ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, TINGKAT INFLASI, UPAH MINIMUM, DAN
TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PENGANGGURAN DI JAWA TIMUR
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh :
Irza Azwardi Sabani 135020101111063
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, TINGKAT INFLASI, UPAH MINIMUM, DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP
PENGANGGURAN DI JAWA TIMUR
Yang disusun oleh :
Nama : Irza Azwardi Sabani
NIM : 135020101111063
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 6 Maret 2017
Malang, 6 Maret 2017 Dosen Pembimbing,
Dr. Sasongko, SE., MS.
NIP. 19530406 198003 1 004
ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, TINGKAT INFLASI, UPAH MINIMUM, DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP
PENGANGGURAN DI JAWA TIMUR
Irza Azwardi Sabani, Dr. Sasongko, SE., MS.Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Pengangguran merupakan salah satu masalah dalam perekonomian yang dapat mempengaruhi perekonomian dan manusia. Provinsi Jawa Timur sendiri memiliki total angkatan kerja sebanyak 20,274,681 orang pada tahun 2015 menurut data Badan Pusat Statistik. Hal tersebut megkhawatirkan dikarenakan apabila terjadi peningkatan tingkat pengangguran sebesar 1% saja, hal tersebut berarti terjadi peningkatan jumlah pengangguran sekitar 200,000 orang. Peningkatan jumlah pengangguran sebesar 200,000 orang tentu menciptakan beban baru untuk pemerintah.
Tingkat pengangguran di Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan sendiri meningkat sebesar 0.28% atau sekitar 60,000 tambahan pengangguran.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pengabungan data cross-section dan data time- series atau bisa disebut juga sebagai data panel. Periode yang diteliti adalah tahun 2011 hingga tahun 2015 pada keseluruhan Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur, kecuali tingkat inflasi yang datanya hanya dimiliki pada 7 Kota dan Kabupaten tertentu.
Kata Kunci : Pengangguran, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, Upah Minimum, Tingkat Pendidikan
A. PENDAHULUAN
Provinsi Jawa Timur sendiri merupakan provinsi yang memiliki jumlah angkatan kerja yang cukup banyak bila dibandingkan daerah lain, yakni sebesar 20,274,681 orang, atau hampir 17% dari keseluruhan angkatan kerja di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2015). Dengan jumlah angkatan kerja yang besar tersebut, apabila terjadi peningkatan tingkat pengangguran, yang mungkin hanya 1% saja, dapat berarti terjadi penambahan jumlah pengangguran sekitar 200,000 orang. Peningkatan jumlah pengangguran sebanyak 200,000 orang tersebut, tentu dapat menciptakan beban baru untuk pemerintah.
Dalam perkembangannya, dalam data Badan Pusat Statistik (2015), pada tahun 2015 tingkat pengangguran yang ada meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dimana, tingkat pengangguran Jawa Timur pada tahun 2014 yang awal mulanya berada pada 4,19% menjadi 4,47% atau terjadi kenaikan persentase sebesar 0.28% (peningkatan pengangguran sekitar 60,000 orang) pada tahun 2015.
Dari uraian diatas timbul pertanyaan, mengapa tingkat pengangguran pada tahun 2015 meningkat? Alasan pertama, diduga pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur yang sedang melemah mempengaruhi tingkat pengangguran tersebut. Menurut data BPS tahun 2015, laju pertumbuhan PDRB di Provinsi Jawa Timur sendiri mengalami penurunan, yaitu pada tahun 2014 sebesar 5.86%, turun menjadi 5.44% pada tahun 2015. Alasan yang mendasari pendugaan bahwa tingkat pengangguran meningkat dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang melemah adalah hukum Okun. Hukum Okun merupakan hasil penelitian Arthur Okun yang menganalisis hubungan antara output dengan pengangguran. hukum tersebut menyatakan bahwa tingkat pengangguran turun sebesar 1% setiap terjadi peningkatan sebesar 3% pada GDP riil (Case dan Fair, 2007;304).
Alasan Kedua, yaitu diduga tingkat pengangguran tersebut meningkat dikarenakan tingkat inflasi. Pada tahun 2015 menurut data Bank Indonesia tingkat inflasi di Jawa Timur turun jauh dibandingkan pada tahun sebelumnya. Tingkat inflasi pada tahun 2014 adalah sebesar 7.77% yang dimana pada tahun 2015 turun drastis hingga menjadi 3.08%. Hubungan antara inflasi dan tingkat pengangguran memang dibahas dalam ilmu makroekonomi. Hubungan tersebut biasanya dijelaskan dengan menggunakan kurva Phillips. Dalam kurva Phillips, dijelaskan bahwa terjadi hubungan negatif antara pengangguran dan inflasi, dimana apabila tingkat inflasi tinggi, maka akan terjadi
penurunan tingkat pengangguran, sedangkan apabila tingkat inflasi rendah, maka akan terjadi peningkatan pada tingkat pengangguran (Mankiw, 2007;376).
Alasan Ketiga, yaitu diduga peningkatan tingkat pengangguran dikarenakan upah minimum.
Dalam Mankiw (2007;160) dijelaskan bahwa kekakuan upah (sticky wage) yang disebabkan oleh kebijakan upah minimum dapat meningkatkan tingkat pengangguran. Penetapan upah minimum sendiri, biasanya menuai protes dari kalangan pengusaha. Contohnya pada saat penetapan upah minimum untuk tahun 2015, upah minimum tersebut dianggap tinggi oleh pihak pengusaha seperti contohnya di Kota Surabaya dengan peningkatan sebesar 23,18% yang dimana pihak pengusaha tersebut hanya mampu membayar upah jika upah tersebut hanya meningkat 11% dan mengatakan resiko yang terjadi adalah perusahaan akan gulung tikar atau akan terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja (ekbis.sindonews.com, 2014). Dalam kasus lain di Kabupaten Jember dan Lumajang, PT. HM Sampoerna tbk melakukan pemutusan hubungan kerja dikarenakan penutupan kedua pabrik sigaret kretek tangan di daerah tersebut dengan alasan kenaikan upah minimum (news.metrotvnews.com, 2014).
Alasan Terakhir, diduga tingkat pendidikan juga mempengaruhi tingkat pengangguran. Total angkatan kerja untuk keseluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur yang memiliki pendidikan tinggi sendiri, bila dibandingkan dengan angkatan kerja yang memiliki pendidikan rendah sangatlah jauh. Dimana untuk Total angkatan kerja berpendidikan tinggi di 38 Kabupaten dan Kota tersebut pada tahun 2015 hanya berjumlah 1,742,681 orang atau hanya 1/5 dari jumlah angkatan kerja yang memiliki pendidikan rendah, yaitu sebesar 9,426,404 orang. Hal tersebut menandakan angkatan kerja masih didominasi secara besar oleh angkatan kerja yang memiliki pendidikan rendah. Alasan yang mendasari pendugaan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat pengangguran adalah dalam Núñez dan Livanos (2010) dijelaskan bahwa pendidikan yang tinggi akan menghasilkan akumulasi modal manusia, yang berhubungan juga dengan produktivitas tinggi. Perusahaan akan berusaha untuk menjaga tingkat produktivitas agar tetap tinggi, sehingga kemungkinan kecil untuk memecat pegawai dengan kemampuan tinggi. Sehingga, semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin rendah kemungkinan orang tersebut menganggur. Melihat bahwa angka total angkatan kerja berpendidikan tinggi terus meningkat, diduga bahwa angkatan kerja berpendidikan rendah tersebut masih banyak yang menganggur dan digantikan oleh angkatan kerja berpendidikan tinggi.
Oleh karena itu, sesuai dengan penjelasan-penjelasan diatas, peneliti berminat untuk meneliti tentang pengaruh faktor pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, upah minimum dan juga tingkat pendidikan terhadap tingkat pengangguran di Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Timur dan berapa besar pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap tingkat pengangguran.
B. STUDI LITERATUR
Dalam sub bab ini akan dijelaskan beberapa penelitian terdahulu yang menjadi referensi dalam penulisan penelitian ini dan menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Terdapat beberapa penelitian yang mendapatkan hasil yang sesuai dengan teori yang ada. Akan tetapi terdapat juga penelitian yang mendapatkan hasil yang berbeda dengan teori yang ada.
1. Penelitian Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pengangguran
Penelitian Noor, dkk. (2007) menemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara PDB riil dengan tingkat pengangguran, dengan hasil koefisien Okun sebesar -1,75 yang berarti bahwa penurunan 1% pada pengangguran akan meningkatkan output sebesar 1,75%. Hasil tersebut berarti menjelaskan argumen tentang kemiringan koefisien dari model Okun tidak stabil dan akan berbeda untuk tiap negara dan tahun. Kesimpulan dari penelitian mereka adalah hukum Okun dapat diterapkan di Malaysia.
Penelitian Moosa (2008) Menemukan bahwa tidak adanya hubungan antara kedua variabel tersebut pada 4 negara tersebut, berbeda dengan penelitian sebelumnya. Peneliti memberikan 3 alasan mengapa hukum Okun tersebut tidak valid, yaitu :
a. Pertama, pengangguran pada keempat negara tersebut merupakan pengangguran struktural dan atau friksional, bukan pengangguran siklis. Pertumbuhan output tambahnya lagi, tidak mampu untuk mengurangi pengangguran tersebut.
b. Kedua, pasar tenaga kerja pada keempat negara tersebut kaku. Hal tersebut dikarenakan pasar tenaga kerja lebih dikuasai oleh pemerintah sebagai penyedia lapangan kerja yang ada.
c. Ketiga, perekonomian pada keempat negara tersebut lebih didominasi pemerintah dan mungkin 1 sektor seperti sektor minyak di Algeria. Apabila sektor yang dominan tersebut
tidak padat karya, maka pertumbuhan pada sektor terebut tidak akan mengurangi tingkat pengangguran.
2. Penelitian Tingkat Inflasi dan Tingkat Pengangguran
Penelitian Tang dan Lean (2007) menemukan bahwa hubungan yang dijelaskan oleh kurva Phillips terjadi pada jangka pendek dan juga jangka panjang dan ditemukan di Malaysia.
Penelitian oleh Al-Zeaud (2014) Menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut. Sehingga hasil penelitian tersebut menurutnya sesuai dengan pemikiran Milton Friedman, bahwa tidak ada trade-off antara pengangguran dan inflasi pada periode tersebut di Yordania.
3. Penelitian Upah Minimum dan Tingkat Pengangguran
Penelitian Cousineau, dkk. (1992) menemukan bahwa peningkatan 10% pada upah minimum meningkatkan tingkat pengangguran wanita sebesar 1.40% dan remaja sebesar 1.53%. selanjutnya peneliti juga mendapatkan apabila peningkatan 13% pada upah minimum menyebabkan peningkatan pengangguran wanita sebesar 1.82% dan remaja sebesar 1.99%. Sehingga kesimpulannya, peningkatan upah minimum akan meningkatkan angka pengangguran wanita dan remaja.
Untuk penelitian kedua, variabel yang adalah upah minimum dan pekerja, berbeda dari fokus penelitian pada penelitian ini yang langsung menghubungkan upah minimum dengan tingkat pengangguran. Akan tetapi, penelitian ini tetap dapat digunakan dalam fokus penelitian ini karena masih berhubungan dengan masalah ketenagakerjaan. Penelitian kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Suryahadi, dkk. (2003). Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif pada setiap grup tersebut dengan upah minimum, kecuali pekerja berkerah putih.
Hasil yang peneliti dapatkan adalah peningkatan 10% pada upah minimum akan mengurangi total pekerja sekitar 1%. Hasil berbeda yang ditemukan pada pekerja berkerah putih, menurut peneliti adalah dikarenakan apabila upah minimum ditingkatkan, maka perusahaan akan mengurangi pekerja yang kemampuannya rendah. Selain itu, menurut peneliti, perusahaan merespon upah minimum dengan mengganti teknologi mereka.
4. Penelitian Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pengangguran
Penelitian yang dilakukan oleh Núñez dan Livanos (2010) menmukan bahwa tingkat pendidikan tinggi dapat meningkatkan prospek diterimanya seseorang dalam bekerja dikarenakan tingkat pendidikan tinggi mengurangi kemungkinan seseorang menjadi pengangguran dan mengurangi durasi pengangguran. Selain itu peneliti juga menemukan bahwa seseorang yang memiliki tingkat pendidikan rendah juga memiliki kesempatan memasuki lapangan kerja, lebih tinggi dibandingkan seseorang yang memiliki tingkat pendidikan menengah. Hal tersebut, menurut peneliti dikarenakan seseorang yang memiliki tingkat pendidikan rendah lebih memilih untuk menerima pekerjaan apapun dibandingkan menjadi pengangguran. Sehingga, secara umum, hasil penelitian ini menurut peneliti menemukan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi meningkatkan kesempatan seseorang dalam masuk ke lapangan kerja, selain itu, juga ditemukan bahwa tingkat pendidikan tinggi dapat mengurangi pengangguran dalam jangka panjang.
Penelitian Erdem dan Tugcu (2012) mendapatkan bahwa 1% peningkatan lulusan dengan tingkat pendidikan tinggi akan meningkatkan pengangguran sebesar 0.11% dalam jangka panjang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lulusan tingkat pendidikan tinggi tersebut tidak dapat ditampung oleh perekonomian di Turki. Dalam jangka pendek, 1% peningkatan lulusan dengan tingkat pendidikan tinggi meningkatkan tingkat pengangguran sebesar 0.04%. Menurut Peneliti, pengangguran yang meningkat tersebut dianggap hasil karena sistem pendidikan yang tinggi menghasilkan tenaga kerja lebih dari yang dibutuhkan.
C. METODOLOGI PENELITIAN
Peneliti menganalisis data menggunakan model regresi data panel. Penggunaan regresi data panel ini digunakan oleh peneliti dikarenakan peneliti ingin melihat pengaruh dari variabel-variabel yang ada untuk setiap kota dan kabupaten di Jawa Timur pada tiap tahunnya. Selain itu penggunaan regresi data panel juga memberikan manfaat yaitu dapat memberikan banyak variasi, sedikit kolinearitas antarvariabel, lebih banyaknya degree of freedom, dan juga lebih efisien (Gujarati, 2015;237).
Selain itu, pada teori kurva Phillips sebelumnya, diketahui bahwa inflasi dan tingkat pengangguran hanya memiliki hubungan jangka pendek, sedangkan dalam jangka panjang, kedua variabel tersebut tidak memiliki hubungan. Untuk melihat hubungan tersebut maka dilakukan
metode analisis dengan menggunakan Error Correction Model untuk melihat hubungan jangka pendek dan uji kointegrasi untuk melihat hubungan jangka panjang pada kedua variabel tersebut.
Untuk penggunaan metode estimasi data panel tersebut, akan digunakan metode fixed effect. Hal tersebut dikarenakan pertama, dalam regresi data panel ini, model fixed effect digunakan karena ingin mengetahui bagaimana pengaruh antara variabel-variabel yang ada pada kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Kedua, dalam Wooldridge (2013;478) dijelaskan bahwa kita tidak dapat menganggap sampel kita random dari populasi yang besar contohnya seperti provinsi atau negara, sehingga lebih baik menggunakan fixed effect yang dimana setiap obyek memiliki koefisien tersendiri.
Model persamaan regresi data panel dasar untuk 7 Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang memiliki data inflasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
UNEMP = α + β2 + ε Keterangan :
UNEMPt = Variabel dependen (Tingkat Pengangguran Terbuka)
α = Konstanta
β2 = variabel intercept
INFt = variabel independen (Tingkat Inflasi)
ε = residual
Untuk model ECM, model yang digunakan untuk kedua variabel tersebut adalah sebagai berikut.
UNEMP = α + β2 + + ε Keterangan :
α2 = koefisien koreksi ketidakseimbangan ECt = kesalahan ketidakseimbangan
Sedangkan untuk regresi data panel untuk 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur dengan variabel selain tingkat inflasi, digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
UNEMP = α + β1GDP + β3EDU + β4MINWAGE + ε Keterangan :
β1,β2,β3 = variabel intercept
GDP = variabel independen (pertumbuhan PDRB) EDU = variabel independen (Tingkat Pendidikan) MINWAGE = variabel independen (Upah Minimum) Keterangan Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tingkat Pengangguran Terbuka (UNEMP), adalah angka yang menunjukkan besarnya pengangguran dalam angkatan kerja dengan satuan persen
2. Pertumbuhan PDRB (GDP), adalah proksi dari pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan pertumbuhan PDRB dengan satuan persen
3. Tingkat Inflasi (INF), adalah angka yang menunjukkan kenaikan pada indeks harga konsumen dengan satuan persen
4. Tingkat Pendidikan (EDU), angka yang menunjukkan tingkat pendidikan yang diwakilkan oleh angka angkatan kerja menurut pendidikan tinggi dalam satuan orang.
5. Upah Minimum (MINWAGE), merupakan upah paling rendah yang ditetapkan oleh pemerintah dalam satuan rupiah.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Hasil Regresi Model Dasar Pertama (Jangka Panjang)
Variabel Koefisien Standard Error t-statistik Probabilitas
INF -0.0784 0.064519 -1.21579 0.2346
C 0.06203 0.00364 17.0384 0.0000
R-square 0.92299
Fixed Effect Koefisien
KabJember -0.017349
KabSumenep -0.040322
KotaKediri 0.025678
KotaMalang 0.022235
KotaProbolinggo -0.009125
KotaMadiun 0.014064
KotaSurabaya 0.004819
Catatan :
* = signifikan pada α = 1%
** = signifikan pada α = 5%
*** = signifikan pada α = 10
Hasil dari nilai R-square pada model pertama adalah sebesar 0.92 atau sebesar 92%. Dari hal tersebut dapat diartikan bahwa variabel INF mampu menjelaskan variabel UNEMP sebesar 92%
dalam jangka panjang dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Selanjutnya untuk variabel INF itu sendiri, dapat dilihat bahwa nilai koefisien untuk variabelnya adalah sebesar -0.0784, yang berarti apabila jika inflasi (INF) meningkat sebesar 1% maka tingkat pengangguran (UNEMP) akan turun sebesar 7.8% (berpengaruh negatif) dalam jangka panjang.
Nilai probabilitas t-statistik pada variabel INF adalah sebesar 0.2346 atau 23.46%. dikarenakan nilai probabilitas tersebut tidak menunjukkan signifikansi pada nilai α = 1%, α = 5% maupun α = 10%, maka dapat disimpulkan bahwa dalam jangka panjang tidak ada pengaruh signifikan antara kedua variabel tersebut.
Untuk nilai koefisien masing-masing Kabupaten/Kota pada model dasar pertama, nilai koefisien yang paling kecil dipegang oleh Kabupaten Sumenep dengan nilai sebesar -0.040322. Hal tersebut berarti apabila variabel INF sama dengan 0, maka tingkat pengangguran di Kabupaten Sumenep adalah sebesar 0,021708 atau 2% (0,06203 dikurangi dengan 0,040322) dalam jangka panjang.
Sedangkan, untuk nilai koefisien yang paling besar, dipegang oleh Kota Kediri dengan nilai 0.025678. Hal tersebut berarti apabila variabel INF sama dengan 0, maka tingkat pengangguran di Kota Kediri adalah 0.087708% atau 9% (0.06203 ditambah dengan 0.025678) dalam jangka panjang.
Tabel 2 Hasil Regresi Model ECM (Jangka Pendek)
Variabel Koefisien Standard Error t-statistik Probabilitas
INF -0.060519 0.025547 -2.368933 **0.0286
EC -0.944896 0.107364 -8.800882 *0.0000
C -0.002619 0.000804 -3.257172 0.0041
R-square 0.855324
Fixed Effect Koefisien
KabJember 0.005035
KabSumenep 0.002333
KotaKediri -0.000332
KotaMalang -0.001552
KotaProbolinggo 0.001374
Sumber : Penulis, 2017
KotaMadiun -0.005876
KotaSurabaya -0.000982
Catatan :
* = signifikan pada α = 1%
** = signifikan pada α = 5%
*** = signifikan pada α = 10
Hasil Regresi Model ECM ditemukan bahwa nilai R-square adalah sebesar 0.855324 atau sebebsar 86%. Dari hal tersebut dapat diartikan bahwa variabel INF mampu menjelaskan variabel UNEMP sebesar 86% dalam jangka pendek dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Untuk variabel INF itu sendiri, dapat dilihat bahwa nilai koefisien untuk variabelnya adalah sebesar -0.060519, yang berarti apabila inflasi meningkat 1% maka tingkat pengangguran akan turun sebesar 6.1% (berpengaruh negatif) dalam jangka pendek. Nilai sginfikansi dapat dilihat dari nilai probabilitas yang dimana, nilai probabilitas t-statistik yaitu sebesar 0.0286 atau 2%. Dikarenakan nilai probabilitas tersebut signifikan pada α = 5% dan juga α = 10%, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan dalam jangka pendek antara kedua variabel tersebut. hasil nilai EC adalah signifikan pada α = 1%, α = 5% maupun α = 10%, yang berarti model ECM valid digunakan dalam penelitian. Nilai koefisien EC adalah sebesar 0.944896 atau 94% yang berarti sekitar 94%
dari ketidaksesuaian antara jangka panjang dan jangka pendek yang dapat dikoreksi.
Untuk nilai koefisien masing-masing Kabupaten/Kota pada model ECM, nilai koefisien terkecil dipegang oleh Kota Madiun dengan nilai sebesar -0.00588. Hal tersebut berarti apabila variabel INF sama dengan 0, maka tingkat pengangguran di Kota Madiun adalah sebesar 0% (-0.002619 ditambah dengan -0.00588) dalam jangka pendek. Sedangkan untuk nilai koefisien terbesar, dipegang oleh Kabupaten Jember dengan nilai sebesar 0.005035. Hal tersebut berarti bahwa apabila variabel INF sama dengan 0, maka tingkat pengangguran di Kabupaten Jember adalah sebesar 0% (-0.002619 ditambah dengan 0.005035) dalam jangka pendek.
Tabel 3 Hasil Regresi Model Kedua
Variabel Koefisien Standard Error t-statistik Probabilitas
GDP 0.026839 0.044952 0.597071 0.5514
EDU -0.000158 0.000077 -2.063492 **0.0408
MINWAGE -0.004779 0.002499 -1.912268 ***0.0578
C 0.055225 0.004422 12.48939 0.0000
R-square 0.916539
F-statistik 40.90659
Prob F-statistik *0.00000
Fixed Effect Koefisien
KabPacitan -0.038994
KabPonorogo -0.006074
KabTrenggalek -0.016498
KabTulungagung -0.015242
KabBlitar -0.013537
KabKediri 0.009497
KabMalang 0.007816
KabLumajang -0.018619
KabJember -0.002397
Sumber : Penulis, 2017
KabBanyuwangi 0.001944
KabBondowoso -0.020363
KabSitubondo -0.011273
KabProbolinggo -0.023061
KabPasuruan 0.010498
KabSidoarjo 0.033301
KabMojokerto -0.000495
KabJombang 0.015238
KabNganjuk -0.004968
KabMadiun -0.00074
KabMagetan -0.005432
KabNgawi -0.00333
KabBojonegoro -0.001591
KabTuban -0.009499
KabLamongan 0.002824
KabGresik 0.020204
KabBangkalan 0.009851
KabSampang -0.022415
KabPamekasan -0.020352
KabSumenep -0.031157
KotaKediri 0.036471
KotaBlitar -0.000935
KotaMalang 0.043237
KotaProbolinggo 0.000041
KotaPasuruan 0.006681
KotaMojokerto 0.015772
KotaMadiun 0.022159
KotaSurabaya 0.045495
KotaBatu -0.014057
Catatan :
* = signifikan pada α = 1%
** = signifikan pada α = 5%
*** = signifikan pada α = 10%
Pada hasil regresi model kedua, dapat dilihat bahwa nilai R-squarenya adalah sebesar 0.92 atau 92%. Hal tersebut berarti ketiga variabel independennya (GDP, EDU, MINWAGE) mampu menjelaskan variabel UNEMP sebesar 92% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Nilai probabilitas F-statistik adalah sebesar 0.00, yang menunjukkan signifikansi pada α = 1%, α = 5% dan α = 10%, yang dapat disimpulkan bahwa secara serempak seluruh variabel independen (GDP, EDU, MINWAGE) memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (UNEMP)
Selanjutnya, pada variabel GDP, memiliki koefisien sebesar 0.026839. Hal tersebut berarti bahwa jika laju pertumbuhan meningkat (GDP) sebesar 1%, maka tingkat pengangguran (UNEMP) akan meningkat sebesar 2.7% (berpengaruh positif). Akan tetapi variabel GDP memiliki probabilitas t-statistik sebesar 0.5514 atau 55% yang tidak menunjukkan signifikansi pada α = 1%, α = 5%
maupun α = 10%, yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel GDP dan UNEMP.
Sumber : Penulis, 2017
Pada variabel EDU, koefisien yang dimiliki oleh variabel tersebut adalah sebesar -0.000158. Hal tersebut berarti bahwa jika angkatan kerja berpendidikan tinggi (EDU) meningkat sebesar 1000 orang, maka tingkat pengangguran (UNEMP) akan berkurang sebesar 0.02%. Selain itu, variabel EDU juga memiliki probabilitas t-statistik sebesar 0.0408 atau sebesar 4%, yang menunjukkan signifikansi pada α = 5% dan α = 10%. Hal tersebut berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel EDU dan UNEMP.
Untuk variabel MINWAGE sendiri, koefisien yang dimiliki oleh variabel tersebut adalah sebesar -0.004779. Hal tersebut berarti bahwa jika upah minimum (MINWAGE) meningkat sebesar Rp 1.000.000, maka tingkat pengangguran (UNEMP) akan berkurang sebesar 0.5%. Nilai probabilitas t-statistik menunjukkan angka sebesar 0.0578 atau sebesar 5,8%, yang menunjukkan signifikansi pada α = 10%. Hal tersebut berarti terdapat hubungan signifikan antara variabel MINWAGE dan UNEMP.
Untuk nilai koefisien pada model kedua, nilai koefisien terkecil dipegang oleh Kabupaten Pacitan dengan nilai koefisien sebesar -0.038994. Hal tersebut berarti jika variabel GDP, EDU dan MINWAGE sama dengan 0, maka tingkat pengangguran untuk Kabupaten Pacitan adalah sebesar 0,016231% atau 2% (0.055225 dikurangi dengan 0.038994). Sedangkan untuk nilai koefisien terbesar pada model kedua, dipegang oleh Kota Surabaya dengan nilai koefisien 0.045495. Hal tersebut berarti ketika variabel GDP, EDU dan MINWAGE sama dengan 0, maka tingkat pengangguran untuk Kota Surabaya adalah sebesar 0.597745% atau 60% (0.055225 ditambahkan dengan 0.045494).
a. Tingkat Inflasi (INF)
Pada hasil regresi model dasar pertama, didapatkan bahwa tingkat inflasi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat pengangguran dalam jangka panjang. Sehingga peneliti menolak hipotesis yang menyatakan bahwa tingkat inflasi memiliki hubungan negatif dengan tingkat pengangguran akan tetapi untuk jangka panjang saja. Sedangkan dalam jangka pendek, inflasi memiliki hubungan signifikan negatif, sehingga peneliti menerima hipotesis bahwa tingkat inflasi memiliki hubungan negatif dengan tingkat pengangguran akan tetapi hanya dalam jangka pendek. hasil dari regresi tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tang dan Lean (2007) dan juga penelitian yang dilakukan oleh Al-Zeaud (2014). Dimana Tang dan Lean menemukan bahwa dalam jangka pendek terdapat hubungan kurva Phillips sesuai dengan teori yang ada akan tetapi dalam jangka panjang hasil regresi sesuai dengan penelitian Al-Zeaud menjelaskan bahwa hasil yang ia teliti sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Milton Friedman bahwa pada jangka panjang tidak terdapat hubungan antara inflasi dan tingkat pengangguran.
Dikarenakan hasil yang tidak signifikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam jangka panjang, inflasi tidak akan mempengaruhi tingkat pengangguran, akan tetapi dalam jangka pendek, inflasi masih dapat mempengaruhi tingkat pengangguran di 7 Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur. Dikarenakan data inflasi tersebut dapat digunakan untuk mewakilkan daerah disekitarnya, maka diduga bahwa hasil yang didapatkan pada model regresi ini akan sama untuk 38 Kabupaten dan Kota secara keseluruhan.
Sehingga, tidak adanya hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran dalam jangka panjang mungkin sesuai dengan pemikiran yang disampaikan oleh Milton Friedman tentang NAIRU yang sesuai juga dengan kesimpulan pada penelitian Al-Zeaud. Diduga pengangguran di Provinsi Jawa Timur berada pada tingkatan NAIRU atau berada pada tingkatan alamiah pada periode 2011 hingga 2015, sehingga tidak terdapat hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran dalam jangka panjang, dan hanya terjadi dalam jangka pendek.
b. Pertumbuhan Ekonomi (GDP)
Pada hasil regresi model kedua, tidak ditemukan adanya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran, sehingga peneliti menolak hipotesis yang menyatakan pertumbuhan ekonomi berhubungan negatif dengan tingkat pengangguran. hasil tersebut sejalan dengan hasil dari penelitian Moosa (2008) yang juga mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran. Moosa menjelaskan bahwa terdapat tiga alasan mengapa kedua variabel tersebut tidak saling berpengaruh, yaitu, pengangguran yang ada berbentuk struktural dan atau friksional, lapangan pekerjaan yang didominasi oleh pemerintah, dan sektor yang tumbuh mungkin sektor yang bukan pada karya.
Dari hasil yang tidak signifikan terebut, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran, tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan pada hukum Okun pada 38 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur. Tidak terdapatnya hubungan antara kedua variabel tersebut, diduga dikarenakan pertumbuhan ekonomi lebih 38 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa
13.75
3.79 29.27
0.090.340.630.801.431.632.312.752.723.364.565.41 9.50 17.64
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
Pertambangan dan PenggalianPengadaan Listrik dan GasIndustri Pengolahan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, LimbahKonstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi MobilTransportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan MinumJasa Keuangan dan AsuransiInformasi dan Komunikasi Real Estate Jasa Perusahaan Adm. Pemerintah, Pertahanan&Jaminan Sosial…
Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan SosialJasa lainnya
Timur lebih banyak disumbangkan oleh faktor-faktor seperti teknologi dan investasi sehingga tidak menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Selain itu diduga juga sektor yang tumbuh di 38 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur lebih condong kepada sektor yang padat modal, bukan sektor padat karya dan juga pengangguran di 38 Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur adalah pengangguran friksional dan atau struktural, dimana pengangguran tersebut tidak dapat dikurangi oleh pertumbuhan ekonomi. Hasil pendugaan tersebut mengikuti pemikiran penelitian Moosa.
Apabila dilihat dari data distribusi PDRB pada tahun 2015, dapat terlihat jelas bahwa sektor industri pengolahan lebih banyak memberikan kontribusi, dan kemudian diikuti oleh perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan yang ketiga diikuti oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa struktur lapangan pekerjaan di Provinsi Jawa Timur memang lebih banyak dikuasai oleh sektor-sektor padat modal dibandingkan padat karya.
Grafik 1 Distribusi PDRB Menurut Sektor di Provinsi Jawa Timur Tahun 2015 (%)
c. Tingkat Pendidikan (EDU)
Hasil regresi yang didapatkan pada model kedua untuk tingkat pendidikan adalah signifikan dan berhubungan negatif. Sehingga peneliti menerima hipotesis yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan memiliki hubungan negatif terhadap tingkat pengangguran. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Núñez dan Livanos (2009). Núñez dan Livanos menjelaskan bahwa semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang, maka waktu menganggur dan kemungkinan menganggur seorang semakin kecil.
Hasil yang diperoleh memiliki koefisien sebesar -0.000158, mungkin terlalu kecil. Hal tersebut dapat diartikan bahwa tingginya tingkat pendidikan seseorang di 38 Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur hanya akan mempengaruhi kemungkinan seseorang untuk tidak menjadi pengangguran dengan efek yang sangat kecil. Akan tetapi hasil tersebut tetap menunjukkan kesesuaian dengan pemikiran-pemikiran yang menunjukkan bahwa tingginya tingkat pendidikan dapat mengurangi tingkat pengangguran atau mengurangi waktu seseorang untuk menganggur.
d. Upah Minimum (MINWAGE)
Hasil regresi pada model kedua yang didapatkan untuk variabel upah minimum adalah signifikan dan berhubungan negatif. Sehingga peneliti menolak hipotesis yang menyatakan bahwa upah minimum memiliki hubungan positif dengan tingkat pengangguran.
Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara upah minimum dengan tingkat pengangguran di 38 kabupaten dan kota Provinsi Jawa Timur tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh teori kekakuan upah. Dimana pada teori kekakuan upah, dijelaskan bahwa peningkatan upah minimum justru akan meningkatkan tingkat pengangguran.
Ketidaksesuaian yang terjadi antara kedua hal tersebut diduga dikarenakan pengangguran di Provinsi Jawa Timur lebih banyak yang berjenis friksional dibandingkan struktural yang dimana pengangguran friksional tidak dipengaruhi oleh upah minimum. Selain itu mengikuti hasil penelitian yang dilakukan Suryahadi, dkk (2003), dimana hasil yang mereka dapatkan adalah upah minimum Sumber : Badan Pusat Statistik Data Diolah, 2017
10252 26829
96988
165317
268617 241708 26488
70705
0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 Tidak Sekolah
Tidak/Belum Tamat SD SD SMP SMA SMK Diploma Universitas
meningkatkan jumlah pekerja berkerah putih atau yang memiliki kemampuan tinggi. Dimana perusahaan lebih memprioritaskan untuk menerima pekerja kerah putih dibandingkan pekerja dengan skill yang lebih rendah pada saat terjadi peningkatan upah minimum. Sehingga diduga lagi pengangguran yang ada di Provinsi Jawa Timur banyak dikuasai oleh pekerja dengan skill tinggi.
Hal tersebut dapat dilihat dari data dibawah yang menunjukkan angka pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan pada tahun 2015.
Grafik 2 Pengangguran Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2015 di Provinsi Jawa Timur (Orang)
Dimana dapat dilihat bahwa pengangguran terbuka pada tingkat pendidikan tinggi yaitu universitas dan diploma dan juga tingkat pendidikan menengah yaitu SMK dan SMA lebih banyak dibandingkan tingkat pendidikan rendah yaitu SD dan SMP dan juga yang tidak sekolah dan tidak atau belum tamat SD. Dari situ dapat dilihat bahwa pengangguran dengan skill yang cukup tinggi lebih banyak dibandingkan pengangguran dengan skill yang rendah.
E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Dari hasil analisis yang dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Dari hasil regresi, didapatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi dalam jangka
panjang tidak memiliki hubungan dengan tingkat pengangguran. Sehingga hipotesis dimana pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi memiliki hubungan negatif ditolak (untuk tingkat inflasi khusus jangka panjang). Selain itu, dikarenakan tidak signifikannya pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi dalam jangka panjang, besarnya pengaruh kedua variabel tersebut terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Jawa Timur tidak dapat disimpulkan atau tidak ada.
2. Dalam jangka pendek, tingkat inflasi sendiri memiliki hubungan terhadap tingkat pengangguran. Hubungan antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran sendiri adalah signifikan negatif. Hal tersebut menjelaskan bahwa hipotesis hubungan negatif antara inflasi dan tingkat pengangguran dapat dijelaskan, akan tetapi hanya dalam jangka pendek. Hubungan tersebut juga mungkin dapat menjelaskan mengapa tingkat pengangguran pada tahun 2015 di Provinsi Jawa Timur meningkat. Besarnya pengaruh dalam jangka pendek antara inflasi dan tingkat pengangguran juga cukup besar yang dapat dilihat dari hasil regresi pada bab sebelumnya.
3. Ditemukan hubungan yang signifikan pada tingkat pendidikan dan upah minimum. Pada tingkat pendidikan ditemukan hubungan signifikan negatif dan pada upah minimum ditemukan hubungan signifikan negatif. Dimana hipotesis yang menjelaskan hubungan negatif antara tingkat pendidikan dan tingkat pengangguran diterima dan hipotesis yang menjelaskan hubungan positif antara upah minimum dan tingkat pengangguran ditolak. Selain itu, melihat hasil dari penelitian, hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pengangguran sendiri cukup kecil, akan tetapi, tingkat pendidikan tetap menjadi salah satu faktor yang cukup penting dalam pengaruhnya dalam tingkat pengangguran mengingat hubungannya yang signifikan.
Untuk upah minimum sendiri yang berpengaruh negatif cukup memberikan dampak yang tidak kecil terhadap tingkat pengangguran.
Sumber : Badan Pusat Statistik Data Diolah, 2017
4. Dari hasil regresi diatas, diduga bahwa tingkat pengangguran di Provinsi Jawa Timur masih dalam batasan tingkat alamiah mengingat hasil regresi tingkat inflasi sesuai dengan teori NAIRU oleh Milton Friedman dan hasil regresi laju pertumbuhan yang sesuai dengan hasil penelitian Moosa yang dimana ia berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap tingkat pengangguran dikarenakan pengangguran masih berupa penganggguran struktural dan atau friksional yang dimana gabungan antara kedua jenis pengangguran tersebut adalah pengangguran alamiah.
Saran
Dari kesimpulan diatas, saran yang diajukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengingat pendugaan sebelumnya adalah, pengangguran di 38 Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Timur masih termasuk dalam daerah pengangguran alamiah, mungkin diperlukan kehati-hatian dalam upaya mengurangi tingkat pengangguran tersebut yang contohnya dengan kebijakan fiskal atau moneter. Hal tersebut dikarenakan jenis pengangguran tersebut masih dibawah tingkat alamiah yang justru akan mengganggu perekonomian apabila terjadi kesalahan dalam upaya pengurangan pengangguran tersebut.
2. Melihat hasil regresi sebelumnya, tingkat pendidikan memiliki hubungan signifikan negatif, hal tersebut berarti peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan mungkin dapat dijadikan salah satu solusi untuk mengurangi tingkat pengangguran.
3. Dikarenakan banyaknya keterbatasan dalam penelitian, perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut terhadap variabel tingkat pengangguran. dimana pada penelitian selanjutnya mungkin dibutuhkan penambahan variabel-variabel lain yang berhubungan dengan tingkat pengangguran serta penambahan jumlah periode data atau jumlah sampel terutama pada tingkat inflasi agar keadaan tingkat pengangguran di Provinsi Jawa Timur sendiri akan lebih detail dijelaskan.
F. DAFTAR PUSTAKA
Al-zeaud, H.A. 2014. The Trade-Off between Unemployment and Inflation Evidence from Causality Test for Jordan, International Journal of Humanities and Social Science, Vol. 4 No. 4, hal.
103–111.
Ari, K. 2014. Ribuan Karyawan Pabrik Rokok Terlantar
(http://news.metrotvnews.com/read/2014/05/22/244706/ribuan-karyawan-pabrik-rokok- terlantar. Diakses 23 November 2016).
Arifin, N. 2014. UMK Jatim Tinggi, Apindo Ancam Relokasi Besar-besaran (https://ekbis.sindonews.com/read/927373/34/umk-jatim-tinggi-apindo-ancam-relokasi- besar-besaran-1416556973. Diakses 6 Januari 2017).
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2011. Keadaan Angkatan Kerja di Jawa Timur Agustus 2011 (https://jatim.bps.go.id/. Diakses 20 November 2016).
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2012. Keadaan Angkatan Kerja di Jawa Timur Agustus 2012 (https://jatim.bps.go.id/. Diakses 20 November 2016).
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2013. Keadaan Angkatan Kerja di Jawa Timur Agustus 2013 (https://jatim.bps.go.id/. Diakses 20 November 2016).
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2014. Keadaan Angkatan Kerja di Jawa Timur Agustus 2014 (https://jatim.bps.go.id/. Diakses 20 November 2016).
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2015. Keadaan Angkatan Kerja di Jawa Timur Agustus 2015 (https://jatim.bps.go.id/. Diakses 20 November 2016).
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2016. PDRB Kabupaten/Kota Menurut Lapangan Usaha Tahun 2011-2015, https://jatim.bps.go.id/. Diakses 20 November 2016.
Case, K.E. dan Fair, R.C. 2007a. Prinsip-prinsip Ekonomi Jilid 1. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Case, K.E. dan Fair, R.C. 2007b. Prinsip-prinsip Ekonomi Jilid 2. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Cousineau, A.J., Tessier, D. dan Vaillancourt, F. 2014. The Impact of the Ontarian Minimum Wage on the Unemployment of Women and the Young The Impact of the Ontarian Minimum Wage on the Unemployment of Women and the Young in Ontario : A Note,Relations Industrielles, Vol. 47 No. 3, hal. 559–566.
Erdem, E. dan Tugcu, C.T. 2012. Higher Education and Unemployment: A cointegration and causality analysis of the case of Turkey, European Journal of Education, Vol. 47 No. 2, hal.
299–309.
Gujarati, D.N. dan Porter, D.C. 2015a. Dasar-dasar Ekonometrika Buku 1. Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
Gujarati, D.N. dan Porter, D.C. 2015b. Dasar-dasar Ekonometrika Buku 2. Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV. 2011. Kajian Ekonomi Keuangan Regional Jawa Timur Triwulan IV 2011 (http://www.bi.go.id/id/Default.aspx. Diakses 20 November 2016).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV. 2012. Kajian Ekonomi Keuangan Regional Jawa Timur Triwulan IV 2012 (http://www.bi.go.id/id/Default.aspx. Diakses 20 November 2016).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV. 2013. Kajian Ekonomi Keuangan Regional Jawa Timur Triwulan IV 2013 (http://www.bi.go.id/id/Default.aspx. Diakses 20 November 2016).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV. 2014. Kajian Ekonomi Keuangan Regional Jawa Timur Triwulan IV 2014 (http://www.bi.go.id/id/Default.aspx. Diakses 20 November 2016).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV. 2015. Kajian Ekonomi Keuangan Regional Jawa Timur Triwulan IV 2015 (http://www.bi.go.id/id/Default.aspx. Diakses 20 November 2016).
Mankiw, N.G. 2007. Makroekonomi. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Moosa, I.A. 2008. Economic Growth and Unemployment in Arab Countries: Is Okun’s Law Valid?, Journal of Development and Economic Policies, Vol. 10 No. 2, hal. 7–24.
Noor, Z.M., Nor, N.M. dan Ghani, J.A. 2007. The relationship between output and unemployment in Malaysia: Does Okun’s Law exist?, International Journal of Economics and Management, Vol. 1 No. 3, hal. 337–344.
Núñez, I. dan Livanos, I. 2010. Higher education and unemployment in Europe: An analysis of the academic subject and national effects, Higher Education, Vol. 59 No. 4, hal. 475–487.
Simanjuntak, P.J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Edisi 1. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.
Suryahadi, A., Widyanti, W., Perwira, D. dan Sumarto, S. 2003. Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector, Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 39 No. 1, hal. 29–50.
Tang, C.F. dan Lean, H.H. 2007. Is the Phillips Curve Stable for Malaysia ?,Malaysian Journal of Economic Studies, Vol. 44 No. 2, hal. 95–105.
Wooldridge, J.M. 2013. Introductory Econometrics A Modern Approach. Edisi 5. Canada: South- Western Cengage Learning.