• Tidak ada hasil yang ditemukan

turnitin kuanti

N/A
N/A
NurAuliya Syamhidayat

Academic year: 2024

Membagikan "turnitin kuanti"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penelitian ini mengangkat topik hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial di perguruan tinggi pada mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Topik ini dianggap penting karena terdapat fenomena yang menunjukkan bahwa mahasiswa sering menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Alasan diangkatnya topik penelitian Relevansi otonomi: Kemandirian merupakan aspek penting dalam perkembangan pribadi siswa. Kemandirian yang besar membantu mahasiswa mengatasi tantangan di lingkungan universitas. Dampak Penyesuaian Sosial: Penyesuaian sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah mental dan emosional seperti stres dan kecemasan, yang dapat mempengaruhi prestasi akademik siswa.

Banyak siswa baru yang berasal dari berbagai latar belakang dan mungkin mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kemandirian mempengaruhi kemampuan mereka beradaptasi.Topik ini dianggap sebagai masalah karena: Data Nasional: Menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sekitar 30% mahasiswa baru mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial, yang berdampak pada kesehatan mental dan akademik mereka. Data Regional: Di Jawa Barat, khususnya di Bandung, statistik menunjukkan bahwa 25%

mahasiswa melaporkan mengalami stres akibat adaptasi yang buruk di lingkungan perguruan tinggi (sumber: BPS Jawa Barat). Data Lokasi : Di Universitas Pendidikan Indonesia, survei awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa 40% mahasiswa angkatan 2013 merasa kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sekelas dan dosen, yang berpotensi mengganggu proses belajar mereka.

Berdasarkan data tersebut, penting untuk menguji hubungan antara kemandirian dan penyesuaian sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan rekomendasi yang mendalam bagi universitas untuk membantu mahasiswa menjadi lebih mandiri dan lebih beradaptasi dengan lingkungan akademik. Fenomena yang menjadi kegalauan peneliti saat ini adalah hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial di kalangan mahasiswa, terutama pada mahasiswa baru yang menjalani transisi dari sekolah menengah ke perguruan tinggi. Kemandirian yang rendah dapat menghambat kemampuan mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru.

Dampak Buruk jika Tidak Diatasi Kesehatan Mental yang Menurun: Mahasiswa yang tidak mandiri dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial dapat mengalami stres, kecemasan, dan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental yang buruk dapat mempengaruhi kualitas hidup dan prestasi akademik. Isolasi Sosial: Kurangnya kemandirian dapat menyebabkan mahasiswa merasa terasing dan tidak terhubung dengan teman sebaya, yang dapat memperburuk perasaan kesepian dan mengurangi dukungan sosial. Prestasi Akademik yang Buruk: Mahasiswa yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung berprestasi rendah. Ketidakmampuan untuk mengelola waktu dan tanggung jawab dapat mengakibatkan keterlambatan dalam menyelesaikan tugas dan rendahnya nilai akademik.

(2)

Hubungan Interpersonal yang Buruk: Ketidakmampuan untuk berinteraksi secara sosial dapat menghambat pengembangan keterampilan interpersonal yang penting, berdampak negatif pada jaringan sosial yang diperlukan dalam karir di masa depan.

Data dari Lembaga Credible

World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa satu dari empat orang dewasa, termasuk mahasiswa, mengalami masalah kesehatan mental pada suatu titik dalam hidup mereka.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mencatat bahwa sekitar 29% mahasiswa mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial, yang berkontribusi pada masalah kesehatan mental dan prestasi akademik.

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah penyesuaian sosial. Menurut Kamus Psikologi (Hurlock, 1980), penyesuaian sosial adalah kemampuan individu untuk hidup dan bergaul secara normal dengan lingkungan sosialnya serta mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan sosial sehingga individu merasa puas dan mampu mencapai tujuan hidupnya.

Beberapa indikator penyesuaian sosial berikut ini:

1. Kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial seperti keluarga, teman sebaya, dosen, dan masyarakat di sekitar kampus.

2. Tingkat keterlibatan dalam kegiatan sosial di lingkungan baru seperti organisasi mahasiswa, kegiatan kampus, atau kegiatan masyarakat sekitar.

3. Tingkat kepuasan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial baru seperti kampus.

4. Kemampuan menerima dan menjalankan norma serta aturan yang berlaku di lingkungan sosial baru.

Berdasarkan telaah saya terhadap beberapa referensi yang terkait dengan skripsi yang ditulis oleh Siti Nurhalimah Sadiah tahun 2015 lalu, terdapat beberapa temuan penelitian terdahulu yang mendukung pentingnya variabel kemandirian dan penyesuaian sosial yang diteliti: Penelitian yang dilakukan Syarief, dkk (2014) tentang hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian akademik pada mahasiswa Universitas Brawijaya. Hasilnya menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kemandirian dengan penyesuaian akademik mahasiswa. Semakin mandiri seseorang, semakin baik pula penyesuaian akademiknya.

Penelitian Prayitno, dkk (2014) yang meneliti pengaruh dukungan sosialdan kemandirian terhadap penyesuaian psikologis mahasiswa baru Universitas Negeri Malang. Temuan menunjukkan pengaruh positif dukungan sosial dan kemandirian terhadap penyesuaian psikologis mahasiswa. Penelitian Nurhisyam (2013) di Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang pengaruh kemandirian terhadap penyesuaian sosial pada masa orientasi mahasiswa baru.

Ditemukan pengaruh positif dan signifikan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial.

Dalam melakukan pilot study mengenai hubungan antatra kemandirian dengan penyesuaian sosial pada mahasiswa perguruan tinggi, sebanyak 30 responden mahasiswa diminta untuk mengisi survei yang terdiri dari beberapa pertanyaan terkait kedua variabel tersebut. Hasil survei

(3)

menunjukkan bahwa sebanyak 27 dari 30 responden menyatakan bahwa mereka sering mengalami stres terkait kegiatan akademik. Selain itu, 25 responden mengaku sering menunda pekerjaan akademik atau tugas. Berdasarkan temuan ini, terlihat bahwa mayoritas responden merasakan adanya masalah terkait penyesuaian sosial. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara penyesuaian sosial merupakan isu yang relevan dan layak untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial dan memberikan dasar bagi upaya intervensi atau strategi yang dapat membantu mahasiswa mandiri.

Menurut Schneider (1984), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian sosial yaitu: a. Kondisi fisik dan yang mempengaruhinya, mencakup hereditas, konstitusi fisik, system syaraf, kelenjar dan otot, kesehatan, penyakit dan sebagainya. b. Perkembangan dan kematangan, mencakup kematangan intelektual, sosial, moral dan emosional. c. Faktor psikologis, mencakup pengalaman, belajar, kebiasaan, self determination, frustrasi dan konflik. d. Kondisi lingkungan, mencakup lingkungan rumah, keluarga dan sekolah. e. Faktor kebudayaan dan agama. Faktor budaya juga diprediksikan ikut andil terhadap penyesuaian sosial individu, sebab latar belakang budaya akan mempengaruhi pembentukan sikap, nilai, dan norma seseorang (Schneiders, 1984).

Peneliti memilih untuk memfokuskan pada satu variabel yaitu kemandirian. Kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Di akhir paragraf ke-10, peneliti menjelaskan bahwa faktor yang akan menjadi variabel independen dalam penelitian ini adalah kemandirian. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa semakin mandiri seseorang, maka akan semakin mudah dalam beradaptasi dengan

lingkungan baru seperti kampus.variabel tergantung (dependen) yang diteliti adalah penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk membangun hubungan sosial dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan baru. Definisi ini sesuai dengan definisi yang dikemukakan Baker dan Siryk (1984) dalam jurnal Journal of Counseling Psychology terbitan American Psychological Association, yang menyatakan bahwa penyesuaian sosial adalah derajat di mana seseorang dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus melalui pembentukan hubungan sosial interpersonal dan mencapai keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan lingkungan baru.

Menurut Baker dan Siryk (1984), terdapat empat aspek penyesuaian sosial yang diukur dalam skala penyesuaian sosial kampus (SACQ), yaitu:

1. Penyesuaian akademik, yang meliputi kemampuan mahasiswa dalam menyesuaikan diri dengan tugas akademik seperti mengikuti perkuliahan dan ujian, serta kemampuan beradaptasi dengan sistem akademik di kampus.

2. Penyesuaian sosial personal, meliputi kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan hubungan interpersonal dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial baru di kampus.

3. Penyesuaian komunal, meliputi kemampuan berpartisipasi dalam kegiatan komunal yang tersedia di kampus seperti organisasi mahasiswa.

4. Stres psikologis, meliputi reaksi emosional yang muncul saat mengalami transisi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan baru.

(4)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran tingkat kemandirian mahasiswa angkatan 2013 Universitas Pendidikan Indonesia Bandung?

2. Bagaimana penyesuaian sosial mahasiswa angkatan 2013 di perguruan tinggi?

3. Bagaimana mahasiswa P5 mengatasi kesulitannya dalam menyesuaikan diri?

C. Tujuan Penelitian

 Mengetahui tingkat kemandirian mahasiswa angkatan 2013 Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

 Mengetahui penyesuaian sosial mahasiswa angkatan 2013 di perguruan tinggi.

 Mengidentifikasi hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial di perguruan tinggi pada mahasiswa angkatan 2013 Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

D. Manfaat Penelitian

 Memahami Kemandirian Mahasiswa: Penelitian ini memberikan wawasan tentang tingkat kemandirian mahasiswa, yang penting untuk perkembangan pribadi dan sosial mereka di lingkungan perguruan tinggi.

 Menilai Penyesuaian Sosial: Menyediakan informasi mengenai kemampuan mahasiswa dalam menyesuaikan diri secara sosial di lingkungan akademik, yang dapat mempengaruhi keberhasilan studi mereka.

 Membantu Perguruan Tinggi: Hasil penelitian dapat digunakan oleh perguruan tinggi untuk merancang program bimbingan dan dukungan yang lebih efektif bagi mahasiswa, guna meningkatkan kemandirian dan penyesuaian sosial.

 Pendidikan dan Pengembangan Karakter: Memberikan dasar bagi pengembangan karakter mahasiswa yang mandiri dan mampu beradaptasi dengan baik di masyarakat.

 Acuan bagi Penelitian Selanjutnya: Menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut yang mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemandirian dan penyesuaian sosial mahasiswa.

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Penyesuaian Sosial

Penyesuaian sosial dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk terlibat dalam perilaku sosial yang kompeten dan beradaptasi dengan standar serta nilai-nilai sosial baru yang diperlukan untuk diterima di lingkungannya (Gündüz & Alakbarov, 2019; Schuur et al., 2021).

Definisi ini menyoroti aspek perilaku adaptif yang diperlukan dalam konteks sosial yang dinamis. Penyesuaian sosial, dalam pandangan ini, berfokus pada interaksi individu dengan lingkungan sosialnya dan bagaimana mereka menyesuaikan perilaku mereka untuk diterima oleh orang lain.

Penyesuaian sosial juga dilihat sebagai kemampuan individu untuk membentuk hubungan yang memuaskan dengan orang lain serta melakukan penyesuaian emosional, yang mencakup penerimaan pribadi terhadap keadaan yang ada (Forsgren & SillanpÄÄ, 2024; Romera et al., 2016). Selain aspek sosial, definisi ini menekankan pentingnya penyesuaian emosional sebagai bagian dari proses penyesuaian sosial. Dengan demikian, penyesuaian sosial tidak hanya mencakup bagaimana individu berperilaku di masyarakat, tetapi juga bagaimana mereka secara emosional mengadaptasi diri terhadap situasi tertentu.

Kayani (2022) dan Baker (1986) menambahkan bahwa penyesuaian sosial juga melibatkan kemampuan individu untuk beradaptasi dengan perubahan fisik, vokasional, dan sosial, termasuk proses perilaku yang digunakan untuk mengatasi tuntutan dan hambatan lingkungan. Definisi ini

(6)

memperluas cakupan penyesuaian sosial dengan memasukkan adaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan, yang tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga mencakup aspek-aspek praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan berbagai definisi di atas, penyesuaian sosial dapat dipahami sebagai kemampuan adaptif yang melibatkan perilaku sosial, adaptasi emosional, dan kemampuan berfungsi dalam peran sosial yang berbeda. Penyesuaian sosial mencakup kemampuan untuk menghadapi perubahan lingkungan dengan cara yang efektif dan sehat. Dalam penelitian ini, definisi penyesuaian sosial yang digunakan akan mengacu pada definisi dari Forsgren dan Sillanpää (2024), karena definisi ini mencakup berbagai aspek penyesuaian sosial, baik dalam hal peran sosial maupun kesejahteraan emosional individu.

B. Aspek-aspek Penyesuaian Sosial

 Recognition

Adalah menghormati dan menerima hak-hak orang lain. Dalam hal ini individu tidak melanggar hak-hak orang lain yang berbeda dengan dirinya, untuk menghindari terjadinya konflik sosial. Menurut Schneiders ketika kita dapat menghargai dan menghormati hak-hak orang lain maka orang lain akan menghormati dan menghargai hak-hak kita sehingga hubungan sosial antar individu dapat terjalin dengan sehat dan harmonis.

 Participation Adalah melibatkan diri dalam berelasi. Setiap individu harus dapat mengembangkan dan melihara persahabatan. Seseorang yang tidak mampu membangun relasi dengan orang lain dan lebih menutup diri dari relasi sosial akan menghasilkan penyesuain diri yang buruk. Individu ini tidak memiliki ketertarikan untuk berpartisipasi dengan aktivitas dilingkungannya serta tidak mampu untuk mengekspresikan diri mereka sendiri, sedangkan bentuk penyesuaian dikatakan baik apabila individu tersebut mampu menciptakan relasi yang sehat dengan orang lain, mengembangkan persahabatan, berperan aktif dalam kegiatan sosial, serta menghargai nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat.

C. Faktor-faktor yang memengaruhi Penyesuaian Sosial

Keberhasilan atau kegagalan siswa dalam proses penyesuaian sosialnya disekolah berkaitan erat dengan faktor-faktor yang turut mempengaruhinya. Faktor- Faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial seseorang sangatlah rumit. Bagi siswa, usaha penyesuaian itu dapat menjadi pelik dalam perkembangan sosial pribadinya. Diungkapkan oleh Hurlock (1994) bahwa salah satu tugas perkembangan remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosialnya.

Menurut Schneider (1984), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian sosial yaitu:

 Kondisi fisik dan yang mempengaruhinya, mencakup hereditas, konstitusi fisik, system syaraf, kelenjar dan otot, kesehatan, penyakit dan sebagainya.

(7)

 Perkembangan dan kematangan, mencakup kematangan intelektual, sosial, moral dan emosional.

 Faktor psikologis, mencakup pengalaman, belajar, kebiasaan, self determination, frustrasi dan konflik.

 Kondisi lingkungan, mencakup lingkungan rumah, keluarga dan sekolah.

 Faktor kebudayaan dan agama. Faktor budaya juga diprediksikan ikut andil terhadap

penyesuaian sosial individu, sebab latar belakang budaya akan mempengaruhi pembentukan sikap, nilai, dan norma seseorang (Schneiders, 1984).

Individu yang hidup dalam lingkup budaya tertentu akan mengadaptasi nilai-nilai sosial yang didapat dari lingkungannya dan akan diterapkan dalam kehidupannya.

D. Teori mengenai Penyesuaian Sosial

Teori penyesuaian sosial dalam jurnal ini mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh Schneiders (1984), yang menjelaskan bahwa penyesuaian sosial adalah kemampuan individu untuk bereaksi secara efektif dan sehat terhadap situasi, realitas, dan relasi sosial. Hal ini penting bagi mahasiswa baru yang memasuki lingkungan perguruan tinggi yang asing. Schneiders menekankan bahwa penyesuaian sosial mencakup kemampuan untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain, serta memenuhi tuntutan hidup bermasyarakat dengan cara yang dapat diterima dan memuaskan. Dalam konteks ini, mahasiswa diharapkan mampu menghormati hak-hak orang lain, berpartisipasi dalam interaksi sosial, dan menunjukkan minat terhadap kesejahteraan orang lain, sehingga dapat membangun jaringan sosial yang mendukung.

Selain itu, menurut Hurlock (1997), penyesuaian sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang paling sulit bagi remaja, termasuk mahasiswa baru. Hurlock menyatakan bahwa banyak remaja mengalami ketidakstabilan emosional sebagai akibat dari usaha untuk menyesuaikan diri dengan harapan sosial yang baru. Dalam lingkungan kampus, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan teman sebaya, tetapi juga dosen dan berbagai norma akademik yang harus dipatuhi. Ketidakmampuan untuk melakukan penyesuaian sosial dapat

mengakibatkan stres dan kesulitan dalam beradaptasi, yang dapat berdampak negatif pada prestasi akademik dan kesejahteraan mental mereka.

Lebih lanjut, penelitian oleh Gunarsa (dalam Asiyah, 2013) menunjukkan bahwa

penyesuaian sosial sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, termasuk dukungan sosial dari teman dan masyarakat. Mahasiswa yang mendapatkan dukungan yang baik dari lingkungan sekitarnya cenderung lebih mudah beradaptasi dan berhasil dalam studi mereka. Dengan kata lain, penyesuaian sosial bukan hanya proses individual, tetapi juga merupakan interaksi antara

(8)

individu dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, agar mahasiswa dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik dan mencapai keberhasilan dalam pendidikan mereka.

E. Pengertian Kemandirian

Zimmer-Gembeck (2011) menjelaskan kemandirian sebagai kemampuan seseorang untuk berfungsi dan mengambil keputusan tanpa bergantung pada orang lain untuk bimbingan atau dukungan. Definisi ini menekankan pentingnya kemampuan individu untuk beroperasi secara mandiri. Pada awal abad ke-20, konsep kemandirian juga mulai berkembang dalam ranah filsafat, terutama dalam aliran realisme baru. Menurut Husik (1913), teori independensi menyatakan bahwa suatu objek nyata tidak tergantung pada kesadaran atau pengenalan oleh individu untuk keberadaannya. Meskipun konteks ini lebih berfokus pada objek fisik, prinsip independensi ini tetap relevan dalam pemikiran tentang kemandirian psikologis.

Erikson (1973) menyoroti kemandirian dalam konteks perkembangan psikososial remaja, di mana ia menekankan bahwa kemandirian mencakup kemampuan individu untuk membentuk identitas diri melalui pengambilan keputusan dan mengesampingkan ketergantungan pada orang lain. Oda (2021) mengembangkan konsep ini lebih jauh dengan menyatakan bahwa otonomi dan kemandirian mencakup kebebasan, pilihan, dan pengaturan diri dalam perilaku, emosi, dan kognisi, yang memungkinkan individu membuat keputusan pribadi dan mengatur diri sendiri.

Definisi ini menambahkan dimensi kognitif dan emosional dalam pengaturan diri, yang sejalan dengan teori kebutuhan psikologis yang dikemukakan oleh Legault (2016), yang menegaskan bahwa otonomi adalah pengalaman kemauan dan pengarahan diri dalam pikiran, perasaan, dan tindakan.

Secara lebih spesifik, Juanas dkk. (2020) menekankan bahwa otonomi melibatkan penerapan standar pribadi yang memungkinkan individu untuk mengontrol keputusan mereka dan

membuang pengaruh eksternal terkait pilihan pribadi. Sementara itu, Noom, Dekovic, dan Meesus (2001) mendefinisikan kemandirian sebagai kemampuan individu untuk menetapkan tujuan hidupnya, percaya diri dalam mencapainya, dan mampu menggunakan strategi untuk mencapai tujuan tersebut.

Dari berbagai definisi ini, dapat dilihat bahwa kemandirian selalu terkait dengan kemampuan untuk mengatur diri sendiri, baik dalam hal perilaku, emosi, maupun kognisi. Meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam cara penekanan pada aspek-aspek tertentu, seperti fokus Erikson pada identitas atau Legault pada otonomi sebagai kebutuhan psikologis, semuanya sepakat bahwa kemandirian adalah esensial bagi kemampuan individu untuk mengontrol hidupnya. Dalam penelitian ini, penulis merujuk pada definisi kemandirian yang dikemukakan oleh Noom, Dekovic, dan Meesus (2001), karena definisi ini memberikan kerangka yang komprehensif

(9)

dalam menjelaskan bagaimana individu menetapkan dan mencapai tujuan hidup mereka secara mandiri.

F. Aspek-aspek Kemandirian

Beberapa aspek-aspek kemandirian yang dapat diidentifikasi oleh Steinberg (dalam Warsito 2013), yaitu:

Kemandirian Emosi (Emotional Autonomy)

Kemandirian emosi didefinisikan sebagai sebuah aspek dari kemandirian yang berhubungan dengan perubahan hubungan individual dengan orang-orang terdekat, terutama orang tua. Pada akhir tahapan remaja, seseorang menjadi lebih tidak bergantung secara emosinal terhadap orang tunya, daripada saat mereka masih kanak-kanak.

Perubahan hubungan dengan orang tua inilah yang dapat disebut sebagai perkembangan dalam hal kemandirian emosional, walaupun demikian kemandirian remaja tidak

membuat remaja tersebut terpisah dari hubungan keluarganya. Jadi seorang remaja tetap dapat menjadi mandiri tanpa harus terpisah hubungan dengan keluarganya.

Kemandirian Perilaku (behavioral Autonomy)

Kemandirian perilaku diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan-keputusan dengan mandiri dan amelaksanakan keputusannya tersebut. Kemandirian tingkah laku dapat dilihat dari tiga perubahan yang muncul pada saat remaja.

Kemandirian Kognitif (Cognitive Autonomy) atau Kemandirian Nilai (Value Autonomy).

Perubahan kognitif atau yang juga disebut sebagai kemandirian nilai pada remaja mendapat peran penting dalam perkembangan kemandirian, karena dalam kemandirian dibutuhkan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri. Pada perkembangan dari kemandirian nilai, terjadi perubahan dalam konsep remaja tentang moral, politik, ideologi, dan isu tentang agama.

G. Teori mengenai Kemandirian

Kemandirian merupakan konsep yang penting dalam psikologi, berhubungan erat dengan perkembangan individu dan kemampuan mereka untuk berfungsi secara mandiri (Filippachi, 2021). Kemandirian dapat dijelaskan melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud yang

menekankan pentingnya keseimbangan antara id, ego, dan superego. Dalam hal ini, kemandirian mencakup kemampuan individu untuk mengatasi dorongan internal dan tekanan eksternal, sehingga mereka dapat bertindak sesuai dengan pilihan dan keputusan mereka sendiri (Zimmer- Gembeck et al., 2011).

Di sisi lain, teori psikososial Erik Erikson memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai kemandirian, terutama pada tahap perkembangan remaja. Erikson menekankan bahwa

(10)

tahap kemandirian ini melibatkan pembelajaran untuk membuat keputusan sendiri,

mengembangkan identitas, dan mengatasi rasa malu serta keraguan. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian tidak hanya berfokus pada kemampuan individu untuk bertindak, tetapi juga

mencakup aspek emosional dan sosial yang penting dalam membentuk identitas seseorang (Ferreira et al., 2024).

Steinberg (2002) mengidentifikasi kemandirian sebagai kemampuan individu untuk

bertindak tanpa bergantung pada orang lain. Dia membagi kemandirian menjadi beberapa aspek, termasuk kemandirian emosional, tingkah laku, dan nilai. Dalam konteks ini, kemandirian mencakup kemampuan individu untuk membuat keputusan yang tepat dan bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri, serta menerapkan prinsip moral dalam tindakan sehari-hari (Fousiani et al., 2014). Dengan demikian, penelitian ini merujuk pada kemandirian sebagai variabel independen yang penting, dengan dasar teori yang telah dijelaskan, mengaitkan kemandirian dengan perkembangan psikologis dan sosial individu.

H. Kaitan antara Kemandirian dengan Penyesuaian Sosial

Kemandirian sebagai variabel independen memiliki hubungan yang signifikan dengan penyesuaian sosial sebagai variabel dependen. Dalam konteks teori besar, kemandirian dapat dilihat melalui perspektif psikoanalisis Freud, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara id, ego, dan superego. Kemandirian memungkinkan individu untuk mengatasi dorongan internal dan tekanan eksternal, yang berkontribusi pada kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial. Keseimbangan ini sangat penting dalam penyesuaian sosial, di mana ego berperan sebagai mediator dalam interaksi sosial, sehingga individu dapat berfungsi dengan baik dalam masyarakat (Goldstein, 1984).

Dalam konteks teori menengah, Erik Erikson menjelaskan bahwa kemandirian adalah salah satu aspek penting dalam perkembangan remaja. Pada tahap ini, remaja belajar untuk membuat keputusan sendiri dan mengembangkan identitas, yang merupakan bagian integral dari penyesuaian sosial. Penelitian oleh Li, dkk. (2009) menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kemandirian tinggi memiliki penyesuaian sosial yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian tidak hanya mempengaruhi kemampuan individu untuk bertindak secara mandiri, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan hubungan sosial yang positif.

Selanjutnya, penelitian Suhartini (2001) mengungkapkan bahwa kemandirian berhubungan positif dengan penyesuaian sosial di lingkungan pesantren. Dengan kata lain, siswa yang memiliki tingkat kemandirian yang lebih tinggi cenderung lebih baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, seperti boarding school. Penelitian lain oleh Rahman Hakim menegaskan bahwa kemandirian sangat penting untuk membantu remaja menghadapi tantangan sosial dan emosional. Hal ini menunjukkan

(11)

bahwa kemandirian berfungsi sebagai faktor penentu yang penting dalam penyesuaian sosial individu.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian terbaru, dapat disimpulkan bahwa terdapat bukti kuat yang mendukung hubungan antara kemandirian dan penyesuaian sosial. Penelitian oleh Noom et al. (2001) juga mengonfirmasi bahwa tingkat kemandirian yang lebih tinggi berhubungan dengan penyesuaian sosial yang lebih baik pada remaja. Semua temuan ini mengindikasikan bahwa kemandirian berfungsi sebagai landasan penting bagi individu untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan beradaptasi, yang pada gilirannya berkontribusi pada kesejahteraan psikologis dan sosial mereka.

Dengan demikian, peneliti berasumsi bahwa kemandirian berkaitan erat dengan penyesuaian sosial karena kemandirian memberi individu kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat, mengembangkan identitas yang kuat, dan berfungsi dengan baik dalam konteks sosial.

Berbagai teori dan penelitian yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa meningkatkan kemandirian dapat berkontribusi positif terhadap penyesuaian sosial, menjadikannya aspek penting untuk diperhatikan dalam konteks pengembangan remaja dan individu secara umum.

I. Kerangka Teori

J. Hipotesis

Pada penelitian ini, hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

1. Ho: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemandirian dan penyesuaian sosial di kalangan remaja.

2. Ha: Terdapat hubungan yang signifikan antara kemandirian dan penyesuaian sosial di kalangan remaja, di mana peningkatan kemandirian berhubungan positif dengan peningkatan penyesuaian sosial.

Kemandirian (Variabe Bebas) -Kemandirian Emosional -Kemandirian Tingkah laku -Kemandirian Nilai

Penyesuaian Sosial (Variabel Terikat) -Kemampuan Berinteraksi -Keterlibatan Dalam Kegiatan

-Kepuasan Sosial

-Penyesuaian Akademik

(12)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik penelitian suatu penelitian (Arikunto, 2010). Variabel juga dapat didefinisikan sebagai konsep yang mengenai atribut atau sifat yang terdapat pada subjek penelitian yang dapat bervariasi secara kuantitatif atau secara kualitatif (Azwar, 2011). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Variabel Bebas (X) : Kemandirian Variabel Terikat (Y) : Penyesuaian Sosial

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Definisi Operasional Penyesuaian Sosial

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dijelaskan, peneliti menggunakan definisi penyesuaian sosial sebagai kemampuan individu dalam menghadapi tuntutan- tuntutan tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa baru, baik dari dalam diri maupun lingkungan kampus sehingga akan terjadi keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dengan tuntutan lingkungan kampus, dan tercipta keselarasan antara individu dengan realitas.

Adapun aspek-aspek yang akan diukur dari variabel penyesuaian sosial adalah:

1. Kemampuan bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan baru di kampus.

2. Kepatuhan terhadap aturan dan norma yang berlaku di lingkungan kampus.

3. Kemampuan menyesuaikan diri dengan sistem akademik baru di perguruan tinggi.

4. Tingkat stress yang dialami saat menyesuaikan diri di lingkungan baru.

Untuk mengukur variabel penyesuaian sosial, peneliti dapat menggunakan alat ukur Social Adjustment Scale (SAS) yang dikembangkan oleh Weissman. SAS merupakan alat ukur yang valid dan reliabel untuk mengukur penyesuaian sosial yang terdiri dari 45

(13)

pertanyaan yang meliputi 6 dimensi yaitu kerja, kemandirian sosial, hubungan keluarga, hubungan suami istri, kemampuan parental, kebugaran fisik dan rekreasi. Sumber rujukannya adalah Weissman, dkk (1978).

2. Definisi Operasional Kemandirian

Kemandirian dalam penelitian ini didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk bertindak secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Indikator kemandirian yang akan diukur meliputi:

1. Kemampuan mengambil keputusan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

2. Kemampuan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa bantuan orang lain.

3. Kemampuan mengendalikan diri dan bertanggungjawab atas tindakan yang diambil.

4. Kemampuan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil secara individu.

Untuk mengukur kemandirian, peneliti akan menggunakan Indeks Kemandirian Remaja (IKR) yang dikembangkan oleh Nurul Hidayah dan Yoyok Sunarna (2010). IKR merupakan alat ukur yang terdiri dari 20 pernyataan yang mengukur lima aspek kemandirian remaja, yaitu kemandirian emosi, kemandirian sosial, kemandirian kognitif, kemandirian fisik dan kemandirian moral. Skor maksimal yang bisa dicapai adalah 100 dan skor minimum adalah 20. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin mandiri seseorang.

Referensi

Dokumen terkait

umum tidak ada hubungannya dengan kemampuan belajar individu, IQ hny banyak berhubungan dengan latar belakang sosial budaya. (anak Yogya VS

hubungan sosial dengan baik, sehingga individu akan dapat melakukan kemampuan penyesuaian. sosial tanpa

Adapun definisi operasional dalam penelitan ini, Penyesuaian sosial adalah sebagai keberhasilan seseorang untuk mempelajari berbagai ketrampilan sosial seperti

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, “Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial

Definisi operasional yang dimaksud agar dapat mempermudah peneliti dan menghindari kesalahan dalam penafsiran terhadap penelitian ini, maka akan dijelaskan definisi

Dengan pemaparan yang telah dijelaskan pada latar belakang penelitian, peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan mengangkat judul, “INTERAKSI SOSIAL

Informasi ilmiah yang dijelaskan dalam definisi operasional sangat membantu peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama,

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengemukakan masalah pokok “ Apakah dengan dilakukan pengendalian biaya operasional dapat