• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terapi Aktivitas Kelompok untuk Mengontrol Halusinasi pada Pasien Skizofrenia

N/A
N/A
Lamaliffindria nisa

Academic year: 2024

Membagikan " Terapi Aktivitas Kelompok untuk Mengontrol Halusinasi pada Pasien Skizofrenia"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

Terapi Aktivitas Kelompok dengan Stimulasi Persepsi terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi pada Pasien Skizofrenia

Disusun Oleh:

M. Zuhruf Maufiqi. (2022121002) Lamalif Findria N. (2022121003) Soffinda Nur S. (2022121012) Feriska Dwi Alya (2022121019) Fandora Pungky Y (2022121037) Syifa Alka N. (2022121051) Titis Alfiani C. (2022121053) Feni Putri (2022121054)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS SAINS TEKNOLOGI KESEHATAN

UNIVERSITAS SAHID SURAKARTA 2024

(2)

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

GANGGUAN PERSEPSI SENSORI (HALUSINASI)

Topik : Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Mengontrol Halusinasi Jenis TAK : Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi sensori dan motorik Terapis : Mahasiswa keperawatan Usahid

Sasaran : Pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi A. PENGORGANISASIAN

1. Pendahuluan

Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori yang menyerang pancaindra, dimana seseorang memersepsikan suatu objek atau gambaran dan pikiran yang sebenarnya tidak terjadi atau tidak nyata. Halusinasi diantaranya merasakan sensasi berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penciuman tanpa stimulus nyata.

Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologi dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosi. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan oleh perorangan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, lingkungan Masyarakat yang didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain seperti keluarga dan lingkungan sosial (Widya Sepalanita, 2019)

Salah satu gangguan jiwa yang dimaksud adalah skizofrenia. Gangguan persepsi yang utama pada pasien skizofrenia adalah halusinasi, sehingga halusinasi menjadi bagian hidup pasien.Pasien yang mengalami halusinasi biasanya mengalami gangguan dalam menilai dan menilik sehingga perilaku pasien sulit dimengerti.Pasien dengan gangguan jiwa psikotik mengalami gangguan dalam mengidentifikasi stimulus internal maupun eksternal, tidak dapat membedakan khayalan dan kenyataan serta pembicaraan pasien tidak sesuai dengan realita.

Halusinasi didefinisikan sebagai terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak ada stimulus. Salah satu tipe halusinasi adalah halusinasi

pendengaran (auditory-hearing voices or sounds) dan menjadi tipe halusinasi yang paling banyak diderita . Halusinasi harus menjadi fokus perhatian kita bersama, karena apabila halusinasi tidak ditangani secara baik dapat

(3)

menimbulkan resiko terhadap keamanan diri pasien sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan halusinasi dengar pasien sering berisi ejekan, ancaman dan perintah untuk melukai dirinya sendiri maupun orang lain (Shella Oktaviani, 2022).

2. Landasan Teori

a. Terapi Aktivitas Kelompok

Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama.

Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaannya,seperti agresif, takut, kebencian,

kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik.

Semua kondisi ini akan memengaruhi dinamika kelompok

Menurut Yusuf Efendi Terapi Aktivitas Kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada seklompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Terapi ini juga disebut sebagai terapi yang memanfaatkan dinamika kelompok.

Menurut Fitriya Handayani Terapi Aktivitas Kelompok

adalah suatu psikoterapi yang diberikan kepada sekelompok pasien dengan dilakukan secara berkelompok dengan masalah keperawatan yang sama yang dipimpin oleh perawat atau tenaga kesehatan.

Berdasarkan pemaparan teori diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama yang didasarkan pada pembelajaran hubungan interpersonal dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Dengan bergabung dalam kelompok, klien dapat saling bertukar pikiran dan pengalaman dan akan terjadi hubungan saling membutuhkan antar klien.

b. Halusinasi 1) Pengertian

Halusinasi adalah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan atau penghiduan.

(4)

Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada 2) Proses Terjadinya Halusinasi

Klien mempunyai ilusi jika interpretasi yang dilakukan terhadap stimulus panca indera tidak akurat sesuai yang diterima. Tanda dan gejala pasien halusinasi adalah sebagai berikut:

a. Data Obyektif

 Bicara atau tertawa sendiri.

 Marah-marah tanpa sebab.

 Memalingkan muka ke arah telinga seperti mendengar sesuatu  Menutup telinga.

 Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu.

 Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas.

 Mencium sesuatu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.  Menutup hidung.

 Sering meludah.

 Muntah.

 Menggaruk-garuk permukaan kulit.

b. Data Subyektif: Pasien mengatakan :

 Mendengar suara-suara atau kegaduhan.

 Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.

 Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.

 Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau monster.

 Mencium bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang- kadang bau itu menyenangkan.

 Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses

 Merasa takut atau senang dengan halusinasinya.  Mengatakan sering mendengar sesuatu pada waktu tertentu saat sedang sendirian.

 Mengatakan sering mengikuti isi perintah halusinasi 3. Tujuan

(5)

a. Umum

Pasien dapat meningkatkan kemampuan diri dalam mengontrol halusinasi dalam kelompok secara bertahap.

b. Khusus

1) Pasien mampu memperkenalkan diri 2) Pasien mampu mengenal halusinasi

3) Pasien mampu mempraktikan mengontrol halusinasi dengan menghardik

4. Kriteria kelompok

a. Pasien halusinasi yang sudah terkontrol

b. Klien dalam kondisi tidak gelisah dan kooperatif

c. Klien dengan diagnosa keperawatan jiwa yang sama yaitu halusinasi d. Pasien bisa membaca dan menulis

e. Klien berjumlah 3 pasien

f. Klien bersedia mengikuti Terapi Aktivitas Kelompok

g. Klien mengalami halusinasi pendengaran, halusinasi penglihatan, halusinasi penciuman

5. Proses seleksi

a. Berdasarkan observasi dan wawancara b. Menindak lanjuti asuhan keperawatan

c. Informasi dan keterangan dari pasien sendiri dan perawat d. Penyelesian masalah berdasarkan masalah keperawatan

e. Pasien cukup kooperatif dan dapat memahami pertanyaan yang diberikan f. Mengadakan kontrak dengan pasien

6. Jadwal pelaksanaan

Tempat : Laboratorium Gawat Darurat usahid Hari/ Tanggal : Senin, 27 Mei 2024

Waktu : 13.00 – selesai Kegiatan permainan:

a. Perkenalan dan pengarahan (5 menit) b. Role play sesi 1 (10 menit)

c. Diskusi (5 menit)

d. Role play sesi 2 (10 menit)

(6)

e. Diskusi (5 menit) f. Evaluasi (5 menit) g. Penutup (3 menit)

7. Nama anggota (inisial nama) a. Ny. F

b. Ny. P c. Ny. T 8. Media dan alat

a. Alat tulis b. Mainan c. Sound/ musik 9. Metode

Metode yang digunakan dalam terapi aktivitas kelompok in iadalah komunikasi terapeutik, diskusi, tanya jawab dan bermain. Kegiatan TAK menggunakan system sesi yang dibagi menjadi 1 sesi dengan tujuan khusus yaitu:

a. Sesi 1 : Kemampuan berkenalan danmengenal halusinasi b. Sesi 2 : Kemampuan mengontrol halusinasi dengan menghardik 10. Pembagian tugas terapis

Sesi 1 dan 2

Leader : Lamalif Findria Nisa Co- leader: Syifa alka

Fasilitator : Feriska dwi alya, soffinda nur solikhah Observer : M. Zuhruf maufiqi

11. Pembagian peran tim/ uraian tugas a. Leader

1) Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktifitas kelompok sebelum kegiatan dimulai

2) Memberikan memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan memperkenalkan dirinya

3) Mampu memimpin terapi aktifitas kelompok dengan baik dan tertib 4) Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok

5) Menjelaskan permainan

(7)

b. Co-leader

1) Menyampaikan informasi dari fasilitatorke leader tentang aktifitas pasien

2) Membantuleader dalam memimpin permainan 3) Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang

4) Memberikan reward bagi kelompok yang menyelesaikan perintah dengan cepat

5) Memberikan punishment bagi kelompok yang kalah c. Fasilitator

1) Memfasilitasi pasien yang kurang aktif

2) Memberikan stimulus pada anggota kelompok

3) Berperan sebagai role play bagi pasien selama kegiatan d. Observer

1) Mengobservasi dan mencatat jalannya proses kegiatan

2) Mencatat perilaku verbal dan non verbal pasien selama kegiatan berlangsung

3) Mencatat peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok 4) Mencatat jika ada peserta yang drop out dan alasan drop out 12. Setting tempat

Keterangan:

L : Leader CL : Co Leader F : Fasilitator O : Observer P : Pasien 13. Program Antisipasi

L F CL

P P

P F O

(8)

Penanganan Klien yang tidak kooeratif saat terapi aktivitas kelompok a. Bila klien meninggalkan kegiatan tanpa pamit

1) Panggil nama klien

2) Tanyakan alasan klien meninggalkan kegiatan

3) Berikan penjelasan tentang tujuan kegiatan dan berikan penjelasan pada klien bahwa dapa tmelaksanakan keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi.

b. Bila ada klien lain yang ikut

1) Berikan penjelasan bahwa kegiatan ini ditujukan pada klien yang telah dipilih

2) Katakan pada klien lain bahwa ada kegiatan lain yang dapat diikuti oleh klien tersebut

3) Jika klien memaksa beri kesempatan untuk masuk dengan tidak member peran pada kegiatan tersebut

B. PELAKSANAAN 1. Sesi 1

a. Persiapan

1) Memilih klien sesuai dengan indikasi yaitu klien dengan perubahan sensori persepsi: halusinasi

2) Membuat kontrak dengan klien

3) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan b. Orientasi

1) Salam terapeutik : terapis mengucapkan salam

2) Evaluasi validasi :terapis menanyakan peserta hari ini 3) Kontrak:

a) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan

b) Terapis menjelaskan aturan utama (Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus meminta izin kepada terapis)

c. Kerja

1) Terapis memperkenalkan diri: Nama dan nama panggilan. Terapis meminta klien memperkenalkan nama dan nama panggilan secara berurutan dimulai dari klien yang berada di sebelah kiri terapis secara berurutan searah jarum jam.

(9)

2) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan yaitu masing-masing klien membagi pengalaman tentang halusinasi yang mereka alami dengan menceritakan:

a) Isi halusinasi b) Waktu terjadinya c) Frekuensi halusinasi

d) Perasaan yang timbul saat mengalami halusinasi

3) Terapis meminta masing-masing klien secara bergantian menceritakan tentang halusinainya, dimulai dari isi, frekuensi, durasi, jenis, dan respon. Terapis mengggunakan media bola plastic sambil memutar musik dan bola bergeser searah jarum jam sampai music berhenti ke 1 klien kemudian 1 klien harus menceritakan tentang halusinasi yang di alami.

4) Saat setelah seseorang selesai menceritakan pengalaman halusinasi.

Terapis mempersilahkan klien lain untuk bertanya sebanyak-banyaknya 3 pertanyaan.

5) Lakukan kegiatan sampai pasien mendapat giliran

6) Setiap klien klien bias menceritakan halusinasinya terapis memberikan pujian atau reinforcement.

2. Sesi 2

a. Persiapan

1) Mempersiapkan alat Bola

2) Mempersiapkan tempat pertemuan b. Orientasi

1) Salam terapeutik : terapis mengucapkan salam 2) Evaluasi / Validasi:

a) Terapis menanyakan perasaan klien hari ini.

b) Terapis menanyakan pengalaman halusinasi yang telah terjadi.

c. Kontrak

1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan.

2) Terapis menjelaskan aturan main.

3) Lama kegiatan : 20 menit

a) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

(10)

b) Jika akan meninggalkan kelompok, klien harus meminta ijin d. Kerja

1) Terapis mengucapkan salam dan mengucapkan semangat pagi agar para klien semangat sebelum melakukan PELAKSANAAN 1 menghardik 2) Terapis memperkenalkan dirinya secara semangat agar klien

memperhatikan

3) Terapis menjelaskan apa itu PELAKSANAAN 1 menghardik dan fungsi dan manfaatnya serta bagaimana caranya

4) Leader meminta co leader untuk memperagakan cara menghardik halusinasi

5) Klien ikut memperagakan menghardik secara bersama-sama dengan terapis yang di dampingi oleh fasilitator

6) Kemudian terapis mengggunakan media bola plastic sambil memutar musik dan bola bergeser searah jarum jam sampai music berhenti ke 1 klien kemudian 1 klien harus melakukan menghardik.

7) Setiap selesai klien melakukan tindakan PELAKSANAAN 1, terapis memberikan pujian dan mengajak peserta lain memberikan tepuk tangan “tepuk hebat” “pak/buk (nama klien) memang hebat”

8) Terapis menanyakan kembali cara menghardik dengan menunjuk pasien secara acak.

9) Setelah sesi 1 dan 2 selesai terapis menjelaskan adanya kegiatan tambahan yaitu kegiatan kesenian meronce. Didampingi fasilitator klien di bombing untuk membuat karya berupa gelang maupun tasbih

10)Terapis menutup kegiatan dengan salam dan tepuk tangan, dan mengucapkan semangat pagi.

e. Terminasi 1) Evaluasi

a) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK b) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok 2) Rencana tindaklanjut

Terapis menganjurkan klien untuk menerapkan cara yang sudah dipelajari jika halusinasi muncul

C. EVALUASI

(11)

(EVALUASI SESI I)

No Aspek yang Dinilai Nama Peserta TAK

1. Menyebutkan isi halusinasi 2. Menyebutkan waktu halusinasi 3. Menyebutkan frekuensi halusinasi 4. Menyebutkan perasaan bila halusinasi

timbul Keterangan:

= Dilakukan

= Tidak dilakukan

(EVALUASI SESI 2)

No Aspek yang Dinilai Nama Peserta TAK

5. Menyebutkan 1 cara yang selama ini digunakan untuk mengatasi halusinasi 6. Menyebutkan cara mengatasi halusinasi

dengan menghardik

7. Memperagakan menghardik halusinasi Keterangan:

= Dilakukan

= Tidak dilakukan

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Judul Skripsi : Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Terhadap Kemampuan Mengontrol Marah Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Menyatakan dengan

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah ada pengaruh dan perbedaan yang efektif terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi Halusinasi, Mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat adalah kegiatan terapi yangdilakukan secara berkelompok

Berdasarkan tabel 1, observasi kemampuan mengontrol halusinasi sebelum diberi intervensi pelaksanaan teknik mengontrol halusinasi dari total keseluruhan pasien skizofrenia dengan

Hasil penelitian yang didapat menunjukkan kemampuan mengontrol halusinasi sebagian besar dalam katagori kurang sebelum dilakukan terapi aktivitas kelompok stimulasi

test. Kesimpulan: 1) Pasien skizofrenia sebelum diberikan terapi aktivitas kelompok mayoritas mempunyai kemampuan mengontrol marah tergolong tidak mampu yaitu sebanyak 17

tempat untuk klien berlatih perilaku yang adaptif. Pada Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi klien diajarkan untuk mengenal halusinasi sebagai sesuatu yang

Hasil studi kasus Hasil studi kasus pada pasien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi setelah dilakukan intervensi keperawatan dengan terapi aktivitas kelompok stimulasi