TUGAS MAKALAH
PERISTIWA PEMBERONTAKAN DI/TII DI JAWA BARAT
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah pancasila Dosen pengampu :
Nurul Istiqomah, S.Pd., M.Pd.
Disusun Oleh :
Fadhil Arifin Rachmat (1604624074) Meriana (1601624073)
Madda Fitria (1604624057) Ramya Sabil Arsyi Solihin (1604624070)
Anira Dolanasya (1603624021) Dhafa Rahmat Ramadhoni (1604624093)
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
TAHUN 2024
KATA PENGANTAR
Dengan rasa syukur dan hormat, kami menyampaikan puji dan terima kasih kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa memberikan rahmat dan petunjuk-Nya dalam setiap langkah kehidupan kita.
Makalah ini disusun sebagai bentuk refleksi, pembelajaran, dan dedikasi terhadap suatu topik yang dianggap penting dan relevan. Tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk menggali lebih dalam, mengurai, dan menyajikan informasi yang dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang suatu materi yang kami buat dengan judul “PERISTIWA PEMBERONTAKAN DI/TII DI JAWA BARAT”.
Kami juga ingin menyampaikan terimakasih kepada Bu Nurul Istiqomah, S.Pd., M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah pancasila yang telah
memberikan tugas makalah ini, sehingga kami dapat memahami dan mempelajari tentang materi yang kami buat ini.
Makalah ini tentunya masih memiliki keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan guna perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dalam pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Akhir kata, semoga makalah ini menjadi sebuah informatif kepada para pembaca semua dan semoga menjadi sebuah pengetahuan ilmu dikalangan masyarakat banyak.
Jakarta, 07 Oktober 2024
DAFTAR ISI
Contents
BAB I PENDAHULUAN ... 4
1. 1 Latar Belakang ... 4
1. 2 Rumusan Masalah ... 5
1. 3 Tujuan ... 5
1. 4 Manfaat ... 5
BAB II PEMBAHASAN ... 6
2. 1 Latar Belakang ... 6
2. 2 Tokoh dan Peran ... 7
2. 3 Alur Pemberontakan ... 8
2. 4 Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat ... 9
2. 5 Upaya Penumpasan Oleh Pemerintah ... 10
BAB III ... 11
PENUTUP ... 11
3. 1 Kesimpulan ... 11
3. 2 Saran ... 11
Daftar pustaka ... 12
BAB I
PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang
Sejarah Indonesia setelah kemerdekaan diwarnai oleh berbagai pergolakan politik dan militer, salah satunya adalah pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat. Pemberontakan ini dipimpin oleh S.M.
Kartosuwiryo, yang pada tahun 1949 memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Gerakan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kebijakan
pemerintah pusat yang dinilai tidak sesuai dengan aspirasi sejumlah kelompok yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis syariat Islam.
Jawa Barat, sebagai pusat gerakan DI/TII, memiliki peran penting dalam pemberontakan ini karena kondisi geografisnya yang strategis untuk gerakan gerilya. Selain itu, faktor sosial-politik seperti ketidakstabilan akibat Perang Kemerdekaan dan kebijakan agraria yang tidak memuaskan turut menyulut ketegangan di wilayah tersebut. Kartosuwiryo, sebagai tokoh kharismatik, berhasil mendapatkan dukungan dari sebagian masyarakat setempat yang merasa terpinggirkan oleh kebijakan pemerintah Republik Indonesia yang lebih
nasionalis. Pemberontakan DI/TII berlangsung selama lebih dari satu dekade dan memberikan dampak yang signifikan, baik dalam hal keamanan, stabilitas politik, maupun sosial-ekonomi di Jawa Barat. Meskipun pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya, termasuk pendekatan militer dan diplomasi,
perlawanan DI/TII baru bisa dipadamkan sepenuhnya pada awal 1960-an dengan ditangkap dan dieksekusinya Kartosuwiryo.
Dalam konteks sejarah nasional, pemberontakan DI/TII memberikan pelajaran penting mengenai tantangan yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam
menyatukan berbagai kelompok dengan visi ideologi yang berbeda-beda. Meski gerakan ini akhirnya berhasil ditumpas, dampak sosial-politik dan wacana ideologis yang ditinggalkan oleh pemberontakan tersebut masih menjadi kajian penting dalam memahami dinamika politik Islam dan nasionalisme di Indonesia.
1. 2 Rumusan Masalah
• Apa yang menjadi latar belakang terjadinya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat?
• Siapa saja tokoh utama yang terlibat dalam pemberontakan DI/TII, terutama peran S.M. Kartosuwiryo dalam memimpin gerakan ini?
• Kapan pemberontakan DI/TII terjadi dan bagaimana perkembangan kronologisnya dari awal hingga akhir di Jawa Barat?
• Mengapa kelompok DI/TII memilih jalur pemberontakan, dan apa saja faktor-faktor penyebab yang mendorong gerakan ini terjadi di Jawa Barat?
• Bagaimana respons pemerintah Indonesia dalam menghadapi dan
menumpas gerakan DI/TII di Jawa Barat, serta bagaimana pemberontakan tersebut berakhir?
1. 3 Tujuan
• Menganalisis latar belakang terjadinya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, termasuk faktor sosial, politik, dan ekonomi yang
mempengaruhinya.
• Mengidentifikasi peran S.M. Kartosuwiryo sebagai pemimpin utama gerakan DI/TII dan bagaimana kepemimpinannya membentuk arah gerakan tersebut
1. 4 Manfaat
• Memperkaya wawasan sejarah tentang pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, terutama terkait dinamika politik, sosial, dan ideologi pasca- kemerdekaan Indonesia
• Membantu mahasiswa yang mempelajari sejarah Indonesia dengan
memberikan informasi yang jelas dan terstruktur mengenai pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.
BAB II PEMBAHASAN
2. 1 Latar Belakang
• Ketidakpuasan Kartosuwiryo Terhadap Perjanjian Renville
Perjanjian ini dianggap merugikan Indonesia dan tidak sesuai dengan semangat perjuangan kemerdekaan. Hal ini memicu ketidakpercayaan dan kekecewaan di kalangan masyarakat, terutama para pendukung garis keras.
• Pemerintah dianggap tidak menerapkan hukum Islam
Sejumlah kelompok, termasuk Kartosuwiryo dan para pendukungnya, merasa bahwa pemerintah pusat tidak cukup memperjuangkan kepentingan umat Islam, terutama dalam penerapan syariat Islam dalam sistem pemerintahan Indonesia
• Ketidakstabilan Pasca-Kemerdekaan
kondisi politik dan sosial di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan yang tidak stabil, yang menyebabkan situasi ini dimanfaatkan oleh kelompok separatis seperti DI/TII
2. 2 Tokoh dan Peran
1) Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo
Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam pada 7 Agustus 1949, yang merupakan gerakan separatis yang berupaya mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Dia mengambil posisi sebagai pemimpin tertinggi dan berperan dalam menentukan arah dan strategi gerakan ini
2) K. Abdul Halim
K. Abdul Halim sebagai jenderal dalam struktur kepemimpinan DI/TII. Dia memiliki peran strategis dalam menyusun strategi dan mengorganisasi kekuatan DI/TII di lapangan
3) Gozali Tusi
Gozali Tusi menjabat sebagai pemimpin militer di DI/TI. Dia memiliki peran penting dalam mengorganisir operasi militer dan memimpin angkatan bersenjata dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah
4) Sanusi Partawijaya
Sanusi Partawijaya berperan penting dalam mengembangkan dan melaksanakan strategi perang gerilya DI/TII. Ia memanfaatkan kondisi geografis Jawa Barat, seperti perbukitan dan hutan, untuk melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan pemerintah.
5) Toha Arsyad
Ia memiliki peran penting dalam pengorganisasian dan pelatihan anggota DI/TII.
Toha Arsyad memastikan bahwa pasukan memiliki keterampilan yang diperlukan untuk berperang dan mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan yang sulit.
6) K.H. Kamran
Kamran aktif dalam membangun hubungan dengan masyarakat lokal, berusaha mendapatkan dukungan bagi perjuangan DI/TII. Ia berupaya menciptakan solidaritas dengan penduduk setempat, menjelaskan tujuan dan aspirasi gerakan.
7) Raden Oni Sontani
Dalam konflik yang dihadapi DI/TII, R. Oni menunjukkan kepemimpinan yang kuat, mampu memotivasi dan menginspirasi anggota untuk tetap berjuang meskipun dalam kondisi sulit
2. 3 Alur Pemberontakan
Jalannya Pemberontakan DI/TII
Ada beberapa pemberontakan di/tii di Indonesia, diantaranya yaitu:
Pemberontakan DI/TII Jawa Barat
Awal mula terjadinya gerakan DI/TII di Jawa Barat disebabkan karena penandatanganan Perjanjian Renville yang dilakukan pada 17 Januari 1948.
Bersama pasukannya yang berjumlah sekitar 4000 orang, S.M. Kartosuwiryo membangun Darul Islam (DI), Kartosuwiryo menolak hijrah ke Jawa Tengah bersama pasukannya dan tidak menganggap keberadaan RI lagi dan tujuannya yaitu untuk melawan penjajahan Belanda di Indonesia.
Setelah semakin kuat, pada 17 Agustus 1949 S.M.Kartosuwiryo menyatakan Negara Islam Indonesia secara resmi berdiri di Desa Cisayong, Jawa Barat dan nama tentaranya adalah Tentara Islam Indonesia (TII) dan banyak rakyat menjadi korban. Usaha yang dilakukan pemerintah untuk menumpas pemberontakan, mereka bekerja sama dengan rakyat sekitar lalu dijalankan strategi perang yang baru yang disebut Perang Wilayah. Operasi penumpasan gerakan DI/TII
digencarkan pada 1 April 1962 dan operasi itu disebut dengan Operasi Bharatayuda.
Pada 4 juni 1962 dengan menggunakan taktis Pagar Betis, pasukan siliwangi berhasil menangkap Kartosuwiryo dan pengikutnya di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Kartosuwiryo pernah meminta grasi ke Presiden tapi grasi tersebut ditolak lalu pada tanggal 16 Agustus 1962, ia divonis hukuman mati di hadapan regu tembak ABRI.
Tujuan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, diantaranya yaitu:
Mendirikan negara berlandaskan syariat Islam berupa Al Qur’an dan Hadist di wilayah Indonesia.
Menolak Perjanjian Renville.
Mengatasi Dominasi Komunis dan Sosialis.
2. 4 Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat
Negara Kurnia Allah-Negara Islam Indonesia (NKA NII) atau yang dikenal
sebagai DI artinya wilayah, rumah, atau negara Islam. Tokoh Masyumi Jawa Barat bernama Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo merupakan komandan tertinggi gerakan tersebut. Kartosurwijo dan pengikutnya menegaskan NII itu adalah implementasi pesan-pesan Islam yang kaffah. Bahkan pendiri organisasi Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja juga pernah bergabung dengan NII karena visinya yang sama.
Sejarah pemberontakan itu berawal pada 1948, saat pemerintah menandatangani Perjanjian Renville yang mengharuskan pengikut RI mengosongkan Jawa Barat dan pindah ke Jawa Tengah. Bagi Kartosuwirjo ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Jawa Barat. Kemudian ia dan 2000 lebih pengikutnya menolak pindah dan mendirikan NII. Pemerintah berupaya menyelesaikan dengan cara damai yakni dengan membentuk komite yang dipimpin Natsir selaku Ketua Masyumi. Namun tidak berhasil dan pada 1949, pemerintah melakukan
penumpasan DI/TII yang disebut Operasi Bharatayuda.
Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat berakhir dengan Kartosuwirjo ditangkap di Gunung Beber. Operasi Pagar Betis itu berhasil membatasi ruang gerak DI/TII.
Kartosuwirjo pun dijatuhi hukuman mati olch Pengadilan Mahkamah Darurat Perang pada 16 Agustus 1962. Sebelum dijatuhi hukuman mati, ia meminta bertemu dengan keluarga.
2. 5 Upaya Penumpasan Oleh Pemerintah
Cara pertama adalah dengan cara damai. Pada cara ini, pemerintah membentuk sebuah panitia yang beranggotakan Zainul Arifin (kementerian Agama), Makmun Sumadipraja (Kementerian Dalam Negeri), dan kolonel Sadikin (Kementerian Pertahanan). Mereka diberikan tugas untuk mengadakan kontak dengan pimpinan DI/TII untuk berunding. Namun, usaha ini pun gagal.
Upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah mengirim surat ke Kartosuwiryo untuk berunding melalui Mohammad Natsir Natsir (mantan perdana menteri dan pemimpin Masyumi), namun juga tidak berhasil.
Karena kegagalan cara diplomatis, akhirnya pemerintah melakukan tindakan militer berupa Operasi Pagar Betis. Operasi Pagar Betis adalah operasi militer Indonesia untuk mengakhiri pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang dipimpin oleh Kartosuwiryo, dengan mengepung markas pemberontak di Gunung Geber.
Dalam operasi ini, TNI yang dipimpin oleh Divisi Siliwangi mengepung wilayah- wilayah yang menjadi basis kekuatan DI/TII dan membatasi gerakkan mereka.
Operasi ini dinamakan "pagar betis" karena pasukan TNI mengepung basis-basis pemberontak DI/TIl sehingga membatasi ruang gerak mereka. Akhirnya pada 4 Juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditangkap di Gunung Geber. Tertangkapnya Kartosuwiryo ini mengakhiri pemberontakan DI/Tll di Jawa Barat.
BAB III PENUTUP
3. 1 Kesimpulan
DI/TIl adalah salah satu bentuk penyelewengan terhadap Pancasila yang terjadi pada awal kemerdekaan Indonesia. Tujuan utama dari gerakan DI/TII adalah mendirikan negara Islam di Indonesia yang tentunya bertentangan dengan semangat Pancasila yang menjunjung tinggi keberagaman.
3. 2 Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini disebabkan karena keterbatasan ilmu yang melekat dalam diri kami. Oleh karena itu saran dan kritikan akan makalah dari pembaca sangat membantu dalam penyempurnaan makalah ini
Daftar pustaka
https://www.academia.edu/38095449/DI_TII_Jawa_Barat https://brainly.co.id/tugas/9899347