• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

N/A
N/A
Nanda Yusuf

Academic year: 2024

Membagikan "TUGAS HUKUM ADMINISTRASI NEGARA "

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

DOSEN PEMBIMBING :

Dr. I. W. P Sucana Aryana, SE., SH., MH

DISUSUN OLEH :

I Gede Bayu Suartama 202374201038

FAKULTAS HUKUM PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

UNIVERSITAS NGURAH RAI DENPASAR

2023

(2)

Di dalam penyelenggaraan tugas-tugas administrasi negara, pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan yang dituangkan dalam berbagai bentuk seperti beleids lijnen (garis- garis kebijakan). Het beleid (kebijakan), voorschriften (peraturan-peraturan), richtlijnen (pedoman-pedoman), regelingen (petunjuk-petunjuk), circulaires (surat edaran), resoluties (resolusi-resolusi), aanschrijvingen (instruksi-instruksi), beleidsnota's (nota kebijakan), reglement (ministeriële) (peraturan-peraturan menteri), beschikkingen (keputusan-keputusan), bekendmaking (pengumuman-pengumuman).

Menurut Philipus dan N. Hadjon, peraturan kebijakan pada hakikatnya merupakan produk dari perbuatan tata usaha negara yang bertujuan "naar buiten schriftelijk beleid", yaitu menampakkan keluar suatu kebijakan tertulis. Peraturan kebijakan hanya berfungsi sebagai bagian dari operasional penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, karenanya tidak dapat mengubah ataupun menyimpangi peraturan perundang- undangan. Peraturan ini adalah semacam hukum bayangan dari undang-undang atau hukum. Oleh karena itu, peraturan ini disebut pula dengan istilah pseudo-wetgeving (perundang-undangan semu) atau spiegel recht (hukum bayangan/cermin). Secara praktis kewenangan diskresioner administrasi negara yang kemudian melahirkan peraturan kebijakan, mengandung dua aspek pokok;

- Pertama, kebebasan menafsirkan mengenai ruang lingkup wewenang yang dirumuskan dalam peraturan dasar wewenangnya. Aspek pertama ini lazim dikenal dengan kebebasan menilai yang bersifat objektif.

- Kedua, kebebasan untuk menentukan sendiri dengan cara bagaimana dan kapan wewenang yang dimiliki administrasi negara itu dilaksanakan. Aspek kedua ini dikenal dengan kebebasan menilai yang bersifat subjektif.

1

(3)

Kewenangan bebas untuk menafsirkan secara mandiri dari pemerintah inilah yang melahirkan peraturan kebijakan. PJ.P. Tak menjelaskan peraturan kebijakan sebagai berikut.

"Beleidsregels zijn algemene regels die een bestuursinstantie stelt omtrent de uitoefening van een bestuursbevoegdheid jegens de burgers of een andere bestuursinstantie en voor welke regelstelling de grondwet noch de formele wet direct of indirect een uitdrukkelijke grondslag bieden.

Beleidsregels berusten dus niet op een bevoegdheid tot wetgeving-en kunnen daarom ook geen algemeen verbindende voorschriften zijn-maar op een bestuursbevoegdheid van een bestuursorgaan en betreffen de uitoefening n die bevoegdheden"

(Peraturan kebijakan adalah peraturan umum yang dikeluarkan oleh instansi pemerintahan berkenaan dengan pelaksanaan wewenang pemerintahan terhadap warga negara atau terhadap instansi pemerintahan lainnya dan pembuatan peraturan tersebut tidak memiliki dasar yang tegas dalam UUD dan undang-undang formal baik langsung maupun tidak langsung. Artinya peraturan kebijakan tidak didasarkan pada kewenangan pembuatan undang- undang-dan oleh karena itu tidak termasuk peraturan perundang-undangan pelaksanaan kewenangannya).

Berkenaan dengan peraturan kebijakan ini, ada baiknya dikemukakan tulisan J.B.J.M.

ten Berge berikut ini.

"Onder een beleidsregel wordt verstaan een besluit, met inhoudende een algemeen verbindend voorschrift, dat een algemene regel geeft omtrent de afweging van belangen, de vaststelling van feiten of de uitleg van wettelijke voorschriften bij het gebruik van een bevoegdheid van een bestuursorgaan. ok

(4)

de beleidsregel kent de algemene regel als begripsbepaling element. Het grote

(5)

verschil met het algemeen verbindend voorschrift is, dat voor het tot stand brengen van deze algemene regel geen bevoegdheid tot (verbindende) regelgeving bestond"

(Peraturan kebijakan diartikan suatu keputusan, dengan isi aturan tertulis yang mengikat umum, yang memberikan aturan umum berkenaan dengan pertimbangan kepentingan, penetapan fakta-fakta atau penjelasan peraturan tertulis dalam penggunaan suatu wewenang organ pemerintahan.

Peraturan kebijakan juga menge ketentuan umum sebagai elemen penentuan konsep. Perbedaan utama peraturan kebijakan dengan peraturan perundang- undangan adalah bahwa pembuatan aturan umum ini tanpa kewenangan pembuatan peraturan perundang-undangan).

Commissie Wetgevingsvraagstukken peraturan kebijakan sebagai, "Een algemene regel omtrent de uitoefening van een bestuursbevoegdheid jegens de bestuurder (burgers, maar ook merumuskan peraturan undangan yang mengikat umum-tetapi dilekatkan pada wewenang pemerintahan suatu organ administrasi negara dan terkait dengan (suatu peraturan umum tentang pelaksanaan wewenang pemerintahan terhadap warga negara {warga negara, juga organ pemerintahan lainnya} ditetapkan berdasarkan kekuasaan sendiri oleh instansi pemerintahan yang berwenang atau instansi pemerintahan vang secara hierarki lebih tỉnggi).

Peraturan kebijakan secara esensial berkenaan dengan; pertama, een bestuursorgaan met in casu uitsluitend de bevoegdheid tot het verrichten van bestuurshandelingen (organ pemerintahan dalam hal ini semata-mata menggunakan kewenangan untuk menjalankan tindakan-tindakan pemerintahan); kedua, een bestuursbevoegdheid die niet volstrekt gebonden is (kewenangan pemerintahan itu tidak terikat secara tegas); ketiga, algemene regels, te

(6)

hanteren bij de uitoefening van de bevoegdheid (ketentuan umum, digunakan pada pelaksanaan kewenangan).

Ciri-ciri Peraturan Kebijakan Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan ciri-ciri peraturan perundang-undangan. Berikut ini disajikan mengenai Ciri-ciri peraturan kebijakan, untuk kemudian diperbandingkan dengan peraturan perundang-undangan guna mengetahui kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaannya. J.H. van Kreveld menyebutkan ciri-ciri peraturan kebijakan sebagai berikut.

1. De regel is direct noch indirect, gebaseerd op geen bepaling in de formele Wet of grondwet die uitdrukkelijk een bevoegdheid tot regeling geeft, met andere woorden, de regel heeft geen uitdrukkelijke grondslag in de wet.

(Peraturan itu langsung maupun tidak langsung, tidak didasarkan pada ketentuan undang-undang formal atau UUD yang memberikan kewenangan mengatur, dengan kata lain, peraturan itu tidak ditemukan dasarnya dalam undang-undang).

2. De regel is, hetzij ongeschreven en dan ontstaan door een val van individuele beslissingen die door de bestuursinstantie in de uitoefening van de vrije bestuursbevoegdheid jegens individuele burgers zijn genomen; hetzij uitdrukkelijk vastgesteld door deze bestuursinstantie.

(Peraturan itu, tidak tertulis dan muncul melalui serangkaian keputusan-keputusan instansi pemerintahan dalam melaksanakan kewenangan pemerintahan yang bebas terhadap warga negara, atau ditetapkan secara tertulis oleh instansi pemerintahan tersebut).

3. De regel geeft in algemene zin, dat wil zeggen zonder aanduiding van individuele burgers, aan hoe de bestuursinstantie bij de uitoefening van de vrije

(7)

bestuursbevoegdheid zal handelen jegens iedere individuele burger die zich bevindt de situatie die in de regel is omschreven.

(Peraturan itu memberikan petunjuk secara umum, dengan kata lain tanpa pernyataan dari individu warga negara mengenai bagaimana instansi pemerintahan melaksanakan kewenangan pemerintahannya yang bebas terhadap setiap individu warga negara yang berada dalam situasi yang dirumuskan dalam peraturan itu)

Bagir Manan menyebutkan ciri-ciri peraturan kebijakan sebagai berikut.

1. Peraturan kebijakan bukan merupakan peraturan undangan.

2. Asas-asas pembatasan dan pengujian terhadap peraturan undang-undangan tidak dapat kebijakan.

3. Peraturan kebijakan tidak dapat diuji secara wetmatigheid arena memang tidak ada dasar peraturan perundang-undangan untuk membuat keputusan peraturan kebijakan tersebut.

4. Peraturan kebijakan dibuat berdasarkan freies Ermessen dan ketiadaan wewenang administrasi bersangkutan membuat peraturan perundang-undangan.

5. Pengujian terhadap peraturan kebijakan lebih diserahkan pada doelmatigheid dan karena itu batu ujinya adalah asas-asas umum pemerintahan yang baik.

6. Dalam praktik diberi format dalam berbagai bentuk dan jenis aturan, yakni keputusan, instruksi, surat edaran, pengumuman dan lain-lain, bahkan dapat dijumpai dalam bentuk peraturan.

(8)

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, tampak ada beberapa persamaan antara peraturan perundang-undangan dengan peraturan kebijakan. A. Hamid S. Attamimi menyebutkan unsur- unsur persamaannya sebagai berikut.

1. Aturan yang berlaku umum

Peraturan perundang-undangan dan peraturan kebijakan mempunyai adresat atau subjek norma dan pengaturan perilaku atau objek norma yang sama, yaitu bersifat umum dan abstrak (algemene regeling atau algemene regel).

1. Peraturan yang berlaku 'ke luar

Peraturan perundang-undangan berlaku 'ke luar' dan ditujukan kepada masyarakat umum (naar buiten werken, tot een ieder gericht), demikian juga peraturan kebijakan berlaku 'ke luar dan ditujukan kepada masyarakat umum yang bersangkutan.

Di samping terdapat kesamaan, ada pula beberapa perbedaan antara peraturan perundang-undangan dengan peraturan kebijakan A. Hamids. Attamimi menyebutkan perbedaan-perbedaannya. sebagai berikut.

1. Pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan fungsi negara.

Pembentukan hukum melalui perundang-undangan dilakukan oleh rakyat sendiri, oleh wakil-wakil rakyat, atau sekurang- kurangnya dengan persetujuan wakil-wakil rakyat. Kekuasaan di bidang perundang-undangan atau kekuasaan legislatif hanya diberikan kepada lembaga yang khusus untuk itu, yaitu lembaga legislatif (sebagai organ kenegaraan, yang bertindak untuk dan atas nama negara).

(9)

2. Fungsi pembentukan peraturan kebijakan ada pada pemerintah dalam arti sempit (eksekutif).

Kewenangan pemerintahan dalam arti sempit atau ketataprajaan (kewenangan eksekutif) mengandung juga kewenangan pembentukan peraturan-peraturan dalam rangka penyelenggaraan fungsinya. Oleh karena itu, kewenangan pembentukan peraturan kebijakan yang bertujuan menga lebih lanjut penyelenggaraan dilakukan oleh setiap lembaga pemerintah yang mempunyai pemerintahan senantiasa dapat kewenangan penyelenggaraan pemerintah.

perundang-undangan berbeda dengan materi muatan peraturan kebijakan.

3. Materi muatan peraturan Peraturan kebijakan mengandung materi muatan yang berhubungan dengan kewenangan membentuk keputusan-keputusan dalam arti beschikkingen, kewenangan bertindak dalam bidang hukum privat, dan kewenangan membuat rencana-rencana (planen) yang memang ada pada lembaga pemerintahan. Sedangkan materi muatan peraturan perundang- undangan mengatur tata kehidupan masyarakat yang jauh lebih mendasar seperti mengadakan suruhan dan larangan untuk berbuat atau tidak berbuat, yang apabila perlu disertai dengan sanksi pidana dan sanksi pemaksa.

4. Sanksi dalam peraturan perundang-undangan dan pada peraturan kebijakan.

Sanksi pidana dan sanksi pemaksa yang jelas mengurangi dan membatasi hak- hak asasi warga negara dan penduduk hanya dapat dituangkan dalam undang- undang yang pembentukannya harus dilakukan dengan persetujuan rakyat atau dengan persetujuan wakil-wakilnya. Peraturan perundang-undangan yang lebih rendah lainnya hanya dapat mencantumkan Sanksi pidana bagi pelanggaran ketentuannya apabila hal itu Secara tegas diatribusikan oleh undang-undang.

(10)

Peraturan Kebijakan hanya dapat mencantumkan sanksi administratif bagi pelanggaran ketentuan-ketentuannya. Mengenai kekuatan mengikat dari peraturan kebijakan ini di antara para pakar hukum tidak terdapat kesamaan pendapat. Menurut Bagir Manan, peraturan kebijakan sebagai "peraturan"

yang bukan peraturan perundang-undangan tidak langsung mengikat secara hukum, tetapi mengandung relevansi hukum. Peraturan kebijakan pada dasarnya ditujukan kepada administrasi negara termuat dalam peraturan kebijakan adalah badan atau pejabat administrasi negara. Meskipun demikian, ketentuan tersebut secara tidak langsung akan dapat mengenai masyarakat umum Indroharto berpendapat, peraturan kebijakan itu bagi masyarakat menimbulkan keterikatan secara tidak langsung.

Menurut Hamid Attamimi, peraturan kebijakan mengikat secara umum karena masyarakat yang terkena peraturan itu tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Menurut Marcus Lukman, kekuatan mengikat peraturan kebijakan ini tergantung jenisnya. Peraturan kebijakan intra-legal dan kontra-legal yang pembentukannya berdasarkan kebebasan mempertimbangkan intra-legal, menjadi bagian integral dari tata hierarki peraturan perundang- undangan. Kekuatan mengikatnya juga berderajat peraturan perundang-undangan. Adapun peraturan kebijakan ekstra-legal dan kontra-legal yang pembentukannya berdasarkan kebebasan mempertimbang kan ekstra-legal tidak memiliki kekuatan mengikat berderajat peraturan perundang-undangan.

Fungsi dan penormaan peraturan kebijakan Sebenarnya penyelenggaraan urusan pemerintahan đalan suatu negara hukum itu bersendikan pada peraturan perundang undangan sesuai dengan prinsip yang dianut dalam suatu negara umum yaitu asas legalitas, akan tetapi karena peraturan perundang-undangan sebagai hukum tertulis itu mengandung hukum

(11)

kekurangan dan kelemahan, sebagaimana telah disebutkan di atas, karena itu keberadaan peraturan kebijakan menempati posisi penting terutama dalam negara hukum modern.

Menurut Marcus Lukman, peraturan Kebijakan dapat difungsikan secara tepat guna dan berdaya guna sebagai berikut.

1. Tepat Guna dan berdaya guna sebagai sarana pengaturan yang melengkapi, menyempurnakan, dan mengisi kekurangan-kekurangan yang ada pada peraturan perundang-undangan;

2. Tepat Guna dan berdaya guna sebagai sarana pengaturan bagi keadaan vacum peraturan perundang-undangan;

3. Tepat Guna dan berdaya guna sebagai sarana pengaturan bagi kepentingan- kepentingan yang belum terakomodasi patut, layak, benar, dan adil dalam peraturan perundang-undangan;

4. Tepat Guna dan berdaya guna sebagai sarana pengaturan untuk mengatasi kondisi peraturan perundang-undangan yang sudah ketinggalan zaman;

5. Tepat Guna dan berdaya guna bagi kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi administrasi di bidang pemerintahan dan pembangunan yang bersifat cepat berubah atau memerlukan pembaharuan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Sebagaimana pembuatan dan penerapan peraturan perundang-undangan, yaitu harus memperhatikan beberapa persyaratan, Pembuatan dan penerapan peraturan kebijakan juga harus memperhatikan beberapa persyaratan. Menurut Indroharto, pembuatan Peraturan kebijakan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. la tidak boleh bertentangan dengan peraturan dasar yang mengandung wewenang diskresioner yang dijabarkan itu;

(12)

2. la tidak boleh nyata-nyata bertentangan dengan nalar yang sehat; 3) la harus dipersiapkan dengan cermat;

3. Semua kepentingan keadaan-keadaan serta alternatif-alternatif yang ada perlu dipertimbangkan;

4. Isi dari kebijakan harus memberikan kejelasan yang cukup mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari warga yang terkena peraturan tersebut;

5. Tujuan-tujuan dan dasar-dasar pertimbangan mengenai kebijakan yang akan ditempuh harus jelas;

6. la harus memenuhi syarat kepastian hukum materiil, artinya hak-hak yang telah diperoleh dari warga masyarakat yang terkena harus dihormati, kemudian juga harapan- harapan warga yang pantas telah ditimbulkan jangan sampai diingkari.

Sedangkan dalam penerapan atau penggunaan peraturan kebijakan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Harus sesuai dan serasi dengan tujuan undang-undang yang memberikan beoordeling vrijheid (ruang kebebasan bertindak);

2. Serasi dengan asas-asas hukum umum yang berlaku, sepert. asas perlakukan yang sama menurut hukum;

3. Asas pemenuhan kebutuhan dan harapan

4. Asas kelayakan mempertimbangkan segala sesuatu relevan dengan kepentingan publik dan warga masyarakat.

5. Serasi dan tepat guna dengan tujuan yang hendak dicapai.

Peraturan kebijakan sesuai dengan kemunculannya yakni bukan berasal dari kewenangan pembuatan peraturan perundang- undangan (wetgevende bevoegdheid), karena itu tidak dapat diuji dengan mendasarkan pada aspek rechtmatigheid. Berdasarkan Hukum

(13)

Administrasi Negara, pengujian peraturan kebijakan adalah dari aspek doelmatigheid dengan menggunakan asas-asas umum pemerintahan yang baik (AAUPB), khususnya asas larangan penyalahgunaan wewenang (detournement de pouvoir) dan asas larangan sewenang-wenang (willekeur). Dengan kata lain, kebijakan pemerintah akan dikategorikan sebagai kebijakan yang menyimpang jika di dalamnya ada unsur penyalahgunaan wewenang dan unsur sewenang-wenang.

Ada tidaknya unsur penyalahgunaan wewenang diuji dengan asas spesialitas (specialiteit beginsel). Asas spesialitas ini mengandung arti bahwa wewenang itu diberikan kepada organ pemerintahan dengan tujuan tertentu. Menyimpang dari tujuan diberikannya Wewenang akan dianggap sebagai penyalahgunaan wewenang. Adapun unsur sewenang- wenang diuji dengan asas rasionalitas atau kepantasan (redelijk). Suatu peraturan kebijakan dikategorikan mengandung unsur willekeur jika peraturan kebijakan itu nyata- nyata tidak masuk akal atau tidak beralasan (kennelijk onredelijk).

Ketika membahas pengertian pemerintahan pada bab pertama, disebutkan bahwa istilah pemerintahan memiliki dua arti, yaitu fungsi pemerintahan atau kegiatan memerintah dan organisasi pemerintahan atau kumpulan jabatan pemerintahan (complex bestuursorgaan).

Sebagai organisasi, pemerintahan Van memiliki tujuan yang hendak dicapai, yang tidak berbeda dengan organisasi pada umumnya terutama dalam hal kegiatan yang akan diimplementasi dalam rangka mencapai tujuan, yakni dituangkan dalam bentuk rencana- rencana. Dapat dikatakan bahwa rencana merupakan bagian tak terelakkan dalam suatu organisasi sebagai tahap awal pencapaian tujuan. Ada yang mengatakan bahwa menjalankan (pemerintahan) adalah merencanakan (kegiatan pemerintahan). besturen is plannen, besturen is vanouds plannen maken, vooruitzien. geweest, (sejak dahulu, menjalankan (pemerintahan}

Negara merupakan suatu organisasi yang memiliki tujuan. Bagi negara Indonesia, tujuan

(14)

negara itu tertuang dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yang mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan negara hukum yang menganut konsep welfare state.

Sebagai negara hukum yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan umum, setiap kegiatan di samping harus diorientasikan pada tujuan yang hendak dicapai juga harus menjadikan hukum yang berlaku sebagai aturan kegiatan kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan. Salah satu fungsi hukum, menurut Sjachran Basah, adalah direktif, yaitu sebagai pengarah dalam membangun untuk membentuk masyarakat yang hendak dicapai sesuai dengan tujuan kehidupan bernegara. Pemerintahan yang merupakan bagian dari organisasi di negara menjalankan kegiatannya dalam rangka mencapai tujuan negara, dengan menjadikan Hukum Administrasi Negara sebagai aturan kegiatan pemerintahan dan memfungsikannya sebagai pengarah pencapaian tujuan, yang sebelumnya dituangkan dalam bentuk rencana-rencana.

Pernyataan demikian, sekaligus untuk memberikan batasan bahwa rencana yang dimaksudkan di sini adalah rencana dalam perspektif Hukum Administrasi Negara atau rencana yang dibuat oleh administrasi negara, sebagai salah trumen pemerintahan. Sebab pada kenyataannya, hampir semua organ kenegaraan dan pemerintahan membuat rencana- rencana dalam rangka menjalankan tugas dan kegiatannya. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan masya serta seiring dengan konsepsi negara hukum modern (welfare state), yang memberikan kewajiban kepada administrasi negara untuk merealisasi tujuan-tujuan negara. Tujuan kehidupan bernegara meliputi berbagai dimensi. Terhadap berbagai dimensi ini, pemerintah membuat rencana-rencana. Rencana merupakan alat Bagi implementasi, dan implementasi hendaknya berdasar suatu Rencana.

Rencana didefinisikan sebagai keseluruhan proses Pemikiran dan penentuan secara matang daripada hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka

(15)

pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan merupakan fungsi organik pertama dari administrasi dan manajemen. Alasannya ialah bahwa tanpa adanya rencana, maka tidak ada dasar untuk melaksanakan tertentu dalam rangka usaha pencapaian kegiatan-kegiatan tujuan.

Berdasarkan Hukum Administrasi Negara, rencana merupakan bagian dari tindakan hukum pemerintahan (bestuur rechtshandeling), suatu tindakan yang dimaksudkan untuk menimbulkan akibat-akibat hukum.

"Het plan is een geheel van samenhang en maatregelen van de overheid, waardoor de verwerkelijking van een bepaalde geordende toestand wordt nagestreefd."

“Dit geheel is in de vorm van em administratiefrechtelijke rechtshandeling vervat, die als rechtshandelingen administratiefrechtelijke rechtsgevolgen doet ontstaat"

(Rencana adalah keseluruhan tindakan pemerintah yang berkesinambungan. Yang mengupayakan terwujudnya suatu keadaan tertentu yang teratur. Keseluruhan itu disusun dalam format tindakan hukum administrasi, sebagai tindakan yang menimbulkan akibat-akibat hukum).

Meskipun demikian, tidak semua rencana memiliki akibat hukum langsung bagi warga negara. Sebagai bagian dari tindakan hukum pemerintahan, yang pasti adalah bahwa perencanaan itu memiliki relevansi hukum. Dalam ABAR disebutkan bahwa rencana pengembangan universitas atau sekolah tinggi tidak memiliki kekuatan (hukum) yang mengikat bagi organ-organ universitas atau sekolah tinggi (atau bagi subjek hukum lainnya), tetapi anggaran universitas atau sekolah tinggi yang bertentangan dengan rencana pengembangannya tidak mungkin dapat disetujui. Demikian juga Rencana pengembangan wilayah tidak memiliki akibat hukum (heb geen rechtsgevolgen), baik bagi organ-organ

(16)

pemerintahan maupun bagi warga negara, tetapi rencana peruntukan (best trainingsplan yang bertentangan dengan rencana pengembangan wilayah tidak mungkin disetujui. Menurut P de Haan dan kawan- kawan, "Het begrip planning in ruime zin gedefinieerd als systematische en gecoördineerde voorbereiding, vaststelling en uitvoering van beleidsbeslissingen van en programma van doeleinden en middelen.” (Konsep perencanaan pemerintah dalam arti luas didefinisikan sebagai persiapan dan pelaksanaan yang sistematis dan terkoordinasi mengenai keputusan- keputusan. kebijakan yang didasarkan pada suatu rencana kerja yang pemerintah terkait dengan tujuan-tujuan dan cara-cara pelaksanaannya).

Dalam pengertian lain, disebutkan bahwa rencana dalam pemerintahan umum dirumuskan sebagai suatu gambaran mengenai berbagai macam tindakan yang ditujukan untuk mencapai suatu tujuan yang ditentukan sebelumnya serta di mana masing-masing bagian daripadanya itu saling berkaitan dan disesuaikan satu dengan Perencanaan terbagi dalam tiga kategori, yaitu pertama, perencanaan informatif (informative planning), yaitu rancangan estimasi mengenai perkembangan masyarakat (samenstel van prognoses omtrent maatschappelijke ontwikkelingen) yang dituangkan dalam alternatif-alternatif kebijakan tertentu. Rencana seperti ini tidak memiliki akibat hukum bagi warga negara; kedua, perencanaan indikatif (indicative planning) adalah rencana-rencana yang memuat kebijakan- kebijakan yang akan ditempuh dan mengindikasikan bahwa kebijakan itu akan dilaksanakan.

Kebijakan ini masih harus diterjemahkan ke dalam keputusan-keputusan operasional atau normatif.

Perencanaan seperti ini memiliki akibat hukum yang tidak langsung (indirect rechtsgevolgen); ketiga, perencanaan operasional atau normatif (operationele of normative planning) merupakan Rencana-rencana yang terdiri dari persiapan-persiapan, perjanjian- perjanjian, dan keputusan-keputusan. Rencana tata ruang, rencana pengembangan perkotaan,

(17)

rencana pembebasan tanah, rencana peruntukan (bestemming plan), rencana pemberian subsidi, dan lain-lain adalah contoh-contoh dari rencana operasional atau normatif.

Perencanaan seperti ini memiliki akibat hukum langsung (directe rechtsgevolgen) baik bagi pemerintah atau administrasi negara maupun warga negara.

Di samping pembagian tersebut, perencanaan juga dibagi berdasarkan waktu, tempat, bidang hukum, sifat, metode, dan sarana. Berdasarkan waktu (naar tijd), perencanaan dibedakan dalam rencana jangka panjang, menengah, dan pendek. Berdasarkan tempat (naar plaats), perencanaan terdapat pada tingkat pemerintahan pusat, provinsi, dan kabupaten, ataupun rencana-rencana sektoral. Rencana tata ruang, ekonomi, sosial, kesehatan, dan bidang- bidang lainnya adalah contoh-contoh perencanaan berdasarkan bidang hukum (naar rechtsgebied). Perencanaan berdasarkan sifatnya (naar aard) terdiri dari perencanaan sektoral (sectorplanning), perencanaan berdasarkan bidangnya (facetplanning), dan perencanaan integral (integraleplanning). Berdasarkan metodenya, rencana dibedakan antara perencanaan akhir dan perencanaan proses (eind (toestand)-plannig en procesplanning). Berdasarkan sarananya, pelaksanaan rencana memerlukan instrumen yuridis, finansial, dan organisasi.

Unsur-unsur Rencana Perencanaan merupakan bagian inheren dalam setiap bentuk organisasi. Dengan kata lain, setiap organisasi pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai, yang sebelumnya dirumuskan dalam bentuk rencana-rencana. Dalamn perspektif Hukum Administrasi Negar. J.BJ.M. ten Berge mengemukakan unsur-unsur rencana sebagai berikut:

1. Schriftelijke (tertulis);

2. Resluit of handeling, aanhoudende een keuze (keputusan atau tindakan), terkandung pilihan;

3. Door een bestuursorgaan (oleh organ pemerintahan);

4. Van op de toekomst gerichte (ditujukan untuk waktu yang akan datang);

(18)

5. Van cen ongelijksoortig karakter (memiliki sifat yang tidak sejenis, beragam);

6. Planelementen (vaak te nemen besluiten of te verrichten handelingen), unsur- unsur rencana (seringkali berbentuk tindakan-tindakan atau keputusan- keputusan);

7. In een onderlinge (vaak programmatische) samenhang (keterkaitan, seringkali secara programatis);

8. Al dan niet voor een bepaalde duur (untuk jangka waktu tertentu);

9. Schriftelijke Presentatie (Gambaran Tertulis)

Dalam Hukum Administrasi Negara, rencana digunakan untuk mempresentasikan aspek-aspek kegiatan masyarakat yang tidak Sejenis atau berbagai kebijakan, keputusan- keputusan, dan sebagainya secara berkesinambungan. Rencana terutama ditujukan untuk mengkomunikasikan satu kegiatan dengan kegiatan lainnya, yang disajikan secara tertulis sehingga dapat dilihat atau dibaca. Rencana anggaran nota, rancangan peraturan, sketsa, dan sebagainya dapat dilihat sebagai gambaran tertulis dari rencana. D. Besluit of Handling (Keputusan atau Tindakan)

Penentuan suatu rencana dilukiskan sebagai suatu keputusan atau suatu tindakan.

Rencana sebagai suatu keputusan didasarkan pada undang-undang dan didasarkan pada wewenang yang diberikan untuk itu, oleh karena itu Susunan perencanaan itu biasanya berbentuk keputusan (besluit), sedangkan rencana yang berupa informasi program kerja hanyalah berbentuk penyampaian informasi mengenai perkembangan di masa mendatang, oleh karena itu rencana seperti ini dikategorikan sebagai suatu tindakan pemerintahan.

Bestuurs Organ (Organ Pemerintahan) Sebenarnya rencana itu dapat dibuat oleh pihak Swasta, organisasi swasta, organ kehakiman, pembuat undang-undang, dan sebagainya. Bagi Hukum Administrasi Negara, perhatian hanya ditujukan pada perencanaan yang dibuat oleh

(19)

organ pemerintahan. Rencana merupakan suatu tindakan hukum pemerintahan yang bersifat sepihak (eenzijdig) berdasarkan peraturan perundang- undangan tertentu, yang memberikan kewenangan untuk itu. Op de Toekomst Gericht, (Ditujukan pada Masa yang Akan Datang) Dalam hal ini unsur rencana hanya dibicarakan pada kegiatan yang ditujukan pada masa yang akan datang.

Perencanaan dibuat berdasarkan pandangan masa depan dari tindakan pemerintah.

Perencanaan dijelaskan sebagai persiapan dan pelaksanaan yang sistematis dan terkoordinasi dari keputusan-keputusan kebijakan yang didasarkan pada suatu rencana kerja dari tujuan- tujuan dan cara-cara pelaksanaannya. Planelemanten (Elemen-elemen Rencana) Pada suatu rencana, sesuai dengan kategori rencana sp rencana informatif, indikatif, atau di dalamnya terkandung informasi, rencana kebijakan yang akan ditempuh operasional, biasanya di terutama dalam bentuk peraturan kebijakan atau persetujuan peraturan umum, keputusan kebijakan, pedoman-pedoman, peraturan konkret yang berlaku umum, keputusan dan perjanjian.

Ongelijksoortig Karakter (Memiliki Sifat yang Tidak Sejenis, Beragam) Berdasarkan ketentuan peraturan umum diatur mengenai peristiwa-peristiwa atau kejadian yang sama dengan akibat hukum yang sama (setiap orang yang telah memenuhi persyaratan akan mendapatkan akibat hukum tertentu), sedangkan pada rencana dihimpun berbagai peristiwa atau keadaan yang tidak sama samenhang (Keterkaitan) Sifat yang paling banyak dari rencana adalah keterkaitan. Rencana-rencana menghimpun antara berbagai keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang tidak sejenis, misalnya pada penataan ruang bagi masyarakat, yang didalamnya terhimpun berbagai pembuatan keputusan dan tindakan-tindakan yang berkenaan dengan tata ruang.

(20)

Keterkaitan ini terutama berkenaan dengan penataan rüang bersama, keterpaduan berbagai komponen, persesuaian tujuan, dan sebagainya. Al dan Niet voor een Bepaalde Duur (Untuk Waktu Tertentu) Kebanyakan rencana memiliki waktu terbatas. Biasanya ditentukan berdasarkan periode tertentu seperti rencana tahunan, lima tahunan, dan sebagainya. Jarang ada rencana yang uan memiliki batasan waktu. Kalaupun peraturan perundang-undangan tidak menentukan batas waktu, organ pemerintahan berwenang untuk menentukan suatu rencana berdasarkan periode tertentu. Karakter Hukum Rencana H.D. van Wijk/Willem Konijnenbelt menyebutkan bahwa perencanaan adalah bentuk tertentu mengenai pembentukan kebijakan, dinyatakan dalam bentuk balik antara kebijakan dengan hukum. Dengan kata lain, perencanaan adalah proses kebijakan. Proses perencanaan dan perwujudan Rencana merupakan bagian dari hukum, dan oleh karena itu tunduk pada norma-norma hukum.

Di kalangan sarjana tidak terdapat kesamaan pendapat tentang sifat hukum (rechts karakter) Terencana Menurut indroharto, dalam literatur mula-mula cenderung adanya hubungan timbal dua pendapat yang berbeda, yang pertama mengatakan bah rencana itu merupakan suatu algemeen verbin de regeling (peraturan yang bersifat mengikat), dan yang lain mengatakan bahwa rencana itu suatu beschikking. Munculnya perbedaan pendapat itu disebabkan oleh kenyataan bahwa perencanaan dibuat oleh hampir semua organisasi atau lembaga yang terdapat dalam suatu negara, tidak hanya dibuat oleh administrasi negara, yang dengan sendirinya melahirkan bentuk hukum yang beragam. Di samping itu ada perencanaan yang berkaitan langsung dengan tindakan organisasi pemerintahan terhadap warga negara atau memiliki akibat hukum bagi warga negara dan ada pula perencanaan yang hanya mengatur hubungan antar organ pemerintahan.

Di negara Indonesia, rencana itu ada yang berbentuk undang-undang (seperti APBN), Keputusan Presiden (seperti Repelita), Tap MPR (seperti GBHN), Peraturan Daerah (seperti

(21)

APBD, Rencana Pembangunan Daerah). dan lain sebagainya. FA.M. Stroink dan J.G.

Steenbeek mengemukakan empat pendapat tentang sifat hukum rencana, yaitu:

a. Het plan is een beschikking of bundel van beschikkingen; (rencana atau kumpulan berbagai keputusan)

b. Het plan is deels (bundel I van) beschikking (en), deels regeling;, de kaart met toelichting is de bundel beschikkingen; de gebruiksvoorschriften khben het karakter van de regeling: (rencana adalah sebagian dari kumpulan keputusan-keputusan, sebagian peraturan, peta dengan penjelasan adalah kumpulan keputusan-keputusan;

penggunaan peraturan memiliki sifat peraturan)

c. Het plan is een rechts figuur sui generis; (rencana adalah bentuk hukum tersendiri) d. Het plan is een regeling, (rencana adalah peraturan perundang- undangan)

Dengan merujuk pada pengertian peraturan perundang-undangan, peraturan kebijakan, dan keputusan, sebagaimana telah disebutkan di atas, serta dengan membandingkan bentuk- bentuk hukum rencana pada negara Indonesia, tampak bahwa rencana memiliki sifat hukum yang beragam. Keragaman sifat atau karakter hukum dari rencana ini akan dapat diketahui dengan melihat pada organ yang membuat rencana, isi rencana, dan sasaran dari rencana tersebut. Dengan cara demikian, akan diketahui pula akibat-akibat hukum (rechtsgevolgen) dan relevansi hukum yang muncul dari rencana tersebut. Di atas telah disebutkan bahwa rencana yang dimaksudkan hanyalah rencana dalam perspektif Hukum Administrasi a atau rencana yang dibuat oleh administrasi negara.

Dalam perspektif Hukum Administrasi Negara, rencana merupakan salah satu instrumen pemerintahan, yang sifat hukumnya berada di antara peraturan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dan keputusan. Dengan demikian, perencanaan memiliki bentuk tersendiri (sui generis), patuh pada peraturan-peraturannya sendiri serta mempunyai tujuan

(22)

sendiri, yang berbeda dengan peraturan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dan keputusan. Rencana merupakan himpunan kebijakan yang akan peraturan ditempuh pada masa yang akan datang, tetapi ia bukan untuk membuatnya ditentukan oleh kebijakan karena kewenangan untuk peraturan perundang-undangan atau didasarkan pada kewenangan pemerintahan yang jelas. Rencana memiliki sifat norma yang umum-abstrak, namun ia bukan peraturan perundang-undangan karena tidak semua rencana itu mengikat umum dan tidak selalu mempunyai akibat hukum langsung. Rencana merupakan hasil penetapan oleh organ pemerintahan tertentu yang dituangkan dalam bentuk keputusan, tetapi ia bukan beschikking karena di dalamnya memuat pengaturan yang bersifat umum. Pengertian Perizinan Tidaklah mudah memberikan definisi apa yang dimaksud dengan izin, demikian menurut Sjachran Basah. Apa yang dikatakan Sjachran agaknya sama dengan yang berlaku di negeri Belanda, seperti dikemukakan van der Pot; "Het is uiterst moeilijk voor begrip vergunning een definitie te vinden", (Sangat sukar membuat definisi untuk menyatakan pengertian izin itu). Hal ini disebabkan karena antara para pakar tidak terdapat persesuaian paham, masing-masing melihat dari sisi yang berlainan terhadap objek yang didefinisikannya. Sukar memberikan definisi bukan berarti tidak terdapat definisi, bahkan ditemukan sejumlah definisi yang beragam.

Sebelum menyampaikan beberapa pakar, terlebih dahulu dikemukakan beberapa Sedikit banyak memiliki kesejajaran dengan izin yaitu dan konsesi, dan lisensi. Dispensasi ialah keputusan administrasi negara yang m suatu perbuatan dari kekuasaan yang menolak perbuatan tersebut. WE. Prins mengatakan bahwa dispensasi adalah tindakan pemerintahan yang menyebabkan suatu membebaskan peraturan peraturan undang-undang menjadi tidak berlaku bagi sesuatu hal yang istimewa (relaxation legis). Menurut Ateng Syafrudin. dispensi bertujuan untuk menembus rintangan yang sebetulnya Secara normal tidak diizinkan, jadi dispensasi berarti menyisihkan larangan dalam hal yang khusus (relaxatie legis). Lisensi adalah suatu izin yang memberikan hak untuk menyelenggarakan suatu perusahaan. Lisensi digunakan

(23)

untuk menyatakan suatu izin yang memperkenankan seseorang untuk menjalankan suatu perusahaan dengan izin khusus atau istimewa. Sedangkan konsesi merupakan suatu izin berhubungan dengan pekerjaan yang besar di mana kepentingan umum terlibat erat sekali sehingga sebenarnya menjadi tugas dari pemerintah, tetapi oleh pemerintah diberikan hak penyelenggaraannya kepada konsensionaris (pemegang izin) yang bukan pejabat pemerintah.

Bentuknya dapat berupa kontraktual atau kombinasi antara lisensi dengan pemberian status tertentu dengan hak dan kewajiban serta syarat-syarat tertentu. Menurut H.D. van Wijk,

"De concessie figuur wordt vooral gebruikt activiteiten van openbaar belang die de overheid niet zelf verricht maar overtaat aan particuliere ondernemingen"

(Bentuk konsesi terutama digunakan untuk berbagai aktivitas yang menyangkut kepentingan umum, yang tidak mampu dijalankan sendiri oleh pemerintah, lalu diserahkan kepada perusahaan-perusahaan swasta).

Mengenai konsesi ini, E. Utrecht mengatakan bahwa kadang-kadang pembuat peraturan beranggapan bahwa suatu perbuatan yang penting bagi umum, sebaik-baiknya dapat diadakan oleh suatu subjek hukum partikelir, tetapi dengan turut campur dari pihak pemerintah Suatu keputusan administrasi negara yang memperkenankan n yang bersangkutan mengadakan perbuatan tersebut, memuat suatu konsesi (concession).

Sesudah mengetahui pengertian dispensasi, konsesi, dan lisensi, di bawah ini akan disampaikan beberapa definisi izin Di dalam Kamus Hukum, izin (vergunning) dijelaskan sebagai:

(24)

"Overheid Toestemming door wet of verordening vereist gesteld voor tal van handeling waarop in het algemeen belang speciaal toezicht vereist is, maar die, in het algemeen, niet als onwenselijk worden beschouwd"

(Perkenan/izin dari pemerintah berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah yang disyaratkan untuk perbuatan yang pada umumnya memerlukan pengawasan khusus, tetapi yang pada umumnya tidaklah dianggap sebagai hal-hal yang sama sekali tidak dikehendaki).

Ateng Syafrudin mengatakan bahwa izin bertujuan dan berarti menghilangkan halangan, hal yang dilarang menjadi boleh, atau "Als opheffing van een algemene verbodsregel in het concrete geval". (sebagai peniadaan ketentuan larangan umum dalam peristiwa konkret).

Menurut Sjachran Basah, izin adalah perbuatan hukum administrasi negara bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan dalam hal konkreto berdasarkan n persyaratan dan prosedur sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan. E. Utrecht, mengatakan bahwa bilamana pembuat peraturan umumnya tidak melarang suatu perbuatan, tetapi masih juga akan memperkenalkannya asal saja diadakan secara yang ditentukan untuk masing-masing hal konkret, maka keputusan administrasi negara yang memperkenankan perbuatan tersebut bersifat suatu izin (vergunning).

Bagir Manan menyebutkan bahwa izin dalam arti luas berarti suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk memperbolehkan melakukan tindakan atau perbuatan tertentu yang secara umum dilarang. N.M. Spelt dan J.B.J.M ten Berge membagi pengertian izin dalam arti luas dan sempit, yaitu sebagai berikut. "Izin adalah salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dalam Hukum Administrasi. Pemerintah menggunakan izin sebagai sarana yuridis untuk mengemudikan tingkah laku para warga.

(25)

Izin adalah suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan undang- undang atau peraturan pemerintah untuk dalam keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan-ketentuan larangan perundangan. Dengan memberi izin, penguasa memperkenankan orang yang memintanya untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang sebenarnya dilarang. Ini menyangkut perkenan bagi suatu tindakan yang demi kepentingan umum mengharuskan pengawasan khusus atasnya. Ini adalah paparan luas dari pengertian izin. Izin (dalam arti sempit) adalah pengikatan-pengikatan pada Suatu peraturan izin pada umumnya didasarkan pada keinginan atau untuk menghalangi keadaan-keadaan yang buruk. Tujuannya pembuat undang-undang untuk mencapai Suatu tatanan tertentu adalah mengatur tindakan-tindakan yang oleh pembuat undang- undang tidak seluruhnya dianggap tercela, namun di mana ia menginginkan dapat melakukan pengawasan sekadarnya. Yang pokok pada izin (dalam arti sempit) ialah bahwa tindakan dilarang, terkecuali diperkenankan, dengan tujuan agar dalam ketentuan-ketentuan yang disangkutkan dengan perkenan dapat dengan teliti diberikan batas- batas tertentu bagi tiap kasus. Suatu Jadi persoalannya bukanlah untuk hanya memberi perkenan dalam keadaan- keadaan yang sangat khusus, tetapi agar tindakan. tindakan yang diperkenankan dilakukan dengan cara tertentu (dicantumkan dalam ketentuan-ketentuan). Jika dibandingkan secara sekilas pengertian izin dengan konsesi tidak berbeda. Masing-masing berisi perkenan bagi seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau pekerjaan tertentu.

Dalam pengertian sehari- hari kedua istilah itu digunakan secara sama, seperti disebutkan M.M. van Praag,

"De termen vergunning en concessie beide gebezigd voor een en dezelfde juridische figuur, ...de houder der vergunning wordt concessionaria genoemd".

(Pengertian izin dan konsesi keduanya digunakan untuk suatu bentuk hukum yang pemegang izin disebut juga konsensionaris).

(26)

Menurut E Utrecht, perbedaan antara izin dengan konsesi itu suatu perbeda nisbi (relatif) saja. Pada hakikatnya antara izin dengan konse itu tidak ada suatu perbedaan yuridis.

Sebagai contoh, izin untuk sama, mendapatkan batu bara menurut suatu rencana yang sede saja dan akan diadakan atas ongkos sendiri, tidak dapat disebut konsesi. Tetapi izin yang diberikan menurut undang-undang tambang Indonesia untuk mendapatkan batu bara adalah suatu konsesi, oleh karena izin tersebut mengenal suatu pekerjaan yang besar dan pekerjaan yang besar itu akan membawa manfaat bag umum. Jadi konsesi itu suatu izin pula, tetapi izin mengenai hal hal yang penting bagi umum. Meskipun antara izin dan konsesi ini dianggap sama, dengan perbedaan yang relatif akan tetap terdapat perbedaan karakter hukum. lzin adalah sebagai perbuatan yang dilakukan oleh pemerintah, sedangkan konsesi adalah suatu perbuatan hukum bersegi dua, yakni suatu perjanjian yang diadakan antara yang memberi konsesi dengan vang diberi konsesi atau penerima konsesi. Dalam hal izin tidak mungkin diadakan perjanjian, karena tidak mungkin diadakan suatu persesuaian kehendak. Dalam hal konsesi biasanya diadakan suatu perjanjian, yakni perjanjian yang mempunyai sifat sendiri dan yang tidak diatur oleh seluruh peraturan-peraturan KUH Perdata mengenai hukum perjanjian.

Menurut M.M. van Praag, izin adalah suatu tindakan hukum sepihak (eenzijdig handeling, ecn overheids handeling), sedangkan konsesi adalah kombinasi dari tindakan dua pihak yang memiliki sifat kontraktual dengan izin, yang dalam pembahasan hukum kita namakan perjanjian. Ketika pemerintah melakukan tindakan hukum yang berkenaan dengan izin dan konsesi, pemerintah menampilkan diri dalam dua fungsi yaitu sebagai badan hukum umum pada saat melakukan konsep., dan sebagai organ pemerintah ketika mengeluarkan izin.

hukum bersegi satu.

Unsur-unsur Perizinan Berdasarkan pemaparan pendapat pada pakar tersebut, dapat disebutkan bahwa izin adalah perbuatan pemerintah bersegi satu berdasarkan peraturan

(27)

perundang-undangan peristiwa konkret menurut prosedur dan persyaratan tertentu. Dari pengertian ini ada beberapa unsur dalam perizinan, yaitu: pertama, instrumen untuk diterapkan pada yuridis; kedua, peraturan perundang-undangan; ketiga, organ pemerintah; keempat, peristiwa konkret; kelima, prosedur dan persyaratan.

Instrumen Yuridis Dalam negara hukum modern tugas, kewenangan pemerintah tidak hanya sekedar menjaga ketertiban dan keamanan (rust en orde), tetapi juga mengupayakan kesejahteraan umum (bestuurszorg). Tugas dan kewenangan pemerintah untuk menjaga ketertiban dan keamanan merupakan tugas klasik yang sampai kini masih tetap dipertahankan.

Dalam rangka melaksanakan tugas ini kepada pemerintah diberikan wewenang dalam bidang pengaturan, yang dari fungsi pengaturan ini muncul beberapa instrumen yuridis untuk menghadapi peristiwa individual dan konkret yaitu dalam bentuk keputusan. Sesuai dengan sifatnya, individual dan konkret, keputusan ini merupakan ujung tombak dari instrumen hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan, l48 atau sebagai norma penutup dalam rangkaian norma hukum. Adalah satu wujud dari keputusan ini adalah izin. Berdasarkan jenis- jenis keputusan, izin termasuk sebagai keputusan yang bersifat konstitutif, yakni keputusan yang menimbulkan hak baru yang sebelumnya tidak dimiliki oleh seseorang yang namanya tercantum dalam keputusan itu, atau "beschikkingen welke iets toestaan wat tevoren niet geoorloofd was (keputusan yang memperkenalkan sesuatu yang sebelumnya tidak dibolehkan).

Dengan demikian, izin merupakan instrumen yuridis dalam bentuk keputusan yang bersifat konstitutif dan yang digunakan oleh pemerintah untuk menghadapi atau menetapkan izin itu dibuat dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku bagi keputusan pada umumnya.

peristiwa konkret. Sebagai keputusan, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Peraturan Perundang-undangan Salah satu prinsip dalam negara hukum adalah wetmatigheid Van bestuur atau pemerintahan berdasarkan peraturan perundang- undangan.

(28)

Dengan kata lain, setiap tindakan hukum baik dalam menjalankan fungsi pengaturan maupun fungsi pela- pemerintah vanan harus didasarkan pada wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Om positief recht te kunnen vaststellen en handhaven is een bevoegdheid noodzakelijk. Zonder bevoegdheid kunnen geen juridisch concrete besluiten genomen worden"

(Untuk dapat melaksanakan dan menegakkan ketentuan hukum positif perlu wewenang. Tanpa wewenang tidak dapat dibuat keputusan yuridis yang bersifat konkret).

Pembuatan dan penerbitan keputusan izin merupakan tindakan hukum pemerintahan.

Sebagai tindakan hukum, harus ada wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang- undangan atau harus berdasarkan pada asas legalitas. Tanpa dasar wewenang, tindakan hukum itu menjadi tidak sah. Oleh karena itu, dalam hal membuat dan menerbitkan izin haruslah didasarkan pada wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena tanpa adanya dasar wewenang tersebut keputusan izin tersebut menjadi tidak sah. Pada umumnya pemerintah memperoleh wewenang untuk mengeluarkan izin itu ditentukan secara tegas dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dari perizinan tersebut. Akan tetapi dalam penerapannya, menurut Marcus Lukman, kewenangan pemerintah dalam bidang izin itu bersifat diskresioner power atau berupa kewenangan bebas, dalam arti kepada pemerintah diberi kewenangan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan izin, misalnya pertimbangan tentang untuk mempertimbangkan atas dasar inisiatif :

1. Kondisi-kondisi apa yang memungkinkan Suatu izin dapat diberikan kepada pemohon.

2. Bagaimana mempertimbangkan kondisi-kondisi tersebut.

(29)

3. Konsekuensi yuridis yang mungkin timbul akibat pemberian atau penolakan izin dikaitkan dengan pembatasan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Prosedur apa yang harus diikuti atau dipersiapkan pada saat dan sesudah keputusan diberikan baik penerimaan maupun penolakan pemberian izin.

Organ Pemerintah Organ pemerintah adalah organ yang menjalankan urusan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Menurut Sjachran Basah, dari penelusuran pelbagai ketentuan penyelenggaraan pemerintahan dapat diketahui, bahwa mulai dari administrasi negara tertinggi (Presiden) sampai dengan adminis negara terendah (Lurah) berwenang memberikan izin. Ini berarti terdapat aneka ragam administrasi negara (termasuk instansinya) pemberi izin, yang didasarkan pada jabatan yang dijabatnya baik ditingkat pusat maupun daerah.

Terlepas dari beragamnya organ pemerintahan atau administrasi pasti adalah bahwa izin rasi negara yang mengeluarkan izin, yang hanya boleh dikeluarkan oleh organ t N.M.

Spelt.dan JBJM ten Berge, keputusan yang memberikan izin harus diambil oleh organ yang berwenang, dan hampir selalu yang terkait adalah organ-organ pemerintahan atau. administrasi negara pemerintahan. Menurut N.M gan pada tingkat penguasa nasional (seorang Dalam hali Seragamnya organ pemerintahan yang berwenang memberikan izin, dapat menyebabkan tujuan dari kegiatan yang membutuhkan irin tertentu menjadi terhambat, bahkan tidak mencapai sasaran yang hendak dicapai.

Artinya campur tangan pemerintah dalam bentuk regulasi perizinan dapat menimbulkan kejenuhan bagi pelaku kegiatan yang membutuhkan izin, apalagi bagi kegiatan usaha yang menghendaki kecepatan pelayanan dan menuntut efisiensi. Menurut Soehardjo, pada tingkat tertentu regulasi ini menimbulkan kejenuhan dan timbul gagasan yang mendorong untuk menyederhanakan pengaturan, prosedur, dan birokrasi. Keputusan-keputusan pejabat sering

(30)

membutuhkan waktu lama, misalnya pengeluaran izin memakan waktu berbulan-bulan, semen- tara dunia usaha perlu berjalan cepat, dan terlalu banyaknya mata rantai dalam prosedur perizinan banyak membuang waktu dan biaya. Oleh karena itu, biasanya dalam perizinan dilakukan deregulasi, yang mengandung arti peniadaan berbagai peraturan Perundang- undangan yang dipandang berlebihan. Karena peraturan perundang-undangan yang berlebihan itu pada umumnya berkenaan dengan campur tangan pemerintah atau negara, maka deregulasi itu pada dasarnya bermakna mengurangi campur tangan pemerintah atau negara dalam kegiatan kemasyarakatan tu terutama di bidang ekonomi. sehingga deregulasi tu pada ujungnya bermakna debirokratisasi. ls6 Meskipun deregulasi dan debirokratisasi ini dimungkinkan dalam bidang perizinan dan hampir selalu dipraktekkan dalam kegiatan pemerintahan, namun dalam suatu negara hukum tentu saja harus ada batas-batas atau Rambu- rambu yang ditentukan oleh hukum. lini organ-organ menteri atau tingkat penguasa-penguasa daerah.

Secara umum dapat dikatakan bahwa deregulasi dan debiro. kratisasi merupakan kebijakan yang diambil oleh pemerintah, yang umumnya diwujudkan dalam bentuk peraturan kebijakan, oleh karena itu, deregulasi dan debirokratisasi itu harus ada batas-batas yang terdapat dalam hukum tertulis dan tidak tertulis. Deregulasi dan debirokratisasi dalam perizinan harus memperhatikan hal-hal berikut.

1. Jangan sampai menghilangkan esensi dari sistem perizinan itu sendiri, terutama dalam fungsinya sebagai pengarah kegiatan tertentu.

2. Deregulasi hanya diterapkan pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dan finansial.

3. Deregulasi dan debirokratisasi tidak menghilangkan hal-hal prinsip dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar perizinan.

(31)

4. Deregulasi dan debirokratisasi harus memperhatikan asas- asas umum pemerintahan yang baik (algemene beginselen behoorlijk bestuur).

Peristiwa Konkret Van Disebutkan bahwa izin merupakan instrumen yuridis yang berbentuk keputusan, yang digunakan oleh pemerintah dalam menghadapi peristiwa konkrit dan individual. Peristiwa konkret artinya peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu, orang tertentu, tempat tertentu, dan fakta hukum tertentu. Karena peristiwa konkret ini beragam, sejalan dengan keragaman perkembangan jenisnya beragam itu dibuat dalam proses yang cara prosedurnya masyarakat, maka izin pun memiliki berbagai keragaman. Izin yang tergantung dari kewenangan pemberi izin, macam izin dan: struktur organisasi instansi yang menerbitkannya. Sekadar contoh, Dinas Pendapatan Daerah menerbitkan 9 macam jenis izin, Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan menerbitkan 5 jenis izin, Bagian Perekonomian 4 jenis izin, Bagian Kesejahteraan Rakyat menerbitkan 4 macam menerbitkan 4 macam jenis izin, dan sebagainya.

Berbagai jenis izin dan instansi pemberi izin dapat saja berubah seiring dengan perubahan kebijakan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan izin tersebut.

Meskipun demikian, izin akan tetap ada dan digunakan dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan kemasyarakatan. Prosedur dan Persyaratan Pada umumnya permohonan izin harus menempuh prosedur tertentu yang ditentukan oleh pemerintah, selaku pemberi izin. Di samping harus menempuh prosedur tertentu, pemohon izin juga harus memenuhi persyaratan- persyaratan tertentu yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah atau pemberi izin.

Prosedur dan persyaratan perizinan itu berbeda-beda tergantung Jenis izin, tujuan izin, dan instansi pemberi izin. Menurut Soehino, syarat-syarat dalam izin itu bersifat konstitutif dan kondisional. Bersifat konstitutif, karena ditentukan suatu Perbuatan atau tingkah laku tertentu yang harus (terlebih dahulu) dipenuhi, artinya dalam hal pemberian izin itu ditentukan suatu

(32)

perbuatan konkret, dan bila tidak dipenuhi dapat dikenai sanksi. Bersifat kondisional, karena penilaian tersebut baru ada dan dapat dilihat serta dapat dinilai setelah perbuatan atau tingkah laku yang disyaratkan itu terjadi. l58 Penentuan prosedur dan persyaratan perizinan ini dilakukan secara sepihak oleh pemerintah, meskipun demikian, pemerintah tidak boleh membuat atau menentukan prosedur dan persyaratan menurut kehendaknya sendiri sers arbitrer (sewenang-wenang), tetapi harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dari perizinan tersebut.

Dengan kata lain tidak boleh menentukan syarat yang melampaui yang batas tujuan yang hendak dicapai oleh peraturan hukum menjadi dasar perizinan bersangkutan. Fungsi dan Tujuan Perizinan Izin sebagai instrumen yuridis yang digunakan oleh pemerintah untuk mempengaruhi para warga agar mau mengikuti cara yang dianjurkannya guna mencapai suatu tujuan konkret. Sebagai suatu instrumen, izin berfungsi selaku ujung tombak instrumen hukum sebagai pengarah, perekayasa, dan perancang masyarakat adil dan makmur itu dijelmakan. Hal ini berarti, lewat izin dapat diketahui bagaimana gambaran masyarakat adil dan makmur itu terwujud. Ini berarti persyaratan-persyaratan yang terkandung dalam izin merupakan pengendali dalam memfungsikan izin itu sendiri. Apabila dikatakan bahwa izin itu dapat difungsikan sebagai instrumen pengendali dan instrumen untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, sebagaimana yang diamanatkan dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, maka penataan dan pengaturan izin ini sudah semestinya harus dilakukan dengan sebaik- baiknya. Menurut Prajudi Atmosudirdjo, t berkenaan bahwa dengan fungsi-fungsi hukum modern, izin dapat fungsi menertibkan masyarakat.

Adapun mengenai tujuan perizinan, hal ini tergantung pada kenyataan konkret yang dihadapi. Keragaman peristiwa konkret menyebabkan keragaman pula dari tujuan izin ini, yang secara umum dapat disebutkan sebagai berikut. Keinginan mengarahkan (mengendalikan

(33)

"sturen") aktivitas- aktivitas tertentu (misalnya izin bangunan). Mencegah bahaya bagi lingkungan (izin-izin lingkungan). Keinginan melindungi objek-objek tertentu (izin terbang, izin membongkar pada monumen-monumen). Hendak membagi benda-benda yang sedikit (izin penghuni di daerah padat penduduk). Pengarahan, dengan menyeleksi orang-orang dan aktivitas-aktivitas (izin berdasarkan "drank en horecawet", di mana pengurus harus memenuhi syarat-syarat tertentu).

Bentuk dan Isi izin Sesuai dengan sifatnya, yang merupakan bagian dari keputusan, izin selalu dibuat dalam bentuk tertulis. Sebagai keputusan Organ yang Berwenang Dalam izin dinyatakan siapa yang memberikannya, biasanya dari kepala surat dan penandatanganan izin akan nyata organ mana yang memberikan izin. Pada umumnya pembuat aturan akan menunjuk organ berwenang dalam sistem perizinan, organ yang paling berbekal mengeħai materi dan tugas bersangkutan, dan hampir selalu yang terkait adalah organ pemerintahan. Karena itu, bila dalam suatu undang-undang tidak dinyatakan dengan tegas organ mana dari lapisan pemerintahan tertentu yang berwenang, tertulis, secara umum izin memuat hal-hal sebagai berikut. tetapi misalnya hanya dinyatakan secara umum bahwa yang berwenang, maka dapat diduga bahwa yang dimaksud adalah organ pemerintahan haminte, yakni wali haminte dengan para anggota pengurus harian. Namun, untuk menghindari keraguan đi dalam kebanyakan undang-undang pada permulaannya dicantumkan ketentuan definisi yang dialamatkan.

Diktum Izin ditujukan pada pihak yang berkepentingan. Biasanya izin lahir setelah yang berkepentingan mengajukan permohonan untuk itu. Karena itu, keputusan yang memuat izin akan dialamatkan pula kepada pihak yang memohon izin. Ini biasanya dialami orang atau badan hukum. Dalam hal-hal tertentu, keputusan tentang izin juga penting bagi pihak yang berkepentingan. Artinya pihak pemerintah selaku pemberi izin harus pula mempertimbangkan kepentingan pihak ketiga yang mungkin memiliki keterkaitan dengan penggunaan izin tersebut.

(34)

"haminte Keputusan yang memuat izin, demi alasan kepastian hukum, harus memuat uraian sejelas mungkin untuk apa izin itu diberikan. Bagian keputusan ini, di mana akibat-akibat hukum yang ditimbulkan oleh keputusan, dinamakan diktum, yang merupakan inti dari keputusan. Setidak-tidaknya diktum ini terdiri atas keputusan pasti, yang memuat hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dituju oleh keputusan tersebut. d. Ketentuan-ketentuan, Pembatasan-pembatasan, dan Syarat- syarat dan ketentuan, pembatasan, dan syarat-syarat (voorschriften, Sebagaimana kebanyakan keputusan, di dalamnya mengan- beperkingen, en voorwaarden), berisi izin ini. Ketentuan-ketentuan ialah kewajiban-kewajiban yang dapat dikaitkan pada keputusan yang menguntungkan. Ketentuan-ketentuan pada izin banyak terdapat dalam praktik Hukum Administrasi Negara. Misalnya dalam undang-undang gangguan untuk ketentuan-ketentuan seperti berikut ini.

1. Ketentuan-ketentuan tujuan (dengan maksud mewujudkan tujuan-tujuan tertentu, seperti mencegah pengotoran tanah).

2. Ketentuan-ketentuan sarana (kewajiban menggunakan sarana tertentu).

3. Ketentuan-ketentuan instruksi (kewajiban bagi pemegang izin untuk memberi instruksi-instruksi tertulis kepada personel dalam lembaga).

4. Ketentuan-ketentuan ukur dan pendaftaran (pengukuran untuk menilai kadar bahaya atau gangguan).

Dalam hal ketentuan-ketentuan tidak dipatuhi, terdapat pelanggaran izin. Tentang sanksi yang diberikan atasannya, pemerintahan harus memutuskannya tersendiri. Dalam pembuatan keputusan, termasuk keputusan berisi izin, dimasukkan pembatasan-pembatasan.

Pembatasan-pembatasan dalam izin memberi kemungkinan untuk secara praktis melingkari lebih lanjut tindakan yang dibolehkan. Pembatasan-pembatasan dibentuk dengan menunjuk batas-batas dalam waktu, tempat atau dengan cara lain.

(35)

Sebagai contoh, pada izin lingkungan dapat dimuat pembatasan izin untuk periode tertentu, misalnya 5 tahun. Di samping itu, dalam Keputusan dimuat syarat-syarat. Dengan menetapkan syarat-syarat, akibat-akibat hukum tertentu digantungkan pada timbulnya suatu peristiwa di kemudian hari yang belum pasti. Dalam keputusan yang berisi izin dapat dimuat penangguhan. syarat penghapusan dan syarat Pemberian Alasan Pemberian alasan dapat memuat hal-hal seperti penyebutan ketentuan undang-undang, pertimbangan-pertimbangan hukum, dan penetapan fakta. Penyebutan ketentuan undang-undang memberikan pegangan kepada semua yang bersangkutan, organ penguasa dan yang berkepentingan, dalam menilai keputusan itu. Ketentuan undang-undang berperan pula dalam penilaian oleh yang berkepentingan tentang apa yang harus dilakukan dalam hal mereka menyetujui keputusan yang bersangkutan. Pertimbangan hukum merupakan hal penting bagi organ pemerintahan untuk memberikan atau menolak permohonan izin. Pertimbangan hukum ini biasanya lahir dari interpretasi organ pemerintahan terhadap ketentuan undang-undang. Adapun penetapan fakta, berkenaan dengan hal-hal di atas. Artinya interpretasi yang dilakukan oleh organ pemerintahan terhadap aturan-aturan yang relevan, turut didasarkan pada fakta-fakta sebagaimana ditetapkannya. Dalam keadaan tertentu, organ pemerintahan dapat menggunakan data yang diberikan oleh pemohon izin, di samping data dari para ahli atau biro konsultan.

Pemberitahuan-pemberitahuan Tambahan Pemberitahuan tambahan dapat berisi bahwa kepada yang dialamatkan ditunjukkan akibat-akibat dari pelanggaran ketentuan dalam izin, seperti sanksi-sanksi yang mungkin diberikan pada ketidakpatuhan. Pemberitahuan- pemberitahuan ini mungkin saja petunjuk-petunjuk bagaimana sebaiknya bertindak dalam mengajukan permohonan-permohonan berikutnya atau informasi jaksanaannya sekarang atau di kemudian hari. Pemberitahuan- umum dari organ pemerintahan yang berhubungan dengan

(36)

kebi- yang pada dasarnya terlepas dari diktum selaku inti keputusan. pemberitahuan tambahan ini sejenis pertimbangan yang berlebihan. Sebab itu, mengenai ini. pemberitahuan- pemberitahuan tidak termasuk dalam hakikat keputusan, secara formal dapat menggugat melalui hakim administrasi. Sebagai suatu tidak seseorang bentuk keputusan, izin tidak berbeda dengan keputusan (beschikking) pada umumnya. Dalam hal pembuatan, isi, dan penerbitan izin harus izin harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku nada pembuatan dan penerbitan keputusan, yakni harus memenuhi syarat formal dan syarat materil, serta harus memperhatikan asas contrarius actus dalam pencabutan.

Penggunaan Instrumen Hukum Keperdataan Ketika membahas kedudukan hukum pemerintah, telah disebutkan bahwa pemerintah dalam melakukan kegiatan sehari-hari tampil dengan dua kedudukan, sebagai wakil dari badan hukum dan wakil dari jabatan pemerintahan.

Sebagai wakil dari badan hukum, kedudukan hukum pemerintah tidak berbeda dengan Seseorang atau badan hukum perdata pada umumnya, yaitu diatur dan tunduk pada ketentuan- ketentuan hukum keperdataan, serta dapat melakukan tindakan hukum keperdataan. Menurut FA.M. Stroink dan J.G.

“Steenbeek: anneer openbare lichaam-rechtspersonen aan het privaatrechtelijk rechtsverkeer deelnemen doen zij dat niet als overheid, als gezagsorgaan- e, maar nemen zij rechtens oP gelijke voet met de burger deel aan đat verkeer. Deze 1 zijn, deelnemende aan het openbare lichamen- rechtspersonen-privaatrechtelijke rechtsverkeer, en aan de rechtsmacht van de "gewone rechter als de burger".

(Ketika badan hukum publik terlibat dalam pergaulan hukum keperdataan, ia bertindak tidak sebagai pemerintah, sebagai in principe op dezelfde wijze onderworpen organisasi kekuasaan, tetapi ia terlibat bersama-

(37)

sama dengan warga negara berdasarkan hukum perdata. Badan hukum publik hukum privat, yang terlibat dalam pergaulan hukum berdasarkan pada dasarnya harus tunduk pada kekuasaan hukum dari Hakim (peradilan) biasa, sebagaimana halnya warga negara).

Dalam pergaulan keperdataan,

"De overheid kan net als natuurlijke personen en privaatrechtelijke rechtspersonen deelnemen aan het privaatrechtelijke rechtsverkeer. De overheid koopt en verkoopt, huurt en verhuurt, pacht en verpacht, sluit overeenkomsten en bezit eigendom. De overheid is ook in haar vermogen aansprakelijk, als in naam van de overheid door die overheid onrechtmatige daden gepleegd".

(Pemerintah sebagaimana manusia dan badan hukum privat dapat terlibat dalam pergaulan hukum privat. Pemerintah melakukan jual beli, sewa- menyewa, membuat perjanjian dan mempunyai hak milik. Pemerintah juga bertanggung jawab ketika terjadi perbuatan melawan hukum yang dilakukan pemerintah).

Menurut RJHM Huisman,

"Privaatrechtelijke rechtshandelingen" zijn de rechtshandelingen die worden beheerst door het privaatrecht. Ook de overheid besluit vaak tot een dergelijke rechtshandeling, bijvoorbeeld de provincie besluit tot aankoop van een bos, de verpacht gemeente verkoopt bouwterreinen, verhuurt huizen, gronden enz"

(38)

(Tindakan hukum keperdataan adalah tindakan hukum yang diatur oleh hukum perdata. Pemerintah juga sering melakukan perbuatan semacam itu, seperti provinsi memutuskan untuk membeli hutan, kabupaten menjual tanah bangunan, menyewakan rumah, menggadaikan tanah, dan Perlu diketahui bahwa,

"Dat het civielrechtelijk handelen van de overheid niet geschiedt door

"bestuursorgaan", maar door "rechtspersonen".

(Tindakan hukum keperdataan dari pemerintah itu tidak dijalankan oleh organ pemerintahan, tetapi oleh badan hukumnya), yang dilakukan oleh wakilnya, yaitu pemerintah. Telah disebutkan pula bahwa hubungan hukum dalam bidang benerdataan itu bersifat dua pihak atau lebih (meerzijdige), sementara Dalam hukum publik itu pada asasnya bersifat satu pihak atau bersegi satu.

Hubungan hukum dalam bidang perdata bersandar nada prinsip otonomi dan kebebasan berkontrak (contractsvrijheid). dalam arti kemerdekaan atau kemandirian penuh bagi subjek hukum untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan hukum, serta itikad baik dalam berbagai persetujuan (goede trouw bij de uitvoering van overeenkomsten), yang menunjukkan kesetaraan antara pihak tanpa salah satunya memiliki kedudukan khusus dan kekuatan memaksa terhadap pihak lain. Atas dasar ini pemerintah hanya dapat "mensejajarkan diri" dengan seseorang atau badan hukum perda dalam kapasitasnya sebagai wakil dari badan hukum publik, bukan dalam kapasitasnya selaku wakil dari jabatan pemerintahan yang memiliki kedudukan istimewa (bijzondere status) dengan "exorbinare rechten" atau hak-hak istimewa dan “monopoli van het physieke geweld". Monopoli paksaan fisik. Dengan demikian, pada asasnya hanya Sebagai wakil badan hukum itulah pemerintah dapat terlibat dalam

(39)

hubungan hukum keperdataan. W.E Prins mengatakan, badan pemerintah memang gemar memakai bentuk hukum perdata. Jalan menurut hukum publik acapkali I sukar untuk ditempuh, sebab di dalam hal ini administrasi negara harus tunduk kepada berbagai peraturan, yang dalam karena Yang dibela utamakan bukan kepentingan administrasi praktiknya terasa mengikat sekali, tetapi pada dasarnya baik, oleh Negara sendiri, melainkan kepentingan publik. Keinginan untuk melepaskan diri dari pembatasan yang diletakkan oleh hukum publik acapkali merupakan dorongan untuk memilih jalan menurut hukum Perdata.

Kenyataan bahwa sekarang ini tidak semua urusan pemerintahan Menurut Indroharto, sudah m merupakan suatu tetapi dilaksanakan oleh instansi-instansı resmi pemerintahan, tetani adakalanya untuk mencapai tujuan pemerintahannya, pemerintah itu lebih menyukai menggunakan lembaga-lembaga hukum berdasarkan hukum perdata dengan segala bentuk variasinya Sarana jalur-jalur yang terbuka dalam hukum perdata banyak memberikan kemungkinan kebijaksanaan yang dapat direalisasi daripada kalau harus dilakukan menurut ketentuan perundang- undangan yang berlaku.

Dalam hal ini, Laica Marzuki menegaskan bahwa perbuatan hukum keperdataan dari badan atau pejabat tata usaha negara telah menjadi salah satu sarana hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan dewasa ini. Penggunaan instrumen hukum publik merupakan fungsi dasar dari organ pemerintahan dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan, sedangkan penggunaan instrumen hukum privat merupakan konsekuensi paham negara kesejahteraan, yang menuntut pemerintah untuk mengusahakan kesejahteraan masyarakat (bestuurszorg), yang dalam rangka bestuurszorg, pemerintah terlibat dengan kegiatan kemasyarakatan dalam berba dimensi sejalan dengan tuntutan perkembangan kemasyarakatan.

Dalam memenuhi tuntutan itu, organ pemerintahan tidak cukup jika hanya menggunakan instrumen hukum

(40)

publik, tetapi juga menggunakan instrumen keperdataan terutama guna efektivitas dan efisiensi pelayanan terhadap keuntungan, yaitu :

1. Warga masyarakat sendiri sejak dahulu sudah biasa berkecimpung dalam suasana kehidupan hukum perdata;

2. Lembaga-lembaga keperdataan demikian itu hampir selalu dapat diterapkan untuk segala keperluan dan kebutuhan karena sifatnya yang sangat fleksibel dan jelas sebagai instrumen;

3. Lembaga-lembaga keperdataan demikian itu juga selalu dapat diterapkan karena bagi pihak-pihak yang bersangkutan memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri isi dari perjanjian yang hendak mereka buat;

4. Sering kali terjadi di mana jalur hukum publik menemui jalan buntu, tetapi jalur yuridis menurut hukum perdata malah dapat memberi jalan keluarnya;

5. Ketegangan yang disebabkan oleh tindakan yang selalu bersifat sepihak dari pemerintah dapat dikurangi;

6. Berbeda dengan tindakan-tindakan yang bersifat sepihak dari pemerintah, maka tindakan-tindakan menurut hukum ini hampir selalu dapat memberikan jaminan- jaminan kebendaan, misalnya untuk ganti rugi.

Meskipun pemerintah selaku wakil dari badan hukum dapat melakukan tindakan- tindakan hukum keperdataan, namun tindakan menurut hukum

Referensi

Dokumen terkait

Penyelenggaraan desentralisasi mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah dan daerah otonom. Ada enam bidang yang hanya menjadi urusan pemerintah

Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat dapat dilakukan dengan cara ... tugas pembantuan kepada daerah atau desa

Tindakan hukum pemerintahan adalah tindakan –tindakan yang dilakukan oleh organ pemerintahan atau administrasi Negara yang dimaksudkan untuk menimbulkan

urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang- perundangan diserahkan kepada desa (Pasal 206 UU No. Untuk menjalankan berbagai urusan pemerintahan tersebut,

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang dimaksud Pemerintahan Daerah adalah penyelenggara urusan

Sebagai lawan istilah hukum administrasi khusus (hukum admi- nistrasi luar biasa), dikenal pula istilah hukum administrasi umum. Dengan peran pemerintahan yang begitu

Hukum Administrasi Negara adalah cabang hukum yang mengatur hubungan hukum istimewa yang memungkinkan pejabat pemerintahan melakukan tugas mereka secara

Memenuhi panggilan atau mewakili organisasi untuk hadir atau melaksanakan perintah suatu tindakan hukum atas permintaan pejabat yang berwenang dari lembaga negara atau instansi