BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak awal abad ke-21, dunia telah menghadapi beberapa pandemi yang signifikan, termasuk SARS, MERS, Flu Babi, Ebola, dan yang saat ini masih berlangsung, yaitu COVID-19. Dalam konteks spesifik famili coronaviridae, dua pandemi besar telah terjadi: Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Pada tahun 2002, pandemi SARS pertama kali muncul di Tiongkok. Virus SARS-CoV menyebabkan sekitar 8.000 kasus dengan mortalitas (angka kematian rata-rata) sekitar 10%. Sementara itu, MERS muncul pada tahun 2012 di kawasan Timur Tengah dan disebabkan oleh virus MERS-CoV. Total kasus MERS mencapai sekitar 1.000, dengan total akumulasi kasus sekitar 10.000. Mortalitas MERS lebih tinggi, mencapai sekitar 40%. Siklus hidup SARS-CoV-2 dimulai ketika protein Spike (S) berikatan dengan reseptor Angiotensin Converting Enzyme – 2 (ACE-2) di dalam sel inang.
Selanjutnya, partikel virus menggunakan reseptor sel endosom untuk memasuki sel dan difasilitasi oleh Transmembrane Serine Protease (TMPRSS2)
COVID-19 memiliki kesamaan genetik dengan SARS dan MERS-CoV, yang sebelumnya menyebabkan pandemi beberapa tahun lalu. Namun, setelah evaluasi genomik yang dilakukan di Tiongkok, ditemukan bahwa SARS-CoV-2 memiliki kesamaan sebesar 99% dengan virus baru yang termasuk dalam kelompok bersifat lestari (conserved) dan memiliki kesamaan dengan bat-derived severe acute respiratory syndrome (SARS)-like coronaviruses sebesar 79%. SARS dan MERS pernah menyebabkan epidemi di Hongkong dan negara-negara Timur Tengah. Proses infeksi COVID-19 tidak jauh berbeda dengan SARS-CoV, yang menjadi epidemi sebelumnya. Pada manusia, virus ini menginfeksi melalui saluran pernafasan, terutama alveoli pada paru-paru. SARS-CoV-2 berikatan dengan reseptor dan membentuk jalur untuk masuk ke dalam sel. Glikoprotein yang terdapat pada ujung selubung akan mengikat pada reseptor tersebut.
Diperkirakan virus ini berikatan dengan Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE 2) sebagai reseptor masuk. Selanjutnya, akan terjadi duplikasi materi genetik dan
sintesis protein yang dibutuhkan, hingga terbentuk virion baru yang muncul di permukaan sel.
Berkembangnya imunitas terhadap suatu patogen melalui infeksi alami merupakan proses bertahap yang biasanya berlangsung selama 1-2 pekan. Ketika tubuh terpapar virus atau antigen lain, respon pertahanan bawaan (innate) akan segera aktif. Makrofag, neutrofil, dan sel dendrit adalah bagian dari respon ini.
Mereka memperlambat perkembangan virus dan mencegahnya bereplikasi atau menyebabkan gejala. Setelah itu, tubuh mengaktifkan respon adaptif, yang melibatkan produksi antibodi spesifik yang mengikat patogen. Imunoglobulin adalah jenis protein antibodi ini. Sel T juga berperan dalam mengenali dan mengeliminasi sel-sel yang terinfeksi virus (imunitas seluler). Respon adaptif ini membantu membersihkan virus dari tubuh dan mencegah penyakit yang lebih parah atau reinfeksi oleh virus yang sama. Kehadiran antibodi dalam darah sering digunakan sebagai indikator proses ini. Vaksin menjadi salah satu solusi terbaik untuk meredam pandemi COVID-19. Meskipun beberapa perusahaan bioteknologi telah berhasil memproduksi vaksin, pengembangannya terus berlanjut. Salah satu alasan adalah adanya mutasi pada virus itu sendiri.
Pengobatan atau terapi yang spesifik untuk COVID-19 masih belum ditemukan. Saat ini, yang tersedia hanyalah terapi simtomatik dan oksigenasi.
Beberapa obat telah digunakan secara klinis untuk mengatasi COVID-19, termasuk remdesivir, klorokuin, lopinavir, ritonavir, favipiravir, umifenovir, dan oseltamivir. Meskipun mekanisme persisnya sebagai antivirus terhadap SARS- CoV-2 belum sepenuhnya dipahami, klorokuin dan hidroklorokuin dapat digunakan karena meningkatkan pH endosom dan menghambat glukosilasi reseptor ACE-2, sehingga mengganggu ikatan virus dengan reseptor. Remdesivir juga sering digunakan karena mampu menghambat proses replikasi virus melalui terminasi prematur transkripsi RNA. Obat ini telah disetujui oleh FDA berdasarkan pengujian in vitro. Selain itu, terapi plasma konvalesen juga menjadi pilihan. Plasma ini berasal dari donor yang telah sembuh dari COVID-19. Plasma convalescent mengandung antibodi terhadap SARS-CoV-2 dan membantu menekan virus serta meredakan respon peradangan. Pasien yang menerima plasma convalescent dapat memiliki titer antibodi yang lebih tinggi terhadap SARS-CoV-
2, dan kondisi klinis mereka cenderung lebih baik jika plasma diberikan dalam 72 jam setelah diagnosis COVID-19.
Proses terapi untuk pasien COVID-19 yang tergolong mahal dan membutuhkan penelitian lebih lanjut, maka upaya lain yang dapat dilakukan adalah menemukan obat (vaksin) atau penawar untuk pasien COVID-19. Setiap penyakit pada dasarnya memiliki penawar, hal tersebut di jelaskan dalam QS.
Yasin ayat 36:
ْمِهِسُفْنَا ْنِمَو ُضْرَ ْلا ُتِب ُت اّمِم اَهّلُك َجاَوْزَ ْلا َقَلَخ ْيِذّلا َنٰحْبُس ْۢن َنْوُمَلْعَي َل اّمِمَو ٣٦
Artinya: “Maha Suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang- pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”
Berdasarkan kitab tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik itu berupa laki-laki dengan perempuan, kematian dengan kehidupan, penyakit dengan penawar (obat) dan lain sebagainya. Sedangkan menurut Abu Jafar dalam kitab tafsir Thabari, maksud dari ayat ini adalah, Maha Suci Tuhan yang menciptakan bermacam-macam tumbuhan bumi, dan juga diri mereka sendiri. Allah menciptakan jenis laki-laki dan perempuan dari keturunan mereka dan dari makhluk-makhluk yang tidak mereka ketahui. Allah juga menciptakan pasangan-pasangan dari apa-apa yang disandarkan orang-orang musyrik kepada Allah dan yang mereka jadikan sebagai sekutu bagi Allah.
Pengembangan vaksin konvensional melibatkan penelitian yang memakan biaya tinggi dan memerlukan waktu yang lama. Vaksin konvensional, seperti yang menggunakan virus yang dilemahkan atau diinaktivasi, memerlukan uji coba laboratorium yang berbasis wet lab. Namun, saat ini telah ada pengembangan berbagai perangkat lunak dan platform bioinformatika yang memungkinkan perancangan vaksin secara efisien. Dengan memanfaatkan bioinformatika, peneliti dapat menemukan kandidat epitope dan merancang konstruksi plasmid vaksin.
Pendekatan ini mengurangi biaya dalam tahap penemuan dan simulasi untuk menguji antigenisitas dan alergenisitas kandidat vaksin pada tahap awal.
Keunggulan penelitian ini adalah penggunaan database dan analisis menggunakan perangkat komputer. Selain itu, dengan memanfaatkan sekuen peptida, diharapkan efek samping yang serius dapat diminimalkan sehingga hasil yang optimal dapat dicapai.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadpoor, P., & Rostaing, L. (2020). Why the immune system fails to mount an adaptive immune response to a COVID-19 infection. Transplant
International, 33(7), 824–825.
Al-Tawfiq, J. A. (2020). Asymptomatic coronavirus infection: MERS-CoV and SARS-CoV-2 (COVID-19). Travel Medicine and Infectious Disease, 35(February), 101608.
McCoy, K., Peterson, A., Tian, Y., & Sang, Y. (2020). Immunogenetic association underlying severe covid-19. Vaccines, 8(4), 1–13.
Temsah, M. H., Al-Sohime, F., Alamro, N., Al-Eyadhy, A., AlHasan, K., Jamal, A., Al-Maglouth, I., Aljamaan, F., Al Amri, M., Barry, M., Al-Subaie, S.,
& Somily, A. M. (2020). The psychological impact of COVID-19 pandemic on health care workers in a MERS-CoV endemic country.
Journal of Infection and Public Health, 13(6), 877–882.