• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL PEMBELAJARAN MATA KULIAH PEREKONOM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODUL PEMBELAJARAN MATA KULIAH PEREKONOM"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL PEMBELAJARAN

MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA

(2 SKS)

POKOK BAHASAN 2

SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA

(2)

A. PENDAHULUAN

Deskripsi Singkat

Mata kuliah Perekonomian Indonesia, memberikan kemampuan kepada mahasiswa dalam mengetahui,

memahami, dan menjelaskan kondisi perekonomian nasional dari masa Orde Lama, Orde Baru, masa transisi, masa

pasca reformasi hingga masa sekarang. Dengan memahami proses pembangunan ekonomi, mahasiswa dapat

menilai semua kebijakan pemerintah apakah sesuai denga teori (ekonomi Makro) atau tidak, sehingga mahasiswa

dapat mengkritisi semua kebijakan Pemerintah dalam mengendalikan perekonomian untuk peningkatan

kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Untuk itu mahasiswa harus sudah menempuh mata kuliah Teori

Ekonomi Makro, Mikro dan Bisnis.

Modul ini terdiri dari beberapa bagian/kegiatan belajar, sesuai dengan jumlah pokok bahasan dalam mata kuliah

ini. Modul ini sangat penting bagi mahasiswa, di mana pada akhirnya mahasiswa mampu menjelaskan

masalah-masalah dan kebijakan-kebijakan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan dan peningkatan

kesejahteraan masyarakat serta dapat menjelaskan kondisi perekonomian Indonesia.

Tujuan Umum Pembelajaran

.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang sejarah perekonomian Indonesia.

Tujuan Khusus Pembelajaran

.

Mahasiswa mampu menjelaskan; sejarah perekonomian Indonesia, mulai dari Masa Orde Lama; Orde Baru; Masa

Transisi ; Masa Reformasi; dan Pasca Reformasi (Periode Pemerintahan Megawati, SBY dan Jokowi)

(3)

B. KEGIATAN BELAJAR

1. KEGIATAN BELAJAR II

a. Pokok Bahasan 2

Sejarah Perekonomian Indonesia

b. Sub Pokok Bahasan

1) Perekonomian Masa Orde Lama

2) Perekonomian Masa Orde Baru

3) Perekonomian Masa Transisi

4) Perekonomian Masa Reformasi

5) Perekonomian Masa Pasca Reformasi (Periode

Pemerintahan Megawati, SBY dan Jokowi)

(4)

Perekonomian Indonesia

Periode Orde Lama (1945-1967)

Selama pemerintahan Orde Lama, keadaan perekonomian Indonesia

sangat buruk

. Walaupun

sempat mengalami pertumbuhan dengan laju rata-rata per tahun hampir 7% selama dekade

1950-an, dan setelah itu turun drastis menjadi rata-rata per tahun hanya 1,9% atau bahkan

nyaris mengalami stagflasi selama tahun 1965-1966, tahun 1965 dan 1966 laju pertumbuhan

ekonomi atau Produksi Domestik Bruto (PDB) masing-masing hanya sekitar 0,5% dan 0,6%.

Defisit saldo neraca pembayaran (BoP) dan defisit APBN juga terus membesar. Jumlah

pendapatan pemerintah rata-rata per tahun selama 1955-1965 sekitar 151 juta rupiah,

sedangkan pengeluaran pemerintah rata-rata per tahun pada periode yang sama 359 juta

rupiah (

Mas’oed

; 1989).

Buruknya perekonomian Indonesia selama Orde Lama terutama disebabkan oleh hancurnya

insfrastruktur ekonomi, fisik maupun non fisik, selama pendudukan Jepang, Perang Dunia II, dan

perang revolusi serta gejola politik dalam negeri, di tambah manajemen ekonomi yang sangat

buruk.

(5)

Sejumlah Kebijakan Penting Ekonomi

Pemerintahan Orde Lama

NO

KABINET ORDE LAMA

KEBIJAKAN

1

Kabinet Natsir

(1950-1951)

(Kabinet pertama

dalam negara NKRI)

Dirumuskan suatu perencanaan pembangunan ekonomi yang disebut Rencana

Urgensi Perekonomian (RUP). RUP digunakan pada kabinet selanjutnya untuk

merumuskan rencana pembangunan ekonomi lima tahun yang pada Orde Baru

disebut Repelita

2

Kabinet Sukiman

1951-1952

Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia

Penghapusan sistem kurs berganda

3

Kabinet Wilopo

1952-1953

Untuk pertama kali, memperkenalkan konsep anggaran berimbang dalam

keuangan pemerintah (APBN), memperketat impor, melakukan rasionalisasi

angkatan bersenjata melalui modernisasi dan pengurangan jumlah personil dan

penghematan pengeluaran pemerintah

4

Kabinet Ali

Sastroamidjojo I

1953-1955

Pembatasan impor dan kebijakan uang ketat

5

Kabinet Burhanuddin H

1955-1956

Liberalisasi impor,

Kebijakan uang ketat untuk mnekan laju uang beredar dan

Penyemprnaan program benteng (PB);

Membolehkan investasi asing masuk; bantuan khusus kepada pengusaha pribumi

6

Kebinet Djuanda

1957-1959

Kebijakan stabilitas politik dan nasionalisasi perusahaan Belanda

(6)

Perekonomian Indonesia

Periode Orde Baru (1967-1998)

Tepatnya sejak Maret 1966, Indonesia memasuki pemerintahan Orde Baru. Berbeda dengan Orde Lama,

pada Orde Baru perhatian pemerintah lebih ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat

pembangunan ekonomi masyarakat.

Orde Baru menjalin kembali hubungan dengan Barat dan menjauhi ideologi komunisme. Indonesia juga

kembali menjadi anggota PBB dan lembaga-lembaga dunia lainnya seperti World Bank dan IMF. Kata

kunci dalam pembangunan ekonomi Indonesia masa Orde Baru adalah stabilitas dan pertumbuhan

ekonomi.

Sejumlah kebijakan penting ekonomi adalah; menekan kembali angka inflasi, mengurangi defisit keuangan

pemerintah; dan menghidupkan kembali kegiatan produksi termasuk ekspor; proses industrialisasi skala

besar; penyusunan rencana pembangunan lima tahun (Repelita) secara bertahap.

Keberhasilan pembangunan ekonomi era Orde Baru secara makro selain didorong oleh soliditas

pemerintahan, juga didorong oleh; penghasilan ekspor yang sangat besar dari minyak, terutama pada

periode

oil boom

pertama 1973-1974, pinjaman luar negeri dan PMA.

(7)

Kebijakan Ekonomi Orde Baru

NO KEBIJAKAN KEBIJAKAN EKONOMI KETERANGAN

1 Jangka Pendek  Juli –Desember 1966 untuk program pemulihan

 Januari–Juni 1967 untuk tahap rehabilitasi

 Juli –Desember 1967 untuk tahap konsolidasi

 Januari–Juni 1968 untuk tahap stabilisasi

a. Memperkenalkan kebijakan anggaran berimbang(balanced budget policy)

b. Pembentukan IGGI

c. Melakukan reformasi terhadap sistem perbankan

 UU tahun 1967 tentang Perbankan

 UU tahun 1968 tentang Bank Sentral

 Uu tahun 1968 tentang Bank Asing d. Menjadi anggota kembali IMF

e. Pemberian peran yang lebih besar kepada bank bank dan lembaga keuangan lain sebagai ’”agen pembangunan”. 2 Jangka Panjang Repelita I 1969 –1974 Sasaran: (a) stabilitas perekonomian; (b) pertumbuhan ekonomi;

dan (c) pemerataan hasil pembangunan

Repelita II 1974 –1979 Sasaran: (a) pertumbuhan ekonomi; (b) pemerataan hasil pembangunan; dan (c) stabilitas perekonomian

Repelita III 1979 –1984 Repelita IV 1984 –1989 Repelita V 1989 –1994 Repelita VI 1994 –1999

Sasaran: (a) pemerataan hasil pembangunan; (b) pertumbuhan ekonomi dan (c) stabilitas perekonomian

(8)

Prestasi dan Kondisi Ekonomi

Per REPELITA Masa Orde Baru

REPELITA PRESTASI DAN KONDISI EKONOMI

Repelita I dan II  Pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun dan Investasi meningkat dari 11 persen menjadi 24 persen dari PDB selama 10 tahun

 Kontribusi tabungan meningkat dari 23 persen menjadi 55 persen

 Sumber penghasilan utama devisa adalah ekspor minyak bumi kurang lebih 2/3 dari total penerimaan

 Inflasi rata-rata 17 persen dan Porsi pelunasan hutang 9,3 persen dan 11,8 persen dari pengeluaran Repelita III  Ekspor neto migas turun 38 persen; Ekspor nonmigas turun 30 persen; Impor non migas meningkat

 Neraca berjalan (current account) dari suprlus US $2.7 milyar menjadi defisit US $6.7 milyar

 PDB tumbuh hanya 2,24 persen; Laju inflasi rata-rata 9 persen; Porsi pelunasan hutang 17,3 persen dari pengeluaran Repelita IV  Pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,32 persen; Beban hutang luar negeri menjadi membesar

 Penghematan anggaran dan pengawasan serta penertiban penggunaan anggaran; Laju inflasi rata-rata 9 persen Repelita V  Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,7 persen; Ekspor komoditas non migas meningkat

 Porsi pelunasan hutang 44,6 persen dari pengeluaran Repelita VI Target REPELITA VI tingkat rata-rata pertumbuhan per tahun:

 Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan 6,2 persen. Sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan 3,5 persen; Sektor industri 9 persen; Sektor manufaktur diluar migas 10 persen; Sektor jasa 6,5 persen

 Inflasi rata-rata 5 persen; Ekspor nonmigas 16,5 persen; Ekspor manufaktur 17,5 persen; Debt Service Ratio 20 persen; PDB Rp 2,150 trilliun

(9)

Perekonomian Indonesia

Periode Pemerintahan Transisi (Habibie)

21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999

Bulan Juli 1997, krisis melanda Indonesia (kurs dari Rp 2.500 menjadi Rp 2.650.) BI mengintervensi, namun tidak mampu.

Sampai bulan Maret 1998 kurs melemah hingga Rp 10.550 dan bahkan menembus angka Rp 11.000/US$.

Langkah konkrit untuk mengatasi krisis:

Penundaan proyek Rp 39 trilyun untuk mengimbangi keterbatasan anggaran Negara

BI melakukan intervensi ke bursa valas

Meminta bantuan IMF dengan memperoleh paket bantuan keuangan US$ 23 Milyar pada bulan Nopember 1997.

Mencabut ijin usaha 16 bank swasta yang tidak sehat

Januari 1998 pemerintah Indonesia menandatangani nota kesepakatan (LOI) dengan IMF yang mencakup 50 butir

kebijakan yang mencakup:

Kebijakan ekonomi makro (fiscal dan moneter) mencakup: penggunaan prinsip anggaran berimbang;

pengurangan pengeluaran pemerintah seperti pengurangan subsidi BBM dan listrik; pembatalan proyek besar;

dan peningkatan pendapatan pemerintah dengan mencabut semua fasilitas perpajakan, penangguhan PPN,

pengenaan pajak tambahan terhadap bensin, memperbaiki audit PPN, dan memperbanyak obyek pajak.

Restrukturisasi sektor keuangan

Reformasi struktural

Bantuan gagal diberikan, karena pemerintah Indonesia tidak melaksanakan kesepakatan dengan IMF yang telah

ditandatangani.

(10)

Perekonomian Indonesia

Periode Reformasi (Abdurrahman Wahid)

20 Oktober 1999- 23 Juli 2001

Kondisi:

Tahun 2000 pertumbuhan ekonomi 5%

Kondisi moneter stabil ( inflasi dan suku bunga rendah)

Tahun 2001, pelaku bisnis dan masyarakat kurang percaya kepada pemerintahan sebagai

akibat dari pernyataan Presiden yang kontroversial, dan perseteruan dengan DPR.

Bulan Maret 2000, cadangan devisa menurun dari US$ 29 milyar menjadi US$ 28,875 milyar

Hubungan dengan IMF menjadi tidak baik sebagai akibat dari: penundaan pelaksanaan

amandemen UU No. 23 tahun 1999 mengenai Bank Indonesia; penerapan otonomi daerah

(terutama kebebasan untuk hutang pemerintah daerah dari LN); dan revisi APBN 2001.

Tahun 2001, pertumbuhan ekonomi cenderung negative, IHSG merosot lebih dari 300 poin, dan

nilai tukar rupiah melemah dari Rp 7.000 menjadi Rp 10.000 per US$.

(11)

Perekonomian Indonesia

Periode Pemerintahan Megawati S

23 Juli 2001-20 Oktober 2004

Kondisi:

SBI 17%

Bunga deposito 18%

Inflasi periode Juli

Juli 2001 13,5% dengan asumsi

inflasi 9,4% setelah dilakukan revisi APBN

Pertumbuhan PDB 2002 sebesar 3,66% dibawah target

4% sebagai akibat dari kurang berkembangnya

investasi swasta (PMDN dan PMA), ketidakstabilan

politik, dan belum ada kepastian hukum.

(12)

Capaian Kinerja Bidang Ekonomi

Pemerintahan SBY 2004-2014

CAPAIAN

Cadangan devisa terbesar US$124,6 miliar (akhir Agustus 2011)

Kenaikan nilai IHSG meroket tajam hingga mencapai lebih dari 400% selama 2009-2014

Indonesia menjadi anggota G-20, yaitu kelompok negara-negara di dunia yang dianggap memiliki kekuatan ekonomi

signifikan

Rasio utang luar negeri terhadap PDB merosot tajam (2013, sebesar 23, 4%)

Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan konsisten, kurang lebih rata-rata enam persen

Volume perdagangan indonesia juga mencapai 400 miliar USD dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yang juga tertinggi

dalam sejarah.

Nilai investasi baik dari luar negeri maupun dalam negeri dalam 10 tahun terakhir mencapai Rp 2.296,6 triliun

Pendapatan per kapita per tahun Indonesia naik 3 kali lipat selama 10 tahun terakhir. Di tahun 2004 pendapatan per

kapita kita adalah US$ 1.161, sementara di tahun 2012 mencapai US$ 3.557.

(13)

Catatan Negatif Perekonomian Indonesia

Periode SBY 2004-2014

1. Ketimpangan melebar dengan meningkatnya Rasio Gini sebesar 0,5 persen. "Jika pada 2004 sebesar 0,32 persen; tahun 2013 menjadi 0,41 persen.

2. Penurunan kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jika tahun 2004 sumbangan industri terhadap PDB nasional berada di angka 28 persen, namun 2013 konstribusi yang disumbang industri hanya sebesar 23,5 persen.

3. Terjadi defisit neraca perdagangan dari surplus pada 2004 sebesar US$ 25,06 miliar menjadi defisit US$ 4,06 miliar pada 2013. 4. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dibarengi penciptaan lapangan kerja. Sehingga, elastisitas 1 persen pertumbuhan dalam

membuka lapangan kerja turun dari 436 ribu menjadi 164 ribu atau turun 272 ribu.

5. Efisiensi ekonomi semakin memburuk, hal ini dibuktikan dengan naiknyaIncremental Capital Output Ratio(ICOR) dari 4,17 menjadi 4,5. Beberapa hal yang menghambat efisiensi yakni lambannya birokrasi, merajalelanya korupsi, dan keterbatasan infrastruktur.

6. Menurunnyatax ratiodari 12,2 persen menjadi 10,8 persen pada 2013.

7. Kesejahteraan petani menurun 0,92 persen; Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani (IT) dengan indeks harga yang dibayar petani (IB). "Jika 2004 NTP sebesar 102, namun 2013 hanya 101,96.

8. Utang pemerintah mencemaskan. Terdapat penurunan rasio utang terhadap PDB, namun utang per kapita naik US$ 531,29 per penduduk pada 2005 menjadi US$ 1.002,69 per penduduk. Pembayaran bunga utang menyedot rata-rata 13,6 persen anggaran pusat, dengan realisasi pembayaran rata-rata 92,7 persen per tahun sepanjang 2005-2013.

9. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) naik namun disertai defisit keseimbangan primer. "Tahun 2004 keseimbangan primer surplus 1,83 persen dari PDB; tahun 2013 malah defisit 1,19 persen

10. Postur APBN semakin tidak proporsional, boros dan semakin didominasi pengeluaran rutin dan birokrasi. Perinciannya belanja birokrasi naik dari 16,23 persen menjadi 22,17 persen pada 2013, kemudian subsidi energi naik dari 16,2 persen menjadi 20,89 persen, serta belanja modal hanya naik tipis dari 6,4 persen menjadi 8,06 persen.

(14)

Perekonomian Indonesia

Periode Jokowi-JK

Kondisi Perekonomian

Subsidi BBM (premium) dicabut alias 0, berlaku mulai APBNP 2015 karena

dianggap membebani keuangan negara.

Kurang dari 1 bulan setelah dilantik, Harga BBM dinaikkan dari Rp 6.500/liter

Menjadi Rp. 8.500/liter. Harga BBM diserahkan pada mekanisme pasar

(naik-turun mengikuti harga minyak mentah dunia).

Nilai kurs rupiah terhadap dollar merosot tajam, pernah menyentuh Rp.

14.700/dolar pada 2 Oktober 2015

Serbuan ribuan tenaga kerja asing

Target pertumbuhan ekonomi 2015 sulit tercapai, kurang dari 5%

Gelombang PHK pada sejumlah perusahaan berbahan baku impor

Mulai terjadi perlambatan/krisis ekonomi

(15)

Paket Kebijakan Jokowi-JK

Dalam Menghadapi Perlambatan Ekonomi (1)

KEBIJAKAN EKONOMI

TANGGAL ISI KEBIJAKAN

Tahap I 9 September 2015

 Mencakup dorongan terhadap daya saing industri nasional melalui deregulasi, penegakan hukum dan kepastian usaha.

Tahap II 29 September 2015

 Kemudahan layanan investasi 3 jam; Pengurusan tax allowance dan tax holiday lebih cepat; Pemerintah tak pungut PPN untuk alat transportasi; Insentif fasilitas di kawasan pusat logistik berikat; Insentif pengurangan pajak bunga deposito; Perampingan izin sektor kehutanan Tahap III 7 Oktober 2015  Penurunan tarif listrik dan harga BBM (solar) serta gas; Perluasan penerima KUR;

Penyederhanaan izin pertanahan untuk kegiatan penanaman modal.

Tahap IV 15 Oktober 2015.  Berisi tiga poin, yakni berkaitan dengan sistem pengupahan; tindak lanjut dari kredit usaha rakyat dan kredit UKM untuk ekspor; serta mencegah PHK

Tahap V 21 Oktober 2015  Pengurangan tarif pajak penghasilan (pph) untuk perusahaan yang melakukan revaluasi aset dan menghilangkan pajak berganda dana investasi real estate, properti, dan infrastruktur; kebijakan deregulasi bagi industri perbankan syariah.

Tahap VI 5 November 2015

 (i) upaya menggerakkan perekonomian di wilayah pinggiran dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), (ii) penyediaan air untuk masyarakat secara berkelanjutan dan berkeadilan, (iii) simplifikasi perizinan di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

(16)

Paket Kebijakan Jokowi-JK

Dalam Menghadapi Perlambatan Ekonomi (2)

16

KEBIJAKAN EKONOMI

TANGGAL ISI KEBIJAKAN

Tahap VII 4 desember 2015

Pertama, penambahan kemudahan pada izin investasi. Kedua, keringanan pajak penghasilan (PPh) bagi industri padat karya selama 2 tahun. ketiga mengenai percepatan kemudahan sertifikasi tanah rakyat dalam rangka kepastian hak atas tanah dan mendorong pembangunan ekonomi masyarakat.

Tahap VIII 21 Desember 2016

Pertama adalahone map policyatau kebijakan 1 peta. Kedua, mempercepat pembangunan kilang minyak untuk meningkatkan produksi kilang minyak di Indonesia. Ketiga, pemberian insentif bagi jasa pemeliharaan pesawat

Tahap IX 27 Januari 2016 Bertumpu pada percepatan pembangunan infrastruktur tenaga listrik, stabilisasi harga daging, dan peningkatan sektor logistik desa-Kota

Tahap X 10 februari 2016 Revisi atau perubahan Daftar Negatif Investasi (DNI).Peraturan soal DNI tertuang dalam Perpres No 39/2014 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Daftar Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan. Revisi dilakukan, untuk membuka keran investasi yang lebih luas.

Tahap XI 29 Maret 2016 Pertama, mendorong kegiatan ekspor dari pelaku UMKM, Kedua, fasilitas pengurangan bea dan pajak untuk penerbitan Dana Investasi Real Estate (DIRE). Ketiga, mempercepat pelayanan kegiatan ekspor-impor. Keempat, diterbitkan Instruksi Presiden untuk mempercepat kemandirian dan peningkatan daya saing industri obat dan alat kesehatan.

(17)

C. PENUTUP

Setelah mempelajari pokok bahasan 2

dalam modul ini, mahasiswa diharapkan

dapat memahami dan menjelaskan

dengan baik sejarah perekonomian

Indonesia, mulai dari era Orde Lama

hingga pemerintahan saat ini.

(18)

REFERENCES

Basri, Faisal, dan Munandar, Haris, 2009. Lanskap Ekonomi Indonesia: Kajian dan

Renungan Terhadap Masalah-Masalah Struktural, Transformasi Baru, dan Prospek

Perekonomian Indonesia, Jakarta; Prenada Media Group

Dumairy, 1996. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga

Latumaerissa, Julius R, 2015. Perekonomian Indonesia dan Dinamika Ekonomi Global,

Jakarta, Mitra Wacana Media

Mubyarto, 1987. Ekonomi Pancasila: Gagasan dan kemungkinan. Jakarta: LP3ES

Suroso, 1994. Perekonomian Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tambunan, Tulus T.H., 2015. Perekonomian Indonesia: Era Orde Lama Hingga Jokowi,

Jakarta; Ghalia Indonesia

Yustika, Ahmad Erani, 2010. Dari Krisis ke Krisis: Potret Terkini Perekonomian Indonesia, UB

Press

Catatan:

Dianjurkan untuk selalu mengikuti publikasi tentang perkembangan ekonomi Indonesia

baik dari jurnal cetak maupun Online dan penerbitan ekonomi aktual.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk kasus Indonesia masa transisi pemerintahan Soeharto ke pemerintahan reformasi (1998-1999) telah memunculkan gerakan netralitas politik birokrasi

Ketika masa orde baru dan orde lama kita mengenal hubungan yang sering bersinggungan, akan tetapi di masa reformasi utamanya pada periode SBY

Konfigurasi politik yang ada pada periode orde lama membawa bangsa Konfigurasi politik yang ada pada periode orde lama membawa bangsa Indonesia berada dalam suatu rezim

a. Peserta didik menyusun laporan hasil telaah tentang pengalaman sejarah mengubah dasar negara Pancasila dan penerapan Pancasila pada masa orde baru dan reformasi,

1. Abdul Kodir, M.A, Sejarah Pendidikan Islam dari Masa Rasulullah hingga Reformasi di Indonesia, Bandung, Pustaka Setia, 2015... A.Malik Fajar., Reorientasi Pendidikan Islam,

2.3 Keadaan Perekonomian di Indonesia Pada Periode Pasca Kemerdekaan Sampai Periode Orde Baru

Peserta didik dapat menggunakan nalar dalam mengkaji perkembangan sosial-ekonomi dan politik masa akhir Orde Baru, Reformasi dan

a. Peserta didik menyusun laporan hasil telaah tentang pengalaman sejarah mengubah dasar negara Pancasila dan penerapan Pancasila pada masa orde baru dan