• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Hukum Terhadap Peralihan Waris Hak Atas Tanah

N/A
N/A
Anggita Lusi Tania

Academic year: 2024

Membagikan "Tinjauan Hukum Terhadap Peralihan Waris Hak Atas Tanah"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/354710832

TINJAUAN HUKUM TERHADAP PERALIHAN WARIS HAK ATAS TANAH

Preprint · September 2021

CITATIONS

0

READS

281

1 author:

Putri Intan Ayuningutami Universitas Sebelas Maret 1PUBLICATION   0CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Putri Intan Ayuningutami on 21 September 2021.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

TINJAUAN HUKUM TERHADAP PERALIHAN WARIS HAK ATAS TANAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Agraria Kelas J Dosen Pengampu: Dr. Fatma Ulfatun Najicha, S.H., M.H.

Disusun oleh:

1. Putri Intan Ayuningutami (E0020356)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2021

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa terlepas dari permasalahan waris.

Permasalahan waris ini dialami seluruh lapisan masyarakat. Bermacam-macam kasus timbul setiap tahunnya menyangkut permasalahan waris terutama waris hak atas tanah.

Dalam UUPA hak milik atas tanah bersifat turun-temurun. Hal ini berarti si pemilik tanah dapat mewariskan tanah tersebut kepada keturunannya tanpa batas waktu dan tanpa batas generasi. Kalau hal itu terjadi dengan orang asing, konsekuensinya ialah orang asing tersebut bisa mendominasi suatu negara melalui pemilikan dalam bidang pertanahan. (Sangian, 2017). Karena pentingnya tanah bagi kehidupan manusia, pemilikan hak atas sebidang tanah sesuai pula dengan kodrat hakikat manusia.

Hak atas tanah merupakan hak yang ingin dimiliki seseorang. Keberadaan tanah yang berperan besar dalam kehidupan manusia seringkali menimbulkan permasalahan.

Dalam putusan hakim pada beberapa perkara sengketa tanah dapat dipahami sebab dari munculnya sengketa adalah karena tanah memiliki nilai yang sangat tinggi dilihat dari kacamata apa pun, termasuk kacamata sosiologi, antropologi, psikologi, politik, militer, dan ekonomi. (Annisa, dkk. 2020)

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan tanah untuk keperluan rumah tempat tinggal dan keperluan pembangunan semakin meningkat, sedangkan luas tanah adalah relatif tetap. Disamping itu, saat ini tanah merupakan obyek investasi dan mengakibatkan nilai harga tanah akan semakin menjulang tinggi. Hal-hal tersebut sering mengakibatkan terjadinya sengketa, konflik dan perkara pertanahan. Karena alasan tersebut permasalahan perkara waris hak atas tanah selalu muncul. (Bronto, 2014)

Hukum waris dapat didefinisikan juga sebagai seluruh aturan yang menyangkut penggantian kedudukan harta kekayaan yang mencakup barang berharga bergerak maupun benda berharga tidak bergerak orang yang meninggal dunia. Pewarisan hanya terjadi bilamana ada kematian dari pihak pewaris. Prinsip ini ditegaskan dalam ketentuan Pasal 830 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) atau (Civil Code/Burgerlijke Wetboek. (Wilbert, 2013). Dengan demikian, berdasarkan ketentuan pasal 834 KUHPerdata, penerima waris berhak menguasai kekayaan pewaris (boedel) berlandaskan pada haknya sebagai penerima waris dari pewaris. Pembagian warisan atau harta peninggalan melalui dua cara, yaitu adanya cara sukarela dan cara paksaan.

Terlepas dari unsur pasal 1321 KUHPerdata “tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”. Selain terdapat dalam kajian hukum perdata, hukum waris ini cukup dikaji dalam hukum agrarian sebagai tolak ukur peralihan suatu hak atas tanah. Pewarisan dimuat dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pertanahan, yaitu: Undang- Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA).

(4)

(Chindy, 2014). Pewarisan hak atas tanah dalam praktik disebut pewarisan tanah.

Secara yuridis, yang diwariskan adalah hak atas tanah bukan tanahnya.

Namun tidak sedikit peralihan waris hak atas tanah ini menimbulkan masalah dikalangan masyarakat. Tidak asing lagi terdengar kasus perebutan warisan hak atas tanah. Tidak hanya tanah, kekayaan yang dipunyai si pewaris berupa harta benda (materiil) yang merupakan harta peninggalan yang nyata ada, berupa hak-hak kebendaan. Hak-hak kebendaan yang dimaksud salah satu contohnya adalah hak milik atas tanah, rumah, dan lain-lain. Manusia pada zaman sekarang memiliki kecenderungan sifat materialistis, sehingga saling memperdebatkan harta sudah menjadi hal yang tidak lazim lagi untuk kita temukan. Dalam hal pewarisan, setiap orang yang merasa dekat dengan si pewaris akan mengklaim mempunyai bagian dari harta warisan. Walaupun telah jelas siapa saja orang-orang yang berhak mendapat bagian waris, tetap saja akan diupayakan berbagai cara agar memperoleh harta warisan.

Maka dari itu peralihan waris hak atas tanah ini harus menjadi focus utama untuk mengupayakan hukum-hukum yang mengatur tentang warisan menjadi lebih baik dan tegas, agar perkara sengketa yang mempermasalahkan tanah tidak muncul setiap tahun.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

a) Bagaimana pengaturan Pewarisan Tanah dalam Perundang-undangan?

b) Bagaimana Prosedur Pelaksanan Peralihan Hak Hak Atas Tanah Berdasarkan Hak Waris?

C. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam menyusun penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dengan studi dokumentasi dan penelusuran literatur yang berkaitan dengan pewarisan hak atas tanah. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data sekunder, yakni sumber data yang bersifat pribadi dan bersifat publik. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yang kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif. (Johanna, dkk. 2021) Peneliti juga meneliti dengan metode doktrinal (doctrinal research). Menurut Marzuki (dalam Kajoko et al., 2019), penulisan doktrinal (doctrinal research) adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka (library based) yang fokusnya pada membaca dan menggumpulkan data-data dengan teknik penelitian kepustakaan (library research) yang berupa data-data dari buku, jurnal, internet dan media elektronik yang valid dan objektif. (Eduardus dan Fatma, 2021)

.

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pewarisan Tanah dalam Perundang-undangan

Undang – Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 yang selanjutnya di sebut UUD 1945 sesungguhnya telah menggariskan hukum dasar pengelolaan sumber daya alam dengan prinsip yang sangat ideal. (Fatma dan Handayani, 2017). Pewarisan tanah adalah suatu kajian yang kerap muncul dan diatur dalam perundang-undangan di Indonesia. Tidak tanpa alasan, pewarisan tanah adalah kajian yang sangat penting karena menyangkut harta kepemilikan orang lain. Pewarisan tanah dimuat dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pertanahan, diantaranya yaitu (Chindy, 2014):

1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA).

Pewarisan hak atas tanah dalam praktik disebut pewarisan tanah. Secara yuridis, yang diwariskan adalah hak atas tanah bukan tanahnya. Kedua, cara peralihan hak atas tanah melalui pewarisan untuk kepentingan pendaftaran peralihan haknya ada dua, yaituSyarat Materiil yakni Ahli waris harus memenuhi syarat sebagai pemegang (subjek) hak dari hak atas tanah yang menjadi objek pewarisan. Syarat Formal, dalam rangka pendaftaran peralihan hak, maka pewarisan hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun harus dibuktikan dengan surat keterangan kematian pewaris dan surat keterangan sebagai ahli waris.Prosedur pendaftaran peralihan hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun karena pewarisan ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa Pewarisan dimuat dalam perundang-undangan yang berkaitan dengan pertanahan, yaitu: Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) dalam Pasal 21 Ayat (5). Secara yuridis, yang diwariskan adalah hak atas tanah bukan tanahnya. Perolehan Hak Milik atas tanah dapat juga terjadi karena pe-warisan dari pemilik kepada ahli waris sesuai dengan Pasal 26 UUPA. Pewarisan dapat terjadi karena ketentuan undang- undang ataupun karena wasiat dari orang yang mewasiatkan. Seyogianya pewarisan hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun tidak hanya terjadi karena ketentuan undang-undang melainkan karena ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) Pasal 21 Ayat (3) Orang asing yang sesudah berlakunya undang-undang ini memperoleh Hak Milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga negara Indonesia yang mempunyai Hak Milik dan setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau Hak Milik itu

(6)

tidak dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh kepada negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung.

2) Undang-Undang No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun Pasal 10

a. Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 8 Ayat (3) dapat beralih dengan cara pewarisan atau dengan cara pemindahan hak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

b. Pemindahan hak sebagaimana dimaksudkan dalam Ayat (1) dilakukan dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah dan didaftarkan pada Kantor Agraria Kabupaten atau Kota Madya yang bersangkutan menurut Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 19 Undang- undang Nomor 5 Tahun 1960.

3) Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas Tanah

4) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

5) Pasal 111 dan Pasal 112 Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Pewarisan yang dimaksudkan di sini adalah pewarisan hak atas tanah. Dalam praktik disebut pewarisan tanah. Secara yuridis, yang diwariskan adalah hak atas tanah bukan tanahnya. Memang benar bahwa tujuan pewarisan hak atas tanah adalah supaya ahli warisnya dapat secara sah menguasai dan menggunakan tanah atau satuan ru-mah susun yang bersangkutan. Dalam perkembangannya, yang diwariskan tidak hanya berupa hak atas tanah, tetapi juga Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun.

Istilah pewarisan disebutkan dalam peraturan perundang-undang-an yang berkaitan pertanahan, yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1960, Undang-undang No. 16 Tahun 1985, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996, Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, dan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 1997.

Namun demikian, di dalam peraturan perundang-undangan tersebut tidak memberikan pengertian apa yang dimaksudkan dengan pewarisan.

Peralihan hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah dari pemegang haknya kepada pihak lain dapat terjadi karena peristiwa hukum, yaitu meninggal dunianya pemegang hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, di sini peralihan haknya terjadi melalui pewarisan, atau karena suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh pemegang hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun dengan pihak lain, yaitu berupa jual beli, tukar-menukar, hibah, pemasukan dalam modal perusahaan, lelang. Yang dimaksud pewarisan hak adalah berpindahnya hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun dari pemegang haknya sebagai pewaris kepada pihak lain sebagai ahli waris karena pemegang haknya meninggal dunia. Dengan meninggal dunianya pemegang hak atas tanah atau Hak

(7)

Milik Atas Satuan Rumah Susun, maka hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun tersebut berpindah kepada ahli warisnya.

Hak milik mempunyai sifat turun-temurun, artinya dapat diwarisi oleh ahli wans yang mempunyai tanah. Hal ini berarti hak milik tidak ditentukan jangka waktunya seperti misalnya, Hak Guna Bangunan dan Hak Guna Usaha. Hak milik tidak hanya akan berlangsung selama hidup orang yang mempunyainya, melainkan kepemilikannya akan dilanjuti oleh ahli warisnya setelah ia meninggal dunia. Tanah yang menjadi objek hak milik (hubungan hukumnya) itu pun tetap, artinya tanah yang dipunyai dengan hak milik tidak berganti-ganti, melainkan tetap sama. Terpenuh maksudnya hak milik itu memberikan wewenang yang paling luas kepada yang mempunyai hak jika dibandingkan dengan hak-hak yang lain. Hak milik bisa merupakan induk dari hak-hak lainnya. Artinya, seorang pemilik tanah bisa memberikan tanah kepada pihak lain dengan hak-hak yang kurang dari hak milik: menyewakan, membagihasilkan, menggadaikan, menyerahkan tanah itu kepada orang lain dengan hak guna bangunan atau hak pakai. Hak milik tidak berinduk kepada hak atas tanah lain, karena hak milik adalah hak yang paling penuh, sedangkan hak-hak lain itu kurang penuh. Dilihat dari peruntukannya, hak milik tidaklah terbatas. Adapun hak guna bangunan untuk keperluan bangunan saja, hak guna usaha terbatas hanya untuk keperluan usaha pertanian dan bisa untuk bangunan. Selama tidak ada pembatasan-pembatasan dari pihak penguasa, maka wewenang dari seorang pemilik, tidak terbatas. Seorang pemilik bebas dalam mempergunakan tanahnya. Pembatasan itu ada yang secara umum berlaku terhadap masyarakat, dan ada juga yang khusus, yaitu terhadap tanah yang berdampingan, harus saling berdampingan, harus saling menghormati, tidak boleh memperkosa. tanah dengan hak pakai yang luasnya terbatas. Demikian juga pada dasarya badan-badan hukum tidak dapat mempunyai hak milik (Pasal 21 ayat (2)). Adapun pertimbangan melarang badan-badan hukum untuk mempunyai hak milik atas tanah, ialah karena badan-badan hukum tidak perlu mempunyai hak milik, tetapi cukup hak-hak lainnya, asal ada jaminan-jaminan yang cukup bagi keperluan-keperluannya yang khusus (hak guna usaha, hak guna bangu-nan, hak pakai menurut Pasal 28, 35, dan 41).

Adapun syarat peralihan hak atas tanah warisan (Khoirul,dkk, 2019) adalah pendaftaran peralihan hak yang disebabkan oleh pewarisan, pemohon hanya cukup menyerahkan bukti sebagai ahli waris yang sah yang kesemulanya tertuang dalam fatwa waris. penyerahkan bukti penunjuk sebagai ahli waris yang sah ini dimaksud agar ahli waris berhak secara sah menggantikan kedudukan hukum dari orang yang meninggal dalam kedudukan hukum mengenai harta kekayaannya. Maka dengan sendirinya hak penguasaan atas tanah dan atau bangunan jatuh secara otonomis pada ahli warisnya. Namun demikian seperti perbuatan hukum lain, ahli warisnya harus mendaftarkan peralihan haknya tersebut pada kantor perta-nahan terlebih dahulu guna kepastian hukum atas tanah yang didapat dari pewarisnya tersebut. Selain dilakukan pendaftaran tanah, maka akan diperoleh sertifikat. Dengan demikian dapat dikata- kan bahwa orang yang namanya tercantum didalam sertifikat adalah pemilik hak atas tanah yang bersangkutan. Kemungkinan bah-wa dalam satu sertifikat tercatat lebih dari satu nama bisa saja terjadi, karena ada dua orang atau lebih yang bersama-sama membeli adalah ahli waris dari seorang yang namanya mula-mula tercantum dalam sertifikat tersebut.

(8)

B. Prosedur Pelaksanan Peralihan Hak Hak Atas Tanah Berdasarkan Hak Waris

Tata cara peralihan hak atas tanah sebagai akibat adanya seseorang yang meninggal dunia , dan hak atas tanah akan beralih kepada ahli waaris atau para warisnya, jika tanah yang akan diwariskan karena meninggalnya seseorang , maka ahli waris untuk melakukan pendaftaran peralihan hak berdasarkan pewarisan mengenai bidang tanah yang sudah terdaftar ( bersertifikat) harus melibatkan pejabat umum (Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional),dimana peralihan hak atas tanah ke tangan ahli waris ini harus didaftarkan pada Kantor Pertanahan.Hal ini diatur dalam Pasal 36 PP No 24 Th 1997 yang menyatakan sebagai berikut (Faridy, 2019) :

1) Pemeliharaan data pendaftaran tanah dilakukan apabila terjadi perubahan pada data fisik data yuridis objek pendaftaran tanah yang telah terdaftar.

2) Pemegang hak yang bersangkutan wajib mendaftarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kantor Pertanahan.

Pendaftaran ini berdasarkan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah,menurut peraturan tersebut,peralihan tanah karena waris harus didaftarkan di Kantor Pertanahan setempat dengan menyertakan dokumen sebagai berikut :

1) Sertifikat tanah yang asli.

2) Surat keterangan kematian.

3) Surat keterangan ahli waris.

a) Bagi Warga Negara Indonesia penduduk Indonesia asli Surat Keterangan Ahli waris yang dibuat oleh para ahli waris dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang yang dikuatkan oleh Kepala Desa / Kelurahan dan Camat tempat tinggal pewaris pada waktu meninggal dunia.

b) Bagi Warga Negara Indonesia keturunan Tionghwa dengan Akta Keterangan Hak Mewaris yang dibuat oleh Notaris.

c) Bagi Warga Negara Indonesia keturunan Timur Asing lainnya,Surat Keterangan Waris yang dibuat oleh Balai Harta Peninggalan ( Pasal 111 ayat (1) C Peraturan Mentri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 )

d) Jika ahli waris lebih dari seseorang,maka yang harus dilakukan semua ahli waris berdasarkan surat keterangan waris,pendaftaran peralihan haknya dilakukan kepada penerima yang berhak sebagai hak bersama,Kantor Pendaftaran Tanah akan memasukkan semua nama – nama ahli waris ke dalam sertifikat tanah. Dengan demikian, maka nama dalam sertifikat tanah bisa lebih darii satu orang.

e) Demikian pula dapat terjadi,jika ahli waris lebihdari seorang dan smua ahli waris sepakat untuk menyerahkan sebidang tanah kepada salah satu ahli waris,maka selain tanda bukti surat keterangan waris,surat kematian,maka perlu juga dilampirkan Akta Pembagian Waris,dimana dalam akta ini menerangkan bahwa hak atas tanah tertentu diberikan kepada seorang wris tertentu sebagai penerima.

(9)

Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 42 Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 1997 yang menyatakan :

a. Untuk pendaftaran peralihan hak karena perawisan mengenai bidang tanah hak yang sudah didaftar dan hak milik atas satuan rumah susun sebagai yang diwajibkan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 36,wajib diserahkan oleh menerima hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang bersangkutan,surat kematian orang yang namanya dicatat sebagai pemegang hak dan surat tanda bukti sebagai ahli waris.

b. Jika bidang tanah yang merupakan warisan didaftar,wajib diserahkan juga dokumen – dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf b.

c. Jika penerima warisan dari satu orang,pendaftaran peralihan hak tersebut dilakukan dilakukan kepada orang tersebut berdasarkan surat tanda bukti sebagai ahli waris sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

d. Jika penerima warisan lebih dari satu orang dan waktu peralihan hak tersebut didaftarkan disertai dengan akta pembagian waris yang memuat keterangan bahwa hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun tertenu jatuh kepada seorang penerima warisan tertentu,pendaftaran peralihan hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun itu dilakukan kepada penerima warisan yang bersangkutan berdasarkan surat tanda bukti ahli waris dan akta pembagian waris tersebut.

e. Warisan yang berupa hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang menurut akta pembagian waris harus dibagi bersama antara beberapa penerima warisan atau waktu didaftarkan belum ada akta pembagian warisnya,didaftar perlihan haknya kepada para penerima waris yang berhak sebagai hak bersama mereka berdasarkan surat tanda bukti sebagai ahli waris dan/atau akta pembagian waris tersebut.

Untuk tanah yang belum bersertifikat atau belum didaftar dalam buku tanah dan merupakan warisan,maka wajib diserahkan juga dokumen dokumen sebagai berikut :

1. Untuk pendaftaran hak atas tanah yang berasal dari konversi hak – hak lama dibuktikan dengan alat bukti mengenai hak tersebut berupa bukti tertulis (Petuk pajak bumi/landrente,girik,pipil,kekitir)atau surat keterangan riwayat tanah yang pernah dibuatnoleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan,atau keterangan saksi dan atau pernyataan yang bersangkutan yang kadar kebenarannya oleh panitia ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistimatis atau oleh kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik dianggap cukup untuk melakukan pendaftaran hak,pemegang dan hak yang membebaninya.

2. Jika tidak tersedia secara cukup alat – alat pembuktian,maka surat keterangan Kepala Desa/Kelurahan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan menguasai bidang tanah yang bersangkutan selama 20 tahun berturut turut dan selama waktu tersebut tak diganggu gugat,karena itu dianggap dan diakui serta dibenarkan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan atau desa/kelurahan yang bersangkutan.

Dalam hal adanya peralihan hak atas tanah berdasarkan warisan sebagaimana dikemukakan pada alinea sebelumnya, ahli waris tidak dibatasi mengenai luas tanah yang akan

(10)

diperoleh dari pembagian warisan tersebut, meskipun secara formal tidak dibatasi mengenai luasnya pembagian warisan atas tanah,dimana setelah dilakukan pembgian akhirnya luas tanah yang akan diterima ahli waris sangat sempit atau terjadi perpecahan luas tanah ( versplanting proces/pengepingan tanah),khusus untuk tanah pertanian perlu diperhatikan jangan sampai terjadi pemecahan luas tanah/versplanting proces.Oleh karena itu adanya ketentuan untuk peralihan hak atas tanah pertanian tidak boleh kurang dari 2 ha,sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1) Undang Undang No.56 prp 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian.”Pemindahan hak atas tanah pertanian kecuali pembagian warisan, dilarang apabila pemindahan hak itu mengakibatkan timbulnya atau berlangsungnya pemilikan tanah yang luasnya kurang dari 2 halarangan tersebut tidak berlaku kalau si penjual hanya memiliki tanah yang kurang dari 2 ha dan tanah itu dijual sekaligus.”

C. Simpulan

Pewarisan hak milik tanah diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Biasanya hak atas tanah ini diwariskan secara turun temurun. Hak milik tanah dalam kasus peralihan karena waris terjadi saat si ahli waris sudah meninggal dunia dan meninggalkan kekayaan untuk ahli warisnya. Kekayaan ini biasanya bersifat kebendaan dan salah satunya yaitu hak atas tanah. Adapun syarat peralihan hak atas tanah warisan adalah pendaftaran peralihan hak yang disebabkan oleh pewarisan yakni pemohon hanya cukup menyerahkan bukti sebagai ahli waris yang sah yang semulanya tertuang dalam fatwa waris. Selain syarat yang harus dipenuhi, tata cara peralihan waris hak atas tanah harus dipenuhi agar mendapatkan sertifikat hak atas tanah yang sah.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Al Maghfiroh, M. A., & Najicha, F. U. (2021). LEGAL BASIS FOR TAKING THE LAND OWNED AND COMPENSATION FOR THE AFFECTED LAND. UNTAG Law Review, 5(1), 39-44.

Anam, K., Suhartono, S., & Hufron, H. (2019). LEGALITAS PERALIHAN HAK ATAS TANAH WARISAN. Jurnal Akrab Juara, 4(5), 235-247.

Ayuningtyas, A. S., Candrakirana, R., & Najicha, F. U. (2020). Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Sertifikat Hak Atas Tanah Dalam Kasus Sertifikat Ganda. Jurnal

Discretie, 1(1), 69-77.

Fadhila, H. I. N., & Najicha, F. U. (2021). PENTINGNYA MEMAHAMI DAN MENGIMPLEMENTASIKAN NILAI-NILAI PANCASILA DI LINGKUNGAN

MASYARAKAT. Pro Patria: Jurnal Pendidikan, Kewarganegaraan, Hukum, Sosial, Dan Politik, 4(2), 204-212.

FAHMI, M. (2009). FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT PERALIHAN HAK ATAS TANAH KARENA WARISAN (STUDI KASUS DI KECAMATAN SELOGIRI KABUPATEN WONOGIRI (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Faridy, F. (2019). Prosedur Pelaksanan Peralihan Hak Hak Atas Tanah Berdasarkan Hak Waris. KEADABAN, 1(1), 1-17.

Handayani, I. G. A. K., Rachmi, H. G., & Mohd Rizal Palil, F. U. N. (2017). Suwari Akhmadian,‘. Flood Management In Jakarta: Reconstruction Of Jabodetabek Eight Priority Watershed Regulations, 14, 150-55.

Lamia, C. F. (2014). Peralihan Hak Atas Tanah Warisan. LEX PRIVATUM, 2(3).

Najicha, F. U. (2021, August). DAMPAK KEBIJAKAN ALIH FUNGSI KAWASAN HUTAN LINDUNG MENJADI AREAL PERTAMBANGAN BERAKIBAT PADA

DEGRADASI HUTAN. In Proceeding of Conference on Law and Social Studies.

Najicha, F. U., & Handayani, I. G. A. K. R. (2017). POLITIK HUKUM

PERUNDANG–UNDANGAN KEHUTANAN DALAM PEMBERIAN IZIN KEGIATAN PERTAMBANGAN DI KAWASAN HUTAN DITINJAU DARI STRATEGI

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKEADILAN. Jurnal Hukum dan Pembangunan Ekonomi, 5(1).

Najicha, F. U., Ayu, I. G., Rachmi, K., Karjoko, L., & Pramugar, R. N. (2020). The Construction of Law System in the Field of Environmental Governance in Realizing Justice and Green Legislation in Indonesia. International Journal of Psychosocial

Rehabilitation, 24(7), 8629-8638.

(12)

Salsabila, A. Z., & Najicha, F. U. (2020). Pengelolaan Sampah Plastik Di Kawasan Pantai Depok, Kabupaten Bantul. Jurnal Discretie, 1(2), 87-92.

Sangian, A. H. (2017). Peralihan Hak Milik Atas Tanah Berdasarkan Pewarisan. Lex Privatum, 5(4).

Saputro, J. G. J., Handayani, I. G. A. K. R., & Najicha, F. U. (2021). ANALISIS UPAYA PENEGAKAN HUKUM DAN PENGAWASAN MENGENAI KEBAKARAN HUTAN DI KALIMANTAN BARAT. Jurnal Manajemen Bencana (JMB), 7(1).

Slamet, A. (2021). PERALIHAN HAK MILIK ATAS TANAH YANG BERASAL DARI WARISAN. LEGALITAS, 5(2), 117-129.

Susanto, B. (2014). Kepastian Hukum Sertifikat Hak Atas Tanah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997. DiH: Jurnal Ilmu Hukum, 10(20).

Wilbert D. Kolkman et.al. (eds), Hukum Tentang Orang, Hukum Keluarga Dan Hukum Waris Di Belanda Dan Indonesia, Pustaka Larasan, Jakarta,, 2012, hal.147

Yudiantoro, E. G. A., & Najicha, F. U. (2021). ANALISA KEBIJAKAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS PADA PEMBAGUNAN PABRIK SEMEN DI PEGUNUNGAN KENDENG. REUSAM: Jurnal Ilmu Hukum, 9(1).

View publication stats

Referensi

Dokumen terkait

PEROLEHAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH KARENA PERALIHAN (JUAL BELI) DALAM MEWUJUDKAN PERLINDUNGAN.. HUKUM DI

Untuk melihat peran pemerintah dalam melaksanakan tugas pendaftaran tanah terkait dengan ketidak hadiran pemegang hak atas tanah dalam pendaftaran peralihan hak atas tanah, peneliti

Bab dua adalah tinjauan umum peralihan hak atas tanah di Indonesia. Dalam bab ini akan diulas mengenai landasan hukum kepemilikan tanah, peralihan hak atas tanah menurut UUPA,

Sedangkan peralihan hak milik atas tanah karena peristiwa hukum, terjadi apabila pemegang hak milik atas tanah meninggal dunia, maka dengan sendirinya atau

Peralihan hak milik atas tanah dalam pandangan hukum Islam dengan cara-cara dalam praktiknya melalui: jual beli, tukar menukar, hibah, wasiat, wakaf, pewarisan dan lainnya,

Sebagaimana ketentuan peralihan hak milik atas tanah yang diatur dalam Hukum Agraria Nasional, juga berlaku dalam peralihan hak atas tanah wakaf, dinyatakan “Perubahan

• Dasar hukum peralihan hak atas tanah adalah pasal 29, 28, 35, dan 40 UUPA • Bentuk-bentuk peralihan ha katas tanah dapat berupa: • Jual beli • Tukar menukar • Hibah • Pemisahan

Perlindungan hukum terhadap pemilik hak atas tanah akibat peralihan perjanjian utang piutang menjadi perjanjian jual