DUA STRUKTUR GEREJA Pendahuluan
Mari kita membaca Yohanes 4:34-37, sebuah pesan yang sangat akrab! Ada kisah setelah Yesus bertemu wanita Samaria and murida-Nya mendesak Yesus untuk makan.
Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan
pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.”
Melalui sejarah kita dapat melihat banyak pemimpin gereja dan orang-orang percaya biasa berkata, “Tuaian itu belum matang; mungkin suatu hari, tapi tidak sekarang,’ atau mungkin (biasanya dari ras dan budaya berbeda) tidak akan menjadi murid Yesus; mereka tidak seperti kita. Itu adalah sikap tersirat dari sebuah gereja di Eropa pada abad ketujuh belas dan
kedelapan belas. Untungnya ada beberapa orang yang mendengarkan Roh Kuds dan menyadari bahwa orang-orang tampak jauh dan tertutup terhadap injil akan menerima jika para utusan yang bersimpati menyampaikan kabar baik kepada mereka dalam Bahasa yang dapat mereja pahami. Seperti yang Yesus tulis dalam Yohanes 4, ada masa tuaian diantara orang Samaria, dan kita melihat dalam Kisah Para Rasul 8, bahwa tidak lama setelah pentakosta, masa tuaian pun telah tiba.
TRIFENA MEYLANI (2120010) Bentuk (Cara) Misi
Seperti yang telah kita lihat, tesis mendasar dari bahasan ini adalah bahwa biasanya bentuk misi atau sodalitas digunakan untuk membawa Injil ke budaya dan tempat baru. Charles Milles menyebut mereka “komunitas yang memiliki tekad” yaitu, komunitas laki-laki dan perempuan (terkadang hanya satu jenis kelamin saja) yang mengetahui bahwa Allah telah memanggil mereka untuk tugas tertentu, kelompok budaya, atau tugas pelayanan yang kami yakini penting bagi kehidupan gereja. Dan seperti yang telah kita catat, hal-hal tersebut biasanya muncul di batasan institusi gereja.
Bentuk Misi: Pernyataan dari Gereja yang Sehat
Beberapa orang mengatakan bahwa gereja itu akan benar-benar sehat kalau ia tidak membutuhkan bentuk misi. Ini jelas salah. Suatu gereja yang sehat akan tetap terus
membentuk tim yang dipanggil untuk menjalankan proyek misi tertentu, entahkah itu untuk lingkup lokal, yang memusatkan pada kelompok tertentu di wilayahnya, atau dalam lingkup internasional, yang memusatkan untuk budaya-budaya yang jauh. Untuk yang terakhir, adalah sangat mungkin untuk bekerja sama dengan kongregasi lain yang memiliki badan misi dari suatu denominasi gereja, atau dari berbagai denominasi. Semuanya dapat dilakukan. Di sini aku percaya bahwa gereja yang sehat akan mengikatkan diri pada misi entahkah melalui badan misi suatu denominasi dan melalui suatu bentuk/cara misi yang senantiasa mencari tempat-tempat yang tak terpikirkan melalui inisiatif dari para visioner yang tidak dikenal.
Kami juga mengakui teologi yang menegaskan bahwa gereja-gereja terorganisisai yang terlibat dalam misi mempunyai perselisihan yang sangat serius dengan sejarah.
Merupakan hal yang penting untuk dicatat bahwa di dalam banyak kasus, bahkan dalam badan misi suatu denominasi gereja yang telah dibentuk hanya setelah suatu pribadi atau kelompok dari gereja telah mengambil inisiatif dan pergi ke tempat penginjilan yang jauh.
Gereja-gereja Presbiterian di Amerika Serikat dibentuk pada tahun 1837 dengan pengaruh dari para utusan Gereja Presbiterian yang melayani di bawah ABCFM. Kaum Baptis di Amerika Serikat membentuk badan misinya setelah Adoniram dan Ann Judson and Luther Rice, berangkat ke Asia di bawah ABCFM, yang menjadi bagian dari kaum Baptis. Rice kembali untuk menyarankan ke Baptis Amerika karena mereka sekarang memiliki pasangan utusan di Asia, mereka harus mendirikan badan misi yang dapat membantu mereka. Maka badan misi Baptis dibentuk pada tahun 1841. Ini tidak mengejutkan kita. Kita melihat pola seperti ini juga dalam Kisah Para Rasul. Roh Kudus memimpin Filipus, yang bukan seorang rasul, kepada orang Samaria, kelompok yang menjadi tujuannya. Orang-orang percaya yang tak diketahui namanya yang bukan bagian dari para pemimpin Yerusalem pergi ke Antiokhia yang mana mereka pergi untuk memberitakan injil kepada orang-orang yang tidak disunat.
Ini berasal dari Antiokhia dan bukan Yerusalem, yang menjadi titik pertama pemberitaan injil ke bangsa-bangsa bukan Yahudi. Aku juga sering berpikir bagaimanakah Barnabas atau Saulus dan para pemimpin lain di Antiokhia meminta izin sebelum mereka memberitakan injil ke bangsa-bangsa bukan Yahudi. Dalam terang permasalahan yang muncul belakangan, Gereja Yerusalem telah menjadi salah satu yang berkeberatan dalam penginjilan.
Di sini aku bukan ingin menjelekkan organisasi gereja, kita membutuhkannya. Mereka seringkali menyediakan kestabilan, kelanjutan dan sistem untuk memeriksa dan
menyeimbangkan segala kebutuhan. Sekalipun kami mengakui kebutuhan tentangnya, kita harus membuka diri kepada kuasa Roh Kudus, seperti Dia telah membuka mata kita dan bekerja melalui cara-cara yang ada.
Banyak dari kita yang berasal dari latar belakang Gereja-gereja Protestan Reformasi di abad keenam belas. Beberapa telah menganggap bahwa Luther dan Calvin telah mengabaikan misi melampaui batasan mereka. Ini tidaklah benar. Sejumlah murid dari Luther memprakarsai reformasi di Denmark, Norwegia, Swedia dan Finlandia. Calvin mendidik 160 pendeta dan mengutus mereka ke Perancis, Hungaria, Polandia dan Belanda. Bagaimanapun tidak ada badan misi yang didirikan untuk melanjutkan upaya ini, dan definisi mereka tentang "gereja"
sudah memadai. Dengan demikian, hampir dua abad berlalu sebelum kaum Lutheran kembali terlibat dalam misi lintas budaya, dan permulaannya melalui kelompok periferal, yaitu kelompok pietis. Para Reformator, yang berjuang untuk bertahan hidup di Eropa, mengatakan bahwa Gereja yang sejati ada “di mana firman diberitakan dengan benar dan sakramen- sakramen dilaksanakan dengan benar.” Sejauh ini definisi tersebut bagus, namun tidak memiliki dimensi misionaris. Itu adalah definisi gereja untuk sebuah Kekristenan yang statis, namun bukan untuk misi.
Menarik untuk dicatat bahwa Gereja Katolik Roma mulai terlibat lebih penuh dalam misi setelah Reformasi Protestan, terutama melalui kelompok Yesuit, Fransiskan, dan Dominikan.
Salah satu tuduhan yang dilontarkan oleh pemimpin Katolik Roma terhadap umat Protestan adalah bahwa kurangnya pekerjaan misionaris mereka membuktikan bahwa mereka bukanlah gereja yang sejati. Mereka punya pendapat yang benar.
Dalam pengertian awal berbicara tentang “gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolic.”
Kata-kata ini menunjuk kepada istilah misionaris. Kudus berarti dipisahkan, bukan hanya untuk kehidupan etika, namun juga bagi kehendak Allah. Apostolik berarti tidak hanya menunjuk kepada pesan para rasul, kata “rasul” dalam bahasa Yunani adalah kata yang sama dalam bahasa Latin yatu utusan. Gereja yang sejati adalah gereja yang diutus keluar ke dunia.
Apostolik adalah istilah misionaris. Katolik berarti universal, dan Gereja tidak akan dapat menjadi universal tanpa misionaris. Maka, misi itu telah tertanam pada pengertian gereja di abad kedua.
Maka, apabila kita secara teologi benar di dalam pengertian tentang gereja, maka kita melihat bahwa kita dipanggil menjadi satu, menemukan apa yang dapat mempersatukan dunia. (Kita harus jujur dan mengakui bahwa kita tidak dapat melakukannya dengan sempurna.) Kita dipanggil menjadi kudus, keluar dengan tujuan khusus dan hidup di dalam cara yang mencerminkan dan mencari pemenuhan tujuan tersebut. Kita dipanggil menjadi apostolic, baik menjadi umat percaya di dalam pengajaran para rasul, dan membawa keluar gereja. Kita juga disebut katolik, yang berarti universal, bukan dalam arti sempit Gereja Roma Katolik, dan akhirnya mencakup semua keluarga di bumi.
Perbedaan dalam Komposisi dan Karakter
Adolf von Harnack, ahli sejarah dari Jerman, dan juga Didakhe, dokumen dari abad kedua yang mencerminkan kehidupan Gereja, menunjukkan bahwa ada bentuk kepemimpinan dalam Gereja pada abad kedua.
Sebagaimana gereja bertumbuh, mereka memiliki pemimpin lokal, yang disebut sebagai uskup atau penatalayan, yang berasal dari kata episkopos, yang menunjuk kepada para pemimpin gereja dalam Perjanjian Baru. Istilah ini sudah muncul sejak pertama, sebab setiap gereja lokal memiliki uskupnya masing-masing, tetapi pada pertengahan abad kedua, banyak gereja lokal memiliki uskup tunggalnya yang bertindak sebagai pengawas gereja dalam suatu kota. Seorang uskup memiliki para presbiter atau penatua yang bekerja membantunya.
Kegiatan penggembalaan mereka mencakup seluruh penjuru kota. Maka setiap gereja lokal memiliki pemimpin lokal yang senantiasa dibutuhkan.
Kita juga menemukan adanya para pemimpin yang dinamis pada abad kedua, orang-orang ini bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk memberitakan injil dan meletakkan fondasi gereja di tempat yang sebelumnya belum ada.
Maka pada abad pertama dan kedua, seperti yang juga ada dalam sepanjang sejarah, kita melihat ada dua bentuk kepemimpinan dalam gereja. Namun banyak sekali terjadi pemimpin lokal ingin menguasai dan menelan para misionaris, yang menganggap para misionaris ini tidak patuh kepadanya. Sering kita menemukan ketegangan di antara keduanya. Kita dapat melihatnya bahkan dalam Perjanjian Baru. Banyak dari kita yang pernah menjadi misionaris yang berorientasi pada misi pernah mengalami ketegangan antara para pemimpin yang hanya berpikir tentang hirarki. Ketegangan itu muncul sejak permulaan dengan hasil negatif. Di sini David Bosch menemukan:
Tidaklah diragukan bahwa sejak permulaan atau akhir abad pertama terjadi peralihan pengertian dalam Gereja. Kenyataannya, sejumlah teks Perjanjian Baru mencerminkan keadaan tentang adanya para utusan yang selalu bergerak: karunia rasul, nabi dan para pemberita injil sejak permulaan membuka jalan sehingga hadirlah para uskup, penatua dan diaken. Tegangan di antara dua kepemimpinan gereja ini lambat laun meningkat dalam gereja.
Ketegangan itu makin menjadi setelah Gereja di Kekaisaran Romawi menjadi legal. Wilbert Shenk mencatat, pada abad keempat, Gereja yang telah menjadi suatu organisasi legal telah
“kehilangan” naluri penginjilannya. Semakin terlihat ketika negeri-negeri yang dipimpin oleh penguasa Kristen otomatis menjadi Kristen. Gereja hanya dilihat sebagai organisasi yang bertanggung jawab untuk menggembalakan masyarakat dan membantu mengelola kebutuhan masyarakat.
Kesimpulan dasarku adalah bahwa kedua macam dari bentuk dan para pemimpin adalah kebutuhan yang tetap bagi Gereja sampai kepada akhir zaman. Bentuk misi bukanlah kebutuhan yang sifatnya sederhana dan sementara. Satu dari ilustrasi lama dari kerja misi adalah misi selalu keluar untuk mendirikan dan membangun gereja. Bentuk misi adalah seperti kerangka yang dipakai membangun suatu gedung. Ketika gedung tersebut selesai, kerangka itu dilepas. Mungkin ini bukanlah ilustrasi sempurna dan dapat saja kita terbiaskan.
Tetapi pada paruh kedua abad kedua puluh, beberapa denominasi utama mulai mengurangi bahkan hampir meniadakan bentuk misi, dengan alasan bahwa gereja telah hadir di banyak negara. Ralph Winter yang melayani di tempat yang sama denganku, telah menjawab:
“Ketika engkau membangun suatu gedung, engkau melepaskan kerangkanya, tetapi jangan menutup perusahaannya!” Hal utamanya ialah bahwa masih banyak tempat dan masyarakat yang belum tersentuh oleh Injil, belum lagi banyak aspek misi lainnya yang harus
dilaksanakan dalam kemitraan dengan gereja-gereja baru.
Lalu apa perbedaaan di antara dua macam bentuk ini? Bentuk misi itu umumnya selalu bergerak. Mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Mereka cenderung elitis dalam arti mereka mengharapkan masyarakatnya memiliki komitmen tinggi terhadap tujuan dan gaya hidup sederhana. Mereka berorientasi pada tugas, berorientasi pada jangkauan, dan sering kali inovatif. Kami menyadari bahwa kadang-kadang bentuk tersebut dapat
dilembagakan dan menjadi rutinitas seperti halnya bentuk lainnya. Namun, mereka biasanya inovatif, terutama pada tahap awal.
Memikirkan kembali tahun-tahun permulaan misi di Tiongkok daratan, mereka pergi ke tempat-tempat di sana yang mana orang-orang barat tidak mau datang. Mereka mengadopsi pakaian Tionghoa dan cara hidup mereka yang kebanyakan para misionaris Eropa
menganggap itu tidak pantas. Hudson Taylor secara tidak enak dikritik kurang baik pada tahun-tahun itu. Tetapi sekarang kita tahu dia melakukan apa yang benar. Ketika misi di Tiongkok daratan itu meninggalkan Tiongkok di awal-awal tahun 1950an, maka misi tersebut berkembang menjadi Overseas Missionary Fellowship dan sekarang bergerak di sejumlah negara-negara di Asia. Tetapi sekarang misi tersebut memiliki lebih dari 150 pelayan Kristen yang kembali ke Tiongkok. Operation Mobile (OM) adalah contoh lain.Sejak awal upaya misi di Pasifik Selatan tidak memiliki struktur misi yang menggunakan kapal, namun kini OM sudah mulai melakukannya. Jadi struktur misi yang terbaik adalah yang inovatif. Saat ini
kita, orang-orang Barat, perlu belajar dari banyak struktur misi yang bermunculan di gereja- gereja di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Bentuk misi cenderung memiliki kepemimpinan yang karismatik (berbakat, menarik, visioner), terutama pada tahap awal. Kita memikirkan orang-orang seperti John Wesley, William Carey, Hudson Taylor, Loren Cunningham dan banyak lainnya. Namun, seringkali setelah generasi kedua dan ketiga, terdapat bahaya bahwa kualitas kepemimpinan akan menurun, dan para manajer, yang tujuannya hanya untuk mempertahankan organisasi, akan menggantikan pemimpin yang asli dan visioner. Hal ini seringkali menimbulkan krisis.
Seperti yang sudah kita amati sebelumnya, suatu karakteristik dari pemimpin yang kreatif adalah bahwa mereka harus mendengarkan Allah lebih sering daripada yang biasa mereka lakukan, mereka harus mengalami detak jantung Allah bagi dunia, menerima pernyataan Sang Roh Kudus, dan menyampaikan visi tersebut dan menggerakkan yang lain untuk bergabung dengan mereka. Ini adalah bagaimana gerakan misi dapat dimulai.
Pengamatan yang terkait adalah pada kelompok yang jauh, secara budaya dan tempat. Dalam tingkat intensionalitas yang lebih tinggi diperlukan untuk mencapainya. Artinya, diperlukan tujuan tertentu untuk menjangkau lingkungan di seberang jalan, dengan asumsi dia berbicara dalam bahasa yang sama dan merupakan bagian dari budaya Anda. Dibutuhkan niat yang lebih terfokus untuk menjangkau seseorang di lingkungan Anda yang berbeda suku bangsa, bahasa, atau budaya. Namun, jika suatu kelompok masyarakat tinggal berjauhan di Nepal, dan mempunyai bahasa dan budaya yang berbeda, maka diperlukan fokus dan komitmen yang lebih besar untuk menjangkau mereka. Sangat kecil kemungkinannya bahwa misi akan dimulai di Nepal tanpa partisipasi struktur misi dari India, Amerika Serikat, atau negara lain.
Kita menekankan perlunya bentuk misi. Kita harus menyadari bahwa struktur jemaat juga sama pentingnya. Jika aku memberikan penekanan khusus pada perlunya bentuk misi, hal ini disebabkan karena seringkali struktur kongregasi atau denominasi tidak mengakui
legitimasinya. Namun, kita tidak bisa gagal untuk melihat pentingnya kelompok lokal yang berkumpul untuk menyembah Tuhan melalui Yesus Kristus dan berupaya untuk mengikuti- Nya. Fokus utama misi adalah mewartakan Injil, memanggil manusia untuk bertobat dan percaya kepada Yesus, dan membentuk mereka menjadi komunitas yang beribadah dan terpelihara yang kita sebut gereja. Komunitas-komunitas ini, pada gilirannya, harus
memberikan kesaksian dalam konteks mereka sendiri, terlibat dalam pelayanan kasih sayang dalam masyarakat mereka sendiri, dan terlibat dalam misi di luar batas geografis dan budaya mereka melalui kerja sama dengan struktur misi. Siklus ini terus berlanjut.
Definisi dari struktur kongregasi itu sederhana, yang kita sebut sebagai gereja lokal dan gereja tersebut mengembangkan jaraingan sebagai gereja lokal atau suatu bentuk denominasi.
Bagi kebanyakan Protestan, dengan pengecualian Anglikan, tidak ada struktur denominasi khusus yang menjadi mandat. Adalah cara yang sederhana yang mana gereja lokal bekerja sama untuk tujuan bersama. Sejarah sejarahnya, tujuan ini adalah menjelaskan bagaimana pemahaman iman mereka, melatih dan mengesahkan para pelayannya, dan mengikatkan kerja sama di dalam pemberitaan injil. Seiring waktu berlalu, berbagai denominasi Protestan di Amerika Serika telah menambahkan banyak sekali fungsi, sesekali mengaburkan tujuan aslinya.
Gereja lokal akan terdiri dari orang tua, muda dan petobat baru, beberapa sudah dewasa, beberapa punya keinginan kuat, yang lain melihat kadar iman. Hal ini akan mencakup para anggota lama yang harus tinggal di rumah atau tempat tidur mereka, serta anak-anak dan remaja yang kami harap akan bergerak menuju pengakuan iman mereka dan bertumbuh dalam pemuridan. Singkatnya, ini mencakup semua jenis orang. Setiap pelayan mengetahui hal itu. Bentuk ini menuntun orang-orang dalam beribadah setiap minggunya, berupaya untuk mengajar orang-orang tentang Kitab Suci dan mendorong mereka untuk bertumbuh dalam pemahaman mereka tentang kehidupan Kristen dan dalam pelayanan mereka kepada Kristus
di mana pun Dia memanggil mereka. Gereja lokal yang sehat akan mengirimkan beberapa anggotanya untuk terlibat dalam misi di tempat lain, bekerja sama dengan lembaga misi.
Pemeliharaan adalah aspek lain dalam gereja lokal. Pemeliharaan gedung, program dan musyawarah di antara jemaat itu juga penting. Yang bahaya ialah ketika pemeliharaan itu menjadi tujuan, dan yang lain yang seharusnya penting bagi gereja malah dilupakan. Karena alasan ini setiap kongregasi jemaat memerlukan hubungan ang aktif dan positif dengan struktur misi. Setiap hubungan melayani sebagai pengingat yang selalu ada bagi jemaat lokal yang mana semua gereja telah dipanggil. Aku percaya keadaan terbaik ada ketika kita
memiliki beberapa bentuk misi secara sehat dan berkualitas yang membuktikan hubungan dengan gereja lokal. Aku bersyukur dengan gereja tempat aku bertumbuh. Bagaimana juga, ketika aku mengembangkan Gereja Presbiterian di Berkeley sebagai pelajar di universitas, kami secara terus-meerus berhubungan dengan para misionaris dan berbagai bentuk misi.
Maka visi bagi dunia mulai berkembang. Perjumpaan itu mendorong banyak gereja hanya sebatas mendukung misi, tetapi juga ikut pergi ke berbagai penjuru dunia. Bentuk misi ada sebagai pengingat bagi gereja besar supaya keluar dari dirinya sendiri kepada dunia, tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri.