• Tidak ada hasil yang ditemukan

tuhan dan manusia dalam perspektif pemikiran abu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "tuhan dan manusia dalam perspektif pemikiran abu"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

Al-Farabi merupakan salah satu tokoh filsafat Islam yang tidak asing lagi bagi kita. Selain itu, al-Farabi juga menciptakan filsafatnya sendiri yang tidak banyak dibicarakan oleh para filsuf Yunani. Pada masa kekhalifahan al-Mu'tadid (892-902 M) baik Yuhanna Ibnu Hailan maupun al-Farabi pergi ke Bagdad.

Pada masa Kekhalifahan al-Muktafi (902-908 M) atau tahun kekhalifahan al-Muqtadir (908-932 M), al-Farabi dan Hailan meninggalkan Bagdad, awalnya menurut Ibnu Khallikan menuju Harran. Menurut Ibnu Abi Usaibi'ah dan Al-Qifti al-Farabi, mereka berangkat ke Syam pada tahun 942. Menurut Ibnu Abi Usaibi'ah, di sana al-Farabi mendapat gaji kecil yaitu empat dirham perak sehari.

Al-Qifti mengatakan al-Farabi meninggal saat melakukan perjalanan ke Damaskus bersama Saif al-Daulah. Al-Farabi membagi wujud menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, wujud yang mungkin atau wujud yang nyata karena adanya orang lain. Bahkan lebih tepat menyebut al-Wujud Al-Farabi Wajib al-Wujud bi al ghair (wajib demi orang lain).

Bagi membuktikan kewujudan Allah, al-Farabi mengemukakan dalil wajib al-Wujud dan mumkin al-Wujud.

Al-Farabi dan Manusia

Oleh karena itu, menurut al-Tusi, jiwa bukanlah suatu jasad, bukan pula bagian dari jasad, dan bukan pula materi ('arah). Menurut al-Farabi, jiwa manusia mempunyai empat bagian dasar yang masing-masing bagian mempunyai daya sebagai berikut, yaitu daya makan, rasa, imajinasi, dan berpikir. Menurut al-Farabi, hubungan antara pemikiran manusia dengan proses mental merupakan kecenderungan seseorang terhadap sesuatu yang dipahami atau tidak dipahami.

Tegasnya tidak hanya berkaitan dengan politik, tetapi juga dengan moralitas, karena menurut al-. Namun Al-Farabi menambahkan syarat lain, yaitu kepala negara harus mampu naik ke tingkat pikiran ketuhanan yang menjadi sumber wahyu dan ilham, serta mampu berkomunikasi dengan pikiran kesepuluh, penerimanya. cahaya ilahi langsung dari roh tinggi dan malaikat. Dengan filosofi emanasi, al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana banyak hal bisa muncul dari Yang Esa.

Menurut al-Farabi, Tuhan itu Esa, oleh karena itu hanya ada satu yang berasal dari-Nya, karena pancaran timbul dari pengetahuan Tuhan (pengetahuan) tentang hakikat-Nya yang esa. Akal menurut al-Farabi adalah satu hal, bahwa akal hanya memuat satu buah pikiran yang memikirkan dirinya sendiri, maka akal Allah itu Aqil (berpikir) dan Ma'qul (berpikir), melalui Ta'agul.27 Allah dapat memulai penciptaan-Nya. Ketika Tuhan mulai berpikir, maka muncullah suatu bentuk baru atau akal baru yang oleh al-Farabi disebut dengan al-Aqlul Awwal (alasan pertama).

Hubungan al-Aqlul Fa'al dengan isi bumi baik manusia, hewan dan tumbuhan menurut al-Farabi menurut Aristoteles yaitu al-Farabi membedakan antara zat (materi) dan wujud (surah), apakah materi hanyalah sebuah kemungkinan, tetapi bentuknya dapat menentukan kemungkinan tersebut. Al-Farabi mendasarkan hidupnya pada kesucian jiwa, bahwa kesucian jiwa dari kenajisan merupakan prasyarat bagi pandangan dan buah falsafahnya. Landasan filosofis Al-Farabi adalah memperdalam ilmu tentang segala yang ada guna mewujudkan pengenalan Allah sebagai ciptaan-Nya.

Menurut al-Farabi, ada tiga jenis akal, yaitu: Pertama, Allah sebagai akal; Dua alasan dalam filsafat emanasi: satu banding sepuluh; tiga roh yang ada pada manusia. Atas dasar inilah al-Farabi menjelaskan bahwa materi primordial diciptakan oleh Allah dari sesuatu yang telah ada dan diciptakan melalui pancaran dari kekekalan, karena sifat Pencipta Allah telah ada sejak Dia ada (yang tidak berarti bahwa Allah didahului oleh ketiadaan) dan sejak itu Dia menciptakan secara langsung. Disebutkan juga bahwa pendapat al-Farabi tentang sembilan planet dipengaruhi oleh pendapat ahli astronomi Yunani saat itu yang menyebutkan sembilan planet.

Jumlahnya 9 karena jumlah benda langit menurut Aristoteles adalah tujuh, kemudian Al-Farabi menambahkan dua lagi yaitu benda langit terjauh dan bintang tetap, yang diambil dari Plotomeus (Cladius Plotomazus), seorang astronom dan ahli geologi. dari Mesir, yang hidup pada pertengahan abad ke-2 Masehi. Al-Farabi menyatakan bahwa ada sepuluh pikiran, sembilan di antaranya dikatakan menjaga sembilan benda langit, pikiran kesepuluh, yaitu pikiran bulan, mengendalikan dan mengatur kehidupan di bumi.

Pola Pikir Tasawuf al-Farabi

Akal ini tidak berbeda, jika di dalam Tuhan yaitu dalam wujud yang pertama hanya ada satu obyek pemikiran yaitu Zat-Nya, namun dalam akal tersebut terdapat dua obyek pemikiran yaitu Tuhan dan akal itu sendiri. Tasawuf Al-Farabi bukanlah tasawuf ruhani yang hanya bertumpu pada sikap mencerahkan jizm dan menjauhi segala kehalusan demi mensucikan jiwa dan tumbuh pada tingkat kesempurnaan, namun tasawufnya berdasarkan kajian dan mempunyai tujuan. rasionalitas. 29 Sementara itu, kesucian jiwa tidak akan sempurna bila hanya melalui jalur jasmani dan kerja jasmani saja, namun pada hakikatnya harus melalui jalur akal dan pikiran. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa akal manusia dalam perbaikan dan perkembangannya harus melalui beberapa tahapan yang saling menunjang, karena pada mulanya ia merupakan akal potensial, namun ketika ia telah mempersepsikan sebagian besar pengetahuan umum dan realitas universal, barulah ia akan mampu mencapai tujuan tersebut. menjadi alasan yang benar.

Tasawuf Al-Farabi tidak berhenti sampai di sini saja, namun berkaitan erat dengan teori-teori astronomi dan metafisika, karena al-Farabi membayangkan suatu struktur astronomi yang mencakup pengakuan akan adanya kekuatan spiritual atau intelektual yang tidak ada pada benda, dan siapa yang memantau pergerakan dan berbagai urusan mereka. . Kekuatan spiritual terakhir, yaitu pikiran kesepuluh, dipercayakan kepada surga dan kehidupan terdekat di bumi. Dengan kata lain, akal adalah penghubung antara dunia bawah dan dunia atas... Karya nyata Al-Farabi adalah: 1).

Karena memuat ilmu-ilmu bahasa, matematika, logika, ketuhanan, musik, astronomi, ilmu perkotaan, fiqh, fisika, mekanika dan kalam. Ilmu-ilmu yang banyak mendapat perhatian dari al-Farabi adalah ilmu fiqh dan ilmu kalam. Sedangkan dalam pandangan Al-Farabi, kebahagiaan manusia tercapai karena perbuatan/tindakan dan gaya hidup yang dilakukan.

Karena kebahagiaan sejati tidak mungkin didapat saat ini, melainkan setelah kehidupan dunia yaitu akhirat. Namun kebahagiaan yang ada saat ini, seperti kekayaan, kehormatan, dan kesenangan, merupakan kebahagiaan yang relatif (tidak mutlak). Al-Farabi membagi jiwa manusia menjadi beberapa bagian, yaitu; 1) jiwa yang bergerak (al-nafs al-muharrikah), 2) jiwa yang menangkap (al-nafs al-mudrikah), dan 3) jiwa yang berpikir (al-nafs al-natiqah). Jiwa-jiwa tersebut merupakan potensi dalam diri manusia yang akan melahirkan daya pikir dan energi yang sangat efektif dan fantastik dalam mengubah suasana tingkah laku dan sikap manusia dalam kehidupannya.

Ini boleh dicapai tahap demi tahap dengan pengetahuan tertentu dan pengetahuan logik. Falsafah Al-Farabi ialah mendalami ilmu dengan segala yang ada sehingga melahirkan pengenalan.

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun wujud (Tuhan) adalah satu, Ia menampakkan diri ( tajalli ) dalam banyak bentuk yang tidak terbatas pada alam, yang tak lain dari manifestasi sifat-sifat atau butir-butir

Manusia terdiri dari dua substansi; pertama, substansi jasad/materi yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah dan dalam

Substansi (isi) utama kebudayaan merupakan wujud abstrak dari segala macam ide dan gagasan manusia yang bermunculan di dalam masyarakat yang memberi jiwa kepada masyarakat itu

Teori-teori belajar dan mengajar yang muara akhirnya adalah perkembangan intelektual, pada dasarnya dapat dilihat dari berbagai teori yang terdapat dalam tiga aliran pendidikan,

Jadi falsafah yang bermatlamatkan kesempurnaan, membayangkan usaha-usaha manusia rasional atau tindakan (amalan lahir) untuk menjadi suci dan bersih iaitu sifat-sifat

Secara teoritis, kiranya melalui penulisan skripsi ini mampu mengisi ruang- ruang kosong dalam ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan substansi penulisan skripsi ini, hingga

Menurut Ibnu Sina, seperti menurut Al-Farabi juga, Tuhan adalah satu-satunya wujud yang qadim dari segi substansi dan dari segi waktu, sedang totalitas

Nilai pantulan Schmidt hammer akan terus menurun seiring dengan Derajat Pelapukan yang semakin tinggi hingga akhirnya tidak terukur pada batuan yang telah lapuk sempurna