TUGAS
HIDROLOKA TERAPAN
Disusun Oleh :
Muh.Ichsan Al Phatanduri Sarullah 4522041044
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BOSOWA
2022/2023
Siklus hidrologi pada musim kemarau memiliki beberapa karakteristik khusus.
Meskipun jumlah presipitasi (curah hujan) cenderung lebih rendah dibandingkan musim hujan, siklus hidrologi tetap berlangsung. Berikut adalah konsep siklus hidrologi pada musim kemarau:
1. Penguapan (Evaporation): Meskipun intensitas penguapan mungkin lebih tinggi selama musim kemarau karena suhu yang lebih tinggi, air tetap menguap dari permukaan danau, sungai, tanah, dan tumbuhan.
2. Transpirasi: Tanaman terus melakukan proses transpirasi, yaitu pelepasan uap air dari stomata daun ke atmosfer. Meskipun dapat berkurang sedikit karena kekurangan air, proses ini masih berlanjut.
3. Infiltrasi: Jika ada hujan sporadis selama musim kemarau, air hujan yang jatuh akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi). Karena tanah kemungkinan lebih keras dan kering, beberapa air dapat mengalir permukaan atau membentuk genangan sebelum benar-benar meresap ke dalam tanah.
4. Aliran Permukaan (Surface Runoff): Jika curah hujan cukup tinggi, air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah akan membentuk aliran permukaan menuju sungai, danau, atau laut.
5. Penyimpanan Air Tanah (Groundwater Storage): Meskipun laju penyimpanan air tanah dapat menurun selama musim kemarau karena kurangnya sumber air yang baru, sebagian air masih dapat tersimpan dalam lapisan tanah dan akuifer.
6. Evapotranspirasi: Kombinasi penguapan dan transpirasi dikenal sebagai evapotranspirasi. Meskipun tingkatnya dapat berfluktuasi, kedua proses ini terus berlangsung selama musim kemarau.
Penting untuk diingat bahwa intensitas dan frekuensi masing-masing tahap dalam siklus hidrologi ini dapat sangat bervariasi tergantung pada wilayah geografis, iklim, dan faktor- faktor lingkungan lainnya. Musim kemarau sering kali menampilkan tantangan dalam manajemen sumber daya air dan dapat berdampak pada keberlanjutan ekosistem air.
Siklus hidrologi yang terjadi selama musim hujan melibatkan serangkaian proses yang mempengaruhi pergerakan dan distribusi air di lingkungan
1. Curah Hujan Tinggi: Musim hujan dicirikan oleh peningkatan curah hujan. Hujan turun intensitasnya dan dapat berlangsung dalam waktu yang lama.
2. Penguapan: Meskipun penguapan mungkin berkurang dibandingkan dengan musim kemarau karena penutupan awan dan kelembaban yang tinggi, masih terjadi penguapan dari permukaan air seperti sungai, danau, dan laut.
3. Transpirasi: Tanaman mengalami pertumbuhan aktif selama musim hujan, dan transpirasi tetap tinggi karena kelembaban yang baik dan ketersediaan air yang cukup.
4. Infiltrasi Tanah Tinggi: Tanah yang lembab dan lebih lunak selama musim hujan memungkinkan air hujan meresap ke dalam tanah secara lebih efisien.
5. Aliran Permukaan yang Kuat: Jumlah air hujan yang tinggi dapat menyebabkan aliran permukaan yang kuat menuju sungai, danau, dan laut.
6. Peningkatan Volume Air Sungai dan Danau: Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan volume air di sungai dan danau, dan bahkan dapat menyebabkan banjir jika kapasitas normal melampaui.
7. Penyimpanan Air Tanah (Groundwater Recharge): Air hujan yang meresap ke dalam tanah meningkatkan level air di akuifer dan lapisan air tanah.
8. Evapotranspirasi Tetap Signifikan: Meskipun kondisi lembab, evapotranspirasi tetap signifikan karena tanaman tumbuh subur dan membutuhkan air untuk pertumbuhan mereka.
9. Genangan Air dan Pembentukan Sungai Sementara: Beberapa daerah mungkin mengalami genangan air atau pembentukan sungai sementara akibat curah hujan yang tinggi.
10. Keseimbangan Hidrologi: Meskipun ada tingkat kehilangan air melalui evapotranspirasi dan aliran permukaan, sumber daya air juga bertambah melalui curah hujan, memberikan keseimbangan relatif dalam siklus hidrologi.
Musim hujan memberikan sumber air yang penting untuk ekosistem, pertanian, dan sumber daya air manusia, namun juga dapat menimbulkan risiko banjir dan tantangan manajemen air yang berbeda.