• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pustaka tentang Remaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Tinjauan Pustaka tentang Remaja"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

Adanya hormon androgen adrenal (dehydroepiandrosterone dan dehydroepiandrosterone sulfate) pada usia sekitar 8 tahun menyebabkan tumbuhnya rambut kemaluan yang berlangsung sekitar 8 tahun. Rambut Kemaluan Panggung Payudara Rentang Usia Lainnya (Th). telarches): hiperplasia areola dengan sedikit jaringan. Tampak seperti rambut kemaluan wanita dewasa, namun area yang ditutupi lebih sedikit, tidak menyebar ke bagian samping.

Tabel 2.1 Tahap-Tahap Pertumbuhan
Tabel 2.1 Tahap-Tahap Pertumbuhan

Pola Menstruasi

Panjang siklus haid mengandung kesalahan +3 hari karena waktu haid dari ostium uteri luar (OUE) tidak dapat diketahui secara pasti dan tidak diperhitungkan waktu mulainya haid (Wiknjosastro, 2012). Siklus haid dikatakan siklus tidak teratur apabila salah satu siklus dalam 3 bulan <25 hari atau >31 hari (Rizki, 2013). Bagi remaja putri, mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur di awal-awal kehamilan merupakan hal yang wajar.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Menstruasi a. Menarche

Orang dengan status gizi (kelebihan berat badan dan obesitas) biasanya mengalami anovulasi kronis atau menstruasi tidak teratur kronis (Karyadi, 2007). Sedangkan kekurangan berat badan akan mengakibatkan kekurangan berat badan dan kekurangan sel lemak untuk memproduksi estrogen yang diperlukan untuk ovulasi dan menstruasi, sehingga dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur (Evan, 2011). Pola makan kaya lemak, karbohidrat dan protein yang tidak tepat akan meningkatkan kelebihan berat badan, yang secara langsung akan meningkatkan makan berlebihan pada kelebihan berat badan (obesitas juga dapat terjadi).

Gangguan Menstruasi

Gangguan perdarahan terbagi menjadi tiga, yaitu perdarahan berat/banyak, perdarahan berkepanjangan, dan perdarahan sering. Perdarahan uterus abnormal (AUB) merupakan suatu keadaan yang menyebabkan gangguan perdarahan menstruasi yang terdiri dari menoragia, metorrhagia, dan poliminorea. Hipomenore adalah pendarahan dengan jumlah darah sedikit (<40 ml), penggantian pembalut 1-2 kali sehari dan hanya berlangsung 1-2 hari.

Hipomenore disebabkan oleh kurangnya kesuburan endometrium akibat kekurangan gizi, penyakit kronis, atau gangguan hormonal. Perdarahan menstruasi yang lebih lama atau lebih deras dari biasanya (lebih dari 8 hari) dan penggantian pembalut 5-6 kali sehari. Bisa juga karena kelainan di luar kandungan (anemia, gangguan pembekuan darah), bisa juga karena kelainan hormonal (gangguan endokrin).

Wanita dengan polimenorea akan mengalami menstruasi dua kali atau lebih dalam sebulan, dengan pola yang teratur dan jumlah perdarahan yang relatif sama atau lebih banyak dari biasanya. Gangguan keseimbangan hormonal dapat terjadi pada 3-5 tahun pertama setelah menstruasi pertama, beberapa tahun sebelum menopause, gangguan ovarium, stres dan depresi, penderita gangguan makan, penurunan berat badan berlebihan, obesitas, olah raga berlebihan misalnya pada atlet, dan penggunaan. obat-obatan, khususnya. Penyebab lainnya adalah kondisi stres dan depresi, nyeri kronis, penderita gangguan makan, penurunan berat badan berlebihan, olah raga berlebihan pada atlet, misalnya adanya tumor yang melepaskan estrogen, kelainan pada tubuh.

Hal ini biasanya terjadi sebelum masa pubertas, kehamilan dan menyusui serta setelah menopause (Purwoastuti, 2015) Amenore terdiri dari: a) Amenore primer.

STATUS GIZI .1 Konsep Status Gizi

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Aktivitas fisik merupakan pergerakan bagian tubuh yang menyebabkan pengeluaran energi secara sederhana dan penting untuk menjaga kualitas hidup fisik, mental dan kesehatan. Ketika seseorang menginjak usia remaja dan dewasa, seseorang mulai dapat mengontrol dan memilih jenis makanan yang ingin dikonsumsinya. Pengetahuan gizi yang cukup dapat mengubah perilaku remaja sehingga memilih makanan bergizi sesuai selera dan kebutuhannya.

Lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang besar terhadap anak, di dalam keluargalah anak memperoleh pengalaman hidup pertamanya. Selain itu, asupan gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan tingkat sosial ekonominya, termasuk juga tingkat pendapatan dan pengetahuannya. Jika seseorang mempunyai akses terhadap berbagai jenis makanan yang kaya akan nilai gizi, maka asupan makanan yang dikonsumsinya juga akan memiliki nilai gizi yang kemudian mempengaruhi pembentukan pola makannya.

Pada tahap ini, mereka sudah bisa memutuskan jenis makanan apa yang mereka sukai dan kurang berselera makan di rumah. Pemilihan makanan tidak lagi berdasarkan kandungan gizinya, melainkan sekedar arisan, kenikmatan dan tidak ingin kehilangan status.

Kebutuhan Gizi Remaja

Kelaparan merupakan suatu keadaan kekurangan asupan energi dan unsur gizi penting yang dibutuhkan tubuh selama beberapa hari, yang mengakibatkan terjadinya perubahan proses metabolisme dalam tubuh (Syahputra, 2003). Lemak juga merupakan sumber asam lemak esensial yang diperlukan untuk pertumbuhan karena merupakan sumber pasokan energi tingkat tinggi dan pembawa vitamin yang larut dalam lemak. Asupan lemak yang tidak mencukupi akan menyebabkan kekurangan asam lemak esensial dan nutrisi yang larut dalam lemak, serta pertumbuhan yang buruk.

Sumber karbohidrat yang baik adalah karbohidrat sederhana (buah-buahan, sayur mayur, susu, gula, pemanis berkalori lainnya), dan karbohidrat kompleks (produk biji-bijian dan sayur-sayuran). Sumber makanan yang baik adalah produk gandum utuh, beberapa jenis buah dan sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian kering. Vitamin A adalah nutrisi yang larut dalam lemak, penting untuk mata, tulang, pertumbuhan gigi, diferensiasi sel, reproduksi dan integritas sistem kekebalan tubuh.

Sumber vitamin A yang baik adalah karoten (sayuran berdaun hijau tua, buah dan sayur berwarna kuning dan oranye), makanan yang diperkaya vitamin A dan susu. Asupan vitamin C harian adalah 50 mg/hari untuk remaja usia 11-14 tahun untuk laki-laki dan 60 mg/hari untuk remaja usia 15-18 tahun untuk perempuan. Sumber vitamin C yaitu buah-buahan segar seperti jeruk, tomat, kentang, sayuran hijau tua dan jus stroberi merupakan sumber vitamin C yang sangat baik.

Sumber vitamin E yang baik dalam makanan adalah minyak dan lemak nabati, beberapa produk sereal, kacang-kacangan dan beberapa ikan laut (Soetjiningsih, 2010).

Pengukuran Status Gizi

Vitamin C berfungsi dalam pembentukan kolagen tulang dan gigi serta melindungi vitamin dan mineral lainnya dari oksidasi (antioksidan). Antropometri dilakukan dengan mengukur beberapa parameter sebagai indikator status gizi, antara lain umur, tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, dan ketebalan lemak subkutan. Berat badan menjadi pilihan yang paling penting karena berbagai pertimbangan, antara lain: pengukuran atau standar yang terbaik, perubahan yang mudah terlihat dan dalam waktu yang relatif singkat akibat perubahan kesehatan dan pola konsumsi;

Faktor penting lainnya dalam menilai status gizi adalah usia, sehingga penghitungan berat badan dan tinggi badan merupakan parameter yang tidak bergantung pada usia. Pengukuran tinggi badan dapat dilakukan dengan menggunakan alat microtoise altimeter dengan ketelitian 0,1 cm (Supariasa, 2014). Batasan ambang batas BMI ditentukan dengan mengacu pada peraturan FAO/WHO yang membedakan batas ambang batas untuk laki-laki dan perempuan.

Untuk tujuan memantau tingkat defisit kalori atau obesitas, FAO/WHO selanjutnya merekomendasikan penggunaan satu ambang batas untuk pria dan wanita. Syarat yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori berat badan kurus dan menggunakan ambang batas perempuan untuk kategori gemuk berat.

POLA MAKAN

  • Pengertian Pola Makan
  • Jenis Makanan
  • Faktor yang Mempengaruhi Pola Makan
  • Gangguan Pola Makan
  • Etiologi Gangguan Pola Makan
  • Gambaran klinis gangguan pola makan
  • Pola makan seimbang
  • Metode FFQ (Food Frequency Questionaire)

Untuk menilai pola makan berdasarkan frekuensi makan, maka frekuensi makan remaja (pagi, siang, malam) dihitung sebagai berikut, menurut Suhardjo dalam Pohan (2014). Kekurangan zat gizi pada suatu jenis pangan akan dilengkapi dengan komposisi zat gizi yang lebih unggul pada jenis pangan lainnya, sehingga memberikan asupan gizi yang seimbang (Anonim, 2007). Tubuh membutuhkan beragam nutrisi – protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral – dan semuanya berasal dari makanan yang kita makan.

Pendapatan yang tinggi yang tidak diimbangi dengan pengetahuan gizi yang cukup akan menyebabkan seseorang menjadi konsumtif dalam pola makan sehari-harinya, sehingga pemilihan bahan makanan lebih didasarkan pada pertimbangan rasa dibandingkan aspek gizi. Bagi umat Kristiani, telur merupakan bahan makanan yang selalu tersedia saat perayaan Paskah, bagi umat Islam ketupat merupakan bahan makanan pokok yang selalu tersedia saat libur Idul Fitri. Pendidikan dalam hal ini biasanya dikaitkan dengan pengetahuan, hal ini akan mempengaruhi pemilihan bahan makanan dan pemenuhan kebutuhan gizi.

Contohnya adalah seseorang yang berpendidikan rendah biasanya menggunakan prinsip 'yang terpenting adalah mengisi bahan bakar', sehingga proporsi makanan yang merupakan sumber karbohidrat lebih besar dibandingkan dengan kelompok makanan lainnya. Sebaliknya kelompok masyarakat yang berpendidikan tinggi cenderung memilih sumber protein dan akan berusaha menyeimbangkannya dengan kebutuhan gizi lainnya. Pola makan seimbang berarti pangan yang dikonsumsi harus bersifat kualitatif dan kuantitatif yang terdiri dari sumber karbohidrat, sumber protein hewani dan nabati, penguat rasa/pelarut vitamin, serta sumber vitamin dan mineral (Departemen Kesehatan, 2008b).

Prinsip Penggunaan Metode FFQ (Food Frekwensi Questionnaire) FFQ (Food Frekwensi Questionnaire) adalah suatu metode untuk memperoleh data frekuensi konsumsi suatu variasi makanan atau makanan siap saji selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun. . Dengan frekuensi makan dapat diperoleh gambaran pola konsumsi pangan secara kualitatif, namun karena jangka waktu pengamatan lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan peringkat tingkat konsumsi zat gizi, maka metode ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi (Supriasa, 2012 ). Makanan yang tercantum dalam kuesioner merupakan makanan yang cukup sering dikonsumsi oleh responden.

Gambar 2.1 : Piramida makanan gizi seimbang
Gambar 2.1 : Piramida makanan gizi seimbang

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN STATUS GIZI DENGAN POLA MENSTRUASI

Kemampuan reproduksi berada di bawah kendali hipotalamus dengan sinkronisasi sistem saraf pusat yang dipengaruhi oleh laju metabolisme. Sekresi GnRH akan mempengaruhi pelepasan FSH dan LH yang akan merangsang ovarium untuk memulai folikulogenesis (diakhiri dengan ovulasi) dan steroidogenesis (menghasilkan estrogen dan progesteron). Gangguan menstruasi dapat disebabkan oleh gangguan pada hipotalamus atau kelenjar hipofisis, kadar estrogen yang rendah atau tinggi secara persisten, dan kelainan pada ovarium (Sugiharto, 2009 dan Zalni 2017).

Menurut analisis, penyebab siklus menstruasi yang lebih panjang adalah karena meningkatnya jumlah estrogen dalam darah akibat meningkatnya jumlah lemak dalam tubuh. Peningkatan jumlah estrogen dalam darah disebabkan oleh produksi estrogen pada sel teka. Selain itu, peningkatan estrogen juga dapat merangsang hipotalamus dan kelenjar pituitari untuk meningkatkan produksi LH.

Ketika androgen berdifusi ke dalam sel granulosa dan jaringan adiposa, lebih banyak estrogen yang terbentuk. Pada wanita yang mengalami obesitas, tidak hanya terjadi kelebihan androgen, namun juga kelebihan estrogen yang seringkali mengakibatkan berkurangnya fungsi ovarium dan kelainan pada siklus menstruasi (Hupitoyo, 2011). Pada wanita yang kekurangan nutrisi, kadar hormon steroid mengalami perubahan yaitu peningkatan kadar testosteron serum dan penurunan ekskresi 17-.

Menurut Francin dalam Khairul (2013), seorang wanita yang mengalami nutrisi terlalu sedikit atau terlalu banyak akan berdampak pada penurunan fungsi hipotalamus yang tidak memberikan rangsangan pada kelenjar hipofisis anterior untuk memproduksi FSH dan LH.

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Remaja putri
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Remaja putri

Gambar

Tabel 2.1 Tahap-Tahap Pertumbuhan
Gambar 2.1 : Piramida makanan gizi seimbang
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Remaja putri

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Steinber &amp; Silverberg (1986) dalam Steinberg (2001), terdapat 4 komponen kemandirian emosi pada remaja, yaitu: 1.) “de-idealized”, pada tingkatan ini remaja

Berdasarkan tahap perkembangannya menurut Hurlock (2001). 1) Remaja tahap awal (usia 10-14 tahun), yaitu remaja yang: a) Berfikir konkret; b) Ketertarikan utama ialah

Tabel 3 menunjukan bahwa semua remaja mengetahui tentang konsep kesehatan reproduksi dan permasalahan kesehatan remaja (100%) Pada tahap ini remaja menyatakan bahwa mereka

payudara dan rambut kemaluan jarang, yang terjadi antara usia 8-13 (SMR tahap 2). menstruasi 2-4 tahun setelah munculnya inital tunas payudara dan rambut kemaluan, biasanya selama

Persepsi remaja tentang tahapan perilaku pacaran remaja, dari 4 informan tersebut memilliki pendapat yang berbeda. Informan 1 mengatakan bahwa tahap berfantasi

Menurut Widyastuti dkk (2010) pembekalan pengetahuan kesehatan reproduksi yang diperlukan remaja meliputi : 1) Perkembangan fisik, mental, dan kematangan seksual remaja, yaitu

Menurut Laenggeng dan Lumalang 2015, remaja golongan usia 13- 18 tahun terjadi pertumbuhan yang sangat cepat sehingga kebutuhan gizi untuk pertumbuhan dan aktivitas meningkat, golongan

Tabel 1.2Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan Remaja Tentang Kanker Payudara Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Berdasarkan Tabel 1.2 di atas maka dapat dilihat