TUGAS TPPU
Suryanto Gunawan - 010002000227
Rafli Syah Maulana - 010002000382
REVISI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA
• Penambahan deskripsi lebih jelas yang menyatakan bahwa LMK itu tidak sama atau berbeda dengan LMKN, baik dari tugas maupun wewenangnya dalam Pasal 1 Angka (22) Undang-Undang Hak Cipta (UUHC)
disebutkan bahwa Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) -- tanpa “N” atau Nasional-- adalah institusi yang
berbentuk badan hukum nirlaba yang diberi kuasa oleh Pencipta, Pemegang Hak Cipta, dan/atau pemilik Hak Terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalti.
• Adanya perbedaan (tentang LMK dan LMKN) dan perbedaan tersebut menyebabkan kebingungan mengenai fungsi dan tugas antara Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Dua institusi ini sering dicampur-aduk dalam percakapan dan masih banyak yang tidak mampu membedakan di antara keduanya.
REVISI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA
• Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Hak Cipta berbunyi : “Pembajakan adalah Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait secara tidak sah dan pendistribusian barang hasil
penggandaan dimaksud secara luas untuk memperoleh keuntungan ekonomi.”
• Penambahan mengenai hal yang diperoleh dari pembajakan selain keuntungan ekonomi, yaitu ketenaran yang didapat. Dalam Pasal 1 Angka (23) Undang-Undang Hak Cipta (UUHC)
disebutkan bahwa Pembajakan adalah Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait secara tidak sah dan pendistribusian barang hasil penggandaan dimaksud secara luas untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Pembajak juga bisa mendapatkan ketenaran dari hasil bajakan tersebut, dan itu sangat merugikan pencipta.
REVISI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA
• Pasal 40 angka 1 Undang-Undang Hak Cipta berisi : “Ciptaan yang dilindungi meliputi Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, terdiri atas:”
• Dalam Pasal 40 Angka (1) Undang-Undang Hak Cipta (UUHC) tentang Ciptaan yang dilindungi seharusnya ditambahkan ciptaan karya seni, atau karya fotografi yang
berbentuk digital, karena sekarang orang dapat dengan mudah meniru ciptaan, maka
diperlukan perlindungan terhadap produk atau karya seni yang berbentuk digital.
REVISI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA
• Dalam Pasal 41 Undang-Undang Hak Cipta (UUHC), poin A berisi : “Hasil karya yang belum diwujudkan dalam bentuk nyata.”
• pada poin A sudah tidak relevan dan perlu diganti dikarenakan banyaknya hasil karya
yang tidak berbentuk fisik dan tidak berbentuk nyata, namun karya-karya tersebut tetap
bisa mendapatkan perliindungan hak cipta selama si pencipta mendaftarkan ciptaannya
yang berbentuk digital tersebut.
REVISI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA
• (Pasal 88) Undang-Undang Hak Cipta dijelaskan soal tata cara dan syarat-syarat untuk mendirikan LMK yang menjelaskan bahwa LMK ini badan nirlaba swasta dan bukan lembaga atau institusi negara, hanya izin operasionalnya saja yang harus meminta kepada Menteri.
• LMK tanpa N ini hanya boleh managih Royalti dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dari anggotanya saja.
• Perlu ditambahkan perbedaan mengenai LMK tanpa N dan LMKN agar masyarakat
mengetahui bahwa LMK bukan institusi negara
REVISI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA
• Pasal 89 Undang-Undang Hak Cipta, Dalam Ayat (1) disebutkan: “Untuk pengelolaan Royalti Hak Cipta bidang lagu dan/atau musik dibentuk 2 (dua) Lembaga Manajemen Kolektif nasional (dengan “n” kecil--KA), lalu Ayat (2) mengatakan: “Kedua Lembaga Manajemen Kolektif (masih tanpa N--KA) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki kewenangan untuk menarik,
menghimpun, dan mendistribusikan Royalti dari Pengguna yang bersifat komersial.
• Pasal 89 Undang-Undang Hak Cipta adalah sekadar untuk membedakan adanya 2 (dua) jenis LMK. Bukan sebagai dasar hukum pembentukan LMKN. Seharusnya diitambahkan lagi pasal yang mengatur mengenai dasar hukum pembentukan LMKN