• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Syalsa Dwi Aprina

Academic year: 2024

Membagikan "TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN DI INDONESIA "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN DI INDONESIA

KELOMPOK 10

Oleh :

Shima Mutmainna (0306201154) Suhaila Putri Siregar (0306202058)

Syalsa Dwi Aprina (0306202021)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN-SU

PGMI-2

T.A 2020/2021

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan yang berjudul “Tokoh-Tokoh Pendidikan Di Indonesia” ini dengan tepat waktu. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Dosen pada mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang seberapa besar Tokoh-Tokoh pendidikan Dalam Mewujudkan Nilai-Nilai Pendidikan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Saifullah M.A, selaku Dosen mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.Penulis tentu menyadari bahwa makalah yang penulis tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karna itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Demikian,semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terimakasih.

Binjai 15 Desember 2020 Penulis

Kelompok 10

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan sudah sepatutnya menentukan masa depan suatu negara. Bila visi pendidikan tidak jelas, yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa.Visi pendidikan harus diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang memiliki sasaran jelas, dan tanggap terhadap masalah-masalah bangsa.Karena itu, perubahan dalam subsistem pendidikan merupakan suatu hal yang sangat wajar, karena kepedulian untuk menyesuaikan perkembangan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sudah selayaknya sistem pendidikan tidak boleh jalan di tempat, namun setiap perubahan juga harus disertai dan dilandasi visi yang mantap dalam menjawab tantangan zaman.

B. Rumusan Masalah

1. Siapa saja tokoh pendidikan Indonesia?

2. Bagaimana riwayat hidup tokoh pendidik indonesia?

3. Bagaimana cara para tokoh pendidik mengembangkan pendidikan di indonesia?

4. Hambatan apa saja yang mereka hadapi dalam mengembangkan/ mendidik bangsa?

5. Seberapa besar pengaruh mereka dalam pendidikan indonesia?

6. Sebagai calon pendidik sifat apa saja yang bisa ditiru dari tokoh Indonesia?

C. Tujuan

Adapun Tujuan dibentuknya makalah ini adalah:

1. Mengetahui riwayat hidup dan perjuangan tokoh pendidik Indonesia

2. Mengetahui macam-macam hambatan yang dialami tokoh pendidikan dalam mengembangkan bangsa

3. Memberikan wawasan inovasi pendidikan dalam mengembangkan dan mendidik bangsa

4. Mengetahui peranan penting tokoh pendidikan di Indonesia.

5. Mengambil hikmah dalam perjalanan toko pendidik dalam mengembangkan dan mendidik bangsa

(4)

BAB II PEMBAHASAN

TOKOH TOKOH PENDIDIKAN DI INDONESIA 1. R.A Kartini

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat merupakan nama lengkap RA Kartini. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Kartini merupakan salah satu pejuang perempuan di Indonesia yang mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan terutama bagi kaumnya, perempuan pribumi yang masih tertindas oleh kolonialisme.

Sebagai salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, Kartini tidak ketinggalan menyumbangkan pemikirannya dalam menghadapi persoalan ini. Menurutnya, dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan yang semakin komplek baik laki-laki maupun perempuan harus mempunyai bekal yakni pendidikan. Karena pemerintah tidak akan mungkin memberikan dan menyediakan segala yang dibutuhkan rakyat secara instan, tetapi pemerintah harus memberikan daya upaya agar rakyat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebagaimana dalam surat Kartini kepada nona Zeehandeler pada tanggal 12 Januari 1900 sebagai berikut:

“Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagisegala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu

(5)

dapat mencapai tempat makanan itu. Daya upaya itu ialah pengajaran.” Kartini juga berpendapat bahwa kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan harus diberikan kepada seluruh anak Indonesia, baik laki-laki-perempuan, kaya-miskin, yang tidak membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis dari Belanda yang terkesan dengan surat-surat R.A Kartini yang diterbitkan.

2. Willem Iskander

Willem Iskander bernama asli Sati Nasution gelar Sutan Iskandar lahir di Pidoli Lombang, Mandailing Natal pada Maret 1840. Ibunya Si Anggur boru Lubis dari Rao-rao dan ayahnya Raja Tinating, Raja Pidoli Lombang. Ia generasi ke-11 dari Klan Nasution dan merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.

Pada pertengahan 1861, semangat memajukan pendidikan di tanah kelahirannya memasuki tahap baru. Dia membangun Kweekschool (Sekolah Guru) Tano Bato yang cukup sederhana. Willem terus mensosialisasikan gagasan pembaharuannya. Bahkan, dengan metode door to door hingga ke desa terpencil. Hasilnya, kelangkaan murid dapat diatasi. Warga sekitar Panyabungan, bahkan dari wilayah lain di Mandailing, berbondong- bondong untuk menuntut ilmu ke sana.

(6)

Baru satu tahun berdiri, tepatnya September 1863, Gubernur Van den Bosch datang dari Padang untuk menginspeksi sekolah itu. Gubernur Pantai Barat Sumatra ini melaporkan, kunjungannya kepada Gubernur Jenderal Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van Belle dalam suratnya, 13 September 1863. Ia menyatakan, kekagumannya terhadap kepiawaian Willem Iskander. Kesannya dia tulis dengan kata-kata ‘zeer ontwikkeld, hoogst ijverig’

yang artinya sangat cerdik, terpelajar, sangat rajin, dan tekun.

Dalam tulisan Ardi Ansyah, Willem Iskander, Pelopor Pembaharuan di Mandailing Sumatera Utara (2012) disebutkan, Inspektur Jenderal Pendidikan Bumiputera Mr. J.A.

van der Chijs sempat berkunjung ke Kweekschool Tano Bato pada 1866. Dia ingin berdiskusi dengan Willem terkait metode terbaik untuk memajukan pendidikan bumiputera. Willem pun merespons dengan berbagai ide.

“Usul-usul itu termasuk peningkatan mutu guru-guru muda dengan cara memberikan beasiswa kepada mereka. November 1869 di Batavia pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengadakan Rapat Dewan (Tweede Khamer) untuk menindaklanjuti usul dari Iskander,”

ungkapnya.

Willem pun mengajukan sejumlah syarat ke pemerintah Hindia-Belanda agar pendidikan guru semakin baik. Syarat-syarat tersebut antara lain:

1. Sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan 2. Guru sekolah guru harus mampu menulis buku pelajaran

3. Bahasa daerah harus dikembangkan sesuai kaidah-kaidah bahasa.

Willem meninggal dunia pada 8 Mei 1876 di Amsterdam. Jasad Willem dimakamkan di Zorgvliet begraafplaats, di pinggir kota Amsterdam. Sepeninggalan Willem Iskander, Sekolah Guru Tanah Bato dipindahkan ke Padang Sidempuan. Sekolah itu berdiri hingga tahun 1884.

(7)

3. KH. Hasyim Asy'ari

Muhammad Hasyim bin Asy'ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim lahir dari keluarga elit kiai Jawa pada 24 Dzul Qa'dah 1287 / 14 Februari 1871 di desa Gedang.

Hasyim Asy'ari mendirikan pesantren Tebuireng Jombang, desa yang di pandang hitam untuk menyebarkan ilmu dan agama. Masyarakat Tebuireng pada saat itu mengalami perubahan nilai akibat penanaman tebu dengan sistem sewa, yang akhirnya melahirkan kebiasaan berjudi, mabuk-mabukan, perzinaan dan perampokan. Keadaan inilah yang menarik Hasyim Asy'ari mendirikan pesantren di tempat tersebut. Dan pesantren Tebuireng resmi berdiri pada tahun 1899 M/ 1324 H. Hasyim Asyari menyatakan :

“Menyebarkan agama Islam berarti meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Jika manusia sudah mendapat kehidupan yang baik, apalagi yang harus di tingkatkan dari mereka? Lagi pula, menjalankan jihad berarti menghadapi kesulitan dan mau berkorban, sebagaimana yang telah dilakukan rasul kita dalam perjuangannya”

Dalam membesarkan pesantren Tebuireng, Hasyim Asy‟ari mendapat banyak dukungan dan bantuan dari para ulama dan Kiai, seperti kiai Alwi, kiai Ma‟sum, kiai Baidlawi, kiai Ilyas dan kiai Wahid Hasyim.

Layaknya lembaga pesantren pada masa itu, metode pengajarannya pun mengikuti zaman, yaitu mengunakan sistem sorogan dan bandongan. Sorogan adalah metode pengajaran

(8)

dengan cara santri menghadap guru satu persatu dengan membawa kitab yang sedang di pelajari. Bandongan atau wetonan adalah metode pengajaran dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai. Metode sorogan dan bandongan digunakan pesantren Tebuireng antara 1899-1916 M. Pada tahun 1916 M, kiai Maksum yang tidak lain merupakan menantu pertama kiai Hasyim Asy'ari, ia mulai memperkenalkan sistem madrasah di pesantren Tebuireng dan pengajaran ilmu pengetahuan umum pada tahun 1919 M.

Pada tahun 1919 M, pesantren Tebuireng melakukan pembaharuan sistem, yaitu dengan membuka madrasah salafi sebagai tangga untuk memasuki jenjang pendidikan menengah.

Pada tahun 1929 materi pelajaran tidak hanya berkutat dengan ilmu agama saja, akan tetapi ditambah dengan ilmu pengetahuan umum yaitu :

Membaca dan menulis huruf latin.

Mempelajari bahasa Indonesia.

Mempelajari ilmu bumi dan sejarah Indonesia Mempelajari ilmu berhitung.

Pesantren Tebuireng merupakan pesantren yang sukses dalam melaksanakan pendidikan Islam. Kesuksesan tersebut bisa dilihat dari kualitas santrinya, dan banyak santri lulusan pesantren Tebuireng yang menjadi tokoh nasional dan beberapa menjadi ulama terkenal seperti KH. Wahid Hasyim (Mantan Menteri Agama), KH. Abdurrahman Wahid (Presiden RI ke 4), KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH As'ad Syamsul Arifin, dan KH Achmad Siddiq.

(9)

4. KI HAJAR DEWANTARA.

Merupakan tokoh pendidikan yang kedua setelahKyai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie.Ki Hajar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas (R.M.) Suwardi Suryaningrat.

Beliau lahir pada Kamis Legi, 2 Mei 1889 di Yogyakarta meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Ki Hajar Dewantara berasal dari keluarga bangsawan Puro Pakualaman Yogyakarta.

Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.Ki Hajar Dewantara merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional.Bagian dari semboyan ciptaannya, TUT WURI HANDAYANI, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun pengeluaran 1998.

(10)

5. KYAI HAJI AHMAD DAHLAN.

Kyai Haji Ahmad Dahlan ialah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada urutan ketiga setelah Ki Hajar Dewantara.Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun.. Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Pada umur 15 tahun,Ahmad pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah.

Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

(11)

Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH.

Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.

Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al- Qur'an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912.Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

6. Dewi Sartika

Dewi Sartika merupakan tokoh pendidikan Indonesia yang diberi gelar sebagai pahlawan pendidikan nasional.Wanita kelahiran Cicalengka pada 4 Desember 1884.Beliau merupakan tokoh perintis pendidikan kaum wanita. Bertujuan agar dapat memajukan pendidikan di Indonesia, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuat sekolah yang bernama Sekolah Isterio di Pendopo Kabupaten Bandung.

Sekolah tersebut kemudian pemindahan tempat ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. Pada tahun 1912 sudah ada Sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi sekolah Raden Dewi.

(12)

BAB III PENUTUPAN

A. KESIMPULAN

Sangat banyak para tokoh tokoh pendidikan di Indonesia yang berjuang untuk memperluas pendidikan di Negara Indonesia ini.Semangat perjuangan para tokoh tokoh pendidikan zaman dulu sangat berpengaruh pada perkembangan pendidikan sampai sekarang ini.Karena mereka adalah para pendahulu sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi. Mereka adalah orang orang yang membuka pintu pendidikan untuk generasi penerus agar tidak putus dengan dunia pendidikan.

B. SARAN

Pendidikan yang terjadi di Negara Indonesia masih jauh harapan untuk menjadi yang terdepan, masih diperlukan pembenahan pada sistem yang terdapat didalamnya seperti pengajar, peserta didik, dan juga pemerintahan harus bisa mengintropeksi diri hal apa yang membuat pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal oleh Negara-negara lain.

Dan kami sebagai generasi penerus bangsa penyambung perjuangan para pahlawan pendiri pendidikan wajib untuk ikut serta mempertahankan atau menjalankan warisan meraka mengantarkan Indonesia pada kebijaksaan dan kemajuan kependidikan di Negara ini.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

https://beritaekspres.com/2015/04/21/kartini-dan-pendidikan-perempuan-di- indonesia/

https://www.mypurohith.com/biografi-ra-kartini/

https://id.wikipedia.

https://news.okezone.com/read/2017/10/30/65/1805052/kisah-hidup-willem- iskander-pionir-pendidikan-dari-sumatera-utara.

https://kumparan.com/kumparannews/kisah-willem-iskander-membangun- sekolah-guru-terbaik-se-hindia-belanda-1550054470512523738/full

http://www.jejakpendidikan.com/2017/07/biografi-kh-hasyim- asyari.html http://adibabadi.blogspot.com/

https://www.kelaspintar.id/blog/

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahun 1980 terdapat peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah pemerintahan Orde Baru, yakni pernyataan Keprihatinan 50 warga Negara Indonesia yang kemudian dikenal

tersedia sebesar Rp.. ketidaksesuaian yang terjadi masih favorable sebesar 64,50% atau senilai Rp. Ketidaksesuaian tersebut terjadi karena adanya program belanja honorarium

Di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Mojoagung di bagian pembiayaan tidaklah selalu berjalan dengan baik, dimana banyak terjadi berbagai permasalahan terdapat didalamnya adalah

deskripsi : Pelatihan Jarak Jauh ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Keuangan dalam

Jadi, berdasarkan peranan, yang dinyatakan diatas, amat diperlukan suatu kajian dan penyelidikan dilakukan untuk melihat dengan lebih jauh bagaimana

Penurunan angka APM yang cukup curam terjadi pada tingkat SD ke SMP pada seluruh jenjang pendidikan. Ini memperlihatkan bahwa terdapat jauh lebih sedikit penduduk usia

Saran Mengenai dasar pengaturan Judicial Review di indonesia meliputi beberapa peraturan perundang-undangan namun peramasalahan yang terjadi terdapat pada landasan konseptual dari

Istilah suarau ternyata tidak hanya di Indonesia saja, di negara Malaysia misalnya terdapat surau besar dan surau kecil, surau besar biasanya tidak jauh berbeda dengan masjid jami‟ di