TUGAS MENERJEMAHKAN BAHASA ARAB TEMA GADAI ( RAHN)
Dikutip dari kitab Fathul Qorib
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Arab yang diampu oleh Dosen : Dr. H. Muh Syaifudin, M.A
Disusun
oleh:
1. Fina Rohmatun Kafiyah ( 23200021015 ) 2. Syihab Nasrul Umam ( 23200021005 ) 3. Su’ud ( 23200021013 )
PROGRAM PASCASARJANA HUKUM EKONOMI SYARIAH
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
2024
ِنْهّرلا ِماَك ْحَأ ْيِف :(ٌل ْصَف)
(Fasal) menjelaskan hukum-hukum gadai.
َدْْْنِع اَْْهْنِم ىَف ْوَت ْْْسُي ٍنْيَدِْْب ًةَقْيِثَو ٍةَيِلاَم ٍنْيَع ُلْعَج اًعْرَشَو ُتْوُبّثلا ٌةَغُل َوُهَو ،ِءاَفَولا ِرّذَعَت
Rahn (gadai) secara bahasa bermakna tetap. Dan secara syara’ adalah menjadikan benda yang berharga sebagai jaminan hutang yang akan digunakan untuk melunasi hutang tersebut ketika sulit untuk melunasi.
ٍل ْوُبَقَو ٍباَجْيِإِب للِإ ُنْهلرلا ّحِصَي َلَو
،
Rahn tidak bisa sah kecuali dengan ijab (serah) dan qabul (terima).
، ُِفّرَصلتلا ِيَقَلْطُم َنْوُكَي ْنَأ ِنِهَتْرُمْلاَو ِنِهالرلا َنِم ّلُك ُطْرَشَو
Syarat masing-masing dari rahin (orang yang menggadaikan) dan murtahin (orang yang menerima gadai), adalah harus mutlakut tasharrauf (sah pentasaruffannya).
Pembahasan :
Kata “Rahn” (Gadai) menurut bahasa artinya “tetap”. Sedangkan menurut syara “Rahn” (Gadai) ialah menjadikan barang sebagai jaminan atas hutang yang akan dijadikan pembayaran jika terpaksa tidak dapat melunasi (hutang tersebut).
Seperti yang di tuliskan dalam firman Allah SWT (Q.S. Al – Muddatsir : 38 ) :
ٌْْةَْْنْيِْْه َْْر ْْْتَْْبَْْسَْْك ْاَْْمِْْب ٍْْسْْْفَْْن ّْْلُْْك
Artinya:” Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.
Syaikhaan (Bukhori-Muslim) meriwayatkan bahwa, Nabi Muhammad SAW menggadaikan baju besi kepada seorang Yahudi untuk membeli gandum untuk keluarganya. Semua barang yang boleh dijual belikan, boleh digadaikan, sebagai tanggungan hutang. Dan
barang-barang yang tidak boleh dijual belikan tidak boleh digadaikan, sebab gadai hakikatnya menjual nilai dari barang yang digadaikan.
Rukun gadai ada 5 diantaranya :
Rahin (pihak yang menggadaikan barang)
Murtahin (pihak yang menerima gadai)
Marhun (barang gadaian)
Marhun bihi (utang)
Sighat (ijab dan qobul)
Akad rahn tidak sah kecuali adanya Ijab dan Qabul. Sedangkan syarat masing- masing dari rahin dan murtahin adalah harus orang yang mutlak dalam tasarruf (yakni dia baligh, berakal, tidak idiot dan tidak ada paksaan dalam transaksi).
Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa transaksi gadai itu bisa sahdengan memenuhi tiga syarat yaitu :
1.) Harus berupa barang, karena hutang tidak bisa digadaikan.
2.) Kepemilikan barang yang digadaikan tidak terhalang seperti Mushaf.
3.) Barang yang digadaikan bisa dijual manakala pelunasan hutang itu sudah jatuh tempo
Menurut Sayyid sabiq dalam bukunya "fiqh sunnah" disyaratkanuntuk sahnya akad Rahn (gadai) adalah :
1.) Berakal 2.) Baligh
3.) Bahwa barang yang dijadikan Borg (jaminan ) itu ada pada saat akad sekalipun tidak satu jenis.
4.) Bahwa barang tersebut dipegang oleh orang yang menerima gadaian (murtahin) atau wakilnya.
Barang Yang Digadaikan
ِهِل ْوَق ْيِف ِنْوُه ْرَمْلا َطِباَض ِفّنَصُمْلا َرَكَذَو
Mushannif menyebutkan batasan marhun (barang yang digadaikan) di dalam perkataan beliau,
(ِةلمّذلا ْيِف اَهُت ْوُبُث لرَقَتْسا اَذِإ ِنْوُيّدلا ْيِف ُهُنْهَر َزاَج ُهُعْيَب َزاَج اَم ّلُكَو)
Setiap perkara yang boleh untuk dijual, maka boleh digadaikan sebagai jaminan hutang ketika hutang tersebut sudah menetap di dalam tanggungan.
،ِناَيْعَ ْلا ِنَع ِنْوُيّدلاِب ِفّنَصُمْلا َزَرَتْحاَو
Dengan bahasa “hutang”, mushannif mengecualikan dari a’yan (bukan hutang).
ِناَيْعَ ْلا َنِم اَمِهِو ْحَنَو ٍةَراَعَتْسُمَو ،ٍةَب ْوُصْغَم ٍنْيَعَك اَهْيَلَع ُنْهلرلا ّحِصَي َلَف .ِةَن ْوُم ْضَمْلا
Maka tidak sah memberi jaminan / Rahn pada a’yan seperti barang yang dighasab, barang pinjaman dan sesamanya yaitu benda-benda yang menjadi tanggungan.
ِنَملثلا ِنَعَو ، ِمَل لْْسلا ِنْيَدَْْك اَهِراَرْقِت ْْْسا َلْْْبَق ِن ْوُيّدْْلا ِنَع ٍراَرْقِتْساِب َزَرَت ْحاَو
ِراَيِخْلا َةلدُم
Dengan bahasa “sudah menetap”, mushannif mengecualikan hutang yang belum menetap seperti hutang di dalam akad salam, dan mengecualikan dari tsaman (harga) saat masih masa khiyar.
ُنِهَتْرُمْلا ِيَأ (ُهْضِبْقَي ْمَل اَم ِهْيِف ُعْوُجّرلا ِنِهالرلِلَو)
Bagi rahin diperkenankan untuk menarik kembali barang gadaiannya selama belum diterima oleh murtahin (orang yang menerima gadai).
ىَلَع َعَْْنَتْماَو ، ُنْهلرْْلا َمِزَْْل اَهُضاَبْقِإ ّحِصَي ْنلمِم َةَنْوُهْرَمْلا َنْيَعْلا َضَبَق ْنِإَف
ِهْيِف ُع ْوُجّرلا ِنِهالرلا
Jika murtahin sudah menerima barang yang digadaikan dari orang yang sah untuk menyerahkannya, maka akad gadai telah tetap dan tidak boleh bagi rahin untuk menariknya kembali.
Pembahasannya :
Dalam hubungan ini menurut pendapat ulama Syafi'iyah, barang yang digadaikan itu memiliki tiga syarat :
1.) Berupa hutang, karena barang hutangan itu tidak dapat digadaikan.
2.) Menjadi tetap, karena sebelum tetap tidak dapat digadaikan, seperti jikaseseorang menerima gadai dengan imbalan sesuatu dengan yangdipinjamnya.
3.) Barang yang digadaikan tidak sedang dalam proses pembayaran yangakan terjadi, baik wajib atau tidak seperti gadai dalam Kitabah
Pengarang kitab menerangkan tentang batasan marhun dalam perkataannya bahwa: “tiap-tiap barang yang boleh (sah) dijual belikan, maka boleh pula digadaikannya dalam urusan beberapa hutang, ketika benar-benar hutang tersebut telah tetap berada dalam tanggungan.
Pengarang kitab mengakatan bahwa “beberapa hutang” adalah mengecualikan dari tanggungan berupa barang, maka tidak sah akad gadai atas barang (yang menjadi tanggungan), seperti barang ghasaban, barang pinjaman dan semacaamnya. Pengarang kitab juga mengakatan bahwa “telah tetapnya hutang”, mengecualikan dari beberapa hutang yang belum tetap menjadi tanggungan.
Seperti hutang dalam akad pesanan, dan pembayaran harga barang selama masa khiyar.
Bagi rahin (pihak yang menggadaikan barang) boleh mencabut transaksi gadai, selama murtahin (pihak yang menerima gadai ) belum menerima barang gadaian. Apabila murtahin sudah menerima barang gadaian dari rahin, maka telah tetap/sah gadai itu. Dan rahin tidak boleh mencabut transaksi gadainya.
Setelah barang yang akan digadaikan memenuhi syarat-syarat sebagaimana barang yang boleh dijual belikan, ada 2 syarat untuk bisa digadaikan, yaitu :
1. Barang itu sudah tersedia.
2. Untuk hutang yang jelas.
Barang yang akan digadaikan harus sudah ada, bisa diserahkan pada orang yang menggadai. Tidak boleh menggadaikan barang yang belum ada, seperti barang yang masih dipesan, barang yang dipinjam orang, atau barang yang sudah dirampas orang, karena tidak bisa diserahkan. Hutang harus jelas. (umpamanya : Rp.1.000,- Rp. 5.000, - dan lain-lain).
Orang yang menggadaikan harus menyerahkan barang yang digadaikan kepada penerima gadai, kalau tidak dilaksanakan , maka gadai tersebut tidak sah.
Gadai Sebagai Amanah
ِةَناَمَ ْلا ىَلَع ُهُع ْضَو ُنْهلرلاَو
Rahn diberlakukan atas dasar amanah.
ِهْيِف ( ْيّدَعلتلاِب للِإ ُنِهَت ْرُمْلا ُهُنَم ْضَي َل) ٍذِئَنْيِح (َو)
Ketika demikian, maka murtahin tidak wajib mengganti / menanggung barang gadaian kecuali dia ceroboh di dalam menjaganya.
،ِنْيلدلا َنِم ٌءْيَش ِهِفَلَتِب ُطُقْسَي َلَو
Dan tidak ada bagian dari hutang yang menjadi hilang / berkurang sebab kerusakan pada barang gadaian.
،ِهِنْيِمَيِب َقّدُص ِهِفَلَتِل اًبَبَس ْرُكْذَي ْمَلَو ُهَفَلَت ىَعلدا ِوَلَو
Jika murtahin mengaku bahwa barang gadaiannya rusak, dan dia tidak menyebutkan penyebab kerusakannya, maka ia dibenarkan dengan disertai sumpah.
،ًةَنّيَبِب للِإ ْلَبْقُي ْمَل اًرِهاَظ اًبَبَس َرَكَذ ْنِإَف
Sehingga, jika ia menyebutkan penyebab kerusakan yang nampak jelas, maka ia tidak diterima pengakuannya kecuali disertai dengan saksi.
،ٍةَنّيَبِب للِإ ْلَبْقُي ْمَل ِنِهالرلا ىَلَع ِنْوُهْرَمْلا لدِر ُنِهَتْرُمْلا ىَعلدا ِوَلَو
Seandainya murtahin mengaku telah mengembalikan barang gadaiannya pada rahin, maka pengakuannya tidak diterima kecuali disertai dengan saksi.
ْيَأ ( ْجُر ْْْخَي ْمَل) ِنِهالرْْلا ىَلَع ْيِذْْلّا (ّقَحْلا َضْعَب) ُنِهَتْرُمْلا ( َضَبَق اَذِإَو)
ىَلَع ْيِذللا ّقَْْْحْلا ِيَأ (ُهَْْْعْيِمَج َضِبْقَي ىلتَح ِنْهلرْْْلا َنِم ٌءْي َْْْش) لكَْْْفْنَي ْمَل
.ِنِهالرلا
Ketika murtahin telah menerima sebagian dari haknya yang menjadi tanggungan rahin, maka tidak ada bagian dari barang yang digadaikan yang terlepas kecuali murtahin telah menerima semuanya, maksudnya semua hak yang menjadi tanggungan rahin.[alkhoirot.org]
Pembahasan :
Penerima gadai harus menjaga barang gadaian. Barang gadaian merupakan amanah yang harus dijaga oleh penerima gadai. Kalau barang gadaian rusak dengan sendirinya, bukan karena perbuatan penerima gadai, barang tersebut tidak bisa melepaskan hutang. Artinya hutang yang telah dipinjamkan kepada orang yang menggadaikan harus dibayar juga.
Misalnya : Kambing yang digadai mati karena sakit, bukan karena perbuatan orang yang memeliharanya ( penerima gadai ). Kematian kambing ini tidak menghilangkan hutang, orang yang menggadai harus membayar hutangnya.
Gadai untuk menanggung semua hutang. Kalau orang yang hutang mengembalikan sebagian hutangnya, ia tidak boleh mengambil barang yang digadaikan sebelum melunasi semua hutangnya. Boleh menggadaikan barang milik serikat untuk tanggungan hutang seseorang asal mendapat izin dari serikat.
Juga boleh menggadaikan barang pinjaman, sebab barang itu sudah menjadi hak (sementara).
Penerima gadai harus menjaga barang gadaian yang dipercayakan kepadanya.
Ia tidak boleh menjual barang itu tanpa ijin pemiliknya. Dan penjualan yang telah dijinkan oleh pemiliknya. Ia pun harus datang dan menyaksikan transaksi tersebut.
Tanpa penyaksian pemiliknya, penjualan tersebut tidak sah. Tetapi kalau pemiliknya tidak datang dan sudah memberi ketentuan–ketentuan harga, sah penjualan itu.
Gadai adalah untuk tanggungan hutang yang tertentu. Kalau orang yang menggadaikan minta tambahan hutang dengan jaminan barang yang telah digadaikan, tidak boleh.
Apabila orang yang menggadaikan meninggal, dan masih menanggung hutang, maka penerima gadai boleh menilai barang gadai tersebut dan harga yang umum. Kalau barang itu berharga lebih tinggi dari hutang, diambil sejumlah hutangnya, dan selebihnya hak waris. Ataupun jika keluarganya akan mengambil kembali barang gadai tersebut, Keluarganya boleh mengambil barang gadai itu setelah mengembalikan hutangnya.