• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas 9 Psikologi Islam 3 Kelompok 2

N/A
N/A
Nazyra Syafa

Academic year: 2024

Membagikan "Tugas 9 Psikologi Islam 3 Kelompok 2"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

SIFAT-SIFAT YANG DAPAT MENJADI FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP KESEHATAN MENTAL

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi Islam 3 Dosen Pengampu Lilim Halimah, BHSC, M.HSPY.

Oleh:

Elreisa Widyanita Putri Nazyra Syafa Pramesti Diadara

Rara Syahna Raissa Lubis

10050021268 10050021269 10050021272

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

BANDUNG 2023

(2)

SIFAT-SIFAT YANG DAPAT MENJADI FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP KESEHATAN MENTAL

Terdapat beberapa sifat yang dapat berkontribusi terhadap kesehatan mental, di antaranya adalah sabar, syukur, qana'ah, zuhud, muru’ah, dan ikhlas. Berikut adalah penjelasan keenam sifat tersebut beserta aspek dan indikatornya.

1. Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab, yakni ash-shabru yang secara etimologi berarti menahan dan mengekang (al-babs wa al-kuf). Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa sabar adalah ciri khas manusia, sementara hewan tidak memiliki sifat sabar sebab hewan diciptakan untuk patuh terhadap hawa nafsu, dan hawa nafsu lah satu-satunya yang mendorong hewan untuk bergerak atau tetap diam, dan hewan pun tidak memiliki kekuatan untuk menolak hawa nafsunya.

Sabar secara psikologis merupakan mekanisme pertahanan yang dinamis guna mengatasi ujian yang menimpa manusia sebagai hamba dan khalifah di muka bumi (Ernadewati & Deswati, 2019). Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 155:

ْﻢُﻜﱠﻧَﻮُﻠْﺒَﻨَﻟَو

ٍء ْﻲَﺸِﺑ

َﻦﱢﻣ

ِف ْﻮَﺨْﻟا

ِع ْﻮُﺠْﻟاَو

ٍﺺْﻘَﻧَو

ِلاَﻮْﻣَ ْﻻا َﻦﱢﻣ

ِﺲُﻔْﻧَ ْﻻاَو

ِۗت ٰﺮَﻤﱠﺜﻟاَو

ِﺮﱢﺸَﺑَو

َﻦْﯾِﺮِﺒ ّٰﺼﻟا

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Menurut Al-Ghazali, dimensi sabar dibagi menjadi dua, yaitu sabar fisik dan sabar psikis. Indikator sabar dalam dimensi fisik dicirikan dengan kemampuan menahan rasa sakit dan kemampuan memberi makna dalam keadaan fisik apapun. Sementara, dimensi psikis dicirikan dengan kemampuan menjaga diri, merasa nyaman dengan kondisi apapun, kemampuan menahan diri, berani, santun, lapang dada, menyimpan rahasia, tidak materialis, dan menerima apa adanya (Sukirno, 2019).

Subandi (2011) dalam (Sukirno, 2019) menyatakan lima aspek kesabaran, antara lain:

1. Pengendalian diri, di mana individu mampu menahan emosi dan keinginan, berpikir panjang, memaafkan kesalahan, dan toleransi terhadap penundaan

(3)

2. Ketabahan yang dicirikan dengan kemampuan bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh

3. Kegigihan, dalam arti ulet dan bekerja keras untuk mencapai tujuan dan mencari pemecahan masalah

4. Menerima kenyataan dengan ikhlas dan bersyukur 5. Sikap tenang atau tidak terburu-buru

2. Syukur

Kata syukur berasal dari bahasa Arab, yakni al-syukuratau al-syukru yang secara etimologi berarti berterima kasih atau ucapan terima kasih (Enghariano, 2019). Syukur merupakan situasi di mana individu merasakan perasaan senang atau puas terhadap apa yang diterimanya, sehingga syukur menghasilkan kondisi psikologi positif yang mampu menguatkan dan meningkatkan kesehatan mental.

Allah SWT menyatakan secara eksplisit dalam Al-Quran bahwa manfaat dari bersyukur itu kembali kepada pelakunya, sedangkan Allah SWT tidak mendapatkan manfaat sama sekali, bahwa Dia tidak butuh sedikit pun syukurnya makhluk. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Naml ayat 40:

Artinya: “Siapa yang pandai bersyukur, ia bersyukur untuk dirinya sendiri.

Dan siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Adapun indikator syukur menurut Watkins dkk (2003), yakni perasaan berlimpah, mengapresiasi kontribusi orang lain, menghargai kesenangan sederhana, dan mengekspresikan rasa terima kasih. Sedangkan, indikator syukur menurut perspektif Islam yang mengacu pada hadits Rasulullah SAW antara lain:

1. Syukur dalam hati

Syukur dalam hati adalah proses syukur paling awal dan merupakan bentuk syukur yang internal, reseptif, menerima, dan ridha.

Awal dari perilaku syukur ialah mengetahui nikmat. Dengan mengetahui suatu nikmat dari Allah, maka individu dapat merasakan kadarnya, dari mana datangnya, mengenalinya, dan membedakannya.

(4)

2. Syukur secara lisan kepada Allah

Rasulullah SAW bersabda, “Zikir yang paling utama adalah tiada tuhan selain Allah. Dan syukur yang paling utama adalah Alhamdulillah”. Salah satu indikator syukur dengan lisan adalah bersyukur ketika makan. Syukur dengan lisan tidak hanya dengan ucapan alhamdulillah, namun ucapan terima kasih juga termasuk dalam syukur secara lisan.

3. Syukur dalam bentuk perbuatan

Ibn Taymiyah dalam (Rusdi, 2016) menerangkan bahwa salah satu bentuk syukur adalah dengan menyedekahkan hartanya.

3. Qana’ah

Menurut bahasa, kata qana’ah berasal dari bahasa Arab qana’a – qana’an, wa qanaa’atan; radhiya yang berarti puas dengan apa yang telah diterima dan siap menerima apa yang menyertainya. Al-Ghazali mengatakan, orang yang lemah nafsunya dan meninggalkan pencarian sesuatu adalah qani' (orang yang puas dengan status apa adanya). Qana’ah adalah perasaan puas terhadap segala yang dimiliki, perasaan cukup yang merupakan sifat mulia yang mencerminkan harga diri dan menjadi tolak ukur moralitas yang tinggi.

Manusia selalu menghadapi berbagai kenyataan suka dan duka dalam hidupnya. Jika kita tidak memiliki rasa qana’ah, maka kesehatan mentalnya akan selalu terganggu. Terdapat beberapa kriteria atau unsur-unsur yang harus ada dalam qana’ah itu ada 6 menurut Barnawie Umary (1989), yaitu:

1. Berusaha sekuat tenaga.

2. Memohon tambahan yang pantas kepada Allah.

3. Ridho menerima apa yang ada.

4. Sabar menerima ketentuan Tuhan.

5. Tawakal kepada Allah.

6. Tipu daya dunia tiada memperdayainya.

Dengan ketentuan tersebut, apabila seseorang merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan tidak terlalu rakus atau iri terhadap apa yang belum dimilikinya apalagi milik orang lain, maka ia dianugerahi sifat-sifat qana’ah.

Hal ini tidak terjadi pada orang yang selalu menuntut lebih karena hal tersebut tetap menunjukkan dirinya miskin dan meminta sesuai kebutuhan dan

(5)

kemampuannya. Selain itu, qana’ah dalam ketetapan dan keimanan kepada Allah juga diperlukan, tidak bermewah-mewahan, karena kemewahan merupakan tipu daya dunia. Tawakal disini tentu saja dilakukan dengan berusaha semaksimal mungkin.

Dasar qana’ah terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi, antara lain tersurat dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 53:

ﺎَﻣَو

ْﻢُﻜِﺑ

ٍﺔَﻤْﻌﱢﻧ ْﻦﱢﻣ

َﻦِﻤَﻓ

ِ ّٰﷲ اَذِاﱠﻢُﺛ

ُﻢُﻜﱠﺴَﻣ ﱡﺮﱡﻀﻟا

ِﮫْﯿَﻟِﺎَﻓ

َۚنْوُﺮَٔـْﺠَﺗ

Artinya: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”.

Demikian juga dalam sebuah Hadits Nabi yang diriwayatkan Thabrani yang artinya, “Qana’ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan pura (persimpanan) yang tidak akan lenyap”. (Muvid, 2020: 171). Qana’ah juga tersirat dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim (Al-Asqalani, 2009) yang artinya, “Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kaya hati.” Kekayaan hati yang dimaksud adalah qana’ah itu sendiri.

Hamka (1996) memaknai qana’ah dengan menerima cukup dan didalamnya mengandung 5 sikap mental, yaitu:

1. Menerima apa yang ada dengan sukarela

2. Memohon rezeki yang pantas dan terus berusaha 3. Bersabar menerima dengan apa yang dimiliki 4. Berserah diri kepada Tuhan

5. Tidak terlena dengan gemerlap dunia

Konsep qana’ah menurut Hamka memerlukan keikhlasan, kesediaan menerima apa yang diberikan Tuhan, dan sikap selalu berbuat yang terbaik.

Selain itu, kesabaran juga diperlukan jika usaha tidak sesuai harapan. Ketika usaha seseorang membuahkan hasil yang baik, hendaknya ia bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang diberikan. Orang dengan sikap qana’ah tidak menutup kemungkinan untuk memiliki kekayaan dalam jumlah besar, namun bukan berarti mereka puas dengan kekayaan yang dimilikinya.

Qana’ah erat kaitannya dengan rasa syukur. Kedua sikap ini seperti 2 sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Qana’ah dan syukur beriringan.

Qana’ah mewujudkan rasa syukur, begitu juga sebaliknya, syukur membuahkan qana’ah. Syukur dapat dilakukan dengan lisan, hati maupun

(6)

perbuatan. Ungkapan syukur dengan hati adalah keinginan untuk senantiasa berbuat baik. Bersyukur dengan lisan adalah ungkapan rasa terima kasih, dalam bentuk pujian, kepada siapapun. Bersyukur dengan perbuatan adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya.

4. Zuhud

Zuhud berasal dari bahasa arab yaitu zahada-yazhadu-zuhdan yang berarti meninggalkan, tidak suka, dan menjauhkan. Sedangkan secara etimologis, zuhud berasal dari kalimat ragaba ‘ansyai’inwa tarakahu yang berarti tidak tertarik pada suatu hal dan meninggalkannya. Sedangkan secara lafadz zahuda fi asy-syafi'i yang bermakna meninggalkan sesuatu yang tidak dibutuhkan dan jika dikaji pada lafazh zahida fi ad-dunya maka berarti zuhud adalah meninggalkan suatu hal dunia yang halal yang didasari ketakutan akan hisab serta meninggalkan suatu hal dunia yang haram karena takut akan siksaannya. Zuhud dalam Al-Qur'an berarti mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sikap aktif dan dinamis serta berusaha ikhlas mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta'ala dalam kehidupannya. Arti menyendiri dalam zuhud sebenarnya adalah menjauhi segala sesuatu yang mengarah pada keburukan, haram, dan yang dilarang Allah, serta sekedar menjauhkan diri dari apa yang tidak disukai Allah subhanahu wa ta'ala untuk menjaga diri dari sesuatu yang tidak disukai oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan menjadi sesuatu hal yang pasif, beku dan kaku.

Dapat disimpulkan bahwa zuhud adalah keyakinan yang utuh terhadap apa yang ada pada Allah subhanahu wa ta'ala, yang tercermin dalam sikap aktif dan dinamis, kesederhanaan hidup, dan penolakan terhadap segala hal yang bersifat duniawi yang merupakan upaya mendekatkan diri kepada Subhanahu wa Ta'ala. Dunia yang halal berdasarkan rasa takut akan hisab dan ditinggalkannya segala sesuatu di dunia yang bersifat haram berdasarkan rasa takut akan hukuman dari Allah subhanahu wa ta`ala.

Terdapat beberapa aspek zuhud menurut beberapa ahli, diantaranya:

a. Imam Al Ghazali

1. Materi bukanlah sebuah tujuan

2. Menganggap sederajat antara pujian dan celaan

(7)

3. Hati yang dipenuhi dengan rasa cinta terhadap Allah subhanahu wa ta’ala

b. An Nawawi

1. Konsisten dalam membedakan urusan akhirat dan urusan dunia 2. Sikap hamba yang tidak mengikatkan hatinya terhadap

kenikmatan dunia yang menjadikan lupa kepada kepentingan akhirat

3. Sikap menolak pada godaan dunia namun tetap bersikap dinamis dalam menjalani kehidupan sehingga tidak menyiksa diri

4. Sikap tenang dan pasrah menjalani seluruh elemen kehidupan dengan berpusat pada keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan kepentingan akhirat

Terdapat karakteristik zuhud menurut Zamroni (2010) sebagai berikut:

1. Qona’ah, sikap diri yang menunjukkan penerimaan terhadap segala yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada dirinya dengan ikhlas diiringi keridhoan.

2. Tawakkal, sikap berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala setelah berusaha dan mengerahkan segala kapasitasnya terhadap sesuatu hal.

3. Waro’, sikap diri dalam menjaga diri dari segala sesuatu yang menyebabkan dirinya mendekati, terjebak, makan dan minum dari segala sesuatu yang hukumnya meragukan atau syubhat. d. Sabar, sikap diri yang mampu menerima keadaan dirinya dari segala kesenangan, kesedihan, keterpurukan atau kebahagiaan yang terjadi dalam hidupnya.

4. Syukur, sikap diri dalam menerima segala sesuatu yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala dengan hati yang lapang dan menggunakannya sesuai dengan proporsinya masing-masing.

Pendapat syekh abdul qadir al-jailani mengenai tingkatan zuhud yang termaktub pada hafiun ( 2017) sebagai berikut:

(8)

a. Zuhud shuriy, kecenderungan dari dalam hatinya ingin meninggalkan hal dunia namun masih menginginkan dunia sehingga terhalanglah diri dalam mendekatkan diri kepada allah subhanahu wa ta’ala.

b. Zuhud haqiqi, mengeluarkan dan meninggalkan hal dunia dari hatinya dimana zuhud dilakukan untuk mencapai kedudukannya hingga sampailah kepada allah subhanahu wa ta’ala.

Bagaimana seseorang menghadapi segala hal di dunia ini dengan landasan ayat al-qur’an dan hadits yang mendorong umat muslim agar berperilaku zuhud yaitu salah satunya ada pada Q.S Al-Hadid Ayat 20:

۟آﻮُﻤَﻠْﻋٱ ﺎَﻤﱠﻧَأ

ُة ٰﻮَﯿَﺤْﻟٱ ﺎَﯿْﻧﱡﺪﻟٱ

ٌﺐِﻌَﻟ

ٌﻮْﮭَﻟَو

ٌﺔَﻨﯾِزَو

ٌۢﺮُﺧﺎَﻔَﺗَو

ْﻢُﻜَﻨْﯿَﺑ

ٌﺮُﺛﺎَﻜَﺗَو

ِل َٰﻮْﻣَ ْﻷٱﻰِﻓ

ِﺪَٰﻟ ْوَ ْﻷٱَو

ِۖﻞَﺜَﻤَﻛ

ٍﺚْﯿَﻏ

َﺐَﺠْﻋَأ

َرﺎﱠﻔُﻜْﻟٱ ۥُﮫُﺗﺎَﺒَﻧ

ُﺞﯿِﮭَﯾﱠﻢُﺛ

ُﮫٰ َﺮَﺘَﻓ اًّﺮَﻔ ْﺼُﻣ

ُنﻮُﻜَﯾ ﱠﻢُﺛ ﺎًﻤَٰﻄُﺣ

ۖﻰِﻓَو

ِةَﺮِﺧاَء ْلٱ

ٌباَﺬَﻋ

ٌﺪﯾِﺪَﺷ

ٌةَﺮِﻔْﻐَﻣَو

َﻦﱢﻣ

ِ ﱠ ٱ

ٌن َٰﻮْﺿِرَو

ۚﺎَﻣَو

ُة ٰﻮَﯿَﺤْﻟٱ ﺂَﯿْﻧﱡﺪﻟٱ ﱠﻻِإ

ُﻊَٰﺘَﻣ

ِروُﺮُﻐْﻟٱ

Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Selain itu, perilaku zuhud juga diserukan pada Hadits Rasulullah SAW Bersabda Kepada Sahabat: “Aku Khawatir Kalian Mendapat Keleluasaan Dalam Duniawi, Seperti Kaum- Kaum Sebelum Kalian, Sehingga Kalian Saling Berebutan Seperti Kaum Kaum Sebelum Kalian, Yang Akhirnya Pun Kalian Hancur Seperti Kaum-Kaum Sebelum Kalian”.

Menurut Imam al-Ghazali hakikat zuhud adalah meninggalkan yang penting, berpaling darinya, dan memusatkan perhatian pada sesuatu yang lebih baik karena orang menginginkan sesuatu di akhirat, ini dikatakan zuhud.

Zuhud ini berperan besar dalam meraih kemenangan (al-falah), kesuksesan (an-najah), dan kebahagiaan (al-sa'adah). Dalam kehidupannya sebagai seorang zuhud, ia berusaha memenuhi kebutuhannya dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengesampingkan kebutuhan lain demi mencapai spiritualitas yang lebih tinggi.

(9)

5. Muru’ah

Muru'ah adalah istilah Islam untuk harga diri. Secara bahasa berasal dari kata "mar'u", yang berarti pribadi, manusia, atau seseorang, dan ditambahkan dengan mim, yang berarti menjunjung tinggi sifat manusia.

Muru'ah menunjukkan karakter seorang muslim yang sangat manusiawi.

Muru'ah adalah jenis kepribadian muslim yang membuatnya terhormat dan menolak segala yang dapat merendahkan martabatnya, menurut para fuqaha (Al-Mahamid, 1997; Sims et al., 2013).

1. Imam Mawardi

Menurut Imam Mawardi, muru'ah adalah penjagaan tingkah laku yang mengutamakan untuk tetap berada dalam kebaikan dan berusaha untuk tidak melakukan keburukan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

2. Imam Ghazali

Muru'ah adalah akhlak kepribadian penting dalam hubungan, menurut Imam Ghazali. Menurut Al-Ghazali (2003), muru'ah tertanam dalam jiwa dan ditunjukkan dengan tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan dan pemikiran. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut adalah sifat yang telah meresap ke dalam jiwa dan tertanam di hati, menjadi kebiasaan, kesadaran, tanpa ada unsur pemaksaan.

Menurut Imam Ghazali, menjaga muru'ah lebih penting daripada menjaga hartanya.

3. Ibnu Qayyim

Muru'ah dikaitkan dengan kekuatan jiwa, menurut Ibnu Qayyim. Dorongan sifat terdiri dari tiga jenis kekuatan jiwa. Pertama, dorongan untuk sifat syaithoniyyah, seperti iri hati, dengki, riya', ujub, sombong, dan berbangga diri. Kedua, dorongan untuk sifat hayawaniyyah, atau kebinatangan. Sifat ini sangat terkait dengan hawa nafsu, yang terdiri dari tiga hal: makan, seks, dan menindas yang lemah. Ketiga, dorongan untuk sifat-sifat malaikat, seperti patuh, tunduk, rendah hati, baik sangka, ikhlas, dan sebagainya. Dengan menolak dorongan pertama dan memenuhi dorongan ketiga, muru'ah yang baik menghasilkan kemanusiaan, keperwiraan, dan kejantanan.

(10)

Kesehatan Mental menurut konsep Muru’ah

Menurut konsep Muru'ah, pernyataan harga diri "Saya merasa memiliki sejumlah kualitas yang baik" tampaknya menunjukkan keyakinan seseorang pada harga dirinya sendiri. Komponen tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam ketika digunakan untuk membangun pendekatan Islam;

ini berkaitan dengan perasaan yang paling umum dan disebut sebagai "ujub"

(Hermawan, 2020), yang didefinisikan sebagai dosa pandangan internal.

Sebenarnya, agama Islam mengajarkan bahwa kebanggaan tidak boleh berasal dari hal-hal yang fana dan duniawi, seperti kekayaan, kejayaan, jabatan, bentuk tubuh, dan sebagainya (QS. As-Syura (42):36). Kekayaan abadi, seperti iman, akhlak, dan taqwa, adalah kekayaan yang mahal dan patut dibanggakan (Rahman, 2014). Dalam Islam, konsep harga diri bukanlah untuk merasa lebih baik; rahmat Allah menunjukkan bahwa harga diri seseorang terpengaruh oleh kekayaan atau kemiskinan. Hukum Allah harus mengatur percakapan tentang emosi.

Dalam Islam, harga diri dikenal sebagai muhasab al-nafs dan sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Al-Sunnah. Kebahagiaan dalam menerima takdir Allah SWT bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan ketenangan dan ketenangan jiwa. Saat seseorang bersabar dalam situasi yang menyakitkan dan bersyukur dalam situasi yang menyenangkan, mereka akan menemukan ketenangan jiwa.

6. Ikhlas

Ikhlas adalah kemurnian dalam bertindak dan beribadah dengan tujuan hanya untuk keridhaan Allah SWT. Ikhlas berarti menghindari perbuatan riya', yaitu sifat pamer yang menginginkan pujian dan pengakuan. Istilah "ikhlas"

berarti memurnikan hati hanya kepada Allah sehingga setiap tindakan dilakukan hanya dengan harapan mendapatkan ridha Allah tanpa tujuan lain.

Sangat penting bagi hati dan jiwa manusia untuk menjadi ikhlas. Karena orang yang berperilaku ikhlas berada di zona menerima dan bersyukur atas apa yang terjadi, ikhlas penting bagi setiap orang. Orang yang ikhlas mampu menerima dan berusaha bersyukur serta mengambil hikmah dari apa yang terjadi padanya, baik yang baik maupun yang buruk.

(11)

Ikhlas berperan dan bermanfaat dalam membangun mental yang kuat dan hidup yang dijalani penuh dengan semangat. Begitu juga dengan peribadahan, ketaatan, keshalehan, dan apapun kegiatan yang dilakukan dengan kesungguhan, ketulusan dan keikhlasan dapat memberikan manfaat yang besar. Bukan hanya sekedar mendatangkan pahala diakhirat kelak, lebih dari itu aktivitas sadar tersebut dapat menumbuh kembangkan kepribadian dan kesehatan mental yang sempurna. Orang yang berperilaku ikhlas adalah orang yang memiliki religius spiritual. Orang yang berlaku ikhlas menghambakan dirinya kepada Allah SWT melalui aktivitas dan amalan shaleh yang suci dari unsur riya’.

Ikhlas membantu membangun mental yang kuat dan hidup yang penuh semangat. Begitu juga dengan peribadahan, ketaatan, keshalehan, dan apapun kegiatan yang dilakukan dengan benar, tulus, dan ikhlas dapat sangat bermanfaat. Aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran ini tidak hanya memiliki manfaat di dunia akhirat, tetapi juga dapat membantu membangun kepribadian dan kesehatan mental yang ideal. Orang yang memiliki religius spiritual didefinisikan sebagai orang yang berperilaku ikhlas. Mereka menghambakan diri mereka kepada Allah SWT melalui tindakan dan amalan yang bersih dari riya.

Orang yang berperilaku ikhlas juga memiliki sikap sosial yang suka menolong orang lain dan empati (Chizanah, 2011). Keikhlasan bukanlah sesuatu yang tetap pada seseorang; itu bergerak dan dapat berubah, jadi seseorang harus bersungguh-sungguh untuk mempertahankan dan meningkatkan keikhlasan mereka. Dalam psikoterapi, ini digunakan untuk mendorong klien untuk selalu berlaku jujur, baik dalam tindakan maupun keagamaan, tanpa terpengaruh oleh riya.

Ikhlas sangat penting untuk diterapkan pada setiap orang karena berada di zona menerima dan bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi. Riya' adalah musuh dari perbuatan ikhlas karena dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa dan kemaksiatan, mengganggu kesehatan mentalnya. Khawatir, cemas, merasa tidak aman, kecewa, frustasi, stres, dan depresi dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental. Psikoterapi ikhlas adalah salah satu contoh psikoterapi Islam yang menawarkan solusi untuk masalah kesehatan mental manusia.

(12)

Ikhlas sangat penting untuk kesehatan mental karena dapat mengubah seseorang menjadi manusia yang mampu menerima apa pun yang terjadi padanya dan selalu bersyukur atas apa yang terjadi. Jika seseorang dapat mempertahankan kesehatan mental yang baik, mereka dapat mengisi kehidupan mereka dengan kegiatan yang menguntungkan dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Athiyah, W. 2023. HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN ZUHUD TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI PADA SANTRI SMP IT PONDOK PESANTREN X.

Enghariano, D. A. (2019). Syukur dalam Perspektif al-Qur’an. Jurnal El-Qanuniy:

Jurnal Ilmu-Ilmu Kesyariahan Dan Pranata Sosial,5(2), 270-283.

Ernadewita, E., Rosdialena, R., & Deswita, Y. (2019). Sabar sebagai terapi kesehatan mental.Jurnal Kajian dan Pengembangan Umat,2(2).

Fabriar, R. S. 2023. AGAMA, MODERNITAS DAN MENTALITAS: Implikasi Konsep Qana’ah Hamka Terhadap Kesehatan Mental.

Isti’anah, T., Meiza, A., & Puspasari, D. (2017). Peran kecerdasan spiritual dan nilai personal terhadap kesehatan mental.Jurnal Psikologi Islam,4(2), 213-222.

Nashori, F. (2013). Syukur dalam Wacana Psikologi. JIP (Jurnal Intervensi Psikologi),5(2), i-iii.

Rajab, K. 2010. PSIKO SPIRITUAL ISLAM Sebuah Kajian Kesehatan Mental dalam Tasawuf.

Rusdi, A. (2016). Syukur dalam psikologi islam dan konstruksi alat ukurnya.Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris,2(2), 37-54.

Sukirno, R. S. H. (2019). Kesabaran Ibu Merawat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

Journal of Psychological Perspective,1(1), 1-14.

Kemala Fitri, dkk (2011). Kajian Model Psikoterapi Ikhlas untuk Mencapai Kesehatan Mental. Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi. Vol. 4 No. 1, Januari (32-42)

Jarman Arroisi, Syamsul Badi. (2022). Konsep Harga Diri: Studi Komparasi Perspektif Psikologi Modern dan Islam. Psikologika : Volume 27 Nomor 1, Januari 2022:

89-106.

Referensi

Dokumen terkait