• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSFORMASI IDENTITAS DAN ADAPTASI SOSIAL WANITA TUNA SUSILA PASCA PENANGKAPAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "TRANSFORMASI IDENTITAS DAN ADAPTASI SOSIAL WANITA TUNA SUSILA PASCA PENANGKAPAN "

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

!

!

! !

! !

! !

! !

! !

! !

!

!

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

Page of 1 43

! !

! !

! !

!

PENELITIAN SOSIAL BUDAYA DAN HUMANIORA!

! !

! !

!

TRANSFORMASI IDENTITAS DAN ADAPTASI SOSIAL WANITA TUNA SUSILA PASCA PENANGKAPAN

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

Oleh !

Dr. H. Syaiful Rohim, M.Si !

! !

! !

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
 !

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2020

! !

! !

! !

! !

!

(2)

PENELITIAN SOSIAL BUDAYA DAN HUMANIORA!

! !

! !

!

TRANSFORMASI IDENTITAS DAN ADAPTASI SOSIAL WANITA TUNA SUSILA PASCA PENANGKAPAN

! !

! !

!

!

! !

! !

! !

! !

! !

Oleh

Dr. H. Syaiful Rohim, M.Si

! !

! !

! !

! !

! !

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
 !

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2020

! !

! !

!

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian : TRANSFORMASI IDENTITAS DAN ADAPTASI SOSIAL WANITA TUNA SUSILA PASCA PENANGKAPAN

Jenis Penelitian : Penelitian Sosial Humaniora Ketua Peneliti : Dr. Syaiful Rohim, M.Si

Link Profil simakip : http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/985

!

Anggota Peneliti : - Link Profil simakip : -

!

Waktu Penelitian : 6 Bulan Luaran Penelitian

Luaran Wajib : Jurnal Nasional Terakreditasi sinta 2 Status Luaran Wajib : Accepted

1. Luaran Tambahan : Seminar/Jurnal Status Luaran Tambahan : Submitted

Mengetahui, Jakarta, Nopember 2020

Ketua Program Studi Ketua Peneliti

Farida Hariyati, M.Ikom Dr. Syaiful Rohim, M.Si

NIDN. 0327097601. NIDN. 0419037902

Menyetujui,

Dekan FISIP UHAMKA. Ketua Lemlitbang UHAMKA

!

Dra. Tellys Corliana, M.Hum.

!

Prof. Dr. Suswandari, M.Pd

!

(4)

SURAT KONTRAK PENELITIAN

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

!

(5)

!

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

(6)

ABSTRAK

!

Tujuan penelitian ini menelusuri fenomena komunikasi dalam program rehabilitasi serta perubahan identitas dan diri eks Wanita Tuna Susila setelah mengalami peristiwa penangkapan oleh petugas penertiban (satpol PP). Dengan menggunakan pendekatan kualititatif sebagai pisau analisis dalam kegiatan penelitian ini, dengan menelusuri perubahan konsep diri atau perubahan psikologis dan kesadaran yang dialami seorang mantan WTS setelah tertangkap dalam operasi “razia” dan dimasukkan ke dalam panti rehabilitasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penggunaan pendekatan interpretif dalam penelitian ini juga dinilai tepat dan sesuai dengan karakteristik subyek penelitian yang dipilih. Eks Wanita Tuna Susila adalah manusia yang memiliki mental dan pikiran normal, sehingga setiap apa yang dilakukan senantiasa atas kesadaran subyektifnya. Adapaun hasil riset ini bahwa eks wanita tuna susila atau terdapat julukan lain disebut sebagai pelacur, mereka mereformulasi keberadaan diri secara fisik, psikis dan sosialnya sebagai identitas baru pasca penangkapan

!

Kata Kunci: Komunikasi, Rehabilitasi, Eks WTS

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

!

(7)

!

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL 2

HALAMAN PENGESAHAN 3

SURAT KONTRAK PENELITIAN 4

ABSTRAK 6

DAFTAR ISI 7 BAB 1. PENDAHULUAN 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 11

BAB 3. METODE PENELITIAN 13

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 16

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 23

BAB 6 LUARAN YANG DICAPAI 24

BAB 7 RENCANA TINDAK LANJUT DAN PROYEKSI HILIRISASI 25

DAFTAR PUSTAKA 26

LAMPIRAN 28 (bukti luaran yang didapatkan)

- Artikel ilmiah (draft, status submission atau reprint)

! !

! !

!

(8)

BAB I PENDAHULUAN

!

Menjadi seorang yang baik di mata persepsi dan penilaian seorang manusia adalah hal yang paling diharapkan oleh setiap manusia. Sebagai makhlk yang senantiasa membutuhkan pengakuan dalam berinteraksi. Sebagaimana sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik baiknya manusia adalah yang paling baik bagi sesamanya, bermakna kita akan dikatakan bermanfaat manakala dapat memberi kemanfaatan bagi manusia yang lainnya. Akibat dari peran dan kemanfaatan itulah yang kemuadian seseorang dijuluki dengan sebutan kebaikannya.

Identitas yang serta merta menjadi bagian dari julukan yang diberikan masyarakat terhadap diri kita akan bermakana dan berpengaruh terhadap perilaku dan aktivitas sosial dalam sisem sosialnya. Terlebih julukan itu akan memberikan suatu predikat yang melekat dari seseorang. Julukan pelacur, lonte, wanita tuna susila adalah beberapa julukan atas identitas seseorang yang merujuk pada sebagaian kalangan wanita yang memilih berprofesi sebagai penjaja kenikmatan seksual yang diperjualbelikan dengan sebagai aktivitas pekerjaannya.

Dalam sejarah keberadaannya pemilihan pekerjaan atau profesi menjadi pelacur atau pekerja seks komersial ini, merupakan jenis profesiyang juga sejalan dengan peradaban manusia sejak zaman dulu.Telah banyak riset-riset tentang keberadaan dan eksistensi para PSK dalam berbagai ranah ilmu sosial dan humaniora dan juga dalam tradisi keilmuan komunikasi yang tentu dengan berbagai ragam pendekatan dan metodologi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya tentang Proses Rehabilitasi Sosial Wanita Tuna Susila Di Balai Rehabilitasi Sosial Karya Wanita (Brskw) Palimanan Kabupaten Cirebon yang mengatakan bahwa kebanyakan kasus para WTS yang sudah mengikuti rehabilitasi akan kembali lagi menjadi WTS (Ramadhani et al., 2017).

Dengan demikian peneliti tertarik untuk melihat bagaimana transisi identitas setelah memperoleh atau mengikuti rehabilitasi.

Peneliti lainnya yang juga meriset tema-tema ini sebagaimana dilakukan oleh S.

Rohim (2010) yang mengatakan bahwa Penelitian dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi sebagai teknik dalam mengumpulkan data.

Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep diri mantan pelacur adalah negative sebelum

(9)

masuk rehabilitasi(ketika menjadi pelacur) berdasarkan motivasi subjek untuk menjadi pelacur, dan juga sebagai citra diri akibat persepsi fisik, mental, dan social. (S. Rohim, 2010)

Sebagai problem sosial pelacuran perlu penanganan yang serius agar tidak bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun dan tidak berdampak negatif pada kehidupan masyarakat. Salah satunya yaitu dengan memberdayakan Wanita Tuna Susila (WTS) melalui penbinaan-pembinaan kecakapan hidup (Life Skill). (Budiman, 2013). Penelitian yang mengkaji tentang self disclosure tentang mantan WTS pernah dilakukan oleh Teguh sebagai hasil dari tesis nya yang mengatakan bahwa komunikasi interpersonal mantan wanita tuna susila dengan warga di Kelurahan Dupak Bangunrejo, Kecamatan Krembangan, Surabaya terdapat beberapa temuan penelitian yaitu, terjalinnya hubungan komunikasi yang efektif ketika mantan wanita tuna susila bersikap terbuka, keterbukaan mantan wanita tuna susila dapat mengubah sikap dan perilaku warga sekitar, serta terdapat komunikasi dalam konteks ruang dan waktu (Wahyuni, 2018).

Oleh karena itu hasil riset ini pun tentu akan menambah khasanah keilmuan komunikasi yang mengambil sub tema dan subjek riset dari komunitas pelacuran atau Pekerja Seks Komersial. Disisi yang lain perlakuan dan pengakuan keberadaan dari para WIS ini di kalangan masyarakan dan sistem sosial kita masih dihadapkan pada kompleksitas masalah yang dlam ragam aspek baik agama, budaya dan produk hukum belum banyak memberikan soslusi atas berbagai kerumitan persoalan yang dihadapi.

Seperti halanya ekonomi yang menjadi kebutuhan dasar harus dipertaruhkan, berhadapan secara diametral dengan aturan agama dan budaya yang membatasi pilihan profesi menjadi WIS ini. Dilema dan menjadi pelik apabila harus dijadikan sebagai suatu pengambilan keputusan, karena menjadi seorang WTS adalah alternatif cepat dan singkat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tapi ia harus mereproduksi kebatinan dan identitas dirinya dengan aspek baik buruk dan tanggapan sosial masyarakat yang menyebutnya sebagai perilaku yang menyimpang.

Memilih berkerja menjadi WTS adalah bagian pilihan rasional tentunya bagi mereka yang dihadapkan pada mendesaknya berbagai kebutuhan dasar yang semuanya berada pada wilayah persepsi. Sebagaimana disepakati oleh ilmuan komunikasi bahwa inti dari komunikasi adalah persepsi. Maka persepsi inilah yang mendistribusi pada identitas diri seseorang sehingga pada akhirnya ia akan mengambil keputusan dan aktivitas

(10)

komunikasi dalam berbagai aktivitas sosialnya. Sebagaimana (Syaiful Rohim, 2015), mengatakan:

Social life in the view of the symbolic interaction means a human interaction by using a symbol that is always used by people to communicate and interact to each other. In these interactions also occur efforts to define and interpret to each other between one action with the other”.

!

Walaupun pada suatu titik akan berhadap-hadapan dengan perlakuan tidak menyenangkan dengan kelompok masyarakat lainnya yang menganggap tidak sejalan dengan tata aturan dan norma yang berlaku sebagai sebuah kesepakatan. Penangkapan yang dilakukan oleh aparat menjadikan konsep dan gambaran mengenai persepsi atas diri, dan kelompok sosialnya mengalami perubahan, apalagi kehadirannya di dalam pati menjadikan ia sebagai individu baru untuk meredefinisi konses diri yang sudah ia miliki selama menjadi seorang waita tuna susila. Pada konteks yang lain dimana posisi dinas sosial melalui kelembagaan yang mengelola panti rehabilitasi dengan berbagai bentuk program pembinaan dimana kegiatan rehabilitasi atau terapis adalah merupakan kegiatan komunikasi, ini ditandai dengan adanya proses penyebaran pengetahuan dari seorang psikolog/ therapist (komunikator) baik bimbingan dan arahan kepada pasien atau klien sebagai sasaran (komunikan) dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, merubah persepsi, tingkah laku dan memulihkan kepribadian buruk atau aspek-aspek fsikis lainnya yang ada pada diri seorang pasien/klien (komunikan). Maka untuk itu keberadaan komunikator cukup menentukan bagi suksesnya penyampaian suatu pesan.!

Oleh karena itu riset ini menjadi penting untuk melihat sisi subjektif dari pelaku untuk memahami gambaran identitas sebagai realitas subjektif mengenani identitas mereka.

! !

! !

! !

! !

! !

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

!

STATE OF THE ART

Kajian akan diawali dengan menelusuri perubahan konsep diri atau perubahan psikologis dan kesadaran yang dialami seorang mantan WTS setelah tertangkap dalam operasi “razia” dan dimasukkan ke dalam panti rehabilitasi yang tidak diharapkan sebelumnya. Kajian ini penting untuk mengetahui beragam reaksi yang diberikan mereka setelah mereka tertangkap dan bergaul di dalam panti rehabilitasi, sehingga efektivitas lembaga dalam membimbing mereka sesuai dengan yang diharapkan dan mereka bisa kembali ke masyarakat dan bergaul sebagai warga masyarakat yang baik.

Dalam kajian ilmu komunikasi, persoalan konsep diri selalu dikaitkan dengan sistem komunikasi intrapersonal dan interpersonal (Rakhmat, 2005). Oleh karena itu perubahan konsep diri dan kesadaran dalam konteks penelitian ini dapat dimaknai sebagai perilaku komunikasi WTS yang akan membentuk kesadaran baru sebagai bentuk transformasi identitasnya. Dengan begitu riset ini akan dapat menelusur bagaimana konsep diri WTS sebelum dan sesudah memasuki panti rehabilitasi serta upaya apa yang dilakukan oleh lembaga panti dalam merehabilitasi para WTS pasca penangkapan.

Dalam konteks lain, persoalan menjadi amat rumit dan dilematis manakala saat seorang mantan pelacur yang telah menjalani proses pembinaan di dalam panti rehabilitasi dan kembali di kehidupan masyarakat, ia kembali melakukan kebiasaan yang lamanya menjadi seorang pelacur yang tentunya dianggap melanggar norma masyarakat. Ini berarti bahwa usaha pemerintah tidak menunjukkan keefektivan hasil yang signifikan. Dalam persoalan ini pula peneliti ini akan melakukan kajian dan penelitian yang berkaitan dengan upaya lembaga panti rehabilitasi dalam melakukan pembianaannya terhadap para mantan WTS setelah pemerintah menagkapnya dalam operasi razia

ROADMAP PENELITIAN

RoadMap mencakup kegiatan penelitian yang direncanakan, serta rencana arah penelitian dalam sesuai dengan tema dan kurun waktu yang akan datang. Peta jalan penelitian merupakan rincian pelaksanaan program kegiatan penelitian yang hendak

(12)

dicapai pada tahun tertentu. Adapun peta jalam riset yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan sebagai suatu rangkaian pola dan dinamika perjalan tarck record peneliti dalam penelitian. Dan dala rencana riset yang akan dilakukan dalam penelitian in adaah sebagai berikut:

!

!

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

(13)

BAB III

METODE PENELITIAN

!

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, menurut Bongdan dan Taylor (Moleong, 2000:3) menyatakan bahwa pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Garna (1999:32) menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif dicirikan oleh tujuan penelitian yang berupaya memahami gejala- gejala yang sedemikian rupa yang tidak memerlukan kuantifikasi atau gejala-gejala tersebut tidak mungkin diukur secara tepat. Jenis studi ini hanya memaparkan situasi dan kondisi, namun tidak mencari atau menjelaskan hubungan, juga bukan mengkaji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat, 2000: 24).

Penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif diawali dengan aktivutas akademik peneliti dengan menggunakan cara berpikir secara induktif, dimana peneliti diharuskan menangkap berbagai fakta sosial melalui pengamatan di lapangan.

Didalam penelitian kualitatif nantinya peneliti akan mengolah informasi yang didapat dilapangan dengan cara menjabarkan apa yang didapatkan oleh peneliti secara kualitatif atau tidak secara general mengingat kualitatif adalah mengolah hasil wawancara yang dibahas secara mendalam.

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif menurut Lofland (dalam Moleong, 2000:112) adalah berasal dari kata-kata dan tindakan. Penelitian ini pun menjadikan pernyataan (ungkapan) dan tindakan sadar lansia sebagai sumber data utamanya.

Teknik pengumpulan data ini juga biasa dikenal dengan observasi. Dalam penelitian ini dilakukan observasi non-partisipant. Teknik pengamatan menurut Denzin (1978:183) adalah strategi lapangan yang secara simultan memadukan analisis dokumen, wawancara dengan responden dan informan, partisipasi dan observasi langsung serta instrospeksi.

Disamping pengamatan berperan serta, penelitian ini juga menggunakan wawancara mendalam sebagai salah satu teknik pengumpulan data. Banyak hal yang dapat diperoleh dari subyek penelitian dengan cara ini yakni peneliti dapat mengetahui pandangan, pendapat, serta perasaan eks wanita tuna susila sebagai warga binaan, baik pandangan tentang dirinya maupun respon dan sikapnya terhadap orang lain. Peneliti

(14)

juga menggunakan triangulasi metode sebagai upaya dan cara untuk membandingkan informasi, data, dengan cara metode yang berbeda seperti membandingkan data yang diperoleh dari interview dengan observasi.

Teknik analsisi data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mengikuti tiga tahap analisis data yang ditawarkan oleh Miles dan Huberman yaitu; reduksi data, penyajian (display) data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi, yang diskematisasikan sebagai berikut:

!

! !

! !

!! !!

!! !!

!

Gambar

Komponen-Komponen Analisis Data: Model Interaktif

Sumber : Mattew B. Miles & A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, Terj.Tjetjep Rohendi, UI- Press, h.20.

! !

Adapun pemerolehan data dalam rist ini diperoleh, sesuai dengan teknik pengumpulan data yang dirancang dengan memilih para informan dan responden yang ada di Panti Rehabilitasi, tepatnya di Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya”

Kedoya, Jakarta. Dalam penelitian ini, penggalian keterangan dilakukan terhadap informan dan responden (Koentjaraningrat, 1991:130).

Para informan terdiri dari informan pangkal dan informan pokok (key informant).

Informan pangkal adalah informan yang memberikan petunjuk dan memberikan informasi tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan yang diperlukan lebih lanjut, dalam hal ini Kepala panti sosial. Informan pokok adalah informan yang dianggap ahli atau memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang pembinaan terhadap para WTS, misalnya para Psikolog atau Psikiater maupun anggota masyarakat lain yang dianggap memiliki kemampuan tersebut

Pengumpulan data

Penarikan kesimpulan Penyajian Data

Reduksi data

(15)

Adapun indikator dan capaian targetnya dapat dilihat dalam bagan berikut:

!

!

! !

! !

! !

! !

! !

!

(16)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

!

A. Profil Panti dan Subjek Penelitian

Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya merupakan lembaga sosial pemerintah daerah yang berada di bawah Dinas Bina Mental dan Spiritual Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta yang menangani masalah pelacuran. Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya terletak di daerah Ibu Kota Jakarta yaitu di Jakarta Barat tepatnya di Jl. Kembangan Raya no. 3 Kedoya Jakarta Barat. Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya dibangun di atas tanah seluas 24.678 M² dengan luas bangunan sebesar 5.512 M². Masyarakat di sekitarnya lebih mengenal terhadap panti tersebut dengan sebutan penjara wanita.

Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya bertugas menyelenggarakan kegiatan resosialisasi tuna susila yang meliputi identifikasi dan asesmen, bimbingan dan pelatihan serta penyaluran dan pembinaan lanjut. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai dalam proses pembinaan atau rehabilitasi tersebut yaitu terbina dan berkembangnya tata kehidupan dan penghidupan warga binaan sosial yang diliputi oleh pulihnya rasa harga diri, kepercayaan diri, kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dan normatif dalam kehidupan bermasyarakat.

Adapun subjek penelitian dalam riset ini terdiri dari 10 orang eks wanita tuna susila yang telah dan sedang mendapat penanganan dan pembinaan dalam program rehabilitasi di dalam panti baik dilihat dari latar agama, status, serta lasan menjadikan dirinya pernah menjadi wanita tuna susila, sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut:

! !

! !

! !

!

(17)

Tabel 1

Profil Subjek Penelitian

Sumber : Observasi dan Wawancara

!

B. Proses Komunikasi dalam Program Rehabilitasi

Proses komunikasi dalam kegiatan pembinaan terhadap para eks wanita tuna susila di dalam panti setelah mereka menjadi warga binaan terjalin dengan bentuk dan ragam komunikasi. Baik dilakukan secara interpersonal ataupun komunikasi terstruktur ketika mereka berada pada berbagai kegiatan-kegiatan program pembinaan mental seperti kegiatan keagamaan dan materi pembinaan mental lainnya. Secara garis besar usaha pelayanan dan rehabilitasi di Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya”

Kedoya sebagaimana dijelaskan dibawah ini yang meliputi:

1. Penjangkauan Sosial

Istilah penjangkauan sosial tidak lain adalah sebuah bahasa penghalusan dari razia yang dilakukan oleh pemerintah daerah (PEMDA) melalui satuan polisi pamong praja. Setelah operasi razia dilakukan terhadap bebagai masalah sosial seperti gelandangan, pengemis, pelacur, dan lainnya yang nantinya semua masalah sosial tersebut dirujuk ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya Kedoya atau yang lebih dikenal dengan penjara

2. Pendekatan Awal

!

No

!

Nama

!

Usia

!

Status

!

Agama

!

Pendidikan

!

Lama jadi WTS

!

Alasan

1 An 28 Lajang Kristem - 4 TAHUN Kerja

2 Mis 31 Janda Islam SMA 2 TAHUN Kerja

3 Fir 23 Lajang Islam SMA 2 TAHUN Gaul

4 Del 22 Lajang Islam SMP 1 TAHUN Gaul

5 Jel 24 Janda Islam SMP 3 TAHUN Cerai

6 Ros 30 Nikah Islam SMP 3 TAHUN Kerja

7 Lid 28 Janda Kristen SMP 5 TAHUN Kerja

8 Mel 29 Janda Islam SMEA 2 TAHUN Cerai dan kerja

9 Ien 25 Janda Islam SMP 3 TAHUN Gaul

10 Sam 24 Lajang Islam SD 3 TAHUN Pergaulan

(18)

Setelah penjangkauan sosial dilaksanakan langkah yang kedua yaitu pendekatan awal. Pendekatan awal ini perlu dilaksanakan karena untuk mengetahui tentang diri mantan pelacur atau yang biasa disebut dengan wanita binaan sosial. Dalam pendekatan awal ini mantan pelacur dipersilakan untuk mengkonsultasikan diri pribadinya kepada petugas yang berada di panti tersebut, sehingga petugas dapat mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dialami oleh mantan pelacur yang nantinya untuk diberikan motivasi maupun seleksi mengikuti kegiatan rehabilitasi.

3. Penerimaan

Setelah dilakukan pedekatan awal baru dilakukan penerimaan terhadap mantan pelacur untuk dilakukan registrasi dan pendaftaran serta pencatatan data untuk mendapatkan fasilitas perlengkapan dari Panti Sosial Bina Karya Wanita seperti seragam panti dan perlengkapan lainnya demi kelancaran dan sarana pendukung pelayanan rehabilitasi tersebut.

4. Asesmen

Asesmen merupakan pengukuran yang digunakan untuk mengetahui dan mengungkap kondisi psikologis seseorang. Asesmen bisa berupa interview, observasi dan wawancara serta tes psikologis.

5. Rehabilitasi

Setelah langkah-langkah tersebut di atas—mulai dari penjangkauan sosial, pendekatan awal, penerimaan, dan asesmen—diberikan, maka langkah selanjutnya yaitu pelayanan atau kegiatan rehabilitasi terhadap mantan pelacur.

Adapun program-program pembinaan dan rehabiltasi dilakukan dengan: a).

Pemeliharaan kesehatan yang diberikan kepada mantan pelacur meliputi pemerikasan secara umum diantaranya pemerikasan kondisi badan secara umum misalnya pemeriksaan gigi, tes pengambilan sampel darah, lambung, dan lain sebagainya. b). Pemberian materi bimbingan sosial meliputi bimbingan yang berkaitan erat dengan permasalahan kehidupan di masyarakat. Selain itu materi bimbingan sosial meliputi bimbingan terhadap kesadaran hukum dan penyuluhan kesehatan. Untuk membantu dalam bimbingan sosial tersebut panti melibatkan pekerja sosial dan petugas dari pusat kesehatan masyarakat (PUSKESMAS) untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan bahaya yang ditimbulkan dari perilaku hubungan seks bebas. c). Pemberian latihan keterampilan praktis

(19)

merupakan sarana pembekalan bagi mantan pelacur dengan harapan mereka memiliki keahlian yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.

Secara garis besarnya proses komunikasi dalam pelayanan dan rehabilitasi warga binaan di Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya dapat dilihat sebagaimana dalam bagan berikut:

!

!

!

!

!

!

!

Gambar 1

Proses Komunikasi dalam Rehabilitasi di dalam Panti Sumber : Diadaptasi dari hasil observasi dan wawancara

!

C. Transisi Identitas Diri Eks WTS di dalam Panti

Sebuah identitas hadir karena manusia butuh untuk mengkategorisasikan sesuatu. Dengan begitu, identitas sosial juga melibatkan pula ketegori dan menetapkan seseorang ke dalam struktur sosial atau wilayah sosial tertentu yang besar dan lebih

WARGA BINAAN-KOMUNIKAN

Penjangkauan

Soaial Pendekatan Asesmen

Awal Penerimaan

1. Rujukan dari panti Bina Insan Bangun Daya.

2. Pendekatan sosial 3. Penyerahan dari

masyarakat

1. penelaahan (pengungkapan masalah) 2. identifikasi

masalah (sumber- sumber) 3. penyusuna

program pelayanan 1.orientasi/

consults 2. Identufikasi 3. Motivasi/

seleksi

1, Registasi 2. Pencatatan

data 3. Pengenalan

program

ISI PESAN

1. Pekerja sosial 2. Tokoh Masyarakat 3. PSM/KT

4. Keluarga 5. SBK,Kecamatan

1. Pekerja Sosial 2. Psikolog 3. Instansi yang

merujuk

1. Pekerja Sosial 2. Psikolog 3. Orang tua

/Keluarga

1. Orang tua /Keluarga 2. Pekerja Sosial 3. Psikolog 4.Dokter

KOMUNIKATOR-PETUGAS

(20)

lama ketimbang situasi partikular lainnya. Sedangkan menurut Burke & Stets (1998), identitas sosial termasuk ke dalam kategorisasi diri dalam kelompok, selain itu lebih terfokus kepada makna yang terkait kategorisasi-diri dalam hal kelompok, dan lebih terfokus pada makna yang terkait dalam menjadi anggota kategori sosial. Dengan penekanan yang lebih besar pada identifikasi kelompok, berfokus pada hasil kognitif seperti ethnosentrisme, atau kohesivitas kelompok.

Menurut Sarben & Allen (1968), identitas sosial juga berfungsi sebagai pengacu keberadaan posisi seseorang berada di mana dia. Berada di tingkatan mana kita berada, posisi seperti apa saja yang keberadaannya sama dengan kita dan mana juga yang berbeda. Teori identitas sosial melihat bahwa suatu identitas sosial selalumengklarifikasikan dirinya melalui perbandingan, tapi secara umumnya, perbandigannya adalah antara in-groups dan out-groups. In-groups biasanya secara stereotype positif sifatnya, selalu lebih baik dibandingkan out-groups.

Dari hasil analisis dan temuan peneliti setelah melakukan wawancara dan obervasi didapatkan suatu gambaran tentang identitas diri sebagai bentuk ekspresi atas perilaku komunikasi dan peneliti anjutkan dengan mengkategorisasikan identitas eksWTS tersebut sebagai konstruk derajat kedua menjadi WTS Sejati/Profesional, WTS Amatir dan WTS Semi Profesional. Hal diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan subjek penelitian yang berkaitan dengan motif alasan subjek bertindak dan memilih menjadi seorang WTS. Dengan demikian bentuk idntitas itu juga mnjadi bagian rujukan sebagai suatu konsep yang mereka bawa dan miliki pada saat di dalam panti. Adapun penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut:

1. Identitas diri WTS Sejati/ Profesional

Peneliti membuat identitas WTS sejati merupakan klasifikasi yang mengindikasikan seorang menjadikan pekerjaan melacur sebagai jalan paling baik dan tidak ada lagi alternatif pekerjaan lain. WTS sejati adalah pelacur yang secara sadar melakukan jenis pekerjaan yang dianggap biasa oleh keluarga dan lingkungannya.

Kebanggaan keluarga akan harta yang banyak dan mempunyai barang- barang yang mewah menjadikan budaya permisif terhadap anggota keluarganya yang berprofesi sebagi pelacur. Bahkan dalam usia masih kanak-

(21)

kanak mereka didandani oleh orangtua mereka dengan dandanan yang seksi dan make-up sebagaimana yang dilakukan orang dewasa.

Selain itu dalam kategori ini kegiatan melacur adalah suatu jalan yang paling memungkinkan dan amat dinikmati sebagai usaha paling efektif dalam mencari uang yang juga sekaligus dapat memuaskan nafsu seksnya. Pada kategori ini ditemukan dari dari beberapa subjek diantaranya Jel, Ien, dan Lid.

Kegiatan dan pilihannya berprofesi wanita tuna susila dalam kategori “pelacur sejati” ternyata juga dipengaruhi oleh seseorang yang menjadi rujukannya.

Dalam konsep interkasi simbolik istilah ini disebut significant other dalam hal ini orang tua, suami dan teman sebaya/sahabat.

2. WTS Amatir

WTS amatir merupakan identitas pelacur yang menjadikan kegiatan melacur dikarenakan karena luapan emosi atas kekecewaan terhadap keluarganya dan ajakan teman sebaya (peer group) atau kelompoknya.

Kekesalan, kesedihan dan untuk memenuhi kebutuhan akan obat-obat terlarang menjadikan pendorong bagi seseorang untuk menjadi seorang wanita tuna susila. Dalam hal ini ditemukan dari subjek Mel, Mis dan Jel.

Menjalankan aktivitas sebagai seorang wanita malam dan pemuas birahi para lelaki ini mereka lakukan bukan semata-mata alasan ekonomi yang utama. Adalah benar ia menjadi PSK sebagai tuntutan ekonomi, namun alasan utama yang paling dominan menjadi pemicunya adalah diawali dari retaknya hubungan dan interaksi di keluarga, salah pergaulan (kebiasaan kumpul- kumpul dan berkunjung ke diskotik dengan kelompoknya atau teman- temannya) sehingga lambat laun menjadi seorang pemakai obat-obat terlarang dan berujung menjadi seorang wanita panggilan.

3. WTS Semi Profesional

WTS semi profesional adalah kategori wanita tuna susila yang menjadikan kegiatan melacur sebagai bagian kelanjutan dari pekerjaannya yang sedang dilakukannya. Sebagaimana subjek Ag yang berprofesi sebagai tukang pijit akan bersedia melayani tamunya apabila setelah memijit tamunya meminta untuk melayani lebih jauh. Subjek lainnya yang peneliti klasifikasikan

(22)

dalam kategori ini adalah An, Mis serta Mel masing-masing mempunyai pekerjaan sebagai SPG (Sales Promotion Girl, Waitres). Pekerjaannya sebagai wanita panggilan merupakan pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilannya yang ternyata mendapat hasil yang cukup besar.

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

(23)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

!

Dari pemaparan dan deskripsi hasil penelitian yang telah dipaparkan tersebut di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa seseorang yang mengoleksi pengalaman dan kebisaan lamanya tersebut, dari segala perilaku sosial dan komunikasi menjadikan dirinya merekam seluruh data koleksi pengalaman dan kebiasaannya sebagai sebuah identitas. Andaikata ia menjalani suatu kehidupan dan kebiasaan baru yang bagi dirinya adalah suatu keterpaksaan seperti halnya para eks WTS harus menjalani masa kehidupan pembinaan di dalam panti pasca penangkapan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini petugas satpol PP, maka tidak serta ert kesadaran dirinya menjadi diri yang baru melainka berada pada suatu transisi identitas yang pada akhirnya apakah bisa menetap dan memelihara kebiasaan lama atau ia akan masuk pada identitas dan kesadaran baru

Dalam hasil riset ini memberikan saran kepada peneliti lain yang setipe dengan hasil riset ini agar dapat dilanjutkan dengan pemodelan atas ragam bentuk penanganan warga binaan secara berkelanjutan sehingga dapat mengembalikan suatu keercayaan diri dan kesiapan adaftasi para eks WTS kepada masyarakat tanpa harus merasa minder dan menjadi kelompok masyrakat termarginalkan

! !

! !

! !

! !

! !

! !

(24)

BAB VI

LUARAN YANG DICAPAI

!

Luaran yang dicapai berisi Identitas luaran penelitian yang dicapai oleh peneliti sesuai dengan skema penelitian yang dipilih.

Jurnal

Pemakalah di seminar

IDENTITAS JURNAL

1 Nama Jurnal Jurnal Ilmu Komunikasi

2 Website Jurnal http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/komunikasi/

index

3 Status Makalah Submitted

4 Jenis Jurnal Jurnal Nasional terakreditasi Sinta 2

4 Tanggal Submit 27-11-2020

5 Bukti Screenshot submit urnal.upnyk.ac.id/index.php/komunikasi/author

!

IDENTITAS SEMINAR

1 Nama Jurnal -

2 Website Jurnal -

3 Status Makalah -

(25)

Pemakalah di seminar

! !

!

BAB VII

RENCANA TINDAK LANJUT DAN PROYEKSI HILIRISASI

!

Minimal mencakup 2 hal ini.

! !

! !

! !

!

4 Jenis Prosiding -

4 Tanggal Submit

5 Bukti Screenshot submit

IDENTITAS HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

1 Nama Karya 2 Jenis HKI 3 Status HKI 4 No Pendaftaran

Hasil Penelitian Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi para peneliti dengan pendekatan kualitatif berparadigma interpretif serta aplikasinya dapat dijadikan sebagai suatu pertimbangkan dalam membuat desain program penanganan masalah kerawanan dan penyimpangan sosial seperti para eks wanita tuna susila ini, terutama dinas sosial dan panti rehabilitasi

Rencana Tindak Lanjut

Rencana tindak lanjut adalah penyiapan makalah untuk dipublikasikan baik dalam forum ilmiah atau dalam bentuk artikel di jurnal-jurnal ilmiah yang bereputasi serta dilanjutkan dengan program pengabdian masyarakat

(26)

DAFTAR PUSTAKA

!

Bongdan, Robert.,& Edwin O. Haroldson. 1979. A Taxonomy of Concept in Communication. New York. Hastings House Publishers

Budiman, M. A. (2013). Pemberdayaan Wanita Tuna Susila (Wts) Melalui Kecakapan Hidup (Life Skill) Keterampilan Salon Tata Kecantikan Rambut (Studi Kasus Di Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning Kota Semarang). Journal of Nonformal Education and Community Empowerment, 2(2), 61–67. https://journal.unnes.ac.id/

sju/index.php/jnfc/article/view/2268/2083

Budyatna M, Nina Mutmainnah. 1994. Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Universitas Terbuka

Denzin, Norman K & Lincoln. 2000. Hanbook of Qualitative Research. USA : Sage Publication

DeVito, Joseph.1997. Komunikasi Antar Manusia.ed.V.terj. Ir.Agus Maulana.

Professional Books

Effendy, Onong U. 1990. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya.

--- 1999. Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunikologis, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Frankl, Victor E. 2003. Logoterapi : Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi.

Yogyakarta. Kreasi Wacana

Garna, K. Judistira. 1992. Metode Penelitian: Pendekatan Kualitatif. Bandung: Primaco Akademika.

Moleong, Lexy. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya Stephen W. 1999. Theories of Human Communications, sixth Edition. New Mexico:

Wodsworth Publishing Company.

Rakhmat, Jalaluddin.1984. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya

---,. 2000. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi, Bandung: Remaja Rosda Karya

Ramadhani, W. S., Sulastri, S., & Nurhaqim, S. A. (2017). Proses Rehabilitasi Sosial Wanita Tuna Susila Di Balai Rehabilitasi Sosial Karya Wanita (Brskw) Palimanan Kabupaten Cirebon. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 241–245. https://doi.org/10.24198/jppm.v4i2.14292

Rohim, S. (2010). Konsep Diri Eks Wanita Tuna Susila Di Panti Sosial. Jurnal Ilmu Komunikasi UPNYK, 8(1), 103566.

(27)

Rohim, Syaiful. (2015). Self-Conception of The Vagrants in Jakarta. KOMUNITAS:

INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE, 7(1), 52–57. https://doi.org/10.15294/komunitas.v7i1.3595

Rohim, Syaiful. (2020). Vagrants’ Communication Behavior in Interpersonal Relations in Jakarta. Buletin Al-Turas, 26(2), 367–382. https://doi.org/10.15408/

bat.v26i2.15793

Wahyuni, T. M. (2018). Komunikasi Interpersonal Mantan Wanita Tuna Susila ( WTS ) Di Kelurahan Dupak Bangunrejo

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

! !

(28)

LAMPIRAN

! !

Luaran Jurnal

Submit di Jurnal Ilmu Komunikasi (JIK) SINTA 2

(29)

! !

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

Komunikasi dan Transisi Identitas Diri Eks WTS Penghuni Panti !

Rehabilitasi

!

Syaiful Rohim

Dosen Universitas Muhammadiyah Prof.Dr Hamka Jakarta Indonesia Jl Limau II Kebayoran BAru Jakarta Selatan

[email protected] 08159349713

Abstract

!

The purpose of this study is to explore the phenomenon of communication in the rehabilitation program as well as the change in identity and self of ex-prostituted women after experiencing an arrest by policeman (Satpol PP). By using a qualitative approach as a tool of analysis in this research activity, by tracing the changes in self-concept or changes in psychological and awareness experienced by a former prostitute after being caught in a “raid” operation and put into a rehabilitation. This study uses a qualitative approach, as a research procedure that produces descriptive data in the form of written or spoken words from people and behavior that can be observed. The use of an interpretive approach in this study is also considered appropriate and in accordance with the characteristics of the selected research subjects. Ex-prostituted women are human being who have normal mental and mindset, so that everything they do is always based on their subjective awareness. The results of this research show that former prostitutes or other names are called slut, they reformulate their physical, psychological and social self-existence as a new identity after their arrest and is part of a form of identity transition before redefining and adapting in society

Keyword: Communication, rehabilitation, ex-prostitude identity

! !

Abstrak

Tujuan penelitian ini menelusuri fenomena komunikasi dalam program rehabilitasi serta perubahan identitas dan diri eks Wanita Tuna Susila setelah mengalami peristiwa penangkapan oleh petugas penertiban (satpol PP). Dengan menggunakan pendekatan kualititatif sebagai pisau analisis dalam kegiatan penelitian ini, dengan menelusuri perubahan konsep diri atau perubahan psikologis dan kesadaran yang dialami seorang mantan WTS setelah tertangkap dalam operasi “razia” dan dimasukkan ke dalam panti rehabilitasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penggunaan pendekatan interpretif dalam penelitian ini juga dinilai tepat dan sesuai dengan karakteristik subyek penelitian yang dipilih. Eks Wanita Tuna Susila adalah manusia yang memiliki mental dan pikiran normal, sehingga setiap apa yang dilakukan senantiasa atas kesadaran subyektifnya. Adapaun hasil riset ini bahwa eks wanita tuna susila atau terdapat julukan lain disebut sebagai pelacur, mereka mereformulasi keberadaan diri secara fisik, psikis dan sosialnya sebagai identitas baru pasca penangkapan dan merupakan bagian bentuk transisi identitas sebelum melakukan redefinisi dan adaptasi di masyarakat

Kata Kunci: Komunikasi, Rehabilitasi, identitas Eks WTS


!

! !

!

(30)

! !

!

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

!

Pendahuluan

Menjadi seorang yang baik di mata persepsi dan penilaian seorang manusia adalah hal yang paling diharapkan oleh setiap manusia. Sebagai makhlk yang senantiasa membutuhkan pengakuan dalam berinteraksi. Sebagaimana sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik baiknya manusia adalah yang paling baik bagi sesamanya, bermakna kita akan dikatakan bermanfaat manakala dapat memberi kemanfaatan bagi manusia yang lainnya. Akibat dari peran dan kemanfaatan itulah yang kemuadian seseorang dijuluki dengan sebutan kebaikannya.

Identitas yang serta merta menjadi bagian dari julukan yang diberikan masyarakat terhadap diri kita akan bermakana dan berpengaruh terhadap perilaku dan aktivitas sosial dalam sisem sosialnya. Terlebih julukan itu akan memberikan suatu predikat yang melekat dari seseorang. Julukan pelacur, lonte, wanita tuna susila adalah beberapa julukan atas identitas seseorang yang merujuk pada sebagaian kalangan wanita yang memilih berprofesi sebagai penjaja kenikmatan seksual yang diperjualbelikan dengan sebagai aktivitas pekerjaannya.

Dalam sejarah keberadaannya pemilihan pekerjaan atau profesi menjadi pelacur atau pekerja seks komersial ini, merupakan jenis profesiyang juga sejalan dengan peradaban manusia sejak zaman dulu.Telah banyak riset-riset tentang keberadaan dan eksistensi para PSK dalam berbagai ranah ilmu sosial dan humaniora dan juga dalam tradisi keilmuan komunikasi yang tentu dengan berbagai ragam pendekatan dan metodologi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya tentang Proses Rehabilitasi Sosial Wanita Tuna Susila Di Balai Rehabilitasi Sosial Karya Wanita (Brskw) Palimanan Kabupaten Cirebon yang mengatakan bahwa kebanyakan kasus para WTS yang sudah mengikuti rehabilitasi akan kembali lagi menjadi WTS (Ramadhani et al., 2017). Dengan demikian peneliti tertarik untuk melihat bagaimana transisi identitas setelah memperoleh atau mengikuti rehabilitasi.

! !

(31)

! !

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

!

Peneliti lainnya yang juga meriset tema-tema ini sebagaimana dilakukan oleh Rohim (2010) yang mengatakan bahwa Penelitian dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi sebagai teknik dalam mengumpulkan data.

Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep diri mantan pelacur adalah negative sebelum masuk rehabilitasi(ketika menjadi pelacur) berdasarkan motivasi subjek untuk menjadi pelacur, dan juga sebagai citra diri akibat persepsi fisik, mental, dan social. (S. Rohim, 2010)

Sebagai problem sosial pelacuran perlu penanganan yang serius agar tidak bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun dan tidak berdampak negatif pada kehidupan masyarakat. Salah satunya yaitu dengan memberdayakan Wanita Tuna Susila (WTS) melalui penbinaan-pembinaan kecakapan hidup (Life Skill). (Budiman, 2013).

Penelitian yang mengkaji tentang self disclosure tentang mantan WTS pernah dilakukan oleh Teguh sebagai hasil dari tesis nya yang mengatakan bahwa komunikasi interpersonal mantan wanita tuna susila dengan warga di Kelurahan Dupak Bangunrejo, Kecamatan Krembangan, Surabaya terdapat beberapa temuan penelitian yaitu, terjalinnya hubungan komunikasi yang efektif ketika mantan wanita tuna susila bersikap terbuka, keterbukaan mantan wanita tuna susila dapat mengubah sikap dan perilaku warga sekitar, serta terdapat komunikasi dalam konteks ruang dan waktu (Wahyuni, 2018). Oleh karena itu hasil riset ini pun tentu akan menambah khasanah keilmuan komunikasi yang mengambil sub tema dan subjek riset dari komunitas pelacuran atau Pekerja Seks Komersial atau wanita tuna susila

Disisi yang lain perlakuan dan pengakuan keberadaan dari para WIS ini di kalangan masyarakan dan sistem sosial kita masih dihadapkan pada kompleksitas masalah yang dlam ragam aspek baik agama, budaya dan produk hukum belum banyak memberikan soslusi atas berbagai kerumitan persoalan yang dihadapi. Seperti halanya ekonomi yang menjadi kebutuhan dasar harus dipertaruhkan, berhadapan secara diametral dengan aturan agama dan budaya yang membatasi pilihan profesi menjadi WIS ini.

(32)

! !

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

!

Dilema dan menjadi pelik apabila harus dijadikan sebagai suatu pengambilan keputusan, karena menjadi seorang WTS adalah alternatif cepat dan singkat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tapi ia harus mereproduksi kebatinan dan identitas dirinya dengan aspek baik buruk dan tanggapan sosial masyarakat yang menyebutnya sebagai perilaku yang menyimpang.

Memilih berkerja menjadi WTS adalah bagian pilihan rasional tentunya bagi mereka yang dihadapkan pada mendesaknya berbagai kebutuhan dasar yang semuanya berada pada wilayah persepsi. Sebagaimana disepakati oleh ilmuan komunikasi bahwa inti dari komunikasi adalah persepsi. Maka persepsi inilah yang mendistribusi pada identitas diri seseorang sehingga pada akhirnya ia akan mengambil keputusan dan aktivitas komunikasi dalam berbagai aktivitas sosialnya. Sebagaimana (Syaiful Rohim, 2015), mengatakan:

Social life in the view of the symbolic interaction means a human interaction by using a symbol that is always used by people to communicate and interact to each other. In these interactions also occur efforts to define and interpret to each other between one action with the other”.

!

Walaupun pada suatu titik akan berhadap-hadapan dengan perlakuan tidak menyenangkan dengan kelompok masyarakat lainnya yang menganggap tidak sejalan dengan tata aturan dan norma yang berlaku sebagai sebuah kesepakatan. Penangkapan yang dilakukan oleh aparat menjadikan konsep dan gambaran mengenai persepsi atas diri, dan kelompok sosialnya mengalami perubahan, apalagi kehadirannya di dalam pati menjadikan ia sebagai individu baru untuk meredefinisi konses diri yang sudah ia miliki selama menjadi seorang waita tuna susila. Oleh karena itu riset ini menjadi penting untuk melihat sisi subjektif dari pelaku untuk memahami gambaran identitas sebagai realitas subjektif mengenani identitas mereka.

! !

! !

!

(33)

! !

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

!

Metode Peneltian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan ini diawali dengan aktivutas akademik peneliti dengan menggunakan cara berpikir secara induktif, dimana peneliti diharuskan menangkap berbagai fakta sosial melalui pengamatan di lapangan. Didalam penelitian kualitatif nantinya peneliti akan mengolah informasi yang didapat dilapangan dengan cara menjabarkan apa yang didapatkan oleh peneliti secara kualitatif atau tidak secara general mengingat kualitatif adalah mengolah hasil wawancara yang dibahas secara mendalam.

Untuk mengungkap realitas eks WTS dengan karakteristik sebagaimana yang telah disebutkan di atas, diperlukan pendekatan interpretif, karena pendekatan tersebut memberi ruang bagi setiap peneliti untuk melakukan ekplorasi (penggalian) data penelitian secara alami atau lebih dekat dan lama bersama subyek penelitian (emik).

Kedekatan dan kelamaan peneliti bersama subyek penelitian memungkinkan peneliti dapat mengungkap realitas-realitas yang khas dan tersembunyi dari komunitas yang unik dalam hal ini sisi subjektif para mantan eks wanita tuna susila yang berinteraksi di dalam panti, sehingga hasil penelitian ini lebih maksimal dan kaya akan data-data otentik.

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif menurut Lofland (dalam Moleong, 2000:112) adalah berasal dari kata-kata dan tindakan. Penelitian ini pun menjadikan pernyataan (ungkapan) dan tindakan sadar WTS sebagai sumber data utamanya. Teknik pengumpulan data ini juga biasa dikenal dengan observasi. Dalam penelitian ini dilakukan observasi non-partisipant. Sebagaimana yang dikatakan oleh Miles dan Huberman (2014) terdapat tiga tahap dalam menganalisis data yaitu; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi (Syaiful Rohim, 2020).

Teknik pengamatan menurut Denzin (1978:183) adalah strategi lapangan yang secara simultan memadukan analisis dokumen, wawancara dengan responden dan informan, partisipasi dan observasi langsung serta instrospeksi.

! !

(34)

!

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

Di samping pengamatan berperan serta, penelitian ini juga menggunakan wawancara mendalam sebagai salah satu teknik pengumpulan data. Banyak hal yang dapat diperoleh dari subyek penelitian dengan cara ini yakni peneliti dapat mengetahui pandangan, pendapat, serta perasaan eks wanita tuna susila sebagai warga binaan, baik pandangan tentang dirinya maupun respon dan sikapnya terhadap orang lain. Peneliti juga menggunakan triangulasi metode sebagai upaya dan cara untuk membandingkan informasi, data, dengan cara metode yang berbeda seperti membandingkan data yang diperoleh dari interview dengan observasi.!

!

Hasil dan Pembahasan

A. Profil Panti dan Subjek Penelitian

Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya merupakan lembaga sosial pemerintah daerah yang berada di bawah Dinas Bina Mental dan Spiritual Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta yang menangani masalah pelacuran. Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya terletak di daerah Ibu Kota Jakarta yaitu di Jakarta Barat tepatnya di Jl. Kembangan Raya no. 3 Kedoya Jakarta Barat. Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya dibangun di atas tanah seluas 24.678 M² dengan luas bangunan sebesar 5.512 M². Masyarakat di sekitarnya lebih mengenal terhadap panti tersebut dengan sebutan penjara wanita.

Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya bertugas menyelenggarakan kegiatan resosialisasi tuna susila yang meliputi identifikasi dan asesmen, bimbingan dan pelatihan serta penyaluran dan pembinaan lanjut. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai dalam proses pembinaan atau rehabilitasi tersebut yaitu terbina dan berkembangnya tata kehidupan dan penghidupan warga binaan sosial yang diliputi oleh pulihnya rasa harga diri, kepercayaan diri, kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dan normatif dalam kehidupan bermasyarakat.

!

!

(35)

!

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

Adapun subjek penelitian dalam riset ini terdiri dari 10 orang eks wanita tuna susila yang telah dan sedang mendapat penanganan dan pembinaan dalam program rehabilitasi di dalam panti baik dilihat dari latar agama, status, serta lasan menjadikan dirinya pernah menjadi wanita tuna susila, sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut:

!

Tabel 1

Profil Subjek Penelitian

Sumber ;Hasil Wawancara dan Observasi

!

B. Proses Komunikasi dalam Program Rehabilitasi

Proses komunikasi dalam kegiatan pembinaan terhadap para eks wanita tuna susila di dalam panti setelah mereka menjadi warga binaan terjalin dengan bentuk dan ragam komunikasi. Baik dilakukan secara interpersonal ataupun komunikasi terstruktur ketika mereka berada pada berbagai kegiatan-kegiatan program pembinaan mental seperti kegiatan keagamaan dan materi pembinaan mental lainnya.

!

!

No

!

Nama

!

Usia

!

Status

!

Agama

!

Pendidikan

!

Lama jadi WTS

!

Alasan

1 Sis 28 Lajang Kristem - 4 TAHUN Kerja

2 Mis 31 Janda Islam SMA 2 TAHUN Kerja

3 Fir 23 Lajang Islam SMA 2 TAHUN Gaul

4 Del 22 Lajang Islam SMP 1 TAHUN Gaul

5 Jel 24 Janda Islam SMP 3 TAHUN Cerai

6 Ros 30 Nikah Islam SMP 3 TAHUN Kerja

7 Lid 28 Janda Kristen SMP 5 TAHUN Kerja

8 Mel 29 Janda Islam SMEA 2 TAHUN Cerai dan kerja

9 Ien 25 Janda Islam SMP 3 TAHUN Gaul

10 Sam 24 Lajang Islam SD 3 TAHUN Pergaulan

(36)

!

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

Secara garis besar usaha pelayanan dan rehabilitasi di Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya sebagaimana dijelaskan dibawah ini yang meliputi:

1. Penjangkauan Sosial

Istilah penjangkauan sosial tidak lain adalah sebuah bahasa penghalusan dari razia yang dilakukan oleh pemerintah daerah (PEMDA) melalui satuan polisi pamong praja. Setelah operasi razia dilakukan terhadap bebagai masalah sosial seperti gelandangan, pengemis, pelacur, dan lainnya yang nantinya semua masalah sosial tersebut dirujuk ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya Kedoya atau yang lebih dikenal dengan penjara

2. Pendekatan Awal

Setelah penjangkauan sosial dilaksanakan langkah yang kedua yaitu pendekatan awal. Pendekatan awal ini perlu dilaksanakan karena untuk mengetahui tentang diri mantan pelacur atau yang biasa disebut dengan wanita binaan sosial. Dalam pendekatan awal ini mantan pelacur dipersilakan untuk mengkonsultasikan diri pribadinya kepada petugas yang berada di panti tersebut, sehingga petugas dapat mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dialami oleh mantan pelacur yang nantinya untuk diberikan motivasi maupun seleksi mengikuti kegiatan rehabilitasi.

3. Penerimaan

Setelah dilakukan pedekatan awal baru dilakukan penerimaan terhadap mantan pelacur untuk dilakukan registrasi dan pendaftaran serta pencatatan data untuk mendapatkan fasilitas perlengkapan dari Panti Sosial Bina Karya Wanita seperti seragam panti dan perlengkapan lainnya demi kelancaran dan sarana pendukung pelayanan rehabilitasi tersebut.

4. Asesmen

Asesmen merupakan pengukuran yang digunakan untuk mengetahui dan mengungkap kondisi psikologis seseorang. Asesmen bisa berupa interview, observasi dan wawancara serta tes psikologis.

! !

(37)

!

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220 5. Rehabilitasi

Setelah langkah-langkah tersebut di atas mulai dari penjangkauan sosial, pendekatan awal, penerimaan, dan asesmen diberikan, maka langkah selanjutnya yaitu pelayanan atau kegiatan rehabilitasi terhadap mantan WTS tersebut Adapun program-program pembinaan dan rehabiltasi dilakukan dengan: a). Pemeliharaan kesehatan yang diberikan kepada mantan pelacur meliputi pemerikasan secara umum diantaranya pemerikasan kondisi badan secara umum misalnya pemeriksaan gigi, tes pengambilan sampel darah, lambung, dan lain sebagainya.

b). Pemberian materi bimbingan sosial meliputi bimbingan yang berkaitan erat dengan permasalahan kehidupan di masyarakat. Selain itu materi bimbingan sosial meliputi bimbingan terhadap kesadaran hukum dan penyuluhan kesehatan. Untuk membantu dalam bimbingan sosial tersebut panti melibatkan pekerja sosial dan petugas dari pusat kesehatan masyarakat (PUSKESMAS) untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan bahaya yang ditimbulkan dari perilaku hubungan seks bebas. c). Pemberian latihan keterampilan praktis merupakan sarana pembekalan bagi mantan pelacur dengan harapan mereka memiliki keahlian yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.

Secara garis besarnya proses komunikasi dalam pelayanan dan rehabilitasi warga binaan di Panti Sosial Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Kedoya dapat dilihat sebagaimana dalam bagan berikut:

! !

! !

! !

! !

! !

(38)

!

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

!

Gambar 1

Proses Komunikasi dalam Rehabilitasi di dalam Panti

!

!

!

!

!

!

!

Sumber : Diadaptasi dari hasil observasi dan wawancara C. Transisi Identitas Diri Eks WTS di dalam Panti

Sebuah identitas hadir karena manusia butuh untuk mengkategorisasikan sesuatu.

Dengan begitu, identitas sosial juga melibatkan pula ketegori dan menetapkan seseorang ke dalam struktur sosial atau wilayah sosial tertentu yang besar dan lebih lama ketimbang situasi partikular lainnya. Sedangkan menurut Burke & Stets (1998), identitas sosial termasuk ke dalam kategorisasi diri dalam kelompok, selain itu lebih terfokus kepada makna yang terkait kategorisasi-diri dalam hal kelompok, dan lebih terfokus pada makna yang terkait dalam menjadi anggota kategori sosial.

Penjangkauan

Soaial Pendekatan Penerimaan Asesmen

Awal

WARGA BINAAN-KOMUNIKAN

1. Rujukan dari panti Bina Insan Bangun Daya.

2. Pendekatan sosial 3. Penyerahan dari

masyarakat

1. penelaahan (pengungkapan masalah) 2. identifikasi

masalah (sumber- sumber) 3. penyusuna

program pelayanan 1.orientasi/

consults 2. Identufikasi 3. Motivasi/

seleksi

1, Registasi 2. Pencatatan

data 3. Pengenalan

program

ISI PESAN

1. Pekerja sosial 2. Tokoh Masyarakat 3. PSM/KT

4. Keluarga 5. SBK,Kecamatan

1. Pekerja Sosial 2. Psikolog 3. Instansi yang

merujuk

1. Pekerja Sosial 2. Psikolog 3. Orang tua

/Keluarga

1. Orang tua /Keluarga 2. Pekerja Sosial 3. Psikolog 4.Dokter

KOMUNIKATOR-PETUGAS

(39)

!

Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. ..., No. ..., Month 20XX, pp. ...-...

P-ISSN: 1693-3028, E-ISSN: 2407-8220

!

Dengan penekanan yang lebih besar pada identifikasi kelompok, berfokus pada hasil kognitif seperti ethnosentrisme, atau kohesivitas kelompok. Menurut Sarben &

Allen (1968), identitas sosial juga berfungsi sebagai pengacu keberadaan posisi seseorang berada di mana dia. Berada di tingkatan mana kita berada, posisi seperti apa saja yang keberadaannya sama dengan kita dan mana juga yang berbeda. Teori identitas sosial melihat bahwa suatu identitas sosial selalumengklarifikasikan dirinya melalui perbandingan, tapi secara umumnya, perbandigannya adalah antara in-groups dan out- groups. In-groups biasanya secara stereotype positif sifatnya, selalu lebih baik dibandingkan out-groups.

Dari hasil analisis dan temuan peneliti setelah melakukan wawancara dan obervasi didapatkan suatu gambaran tentang identitas diri sebagai bentuk ekspresi atas perilaku komunikasi dan peneliti anjutkan dengan mengkategorisasikan identitas eks WTS tersebut sebagai konstruk derajat kedua yang diidentifikasi dari pernyataan alasan dan motif subjek penelitian ketik memutuskan menjadi WTS. Kemudia penelitia buat dalam bentuk tipologi menjadi WTS Sejati/Profesional, WTS Amatir dan WTS Semi Profesional. Hal diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan subjek penelitian yang berkaitan dengan motif alasan subjek bertindak dan memilih menjadi seorang WTS. Dengan demikian bentuk idntitas itu juga mnjadi bagian rujukan sebagai suatu konsep yang mereka bawa dan miliki pada saat di dalam panti. Adapun penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut:

1. Identitas diri WTS Sejati/ Profesional

Peneliti membuat identitas WTS sejati merupakan klasifikasi yang mengindikasikan seorang menjadikan pekerjaan melacur sebagai jalan paling baik dan tidak ada lagi alternatif pekerjaan lain. WTS sejati adalah pelacur yang secara sadar melakukan jenis pekerjaan yang dianggap biasa oleh keluarga dan lingkungannya.

Kebanggaan keluarga akan harta yang banyak dan mempunyai barang-barang yang mewah menjadikan budaya permisif terhadap anggota keluarganya yang

Referensi

Dokumen terkait

104 No Nama Jenis Usaha Bidang Industri Umur Usaha 1 Narida Gula Aren Oalahan 8 2 Kurniawan Wisata Pantai Pariwisata 15 3 Sumardi Wisata Pantai Pariwisata 10 4 Suriyanto