BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dunia ini, ada banyak jenis pemimpin. Contohnya saja dalam suatu negara saja sudah ada Presiden, Menteri, pemimpin daerah, pemimpin kota, bahkan hingga pemimpin terkecil sekalipun. Masing-masing posisi tentu memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda dalam ranahnya masing-masing. Seorang pemimpin juga pastilah harus seseorang yang mampu bertanggung jawab secara penuh dan mampu mengayomi anggota atau rakyatnya dengan baik.
Pada Gereja juga, terdapat pendeta yang menjadi pemimpin dalam gereja atau menjadi gembala bagi jemaat. Pendeta ini bertugas dalam membina anggota jemaatnya dan memberikan santapan rohani dengan sebaik mungkin dengan tujuan agar mereka dapat dimenangkan dan menerima Yesus Kristus sebagai tuhan dan jurus’lamat. Tetapi apakah makna penggembalaan seorang pemimpin hanyalah demikian?
Tidak hanya dalam konteks masa kini, ternyata pemimpin juga telah ada di masa lalu. Dalam konteks Alkitab, pemimpin dibutuhkan untuk dapat menjadi penuntun kepada jalan yang tepat, yakni jalan Allah. Terkadang juga pemimpin juga harus berani untuk berkorban demi orang-orang yang dipimpinnya. Salah satu pemimpin yang sering dibahas dalam Alkitab sendiri adalah imam. Seringkali orang kristen lupa dengan makna sesungguhnya seorang imam, dan cenderung melupakan sejarah dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian imam?
2. Apa saja tugas dan peran imam?
3. Bagaimana pandangan Alkitab mengenai imam, baik PL maupun PB?
4. Bagaimana sejarah perkembangan tugas keimaman?
5. Bagaimana implikasi seorang imam dalam Alkitab dengan masa kini?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memberikan pengertian mendalam mengenai siapa dan apa itu imam.
2. Untuk memberikan penjelasan mengenai tugas dan peranan seorang imam 3. Untuk memberikan pemaparan pandangan PL dan PB mengenai imam
4. Untuk mengingatkan kembali bagaimana sejarah dan perkembangan pemahaman mengenai imam
5. Untuk menemukan bagaimana implikasi seorang imam menurut Alkitab dengan imam masa kini
BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Imam
Berdasarkan latar belakang yang telah tertera sebelumnya, dinyatakan bahwa seorang pemimpin sangatlah dibutuhkan dalam sebuah persekutuan atau organisasi.
Tentu pemimpin ini dibutuhkan agar segala hal yang menjadi aturan atau segala aturan yang telah berlaku dapat berjalan dengan baik dan dengan semestinya.
Kepentingan mengenai kehadiran seorang pemimpin tentu tidak hanya ada pada zaman sekarang ini. Dalam Alkitab ada sebuah jabatan yang sangat terhormat yang dianggap sebagai posisi kepemimpinan yang begitu sangat penting dalam sejarah Alkitab.
Secara umum, imam dapat diartikan sebagai sebuah jabatan yang diberikan kepada seseorang untuk menjalankan sebuah upacara keagamaan. Tentunya kehadiran imam ini pun tidak hanya ada di dalam iman Kristen, tetapi juga ada di beberapa agama lainnya. Tetapi intinya dalam agama Kristen, imam diyakini adalah sosok orang yang memiliki hubungan atau relasi yang baik dan khusus dengan Allah.1 Ini berarti sangat jelas bahwa dalam pemikiran universal, imam dinyatakan sebagai seorang yang memiliki hubungan pribadi dengan Allah, maka kemudian ia menerima tugas khusus yang sudah seharusnya ia kerjakan sebagai bentuk pengabdian. Ini menyatakan secara tersirat bahwa jabatan imam bukanlah posisi yang mudah untuk didapatkan, karena membutuhkan kualifikasi tertentu untuk dapat menggapainya.
Dalam KBBI, Imam disebut juga sebagai ‘penghulu, pemimpin, kepala’.
Dalam hal ini juga jelas, meskipun ‘imam’ dalam KBBI lebih mengarah kepada agama Islam, tetapi pengartian ini tidak bertolak belakang dengan yang dipahami dalam ajaran Kristen. Ini berarti bahwa pengertian mengenai imam di sini pun dapat diadopsi dalam ajaran Kristen tanpa bertentangan dengan Alkitab, karena Alkitab pun menyatakan yang demikian. Maka sudah jelas sekali bahwa imam adalah suatu jabatan untuk mengepalai atau memimpin suatu persekutuan, organisasi, atau perkumpulan, namun dengan kriteria atau kualifikasi tertentu. Secara etimologi, kata imam sebenarnya diambil dari bahasa inggris, yakni priest yang juga berasal dari bahasa Yunani, presbuteros yang memiliki arti ‘penatua’.
B. Tugas dan Fungsi Imam
Tentu segala posisi atau kedudukan yang dimiliki oleh seseorang tidak semerta-merta ada tanpa memiliki tugas dan fungsi dari posisinya tersebut. Maka setelah mengetahui definisi imam secara luas, maka perlu bagi kita bersama untuk memahami mengenai apa yang menjadi tugas dan fungsi dari imam.
Tugas Imam adalah sebagai berikut:
1. Mempersembahkan korban bakaran dari umat kepada Allah
Pada zaman PL tentu saja hanya imam saja yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi wakil manusia dalam mempersembahkan korban bakaran bagi Allah. Maka selain daripada imam sendiri tidak diperkenankan karena bukanlah merupakan ketetapan Allah.
2. Melaksanakan upacara dalam mempersembahkan korban persembahan
Dalam hal ini, raja sekalipun tidak diperbolehkan melakukan upacara dalam mempersembahkan korban bakaran. Contohnya saja seperti yang dilakukan oleh Saul
1 Wikipedia, “Imam”
yang dengan sengaja melakukannya sendiri, dan pada akhirnya ditegur oleh Samuel.
Saul pada akhirnya mendapatkan ganjaran dari perbuatannya (1 Samuel 13:10-11).
Hal ini dikarenakan seorang raja bukanlah kalangan khusus yang ditetapkan oleh Allah menjadi imam dan sekaligus seseorang yang menjadi imam pun harus hidup kudus dan tidak boleh sembarangan.2
3. Mengadakan pendamaian kembali antara umat dengan Allah
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), maka manusia membutuhkan wakil untuk bisa berhadapan dengan Allah. Manusia yang pada awalnya dapat berhadapan muka dengan Allah, tetapi kemudian timbul jurang pemisah yang amat jauh akibat dosa. Selain itu, dalam banyak kasus di PL, biasanya orang yang secara langsung berhadapan dengan Allah akan langsung mati. Maka dibutuhkan seseorang yang menjaga kekudusan hidupnya di hadapan Allah dan menjadi pendamaian antara Allah dengan umat yang dikasihi-Nya dari dosa yang mereka lakukan. Maka imam ini lah yang harus memberikan perhatian khusus kepada umat Israel pada waktu itu.3
4. Menyampaikan berkat bagi umat Allah lewat doa
Seorang imam juga harus menyampaikan doa berkat bagi umat-Nya, seperti yang disampaikan oleh Tuhan dalam Bilangan 6:23-26. Maka telah diketahui bahwa tugas itu merupakan sebuah keharusan karena merupakan perintah Allah langsung.
C. Kualifikasi Seorang Imam
Menjadi seorang imam memang bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dengan sembarangan dapat dilakukan oleh semua orang, terdapat berbagai kualifikasi yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi seorang imam yang baik. 1) Seorang imam harus dapat menjadi teladan bagi jemaat yang dilayaninya. 2) Tidak tergila-gila pada jabatan, memiliki motivasi pelayanan yang benar. Imam yang baik hanya ingin memandang mahkota kemuliaan sebagai penghargaan yang lebih besar dibandingkan jabatan imam (Matius 5:11-12). 3) Tidak memiliki karakter yang pemarah, karena orang yang mudah marah adalah ciri orang yang selalu menjadi batu sandungan bagi orang lain (Matius 5:22). 4) Memiliki kualitas spiritual yang baik (1 Kor 3:2). 5) Mampu menontrol diri (Titus 1:7). 6) Mampu mengajar dengan baik dan dengan kesungguhan (1 Tim 3:13). 4
Melihat kualifikasi yang terdapat dalam penjelasan di atas, maka dapat dipastikan bahwa kriteria yang demikian bukanlah kriteria yang mudah dipenuhi oleh manusia biasa dengan kemampuannya sendiri. Maka dari itu, terlepas dari segala macam kriteria yang demikian seorang imam membutuhkan tuntunan Roh Kudus (2 Kor 2:16). Selain daripada itu orang tersebut itu juga harus dapat memegang teguh firman Tuhan dan menjadikan firman Tuhan itu sebagai pedoman hidupnya sehari- hari (Mat 28:20).
D. Imam Menurut Perjanjian Lama
Jika kitab telah memiliki pengetahuan mengenai definisi imam berdasarkan perspektif umum, maka kita dapat melihat penjelasannya yang Alkitabiah. Pada hakikatnya, dan melalui banyak pendapat teolog dan penelitian Alkitab, imam
2 Desti Ratna Sari Halawa, Pandangan Jhon Chrysostom Tentang Kualifikasi Seorang Imam:
Refleksi Komparatif Buku The Priesthood dan 1 Timotius 3:1-7, MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepimpinan Kristen 3, No. 1, 2021, 45-54.
3 Pendekatan Et Al, Manusia Dalam Kondisi Diperdamaikan Dengan Allah, ASTEROS:
Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 201.
4 Desti Ratna Sari Halawa, Ibid,…47-53.
merupakan sebuah jabatan yang di mana orang yang menjabat tersebut merupakan wakil manusia kepada Tuhan atau perantara antara manusia dengan Tuhan dengan imam sebagai penengah antara keduanya.5 Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya jabatan seorang imam ini hanya dapat dikenakan oleh orang-orang yang dipilih dan ditetapkan oleh Allah.6
Pada mulanya, dalam perjanjian lama, imam ditunjukkan sebagai pendamping Musa yang kemudian membantu Musa dalam menjadi perantara untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Allah (Keluaran 24:5). Pada bagian ini kata “orang-orang muda” diartikan sebagai seorang anak laki-laki yang masih muda, para pelayan generasi muda. Ini ditafsirkan sebagai anak laki-laki yang mungkin memiliki posisi penting dalam keluarganya masing-masing dan kemudian ditunjuk sebagai pembantu Musa. Hal ini tentu berkaitan dengan yang terjadi dengan Harun yang ditunjuk oleh Allah sebagai ahli bicara Musa. Wakil bicara mewakili Musa ini kemudian menjadi imam besar yang ada pertama kali dalam Alkitab (Keluaran 28:1- 3). Maka setelah itu, keturunan Lewi ditetapkan oleh Tuhan menjadi imam atas bangsa Israel seperti yang sudah disampaikan dalam Bilangan 35:1-8. Tampak bahwa orang Lewi pada perikop tersebut diberikan hak khusus oleh Allah.
Sejarah ini kemudian berlanjut hingga ke masa Ezra yang merupakan pemimpin berpengaruh dalam bangsa Israel. Ezra kemudian memiliki kontribusi besar dalam pembangunan kembali bait suci yang telah dihancurkan sebelumnya. Namun dalam pembangunan kembali ini, Ezra juga masih melibatkan para imam. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya posisi keimaman dalam Alkitab dan sejarah bangsa Israel. Kemudian dalam Ezra 3:2, 8 juga menunjukkan sekali lagi peranan para imam dan orang-orang Lewi dalam mempersembahkan korban bakaran bagi Allah.
Zerubabel sendiri juga, seperti yang diterangkan dalam kitab Ezra, memiliki peranan penting dalam membangkitkan semangat bangsa Israel yang pada saat itu mengalami keterpurukan selama masa pembuangan di Babel.
Kemudian ketika bangsa Israel mengalami pembuangan ke Babel, maka posisi sebagai seorang raja Israel tidak lagi menjadi pusat dalam pemerintahan di Israel.
Maka pada masa itu, Israel hanya dipimpin oleh gubernur yang bahkan pada saat itu masih harus tunduk kepada pemerintahan Babel.7 Maka posisi yang pada saat itu memegang peranan penting untuk menjadi pemimpin sekaligus memegang peranan ganda sebagai pelayan dalam keagamaan, yakni imam. Maka melalui kasus inilah ketika Zerubabel menjadi gubernur Israel, ia banyak melibatkan para imam dalam menentukan keputusan yang akan diambil, sehingga sudah secara sah bahwa imam memegang posisi dan kekuasaan penting dalam bangsa Israel.8
Maka secara sah, bahwa imam dalam Perjanjian Lama merupakan bagian yang penting dalam kehidupan keagamaan dan ibadah Israel. Para pemimpin ini berfungsi sebagai perantara antara manusia dan Allah, melakukan upacara korban bakaran, penyucian, dan dengan tekun mengajarkan hukum-hukum Allah. Bukanlah hal yang dapat dikerjakan dengan sembarangan, maka dalam hal ini menjadi imam membutuhkan kualifikasi dan tanggung jawab yang sungguh dalam menjalankan
5 Geoffrey Turner, The Four Types of Priesthood in the New Testament: On Avoiding Confusions About What ‘Priesthood’ Means, New Blackfriars, 2018, 166.
6 Eli Wilson Ipaq, Pemimpin Sebagai Gembala, Jurnal: Jaffray 12, No. 1, 2014, 28.
7 Sariyanto, Adi Chandra, Proselit Pada Masa Perjanjian Lama Sampai Perjanjian Baru, SIAP: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, No. 1, 2021, 89-108.
8 Mintoni Asmo Tobing, Studi Historis Ibadah Orang Yahudi Pada Masa Intertestamental, Jurnal Teologi Berita Hidup 3, No. 1, 2020, 96-109.
tugas keagamaan mereka. Dengan demikian kita telah mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang peribadatan dan hukum Tuhan telah diatur dalam konteks PL.
E. Imam Menurut Perjanjian Baru
Pada bagian sebelumnya, kita telah melihat secara bersama-sama bahwa Orang Lewi dan keturunannya telah secara ketat menjaga ketetapan dan hukum Allah.
Meskipun dalam sejarah perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, bangsa Israel terhasut dalam penyembahan berhala (anak lembu emas), dalam hal ini dipimpin oleh Harun, tetapi orang Lewi tidak terhasut dan ikut-ikutan dengan apa yang diperbuat oleh bangsa Israel lainnya. Orang Lewi memegang teguh Keluaran 32:29 sebagai komitmen dalam pengabdian yang harus dilakukan di hadapan Allah.9 Maka demikianlah posisi sebagai imam telah Tuhan tetapkan bagi orang Lewi dalam perjanjian lama.
Dalam perjanjian baru sendiri, Alkitab secara jelas bahwa posisi imam ternyata masih sangat diperlukan dalam hidup orang-orang pada masa itu. Pada saat itu imam bertugas dalam hal keagamaan dan juga memegang kuasa penting dalam menentukan suatu keputusan dalam kehidupan sosial.10 Contohnya saja dalam Matius 8:4, ketika seseorang mengalami sakit kusta dan kemudian disembuhkan oleh Yesus, maka Yesus menyuruh dia untuk pergi memperlihatkan dirinya kepada para imam untuk menentukan secara nyata bahwa ia sudah tahir dari sakit kustanya. Kemudian dalam Matius 26:57 juga ketika Yesus hendak diadili, ada seorang imam bernama Kayafas yang berperan dalam mengambil keputusan dalam pengadilan tersebut. Maka dari kedua kasus ini, dapat diambil kesimpulan bahwa meskipun telah lama berlalu, ternyata peranan imam dalam PB masih sangatlah penting.
Tetapi kemudian penulis juga mencermati posisi imam dalam surat Ibrani yang memfokuskan tugas keimaman itu kepada Yesus Kristus. Dalam surat ini dijelaskan bahwa Pribadi Yesus adalah sosok yang sempurna sebagai seorang imam (Ibrani 7:26-27). Tetapi yang menjadi permasalahannya dalam surat ini adalah ketika mengikuti aturan perjanjian lama, di mana Allah menetapkan imam harus berasal dari keturunan Lewi, tetapi Yesus berasal dari keturunan Yehuda. Berdasarkan Matius 1:3 pun sudah tertera dengan jelas bahwa Yesus merupakan keturunan Yehuda, maka secara logika dapat menjadi absah apabila Yesus menjadi sosok imam bagi manusia sementara Ia tidak memenuhi kriteria dalam hal silsilah. Lalu bagaimana cara menjawab persoalan ini?
Perlu diketahui bahwa pada dasarnya, tanpa mempertimbangkan silsilah keturunan, Yesus telah memenuhi syarat sebagai seorang imam yang benar dan sempurna. Seorang imam harus dapat menjaga kekudusan hidupnya (menjauhi dosa), memimpin orang-orang kepada kebenaran, menyampaikan doa berkat bagi jemaat, memiliki hubungan khusus dengan Allah, dan dapat mempersembahkan korban bagi penghapusan dosa dan jalan pendamaian bagi Allah dan manusia. Kenapa Ia disebut sebagai imam yangs sempurna? Yakni karena imam pada umumnya mempersembahkan korban bakaran yang tidak abadi, tidak permanen, tetapi Yesus Kristus mempersembahkan korban yang sempurna, yang tidak bercela, Ia juga memiliki hubungan yang khusus dengan Allah. Korban yang sempurna itu tidak lain adalah diri-Nya sendiri yang menjadi jalan pendamaian bagi manusia dan Allah.
Maka dengan demikian, pengorbanan-Nya itu bersifat kekal dan sempurna. Ia
9 Hywel R. Jone, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 2002, 180.
10 Lukas Tjandra, Latar Belakang Perjanjian Baru II, Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, 1997, 35.
mempersembahkan korban sekali tetapi untuk selama-lamanya karena kasih-Nya demi memperdamaikan atau menjadi perantara antara manusia dengan Allah.11
Ke-sah-an Yesus sebagai imam tentu bisa dipertahankan dengan melihat bahwa aturan keimamatan pada PL adalah keimamatan Harun, yang artinya menurut peraturan imam Harun (Keluaran 29:9). Meskipun dikatakan bahwa aturan ini berlaku selama-lamanya, tetapi gagasan ini dijelaskan kembali dalam Ibrani 10:1. Dalam ayat ini disampaikan bahwa peraturan-peraturan yang sebelumnya (aturan keimamatan Harun dan keturunannya) hanyalah bayangan hukum taurat saja dari apa yang akan datang suatu saat nanti yakni kedatangan Yesus sebagai Imam Agung yang sempurna.
Hal ini disampaikan oleh penulis Ibrani karena korban yang yang dipersembahkan kepada Allah adalah persembahan yang berulang dan tidak permanen meskipun bentuk perjanjian. Keimamatan Harun yang terbatas tentu menjadi tidak lebih tinggi dari keimamatan Yesus Kristus yang merupakan bentuk keimamatan yang sempurna dari keimamatan Harun sebagaimana seperti yang dijelaskan dalam Ibrani 5:6-10;
6:20; 7:28.12 Dikatakan juga dalam Ibrani 7:11-28 bahwa Yesus dapat menjadi Imam yang sah menurut peraturan Melkisedek dan lebih tinggi dari imam Harun.
Melihat kalimat “menurut peraturan Melkisedek” maka perlu juga menyelidiki siapa sosok tersebut sebagai peneguhan kemutlakan keimaman Kristus. Melkisedek disebut sebagai Imam Allah Yang Maha Tinggi dan posisi itu ia dapatkan bukan dari siapa pun, karena bahkan dikatakan dalam Ibrani 7:3 bahwa harinya tidak berawal dan tidak berakhir, tidak berbapak dan tidak beribu dan ia disebut imam sampai selama- lamanya. Ini menunjukkan bahwa Melkisedek merupakan sosok yang terhormat dan bahkan dijadikan sama dengan Anak Allah, yang menurut beberapa tafsiran, Melkisedek sendiri adalah gambaran Yesus Kristus. Maka dengan demikian peraturan Melkisedek juga menjadi mutlak karena ialah imam Allah yang Maha Tinggi yang lebih berkuasa dibandingkan dengan imam Harun. Maka melalui ini, maka secara jelas dan mutlak bahwa Yesus adalah Imam Besar yang sempurna sesungguhnya menurut peraturan Melkisedek sang imam Allah yang Maha Tinggi .
F. Imam Pada Masa Kini
Melihat bagaimana status imam pada zaman PL lewat peran orang Lewi dan PB lewat Pribadi Yesus Kristus, maka kita perlu mengerti bahwa keimaman tidak hanya ada pada konteks PL dan PB, tetapi juga ada pada masa kini. Hanya saja yang membedakan adalah bagaimana pada zaman PL dan PB, status keimaman berbicara mengenai jabatan dan peranan, sementara pada masa kini, hanya bersifat peranan saja yakni peranan sebagai pemimpin dalam sebuah persekutuan atau perkumpulan.
Pada masa kini, peranan imam di masa kini lebih kepada pemimpin dalam gerej, kepala keluarga, pemimpin rohani. Hal ini mau menjelaskan bahwa imam pada masa kini lebih mengarah kepada peranan seorang pemimpin yang menuntun anggotanya kepada hal-hal yang benar. Seorang kepala keluarga juga tentu bisa dianggap sebagai seorang imam karena merupakan seorang pemimpin yang bertugas mengarahkan anggota keluarganya pada jalan yang tepat, dan ia juga bertanggung jawab dalam menghidupi keluarga, ia harus bisa berkorban demi keluarganya.
Gereja-gereja pada masa kini juga masih menggunakan konsep keimaman, meski yang menjadi perbedaannya adalah jika imam pada zaman PL, mereka bertugas membawa persembahan kepada Allah Yahweh dan mewakili manusia di hadapan Allah, maka pada konteks sekarang imam bertugas menuntun jemaat kepada kepercayaan terhadap Yesus Kristus yang adalah imam sekaligus korban yang
11 A. M. Stibbs, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, Yayasan Bina Kasih, Jakarta, 2001, 775.
12 J. D. Douglas, Ensiklopedia Masa Kini II, YKBK, Jakarta, 2002,50.
sempurna sebagai jalan pendamaian antara manusia dan Allah. Maka dengan demikian Yesus dapat melekat dalam hati para jemaat dan mereka menjadikan Pribadi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.
Maka sudah sangatlah jelas bahwa seorang pemimpin dibutuhkan dari zaman perjanjian lama, perjanjian baru, bahkan dalam keadaan masa kini pun masih dibutuhkan. Bagaimana jika peran tersebut hilang? Tentu manusia tidak dapat memimpin dirinya sendiri menuju jalan yang benar, maka jika di dunia ini kehilangan sosok imam atau pemimpin rohani, maka kemungkinan besar akan ada banyak penyesatan yang terjadi dan akan ada banyak penyalahgunaan firman Tuhan dengan menjadikan ayat-ayat firman Tuhan sebagai pendukung.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Sejak zaman perjanjian lama, orang Israel membutuhkan seorang pemimpin, maka pada waktu itu Tuhan menetapkan Harun sebagai Imam pertama yang berperan dalam kehidupan orang Israel. Maka kemudian Allah menetapkan keturunan orang Lewi akan menjadi imam. Tetapi status keimamamn berubah pada zaman perjanjian baru dengan Yesus Kristus sebagai imam yang sempurna sekaligus korban yang sempurna dengan menyerahkan tubuhnya sebagai persembahan yang kudus, sekali untuk selama-lamanya. Ia juga menjadi jalan pendamaian antara manusia yang telah dinodai dengan dosa kepada Allah yang kudus. Maka dengan demikian posisi imam dapat dikatakan dibutuhkan pada konteks masa kini dengan perubahan fungsi- fungsinya setelah hadirnya keimamatan Yesus Kristus. Imam pada masa kini lebih ditekankan kepada tugas penggembalaan seorang pemimpin gereja dan mengarahkan jemaat kepada keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Jurus’lamat yang benar.