• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Historis

N/A
N/A
Amr i

Academic year: 2024

Membagikan " Tinjauan Historis"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

NAGRI PUSTAKA, Vol. 2 (1), JUNI 2024 Online-ISSN: 3032-0151

Syela Joe Dhesita dan Ageng Sanjaya | 97

https://journal.yazri.com/index.php/nagripustaka

MUSIK SEBAGAI KRITIK DALAM SEJARAH POLITIK INDONESIA PASCA KEMERDEKAAN HINGGA PASCA REFORMASI: SEBUAH KAJIAN

HISTORIS

Syela Joe Dhesita1, Ageng Sanjaya2

1 MAN Sukoharjo, Indonesia

2 Universitas Veteran Bangun Nusantara, Indonesia Email: 1[email protected] 2[email protected]

Abstract. Music is one of the artistic representations which is dominated by sound. In addition to sound, poetry or song lyrics also enhance the nuances of harmony in music which functions to express sadness, pleasure, anxiety and even anger. So it is not uncommon for music to be used as a medium to voice oppression, injustice, peace, civil rights and social criticism, with a background of various things, one of which is the political condition of a country's government. The uniqueness of the development of music as a tool for political criticism in Indonesia is a topic that needs to be analyzed further so that it can be understood how the role of music in political dynamics in Indonesia from the early independence era to the reformation period. In carrying out its role as a media for social criticism, music and its actors have an interesting record in the history of political developments in Indonesia. In order to construct the position of music as a tool for criticism in political history in Indonesia, a documentation and literature study was carried out regarding this matter to then be re-described into new ideas. The results of this study explain that music as a means of political resistance has been practiced for a long time in various parts of the world, including Indonesia. During the development of government politics in Indonesia, social criticism was conveyed, one of which was through music. In the early days of independence, the social criticism that was conveyed and the government's response to criticism that was made was different from the eras that followed. Music then plays its role as a tool for social criticism in various efforts, but not infrequently music also becomes a tool in accommodating political needs in the end. Further research can explore music as criticism through interviews with relevant figures.

Keyword: Music; Politic; Social Criticism.

Abstrak. Musik memiliki salah satu peranan sebagai medium untuk menyuarakan ketertindasan, ketidakadilan, perdamaian, hak-hak sipil dan kritik sosial yang dilatarbelakangi berbagai hal salah satunya kondisi politik pemerintahan suatu negara. Keunikan perkembangan musik sebagai alat kritik politik di Indonesia menjadi topik yang perlu dianalisis lebih lanjut sehingga dapat dipahami bagaimana peran musik dalam dinamika politik di Indonesia pada era awal kemerdekaan hingga masa reformasi. Dalam menjalankan perannya sebagai media kritik social, musik dan pelakunya memiliki catatan menarik dalam sejarah perkembangan politik di Indonesia.

Guna menkontruksi kedudukan musik sebagai alat kritik dalam sejarah politik di Indonesia, maka dilakukan studi dokumentasi dan literatur terkait hal tersebut untuk kemudian dideskripsikan kembali menjadi gagasan baru. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Musik sebagai alat perlawanan politik sudah dilakukan sejak lama di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Selama perkembangan politik pemerintahan di Indonesia tak lepas dari kritik social yang disampaikan salah satunya melalui music. Music selanjutnya memainkan peranannya sebagai alat kritik social dalam berbagai upaya namun tak jarang music juga menjadi alat dalam mengakomodir kebutuhan politik pula pada akhirnya. Penelitian lebih lanjut dapat mendalami musik sebagai kritik melalui wawancara dengan tokoh-tokoh yang relevan.

Kata Kunci:Musik; Politik; Kritik Sosial.

Copyright © 2024 The Author(s)

This is an open-access article under the CC BY-SA license.

Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional

(2)

98 PENDAHULUAN

Karya seni menjadi salah satu media kritik social dalam perkembangan sejarah di Indonesia. Mas Marco dengan salah satunya berjudul “Student Hidjo” yang diterbitkan tahun 1918 menggambarkan keadaan sosial masyarakat pada tahun-tahun yang mengawali masa Kebangkitan Nasional. Kemudian ada Raden Saleh dengan lukisan fenomenalnya berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro yang diselesaikannya pada 1857. Keberadaan seniman dan karyanya sebagai medium kritik social terhadap pemerintahan di Indonesia telah ada sejak masa kolonialisme dan imperialisme. Pola tersebut terus berkembang merambah berbagai bentuk karya seni tak terkecuali musik, bahkan hingga masa kemerdekaan di Indonesia.

Musik merupakan representasi seni yang diwujudkan dalam bunyi. Hal ini turut diperindah dengan syair atau lirik lagu . Musik memiliki beragam fungsi, harmonisasi bunyi, nada dan lirik biasanya mengekspresikan kesedihan, kesenangan, kegundahan, kemarahan atau bahkan emosi yang tidak dapat didefinisikan. Maka tak jarang musik digunakan sebagai medium untuk menyuarakan perasaan ya g berhubungan dengan kondisi social seperti ketertindasan, ketidakadilan, perdamaian, hak-hak sipil dan protes sosial lainnya. Musik adalah perilaku sosial yang kompleks dan universal, setiap masyarakat memiliki apa yang disebut dengan musik (Blacking, 1995: 224 dalam Djohan, 2003: 27). Musik dalam hal ini menempatkan diri dalam bidang kehidupan yang lebih dalam salah satunya politik.

Keberadaan music dapat berperan sebagai alat protes maupun penyampaian politik. Hal ini muncul karena berbagai kondisi social yang terdampak dari kebijakan penguasa. Kebijakan yang dirasa otoriter atau tidak sejalan dengan keinginan masyarakat menyebabkan reaksi didalamnya.

Salah satu reaksi tersebut adalah resistensi masyarakat terhadap penyimpangan dari penguasa. Perlawanan ini muncul dalam berbagai bentuk, dan music menempatkan diri sebagai salah satunya yang kemudian sering dikenal dengan music protes. Musik protes mengacu pada lagu di mana liriknya membawa suatu pesan yang bertentangan dengan suatu kebijakan atau bentuk tindakan yang dilakukan oleh pihak otoritas atau suatu kelompok sebagai institusi (Redman, 2016: 14). Perkembangan music protes di Indonesia ini dapat menjadi sebuah gambaran bagaimana perjalanan politik pemerintahan yang dijalankan.

Musik tersebut turut menjadi bagian dari pergerakan sosial yang di mana dapat membantu suatu kelompok terinformasi dan mengarahkan mereka untuk tertuju pada praktik politik tertentu (Weij & Berkers, 2019). Perjalanan sejarah music dan politik di Indonesia dapat menggambarkan sebuah hubungan antara peran ideologis lagu, perlawananan terhadap penguasa, atau pihak-pihak yang memiliki kekuasaan dengan reaksi masyarakat terhadap ideologi dominan pada masanya. Hal ini didukung oleh keberadaan music sebagai salah satu bentuk seni itu sendiri. Hal ini sejalan dengan Dustin (1994) bahwa Ruang gerak dari karya seni yang luas menyebabkan pembuat karya seni tersebut mampu menyampaikan kritik, maupun perlawanan dengan cara yang halus, melalui metafora-metafora, perumpamaan, penokohan, alur, dan unsur-unsur lain yang bisa ditampilkan.

Berkembangnya music protes sebagai sebuah medium reaksi terhadap kebijakan politik pemerintahan juga dikarenakan music dapat meningkatkan kesadaran berbagai macam isu seperti ketidakadilan sosial maupun marginalisasi suatu kelompok masyarakat tertentu (Lidskog, 2017) bagi masyarakat lainnya. Lahirnya music protes di inisiasi oleh keresahan seniman itu sendiri, dimana dalam berkesenian seorang seniman tidak boleh memalingkan diri dari realitas sosial. Akhirnya tak jarang jika karya seni yang dihasilkan juga merupakan representasi dari keresahan sang penciptanya. Keresahan yang muncul bias dilatarbelakangi oleh berbagai hal, salah satunya kebijakan pemerintahan dalam politik yang tengah berlangsung. Hal ini kemudian menempatkan musik sebagai alat kontrol sosial.

(3)

99 Pada perkembangan sejarah Indonesia musik menjadi bagian penting media komunikasi social dan kritik atas rezim yang berkuasa di Indonesia. Andi Alexander dan Shiddiq Sugiono (2021) menyampaikan dalam artikelnya berjudul “Musik Protes Di Indonesia Pada Era Reformasi: Sebuah Kajian Historis” bahwa melalui perspektif field of struggle, musik protes telah menjadi upaya bagi agen, dalam hal ini musisi, yang memiliki modal budaya untuk melawan dominasi struktur yang dibentuk oleh pemerintahan terutama pada era reformasi.

Penelitian ini menjadi salah satu penelitian terdahulu yang melatarbelakangi penulis untuk menyusun sebuah artikel terkait bagaimana musik memberikan peran penting sebagai alat kritik social dalam sejarah perkembangan politik di Indonesia terutama sejak masa kemerdekaan hingga era reformasi.

Dalam tulisan ini juga dipaparkan bagaimana seni music mengambil peranan sebagai alat kritik social dalam politik pemerintahan Indonesia sejak Indonesia merdeka hingga masa reformasi. Batasan ini dipilih untuk mengetahui bagaimana kondisi pemerintahan dan politik negara Indonesia setelah merdeka dari penjajahan dan kritik social yang muncul masa itu untuk kemudian dikorelasikan dengan perkembangan music sebagai kritik social pada masa-masa selanjutnya. Dapat dikatakan bahwa pembagian era pemerintahan di Indonesia terbagi menjadi masa awal kemerdekaan, masa orde lama, masa orde baru, masa reformasi dan masa kini.

Keunikan perkembangan musik protes di suatu negara menjadi topik yang perlu dianalisis lebih lanjut sehingga dapat dipahami bagaimana peran musik dalam dinamika politik suatu negara.

METODE

Guna mengkaji terkait bagaimana musik menjadi sebuah medium dalam menyampaikan politik, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis. Menurut Borg dan Gall dalam Djamal (2015) Penelitian sejarah adalah penyelidikan secara sistematis terhadap dokumen dan sumber-sumber lain yang mengandung fakta tentang pertanyaan-pertanyaan sejarawan di masa lampau. Terdapat empat tahapan dalam penyusunan artikel ini, pertama yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi (Hedriani, 2016). Pada tahapan pertama, penyusun melakukan pencarian dan pengumpulan berbagai sumber yang memiliki hubungan dengan topik kajian. Penelitian ini menekankan pada pencarian sumber tertulis, terutama pada artikel jurnal ilmiah. Tahap selanjutnya adalah kritik sumber di mana dalam tahap ini data penelitian dikritisi kembali otentisitas dan kredibilitasnya sehingga dapat dibedakan fakta yang benar dan palsu. Tahap ketiga dalam kajian ini adalah interpretasi atau sintesis di mana tahap ini merupakan aktivitas penafsiran fakta dan menentukan makna serta mencari keterhubungan dari fakta-fakta yang diperoleh. Tahap terakhir adalah historiografi di mana tahap ini adalah aktivitas penyampaian hasil rekonstruksi imajinatif dari masa lampau pada karya tulis ilmiah sehingga menjadi sebuah kisah. Hal ini sejalan dengan pendapat Wiersman dalam Djamal (2015) bahwa penelitian sejarah adalah proses penyelidikan secara kritis terhadap peristiwa masa lalu untuk menghasilkan deskripsi dan penafsiran yang tepat dan benar tentang peristiwa- peristiwa tersebut.

HASIL DAN DISKUSI

Musik dalam pusaran Politik Orde Lama

Musik sebagai alat perlawanan politik telah lama digunakan di berbagai belahan dunia (Heilbronner, 2016). Salah satunya adalah Amerika. Dard Neuman menguraikan perkembangan tersebut dalam artikelnya (D. Neuman, 2008). Pada awal abad ke-20, Industrial Workers of the World/IWW mengembangkan strategi untuk menyebarkan pesan perlawanan terhadap penguasa di seluruh masyarakat. Salah satu aktivis IWW, Joe Hill, mengubah lagu- lagu tradisional Eropa menjadi lagu protes terhadap pemerintah dan penganut ideologi kapitalis

(4)

100 Lagu-lagu ini dinyanyikan di semua kampanye IWW. Hill berpendapat bahwa mengkomunikasikan protes melalui lagu lebih efektif dibandingkan melalui pamflet atau media cetak lainnya. Kemudian, sebelum pembantaian Lapangan Tiananmen tahun 1989, gerakan musik protes besar-besaran juga terjadi di Tiongkok pada akhir tahun 1980an. Baranovitch menjelaskan bahwa musik protes dapat muncul seiring dengan dilonggarkannya rezim Tiongkok pada akhir tahun 1970an (Baranovitch, 2003). Musik telah menjadi media protes dan bentuk ekspresi

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa perkembangan musik protes di suatu negara bergantung pada konteks. Tempat munculnya rasa kritik sosial akibat keadaan dan ketakutan yang dirasakan para musisi saat itu. Sebagai negara demokrasi, Indonesia juga menggunakan music sebagai medium kritik terhadap kondisi politik saat itu.

Pada masa orde lama music mejadi alat propaganda dalam memenangkan kondisi revolusi di awal kemerdekaan Indonesia. Di awal kemerdekaan kondisi music Indonesia di dominasi lagu-lagu perjuangan seperti “Maju tak Gentar” kemudian “Sorak Sorak Bergembira”. Sebagai seorang pimpinan Angkatan Pemuda Indonesia (API) cabang Tanah Tinggi- bermarkas di Menteng 31- sebagai pusat koordinasi dan komando, bersama pemuda, Cornel Simanjuntak aktif memberi penerangan mengenai arti kemerdekaan kepada masyarakat luas dari kampung ke kampung lainnya di daerah kawasan kota hingga daerah Karawang.

Dalam tugas penerangan Cornel Simanjuntak bersama Binsar Sitompul bersama dengan pejuang lainnya, mengendarai mobil pick up tua dengan iringan sebuah gitar mengumandangkan lagu-lagu 'Sorak-sorak Bergembira', dan 'Maju Tak Gentar'. Sambil melambaikan bendera merah putih, mereka membangkitkan semangat rakyat di sepanjang jalan yang dilalui (Sitompul, 1987).

Seiring berjalannya waktu music Indonesia terus berkembang sesai perkembangan pop internasional pula. Ketegangan antara music dan politik selama kurun orde lama jelas terlihat ketika Indonesia memasuki masa demokrasi terpimpin. Gagasan-gagasan revolusi pasca proklamasi terus digencarkan melalui pidato kepresidenan. Tak luput juga kebudayaan menjadi tolak ukur tinggi rendahnya nasionalisme dalam semangat revolusi. Semakin menyukai atau bergaya kebarat-baratan, maka semakin besar pula kemungkinan untuk dianggap sebagai kontra revolusi. Tahun 1950’an dunia terfragmentasi berdasarkan dua ideologi besar, yaitu komunis yang dipimpin oleh Rusia di satu sisi dan liberalis yang dipimpin oleh Amerika di sisi lain.

Soekarno yang waktu itu menjadi presiden Indonesia lebih - meskipun secara resmi menganut politik yang bebas aktif (non-alignment) – condong ke blok komunis.

Kecendrungan presiden Soekarno ke kiri tersebut tidak hanya berdampak pada perkembangan politik dalam negeri, namun juga berdampak terhadap perkembangan seni hiburan, terutama musik. Ketika presiden Soekarno berkuasa penuh atas Indonesia (1959-1964) ia mengeluarkan berbagai kebijakan yang menentang ‘segala sesuatu’ yang dipandang berasal dari Barat – yang ia sebut sebagai neokolonialisme – termasuk di dalamnya musik. Sikap presiden Soekarno yang anti-Barat tersebut kemudian melahirkan sebuah manifestasi kebudayaan nasional tanggal 17 Agustus 1959. Manifestasi kebudayaan tersebut kemudian diwujudkan secara konkret dengan dikeluarkannya penggolongan jenis musik oleh RRI yang dapat ‘merusak kepribadian bangsa’. RRI Menentukan Sikap: Tidak Boleh Disiarkan Lagu- lagu dari Diah Iskandar, Elly Agus, Koes Bersaudara dan Semalam di Malaya (Kompas, 1965).

Sebut saja Koes Bersaudara yang kita kenal saat ini Koes Plus merupakan sosok yang tak lepas dari sejarah Indonesia. Koes Bersaudara pernah dijebloskan ke penjara oleh rezim orde lama karena dianggap sebagai symbol imperialism yang dianggap mengancam nasionalisme Indonesia pada saat itu. Permasalahan idealisme menjadi alasan kuat ditangkapnya dan dicekalnya koes bersaudara. Demorasi Terpimpin dengan “Nasakomnya”

jelas bertentangan dengan symbol symbol imperialis, seperti budaya pop Amerika yang saat itu berkembang yakni music blues. Koes bersaudara yang beraliran blues dan dianggap lebih

(5)

101 terkenal di Malaysia saat itu dianggap sebagai manifestasi dari gagasan-gagasan dominan yang lazim dalam masyarakat kapitalis.

Berkembangnya zaman mengungkapkan fakta baru bahwa ditangpaknya koesplus merupakan sebuah legitimasi menjaga nasionalisme Indonesia disamping adanya tujuan lain yang menugaskan koes bersaudara untuk menjadi mata-mata di Malaysia terkait kasus konfrontasi Indonesia Malaysia pada waktu itu. Meski demikian Bagi Koes Bersaudara hidup di dalam bui juga melahirkan lagu. Mulai dari soal perasaan hidup di dalam bui hingga sindiran kepada penguasa sesuai mereka bebas dari penjara pada 30 September 1965. Lagu ini terjejak misalnya pada lagu ‘Poor Clown’. Tony yang fasih berbaha Inggris mengolok tentang badut tua yang acap kali genit,

Musik dalam Kontrovesi Politik Orde Baru

Tahun 1965 terjadi peristiwa ‘kudeta’ yang menurut rezim berikutnya didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa tersebut berakhir dengan tergulingnya presiden Soekarno dari kekuasaanya dan naiknya Soeharto sebagai presiden RI. Melalui Ketetapan No.

XXXIII/MPRS/1967 tanggal 12 Maret 1967, kekuasaan Soekarno secara resmi beralih kepada Soeharto. Soeharto kemudian diangkat sebagai presiden Republik Indonesia melalui Ketetapan MPRS No. XLIV/MPRS/1968.

Musik protes di Indonesia turut berkembang karena adanya perlawanan terhadap dominasi politik oleh kaum minoritas atau subordinat. Indonesia sendiri pernah berada dalam sebuah rezim yang otoriter, represif dan militeristik, yaitu orde baru. Rezim ini dinilai telah membungkam kreativitas dan kebebasan rakyat Indonesia untuk mengungkap berbagai realitas dan praktik politik yang sebenarnya terjadi di lapangan (Hadi & Kasuma, 2006).

Kondisi politik yang terjadi pada rezim orde baru sangat ebrkebalikan dengan rezim sebelumnya. Apabila pada periode Soekarno, Indonesia anti terhadap bantuan asing – tentu saja tidak termasuk bantuan dari blok yang kemudian disebut blok komunis – yang salah satunya ditandai dengan pernyataan Soekarno yang sangat terkenal “go to hell with your aid” dan keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB yang juga menandakan bahwa Indonesia menutup diri dari bantuan luar negeri, maka ketika Soerhato memimpin, ia menerapkan kebijakan yang sebaliknya. Ia (presiden Soeharto) membuka Indonesia bagi investasi negaranegara Barat, terutama Amerika - dan juga Jepang – serta memasukkan kembali Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1967 (Ricklefs, 2009). Secara singkat dapat dikatakan bahwa Soeharto berusaha membina kembali hubungan Indonesia dengan dunia Barat yang sempat hancur pada masa kepemimpinan presiden Soekarno.

Kebijakan Soeharto yang membuka Indonesia bagi investasi dari negara-negara Barat tidak hanya membawa dampak dalam bidang ekonomi dan politik, tetapi juga kebudayaan.

Bersamaan dengan masuknya modal tersebut, kebudayaan mereka juga ikut masuk ke Indonesia, termasuk di dalamnya musik. Musik Barat, khususnya rock dan pop yang sempat subur sebelum dilarang pada akhir tahun 1950’an, kini menemukan momentumnya kembali.

Apabila Indonesia pada masa kepemimpinan presiden Soekarno cenderung ke blok komunis dan anti terhadap dunia barat, maka sebagai langkah awal, undanglah grup Blue Diamonds yang pada masa kekuasan Soekarno dianggap sebagai salah satu grup musik yang merusak atau dalam bahasa Soekarno lebih dikenal dengan istilah musik ngak ngik ngok (Mulyadi, 2009).

Gairah perkembangan musik Barat di Indonesia pasca jatuhnya rezimnya Soekarno juga hampir bersamaan dengan ledakan ekonomi Indonesia sebagai dampak dari melonjaknya harga minyak dunia pada tahun 1973. Akibat dari kenaikan harga minyak dunia tersebut munculnya konglomerat-konglomerat baru, khususnya mereka yang berada pada lingkaran kekuasaan.

Trend kemunculan konglomerat-konglemarat ini kemudian berpengaruh terhadap perubahan gaya hidup mereka, terutama anak-anak mereka. Anak-anak konglomerat ini, berkat kekayaan orang tua mereka, dapat mengakses lagu-lagu rock maupun pop Barat yang dinyanyikan oleh bandband seperti Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabath, Rolling Stone, The Beatles dan

(6)

102 lain-lain dalam bentuk piringan hitam yang harganya sangat mahal sekali. Menarik untuk melihat bagaimana genre music dan kelompok musik tertentu diperlakukan dalam kondisi yang sangat berbeda dalam dua rezim yang berdekatan.

Disis lain kontroversi dalam pemerintahan orde lama ini melahirkan berbagai kritik dalam berbagai bentuk tak hanya musik. Hal ini menyebabkan Kekuasaan otoriteristik yang dijalankan Orde Baru misalnya, selalu membatasi ruang gerak para seniman dalam mempertunjukkan karyanya. Hal tersebut bukan tanpa sebab, pasalnya seni atau khususnya sastra, tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga berfungsi sebagai kritik sosial terhadap apa yang tengah terjadi di masyarakat. Meskipun demikian protes social dalam berbagai bentuk terus melawan, begitupun musik.

Musikus Virgiawan Listanto alias Iwan Fals merupakan salah satu nama musisi masa orde baru yang harus berurusan dengan Komando Resor Militer (Korem) 031 Pekanbaru, Riau, sehabis manggung di Gedung Olahraga Pekanbaru pada April 1984. Dua lagu yang dibawakannya, yakni “Demokrasi Nasi” dan “Mbak Tini” menjadi penyebabnya. Peristiwa tersebut merupakan buntut Panjang akibat lagu yang dibuatnya cenderung lebih frontal dibandingkan karya-karya musisi seangkatannya. Berbagai tema yang dimunculkan dalam musiknya antara lain protes terhadap isu ketidakadilan, penindasan, serta kritik terhadap pemerintahan yang berkuasa (Darmawan, 2020). Rezim orde baru, melalui aparat, sudah beberapa kali menolak izin konser Iwan Fals dengan dalih memicu kerusuhan. Di saat musisimusisi lain takut oleh pencekalan yang dilakukan pemerintah saat itu, Iwan Fals tetap memiliki keberanian untuk menggelar konser musik dan membawakan musik-musik protes.

Pada tahun 1980-an beberapa konser Iwan Fals sempat disabotase melalui pemadaman listrik secara paksa karena membawakan lagu yang menyindir pemerintahan yang berkuasa saat itu (Nuri, 2013).

Kemudian ada pula Harry Roesli, salah satu musisi yang memiliki perhatian tersendiri dalam menyuarakan aspirasi politik melalui musik pada masa orde baru (Tyson, 2011). Salah satu karya yang terkenal dari Harry Roesli adalah opera musik rocknya yang berjudul “Ken Arok” pada tahun 1975. Roesli membuat sebuah pentas opera musik rock yang memiliki tema sosial. Biarpun tidak menyinggung pemerintahan orde baru, opera ini menyorot salah satu

“penyakit” orde baru, yaitu tindak korupsi dari pejabat pemerintahan (Tyson, 2011). Pentas opera “Ken Arok” ini membuat Harry Roesli menjadi semakin terkenal. Roesli membawakan karya-karyanya di beberapa kota di Indonesia. Meskipun begitu, pementasan karya Roesli sempat mendapat intervensi dari pemerintah. Pada suatu pementasan di Semarang pada tahun 1976, polisi mengintervensi konser Roesli. Alasan penghentian konser ini dari pihak kepolisian karena isi konser ini “kasar dan tidak sopan” (Tyson, 2011).

Kemudian ada lagi musisi “Bimbo”. Bimbo adalah sebuah grup musik yang terdiri atas tiga kakak beradik, yaitu Sam Bimbo, Acil Bimbo, dan Jaka Bimbo. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Bimbo juga menjadi salah satu grup musik yang dicekal oleh pemerintah.

Sebelumnya, karier musik Bimbo berjalan dengan aman dan tenteram. Namun, setelah merilis lagu bertajuk "Tante Sun" yang diciptakan oleh Jaka, Bimbo dicekal. Baca juga:

Rentang Waktu Kekuasaan Orde Baru Pasalnya, lagu tersebut berisi kritik terhadap rezim Orde Baru, yang ternyata mendapat respons positif dari masyarakat. Lagu ini membuat pemerintah merasa cukup khawatir, karena dianggap sebagai sindiran bagi para istri pejabat yang berkuasa.

Oleh sebab itu, lagu itu langsung dicekal oleh pemerintah Orde Baru.

Kemudian ada pentolan grup musik dangdut ternama di Indonesia yakni Rhoma Irama.

Setelah sukses dengan orkes dangdut Sonetanya, nyatanya Rhoma Irama juga menjadi momok bagi rezim ini. Tidak hanya dicekal, sejak 1970-an, Rhoma Irama telah mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan oleh Orde Baru. Pasalnya, pada saat itu, Rhoma, yang kerap mengeluarkan kritik terhadap pemerintah, menjadi juru kampanye PPP. PPP pun untuk pertama kalinya mampu mengungguli suara Golongan Karya pada pemilu 1977. Selain itu, Rhoma

(7)

103 selalu diwaspadai pemerintah Orde Baru karena tidak sedikit lirik lagunya yang memuat kritik.

Salah satunya lagu berjudul "Judi", yang diciptakan untuk mengkritik pemerintah yang melegalkan judi. Akibatnya Rhoma dan Soneta Group tidak diizinkan tampil di stasiun televisi milik pemerintah.

Sejak awal Soeharto menjadi presiden pada 1967, stabilitas nasional memang menjadi salah satu kata kunci. Soeharto sadar, ia perlu suasana politik yang stabil untuk menjalankan program pemerintahannya, melaksanakan agenda politiknya, serta yang paling penting, mengamankan kekuasaannya. Menurut Fathur Rokhman dan Surahmat dalam Politik Bahasa

Penguasa (2016), Soeharto mendorong kampanye “stabilitas” secara masif dan repetitif.

Baik Harry Roesli maupun Iwan Fals adalah contoh pergulatan yang terjadi saat membuat karya musik protes di era orde baru. Karya-karya mereka adalah wujud atas ketidaksukaan maupun ketidaksetujuan terhadap bentukbentuk kebijakan rezim yang mengekang kebebasan politik dan melanggengkan penyelewengan kekuasaan. Aparat pun menjadi “garda depan” dalam menghentikan setiap konser yang menurut rezim berpotensi subversif.

Musik Protes Post Reformasi

Setelah rezim orde baru tumbang, mulailah adanya era reformasi. Era ini memberikan kebebasan yang tidak ada pada era sebelumnya, salah satunya kebebasan dalam menyuarakan opini terhadap pihak yang berkuasa melalui kreativitas. Wibisono dan Kartono (2016) mengatakan bahwa tumbangnya rezim Orde Baru melalui kerusuhan sosial 1998 membuka gerbang atas ruangruang kebebasan untuk menyalurkan kreativitas, berekspresi, serta pendapat di ruang publik. Kondisi yang bebas seperti ini tentu sangat berpengaruh dengan kebebasan berekspresi dalam berkarya seni.

Adapun di awal masa reformasi, berbagai musisi yang aktif pada era orde baru masih terlibat memberikan kritik pada pemerintah antara lain seperti Iwan Fals dan kelompok musik Slank. Tema lagu yang mereka angkat masih menyinggung praktik-praktik ketidakadilan dan ketidakberesan sosial yang terjadi pada pemerintah/penguasa. Pada tahun 2004, Penyanyi Iwan Fals memberikan suatu kritik serta pesan moral kepada elite politik di Indonesia melalui tayangan konser di salah satu Televisi Swasta (Pawito, 2005). Dalam hal ini, pertunjukan musik menjadi salah satu perwujudan dari budaya pop yang digandrungi oleh kelompok usia muda.

Adapun karakter dari Iwan Fals menjadi representasi simbol perlawanan serta perjuangan terhadap permasalahan sosial. Melalui lagunya, Iwan Fals menyuarakan kritik dan pesan moral terhadap elite politik dan pimpinan bangsa. Pawito (2005) menyampaikan bahwa konser musik menjadi salah satu media yang tepat untuk menjangkau kelompok usia muda yang dalam hal ini memiliki semangat untuk memperjuangkan ideologi tertentu.

Pada tahun 2008, grup musik Slank turut mengkritik pemerintah yang sedang berkuasa melalui lagu berjudul “Cekal”. Selain itu melalui lagu yang berjudul “Seperti Para Koruptor”, kelompok musik tersebut mencoba untuk menggambarkan keresahan dan memberikan kritik mengenai ketidakadilan hukum bagi kelompok marginal. Kelompok musik Slank menjadi salah satu aktor musik protes yang memiliki peran besar di Indonesia. Kelompok tersebut telah melahirkan berbagai macam karya yang bertujuan untuk mengkritik pemerintahan (Sugiwardana, 2014). Slank dalam hal ini sempat digugat oleh DPR karena merasa tersinggung oleh lirik lagu yang dinyanyikan oleh band tersebut. adanya penggugatan dari DPR juga menunjukkan bahwa musik protes dirasakan DPR sebagai ancaman yang layak digugat.

Pada perkembangan tahun-tahun berikutnya perkmbangan media komunikasi telah menyebarkan protes dan kritik pemerintah melalui musik dapat dilakukan oleh siapa saja dengan lebih bebas. Salah satunya Pada Januari 2011, muncul sebuah lagu satir yang dipopulerkan oleh

Bona Paputungan di kanal Youtube dengan judul “Andai Ku Gayus Tambunan”

(Rahmiati, 2011). Lagu tersebut menyampaikan pesan-pesan satir terhadap fenomena mafia pajak dan menampilkan keadaan kelompok marginal yang tidak mempunyai power serta hanya

(8)

104 dapat menerima keadaan. Adapun dengan melalui kanal Youtube. Pada tahun 2013 musisi Eka Gustiwana menyampaikan kritik kepada pejabat-pejabat di lembaga pemerintahan yang melakukan korupsi melalui musik dengan format speech composing (Angkawijaya, 2017).

Musisi tersebut menggunakan Youtube sebagai media utama untuk mendistribusikan hasil karyanya. Melalui kreativitasnya, Eka Gustiwana memotong dan menggabungkan berbagai percakapan dari berbagai publik figur serta menambahkan aransemen musiknya pada potonganpotongan tersebut. Konten yang menarik dari musisi tersebut tentu saja mengundang banyak perhatian dari pengguna Youtube sehingga dapat memperoleh jumlah penonton yang relatif tinggi (Angkawijaya, 2017).

Kehadiran konten creator seperti Eka Gustiwana dan Bona Paputungan tersebut menggambarkan bahwa kritik dan protes melalui musik semakin berkembang dengan menggunakan berbagai metode yang beragam pula. Keresahan dan rasa termarginalkan sebagai kelompok masyarakat subordinat menlahirkan kreativitas yang unik dan menarik dalam proses menyampaikan protes itu sendiri. Pada akhirnya perkembangan teknologi juga memudahkan kelomok-kelompok masyarakat untuk menjadi agen dalam menyampaikan protes melalui musik dengan lebih mudah diterima oleh khalayak luas.

Musik tak hanya berperan memberi kritik semata, music juga mengambil epran memberi solusi atas kritik politik yang terjadi. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel Cantona dan Alfirdaus (2022) bahawa suatu grup music menghasilkan karya dengan tujuan memberi edukasi masyarakat lewat kritik-krtitik yang disampaikan dan mengajarkan untuk meningkatkan kesadaran politik dalam masyarakat luas agar tercipta Indonesia yang lebih demokratis. Fenomena bagaimana sebuah kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah bisa berubah seiring waktu karena adanya tekanan dari masyarakat lewat Gerakan-gerakan yang diprakarsai oleh para musisi, yang kemudian menjadi gerakan nasional yang massive yang mengadvokasi suara rakyat. Hal ini menunjukan bahwa pola pernana karya seni sebagai alat control social dan kritik politik telah terjadi sejak jaman kuno dan terus berkembangan dari masa-ke masa. Di Indonesia sendiri music menjadi salah satu hasil karya seni yang penciptaannya tak hanya berperan menyampaikan pesan. Lebih dari itu, music menjadi media komunikasi social dalam menyampaikan kritik politik, mengedukasi, dan alat penggerak masa demi melanggengkan sebuah ide dalam music yang dihasilkan.

KESIMPULAN

Musik sebagai alat perlawanan politik sudah dilakukan sejak lama di berbagai belahan dunia. Karya seni yang lahir dari hasil penciptaan rasa dan karya manusia tak jarang menyampaikan pesan dari sipencipta. Tak terkecuali music, keberadaannya sebagia media komunikasi juga berfungsi sebagai salah satu media kritik politik atas rezim pemerintahan dalam sejarah perkembangan politik di Indoensia. Hasil penelitian historiografi menunjukan baha peridesasi pemerintahan di Indonesia dapat dibedakan menjadi 5 pembabagan, yakni masa awal kemerdekaan, masa orde lama, masa orde baru, dan post reformasi. Dari berbagai zaman karya music dan pelaku music menjadi bagian penting dari kritik social atas pemerintahan dan kondisi politik yang terjadi di Indonesia. Respon pemerintahan pun beragam dalam menghadapi kondisi tersebut. Tak jarang music juga menjadi alat dalam mengakomodir kebutuhan politik pula pada akhirnya.

(9)

105 DAFTAR PUSTAKA

Adryamarthanino, V. (2022). "4 Penyanyi yang Pernah Dicekal pada Masa Orde Baru", melalui https://www.kompas.com/

Alexander, A., & Sugiono, S. (2021). Musik Protes di Indonesia Pada Era Reformasi: Sebuah Kajian Historis. Jurnal Kajian Seni, 8(1), 67-83.

https://journal.ugm.ac.id/jks/article/view/66305

Angkawijaya, M. (2017). Penerimaan masyarakat terhadap kritik sosial dalam video speech composing karya eka gustiwana di youtube. Jurnal E-Komunikasi, 5(1).

http://library1.nida.ac.th/ termpaper6/sd/2554/19755.pdf

Cantona, S. R., & Alfirdaus, L. K. (2022). Kritik Sosial Politik Dalam Musik: Studi Kasus Grup Musik Efek Rumah Kaca. Journal of Politic and Government Studies, 11(1), 318- 342.

Darmawan, M. Y. (2020). Iwan Fals, Music, and the Voice of Resistance. I-Pop: International Journal of Indonesian Popular Culture and Communication, 1(1), 41-62.

https://doi.org/10.36782/ipop.v1i1.28

Griffin, D. H. (1994). Satire: A critical reintroduction. University Press of Kentucky.

Hadi, D. W., & Kasuma, G. (2012). Propaganda Orde Baru 1966-1980. Media Verleden, 1(1), 1-109.

Hakim, L. (2018). Historiografi Modern Indonesia: Dari Sejarah Lama Menuju Sejarah Baru.

Khazanah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, 69–82. https://doi.org/10.15548/

khazanah.v0i0.75

Herdiani, E. (2016). Metode sejarah dalam penelitian tari. Jurnal Seni Makalangan, 3(2), 33–

45 (2016).

Heilbronner, O. (2016). Music and Protest: The Case of the 1960s and Its Long Shadow.

Journal of Contemporary History, 51(3), 688–700 (2016). https://doi.

org/10.1177/0022009416642708

Hidayat, A. (2018). Sejarah Dan Perkembangan Musik Rock Di Indonesia Tahun 1970-1990.

Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, 1(1), 12–18.

Latifah, E. N. (2017). Metafora Dalam Album Lagu Unter Dem Eis Karya Eisblume. Skripsi.

Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Yogyakarta.

Maulida, R. N., & Liana, C. O. R. R. Y. (2018). Benny Likumahuwa dalam Perkembangan Musik Jazz di Indonesia Tahun 1966-1986. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, 6(2), 105-112.

Narasi, T. (2009). 100 Tokoh yang mengubah Indonesia. Penerbit Narasi. Yogyakarta.

Neuman, D. (2008). Music Camp Politics in the Classroom: Music, Politics and Protest. Music and Politics, 2 (2). https://doi.org/10.3998/ mp.9460447.0002.205

Nuri, N. (2013). Peranan Bahasa Dalam Berkesenian: Pemberdayaan Lirik Lagu sebagai Sarana Pembentukan Karakter Bangsa. Jurnal Arbitrer, 1(1), 58-67. http://ir.obihiro.

ac.jp/dspace/handle/10322/3933

Pawito, P. (2005). Budaya Pop dan Politik: Analisis Semiotik terhadap Penampilan Iwan Fals di TRANS TV, 4 April 2004. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 100981.

Street, J. (2003). ‘Fight the power’: The politics of music and the music of politics. Government and opposition, 38(1), 113-130. https://doi. org/10.1111/1477-7053.00007

Sugiwardana, R. (2014). Pemaknaan realitas serta bentuk kritik sosial dalam lirik lagu slank.

Skriptorium, 2(2), 86-96.

Susanto, S. C. (2019). Tidak Sebatas Seni, Musik Mengiringi Perjalanan Bangsa.

Tyson, A. D. (2011). Titik api: Harry Roesli, music, and politics in Bandung, Indonesia.

Indonesia, (91), 1-34.

(10)

106 Wibisono, G., & Kartono, D. T. (2016). Gerakan Sosial Baru pada Musik: Studi Etnografi pada

Band Navicula. Jurnal Analisa Sosiologi, 5(2), 69-84.

Referensi

Dokumen terkait

Secara garis besar, buku ini mengkaji tentang dinamika partai politik Islam yang terjadi di panggung politik Indonesia sejak pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan yang

6 Kondisi sosial masyarakat Indonesia pada masa kolonial Hindia Belanda masih terbelakang, karena sistem kolonialisme yang diterapkan bagi Bangsa Indonesia terlalu

Era Reformasi atau Era Pasca Soeharto di Indonesia disebabkan karena tumbangnya orde baru sehingga membuka peluang terjadinya reformasi politik di Indonesia

Era Reformasi atau Era Pasca Soeharto di Indonesia disebabkan karena tumbangnya orde baru sehingga membuka peluang terjadinya reformasi politik di Indonesia pada pertengahan

Representasi Kritik dalam Meme Politik; Studi Semiotika Meme Politik dalam Masa Pemilu 2014 pada Jejaring Sosial Path sebagai Media Kritik di Era Siber.. Universitas

Mahasiswa mampu menjelaskan; sejarah perekonomian Indonesia, mulai dari Masa Orde Lama; Orde Baru; Masa Transisi ; Masa Reformasi; dan Pasca Reformasi (Periode Pemerintahan

Berdasarkan pemikiran politik yang dia miliki, Sjahrir dengan kedudukannya sebagai Perdana Menteri pada masa awal kemerdekaan Indonesia, melakukan berbagai macam

Peran mahasiswa dalam peristiwa politik di Indonesia sangat diperhitungkan, mulai dari sebelum kemerdekaan hingga era reformasi saat