• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus Timor Timur Pra Referendum 1974-1999

N/A
N/A
Edy Sony

Academic year: 2024

Membagikan "Kasus Timor Timur Pra Referendum 1974-1999"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah

Kasus di timur timor pra referendum tahun 1974-1999

Di susun oleh kelompok 2 :

1. Simon kalwela (ketua)

2. Julia frans

3. Agnes saiklela

4. Yustitia siamiloy

5. Rizal mamonung

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar belakang

Latar belakang kasus di Timor Timur pra referendum tahun 1974-1999 melibatkan serangkaian peristiwa dan konflik yang berlangsung selama 22 tahun. Ini dimulai dengan invasi dan pendudukan Indonesia di Timor Timur pada tahun 1975, yang dikenal sebagai Operasi Seroja. Selama periode ini, terjadi berbagai operasi militer dan konflik internal, termasuk

pembentukan Pemerintah Sementara Timor Timur (PSTT), pengepungan dan pemusnahan FRETILIN, Operasi Keamanan (1981–1982), Operasi Sapu Bersih (1983), dan Gerakan Klandestin Fretilin (1980-1999).

Konflik ini mencapai puncaknya dengan Krisis Timor Timur 1999 atau Operasi Guntur, yang merupakan tindakan

pembalasan oleh milisi pro-Indonesia terhadap rakyat Timor Timur dalam rangka hasil positif referendum kemerdekaan di Timor Timur pada tanggal 30 Agustus 1999. Permasalahan ini memojokkan Indonesia di forum internasional dan

menimbulkan berbagai kasus pelanggaran HAM.

Referendum tersebut disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) antara Indonesia dan Portugal, dan hasilnya adalah Timor Timur lepas dari NKRI dan menjadi negara yang dikenal sekarang sebagai Timor Leste.

(3)

b.

Rumusan masalah

1. Bagaimana konflik kasus tersebut bisa terjadi ?

2. Apa tanggapan rakyat timor leste tentang berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi?

c.

Tujuan penulisan

Tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk memicu kita sebagai generasi muda dapat mengetahui kasus-kasus ham yang pernah terjadi di indonesia.

 

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

Sebelum merdeka timor timur sempat menjadi wilayah yang di kuasai oleh beberapa negara.

Negara pertama yang menduduki timur timor adalah portugis pada tahun 1520, kemudian spanyol tiba pada 1522.

Pada tahun 1613, belanda menguasai bagian barat pulau itu namun kekuasaan itu di rebut inggris pada tahun 1812-1815.

Setelah inggris pergi, belanda dan portugis memperebutkan hegemoni kekuasaan tas pulau timor. Portugis akhirnya memperoleh kedaulatan atas wilayah bagian timur setelah melakukan perjanjian dengan belanda pada 1860dan 1893. Perjanjian terakhir hanya bertahan sampai

1914. Selama perang dunia II timur berada dalam kekuasaan jepang.

Setelah jepang kalah dari sekutu provinsi timor timur tetap berada dalam pendudukan portugis sampai thaun 1975. Selama dalam kontrol portugis salah satu partai politik utama timtim, frente Revolucionaria timor leste independente (fretilin)

Mendapat banyak kontrol atas wilayah tersebut dan pada bulan november 1975 mendeklarasikan kemerdekaan sebagai republik demokratik timor leste.

(5)

Pada 7 desember 1975 pasukan indonesia yang didukung amerika dan australia menduduki wilayah tersebut. Di tahun berikutnya indonesia mendeklarasikan timtim sebagai bagian integral dari negara tersebut sebagai provinsi timor timot (timtim).

Pada tahun-tahun berikutnya muncul konflik antara pendukung kemerdekaan timor leste dan pemerintah indonesia serta pendukung integrasi timtim. Konflik erus meningkat, pada tahun 1991, tentara indonesia

melepaskan tembakan ke 4.000 pelayat pro-kemerdekaan di sebuah pemakaman yang sedang mengubur seorang siswa muda yang baru-baru ini di bunuh ileh tentara. Seorang jurnalis foto inggris memfilmkan apa yang mulai di kenal sebagai pembantaian santa cruz. Yang menyebabkan lebih dari 200 orang tewas. Rekaman tersebut di siarkan di televisi di negera-negara barat untuk pertama kalinya pemerintah amerika serikat mengutuk kekerasan di indonesia.

Insiden santa cruz

(6)

Bekas provinsi ke-27 itu membuat indonesia menjadi bulan-bulanan di dunia internasional.

Banyak pihak yang menggunakan isu timtim sebagai salah satu sarana memukul dan

mempermalukan bangsa indonesia di percaturan internasional. Padahal disisi lain indonesia sedang berjuang keras membuktikan bahwa tuduhan pelanggaran HAM di timtim tidak

seluruhnya tidak benar.

Meskipun begitu pada masa itu tidak ada keinginan sedikitpun untuk membuat keutuhan dan kesatuan NKRI terkoyak. Namun tekanan dari dunia internasional untuk memberi

kemerdekaan kepada timor timor semakin menguat, seiring dengan semakin intensifnya

pertikaian fisik di timor timur.

(7)

Persiapan referendum

Tujuh bulan setelah BJ.Habibie memegang tampuk kekuasaan atau tepatnya tanggal 19 desember 1998., perdana mentri Australia john Howard mengirim surat kepada presiden Habibie ia mengusulkan untuk meninjau ulang pelaksanaan bagi rakyat timtim.

Merespom pemerintah PM Australia itu, pemerintah NKRI menggelar sidang kabinet bina graha pad 27 januari 1999. Menteri luar negeri Ali Alatas mengumumkan hasil keputusan sidang yang memakan waktu lebih dari lima jam itu. Bahwa indonesia akan lepas tangan dari timtim jika mereka menolak opsi

penyelesaian konflik yaitutawaran otonomi khusus yang di perluas.

Di timor timur, kekerasan antara kubu pro-kemerdekaan melawan kubu pro-integrasi (PPI) terus terjadi.

Pada 6 april 1999 terjadi kekerasan digereja liguicha yang menyebabkan ratusan orang mengungsi.

Disusul kerusuhan pada tanggal 17 april di dili yang anatara lain menewaskan putra aktivis pro- kemerdekaan manuel viegas carrascalao dan perusakan kantor harian suara timor timor.

Pada 21 april 1999 kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan mendatangkan kesepakatan damai di kediaman Uskp dili, Mgr Carlos filipe Xmenes. Kesepakatan damai ini di saksikan menhankam / pangab TNI jenderal Wiranto, wakil ketua komnas HAM Djoko soegianto, dan uskup Baucau Mgr Basilio do Nascimento.

(8)

Presiden Habibie membahas lebih dalam tentang nasib timtim dengan perdana mentri Australia, john Howard pada 27 april 1999. Habibie mengungkapkan akan melaksanakan penentuan pendapat untuk mengetahui kemauan sebenarnya rakyat timtim, tetap berinegrasi atau memisahkan diri dari indonesia. Rencana awal referendum akan di laksanakan pada tanggal 8 agustus 1999.

Sebagai implementasi dari pernyataan Habibie, mentri luar negeri (Menlu), Ali alatas dan menlu portugal Jaime Gamma, bersama sekertaris jenderal PBB kofiannan menandatangani kesepakatan referndum pada 8 agustus 1999 di timur timor.

Disisi lain, indonesia tetap bertanggung jawab pada keamanan pelaksanaan referendum tersebut. Sidang umum PBB menerima dengan bulat kesepakatan itu pada 7 mei 1999.

Presiden Habibie kemudian membentuk tim pengamanan implementasi penentuan pendapat tentang status timtim pada 11 mei. Selanjutnya pa 17 mei 1999 . presiden Habibie mengeluarkan keputusan presiden (kepres) No. 43/1999 tentang tim pengamanan persetujuan RI-portugal di timtim. Keppres itu di mantapkan dengan instruksi presiden (inpres) No. 5/1999 tentang langkah pemantapan persetujuan RI-portugal. Melalui mensesneg muladi, pemerintah indonesia meminta PBB memajukan penentuan pendapat, dari 8 agustus menjadi tanggal 7 agustus 1999. Alasanya karena pada tanggal 8 agustus 1999 merupakan hari minggu dan banyak umat katholik melakukan peribadatan.

(9)

Sejak 1 juni 1999, bendera biru PBB mulai berkibar di tanah timor timur. PBB meresmikan misinya

(UNAMET) di wilayah ini pada 3 juni 1999. Misi itu di ketuai oleh ian martin. Sayangnya misi itu di warani kerusuhan yang di lakukan pihak pro-integrsai di Dili.

Untuk membuat kondisi timor timur kondusif selama masa persiapan referendum perwakilan kelompok pro- integrasi dan pro-kemerdekaan mengadakan pertemuan di jakarta pada 16-18 juni 1999. Dalam pertemuan ini mereka sepakat menyerahakan senjata yang dimiliki oleh kelompok bersenjata kedua pihak kepada UNAMET atau pemerintah RI. Setelah kesepakatan penyerahan senjata tercapai pada 23 juni 1999 pemerintah indonesia mengirimkan 4.4452 anggota polri untuk mengamankan pelaksanaan jajak pendapat di timtim.

Pada 26 juni 1999, sekjen PBB Kofi Annan merespon permintaan perubahan jadwal pelaksanaan yang

sebelumnya di ajukan indonesia dan memutuskan menunda pelaksanaan jajak pendapat di timtim dua minggu dari tanggal yang di tentukan, sehingga rencana berubah menjadi tanggal 21 agustus.

Untuk menyukseskan referndum sejak tanggal 16 juli-8 agustus mulai di adakan pendaftaran pemilih. Secara umum, hari pertama pendafaran berlangsung aman kecuali, di kecamatan zumalai ,kovalima,terjadi kerusuhan yang mengakibatkan satu korban tewas dan lima luka-luka.

(10)

Ditengah-tengah masa pendaftran referendum, PBB kembali merubah keputusan pelaksanaan referendum yang di rubah menjadi tanggal 30 agustus 1999.

Masa kampanye untuk referndum di buka pada tanggal 14 agustus 1999. Rencananya masa kampanye ini berlangsung hingga 26 agustus. Di hari yang sama kelompok pro-otonomi dan pro-kemerdekaan sepakat menciptakan kampanye damai hingga putaran terakhir.

Namun sayangnya kesepakatan itu hanya menjadi sebuah wacana karena pada kenyataannya kerusuhan tetao terjadi. Pada tanggal 25 agustus bertepatan dengan putaran terakhir

kampenye pro kemerdekaan kersuhan terjadi dan mengakibatkan dua oarang tewas. Kersuhan

juga terajdi pada putaran terahir kampanye pro-integrasi yang di warani dengan kerusuhan

massal yang memuncak di bekora dan kuluhan. Setidaknya empat orang tewas dan dua orang

wartawan tertembak.

(11)

 

Kerusuhan pada masa kampanye

(12)

Pelaksanaan referendum

Hari referendum pun tiba pada 30 agustus 1999 dilaksanakan referndeum dengan situasi yang relatif aman dan diikuti hampir seluruh warga timtim. Namun, satu hari setelah

referendum dilaksanakan suasana menjadi tidak menentu. Terjadi kerusuhan di berbagai

tempat.

(13)

Kelompok milisi pro-integrasi (PPI) menghadang dan mengepung sekitar 150 staf Uunamet untuk wilayah ermere yang sedang menuju Dili. Seiring dengan itu wakil pamglima PPI Eurico Guterres dan seluruh

pasukan PPI memblokade seluruh akses keluar dari timtim baik laut,darat, dan udara.

Memasuki bulan september terjadi eksodus besar-besaran warga timtim.meski awalnya berniat

memblokade, namun Eurico Guteres dan seluruh pasukan PPI tidak menghalang-halangi warga timtim yang ingin berekdosus.

Sementara itu kondisi kota Dili semakin mencekam. Milisi menyerang markas Uunamet di balide. Tiga anggota mulai memukuli korespenden BBC News untuk indonesia., Jonathan Heat yang terjebak di kantor UNAMET.

Untk meredakan ketegangan pada 2 september 1999 diadakan rapat dengan pendapat anatara komisi

referndum dengan pihka pro-integrsai tentang berbagi penyimpangan Dalam pelaksanaan jajak pendapat.

Front bersama untuk otonomi timtim (UNIF) memprotes dan menolak hasil referndum. Mereka mengutuk keras gaya Uunamet yang di anggap tidak netral, memihak,dan manipulatif.

(14)

Sekjen PBB akhirnya menyampaikan hasil referendum kepda dewan keamanan PBB pada 3 september 1999. Hasilnya 344.580 suara (78,5%) menolak otonomi 94. 388 (21%) suara

mendukung otonomi, dan 7.985 suara dinyatakan tidak valid hasil referndum tersebut kemudian di umumkan seacara di Dili pada 4 september 1999.

Akan tetapi seperti yang telah di perkirakan banyak pihak, kerusuhan massal terjadi di Dili.

Salah satu pihak yang tidak terima dengna keklahan mereka lengsung meletuskan tembakan yang menandai dimulainya kerusuhan. Kerusuhan selama berhari-hari pun terjdi di timor timur.

Akibatnya pada 7 september 1999 infrastruktur timor timur luluh lantah.

Kehancuran di kota Dili

(15)

Sebagai penanggung jawab keamanan timor timur, indonesia merespon kondisi ini dengan menerapkan darurat militer. Mayjen TNI Kiki Syhankari diangkat sebagai panglima penguasa darurat militer dan letkol laut. Wilem Rampanglei sebagai komandan satgas penerangan darurat militer.

Presiden BJ.Habibie yang sebelumnya telah menerima hasil referendum menyampaikan pidato pertanggung jawaban didepan siang umum majelis permusyawaratan rakyat pada 14 september 1999.

Untuk membantu TNI menstabilkan situaso di timtim, PBB mengirim pasukan multinasional ke timtim yang di namai intrnal force for east timor (interfet) pada 15 september 1999. Interfet dikomadani oleh Mayjen

peter Cosgrave dari Australia dengan wakilnya Mayjen songkitti jaggabtra dari thailand.

Setelah pasukan multinasional berangsur-angsur mendarat di timor timur, pemerintah indonesia mencabut masa darurat militer pada 23 september 1999 melalu kepres No. 112/1999. Keputusan pencabutan di ambil melalui sidang dewan pertahanan dan keamanan Naional di Nina Graha.

Pada 25 oktober 1999 PBB mengesahkan misi untuk membantu pemerintah transisi timor timur. Sekjen PBB kofi Annan menunjuk di plomat senior dari Brazil, Sergio Viera de mello sebagai ketua pemerintahan yang terdiri dari 1.640 polisi internasional 200 pengamat militer dan ratusan pegawai sipil.

(16)

Satu hari berselang presiden baru indonesia Abdurraham Wahid menandatangani surat keputusan pembentukan misi PBB untuk pemerintahan transisi.

Segera setelah penandatanganan, seluruh personal TNI yang berada di beberapa tempat vital seperi kantor komunikasi, PLN, dan pelabuhan harus segera meninggalkan tempat-tempat tersebut.

Pada 30 oktober 1999, bendera merah putih di turunkan dari bumi timor leste dalam upacara yang sangat sederhana dan tanpa adanya liputan interfet melarang wartawan untuk meliputi

acara itu. Upacara dipimpin ketua indonesian task force east timor (IFTET) brigjen JD Sitorus di Markas Batalion lintas uadara 700, kawasan faroul, Dili barat. Upacara senan juga diadakan

dibandara komor, di pimpin Komandan lanud Letkol Pnb John Dalas. Upacara penurunan

bendera itu sekaligus menandai mantan provinsi ke-27 indonesia yang selama bertahun-tahun menjadi permasalahan bangsa.

sementara itu pemerintah transisi PBB bertahan hingga timor leste mendeklarasikan

kemerdekaannya pada 22 mei 2002.

(17)

BAB III PENUTUP a.Kesimpulan

 

Pemberian referndum terhadap timur timor yang di kelurkan presiden BJ. Habibie merupakan suatu keputusan yang dilematis. Dimana satu sisi mendapat pertentangna dari dalam negeri dan disisi lain membawa dampak positif di forum internasional. Referendum meskipun buka menjadi faktor utama yang secara siknifikan

meningkatkan kredibilitas indonesia secara langsung serta mendapatkan indonesia menjadi negara yang demokratis.

kemerdekaan Timor Timur dan disaat yang sama berupaya menghindari perang dengan Indonesia. Kondisi Indonesia yang labil dikarenakan krisis multi dimensi waktu itu menghadapkan Habibie pada rational choice yang dalam keputusannya mengabaikan opini dalam negeri untuk mempertahankan Timor Timur. Habibie memandang dukungan dari dunia internasional lebih memiliki arti dalam

melepaskan diri dari krisis ekonomi dengan mengembalikan kepercayaan

internasional terhadap Indonesia, dengan tujuan untuk menarik investor asing untuk kembali ke Indonesia. Disini perbaikan ekonomi lebih di kedepankan untuk mengatasi krisis finansial Indonesia.

 

(18)

b.

Saran

Permasalahan timor timur adalah permasalahan yang sangat kompleks. Karena kompleksnya permasalah itu, maka setiap peniliti harus melihat timur timor dari berbagai sisi sehingga didapatkan suatu penjelasan yang lebih mendalam dan

menyeluruh. Permasakahan ditimor timur berputar pada konflik yang terjadi, aturan pemerintah indonesia dengan kelompok pro-kemerdekaan, pro-integrasi dan konflik inetrnasional. Kepada peniliti selanjutnya,melihat kondisi itu setidakmya dapat

memanfaatkan celah tersebut untuk mengkaji lebih dalalm tentang permasalahan timot timur.

 

(19)

THANK YOU

Referensi

Dokumen terkait

Latar belakang lepasnya Timor Timur dari negara Indonesia adalah gagalnya diplomasi Indonesia menyakinkan masyarakat internasional akan kehendak rakyat Timor Timur untuk

Sejarah Negara Republik Indonesia, Sejarah Negara Republik Demokratik Timor Leste, Konflik yang terjadi di Timor Timur dan akibatnya, status warga masyarakat yang

Sebuah Potret Perjuangan di Timor Timur, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,. Usman, Huasani

Apakah ada anggota rumah tangga ini yang pernah tinggal di Provinsi Timor Timur tahun 1999 atau sebelumnya1. Kapan anggota rumah tangga ini pindah keluar dari

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mendeskripsikan awal bergabungnya Timor Timur dengan Indonesia dan proses lepasnya Timor Timur dari Indonesia, serta

pada tanggal 4 September 1999 dengan hasil Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan.

1) Pemerintah Portugis telah mengakui (pada 7 Mei 1975) prinsip hak untuk merdeka bagi rakyat Timor Timur, sesuai dengan pernyataan Semesta Hak Asasi Manusi dan Piagam PBB. 2)

Berbagai rangkaian sepanjang tahun telah terjadi konflik dualisme antara gerakan pro integerasi dengan pro kemerdekaan yang didasari karena adanya berbeda kepentingan dari