• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas PROJECT CITIZEN (1)

N/A
N/A
Kevin antorio Ferdicha

Academic year: 2025

Membagikan "Tugas PROJECT CITIZEN (1)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

HAKIKAT, INSTRUMENTASI, DAN PRAKSIS DEMOKRASI INDONESIA BERLANDASKAN PANCASILA DAN UUD 1945

Dosen Pengampu:

Fithri Estikhamah S.T.,M.T

Disusun Oleh:

1. Baihaqi Hakim : 21034010100 2. Kevin

Antorio Ferdicha : 21034010125

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL

“VETERAN” JAWA TIMUR 2022

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 2

BAB I ... 2

PENDAHULUAN ... 2

1.1 Latar Belakang ... 2

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan ... 4

BAB II ... 5

PEMBAHASAN ... 5

2.1 Konsep dan Urgensi Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila ... 5

2.2 Alasan Diperlukannya Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila ... 5

2.3 Sumber Historis, Sosiologis dan Politik tentang Demokrasi yang bersumber .... 6

dari Pancasila ... 6

2.4 Esensi dan Urgensi Demokrasi Pancasila ... 8

BAB III ... 13

PENUTUP ... 13

3.1 Kesimpulan ... 13

3.2 Saran ... 13

DAFTAR PUSTAKA ... 14

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak serta dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi

(3)

mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan berpolitik secara bebas dan setara. Indonesia memiliki landasan atau acuan tersendiri dalam proses demokrasinya yaitu Pancasila dan UUD 1945. Penjabaran demokrasi dalam ketatanegaraan Indonesia depat ditemukan dalam konsep demokrasi sebagaimana terdapat dalam UUD 1945 yaitu “…suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat…” (ayat 2).

Prof. Mr. Muhammad Yamin mengemukakan bahwa demokrasi merupakan suatu dasar dalam pembentukan pemerintahan dan yang ada didalamnya (masyarakat) dalam kekuasaan mengatur dan memerintah dikendalikan secara sah oleh seluruh anggota masyarakat. Kita mengenal bermacam-macam istilah demokrasi. Ada yang dinamakan demokrasi konstitusional, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, demokrasi rakyat, demokrasi soviet, demokrasi nasional, dan sebagainya.

Semua konsep ini memakai istilah demokrasi yang menurut asal kata ‘rakyat berkuasa’

atau government by the people (kata Yunani demos berarti rakyat, kratos/kratein berarti kekuasaan/berkuasa). Setiap warga negara mendambakan pemerintahan demokratis yang menjamin tegaknya kedaulatan rakyat. Hasrat ini dilandasi pemikiran bahwa adanya peluang bagi tumbuhnya prinsip menghargai keberadaan individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan bernegara secara maksimal.

Setiap negara mempunyai ciri khas dalam pelaksanaan kedaulatan rakyat atau demokrasinya. Hal ini ditentukan oleh sejarah negara yang bersangkutan, kebudayaan, pandangan hidup, serta tujuan yang ingin dicapainya. Dengan demikian pada setiap negara terdapat corak khas yang tercermin pada pola sikap, keyakinan dan perasaan tertentu yang mendasari, mengarahkan, dan memberi arti pada tingkah laku dan proses berdemokrasi dalam suatu sistem politik. Begitu pula dengan Indonesia, Indonesia memiliki landasan atau acuan tersendiri dalam proses demokrasinya, yaitu

Pancasila dan UUD 1945. Pancasila bukan hanya suatu daftar nilai tradisional.

Melainkan Pancasila memuat lima unsur etika pasca-tradisional sedunia yang paling fundamental seperti kebebasan beragama, hormat tanpa kompromi terhadap hak-hak asasi manusia, kebangsaan yang mempersatukan dalam sinergi pembangunan, semangat kerakyatan yang tak lain adalah demokrasi, serta keadilan sosial. Hal inilah yang menjadi corak khas dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia, yaitu Demokrasi Pancasila.

(4)

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep dan urgensi demokrasi yang bersumber dari Pancasila?

2. Mengapa diperlukannya demokrasi yang bersumber dari Pancasila?

3. Bagaimana sumber historis, sosiologis, dan politik tentang demokrasi yang bersumber dari Pancasila?

4. Bagaimana esensi dan urgensi demokrasi Pancasila?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui konsep dan urgensi demokrasi yang bersumber dari Pancasila.

2. Mengetahui diperlukannya demokrasi yang bersumber dari Pancasila.

3. Mengetahui sumber historis, sosiologis, dan politik tentang demokrasi yang bersumber dari Pancasila.

4. Mengetahui esensi dan urgensi demokrasi Pancasila.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konsep dan Urgensi Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila

Secara etimologis, demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang berarti pemerintahan atau kekuasaan. Jadi, demoscratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat atau kekuasaan rakyat.

Abraham Lincoln mantan Presiden Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa

“demokrasi adalah suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” atau

“the government from the people, by the people, and for the people”. Ada tiga tradisi pemikiran politik demokrasi, yakni:

1. Teori Aristotelian Klasik: Demokrasi merupakan salah satu bentuk pemerintahan, yakni pemerintahan oleh seluruh warganegara yang memenuhi syarat kewarganegaraan.

2. Teori Abad Pertengahan: Demokrasi yang pada dasarnya menerapkan “Roman law”

dan konsep “popular souvereignity” menempatkan suatu landasan pelaksanaan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat.

3. Doktrin kontemporer: Demokrasi menerapkan konsep “republik” dipandang sebagai bentuk pemerintahan rakyat yang murni.

Demokrasi yang dianut di Indonesia adalah demokrasi yang berdasarkan Pancasila yang masih terus berkembang dan sifat dan ciri-cirinya terdapat berbagai tafsiran dan pandangan. Menurut Moh. Hatta, negara sudah mengenal tradisi demokrasi jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni demokrasi desa. Demokrasi desa atau desademokrasi merupakan demokrasi asli Indonesia, yang bercirikan tiga hal yakni 1) citacita rapat, 2) cita-cita massa protes, dan 3) cita-cita tolong menolong. Dengan demikian, demokrasi diyakini dan diterima sebagai sistem politik yang baik guna mencapai kesejahteraan bangsa.

2.2 Alasan Diperlukannya Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila

Terjadinya krisis partisipasi rakyat disebabkan karena tidak adanya peluang untuk berpartisipasi atau karena terbatasnya kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik.

(6)

Secara lebih spesifik penyebab rendahnya partisipasi politik itu adalah pendidikan yang rendah sehingga menyebabkan rakyat kurang aktif dalam melaksanakan partisipasi politik, tingkat ekonomi rakyat yang rendah, partisipasi politik rakyat kurang mendapat tempat oleh pemerintah.

Munculnya penguasa didalam demokrasi ditandai oleh menjamurnya “dinasti politik” yang menguasai segala segi kehidupan masyarakat, pemerintahan, lembaga perwakilan, bisnis, peradilan, dan sebagainya oleh satu keluarga atau kroni. Adapun perihal demokrasi membuang kedaulatan rakyat terjadi akibat adanya kenyataan yang memperihatinkan bahwa setelah tumbangnya struktur kekuasaan “otokrasi” ternyata bukan demokrasi yang kita peroleh melainkan oligarki dimana kekuasaan terpusat pada sekelompok kecil elit, sementara sebagian rakyat (demos) tetap jauh dari sumbersumber kekuasaan (wewenang, uang, hukum, informasi, pendidikan, dan sebagainya).

2.3 Sumber Historis, Sosiologis dan Politik tentang Demokrasi yang bersumber dari Pancasila

Sebagaimana telah dikemukakan Mohammad Hatta, demokrasi Indonesia yang bersifat kolektivitas sudah berurat berakar di dalam pergaulan hidup rakyat. Sebab itu ia tidak dapat dilenyapkan untuk selama-lamanya. Menurut Moh. Hatta, demokrasi bisa tertindas karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan penuh keinsyafan.

Setidak-tidaknya ada tiga sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi dalam kalbu bangsa Indonesia. Pertama, tradisi kolektivisme dari permusyawaratan desa.

Kedua, ajaran Islam yang menuntut kebenaran dan keadilan Ilahi dalam masyarakat serta persaudaraan antarmanusia sebagai makhluk Tuhan. Ketiga, paham sosialis Barat, yang menarik perhatian para pemimpin pergerakan kebangsaan karena dasardasar perikemanusiaan yang dibelanya dan menjadi tujuannya.

1. Sumber Nilai yang Berasal dari Demokrasi Desa

Mengenai adanya anasir demokrasi dalam tradisi desa kita akan meminjam dua macam analisis berikut:

a. Paham kedaulatan rakyat sebenarnya sudah tumbuh sejak lama di Nusantara. Di alam Minangkabau misalnya, Raja sejati di dalam kultur Minangkabau ada pada alur (logika) dan patut (keadilan). Alur dan patutlah yang menjadi pemutus

(7)

terakhir sehingga keputusan seorang Raja akan ditolak apabila bertentangan dengan akal sehat dan prinsip-prinsip keadilan.

b. Tradisi demokrasi asli Nusantara tetap bertahan sekalipun dibawah kekuaaan feodalisme raja-raja Nusantara karena di banyak tempat di Nusantara, tanah sebagai faktor produksi yang penting tidaklah dikuasai oleh raja melainkan dimiliki bersama oleh masyarakat desa.

2. Sumber Nilai yang Berasal dari Islam

Inti dari keyakinan Islam adalah pengakuan pada Ketuhanan Yang maha Esa.

Konsekuensinya, semua bentuk pengaturan hidup dengan menciptakan kekuasaan mutlak pada semasa manusia merupakan hal yang tidak adil dan tidak beradap.

Kelanjutan logis dari prinsip Tauhid adalah paham persamaan manusia di hadapan Tuhan, yang melarang adanya perendahan martabat dan pemaksaan kehendak antar sesama manusia. Bahkan seorang utusan Tuhan tidak berhak melakukan pemaksaan itu. Dalam perkembangannya, Hatta juga memandang stimulasi Islam sebagai salah satu sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi sosial di kalbu para pemimpin pergerakan kabangsaan.

3. Sumber Nilai yang Berasal dari Barat

Pusat pertumbuhan demokrasi terpenting di Yunani adalah kota Athena, yang sering dirujuk sebagai contoh pelaksanaan Demokrasi Partisipatif dalam negara-nega ra abad ke-5 SM. Selanjutnya muncul pula praktik pemerintahan sejenis Romawi, tepatnya di kota Roma (Italia). Yakni sistem pemerintahan Republik.

Model pemerintahan demokratis model Athena dan Roma ini kemudian menyebar ke kota lain di sekitarnya, seperti Florence dan Veniece. Kehadiran Kolonialisme Eropa, khususnya Belanda, di Indonesia membawa dua sisi dari koin peradaban Barat: Sisi Represi imprealisme-kapitalisme dan sisi humanismedemokrasi.

Sumber inspirasi dari anasir demokrasi desa, ajaran Islam, sosiologi demokrasi barat, memberikan landasan persatuan dan keragaman. Segala keragaman ideologi-politik yang dikembangkan, yang bercorak keagamaan maupun sekuler.

Semuanya memiliki titik temu dalam gagasan-gagasan demokrasi sosialitik (kekeluargan) dan secara umum menolak individualisme.

(8)

2.4 Esensi dan Urgensi Demokrasi Pancasila

Pada hakikatnya sebuah negara dapat disebut sebagai negara yang demokratis, apabila di dalam pemerintahan tersebut rakyat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, memiliki persamaan di muka hukum, dan memperoleh pendapatan yang layak karena terjadi distribusi pendapatan yang adil. Pada esensi dan urgensi demokrasi Pancasila terdapat sepuluh pilar demokrasi Pancasila, yaitu:

Sepuluh pilar demokrasi Pancasila.

NO PILAR DEMOKRASI PANCASILA

MAKSUD ESENSI

1 Demokrasi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Seluk beluk sistem serta perilaku dalam menyelenggarakan kenegaraan RI harus taat asas, konsisten, atau sesuai dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.

2 Demokrasi dengan Kecerdasan Mengatur dan menyelenggarakan demokrasi menurut UUD 1945 itu bukan dengan kekuatan naluri, kekuatan otot, atau kekuatan massa semata-mata.

Pelaksanaan demokrasi itu justru lebih menuntut kecerdasan rohaniah,

kecerdasan aqliyah, kecerdasan rasional,

dan kecerdasan emosional.

3 Demokrasi yang Berkedaulatan Rakyat

Kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat.

Secara prinsip, rakyatlah yang memiliki/memegang kedaulatan itu.

Dalam batas-batas tertentu kedaulatan rakyat itu dipercayakan kepada wakilwakil rakyat di MPR (DPR/DPD) dan DPRD.

(9)

4 Demokrasi dengan Rule of Law Kekuasaan negara RI itu harus mengandung, melindungi, serta mengembangkan kebenaran hukum (legal truth) bukan demokrasi ugal-ugalan, demokrasi dagelan, atau demokrasi manipulatif.

Kekuasaan negara itu memberikan keadilan hukum (legal justice) bukan demokrasi yang terbatas pada keadilan formal dan pura-pura.

Kekuasaan negara itu menjamin kepastian hukum (legal security) bukan demokrasi yang membiarkan kesemrawutan atau anarki.

Kekuasaan negara itu mengembangkan manfaat atau kepentingan hukum (legal interest), seperti kedamaian dan pembangunan, bukan demokrasi yang justru memopulerkan fitnah dan hujatan

atau menciptakan perpecahan,

permusuhan, dan kerusakan.

(10)

5 Demokrasi dengan Pembagian Kekuasaan

Demokrasi menurut UUD 1945 bukan saja mengakui kekuasaan negara RI yang tidak tak terbatas secara hukum, melainkan juga demokrasi itu dikuatkan dengan pembagian kekuasaan negara dan diserahkan kepada badan-badan negara yang bertanggung jawab. Jadi, demokrasi menurut UUD 1945 mengenal semacam division and separation of power, dengan sistem check and balance.

6 Demokrasi dengan Hak Asasi Manusia

Demokrasi menurut UUD 1945 mengakui hak asasi manusia yang tujuannya bukan saja menghormati hak-hak asasi tersebut, melainkan terlebih-lebih untuk meningkatkan martabat dan derajat manusia seutuhnya

7 Demokrasi dengan Pengadilan yang Merdeka

Demokrasi menurut UUD 1945 menghendaki diberlakukannya sistem pengadilan yang merdeka (independen) yang memberi peluang seluas-luasnya kepada semua pihak yang berkepentingan untuk mencari dan menemukan hukum yang seadil-adilnya. Di muka pengadilan yang merdeka, penggugat dengan pengacaranya, penuntut umum dan terdakwa dengan pengacaranya

mempunyai hak yang sama untuk

mengajukan konsiderans, dalil-dalil,

faktafakta, saksi, alat pembuktian, dan petitumnya.

(11)

8 Demokrasi dengan Otonomi Daerah

Otonomi daerah merupakan pembatasan terhadap kekuasaan negara, khususnya kekuasaan legislatif dan eksekutif di tingkat pusat, dan lebih khusus lagi pembatasan atas kekuasaan Presiden.

UUD 1945 secara jelas memerintahkan dibentuknya daereah-daerah otonom besar dan kecil, yang ditafsirkan daerah otonom I dan II. Dengan Peraturan Pemerintah daerah-daerah otonom itu dibangun dan disiapkan untuk mampu mengatur dan menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya sendiri yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepadanya.

9 Demokrasi dengan Kemakmuran

Demokrasi tu bukan hanya soal kebebasan dan hak, bukan hanya soal kewajiban dan tanggung jawab, bukan pula hanya soal mengorganisir kedaulatan rakyat atau pembagian kekuasaan kenegaraan.

Demokrasi itu bukan pula hanya soal otonomi daerah dan keadilan hukum.

Sebab bersamaan dengan itu semua, jika dipertanyakan “where is the beef?”, demokrasi menurut UUD 1945 itu ternyata ditujukan untuk membangun negara

kemakmuran (Welvaarts Staat) oleh dan

untuk sebesar-besarnya rakyat Indonesia

(12)

10 Demokrasi yang Berkeadilan Sosial

Demokrasi menurut UUD 1945 menggariskan keadilan sosial di antara berbagai kelompok, golongan, dan lapisan masyarakat. Tidak ada golongan, lapisan, kelompok, satuan, atau organisasi yang menjadi anak emas, yang diberi berbagai keistimewaan atau hakhak khusus.

(13)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan makalah mengenai Hakikat, Instrumentasi dan Praksis Demokrasi Indonesia Berlandaskan Pancasila dan UUD NKRI 1945 dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hakikat demokrasi Indonesia berlandaskan pancasila dan UUD NKRI 1945 adalah peran utama rakyat dalam pross sosial politik, hal ini sesuai dengan tiga pilar penegak demokrasi yaitu pemerintahan dari rakyat, pemerintahan oleh rakyat dan pemerintahan untuk rakyat.

2. Instrumentasi demokrasi Indonesia berlandaskan pancasila dan UUD NKRI 1945 adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

3. Praktik demokrasi Pancasila berjalan sesuai dengan dinamika perkembangan kehidupan kenegaraan Indonesia. Prinsip-prinsip demokrasi Pancasila secara ideal telah terumuskan, sedang dalam tataran empiris mengalami pasang surut.

3.2 Saran

Sebaiknya Mahasiswa harus lebih memahami lagi mengenai Hakikat, Instrumentasi dan Praksis Demokrasi Indonesia Berlandaskan Pancasila dan UUD NKRI 1945 dikarenakan pengetahuan ini dapat mmebuat kita semakin bersemangat dalam menjalani kehidupan karena setiap individu mempunyai kebebasan untuk menyuarakan pendapat di muka umum.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

A Suyadi, A. A. (2020). Penerapan Nilai Konstitusi Pasca Pemilu Legislatif Tingkat Kotamadya sebagai Upaya Merumuskan Kehidupan Demokratis (Studi Kasus Pemilu Legislatif di Kota Tangerang Selatan Tahun 2019). Pamulang Law Review, 3(2), 79-90.

AW Astuti, A. T. (2021). Nilai Demokrasi Indonesia Berdasarkan Pancasila Dan UUD 1945. Jurnal Global Citizen: Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan, 57-70.

F Sugianto, B. B. (2018). Penguat Institusi Kedaulatan Rakyat Sebagai Implementasi Demokrasi Pancasila. Seminar Nasional Konsorsium Untag Se Indonesia, 1(1), 1- 16.

Gusman, E. (2020). Lembaga Perwakilan Daerah Dalam Negara Demokrasi.

Ensiklopedia Sosial Review, 2(2), 102-110.

Hidayat, N. A. (2018). Demokrasi Pancasila Sebagai Paradigma Politik Hukum Perundang- Undangan Di Indonesia. Seminar Nasional Pendidikan dan Kewarganegaraan, 72- 80.

Iswari, F. (2020). Aplikasi Konsep Negara Hukum dan Demokrasi Dalam Pembentukan Undang-Undang Di Indonesia. JCH (Jurnal Cendekia Hukum), 6(1), 127-140.

Junaenah, I. (2016). Kontribusi Tatanan Islam terhadap Demokrasi Permusyawaran di Indonesia. AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah, 16(2), 163-170.

L Lismanto, Y. U. (2020). Membumikan Instrumen Hukum Administrasi Negara Sebagai Alat Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dalam Perspektif Negara Demokrasi. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 2(3), 416-433.

Rohman, A. (2019). Internalisasi Nilai-Nilai Islam Dalam Praksis Demokrasi di Indonesia.

Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 2(1-2), 1-12.

Referensi

Dokumen terkait

Tunjukkan beberapa contoh penyimpangan terhadap Pancasila, UUD 1945, maupun kebijakan politik luar negeri bebas aktif yang terjadi pada masa Demokrasi

Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menegaskan bahwa demokrasi yang merupakan manifestasi kedaulatan rakyat berupa penyerahan kepada rakyat untuk mengambil keputusan-keputusan politik

Sesuai dgn semangat UUD-1945, sistem demokrasi yg dianut Indonesia disebut dengan Demokrasi Pancasila , yakni suatu sistem demokrasi yg bersumber pada falsafah

Oleh karena itu, sosialisasi empat pilar Bangsa yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai Dasar Negara

Hubungan ketiga hakikat demokrasi tersebut sangat erat dan tidak bisa dipisahkan, karena dalam batang tubuh UUD 1945 disebutkan bahwa kedaulatan berada di tangan

atas Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, penggunaan istilah Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara oleh MPR RI dalam

Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menegaskan bahwa demokrasi yang merupakan manifestasi kedaulatan rakyat berupa penyerahan kepada rakyat untuk mengambil keputusan-keputusan politik

Empat pilar kebangsaan yang dimaksud ialah bagaimana kita paham dengan Pancasila, paham dengan undang-undang dasar UUD 1945, paham dengan negara kesatuan Indonesia NKRI, paham terhadap