• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agenda Agenda Sustainable Development Goals

N/A
N/A
sukardi sudiono

Academic year: 2024

Membagikan " Agenda Agenda Sustainable Development Goals"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah : Wawasan Pembangunan Berkelanjutan

Tugas : Masalah dan Konsep Pembangunan Berkelanjutan Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Hazairin Zubair, MS.

Nama : Yohan Rumayomi

NIM : P033232038

PEMBANGUNAN EKOSISTEM LAUT BERKELANJUTAN MELALUI KETERLIBATAN WARGA DALAM PENGELOLAAN

HUTAN MANGROVE

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sustainable Development Goals (SDGs, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/TPB) merupakan agenda 2030 pembangunan Dunia Kita yang pada 25 September 2015 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ditandatangani oleh 193 kepala negara. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan paradigma pembangunan yang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masa kini, tetapi juga melindungi sumber daya yang dibutuhkan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya (Rachman, 2018; Sauvé, Bernard, & Sloan, 2016; United Nations, 2015; World Commission on Environment and Development, 1987).

SDGs memiliki 17 agenda tujuan pembangunan berkelanjutan. Salah satu agenda TPB yaitu ekosistem laut (Rahman, Tresiana, & Karmilasari, 2022; United Nations, 2015).

Pada dokumen Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development pembangunan ekosistem laut tercermin pada tujuan 14 pembangunan berkelanjutan yaitu (United Nations, 2015). Pembangunan ekosistem laut yang berkelanjutan merupakan suatu upaya yang penting untuk mengelola dan menjaga keseimbangan alam untuk keberlangsungan hidup manusia.

Pembangunan ekosistem laut menjadi penting karena dua pertiga wilayah dunia merupakan perairan. Indonesia merupakan negara dengan luas wilayah yang daerah perairannya lebih luas daripada daratan (Badan Pusat Statistik, 2022). Indonesia

(2)

merupakan negara yang memiliki keanekaragaman dan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya. Lautan merupakan wilayah perairan yang menyimpan begitu banyak kekayaan alam didalamnya. Bahkan sampai sekarang manusia belum mampu menjelajahi keseluruhan lautan yang ada. Mangrove merupakan ekosistem pesisir diantara lautan maupun daratan (Fitriah dkk, 2013; Rahman dkk., 2022; Wardhani, 2011;

Zainuri dkk, 2017). Menurut Rahmanto (2020) mangrove merupakan sumber daya lahan basah pada wilayah pesisir, sistem penyangga merupakan bagian integral dari wilayah wilayah pesisir atau pantai (Rahmanto, 2020).

Ekosistem mangrove di wilayah pesisir yang merupakan daerah pertemuan antara ekosistem darat dan laut (Wardhani, 2011). Lingkup ekosistem mangrove yang beririsan dengan ekosistem laut, mencakup wilayah perairan laut, dan secara alami dipengaruhi oleh aktivitas yang terjadi didaratan seperti sedimentasi, penggundulan hutan, pembuangan limbah, perluasan pemukiman, serta intensifikasi pertanian (Wardhani, 2011).

B. Maksud dan Tujuan

Makalah ini dibuat dengan maksud sebagai salah satu tugas mata kuliah Wawasan Pembangunan Berkelanjutan dengan tujuan melakukan pengayaan atau pendalaman suatu kasus untuk mewujudkan pengelolaan berkelanjutan.

PEMANFAATAN MANGROVE DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

A. Pemanfaatan dan Fungsi Hutan Mangrove

Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove dari berbagai sudut pandang baik itu manfaat ekologi, manfaat ekonomi, manfaat fisik, manfaat biologi dan manfaat kimia maupun manfaat sosial sangat dirasakan dalam kehidupan masyarakat pesisir. Penelitian- penelitian telah banyak dilakukan dan membuktikan bahwa hutan mangrove memegang peranan penting bagi kehidupan di pesisir. Adapun manfaat dan fungsi tersebut dapat dirangkum sebagai berikut :

(3)

1) Habitat satwa langka

Hutan mangrove sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan mangrove merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus)

2) Pelindung terhadap bencana alam

Vegetasi hutan mangrove dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.

3) Pengendapan lumpur

Sifat fisik tanaman pada hutan mangrove membantu proses pengendapan lumpur.

Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan mangrove, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.

4) Penambah unsur hara

Sifat fisik hutan mangrove cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.

5) Penambat racun

Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air.

Beberapa spesies tertentu dalam hutan mangrove bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif.

6) Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)

Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex- situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.

(4)

7) Transportasi

Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan.

8) Sumber plasma nutfah

Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis- jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.

9) Rekreasi dan pariwisata

Hutan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya. Hutan mangrove yang telah dikembangkan menjadi obyek wisata alam. Karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut memiliki keunikan dalam beberapa hal. Para wisatawan juga memperoleh pelajaran tentang lingkungan langsung dari alam. Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata.

10) Sarana pendidikan dan penelitian

Hutan mangrove dimanfaatkan dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.

11) Memelihara proses-proses dan sistem alami

Hutan mangrove sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.

12) Penyerapan karbon

Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan mangrove lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.

(5)

13) Memelihara iklim mikro

Evapotranspirasi hutan mangrove mampu menjaga kelembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.

14) Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam

Keberadaan hutan mangrove dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.

B. Pengelolaan Berkelanjutan Kawasan Hutan Mangrove

Pengelolaan hutan mangrove meliputi aspek – aspek antara lain :

1) Isu – isu strategis pengelolaan hutan mangrove seperti aspek ekologi, aspek sosial ekonomi, aspek kelembagaan dan aspek peraturan perundangan.

2) Tujuan pengelolaan mangrove hutan mangrove adalah untuk perlindungan terhadap system penyangga kehidupan dan menjamin terpeliharanya proses ekologis bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat; pengawetan keanekaragaman sumber - sumber plasma nutfah dengan menjamin terpeliharanya sumber genetik dan ekosistemnya bagi kepentingn umat manusia, dan pelestarian pemanfaatan baik jenis maupun ekosistemnya dengn mengatur dan mengendalikan cara-cara pemanfaatan yang lebih bijaksana sehingga diperoleh manfaat yang optimal dan berkesinambungan.

3) Kriteria pengelolaan hutan mangrove adalah kriteria kebijakan pengelolaan hutan mangrove, kriteria potensi hutan mangrove dan kriteria lingkungan hidup.

4) Aktor pengelolaan hutan mangrove adalah masyarakat sekitar Desa Sondaken, Pemerintah Kecamatan Tatapaan dan Pemerintah Kabupaten MinahasaSelatan.

5) Alternatif aktivitas untuk menentukan strategi pengelolaan hutan mangrove yang berkelanjutan adalah dengan melakukan pelestarian hutan mangrove dan pelestarian lingkungan hidup.

(6)

C. Hirarki Pengelolaan Hutan Mangrove

1) Kerusakan Hutan

Gambar 1. Hirarki Pengelolaan Hutan Mangrove

Tingkat pertama adalah tujuan (Goal) yaitu pemilihan Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan. Tingkat kedua adalah kriteria level I. Terdapat tiga macam kriteria level I, yaitu Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove, Potensi Hutan mangrove dan Lingkungan Hidup. Kriteria Level I terdiri dari beberapa Kriteria Level II. Kriteria level II berupa Kebijakan Pengolahan Hutan Mangrove terdiri dari konservasi dan rehabilitasi;

Potensi Hutan. Mangrove terdiri dari ekologis dan ekonomi; Kriteria lingkungan hidup terdiri dari ekosistem, kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Kriteria level III menempati tingkat keempat, dimana masing-masing kriteria level II terdiri dari

(7)

Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Daerah Kabupaten dan Masyarakat Sekitar. Kriteria Level IV menempati tingkat ke lima, dimana masing-masing kriteria level III terdiri dari Penyangga Wilayah Pesisir, Pemanfaatan Hutan Mangrove dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat.Tingkat keenam ditempati oleh altenatif pilihan pencegahan yaitu pelestarian hutan mangrove dan pelestarian lingkungan hidup.

PENUTUP

Peranan suatu jenis mangrove dalam ekositem hutan mangrove dinyatakan dalam Indeks Nilai Penting. Kriteria rehabilitasi ekologi, ekonomi dan ekosistem menjadi prioritas alternatif dalam pelestarian hutan mangrove; sedangkan konservasi, kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan menjadi prioritas alternatif dalam pelestarian lingkungan hidup. Potensi hutan mangrove menjadi prioritas alternative dalam pelestarian hutan mangrove sedangkan kebijakan pengelolaan hutan mangrove menjadi prioritas alternative dalam pelestarian lingkungan hidup. Pelestarian lingkungan hidup menjadi prioritas alternatif strategi pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, I. R. (2007). Perencanaan Partisipatoris Berbasis Aset Komunitas: dari Pemikiran Menuju Penerapan. Depok: FISIP-UI Press.

Almond, G. A., & Verba, S. (1999). The Civic Culture: Political Attitudes and Democracy in Five Nations. London: SAGE Publications.

Badan Pusat Statistik. (2022). Statistik Indonesia 2022. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang. (2020). Kecamatan Percut Sei Tuan dalam Angka 2020. Deli Serdang: Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang.

Budimansyah, D. (2013). Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengembangan Peran dan Tanggung Jawab Warganegara. In Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Green Moral (hal. i xix). Bandung: Widya Aksara Press.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut. (n.d.). Kondisi Mangrove di Indonesia.

Diambil 18 Maret 2023, dari https://kkp.go.id/ website https://kkp.go.id/djprl/p4k/

page/4284-kondisi-mangrove-di-indonesia

(8)

Fitriah, E., Maryuningsih, Y., Chandra, E., & Mulyani, A. (2013). Studi Analisis Pengelolaan Hutan Mangrove Kabupaten Cirebon. Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains, 2(2), 73 92. https://doi.org/10.24235/sc.educatia.v2i2.521 Hoelman, M. B., Parhusip, B. T. P., Eko, S., Bahagijo, S., & Santono, H. (2015). Panduan

SDGs Untuk pemerintah Daerah (Kota dan kabupaten) dan Pemangku Kepentingan Daerah. Jakarta: Infid.

International Institute for Sustainable Development. (2010). Sustainable Development:

From Brundtland to Rio 2012. https://doi.org/10.1007/s13398-014-0173-7.2 Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan

Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor KM/107/KD.03/2021 tentang Panduan Pengembangan Desa Wisata.

KravaleAction Research Study Involving Novice Teachers and Youngsters. Journal of Teacher Education for Sustainability, 17(2), 91 107. https://doi.org/

10.1515/jtes2015-0013

Kurniawan, I. P. B. (2022). Pergeseran Partisipasi Sosial (Masyarakat) dalam Masa Pandemi COVID-19 (Tinjauan Fenomenologis Individu Selama Pandemi COVID19). Jurnal Kewarganegaraan, 19(1), 1632. https://doi.org/

10.24114/JK.V19I1.29453

Lestari, W., & Simanungkalit, N. M. (2011). Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Wilayah Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deli Serdang (1990-2011). JURNAL GEOGRAFI, 4(2), 5768. https://doi.org/

10.24114/JG.V4I2.8067

Referensi

Dokumen terkait

perumusan prioritas kebijakan pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan di Kabupaten Seram Bagian Barat dilakukan melalui penentuan indikator-indikator ekosistem hutan

partisipasi masyarakat merupakan faktor yang mendorong masyarakat Desa Sambelia untuk melakukan pengelolaan hutan mangrove dengan sistem pengelolaan hutan

Dalam hal ini, pendidikan Islam harus mampu mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang telah disepakati oleh 193 pemimpin dunia pada 25 September 2015 dan

Lembaga keuangan mikro syariah kegiataannya memberikan pelayanan ke masyarakat bawah, yang tidak memiliki akses untuk lembaga yang lebih besar, tujuannya sama yaitu pencapaian

Analisis strategi pengelolaan hutan mangrove (kasus di Desa Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai).. Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan di Kabupaten Seram

Konsep pembangunan berkelanjutan atau Sustanaible Develope-ment merupakan sebuah konsep yang ditawarkan untuk memberi solusi atas kerusakan lingkungan yang

PEMBAHASAN Konsep Desain Berkelanjutan Desain berkelanjutan sustainable design yang merupakan salah satu penjabaran dari konsep pembangunan berkelanjutan sustainable development

Inti dari target tersebut adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh, serta pekerjaan yang layak