TESAMOKO
TESAURUS BAHASA INDONESIA Edisi Kedua
Eko Endarmoko
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
TESAMOKO
Tesaurus Bahasa Indonesia
Edisi Kedua
Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan per buatan sebagaima- na dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima mi liar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, me nge dar kan, atau menjual ke- pada umum suatu ciptaan atau barang hasil pe langgaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta ru piah).
TESAMOKO
Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua
Eko Endarmoko
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
TESAMOKO Tesaurus Bahasa Indonesia
Edisi Kedua oleh: Eko Endarmoko
All rights reserved GM 616217004
Hak cipta © 2016 Eko Endarmoko
© Hak penerbitan dalam format cetak kertas ada pada PT Gramedia Pustaka Utama
Gedung Kompas Gramedia Blok I, Lt 5 Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
© Hak penerbitan dalam format digital dan/atau lainnya ada pada Eko Endarmoko dan PT Gramedia Pustaka Utama
Perwajahan isi: Ayu Lestari Diterbitkan pertama kali oleh
PT Gramedia Pustaka Utama Anggota IKAPI, Jakarta 2016
Edisi Pertama Cetakan I: November 2006
Cetakan II: Maret 2007 Cetakan III: Desember 2009
Edisi Kedua Cetakan I: April 2016 Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.
ISBN: 978-602-03-2577-4
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan
Daftar Isi
Ucapan Terima Kasih vii
Mukadimah Edisi Kedua xi
Panduan Pemakaian xvii
Mukadimah Edisi Pertama xxiii
Tentang Tesaurus Ini xxvi
A – Z 1-792
Sumber Data dan Daftar Acuan 793
Gerombolan Tesamoko 797
Ucapan Terima Kasih
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, di akhir acara peluncuran Tesaurus Bahasa In- donesia (TBI) pada Januari 2007 di Teater Utan Kayu, Jakarta, kepada saya memberi saran pendek saja, bahwa sebaiknya saya melibatkan teman-teman linguis bila kelak terpikir mengerjakan edisi revisi. Sebuah ide yang sangat jitu dan mencerahkan.
Lebih dari setahun kemudian, pada sekitar masa ketika terbit pikiran akan merevisi edisi pertama buku ini, Juni 2008, stroke menyerang dan melumpuhkan sebelah kiri tubuh saya. Namun, bukan itu yang pertama-tama mengingatkan saya akan saran Pak Sapardi. Mengira-ngira segi apa saja yang memerlukan perbaikan,
1saya agak sangsi sanggup mengerjakan semua itu sendiri lagi seperti sewaktu menyusun edisi pertama, bahkan kalaupun stroke tak mampir.
Sebenarnyalah saya tidak punya kata yang sanggup mewakili apa yang saya rasa- kan manakala menyaksikan teman-teman—tidak sedikit yang baru saling mengenal di sini, di dalam “Gerombolan Tesamoko”—dapat menyelenggarakan kerja sama yang menyenangkan sekaligus meluaskan wawasan hingga selama dan sejauh ini.
Adalah Prof. Dr. Multamia Lauder yang mengusulkan sebutan Gerombolan Tesamoko dalam sebuah obrolan setelah makan siang di rumahnya. Terlibat dalam obrolan itu, antara lain, Prof. Dr. Multamia Lauder sendiri dan suaminya, Dr. Allan F. Lauder, serta Prof. Dr. Amin Sweeney, Dr. Felicia Nuradi Utorodewo, dan beberapa teman lain dari Gerombolan. Sekalipun disampaikan lebih dengan maksud berkelakar, lambat-laun sebutan itu menjadi semacam bendera yang semakin erat merekatkan kami satu sama lain. Terima kasih kepada Stephanus Erman Bala yang mengusulkan nama “Te- samoko” (menurut Steve, Tesamoko adalah akronim dari Tesaurus Eko Endarmoko).
Pak Amin, Mbak Multamia, Mbak Felicia, dan kemudian Prof. Dr. Bambang Kas- wanti Purwo, yang dengan kedua lengan terbuka sangat lebar berkenan menerima permintaan saya supaya sudi membagi ilmu dengan menjadi tempat kami bertanya, terimalah penghargaan dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya yang tulus dari saya dan teman-teman. Malah dalam pertemuan awal kami di Pusat Dokumen- tasi Sastra H. B. Jassin,
2presentasi Mbak Felicia tentang relasi makna di hadapan
1 Lihat “Mukadimah Edisi Kedua”.
2 Karena tidak punya kantor, rapat Gerombolan Tesamoko sering berpindah-pindah tempat. Se- benarnya lebih kami sukai adalah tempat yang memiliki area bersinyal, mengingat kerja kami bersandar pada jaringan internet. Waktu itu ruang di Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin juga kami pakai, sebab menurut saya cukup memadai. Kemudian di tempat ini saya menitipkan sejumlah buku rujukan, kebanyakan berupa kamus milik Mbak Felicia dan saya, yang dapat dipinjam kapan saja oleh rekan yang memerlukannya.
viii
Tesamokokami menjadi semacam kuliah satu semester Semantik Leksikal yang dipampatkan menjadi dua kali pertemuan. Di sisi itu, kecintaan yang luar biasa terhadap bahasa Indonesia serta keluasan pengetahuan (terutama mengenai sejarah dan kedudukan bahasa Indonesia di tengah kebudayaan Melayu), kegairahan yang hebat di dalam bekerja, dan selera humor Pak Amin yang sering sarat ironi jelas memberi penga- ruh yang tidak kecil terhadap Gerombolan. Karena itu, kepulangan Pak Amin yang mendadak ke pangkuan Sang Pencipta pada 13 November 2010 dalam usia 71 tahun sangat mengagetkan dan membawa duka mendalam bagi kami semua.
Membayangkan kerja merevisi bersama sejumlah orang lain—bukan hanya te- man dari kalangan linguis, tapi saya ajak pula mereka yang sama dekatnya dengan bahasa dari sudut sedikit berbeda, yaitu teman-teman yang sedikit banyak punya pengalaman menulis atau menerjemahkan
3—hal pertama yang saya lakukan ada- lah membagikan fotokopi perbesaran naskah TBI. Pada tahap awal masing-masing mendapat jatah sekitar 80 halaman plus setumpuk kertas HVS 80 gram ukuran seperempat A4 disertai batasan mengenai segi apa saja yang perlu dikerjakan. Lalu datanglah Ivan Lanin membawa program aplikasi Tesamoko. Aplikasi Tesamoko ini merombak total cara kerja konvensional menyusun tesaurus, melompat sangat amat jauh dari cara manual dengan kertas dan perkakas tulis ke aplikasi komputer yang dapat diakses oleh kami di mana saja dan kapan saja.
Ivan Lanin kemudian memilih fokus pada penanganan teknologi yang mendukung kerja kami dan mengajak seorang temannya, Romi Hardiyanto, yang bermukim di Bremen. Ivan dan Romi, sungguh tak berhingga rasa terima kasih saya atas sumbang- an tenaga, waktu, dan terutama pemikiran berupa program yang sangat penting di dalam penyusunan tesaurus dalam bahasa Indonesia itu. Saya pikir, di sini tempat- nya saya sampaikan pula terima kasih kepada Tuti Marhaeni yang bertungkus lumus mengubah teks inal versi revisi dari format web ke format Word.
43 Tidak pernah dapat saya mengerti sampai sekarang apa yang mendorong saya menetapkan se- siapa saja yang saya harapkan bantuannya menggarap perbaikan terhadap TBI ini. Seingat saya, saya meminta kesediaan tiap individu dengan begitu saja. Barangkali faktor kimiawi ikut atau malah banyak bekerja di sana. Lebih jauh lihat “Anggota Gerombolan Tesamoko”.
4 Bagian dari tahap akhir kerja merevisi ini (mengembalikan teks dari format bahasa program Te- samoko ke format Word menjadi persoalan tersendiri yang ikut mengakibatkan tenggat semakin jauh dari jadwal. Ivan Lanin—hanya dia seoranglah yang memegang kunci untuk dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem atau aplikasi Tesamoko—karena kesibukannya, “menghilang” justru pada ketika teks revisi, yang ketika itu sudah hampir setahun melampaui tenggat, relatif selesai. Hampir putus asa karena terlalu lama melewati tenggat, terutama karena saya telah melupakan kondisi diri sendiri yang sudah banyak berubah dengan kesehatan yang merosot drastis pasca-stroke dan ditambah absennya Ivan Lanin, saya menawarkan kepada penerbit teks revisi sebagaimana adanya, artinya dalam rupa bahasa Tesamoko di web. Namun, tenaga operator penerbit rupanya tak bisa masuk ke sana, selain ada risiko sangat besar banyak parameter di sana bakal gagal dialihkan,
Ucapan Terima Kasih
ix
Ucapan terima kasih yang tulus dan tak kalah besarnya juga saya sampaikan ke- pada Dr. Bagus Takwin, Eliza Vitri Handayani, Indra Sarathan, Juinita Senduk, Miagina Amal, Neneng Nurjanah, Rani Elsanti, Stephanus Erman Bala, Dr. Totok Suhardi- yanto, Uu Suhardi, Yanwardi Natadipura, dan Zen Hae. Mereka ini terlibat langsung dalam kerja kolaborasi menggarap perbaikan Tesamoko baik melalui diskusi bersa- ma, yang sering berjalan alot dan tidak serta-merta mencapai kata sepakat tentang satu pokok soal, maupun lewat aplikasi Tesamoko tadi. Dan di sini penting adalah peran yang dimainkan Asty Fernandez sebagai tenaga pendukung, yaitu menginput sebagian perbaikan ke dalam program aplikasi. Untuk inilah saya sampaikan banyak terima kasih kepada Asty. Kiranya saya pun harus berterima kasih kepada Pusat Do- kumentasi Sastra H. B. Jassin, Komunitas Utan Kayu, Komunitas Salihara, dan kantor majalah Tempo ketika masih beralamat di Velbak, Kebayoran Baru, yang mengizini kami memakai sebagian ruang di sana untuk sekali dua kali rapat kami, sebelum akhirnya kami bisa rapat secara lebih teratur di salah satu ruang rapat kantor hukum LGS (Lubis Ganie Surowidjojo), di lantai 30 Menara Imperium, bilangan Kuningan, Jakarta, atas budi baik Mas Arief T. Surowidjojo.
Tidak bisa tidak saya pun sangat menghargai kerja Neneng Nurjanah menghim- pun, menyusun, dan merumuskan pokok-pokok dari sekian banyak persoalan dalam diskusi kami tadi sebagai bahan pertimbangan untuk saya. Sementara itu, Eliza dan Bagus Takwin menjalankan usaha serupa, dengan ketekunan dan kejelian yang sama, yaitu mengumpulkan, mengklasiikasi, serta memberi catatan atas sejumlah tanggapan terhadap edisi pertama dari berbagai-bagai sumber. Saya kira, beragam tanggapan itu berangkat dari niat yang sama, yaitu mengidamkan sebuah tesaurus dalam bahasa Indonesia yang dapat mencukupi kebutuhan mereka dan para peng- guna pada umumnya. Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua penanggap itu yang, didahului permohonan maaf, tidak dapat saya sebutkan nama- nya satu demi satu di sini.
seperti format huruf tebal atau miring yang bertebaran di sekujur teks. Pada sekitar masa pera- lihan itulah Tuti Marhaeni menawarkan bantuannya. Namun, sebagai bisa diduga, seperti tenaga operator penerbit (dan saya), ia gagal membaca program Tesamoko. Tapi, saya kira antara lain didorong rasa penasarannya sendiri selain ada hasrat membantu penyelesaian Tesamoko, Tuti tetap berkeras pada keinginannya mengubah teks itu dari format web ke format Word. Jadilah ia bekerja praktis secara manual. Sudah tentu prosesnya berjalan sangat lambat. Menurut Tuti, dalam sehari ia “hanya” sanggup menggarap kira-kira lima (dari 598) halaman web atau kurang lebih 250 (dari 29. 874) lema dan sublema. Lalu pada Mei 2015 tiba-tiba datang dewa penolong. Romi Hardiyanto yang praktis tak pernah berkontakan dengan Gerombolan kecuali dengan Ivan Lanin, dari Bremen lewat WhatsApp mengirim kabar kepada saya yang bikin girang. Ia sangat ingin dapat membantu mempercepat Tesamoko sampai ke penerbit. Demikianlah, Romi bukan saja mengembalikan for- mat teks revisi hanya dalam tempo semalam, tapi bahkan sekaligus merapikan tata letak agar lebih siap diserap program InDesign di meja pracetak penerbit.
x
TesamokoTidak jarang saya bertanya, sering kemudian diikuti pertukaran pikiran, bukan saja dengan teman dari Gerombolan, tapi juga dengan beberapa teman lain yang menye- babkan saya berutang budi. Terima kasih kepada Mas Goen (Goenawan Mohamad), Mas Bondan Winarno, Ahmad Sahal, Ayu Utami, Hasif Amini, Marco Kusumawijaya, Dr. Sastri Sunarti Sweeney, Dr. Mu’jizah, Samsudin Berlian, Salomo Simanungkalit, Rainy Hutabarat, Mulyo Sunyoto, Seno Gumira Ajidarma, Rita Sri Hastuti, Iksaka Banu, Eddie Prabu, serta dokter Purnamawati, yang meladeni keceriwisan saya ber- tanya ini dan itu, baik secara langsung dalam sebuah percakapan maupun melalui berbagai media komunikasi, seperti pesan pendek, telepon, surat elektronik, atau WhatsApp. Pun kepada Widya Kirana, editor penerbit yang memberi banyak catatan berharga pada teks sebelum naik cetak, saya sampaikan banyak terima kasih. Teri- ma kasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada Pandu Ganesa yang menghadiahi saya Tesaurus Bahasa Melayu Dewan edisi baharu (2005) di akhir acara peluncuran Tesaurus Bahasa Indonesia di Bentara Budaya, Jakarta, Januari 2007 yang silam. Pak T. D. Asmadi, terima kasih atas kiriman buku yang sama, Tesaurus Bahasa Melayu Dewan (cetakan keempat, 2015) pada Januari 2015 yang baru lalu.
Perlu sekali lagi saya sampaikan terima kasih yang tak berhingga kepada Mas Goen, Mas Arief T. Surowidjoyo, dan Mas Bondan Winarno yang banyak membantu saya me- lampaui masa pemulihan pasca-stroke hingga kerja ini akhirnya dapat selesai sekalipun jauh melewati tenggat oleh berbagai sebab di luar kuasa kami. Akhirnya, juga sekali lagi harus saya sampaikan terima kasih kepada Uu Suhardi dan Neneng Nurjanah yang menemani saya membereskan pruf Tesamoko di beranda samping sebuah kedai makan di bilangan Cikini, Jakarta, sebelum kami kirim ke penerbit.
Nyatalah sudah, kepada banyak sekali pihak saya berutang budi atas aneka bentuk sokongan, dalam kadar yang berbeda-beda, demi penyempurnaan tesaurus bahasa Indonesia ini. Namun, mereka semua tentu saja tidak bertanggung jawab atas apa yang barangkali keliru dalam buku ini. Tanggung jawab itu sepenuhnya berada di atas pundak saya seorang.
Pondok Ungu, Bekasi Utara, Juli 2015/Februari 2016
Mukadimah Edisi Kedua
Tidak pernah ada dalam sejarah, sebuah kamus dapat selesai dalam sekali penger- jaan. Perbaikan terhadap Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) ini pun sesungguhnya tak lain dan tak bukan adalah bagian dari serangkaian kerja jangka panjang ke depan.
Secara umum, perbaikan di sini menyangkut baik bentuk atau penyajian maupun kandungan isinya.
Perubahan yang segera tampak adalah (1) isik buku. Edisi pertama berukuran 15 x 23 cm, tebal 738 halaman, sedang edisi kedua melebar jadi 17 x 24 cm, tebal 832 halaman. Cara penyajian yang berubah tampak pada: (2) Jenis huruf kini tidak bertakik, (3) Angka arab superskrip penanda homonimi pindah dari kiri atau depan ke sebelah kanan atau belakang lema, (4) Tata letaknya tidak lagi rata kiri kanan melainkan rata kiri dan tanpa pemenggalan kata di ujung kanan baris. Juga tampak menonjol adalah (5) Penyajian polisemi, yang ditandai dengan angka arab, tidak lagi berjajar dalam satu paragraf melainkan disusun berurut ke bawah, juga (6) Penyajian gugus di dalam kelompok sinonim, yang semula saling terpisah oleh tanda baca /;/
kini penandanya lebih tegas, yaitu huruf romawi kecil bercetak tebal. Lalu, (7) Ada tiga anotasi baru berupa singkatan yang dicetak tebal dan miring, yaitu sin (sinonim), ant (antonim), dan var (variasi). Selanjutnya, (8) Tesamoko membuang semua tanda baca /;/, bukan saja karena mubazir tapi juga karena menjadikan permukaan tempat kata-kata menempel tampak bersih.
kekar1 a sin
1 a (tt perawakan:) agam, bagas, bedegap (ark), cegak, gagah, perkasa, tegap b kuat, kukuh, masif, pagan, pagun (Mk)
2 (tt anyaman:) kedap, kejat, kerap, kompres, padat, rapat
ant a letoi (cak) b ringkih var keker
kekar2 a sin 1 mekar
2 bekah (kl), belah, bengkah, cekah, lekang, raka, rekah, rengat, rengkah, retak
Mengingat luas aspek yang perlu ditangani, perbaikan isi dalam Tesamoko saya
batasi pada tiga hal pokok. Pertama, mengimbuhkan antonim. Kedua, menambah-
xii
Tesamokokan sejumlah kata baru sesuai dengan kriteria yang telah kami tetapkan.
1Terakhir, menertibkan korespondensi dengan sedapat mungkin ketat melaksanakan asas resiprokal.
Namun pada kenyataannya, di dalam bekerja saya sangat sulit menghindar dari dorongan menyentuh juga aspek-aspek yang sebetulnya menjadi agenda kerja tahap berikut, seperti menimbang kembali banyak pertalian makna, yaitu menyisihkan lema-lema yang ternyata tidak berkerabat sembari pada saat yang sama menam- bahkan sinonim yang malah luput. Selain itu, mau tak mau saya juga harus di sana- sini memperbaiki salah tik,
2termasuk kekeliruan dalam peneraan kelas kata dan pengubahan anotasi. Dorongan lain yang sukar saya hindari adalah keperluan me- rumuskan hipernim, kata umum (lawan hiponim, kata khusus). Penyertaan hipernim di sini adalah salah satu perubahan mendasar terhadap, dan sekaligus mengoreksi pendirian, edisi pertama.
Edisi I:
panas 1 n bahang; 2 a beringsang, gerah; 3 n dedar (ark), demam, meriang; 4 n kemarau, kering; 5 a berbahaya, bergolak, gawat, genting, kritis, tegang; spaning (cak); 6 a ki erotis, hot (cak), memberahikan, meng- gairahkan, menggiurkan, merangsang;
seksi, sensual, seronok
1 Kriteria itu adalah, pertama-tama, punya sinonim. Kata tak bersinonim tidak dapat saya sertakan, karena ia akan bersendiri di sana. Tesamoko sedari mula tidak memberi deinisi atau pemerian arti sesuatu kata. Kedua, sudah tercatat dalam kamus bahasa Indonesia. Tetapi, ketentuan ini tidak mutlak, sebab “geruduk” dan “ciamik (cak)”, misalnya, tetap masuk sekalipun sampai edisi III, Kamus Besar Bahasa Indonesia (seterusnya disingkat KBBI) belum mencantumkan keduanya—kata yang terakhir sudah tercatat dalam KBBI edisi IV (2008). Bagi saya, “geruduk” patut dicatat, sebab kata itu hidup dan dapat kita jumpai dalam data, yaitu korpus yang kami pakai untuk menguji pemakaian suatu kata. Korpus yang kami manfaatkan kebanyakan barulah sebatas korpus ragam jurnalistik, seperti, antara lain, jawapos.com, kompas.com, pikiran-rakyat.com, tempo.co, dan was- pada.co.id, selain ada pula sealang.net, mcp.anu.edu.au, dan goenawanmohamad.com.
Ada pula sejumlah kata baru dalam tanda petik. Kata-kata dalam kelompok ini bukan baru kita kenal melainkan baru hadir sebagai lema. Kelompok kata “baru” di sini semula dipandang sebagai morfem dasar terikat, seperti terlihat pada cara penyajiannya (sebagai contoh:) “tarung, bertarung”
atau “gaul, bergaul”. Kata “tarung” atau “gaul”, dalam kenyataan sekarang, dapat mandiri sebagai sebuah kata, imbuhan tak lagi wajib hadir menyertai kedua kata itu. Maka saya pikir kedua bentuk dasar tersebut patut menyandang status sebagai morfem bebas, dan jadilah ia kata “baru”.
Tesamoko masih mempertahankan semangat merekam (dan mempertontonkan) kekayaan khazanah kata bahasa Indonesia. Semangat ini menjelaskan mengapa selain kata yang hidup, ia merekam juga tidak sedikit kata arkais dari khazanah tertulis masa lampau yang sudah sukar atau tidak dapat kita temukan lagi kini.
2 Contoh: Salah satu sinonim “menggembleng” dalam edisi I tertulis “mengimpa”, padahal yang benar “mengimpal”. Lalu, sinonim “senyap” dan “sepi” antara lain tertulis “ranah”, padahal mes- tinya “ranap”.
Mukadimah Edisi Kedua
xiii
Edisi II:
panas sin
1 a beringsang, gerah, palak (Mk) 2 n bahang
3 n dedar (ark), demam, meriang 4 a a (tt hubungan/keadaan sosial:)
berbahaya, bergolak, gawat, genting, kritis, mengkhawatirkan, runcing, tegang b spaning (cak)
5 a a erotis, hot (cak), provokatif (pose), seksi, sensual, seronok b ki memberahikan (kl), menggairahkan, menggiurkan, merangsang
ant adem, dingin, sejuk, teduh
Sinonim 4 lema “panas” pada edisi pertama saya tanggalkan, sebab “kemarau, kering” saya pikir lebih tepat bertautan makna bukan dengan “kering” melainkan dengan “musim” kering.
Edisi I:
1alir, mengalir v 1 berambai-ambai, berderai, berlinang, keluar, memancar, menetes, mengucur, menitik; menggabak, merabas (Mk), merebak, meremang (ark), merembah (air mata, Mk); bercucuran, mencicik (keringat, ki); meleleh, mencair (es, lilin);
mengiler, menjelejeh (air liur); menenes;
bergerak, berputar, bersirkulasi (udara), mengarus; 2 ki beramai-ramai, berbanyak (-banyak), berbondong-bondong, ber dedai- dedai, berduru (Mk), berduyun-duyun, berkusu-kusu (ark)
Edisi II:
alir1, mengalir v sin
1 a bergerak, berputar, bersirkulasi (udara), mengarus b (tt air mata:) berambai- ambai, berderai, berlinang, menggabak, merabas (Mk), merebak, meremang (ark), merembah (Mk), merembih, rembah- rembih, sabak (Mk)
c (tt keringat:) bercucuran, mencicik d (tt es/lilin:) meleleh, mencair, menenes e (tt air liur:) mengiler, menjelejeh 2 ki beramai-ramai, berbanyak, berbondong-bondong, berdedai-dedai, berduru (Mk), berduyun-duyun, berkusu- kusu (ark)
ant a terhenti, tersendat
xiv
TesamokoStrategi penyajian baru di atas menerangkan ikhtiar edisi kedua di dalam mem- perlihatkan spektrum makna sebuah kata. Penyajian sublema “mengalir” dengan cara baru lebih jelas menunjukkan bukan saja bahwa kata itu punya lebih dari satu arti (polisemi), tapi juga, (masih) secara tersirat, bahwa kata “mengalir” berstatus hipernim yang memiliki pertautan makna dengan sejumlah hiponim. Kesemua hiponim dalam arti pertama (gugus a, b, c, d, dan e) bertalian makna, dan punya komponen makna bersama, dengan “mengalir”. Namun, beberapa gugus kata dalam arti pertama itu masih dapat diperbedakan satu sama lain. Kata-kata di dalam satu gugus diurut alfabetis, sedangkan pengurutan huruf penanda gugus saya dasarkan pada kedekatan maknanya dengan kata kepala. Jelaslah bahwa asas pengurutan berdasarkan kedekatan makna dengan lema hanya berlaku dalam kasus seperti ini, dan tidak menjadi prinsip atau asas penyajian tesaurus ini secara keseluruhan yang menuruti asas pengurutan alfabetis.
Edisi I:
heran /héran/ a 1 kagum, takjub, tergeleng- geleng, terpesona, terpukau; bertanya- tanya, bingung; 2 ajaib, aneh
Edisi II:
heran /héran/ a sin a bertanya-tanya, bingung b kagum, takjub, tergeleng- geleng, terpesona, terpukau
Sinonim 2 kata “heran” saya tanggalkan, sebab tak punya pertalian makna. Kedua kata itu, “ajaib, aneh”, saya pikir lebih merupakan sebab yang mendatangkan heran, tetapi bukan heran itu sendiri. Di sisi itu, melanggengkan sikap Tesaurus Bahasa In- donesia, Tesamoko berpendirian bahwa dalam polisemi, dari sekian arti kata dalam kamus, arti pertamalah yang paling mewakili arti kata yang bersangkutan. Ini men- jelaskan mengapa urut-urutan makna sejumlah lema di dalamnya, seperti “canggih”,
“pesona”, atau “pukau”, berbeda dari yang disajikan oleh KBBI.
3Di luar soal-soal tersebut, soal-soal yang bertaut dengan dunia semantik dan leksi- kologi, perbaikan terhadap tesaurus ini pun tidak dapat menghindar dari kemestian memperbaiki (banyak) persoalan lain pada tataran morfologi. Perkenankan saya menyinggung beberapa saja dari sekian banyak soal tersebut.
3 Saya beberapa kali menulis soal ini. Lihat ““Pesona Bicara Canggih,” Kompas, 10 Januari 2015,
“Heran,” Kompas 6 Juni 2015, dan “Makna yang Merewang,” Kompas, 5 September 2015.
Mukadimah Edisi Kedua
xv
Tesaurus ini tetap memilih cara menulis “subyek” dan “obyek”, bukan “subjek”
dan objek”, sebab bentuk yang Tesamoko pilih itu menuruti pola yang sudah sangat kita kenal: “proyek” dan “trayek”, bukan “projek dan “trajek”. Saya pikir dua bentuk yang pertama, “proyek” dan “trayek”, lebih kuat menunjukkan sifat sebagai ben- tuk beku daripada “projek dan “trajek”. Atau lebih memilih bentuk “nafas”, bukan
“napas”, karena ada bentuk “nafsu” yang tidak dieja “napsu”. Sekadar catatan, bila kita periksa korpus mcp.anu.edu.au, bentuk “nafas” jauh lebih banyak dipergunakan daripada “napas”.
Edisi revisi ini juga memilih cara menulis “pelihatan”, bukan “penglihatan”, sebab kaidah morfofonemik bahasa Indonesia tidak mengenal penambahan /ng/ dalam pengimbuhan pe-an pada kata dasar berhuruf awal /l/. Ini sepola dengan “peluluhan”
atau “pelipatan”, bukan “pengluluhan” atau “penglipatan”. Dalam pada itu, bentuk
“pengklasiikasian” saya hapus, sebab itu adalah bentuk lewah belaka dari “klasiika- si”. Demikian halnya dengan pendokumentasian (= dokumentasi) dan pendistribusian (= distribusi).
Akhirnya, inilah beberapa aspek revisi yang menurut saya perlu juga saya utarakan.
Rupanya baru sekarang saya mendapatkan semacam kesadaran baru, yang demi mudahnya, perkenankan saya gambarkan berikut:
Pertama, tentang bias gender. Saya tidak tahu bagaimana, dan mengapa, kamus resmi bahasa Indonesia diam-diam merekam atau melanggengkan budaya patriarki.
Misalnya, “istri” diperikan sebagai “orang belakang”, sedangkan “suami” disebut
“junjungan”. Edisi perbaikan tesaurus ini tidak saya inginkan mengandung hal serupa.
Dengan lain perkataan, bahasa Indonesia (yang terekam dalam tesaurus ini) sedapat mungkin bersih dari bias gender
4.
Kedua, tentang swarabakti. Saya tergolong ke dalam mereka yang mempertanya- kan mengapa sejumlah kata, seperti “blantik” atau “bludak”, jadi tersisipi huruf /e/
atau ada swarabakti di sana: “belantik”, “beludak”? Tetapi, mengapa bukan “pelas- tik”, “pelasma”, “kelasik”? Argumen di balik kaidah ini, bahwa orang Indonesia sulit
4 Dalam korespondensi lewat surel (surat elektronik) (18 September 2015), kepada saya Ayu Utami menyatakan pandangannya antara lain, “Saya berpendapat bahwa kita harus menghapuskan bias yg tak adil terhadap jender, ras, agama, . . . Pada saat yg sama kita juga ingin mencatat semua kata dan khazanah yg ada dan tak ingin menghilangkannya dari sejarah. Usul saya, ada bagian khusus untuk menunjukkan political incorrectness.” Buah pikiran Ayu ini tentu saja sejalan dengan sikap Tesamoko. Sayangnya, kami tak punya banyak waktu lagi untuk kerja besar macam itu. Usul tentang penyertaan adendum baik saya agendakan untuk edisi mendatang.
xvi
Tesamokomelafalkan gugus konsonan, saya anggap lemah dan agak menyepelekan kesanggup- an lidah penutur bahasa Indonesia kini pada umumnya. Maka saya berusaha sedapat mungkin mengembalikan bentuk-bentuk tanpa swarabakti.
Ketiga, penjelasan bukanlah kata. Saya juga terlambat menyadari betapa luma- yan banyak penjelasan, pemerian, alias deskripsi duduk di tesaurus ini sebagai lema, padahal sudah jelas ia bukanlah kata. Misalnya, dalam edisi pertama antara lain kita baca “cangkang: kelompang, kerabang (ark), kulit telur”. Lalu “kulit telur” (yang berstatus penjelasan) pun punya posisi sebagai lema. Ini tentu saja kurang tepat.
Maka “kulit telur” sebagai lema saya sisihkan. Beberapa contoh lain: “kulit kerang”,
“setengah matang”, “nasib baik”, “nasib buruk”. Dari itulah, bentuk-bentuk serupa ini sedapat mungkin saya singkirkan.
Demikianlah. Tadi saya katakan perbaikan terhadap tesaurus ini tidak dapat meng- hindar dari persoalan pada tataran morfologi, persoalan wadah, bentuk. Sekalipun tampaknya kamus, termasuk tesaurus, berurusan dengan makna, makna itu sendiri secara konvensional lekat pada kata. Malah kata boleh kita ibaratkan rumah bagi makna. Dan adab mengajari kita bahwa rumah itu sepatutnyalah necis, tidak peduli siapa atau berapa banyak penghuninya, tidak peduli apakah mereka betah tinggal di sana atau tidak.
Bekasi, Januari 2014/Februari 2016
Panduan Pemakaian
Angka arab tika atas (superskrip) yang pada edisi pertama terletak di sebelah kiri dan sekarang ada di kanan lema adalah penanda homonimi. Angka arab biasa yang semula berjajar di satu paragraf tapi di edisi kedua ini tertulis berurut ke bawah ada- lah penanda polisemi.
Edisi I
2adat, mengadat Jk 1 v marah, mengambek (cak, Jk), merajuk, merenyuk (Mk); 2 a macet, mogok, rewel, rusak (tt mesin)
Edisi II
adat2, mengadat Jk sin
1 v a bertingkah, mengambek (cak, Jk), merajuk, merenyuk (Mk) b marah 2 a a (tt mesin:) macet, mogok, rewel b rusak
Senarai sinonim, baik yang berada dalam arti 1 (a dan b) maupun 2 (a dan b) dalam contoh di atas, punya pertautan makna dengan “mengadat”. Kelompok kata tersebut dalam edisi II masing-masing dipecah menjadi dua kategori, sebab masing- masing darinya tidak setara. Kelompok b (marah, rusak) berstatus hipernim, punya makna umum dalam perbandingannya dengan yang ada dalam kelompok a, yang mengandung makna khusus. Hipernim dalam edisi kedua ini belum disajikan secara lebih eksplisit.
Karena “mengadat” adalah kata khusus, hiponim, maka (gugus) sinonim yang terletak paling dekat dengannya adalah kata-kata yang setara dengannya (kelompok a). Maka urut-urutan huruf mencerminkan kedekatan makna dengan kata kepala.
Kata-kata di dalam kelompok tiap huruf ini disusun bukan berdasarkan kedekatan makna dengan kata kepala, melainkan secara alfabetis. Jalan berpikir semacam ini tentu saja membawa konsekuensi penerapan urutan sebaliknya untuk lema yang merupakan hipernim, kata umum, seperti contoh ini:
alir1, mengalir v sin
1 a bergerak, berputar, bersirkulasi (udara), mengarus b (tt air mata:) berambai-ambai, berderai, berlinang,
xviii
Tesamokomenggabak, merabas (Mk), merebak, meremang (ark), merembah (Mk), merembih, rembah-rembih, sabak (Mk) c (tt keringat:) bercucuran, mencicik d (tt es/
lilin:) meleleh, mencair, menenes e (tt air liur:) mengiler, menjelejeh
2 ki beramai-ramai, berbanyak, berbondong-bondong, berdedai-dedai, berduru (Mk), berduyun-duyun, berkusu- kusu (ark)
ant a terhenti, tersendat
Anotasi, yaitu keterangan yang menyarankan ranah atau lingkungan tempat se- baik-baiknya sebuah kata dipergunakan, tetap disertakan, juga dalam tanda kurung.
Ada dua macam: ada yang terletak di belakang sebuah kata, yang berarti jamaknya berlaku terutama hanya untuk kata itu, ada pula yang mengambil tempat di depan, langsung setelah huruf penanda gugus sinonim. Anotasi di depan berlaku untuk se- mua kata yang berbaris di belakangnya.
Penandaan dengan huruf tidak selalu menerangkan atau menyiratkan pola hu- bungan hipernim-hiponim seperti pada lema “mengadat” tadi. Perhatikan contoh ini:
akurat a a benar, eksak, eksplisit, jitu, korek (cak), persis (cak), tepat, pas, terarah, terukur b cermat, saksama, teliti
Kelompok a dan b di situ tidak memperlihatkan hierarki hipernim/umum – hipo- nim/khusus. Sekalipun kedua kelompok kata itu punya makna bersama (akurat), ada perbedaan makna yang cukup halus di antara keduanya. Kelompok a mengandung unsur “tepat pada sasaran”, sedang kelompok b membawa pengertian agak lain, yaitu “telaten dan hati-hati”.
Tambahan antonim, yang diletakkan di baris baru, dipasangkan hanya pada arti pertama sebuah lema (atau sublema). Antonim untuk arti kedua dan seterusnya mun- cul pada kata-kata yang bersangkutan sebagai lema. Antonim “gawat” dalam contoh di bawah, misalnya, bisa ditemukan di lema “gawat”. Dengan demikian, pengulangan yang tidak perlu dapat dihindari.
panas sin
1 a beringsang, gerah, palak (Mk) 2 n bahang
3 n dedar (ark), demam, meriang 4 a a (tt hubungan/keadaan sosial:) berbahaya, bergolak, gawat, genting, kritis, mengkhawatirkan, runcing, tegang b spaning (cak)
Panduan Pemakaian
xix
5 a a erotis, hot (cak), provokatif (pose), seksi, sensual, seronok b ki memberahikan (kl), menggairahkan, menggiurkan, merangsang
ant adem, dingin, sejuk, teduh
Akan tetapi, tentu itu bukan alasan mengapa letak polisem 1 dan 2 jadi bertukar tempat dari edisi pertama. Saya timbang kembali, “panas” pertama-tama bukanlah nomina, melainkan adjektiva. Pertukaran tempat itu kebetulan saja sejalan dengan keperluan menerakan antonim. Dan tentang antonim, ada sedikit catatan tambahan.
Pertama, antonim sebuah kata tidak selalu tunggal, melainkan bisa jamak, seperti antonim “panas” ini. Peneraan antonim yang beragam saya pikir justru memberi manfaat lain, yaitu membuat pengertian tentang suatu lema menjadi lebih luas, dan karena itu menjadi lebih terang. Di satu sisi, “adem”, “dingin”, dan “sejuk” membatasi pengertian “panas” dalam medan makna “hawa”, sedangkan “teduh” mengantarkan pengertian tentang “panas” pancaran cahaya matahari. Kedua, dalam bahasa Indo- nesia, seks kadang mengambil peran dalam urusan antonim. Misalnya, laki-laki x perempuan, atau suami x istri.
1Bagi saya, itu lebih tepat disebut pasangan, bukan antonim. Maka “laki-laki”, dan “suami”, tidak punya antonim di sini.
Label-label penjelasan ditulis dalam bentuk singkatan dengan huruf miring dan dalam tanda kurung di belakang kata, baik yang berstatus lema maupun bukan (sino- nim, hipernim, hiponim, antonim). Daftar label disertakan di bagian akhir “Panduan Pemakaian” ini. Label dalam bentuk singkatan untuk kelas kata terletak setelah lema, tercetak dalam huruf miring dan tidak dalam tanda kurung. Dalam hal suatu lema memiliki lebih dari satu kelas kata, masing-masing padanannya dimanifestasikan dalam bentuk polisem, dan label kelas katanya diletakkan bukan di belakang lema, melainkan di belakang angka penanda polisem yang bersangkutan.
Akronim tidak disertakan, sebab kendati dapat dilafalkan sebagai kata, akronim itu sendiri bukanlah kata. Apalagi jika akronim tersebut tidak punya sinonim. Juga bentuk-bentuk yang mengandung unsur “tidak”, yang tercantum dalam edisi perta- ma, dalam edisi baru ini ditanggalkan.
Tanda pelafalan hanya dipakai pada kata-kata yang mengandung bunyi /é/, se- perti pada kata edan /édan/, antara lain agar terbedakan dua kata yang ditulis sama namun lain cara pengucapannya.
keder /kedér/ a Jk ciut (ki), cuak (ark), gamang, gayat, gecar (Jk), gentar (ki), giris, jeri, kecut hati, kimput (ark), ngeri,
1 Lihat Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa. Bandung: PT Mizan Utama, 2009.
xx
Tesamokoselempang, takut ant: kosen (Jk)
keder /kéder/ a Jk bingung, kepompongan (Mk), linglung, nanar
Singkatan dan Lambang
Label ragam bahasa ark arkais cak cakapan hor hormat kas kasar ki kiasan kl klasik
Label kelas kata a adjektiva adv adverbia n nomina num numeralia p partikel pron pronomina v verba
Label kata serapan Ar Arab Bl Bali Bld Belanda Cn Cina Jk Jakarta Jw Jawa
Mk Minangkabau Sd Sunda
Skt Sanskerta
Panduan Pemakaian
xxi
Label bidang kehidupan dan bidang ilmu Anat anatomi
Antr antropologi Arkeo arkeologi Ars arsitektur Astron astronomi Bio biologi Bot botani Bud Buddha Dok kedokteran El elektronika Far farmasi Fis isika
Geo geograi dan geologi Graf graika
Hin Hindu
Huk hukum
Isl Islam
Kat Katolik
Kim kimia
Kom komunikasi
Kris Kristen
Lay pelayaran
Ling linguistik
Metal metalurgi
Mil kemiliteran
Min mineralogi
Mus musik
Olr olahraga
Pol politik
Psi psikologi
Sas kesusastraan
Tern peternakan
Zool zoologi
xxii
TesamokoSingkatan lain ant antonim dlm dalam dll dan lain-lain dng dengan dr dari
dsb dan sebagainya kpd kepada
pd pada sin sinonim tt tentang var variasi
Lambang anak panah / ® / dipakai sebagai rujuk silang, menunjukkan bentuk yang
disarankan pemakaiannya.
Mukadimah Edisi Pertama
Sebuah kamus, sebagai buku rujukan, menerangkan berbagai aspek makna suatu kata atau istilah, dan pemakaiannya. Daftar kata di dalam kamus, yang dikenal sebagai lema atau entri, lazimnya disusun menurut abjad. Begitulah pengertian kamus secara umum.
Namun, pada kenyataannya kita mengenal beberapa jenis kamus. Dari segi bahasa, ada kamus ekabahasa (menggunakan satu bahasa dengan pen jelasan tentang bahasa yang sama), kamus dwibahasa (menggunakan dua bahasa de- ngan penjelasan tentang bahasa sasaran), dan kamus multibahasa (menggunakan tiga bahasa atau lebih dengan penjelasan tentang dua bahasa lain atau lebih se- bagai bahasa sasaran). Dari segi isi, kita menge nal kamus istilah (memuat daftar istilah dari bidang ilmu tertentu beserta penjelasannya), kamus sinonim (memuat kosakata berikut padanannya dalam satu bahasa), dan kamus umum (memuat kata-kata dari berbagai ragam bahasa dalam suatu bahasa disertai penjelasan mengenai makna dan pemakaiannya), serta tesaurus, yang dapat berupa kamus sinonim dan atau memuat uraian tentang ihwal atau konsep dalam berbagai bidang kehidupan atau pengetahuan.
Dibanding dengan jenis-jenis kamus lainnya yang banyak beredar, tesaurus atau kamus sinonim dalam bahasa Indonesia tampaknya lebih langka, dan yang ada itu pun terasa kurang memadai. Kamus Sinonim Bahasa Indonesia yang disusun oleh Harimurti Kridalaksana (cet. VIII, 1988), misalnya, atau edisi revisi Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia susunan Nur Ariin Chaniago dkk.
(2000). Lema dalam kedua kamus sinonim itu dapat dikatakan kurang lengkap. Cara penyajian keduanya juga terlihat belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.
Sinonim atau padanan kata, menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Lingu-
istik (1993), adalah ”bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk
lain; kesamaan itu berlaku bagi kata, kelompok kata, atau kalimat”. Namun, tesau-
rus ini tentu saja hanya mencantumkan sinonim kata dan kelompok kata. Penting
disadari, seperti dalam bahasa lain, tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam
bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional
(contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik, dan tasawuf),
dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram,
dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua
xxiv
Tesamokoperbedaan itu menjelaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terikat oleh konteksnya dalam kalimat.
Demikianlah, tesaurus ini menyajikan sebanyak mungkin sinonim kata dan ke- lompok kata dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat seka ligus me ngayakan kosakata serta membantu pemakainya mendapatkan ungkapan yang tepat untuk sesuatu konsep dan nuansa makna yang paling cocok dalam konteks tertentu. Kosa kata yang kaya juga pada gilirannya memungkinkan pemakai menghindari kalimat boyak—atau klise, kalau mau dan memang perlu—lewat penciptaan variasi kalimat.
Banyak pihak yang memberi terang, mengampu, melecut, dan ikut re pot sampai menit terakhir penyelesaian tesaurus ini. Di sini tempatnya, pertama-tama saya me- nyampaikan terima kasih dan takzim kepada Pak Anton M. Moeliono. Dia lah guru yang pertama kali membimbing saya meneroka kata dan makna, secara ilmiah. Pak Harimurti Kridalaksana dan Pak Sapardi Djoko Damono, sementara itu, telah menawan saya dalam dunia bahasa dan sastra. Tidak bisa tidak, saya juga mesti menyatakan terima kasih pada kedua orang yang saya hormati itu.
Mas Goen (Goenawan Mohamad), dan Pak Jaap Erkelens dari perwa kilan KITLV di Jakarta, sekali dua menanyakan kabar rancangan tesaurus ini justru saat saya te- ngah terlena atau tersuntuk. Mereka, dengan caranya masing-masing, selalu hadir pada waktu yang tepat: mengingatkan, me nyorong, menyemangati. Dan yang tak kurang penting, Mas Goen dan Pak Jaap masing-masing memberi saya sejumlah kamus yang mengayakan. Kepada keduanya saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalam nya. Pun pengerjaan tesaurus ini dapat berjalan lancar hingga selesai berkat bantuan dana dari Freedom Institute, Jakarta, dengan sokongan Ulil Abshar- Abdalla, Hamid Basyaib, dan Rizal Mallarangeng. Tak bisa saya tidak menyampaikan terima kasih kepada mereka ini.
Sejumlah teman di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, terutama Nirwan Dewanto, Hasif Amini, Sitok Srengenge, dan Ayu Utami, adalah lawan berdebat yang tangguh.
Kerap kami mempertikaikan ihwal kata dan pel bagai masalah bahasa umumnya,
namun tidak selalu kami sependapat. Ini justru kian menyadarkan saya betapa liat
dan tak berbatas dunia kata dan makna. Di sana kami terbiasa saling berbagi dan
merumuskan tugas sendiri-sendiri. Saya merasa, sayalah yang paling egoistis, paling
banyak mengurusi pekerjaan sendiri mengotak-atik draf tesaurus ini. Namun, yang
mengharukan saya, mereka memaklumi kesintingan saya. Untuk tenggang rasa
mereka, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besar-
nya. Juga kepada Ahmad Sahal, Tony Prabowo, Rayya Makarim, Alex Supartono,
Asikin Hasan, Indah Maharukmi, dan Paul F. Agusta. Dan kepada Juliana Wilson,
Mukadimah Edisi Pertama
xxv
saya berterima kasih atas kerelaannya ’’meminjamkan” The Concise Roget’s Inter- national Thesaurus. Tak dimung kiri, dan cukup sering, lewat pertukar-pikiran, saya memperoleh semacam pencerahan, dan dalam hal ini saya berutang budi pada Mas Kasijanto Sastrodinomo, Pak Rahman Tolleng, Pak Alfons Taryadi, Hein Steinhauer, Susi Moeimam, Sirtjo Koolhof, Felicia N. Utorodewo, Uu Suhardi, Mas Bambang Bujono, dan Nukila Amal.
Terima kasih yang tulus mesti saya sampaikan pula kepada Mulyati, yang meme- riksa kata serapan dari bahasa Arab, dan Yanusa Nugroho, yang menjadi pembaca terakhir naskah inal tesaurus ini. Sementara itu, dalam banyak jenis pekerjaan teknis saya terbantu oleh Asty Leonast, Esti Setiyowati, Kunco Adi Wasito, Sapto Denaswanto, Veronique Rompas, dan Tjandra Andries. Kepada mereka semua, tentu juga kepada Widya Kirana dan Hani dari penerbit Gramedia Pustaka Utama, saya sampaikan rasa terima kasih yang mendalam.
Akhirnya, sudah sepatutnya tesaurus ini saya dedikasikan kepada Luti Hidayah, istri saya, dan ketiga anak kami: Saraswati Hiendarani, Andika Hiendarwanto, dan Nindita Hiendarasti. Mereka berempatlah, lebih dari orang lain, yang pertama- tama dan paling merasakan suka duka, pahit getir, serta kesintingan saya selama ini.
Bekasi, Juli 2006
Eko Endarmoko
Tentang Tesaurus Ini
Banyak pihak memang, dan peristiwa, yang ikut membentuk dan mem beri warna pada tesaurus ini, dan kini ingatan saya menerawang agak jauh ke masa lalu.
Sekitar paruh pertama tahun 1980-an, dosen Semantik saya di Jurus an Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (sekarang berganti nama menjadi Program Studi Indo- nesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Univer sitas Indonesia, Pak Anton M.
Moeliono—ketika itu juga menjabat kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa—meminta saya membantunya mencatatkan kata-kata dasar yang bersino- nim. Kegiatan itu barangkali berlangsung sampai sekitar enam bulan, saya agak lupa, namun menorehkan pengaruh amat dalam sampai saat tesaurus ini tuntas. Hubung- an Pak Ton-kata-saya itulah yang mengilhami saya membuat catatan—bukan lagi melulu kata dasar, tapi mencakup pula kata berim buhan dan kelompok kata—untuk keperluan sendiri.
Pengerjaan catatan tersebut serabutan betul, bergantung pada kata menarik tertentu yang saya temukan pada suatu ketika, dan tidak menu ruti satu sistem tertentu. Maklumlah, pada masa itu saya mulai gandrung menulis, apalagi sewaktu saya mengambil cuti setahun untuk bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah per- bukuan. Sepanjang perjalanan waktu, dapat terjadi selama berbulan-bulan catatan tadi terlupakan. Jadilah seperti ini: saya membuat catatan kapan saja, tidak setiap hari, tidak ada waktu khusus, dan sama sekali tak tebersit bahwa berbilang tahun kemudian semua itu akan menjelma seperti sekarang.
Memasuki tahun 1993 agak terkejut saya sewaktu mendapati bahwa kartu tik, yakni potongan seperempat bagian kertas HVS ukuran A4, yang berisi catatan kata-kata bersinonim kian menggunung. Dari sinilah terbit hasrat menata semua catatan tadi dengan mulai menggarapnya lebih teratur. Maka lantas saya meneli- sik dan menapis kata-kata dari beberapa sumber, mencatat (kembali) di kartu tik menurut abjad dengan memerhatikan (1) homonimi, (2) polisemi, (3) label-label kelas kata dan ragam bahasa, dan kemudian mengetikkannya dengan komputer.
Dan kebiasaan jelek tadi terulang, lagi-lagi bisa selama sekian minggu atau bulan catatan itu terhantar saja di kolong meja. Seperti dapat diduga, karena menger- jakannya sambil lalu, saya bergerak selambat keong siput berjalan.
Kurang lebih empat tahun kemudian, pada sekitar pertengahan 1997, ketika
Tentang Tesaurus Ini
xxvii
saya ikut bergabung bersama Mas Goen di Jurnal Kebudayaan Ka lam dan Komu- nitas Utan Kayu, draf awal tesaurus ini lambat laun tampak mewujud. Huruf demi huruf terlampaui sudah. Ini sangat dimungkinkan karena di komunitas itu kami tidak terikat jam kerja, dan dengan begitu memiliki kesempatan sangat luas di bidang kreatif.
Mas Goen jugalah, bersama Pak Jaap, yang mengirim dan mensponsori saya tinggal di Leiden selama tiga bulan, Mei-Agustus 2001, untuk mengotak-atik rancangan tesaurus yang kira-kira sudah sampai huruf “K”. Bukan kebetulan, ke- tika itu Hein Steinhauer, dosen Bahasa Indonesia di Universitas Leiden, dan Susi Moeimam dari kantor KITLV di Leiden, bersama timnya sedang bergulat dengan proyek penyusunan Kamus Belanda-Indonesia.
1Saya merasa beruntung sebab dapat bertukar pikiran dengan mereka, terutama mengenai sistem penyajian lema, pun karena dapat leluasa memanfaatkan fasilitas kerja, yang lengkap dan enak, berikut perpustakaan di Universitas Leiden dan kantor KITLV Leiden. Na- mun apa mau dikata, sepulang ke rumah, betul-betul saya jadi tersadar tengah berhadapan dengan satu pekerjaan yang luar biasa menantang.
Muncullah beberapa pikiran baru yang berpengaruh besar pada rancang an tesaurus ini. Pertama, gugusan kata yang menjadi sinonim tiap-tiap lema yang sudah tercatat, demi penyajian yang lebih tertib, saya bongkar dan urutkan kembali menurut abjad. Sejak awal saya mencatatkan begitu saja daftar anggo- ta sinonim tiap lema. Penyajian yang tak urut abjad semacam ini tampak pada beberapa kamus, seperti susunan Harimurti
2yang mencatat kenyang bersinonim dengan berisi, penuh, puas, jenuh, atau susunan Nur Ariin Chaniago
3yang men- catat lugas berpadanan dengan polos, sederhana, bersahaja, lugu. Juga kamus Laurence Urdang,
4menyebut root bersinonim dengan cause, origin, basis, reason, source. Kita lihat, semua anggota sinonim sebuah lema di dalam ketiga kamus itu tidak disusun secara alfabetis. Ini berbeda dari A Dictionary of Synonyms and
1 Sudah terbit. Lihat Susi Moeimam dan Hein Steinhauer, Kamus Belanda-Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005)
2 Harimurti Kridalaksana, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia, cet. VIII (Ende: Nusa Indah, 1988). Dalam ko- respondensi dengan saya melalui surat elektronik, Pak Hari mengusulkan agar anggota kelompok sinonim diurut berdasarkan kedekatan makna tiap-tiap anggota kelompok sinonim itu dengan lema. Makin jauh pertalian maknanya, maka makin jauh pula letaknya dari lema. Namun, pertimbangan leksikograis ini kurang dapat saya terima demi alasan praktis belaka, yakni demi mempercepat penelusuran oleh pengguna, selain menghindar dari sikap normatif yang pasti berbeda-beda antara satu pemakai dan lainnya.
3 Nur Ariin Chaniago dkk. Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia, edisi revisi (Bandung: Pustaka Setia, 2000).
4 Laurence Urdang, The Pan Dictionary of Synonyms and Antonyms, edisi revisi yang diperluas (London: Pan Books, 1991).
xxviii
TesamokoAntonyms Alan Spooner
5dan Collins Thesaurus in A-Z Form
6yang mendaftar tiap anggota sinonim menurut abjad.
Kedua, bentuk-bentuk hiponim dalam draf juga saya keluarkan karena hi- ponim bukanlah sinonim. Adalah Hein Steinhauer, dalam sebuah obrolan pada suatu siang di ruang kerjanya, yang ”memaksa” saya mem pertimbangkan kem- bali bahwa hiponim itu berbeda dari sinonim. Andai saya pernah tak terlalu hirau pada soal ini, tak lain karena Harimurti Kri dalaksana juga mencantumkan kata seperti orang tua di bawah lema ayah. Marian Makins pun mencatatkan father dan mother di bawah lema parent, malah Alan Spooner mencatat—menurut abjad—banyak sekali jenis buah di bawah lema fruit, dari apple sampai ugli. Jadi, dari draf tesaurus ini kata orangtua saya copot dari daftar anggota sinonim lema ayah (dan ibu). Hal yang sama mesti saya kerjakan pula pada banyak sekali lema lain yang sudah kadung tercatat.
Tetapi, persoalannya tidaklah sesederhana yang saya bayangkan. Bila kaku berpegang pada kaidah semantis, yang bisa berakibat melupakan kepentingan pemakai, tesaurus ini tidak akan menaruh karyawan seba gai padan kata pegawai, sebab ada bentuk karyawati. Sebagai hiponimi, pegawai disebut superordinat, se- dang karyawan dan karyawati disebut kohiponim. Jadi, dengan kesadaran bahwa hiponim berbeda dari sinonim, saya tetap memadankan beberapa kata seperti itu, kalau perlu dengan tambahan catatan. Sinonim dari lema mendiang, misalnya, saya tulis ”almarhum (laki-laki); almarhumah (perempuan)”. Karena mempertim- bangkan kepentingan pemakai jugalah maka sejumlah kata kerja yang memiliki makna umum, seperti mengambil atau melihat, saya pertahankan dengan senarai kelompok anggota ”sinonim”-nya masing-masing.
Ketiga, hubungan timbal balik antara satu lema dan lainnya sedapat mungkin saya jaga betul, tak lain sebagai upaya agar pemakai sudah men dapatkan apa yang ia cari di satu tempat. Misalnya, tesaurus ini men cantumkan kata asing dan ganjil sebagai padanan lema abnormal, maka abnormal mesti juga menjadi anggo- ta sinonim dari lema-lema asing dan ganjil —dan begitulah seterusnya. Ini berbeda dari, umpamanya, kamus Harimurti atau Nur Ariin. Lema sarana dalam kamus Harimurti memiliki anggota sinonim alat, syarat, cara, medium, media. Namun,
5 Alan Spooner, A Dictionary of Synonyms and Antonyms (Oxford: Oxford University Press, 1999).
6Marian Makins, editor pelaksana, Collins English Thesaurus in A-Z Form (Glasgow: HarperCollins, 1993). Buku ini saya temukan di rak yang nyaris semuanya berisi kamus, kebanyakan dalam bahasa Indonesia, dalam ruang kerja Hein Steinhauer. Ia, karena tidak terlampau memerlukannya, merelakan buku itu untuk saya, yang ia tahu betul, sangat membutuhkan. Saya sungguh berutang budi padanya.
Tentang Tesaurus Ini
xxix
pada lema- lema alat, cara, dan medium kata sarana tidak tercantum sebagai anggota sinonim, sementara tidak ada lema media di sana. Sedangkan ka- mus Nur Ariin terlihat lebih gawat. Ia mencatat, ini satu contoh saja, kata gelar bersinonim dengan titel, sebutan, tetapi lema titel dan sebut, yang menu runkan bentuk sebutan, tidak ada di dalamnya!
Soal teknis lain yang terpikir kemudian adalah perlunya penambahan kete- rangan dalam tanda kurung di belakang anggota kelompok sinonim. Semula, label-label kelas kata, ragam bahasa, dan penggunaan bahasa ha nya saya terakan di belakang setiap lema. Collins English Thesaurus in A-Z Form memberi inspirasi lagi pada saya, selain soal penyajian kelompok sinonim yang diurut menurut abjad tadi, bahwa keterangan atas masing-masing anggota sinonim, manakala memang ada, perlu juga disertakan.
Ringkasnya, lumayan panjang dan berkelok-kelok jalan yang mesti dilalui sebelum tesaurus ini sampai di tangan anda. Sebetulnya sudah terbayang, kelak sepulang dari Leiden lima tahun silam, saya tinggal lagi memoles di sana-sini.
Bukannya sebuah tesaurus yang menjadi, saya malah direcoki oleh banyak sekali kerja teknis seperti di atas.
Jan van der Putten—yang berbagi ruang kerja dengan saya, waktu itu ia se- dang menyiapkan tesis doktoralnya tentang sastra Melayu klasik —berkomentar pendek setelah tahu apa yang tengah saya otak-atik. Katanya, itu adalah kerja yang tak pernah selesai; sebuah kalimat yang kerap menghantui penulis, khu- susnya para penyusun kamus. Baru seka rang inilah saya mahum bahwa kalimat itu benar.
Hal terakhir yang ingin saya katakan, tesaurus sederhana ini terbuka untuk
segala komentar, saran, dan kritik. Ini tak lain demi perbaikannya di masa datang.
A
aba → abah2 aba-aba n sin
1 anggai (kl), isyarat, kode, petunjuk, tanda 2 arahan, instruksi, komando, perintah, suruhan, titah
abad n sin daur, era, kala, kurun, masa, periode, zaman
abadi a sin abid (ark), baka, baki (Ar), daim (Ar), ininit, kekal, langgeng, lestari, selama- lamanya
ant fana, temporer mengabadikan v sin
1 melanggengkan, melestarikan, mengekalkan 2 a mendokumentasikan, menyimpan, merekam b memfoto, memotret, mengambil gambar, menjepret (cak) c melukis,
menggambar d memilmkan, memvideokan e (tt prestasi:) mencatat, mengukir, menorehkan terabadikan v sin a terdokumentasikan, tersimpan b tercatat, terekam
pengabadian n sin a pelanggengan, pelestarian, pengekalan b dokumentasi, pengarsipan, penyimpanan c opname, pemotretan, pengambilan gambar, penjepretan (cak), perekaman keabadian n sin
1 abadiah, kekekalan, kelanggengan, kelestarian
2 akhirat, alam baka/roh
abadiah n sin keabadian, kekekalan, kelanggengan, kelestarian
abah1 n sin arah, haluan, jurusan, kiblat (ki), orientasi, paran (Jw), tujuan
mengabah v sin a menentang, mengambil haluan, mengarah, menuju b memarani (Jw), mendatangi, mendekati, menghampiri ant b menjauhi
mengabahkan v sin menentangkan, mengarahkan, menghadapkan, menujukan abah2 n sin abi (Ar), ayah, ayahanda, babe (Jk),
bapak, papa (cak), papi (cak), rama (Jw) var aba
abah-abah n sin
1 alat, gawai (kl), instrumen, perabot, perangkat, peranti, perkakas, perlengkapan, radas
2 tali-temali (di perahu), tani (ark), temberang abai a sin alpa, ancai, cabar, ceroboh, cuai, cupai
A
(Mk), khali (Ar), lalai, lena, lengah, lupa, taksir (Ar), teledor
ant acuh, hirau, peduli mengabaikan v sin
1 a (tt kewajiban:) melalaikan, memasabodohkan, memicakan (Mk), mempersetan, mencuaikan, mencupaikan (Mk), meneledorkan, mengancaikan b (tt perintah:) melalui, melangkahi, melengahkan, melewatkan, melipat (ki), melupakan, menaksirkan, mengalpakan, mengancaikan, meninggalkan
2 melanyak (ki), melatakan, melecehkan, memandang sebelah mata, memantati (ki), memunggungi (ki), menaikan, mencapak, mencebikkan, mendaikan, mengecilkan, mengentengkan, menggampangkan, menghina, mengirikan, meniadakan, menista, menyambillalukan, menyepelekan, meremehkan, merendahkan
3 (tt perkara:) membelakangi, membenamkan, membiarkan, memetieskan, mendeponir, mendiamkan, menelantarkan, mengendapkan, menggantungkan, mengubrakan (Jk), menumang (kl)
4 (tt peluang:) berhabis, melewatkan, menyia- nyiakan
5 a (tt aturan/janji:) melampaui, melanggar, mencabuli, mengingkari b mencaring, menginjak-injak (hak), menyalahi ant a mencerap, mengindahkan, merawat, merespons b mematuhi, mengacuhkan, mengecam
terabai sin
1 a kapiran (Jw), mangkrak, patah pucuk, sebun, telantar, terbangai, terbangkang (ark), terbengkalai, terbuang, terhantar, terjerahak, terkatung-katung, terkumpal-kumpal, terlalaikan, terlunta-lunta, terlupakan, tersia- sia, tersisih
2 v (tt perkara/urusan:) mengendap, menggantung, terperap (ark), tertahan ant terurus
abaimana n ark sin
1 anus, bol (kas), burit, dubur, lubang pantat, pelepasan
2 a alat kelamin, aurat, genitalia (Dok), kemaluan b amputan (kas), bakarat (ark), farji
A
2 abakus
(Ar), liang sanggama, memek (kas), nonok (cak), pukas, puki (cak), tempik (Jw), vagina (Dok) c burung (ki), butuh (kas), ceceh (cak), kalam (kl), kontol, pelir, penis, titit (Jk), zakar abakus n sin dekak-dekak, swipoa (Cn)
abal-abal a sin a ecek-ecek, kacangan, kelas dua, kodian, murahan, picisan b rendah
abang1 n sin a akang (Sd), kakanda, kakang (Jw), kangmas (Jw), mas, raka (Jw), uda (Mk) b kakak (laki-laki)
abang2 a Jw sin ahmar (Ar), berma (kl), biram, merah, sirah (Mk)
abangan n sin talang (air) abar n sin
1 abar-abar, alang, aling-aling, partisi, pembatas, pemisah, sekat
2 rem
abar-abar sin abar mengabar v sin
1 a (tt penderitaan:) mengentengkan, mengurangi, meringankan b (tt
ketegangan:) mengendurkan, meredakan c (tt kemarahan:) melerai, memadamkan, mendinginkan, menyurutkan d menenangkan, menenteramkan, menyabarkan
2 a membatasi, membendung, menahan, menghambat, meredam b mengerem terabar v sin a teralang, terbendung, terhalang, terhambat, tertahan b tersumbat, tersumpal c terhenti
ant a tersalurkan
abatoar n sin pejagalan, rumah potong abau n sin kura-kura rawa
abc n sin 1 abjad, alfabet
2 aksara, fonem, huruf, lambang bunyi, leter 3 a ki dasar, punca b hal-ihwal, liku-liku, seluk- beluk
var abece
abdas, berabdas v sin berwudu abdi sin
1 n a babu (cak), bayu (kl), bedinde (cak), benduan (kl), bibi, budak, bujang, hamba (kl), jongos, juru kaki, kacung, kawula, khadam, pelayan, pembantu, pengikut, pesuruh, pramuwisma, sahaya b biduanda (kl), budak pengiring, juak-juak, kundangan (kl), punakawan
2 pron aku, ana (cak), awak, beta, ego, kami, pacal (kl), patik (kl), sanda (kl), saya ant n a majikan, tuan
- negara n sin pegawai negeri mengabdi v sin
1 menghamba
2 berbakti, berdedikasi, berkorban mengabdikan v sin
1 menghambakan
2 membaktikan, mempersembahkan, mendarmabaktikan, mendedikasikan, mengorbankan
3 mencadangkan, menggunakan, menguntukkan
pengabdian n sin bakti, dedikasi, kesetiaan, loyalitas, pengorbanan
abece → abc
aben /abén/, mengaben v Bl sin memperabukan (jenazah)
pengabenan n sin kremasi, pengabuan abi n Ar sin abah, ayah, ayahanda, babe (Jk),
bapak, papa (cak), papi (cak), rama (Jw) abid a ark sin abadi, baka, baki (Ar), daim (Ar),
kekal, langgeng, lestari, selama-lamanya ant fana
abilah n ark sin cacar, ketumbuhan, variola (Dok) - peringgi sin a bengang (Jk), lues, pehong (cak), raja singa, siilis b penyakit kotor abjad n sin
1 abc, alfabet, leter
2 aksara (Ling), fonem, huruf, lambang bunyi abnormal a sin
1 a ajaib, aneh, asing, devian, eksentrik, eksotis, gaib, ganjil, garib, inkonvensional, janggal, luar biasa, menyimpang, pelik b jarang, langka
2 a cacat, invalid, kurang b (bawaan:) cangga, cenangga
3 berubah akal, gendeng (Jw), gila, miring (ki), rada-rada (cak), sedeng, sinting, terganggu ant a biasa, normal, wajar b jamak keabnormalan n sin abnormalitas, anomali, cacat, keajaiban, keanehan, keganjilan, keheranan, kejanggalan, kelainan, penyimpangan
ant kelaziman
abnormalitas n sin keabnormalan abnus n ark sin kayu arang
abolisi n sin pembatalan, pengampunan (hukuman), penghapusan (perbudakan), peniadaan
mengabolisikan v sin a mengakhiri (perbudakan) b memansukhkan (Ar), membatalkan, mementahkan, mencoret (ki), menegasikan, menganulir, menggugurkan, menghapus, meniadakan
abonemen /abonemén/, berabonemen v sin berlangganan, melanggani
abong-abong p cak sin karena, lantaran, mentang-mentang, sebab, senyampang aborsi n sin pengguguran (kandungan)
abortus n sin keguguran (kandungan), kelulusan, keluron (Jw), miskram (cak)
abrak n ark sin batu cermin, mika
A
acak 3
abras n sin baras, buduk (Jw), kenohong (ark), kusta, lepra, taiko (Cn)
abrasi n sin erosi, pengikisan abrek, seabrek cak sin
1 n segunung (ki), setumpuk 2 a banjir (ki), banyak, bejibun
abreviasi /abréviasi/ n Ling sin a kependekan (kata) b akronim, kontraksi, singkatan absah a sin sah
keabsahan n sin kesahan, kesahihan, orisinalitas, validitas
pengabsahan n sin pengesahan
absen /absén/ v sin mangkir (cak), membolos, tempoh
ant hadir
absensi /absénsi/ n sin daftar hadir absolut a sin
1 (tt kekuasaan/pemerintahan:) adikara (kl), despotis, diktatorial, kahar (Ar), otokratis, otoriter, sewenang-wenang, tangan besi, tiranis, totaliter
2 a jelas, nyata, terang b pasti, positif, tentu 3 habis-habisan, mutlak, sepenuhnya, total ant konstitusional
absorb, mengabsorb v sin melesap, menyerap, menyusup, merembes, meresap
absorpsi n sin pelesapan, penyerapan, perembesan, peresapan
abstain a sin (tt pemungutan suara:) blangko, kosong
abstrak1 a sin
1 imajiner, khayali, maya, mujarad (Ar), niskala 2 ideal, konseptual, teoretis, transendental ant berwujud, konkret
abstrak2 n sin garis besar, ijmal (Ar), ikhtisar, kerangka, rangkuman, resume, ringkasan, sari, sinopsis
abstraksi n sin
1 hipotesis, ide, konsep, pengertian, teori 2 ekstraksi, rampatan
absurd a sin a edan, gelo (Jk), gemblung (Jw), gendeng (Jw), gila-gilaan, miring, rada- rada, sableng, sedeng, sinting b ajaib, aneh, cemplang (Jw), ganjil, garib, janggal, mustahil, musykil, pelik c lucu
ant a lazim b masuk akal, realistis absurditas n sin a keedanan, kegilaan,
kesintingan b anomali, keanehan, keganjilan abtar a sin buntung, kotok, kotong, kudung,
kutung, potol (Jk), punggal, puntung, putus, rantas (Jw)
abu n sin
1 sisa (pembakaran) 2 debu, duli (kl), lebu
- soda sin natrium karbonat, soda kristal mengabui v sin a melabu (ki), melebun,
melecun (Cn), membekuk (cak), memberaki (ki), membodohi, membohongi, membuayai (ki), memperdayai, mempermainkan (ki), memukau (ki), mencurangi, mendustai, mengakali, mengecoh, mengelabui, mengentuti (ki), menghalusi, menghelat, mengibuli, mengingusi (ki), menokoh, menyengkelit (Jk), merakut (ki) b menipu perabuan n sin krematorium, pancaka (kl) mengabukan, memperabukan v sin mengaben (Bl), mengkremasi pengabuan n sin
1 kremasi, pengabenan 2 pembakaran abu-abu sin
1 n kelabu, pirau 2 a ki kabur, samar
abuan n sin celengan, deposito, simpanan, tabungan
abuh a sin berisik, bising, gaduh, ramai, ribut, riuh rendah
ant sunyi
abuk1 n sin bubuk, pati, serbuk, tepung - gergaji sin serbuk/tahi gergaji abuk2 n sin bulu kaki, rambut
abuk3, mengabuk v sin a mengakui, menghaki, menguasai b mengambil
abun-abun n ark sin angan-angan, fantasi abur a ark sin boros, buar (ark), porah (Mk), royal,
sokah (ark, Mk) ant hemat
mengabur v sin berfoya-foya, memboroskan, membuang-buang, memfoya-foyakan (cak), menghamburkan
pengabur n sin pemboros abyad a sin mencolok
acah, mengacah v sin a membohongi, membulusi, memperdayai, mengadali (ki), mengakali, mengecoh, menggocek (cak) b (tt gerakan:) menipu
var acan
acak a sin arbitrer, manasuka, rambang, rawak, sembarang, serampangan, sewenang-wenang ant sistematis, tertib
mengacak sin
1 v hantam kromo (cak), main tubruk (cak), membabi buta, menceracam (ark), mengawang, mengawur, menyerampang, merambang, merampus, merawak, merawang (Mk), merodok
2 a rucah (Jw), sembarangan, serabutan (Jw), serampangan
mengacak-acak v sin memberai-beraikan, memberantakkan, membongkar-bangkir, memorak-porandakan, mencerai-beraikan, mengacaukan, mengaduk-aduk, mengawut- awut (Jw)
A
4 acan
1ant menata, mengatur, merapikan acak-acakan a sin amburadul (cak), awut- awutan, berantakan, berarakan (Jk), berkarut, berpesai-pesai, bersepah, berserakan, bongkar- bangkir, centang-perenang, cerai-berai, colak-caling (ark), kacau-balau, karut-marut, kelut-melut, keruntang-pungkang, kibang- kibut, kocar-kacir, kusut, lalu-lalang, malang melintang, morat-marit, porak-parik, porak- poranda, ricuh, rondah-randih (ark), ropak- rapik, semrawut, serabutan, serbah-serbih, serobeh, slebor (cak), tersara bara ant beratur, kemas, necis, urut acan1, mengacan v kl sin memaksudkan,
mencita-citakan, mengharapkan acan2