalinan Pada Ibu Bersalin Primigravidarum Kala I Fase Aktif Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Kombinasi Massage Effleurage Dan Aromaterapi

Terapi isometric handgrip exercise efektif dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dan dapat mengurangi rasa nyeri pada kepala akibat meningkatnya tekanan darah, hal

PEMBAHASAN Kombinasi dari teknik relaksasi napas dalam dengan guided imagery menunjukkan secara signifikan dapat menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan oleh pasien post menjalani

Alasan peneliti ingin membedakan tingkat nyeri antara pemberian relaksasi benson dan aromaterapi lavender yaitu untuk melihat efektifitas kedua terapi nonfarmakologi tersebut dengan