• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS MERANGKUM MATERI CHARACTER BUILDING

N/A
N/A
Muhammad Ferdyanto

Academic year: 2023

Membagikan "TUGAS MERANGKUM MATERI CHARACTER BUILDING"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MERANGKUM MATERI CHARACTER BUILDING

DOSEN PENGAMPU Mohammad Kamal Reza,M.E

Dikerjakan oleh:

Muhamad Ferdyanto (19221608) 19.3C.30

Program Studi Sistem Informasi

Univesitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Pontianak

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...2

BAB I MENGENAL DIRI SENDIRI...3

BAB II MENERIMA DIRI...5

BAB III MENGEMBANGKAN DIRI...9

BAB IV MOTIVASI, SIKAP, DAN PERILAKU SOSIAL...11

BAB V LINGKUNGAN DAN INTERAKSI SOSIAL...13

BAB V PENDIDIKAN ANTI KORUPSI...16

PENUTUP...19 Kesimpulan

(3)

BAB I

MENGENAL DIRI SENDIRI

Mengenal diri sendiri

: Proses memahami kebenaran tentang diri sendiri, termasuk fisik, kepribadian, watak, temparamen, dan bakat. Diperlukan untuk berkomunikasi secara otentik dan menyesuaikan diri dengan orang lain.

Manfaat mengenal diri sendiri

: Membantu seseorang mengetahui potensi dan peran dirinya, menentukan tujuan hidupnya, dan mengatasi tantangan hidupnya.

Cara mengenal diri sendiri

: Melakukan introspeksi, menerima kritik dan saran, menelusuri bakat dan kepribadian, belajar dari pengalaman dan orang lain, dan merumuskan potret diri sendiri.

Kesimpulan

: Pengenalan fisik menyadarkan diri untuk menerima diri apa

adanya. Dengan penerimaan diri, orang bisa sukses karena ia mau mengembangkan diri berangkat dari yang ada padanya, tidak menyalahkan keadaan fisiknya. Menjadi percaya diri, mampu berusaha, menjadi berkah bagi sesama.

Temperamen

: Ada 4 jenis utama: sanguinis, koleris, melankolis, phlegmatis. Orang tidak hanya memiliki satu temperamen, sering ada perpaduan.

Kepribadian/Watak/Temperamen: Kepribadian adalah organisasi dinamis di dalam individu yang menentukan tingkah laku dan pikirannya secara karakteristik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Watak adalah totalitas dari keadaan-keadaan dan cara bereaksi jiwa terhadap perangsang. Temperamen adalah gejala karakteristik daripada sifat emosi individu.

Bakat

: Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir. Bakat adalah kemampuan khusus yang memungkinakan seseorang memperoleh keuntungan dari hasil pelatihannya sampai suatu tingkat tinggi. Bakat masih harus diwujudkan dengan cara kita menggali dan mengembangkan. Bakat merupakan karakteristik unik individu.

(4)

Bakat dipengaruhi oleh faktor genetik, latihan, dan struktur tubuh. Kecerdasan adalah salah satu bakat yang terdiri dari delapan jenis, yaitu linguistik, logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik-jasmani, antarpribadi, intrapribadi, dan naturalis. Untuk

mengembangkan kekuatan dan mengatasi kelemahan diri sendiri, kita perlu melakukan introspeksi, mengendalikan diri, membangun kepercayaan diri, mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh teladan, dan berpikir positif.

(5)

BAB II

MENERIMA DIRI

Menerima diri

: Proses mengenal diri sendiri secara akurat, obyektif, dan mendalam.

Diperlukan untuk mengembangkan potensi dan mengatasi kelemahan diri sendiri.

Proses menerima segala kelemahan dan kelebihan diri, serta segala hal yang telah terjadi dalam kehidupan. Menerima diri berarti memandang diri sendiri sebagaimana adanya dan memperbaiki diri dengan rasa syukur, senang, dan bangga.

Teori Jung

: Teori yang menggolongkan manusia dalam empat preferensi kepribadian:

ekstrovert-introvert, penginderaan-intuisi, berpikir-perasa, dan penilai-pengamat. Teori ini didasarkan pada penelitian dan observasi Jung terhadap corak kepribadian manusia.

MBTI

: Psikotes yang dibuat oleh Myers dan Briggs berdasarkan teori Jung. Psikotes ini dapat mengidentifikasi 16 tipe kepribadian manusia, yang masing-masing memiliki kekuatan, kelemahan, dan gaya komunikasi yang berbeda

Teori kepribadian Myers-Briggs : Teori yang berdasarkan pada temuan Jung mengenai empat preferensi kepribadian: ekstrovert-introvert, penginderaan- intuisi, berpikir-perasa, dan penilai-pengamat. Teori ini menghasilkan 16 tipe kepribadian yang memiliki potensi, bakat, talenta, dan kelemahan masing- masing.

Bahaya menolak diri : Menyebabkan kita lupa melihat diri sendiri,

membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa kurang beruntung, kecewa, dan putus asa.

Cara menerima diri : Mengubah paradigma, menetapkan target realistis,

bergaul dengan orang positif, membaca buku pengembangan diri, melakukan

hal yang disukai, menggunakan kata-kata positif, dan bersyukur.

(6)

Manfaat menerima diri: Membuat pikiran jernih, menikmati hidup,

mengetahui potensi diri, dan mencapai kesuksesan.

Berikut adalah 16 Tipe kepribadian yang di kemukakan oleh

Myers- Briggs:

ENFJ: The Giver. Mereka yang hangat, terbuka, dan peduli pada nilai dan perasaan orang lain. Mereka memiliki keterampilan komunikasi yang baik dan menghargai harmoni. Mereka tidak suka hal-hal berlogika impersonal dan analisis. Mereka loyal, jujur, kreatif, dan imajinatif. Mereka menyukai tantangan baru dan sensitif terhadap kritik dan perpecahan.

ENFP: The Inspirer. Mereka yang antusias, inovatif, dan ekspresif. Mereka memiliki banyak ide dan minat yang beragam. Mereka suka berinteraksi dengan orang lain dan membantu mereka mencapai potensi mereka. Mereka tidak suka rutinitas, keterbatasan, dan konflik. Mereka fleksibel, spontan, optimis, dan setia.

ENTJ: The Executive. Mereka yang percaya diri, ambisius, dan kompetitif. Mereka memiliki visi yang jelas dan mampu memimpin dan mengorganisir orang lain untuk mencapai tujuan. Mereka suka tantangan, logika, dan efisiensi. Mereka tidak suka ketidakpastian, emosi, dan ketidakdisiplinan. Mereka tegas, objektif, rasional, dan mandiri.

ENTP: The Innovator. Mereka yang cerdas, kreatif, dan penasaran. Mereka memiliki pikiran yang tajam dan mampu melihat koneksi dan kemungkinan yang tidak terlihat oleh orang lain. Mereka suka berdebat, bereksperimen, dan mengeksplorasi hal-hal baru.

Mereka tidak suka rutinitas, detail, dan aturan. Mereka fleksibel, humoris, imajinatif, dan antusias.

ESFJ: The Caregiver. Mereka yang ramah, kooperatif, dan bertanggung jawab. Mereka memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Mereka suka membantu, mendukung, dan menghormati orang lain. Mereka tidak suka

ketidakadilan, konflik, dan kritik. Mereka teratur, setia, sopan, dan murah hati.

ESFP: The Performer. Mereka yang menyenangkan, energik, dan spontan. Mereka memiliki jiwa petualang dan senang mencoba hal-hal baru. Mereka suka berinteraksi

(7)

dengan orang lain dan membuat suasana menjadi hidup. Mereka tidak suka teori, analisis, dan keterbatasan. Mereka fleksibel, optimis, praktis, dan berani.

ESTJ: The Supervisor. Mereka yang tegas, realistis, dan terpercaya. Mereka memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola dan mengawasi orang lain. Mereka suka fakta, logika, dan efektivitas. Mereka tidak suka ketidakpastian, emosi, dan ketidaksesuaian.

Mereka teratur, objektif, disiplin, dan jujur.

ESTP: The Dynamo. Mereka yang dinamis, pragmatis, dan berani. Mereka memiliki keterampilan yang baik dalam menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat. Mereka suka aksi, tantangan, dan kesenangan. Mereka tidak suka teori, rutinitas, dan komitmen.

Mereka fleksibel, adaptif, kompetitif, dan penuh semangat.

INFJ: The Counselor. Mereka yang intuitif, idealis, dan peduli. Mereka memiliki pemahaman yang dalam tentang diri sendiri dan orang lain. Mereka suka membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Mereka tidak suka kekerasan, ketidakjujuran, dan ketidakharmonisan. Mereka kreatif, visioner, setia, dan empati.

INFP: The Idealist. Mereka yang imajinatif, penuh prinsip, dan setia. Mereka memiliki nilai-nilai yang kuat dan berusaha untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Mereka suka mencari makna dan tujuan hidup. Mereka tidak suka konflik, kritik, dan kompromi.

Mereka fleksibel, idealis, romantis, dan sensitif.

INTJ: The Mastermind. Mereka yang analitis, mandiri, dan visioner. Mereka memiliki pikiran yang cerdas dan mampu merencanakan dan mewujudkan ide-ide mereka. Mereka suka pengetahuan, logika, dan inovasi. Mereka tidak suka ketidakefisienan, emosi, dan gangguan. Mereka teratur, objektif, rasional, dan percaya diri.

INTP: The Thinker. Mereka yang teoretis, abstrak, dan tenang. Mereka memiliki pikiran yang tajam dan mampu memahami konsep-konsep yang kompleks. Mereka suka berpikir, belajar, dan mengeksplorasi hal-hal baru. Mereka tidak suka rutinitas, detail, dan aturan.

Mereka fleksibel, humoris, imajinatif, dan antusias.

ISFJ: The Nurturer. Mereka yang hangat, teratur, dan setia. Mereka memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap orang-orang yang mereka sayangi. Mereka suka membantu, mendukung, dan menghormati orang lain. Mereka tidak suka ketidakpastian, konflik, dan kritik. Mereka teratur, setia, sopan, dan murah hati.

(8)

ISFP: The Artist. Mereka yang senang, fleksibel, dan kreatif. Mereka memiliki bakat seni yang tinggi dan senang mengekspresikan diri mereka. Mereka suka keindahan,

kesenangan, dan kebebasan. Mereka tidak suka teori, analisis, dan keterbatasan. Mereka fleksibel, optimis, praktis, dan berani.

ISTJ: The Inspector. Mereka yang serius, realistis, dan terpercaya. Mereka memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola dan mengawasi orang lain. Mereka suka fakta, logika, dan efektivitas. Mereka tidak suka ketidakpastian, emosi, dan ketidaksesuaian.

Mereka teratur, objektif, disiplin, dan jujur.

ISTP: The Mechanic. Mereka yang dinamis, pragmatis, dan berani. Mereka memiliki keterampilan yang baik dalam menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat. Mereka suka aksi, tantangan, dan kesenangan. Mereka tidak suka teori, rutinitas, dan komitmen.

Mereka fleksibel, adaptif, kompetitif, dan penuh semangat.

(9)

BAB III

MENGEMBANGKAN DIRI

Mengembangkan diri

: Usaha sengaja dan terus menerus untuk membuat daya- potensi diri (jasmani rohani) terwujud secara baik dan optimal, yang menghantar seseorang pada taraf kedewasaan dan relasi yang semakin baik dengan dirinya, dunia, sesama dan Tuhan.

Cara mengembangkan diri

: Mengenal dan menerima diri, memiliki kemauan kuat, memanfaatkan kemungkinan, belajar dari kesalahan.

Hal-hal penting yang perlu dikembangkan

: Mental yang sehat, integritas diri, mandiri, kreatif, dan inovatif, motivasi diri.

Kekuatan dan ketahanan mental

: Berdasarkan buku Adversity Quotient, mengukur kemampuan mengatasi kesulitan, membedakan tiga tipe orang: quitters, campers, dan climbers, dan mengenal profil respon terhadap masalah.

Adversity Quotient (AQ)

: Kecerdasan untuk mengatasi kesulitan dan mengubah hambatan menjadi peluang. Dikemukakan oleh Paul G. Stoltz berdasarkan penelitian dan referensi. Mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mewujudkan cita-citanya.

Tiga tipe orang

: Quitter (menyerah), Camper (berkemah), Climber (pendaki). Mereka memiliki tingkat AQ yang berbeda dan sikap yang berbeda terhadap risiko, tantangan, dan pekerjaan. Climber memiliki AQ tinggi dan lebih sukses.

AQ dan dunia kerja

: AQ menentukan bagaimana karyawan atau pekerja menghadapi masalah dan mencari peluang. AQ lebih penting daripada IQ dalam menentukan produktivitas dan keuntungan perusahaan.

Kreativitas

: Kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang inovatif, berguna, dan dapat dimengerti. Dinyatakan oleh David Cambell Ph.D.

(10)

Kepribadian yang efektif

adalah kepribadian yang mampu mengembangkan diri secara optimal, baik secara jasmani maupun rohani, dan mencapai taraf kedewasaan dan relasi yang baik dengan dirinya, dunia, sesama, dan Tuhan.

Kepribadian yang efektif juga memiliki kekuatan dan ketahanan mental, kreativitas, integritas, motivasi, dan keterampilan komunikasi yang baik.

Kepribadian yang efektif dapat menerapkan tujuh kebiasaan, yaitu:

Jadilah proaktif

: Mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan fokus pada lingkaran pengaruh.

Berfikir dari akhir

: Membuat misi pribadi, menentukan peran dan tujuan, dan berorientasi jangka panjang.

Dahulukan yang utama

: Mengelola waktu dan prioritas, membedakan hal-hal yang penting dan mendesak, dan menerapkan matriks eisenhower.

Berfikir menang/menang

: Mencari kesepakatan yang saling menguntungkan dan memuaskan, menghargai perbedaan, dan mengubah paradigma.

Menghargai lebih dulu

: Mendengarkan dengan empatik, memahami orang lain, dan berkomunikasi dengan jelas.

Sinergi

: Menciptakan kerjasama kreatif, mencari alternatif terbaik, dan membangun tim yang solid.

Mengasah gergaji

: Menjaga keseimbangan dan pembaruan diri, baik secara fisik, mental, sosial, maupun spiritual.

(11)

BAB IV

MOTIVASI, SIKAP, DAN PERILAKU SOSIAL

Motivasi

: Dorongan untuk mencapai tujuan yang berasal dari keinginan memenuhi kebutuhan.

Hirarki kebutuhan Maslow

: Lima tingkat kebutuhan manusia, yaitu fisiologis, keamanan, rasa memiliki, penghargaan, dan aktualisasi diri.

Cara memotivasi diri

: Meningkatkan rasa percaya diri, menentukan sasaran, dan menyusun catatan sukses.

Lima kebutuhan dasar psikis manusia menurut teori Maslow adalah:

o Kebutuhan fisiologis: Kebutuhan biologis dan fisik, seperti makan, minum, bernafas, dan seksual.

o Kebutuhan keamanan: Kebutuhan akan rasa aman secara fisik dan emosional, seperti perlindungan, kesehatan, dan stabilitas.

o Kebutuhan sosial: Kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, seperti persahabatan, keluarga, dan cinta.

o Kebutuhan penghargaan: Kebutuhan akan rasa dihargai dan diakui, seperti prestasi, status, dan kepercayaan diri.

o Kebutuhan aktualisasi diri: Kebutuhan akan pengembangan dan pencapaian potensi diri, seperti kreativitas, kebijaksanaan, dan aktualisasi diri.

Berikut adalah hal yang terjadi jika anak,remaja,dan dewasa diberikan dan tidak diberikan 5 Kebutuhan dasar psikis menurut teori Maslow:

Kebutuhan fisiologis: Kebutuhan biologis dan fisik, seperti makan, minum, bernafas, dan seksual.

o Jika diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa sehat, kuat, dan berenergi.

Mereka akan dapat melakukan aktivitas dan tugas dengan baik.

(12)

o Jika tidak diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa lemah, sakit, dan lesu. Mereka akan mengalami gangguan kesehatan dan kinerja.

Kebutuhan keamanan: Kebutuhan akan rasa aman secara fisik dan emosional, seperti perlindungan, kesehatan, dan stabilitas.

o Jika diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa tenang, nyaman, dan percaya diri. Mereka akan dapat menghadapi tantangan dan risiko dengan baik.

o Jika tidak diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa cemas, gelisah, dan takut. Mereka akan menghindari atau melarikan diri dari masalah dan konflik.

Kebutuhan sosial: Kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, seperti persahabatan, keluarga, dan cinta.

o Jika diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa bahagia, diterima, dan dicintai. Mereka akan dapat berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain dengan baik.

o Jika tidak diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa kesepian, ditolak, dan dibenci. Mereka akan menyendiri, bersikap negatif, atau mencari pengganti yang tidak sehat.

Kebutuhan penghargaan: Kebutuhan akan rasa dihargai dan diakui, seperti prestasi, status, dan kepercayaan diri.

o Jika diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa bangga, berharga, dan dihormati. Mereka akan dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas mereka.

o Jika tidak diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa malu, rendah diri, dan tidak dihargai. Mereka akan kehilangan motivasi, semangat, dan kreativitas mereka.

Kebutuhan aktualisasi diri: Kebutuhan akan pengembangan dan pencapaian potensi diri, seperti kreativitas, kebijaksanaan, dan aktualisasi diri.

o Jika diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa puas, berkembang, dan berkontribusi. Mereka akan dapat mengekspresikan diri, belajar, dan

menginspirasi orang lain.

o Jika tidak diberikan: Anak, remaja, dan dewasa akan merasa bosan, stagnan, dan tidak berarti. Mereka akan kehilangan arah, tujuan, dan makna hidup mereka.

(13)

BAB V

LINGKUNGAN DAN INTERAKSI SOSIAL

Lingkungan sosial dan interaksi sosial

: Topik yang membahas tentang keluarga dan kelompok dekat sebagai bagian dari masyarakat.

Keluarga

: Unit sosial yang terbentuk dari perkawinan antara suami dan istri.

Perkawinan

: Ikatan yang sah antara dua atau lebih orang yang memiliki dasar, bentuk, dan tujuan tertentu.

Bentuk-bentuk perkawinan

: Berdasarkan jumlah pasangan (monogami atau poligami), asal pasangan (eksogami, endogami, homogami, atau heterogami), dan faktor lain (garis keturunan atau tempat tinggal).

o

Perkawinan eksogami:

Perkawinan antara etnis, klan, suku, atau kekerabatan yang berbeda. Dapat dibedakan menjadi asimetris (satu pihak memberi atau menerima gadis) atau simetris (dua pihak saling tukar jodoh).

o

Perkawinan endogami

: Perkawinan antara etnis, klan, suku, atau kekerabatan yang sama.

o

Perkawinan homogami

: Perkawinan antara kelas sosial yang sama, seperti anak saudagar dengan anak saudagar.

o

Perkawinan heterogami

: Perkawinan antara kelas sosial yang berbeda, seperti anak bangsawan dengan anak petani.

o

Bentuk-bentuk lain

: Perkawinan dapat juga ditinjau dari garis keturunan (cross cousin atau parallel cousin) atau tempat tinggal (patrilokal, matrilokal, neolokal, dll).

Unsur-unsur kebudayaan

: Tujuh elemen yang mencakup segala aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yaitu peralatan, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi.

Budaya nilai

: Nilai-nilai yang harus ditanamkan kepada mahasiswa untuk mengatasi kondisi sosial yang kurang baik, seperti kekerasan. Ada 12 nilai kehidupan yang

ditampilkan, seperti kejujuran, kasih sayang, toleransi, dll

(14)

Interaksi sosial

: Proses komunikasi antara individu atau kelompok dengan cara verbal atau non-verbal untuk menyampaikan pesan yang dapat dipahami dan ditanggapi oleh kedua belah pihak.

Nilai

: Konsepsi yang dihayati seseorang atau kelompok mengenai apa yang penting, baik, atau benar dalam hidup.

Norma

: Alat ukur atau kaidah penilaian yang mengatur perilaku seseorang atau kelompok sesuai dengan nilai yang dianut.

Jenis-jenis norma

: Norma khusus (berlaku untuk kelompok tertentu), norma umum (berlaku untuk masyarakat luas), norma sopan santun (berkaitan dengan etika dan kesopanan), norma hukum (berkaitan dengan peraturan dan sanksi), norma moral (berkaitan dengan kebaikan dan keburukan).

Kaitan nilai dan norma

: Norma merupakan penampakan, pelindung, atau pengabur nilai yang ada dalam masyarakat.

Konflik sosial

: Suatu bentuk interaksi yang menimbulkan pertentangan, perselisihan, atau ketidaksamaan pendapat antara kelompok-kelompok dalam masyarakat1.

Penyebab konflik

: Konflik dapat disebabkan oleh perbedaan agama, suku,

kepentingan, tujuan, atau nilai-nilai antara kelompok-kelompok atau individu-individu.

Cara mengelola konflik

: Ada lima gaya mengelola konflik, yaitu ikan hiu, burung hantu, rubah, kura-kura, dan kancil. Gaya yang dipilih tergantung pada tingkat

kepentingan tujuan dan hubungan baik dengan pihak lain.

Nilai

: Merupakan kualitas baik yang melekat pada suatu hal atau aktivitas1. Nilai adalah sesuatu yang dicari, dikejar, dan diperjuangkan. Nilai menjadi pedoman, pegangan, dan tujuan hidup. Nilai juga merupakan dasar dan prasyarat bagi terwujudnya suatu

komunitas yang harmonis, damai, dan sejahtera.

Nilai Kehidupan

: Teks tersebut mengajukan pertanyaan tentang nilai apa yang paling mendasar yang membuat manusia hidup, apakah ada nilai kehidupan universal yang ada pada setiap makhluk hidup, dan apakah nilai ini dapat dialami dan diterangkan.

Akar Nilai Kehidupan

: Setiap ciptaan memiliki nilai kehidupan (living values).

Pada hewan, nilai-nilai ini tertanam dalam naluri kehidupan yang mereka miliki. Pada manusia, nilai ini berupa kemampuan psikhis (berpikir, merasa dan bertindak). Nilai-nilai

(15)

tersebut dapat ditransfer lebih efektif melalui pengalaman langsung.

Pengalaman Nilai Kehidupan:

Nilai kehidupan tidak cukup diterangkan dengan kata-kata, melainkan harus dialami langsung. Untuk mengalaminya, kita perlu masuk ke dalam diri kita dengan syarat mutlak keheningan dan kesungguhan.

Aktivitas Nilai

: Aktivitas yang berkaitan dengan nilai meliputi penyadaran nilai, eksplorasi nilai melalui saling berbagi nilai positif, dan sharing pengalaman nilai.

Perilaku dan Nilai:

Perilaku yang terus diulang-ulang lama kelamaan akan tertanam dalam diri, menjadi kebiasaan, kemudian menjadi sifat, dan akhirnya menjadi bagian dari kepribadian. Perilaku positif yang terus diulang-ulang atau kondisi lingkungan positif akan membentuk spiral positif. Sebaliknya, perilaku negatif yang terus diulang-ulang atau dibiasakan akan membentuk spiral negatif.

Spiral positif adalah suatu kondisi di mana seseorang atau kelompok mengalami peningkatan kualitas hidup, kesejahteraan, dan kebahagiaan secara berkelanjutan. Berdasarkan halaman ini, berikut adalah cara untuk mengembangkan spiral positif:

 Menyadari dan mengeksplorasi nilai-nilai kehidupan yang penting bagi diri sendiri dan orang lain, seperti kasih, damai, keadilan, dll.

 Mengalami nilai-nilai kehidupan secara langsung dengan masuk ke dalam diri sendiri, menciptakan keheningan, dan bersungguh-sungguh.

 Membangun dan memelihara lingkungan yang aman dan penuh kasih yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan diri dan orang lain.

 Menjadi teladan dan memberi contoh perilaku bermuatan nilai bagi anak-anak dan orang lain, seperti menaruh sampah pada tempatnya, berdoa sebelum tidur, dll.

 Memberi pujian dan penghargaan kepada anak-anak dan orang lain yang melakukan perilaku yang bernilai dan diharapkan.

 Melatih keterampilan sosial seperti mengelola konflik dan mengembangkan relasi pribadi yang positif dengan orang lain.

 Mengulang-ulang perilaku positif yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan, sehingga menjadi kebiasaan, sifat, dan bagian dari kepribadian.

(16)

BAB VI

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Korupsi adalah perbuatan melawan hukum yang memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada.

Korupsi dapat diartikan dari berbagai sumber, seperti bahasa Latin, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Korupsi dapat berbentuk kerugian keuangan negara, suap menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan, dan

gratifikasi.

Korupsi dapat disebabkan oleh faktor internal yang berkaitan dengan cara memandang kekayaan, materialisme, konsumtif, dan keinginan

berlebihan atau faktor eksternal yang berkaitan dengan kurangnya keteladanan, rendahnya gaji, lemahnya penegakan hukum, rendahnya integritas, mekanisme pengawasan, kondisi lingkungan, dan faktor politik, hukum, ekonomi, birokrasi, dan transnasional.

o Faktor internal: Faktor yang berasal dari diri pribadi, seperti cara memandang kekayaan, materialisme, konsumtif, dan keinginan berlebihan.

o Faktor eksternal: Faktor yang berasal dari luar, seperti kurangnya keteladanan, rendahnya gaji, lemahnya penegakan hukum, rendahnya integritas, mekanisme pengawasan, kondisi lingkungan, dan faktor politik, hukum, ekonomi, birokrasi, dan transnasional.

BENTUK-BENTUK KORUPSI

Kerugian keuangan negara

: Perbuatan melawan hukum yang memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi dengan menyalahgunakan kewenangan,

kesempatan, atau sarana yang ada.

(17)

Suap menyuap

: Perbuatan memberi atau menerima sesuatu kepada atau dari pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya1.

Penggelapan dalam jabatan

: Perbuatan menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatan, atau memalsu buku-buku atau daftar- daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi.

Pemerasan

: Perbuatan memaksa orang lain untuk memberikan sesuatu dengan ancaman kekerasan atau penghinaan.

Perbuatan curang

: Perbuatan meminta atau menerima pekerjaan atau penyerahan barang, atau meminta atau menerima atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, seolah-olah merupakan utang, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang23.

Benturan kepentingan

: Perbuatan yang menguntungkan diri sendiri atau pihak lain yang berkepentingan dengan melanggar kewajiban atau larangan yang melekat pada jabatan atau kedudukan.

Gratifikasi

: Pemberian hadiah atau janji kepada pegawai negeri atau

penyelenggara negara dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukan, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut.

BERIKUT ADALAH NILAI-NILAI ANTI KORUPSI :

Kejujuran

: Tidak melakukan kecurangan akademik dan laporan keuangan kegiatan.

Kepedulian:

Peduli terhadap proses belajar mengajar, pengelolaan sumber daya, dan lingkungan di dalam dan luar kampus.

Kemandirian

: Mengerjakan semua tanggung jawab dengan usaha sendiri dan menguasai diri sepenuhnya.

Kedisiplinan

: Mencapai tujuan hidup dengan waktu yang efisien, membuat orang lain percaya, dan mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal.

Tanggung jawab

: Melaksanakan tugas dengan baik, memperoleh kepercayaan orang lain, dan bertanggung jawab atas segala perbuatan.

(18)

Kerja keras

: Memiliki kemauan yang tinggi, penuh dengan harapan dan percaya, dan menjadi lebih kuat dalam melaksanakan pekerjaan.

Kesederhanaan

: Memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan, mengatasi permasalahan kesenjangan sosial, dan menghindari keinginan yang berlebihan.

Keberanian

: Berani mengatakan dan membela kebenaran, berani mengakui kesalahan, dan berani mengambil resiko.

Keadilan

: Memberikan pujian tulus pada kawan yang berprestasi, memberikan saran perbaikan pada kawan yang tidak berprestasi, dan tidak memilih kawan berdasarkan latar belakang sosial.

Berikut adalah Stategi/Upaya Penaggulangan Korupsi

 Pembentukan Lembaga Anti-Korupsi: Membuat lembaga khusus yang berwenang untuk mencegah dan memberantas korupsi, seperti KPK.

 Pencegahan Korupsi di Sektor Publik: Meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.

 Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat: Menumbuhkan kesadaran, sikap, dan perilaku anti korupsi di masyarakat, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengawasi dan melaporkan praktik korupsi.

 Pengembangan dan Pembuatan Instrumen Hukum: Membuat dan menyempurnakan peraturan perundangan yang mendukung pencegahan dan pemberantasan korupsi, serta menjamin konsistensi dan efektivitas penegakan hukum.

 Monitoring dan Evaluasi: Melakukan pengawasan dan penilaian terhadap kinerja lembaga anti korupsi, pelaksanaan strategi penanggulangan korupsi, dan dampaknya terhadap pemberantasan korupsi.

 Kerjasama Internasional: Membangun kerjasama dengan negara-negara lain dan

organisasi internasional dalam hal pertukaran informasi, asistensi hukum, ekstradisi, aset recovery, dan penguatan kapasitas.

(19)

PENUTUP Kesimpulan

Demikianlah rangkuman maneteri Character Building dari Bab 1 sampai Bab 6 ini dibuat.

Dengan memahami materi-materi ini dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat berperan aktif dalam upaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mari kita ubah pribadi diri kita ini sebagai langkah awal untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik, bebas dari korupsi. Terima kasih telah membaca dan semoga bermanfaat.

Referensi

Dokumen terkait

Diskusikan bersama kelompok kamu nilai-nilai yang terkandung atau hal-hal yang penting yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia yang terdapat dalam cerita tersebut.. Nilai-

(7) Metode mengajar harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai dan sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan

penilaian kamu tentang perkembangan agama Kristen di Indonesia, bagaimana cara kita mengembangkan toleransi dalam kehidupan.. Nilai =

Implikasinya adalah jika semakin efisien pelatihan maka akan semakin baik kinerja ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (a) Pelatihan merupakan nilai positif

Berikut adalah sikap positif yang sesuai dengan nilai-nilai dalam kehidupan Pancasila dalam kehidupan sosial, yang mencerminkan sila ke empat….. Rela berkorban, cinta tanah air

CPMK1 Bertakwa kepada tuhan dengan menunjukan nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas untuk meningkatkan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, memiliki jiwa nasionalisme

Sehingga persamaan yang didapatkan sebagai berikut: Y ˆ = 24,048 + 0,798 X Persamaan di atas menunjukkan bahwa perubahan positif untuk variabel independen dalam hal ini metode