Kembali lagi bersama pagi tanpa masa depan. Mentari sudah melambung jauh keatas dan bersinar penuh harap. Deru kendaraan telah nyaring bergerak kesana-kemari, sibuk. Suara bisikan dari luar rumah terlalu nyaring sehingga melahap suara kicau burung yang indah. Semua orang sibuk pagi ini.
Berbeda dengan sosok gadis yang berada di balik ruangan minimalis yang cahayanya dihambat menggunakan tirai berwarna hijau. Gadis itu menghalangi sinar mentari untuk datang padanya,
melarang mentari untuk menyadarkannya tentang betapa dunia yang ia sinari sangat kejam. Sang gadis tidak ingin mengecewakan mentari. Ia sendiri tahu bahwa mentari telah berusaha keras menyinari dunia ini dengan segala kemampuan yang dimilikinya namun bumi yang ia sinari ini sangat keji. Mereka murka ketika mentari mulai radup. Saat mentari bertukar kerja dengan bulan dan bintang, bumi mulai berdecak kesal dan menyumpahi mentari.
Sungguh miris sang gadis menjadi bagian dari bumi yang kurang ajar ini. Tapi, jika tidak di bumi, lantas dimana ia bisa memikirkan kekejaman bumi? Bukan salahnya.
Sang gadis ingin sekali menasehati mentari tapi ia sendiri tidak ingin sang mentari berhenti melakukan tugasnya. Gadis itu berpikir bahwa ia kini telah sama jahatnya dengan bumi yang kurang ajar. Meskipun sang gadis menyadarinya, ia enggan berubah. Ia malah memilih bersembunyi dan menyumpahi bumi, ia hanya bisa memandang miris pada mentari.
Gadis ini tidak ingin menjadi agen perubahan, tapi menginginkan perubahan. Terlalu banyak memikirkan tentang kekejian dan kejahatan bumi namun masih betah menjadi bagian daripada bumi. Apakah gadis ini juga jahat? Pikirkan apa yang ingin kau pikirkan, prasangkamu adalah prasangkamu, percayai apa yang hendak kau percayai. Kalian bisa menganggap sang gadis jahat, kalian para pembaca bisa ikut merutuki sang gadis. Ia kini tidak masalah lagi, karena sang gadis telah mengerti siklusnya.
Skip.
Baiklah kembali lagi kepada kegiatan sang gadis dibalik tirai.
Ia kini tengah menikmati kesendiriannya, mendengarkan musik acak, dan sedang meraba-raba lembar buku yang masih terlihat baru berjudul 48 Hukum Kekuasaan karya Robert Greene. Mungkin ia berharap setelah membacanya ia akan sanggup menghadapi kekejian bumi dan isinya.
Perut sang gadis bergemuruh kasar meminta di asupi, namun sang gadis mengabaikan bunyi itu. Ia terlalu focus pada pekerjaannya. Mungkin pikirnya sang perut hanya mengada-ngada, ia hanya ingin sang gadis menghentikan kegiatannya yang menyenangkan. Itulah mengapa sang gadis terus
mengabaikannya.
Sang gadis menghela napas yang cukup panjang, lalu menghembuskannya kasar. Terlalu membosankan pikirnya.