• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji In Alicoo Sanayaawa Farmasi

N/A
N/A
JENI SALOMITA P-222

Academic year: 2024

Membagikan "Uji In Alicoo Sanayaawa Farmasi"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

USULAN SKRIPSI

JENI SALOMITA PERMATAHATI

UJI IN SILICO HASIL SINTESIS SENYAWA TURUNAN ASAM-O-BENZOIL-5-METOKSI

SALISILAT(II) SEBAGAI SENYAWA ANALGESIK

(II=4-CH

3

; 4-NO

2

; 4-C(CH

3

)

3

; 4-Br)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2024

(2)

ii

Lembar Pengesahan

UJI IN SILICO SENYAWA TURUNAN HASIL SINTESIS ASAM-O-BENZOIL-5-METOKSI SALISILAT (II)

SEBAGAI SENYAWA ANALGESIK

(II=4-CH3; 4-NO2; 4-C(CH3)3; 4-Br)

SKRIPSI

Dibuat untuk memenuhi syarat mencapai gelar sarjana farmasi pada Program Studi Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Malang 2024

Oleh:

JENI SALOMITA PERMATAHATI 201910410311222

Disetujui Oleh:

Penguji I Penguji II

Apt. Siti Rofida,S.Si., M.Farm NIDN. 0728087904

apt. Agustin Rafikayanti, S.Farm,. M.Sc NIDN. 0706089005

Pembimbing I Pembinbing II

Prof. Dr. apt Bambang Tri Purwanto, MS.

NIDN. 0010065702

apt. M.Artabah Muchlisin, M.Farm NIDN. 0701128904

Mengetahui

Ka. Prodi S1 Farmasi Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM

apt. Sendi Lia YunitaS.Farm., M.Sc.

NIDN. 0714068702

Dr. Yoyok Bekti P, M.Kep. Sp. Kep Kom NIDN. 0714097502

(3)

iii

Lembar Pengujian

UJI IN SILICO HASIL SINTESIS SENYAWA TURUNAN ASAM-O-BENZOIL 5-METOKSI SALISILAT(II) SEBAGAI SENYAWA ANALGESIK

(II=4-CH

3

; 4-NO

2

; 4-C(CH

3

)

3

; 4-Br) SKRIPSI

Dibuat untuk memenuhi syarat mencapai gelar sarjana farmasi pada Program Studi Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Malang 2024

Oleh:

JENI SALOMITA PERMATAHATI 201910410311222

Disetujui Oleh:

Penguji I Penguji II

Apt. Siti Rofida,S.Si., M.Farm NIDN. 0728087904

apt. Agustin Rafikayanti, S.Farm,M.Sc NIDN. 0706089005

Penguji III Penguji IV

Prof. Dr. apt Bambang Tri Purwanto, MS NIDN. 0010065702

apt. M.Artabah Muchlisin, M.Farm NIDN. 0701128904

(4)

75

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah, serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Prediksi Aktivitas Analgesik dan ADMET Senyawa Turunan Asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) Secara In Silico

sebagai persyaratan akademik untuk mencapai gelar Sarjana FarmasiFakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam menempuh studi sarjana farmasi dan pelaksanaan skripsi, penulis mendapatkan banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis dengan tulus dan ikhlas menyampaikan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr.Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep.,Sp.Kom., selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan yang telah memberikan kesempatan penulis untuk menempuh pendidikan Farmasi di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang

2. Ibu Apt.Sendi Lia Yunita, S.Farm.,M.Farm., selaku Ketua Program Studi FarmasiUniversitas Muhammadiyah Malang yang telah memberi kesempatan belajarselama di Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang 3. Bapak Prof. Dr.Apt. Bambang Tri Purwanto, MS., selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan selalu memberi bantuan, membimbing, memotivasi dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Apt. M. Artabah Muchlisin, S.Farm. ,M.Farm., selaku dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran dalam membimbing, mengarahkan serta membantu dengan penuh kesabaransehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Apt. Siti Rofida,S.Si.,M.Farm, dan Ibu Apt.Agustin Rafikayanti, S.Farm.,M.Sc, selaku penguji skripsi saya yang berkenan memberikan arahan, masukan, dan kritik dalam terselesaikannya skripsi ini.

6. Ibu Apt. Aghnia Fuadatul Inayah S.Farm.,M.Klin Pharm., selaku dosen wali yang telah banyak membantu dan mendukung dalam hal akademik dan

(5)

2

memberi saran, arahan, nasihat, serta semangat sejak awal perkuliahan program sarjana dimulai.

7. Seluruh dosen dan staf pengajar Program Studi Farmasi atas ilmu yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan sarjana Farmasi.

8. Kedua orang tua yaitu Bapak Muhammad Adam dan Almh Ibu Sri Agus Susiani dan Mama Karmila,dan Suami saya Sulfiadi dan anak saya Almeera Maudiya R.A adik serta kakak Eza Monica F.V, Andi alfiya A.I, Alfahriza M.S.A.A, Alfaiza Nadhifa T.K.A.A serta seluruh keluarga besar yang telah memberikan dukungan, semangat, kasih sayang, nasihat, bantuan moral dan materil, serta doa terbaik sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi tepat waktu dan menjadi Sarjana Farmasi.

9. Sahabat baik Arsya, Nurrufiyah, Hasan, teman-teman seperjuangan skripsi kimia medisinal Nabila Ramadani teman-teman tercinta Farmasi E serta teman- teman Farmasi angkatan 2019, teman Farmasi angkatan 2020 yang telah memberikan semangat, membantu dalam berbagai hal dari awal perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.

10. Diri sendiri yang tidak menyerah, tetap bertahan dan berjuang untuk menyelesaikan skripsi tepat waktu dan menjadi Sarjana Farmasi.

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terimakasih atasdukungan, semangat, dan bantuan yang diberikan . Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada skripsi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaatdan memberikan wawasan serta ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Malang, 28 April 2024 Penulis, Jeni Salomita Permatahati

(6)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Beberapa abad yang lalu manusia mulai serius melakukan usaha untuk mengisolasi dan memurnikan senyawa aktif yang terkandung di dalam tumbuh- tumbuhan yang diyakini berkhasiat. Sejak saat itu, berbagai macam senyawa biologis aktif diperoleh strukturnya, diantaranya morfin dari opium, kokain dari daun koka dan kina dari kulit pohon kina. Sebagian besar pengembangan ini dilakukan secara coba-coba tanpa desain atau alasan yang tepat sehingga hasilnya kurang maksimal dan memerlukan waktu yang sangat lama serta biaya yang sangat besar, sehingga diperlukan rancangan obat (Siswandono, 2016). Rancangan obat merupakan usaha pengembangan obat yang sudah ada, yang telah diketahui aktivitas biologis dan struktur molekulnya, dengan dasar pemikiran yang rasional dan sistematis, agar seminimal mungkin dapat mengurangi faktor coba-coba.

Tujuan dari perancangan obat adalah untuk mendapatkan obat baru dengan aktivitas yang lebih baik dengan biaya yang terjangkau, kemudian berkembang untuk mendapatkan obat dengan efek samping yang minimal sehingga aman digunakan, bekerja lebih selektif, masa kerja yang lebih lama serta kenyamanan pemakaian obat yang meningkat (Purwanto et al., 2018).

Setiap tahun, satu dari lima orang dewasa menderita nyeri dan satu dari sepuluh orang menderita nyeri kronis. Menurut Budiarti (2018) menyebutkan nyeri tercatat sebagai keluhan yang paling banyak diderita pasien yang berobat ke rumah sakit, Sebuah studi tentang prevalensi kasus nyeri kronis di Inggris menemukan bahwa 61% pria dan 54% wanita mengalami nyeri kronis yang parah. (Dewi dan Nugroho, 2016). Sedangkan di Amerika tahun 2012, terdapat 86,6 juta orang dewasa menderita nyeri akut dan 25,5 juta mengalami nyeri kronis setiap hari (Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2022). Secara umum prevalensi nyeri di Indonesia belum pernah diteliti secara menyeluruh namun dari penelitian (Saputra, 2022) menyebutkan nyeri pada usia ≥ 15 tahun di Indonesia sebesar 7,3%. Sensasi nyeri seringkali menimbulkan perasaan tidak menyenangkan seperti tertusuk atau terbakar, serta kondisi lain yang berdampak pada kualitas hidup pasien atau penderita nyeri (Wardoyo, A. V., dan Oktarlina, 2019). Walaupun nyeri bisa

(7)

4

digunakan sebagai petunjuk bahwa adanya suatu penyakit di dalam tubuh maka nyeri memerlukan penanganan yang tepat karena penderita merasakannya sebagai hal yang tidak menyenangkan (Nandar, 2015).

Rasa nyeri diawali karena adanya pengeluaran mediator mediator inflamasi seperti bradikinin, prostaglandin, histamin, serotonin, dan substansi P yang akan merangsang ujung ujung saraf bebas. Stimulus ini yang akan berubah menjadi impuls dan dihantarkan menuju sistem saraf pusat, dengan adanya impuls ini akan menyebabkan keluarnya endorfin yang akan berikatan dengan reseptor m,d,k di sistem saraf pusat. Terikatnya endorfin pada reseptor ini akan menghambat keluarnya mediator di perifer yang berimbas pada terhambatnya penghambatan penghantaran impuls nyeri ke otak (Farastuti dan Windiastuti, 2016).

Analgesik adalah nama umum untuk obat pereda nyeri. Analgesik adalah kelompok obat yang mengurangi rasa nyeri tanpa membuat penggunanya tidak sadarkan diri (Dewi dan Nugroho, 2016), dengan cara memperlambat dan menekan rasa nyeri. Analgesik dibagi menjadi 2 kelompok utama, yaitu Analgesik Opioid (narkotika) dan Analgesik non Opioid (non narkotika). Analgesik golongan opioid adalah kelompok obat-obatan dengan sifat candu atau adiktif, misalnya morfin atau opium. Contohnya dari analgesik opioid adalah tramadol dan kodein (Wardoyo, A.

V., dan Oktarlina, 2019)

World Health Organization (WHO) memberikan pedoman terkait terapi farmakologis untuk nyeri yang dibagi menjadi tiga tingkat yaitu nyeri ringan, nyeri sedang dan nyeri hebat secara persisten. Pada nyeri ringan menggunakan obat analgesik golongan anti inflamasi nonsteroid (Non Opioid) dan paracetamol (Farastuti dan Windiastuti, 2016). Pada nyeri sedang menggunakan opioid lemah seperti hidrokodon, kodein, tramadol dengan atau tanpa analgesik non-opioid. Dan yang ketiga yaitu nyeri hebat secara persisten menggunakan obat golongan opioid poten seperti morfin, metadon, fentanil, oksikodon, buprenorfin, tapentadol, hidromorfon, oksimorfon dengan atau tanpa analgesik non-opioid (Anekar et al., 2023). Golongan obat analgesik yang paling banyak beredar di pasaran adalah golongan non opioid (parasetamol, asetosal dan Ibuprofen) dan golongan opioid (kodein dan morfin). Obat golongan non opioid berfungsi dengan menekan sintesis enzim COX-1 dan COX-2, maka produksi prostaglandin (PGE2) dan prostasiklin (PGI2) dapat dihambat dan dikurangi. Prostaglandin dan prostasiklin termasuk dalam bagian dari mediator

(8)

inflamasi. Enzim siklooksigenase (COX) merupakan enzim yang berfungsi memproduksi prostaglandin dan prostasiklin (Imananta & Sulistiyaningsih, 2018)

Asam salisilat atau sering disebut asetosal merupakan suatu asam karboksilat sederhana yang memiliki efek analgesik, antipiretik dan antiinflamasi yang banyak digunakan untuk mengatasi nyeri dan peradangan pada tubuh (Santoso et al., 2019). Tetapi sangat jarang digunakan secara oral karena memiliki toksisitas yang relatif tinggi, Efek samping utama yang merugikan yaitu dapat mengiritasi lambung hal ini disebabkan oleh hambatan siklooksigenase-1(COX-1), yaitu suatu enzim yang dapat meningkatkan vasodilatasi mukosa lambung, sehingga terjadi peningkatan sekresi asam lambung dan vasokonstriksi mukosa lambung yang dapat menyebabkan nekrosis iskemik dan kerusakan mukosa lambung (Santoso et al., 2019). Oleh sebab itu perlu dilakukan modifikasi pada struktur asam salisilat dan membentuk turunannya yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas analgesik dan menurunkan tingkat toksisitas serta efek samping utama asam salisilat (Hasan Arif et al., 2023).

Cara lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas dari senyawa turunan salisilat yaitu, memodifikasi pada gugus karboksil atau hidroksil atau bisa juga dengan mensubstitusi gugus hidroksil atau gugus lainnya pada cincin aromatik.

Metode pengembangan obat dengan modifikasi molekul, optimasi senyawa penuntun, dan merancang obat rasional merupakan sebuah tahap yang sangat penting dalam upaya menemukan senyawa baru, yang lebih baik, lebih aktif, serta memiliki efek samping yang minim dan toksisitas yang rendah. Salah satu metode yang kerap digunakan dalam optimasi senyawa adalah pendekatan Topliss. Pada metode ini perubahan struktural dilakukan dengan menambahkan gugus-gugus yang memiliki sifat lipofilik, elektronik dan sterik. Dengan dilakukannya modifikasi pada struktur, diharapkan senyawa yang dihasilkan dapat memiliki aktivitas yang lebih tinggi, sama atau lebih rendah dibandingkan senyawa penuntun (Siswandono, 2016).

Penelitian ini dilakukan dengan mereaksikan Substituen atau gugus benzoil klorida dengan senyawa turunan asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II), metode yang digunakan adalah metode in silico, didalam melakukan uji in silico terdapat tahap molecular docking, yang dimana dalam melakukan molecular docking perlu

(9)

6

dilakukan preparasi senyawa, pada penelitian ini dilakukan preparasi senyawa secara virtual, karena pada peneliti sebelumnya pada senyawa turunan ini telah dilakukan reaksi secara murni. Rancangan reaksi dapat dilihat pada gambar 1.1

Gambar 1.1 Reaksi secara virtual antara asam 5-Metoksi salisilat dengan turunan Benzoil klorida

Pada penelitian ini akan dilakukan uji secara in silico pada hasil sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) yang sudah disintesis dan diuji secara in vivo. Ada 4 senyawa turunan asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) diantaranya O-(4-metilbenzoil)-5-metoksisalisilat dengan nilai ED50 = 41,2 (Mahir, 2017), O-(4-Nitrobenzoil)-5-metoksisalisilat ED50 = 65,92 (Fiduniaty, 2019), O-(4- tersierbutilbenzoil)-5-metoksisalisilat ED50 = 39,4 (Hakim, 2019) dan O-(4- Bromobenzoil)-5-metoksisalisilat ED50 = 47,18 (Haq, 2019). Nilai ED50 adalah nilai dosis efektif yang dibutuhkan suatu senyawa untuk memberikan efek sebesar 50 persen, jika semakin kecil nilai ED50 maka semakin besar aktivitas analgesik senyawa tersebut (Simon et al., 2017). Untuk memberikan informasi mekanisme analgetik dari keempat senyawa tersebut maka disini akan dilakukan uji secara in silico. Pada penelitian ini akan dilakukan uji in silico sesuai dengan hasil uji in vivo.

Pada uji in silico ini dilakukan untuk membandingkan dan membuktikan apakah hasil yang sudah dilakukan secara sintesis kemudian dilakukan secara in silico 4 senyawa turunan asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) aktivitas analgesiknya sama tinggi dengan hasil sintesisnya jika dibandingkan dengan senyawa pembandingnya yaitu asetosal, Dan juga pada penelitian ini akan dilakukan prediksi sifat farmakokinetika dan toksisitas dari ke-4 senyawa turunan tersebut.

Dalam pengembangan dan penemuan obat baru sedari dulu telah dilakukan, pengembangan obat dengan bantuan komputer atau disingkat Computer-aided drug discovery (CADD) telah menarik minat banyak penelitian karena membantu dalam mengurangi durasi waktu,

R

HC L

4-CH3

4- NO2

4-C(CH3)3

4-BR

Substituen di R adalah:

R

(10)

tenaga dan menekan biaya yang digunakan dalampendekataneksperimentalkonvensional. Selain dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya, metode ini juga dapat memberikan prediksi yang cepat pada senyawa yang diteliti (Bare et al., 2019).

CADD umumnya terdapat dua metode yang digunakan yaitu Structure-Based Drug Design (SBDD) dan Ligand-Based Drug Design (LBDD) (Shaker et al., 2021). Aktivitas farmakologis dan farmakokinetika dari suatu senyawa obat dapat diprediksi melalui uji secara in silico. Uji In silico adalah metode penelitian dengan menggunakan teknologi komputer dan database yang tersedia untuk mengembangkan penelitian yang sudah dilakukan terlebih dahulu (Makatita et al., 2020).

Penelitian terkait senyawa obat baru dari turunan salilisat sebelumnya sudah pernah dilakukan. seperti peneliti Adibah (2021) telah melakukan Uji Prediksi Aktivitas Analgesik Dan Admet Senyawa Turunan 5-Trifluorometil Asam Salisilat Secara In Silico dan peneliti Annisa (2021) telah melakukan Uji Prediksi Aktivitas Analgesik dan ADMET Senyawa Turunan 5-Metil Asam Salisilat Secara In Silico. Pada kedua penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa prediksi analgesik yang lebih tinggi dibandingkan senyawa pembanding asetosal serta memiliki ADME lebih baik. Dapat disimpulkan kedua senyawa turunan 5-trifluorometil asam salisilat dann turunan 5 metil asam salisilat dapat disintesis dan dilakukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakan metode in vitro dan in vivo. ADMET ini dapat mempengaruhi tingkat kinetika obat masuk ke jaringan serta meningkatkan kemampuan obat untuk sampai ditempat kerja dan menimbulkan efek yang diinginkan (Nursanti, 2021).

Diharapkan pada penelitian ini, hasil uji in silico sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) memiliki prediksi aktivitas analgesik sama atau lebih tinggi, ADME yang lebih baik serta Toksisitas lebih rendah sesuai dengan uji in vivo yang pernah dilakukan. Dengan adanya hasil pengujian secara in silico dan in vivo senyawa turunan asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) bisa dilakukan penelitian secara in vitro agar senyawa turunan senyawa asam-O- benzoil-5- metoksi salisilat (II) bisa dikembangkan sebagai kandidat obat analgesik baru.

(11)

8

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah hasil sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil 5-metoksi salisilat (II) secara in vivo memiliki aktivitas analgesik yang sama secara in silico?

2. Apakah hasil sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil 5-metoksi salisilat (II) diprediksi memiliki ADME yang lebih baik dari senyawa pembanding asetosal dan senyawa induk secara in silico?

3. Apakah hasil sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil 5-metoksi salisilat (II) diprediksi memiliki tingkat toksisitas yang lebih rendah dari senyawa asetosal dan senyawa induk secara in silico?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk memprediksi hasil sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil 5- metoksi salisilat (II) secara in vivo memiliki aktivitas analgesik yang sama secara in silico.

2. Untuk melihat nilai ADME hasil sintesis senyawa turunan asam-O- benzoil 5-metoksi salisilat (II) yang lebih baik dibandingkan senyawa asetosal dan senyawa induk secara in silico

3. Untuk melihat hasil sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil 5-metoksi salisilat (II) diperkirakan memiliki tingkat toksisitas yang lebih rendah dibandingkan senyawa asetosal dan senyawa induk secara in silico.

1.4 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan mampu menyediakan suatu informasi serta memberikan pengetahuan tentang aktifitas analgesik, sifat fisiko kimia, profil farmakokinetik, dan toksisitas hasil sintesis senyawa turunan asam-O-benzoil 5- metoksi salisilat (II). Hasil dari molecular docking diharapkan aktivitasnya sama dengan uji yang dilakukan secara in vivo. Selain itu, obat ini dapat digunakan sebagai kandidat obat analgesik baru dengan aktivitas maksimal dan efek samping yang minimal.

(12)

75

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Nyeri

Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP) nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan (aktual atau potensial). Nyeri merupakan bentuk respon alami tubuh terhadap suatu trauma atau kondisi tertentu yang dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Nyeri adalah bentuk pengalaman sensoris yang multidimensi. Pada setiap individu, sensasi nyeri yang dirasakan dapat berbeda-beda, maka parameter yang digunakan dalam penilaian nyeri seperti intensitas (ringan, sedang, berat), kualitas (tumpul, terbakar, tajam), lamanya atu durasi (sementara, intermiten, persisten), dan penyebaran (dangkal atau dalam, terlokalisasi atau menyebar). Walaupun nyeri merupakan suatu sensasi, nyeri mempunyai beberapa bagian kognitif dan emosional, salah satu komponen emosional yang bisa muncul dapat digambarkan dari rasa penderitaan yang dirasakan seseorang saat merasakan nyeri (Bahrudin, 2018).

2.1.1 Klasifikasi Nyeri

Menurut (Wardani, 2017) Nyeri diklasifikasikan dalam beberapa kategori:

1. Berdasarkan sumber nyeri, maka nyeri dibagi menjadi :

• Nyeri somatik luar

Jenis nyeri yang stimulusnya bersumber dari kulit, jaringan subkutan, dan selaput lendir. Nyeri yang dirasakan biasanya terasa seperti terbakar, menusuk, dan terlokalisasi.

• Nyeri somatik dalam

Nyeri tumpul (dullness) dan tidak terlokalisasi dengan baik akibat rangsangan pada otot rangka, tulang, sendi, jaringan ikat

• Nyeri viseral

Jenis nyeri ini terjadi akibat stimulasi organ visceral atau membran yang melingkupinya (pleura parietal, perikardium, peritoneum). Jenis Jenis nyeri ini terjadi akibat stimulasi organ visceral atau membran yang melingkupinya (pleura parietal, perikardium, peritoneum). Jenis

(13)

8

nyeri ini dibagi lagi menjadi nyeri viseral terlokalisasi, nyeri parietal terlokalisasi, nyeri transfer viseral, dan nyeri transfer parietal.

2. Berdasrkan durasi waktu dan timbulnya, maka nyeri dibagi menjadi :

• Nyeri akut

Jenis nyeri yang terjadi secara tiba-tiba dan bersifat temporer. Nyeri ini memiliki ciri-ciri berupa aktivitas saraf otonom misalnya : takikardia, hipertensi, hiperhidrosis, pucat dan midriasis serta perubahan wajah:

meringis atau seperti menangis.

• Nyeri kronik

Jenis nyeri yang berlangsung lama dapat bertahan selama berbulan- bulan lamanya tanpa tanda-tanda aktivitas otonom kecuali serangan akut. Nyeri ini bisa berupa nyeri yang berlanjut sesudah penyembuhan luka (penyakit/operasi) atau nyeri akut yang awalnya bertahan selama lebih dari 3 bulan.

Nyeri ini disebabkan oleh:

1. kanker akibat tekanan atau rusaknya serabut saraf 2. non kanker akibat trauma, proses degenerasi dll

3. Berdasarkan jenisnya nyeri juga dapat diklasifikasikan menjadi :

• Nyeri nosiseptif

Karena adanya kerusakan pada jaringan baik somatik ataupun viseral.

Stimulasi nosiseptor baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat menyebabkan pelepasan mediator inflamasi dari jaringan, sel imun, serta ujung saraf sensorik dan simpatis.

• Nyeri neurogenik

Nyeri yang didahului atau disebabkan oleh adanya lesi primer atau gangguan fungsi sistem saraf tepi. Disebabkan oleh cedera pada saluran serat saraf tepi dan terpotongnya saraf tepi. Sensasi yang ditimbulkan adalah panas dan menusuk, dan kadang kala diiringi dengan hilangnya rasa ataupun ketidaknyamanan ketika tersentuh. Nyeri neurogenik dapat menimbulkan allodynia. Hal ini bisa saja terjadi secara mekanis atau karena meningkatnya kepekaan noradrenalin sehingga menghasilkan nyeri yang terjaga secara simpatis (sympathetically

(14)

maintained pain/SMP). SMP adalah suatu komponen dari nyeri kronis.

Jenis nyeri ini sering memberikan respons yang buruk terhadap analgesik konvensional.

• Nyeri psikogenik

Nyeri ini terjadi karena penderita mengalami gangguan jiwa misalnya cemas dan depresi. Nyeri akan hilang dengan sendirinya apabila keadaan kejiwaan pasien sudah kembali normal.

4. Berdasakan derajat nyeri dikelompokan menjadi:

• Nyeri ringan

Penderita masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak mengganggu kegiatan yang dilakukan.

• Nyeri sedang

Penderita mengalami kenaikan intensitas nyeri yang dirasakan pada nyeri ringan dan biasanya mulai menimbulkan respon nyeri sedang yang mulai mengganggu aktivitas seseorang.

• Nyeri berat

Penderita nyeri dengan intensitas berat membuatnya tidak mampu melakukan aktivitas normal seperti biasa, bahkan bisa menyebabkan ganguan secara psikologis dimana penderita merasa emosional dan kesulitan mengendalikan diri.

5. Berdasarkan Lokasi (Tempat Terasa Nyeri), dikelompokan menjadi :

• Nyeri somatik

Nyeri somatik merupakan nyeri yang timbul akibat ransangan terhadap nosiseptor baik superfisial (nyeri tajam di kulit, subkutis dan mukosa) maupun somatik dalam (nyeri tumpul pada otot rangka, sendi dan jaringan ikat). Nyeri somatik superfisial merupakan nyeri yang timbul akibat rangsangan atau stimulasi nosiseptor di dalam kulit atau jaringan subcutan dan mukosa yang mendasarinya. Hal ini ditandai dengan adanya sensasi/rasa berdenyut, panas atau tertusuk, dan mungkin berkaitan dengan rasa nyeri yang disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak mengakibatkan nyeri (misalnya allodinia), dan hiperalgesia. Jenis nyeri ini biasanya konstan dan jelas lokasinya. Nyeri

(15)

10

somatik dalam diakibatkan oleh luka pada struktur dinding tubuh (misalnya otot rangka/skelet).

• Nyeri visceral

Nyeri visceral merupakan nyeri yang timbul karena adanya luka pada organ dengan saraf simpatis. Nyeri ini dapat disebabkan oleh distensi abnormal atau kontraksi pada dinding otot polos, tarikan cepat kapsul/selubung yang menyelimuti suatu organ (misalnya hati), iskemi otot skelet, iritasi serosa atau mukosa, pembengkakan atau pemelintiran jaringan yang berlekatan dengan organ-organ ke ruang peritoneal, dan nekrosis jaringan. Biasanya terasa sebagai nyeri yang dalam, tumpul, linu, tertarik, diperas atau ditekan

2.2 Tinjauan Analgesik

Salah satu cara atau solusi yang dikembangkan untuk mengatasi rasa nyeri yaitu menggunakan obat yang memiliki efek analgesik. Analgesik adalah sebuah senyawa yang secara selektif menghambat kerja sistem saraf dan digunakan untuk menurunkan rasa nyeri tanpa berdampak pada kesadaran. Analgesik memiliki cara kerja dengan menaikkan nilai batas ambang persepsi nyeri. Penggolongan obat) analgesik terbagi atas 2 kelompok tau golongan utama, yaitu Analgesik Opioid (narkotik) dan Analgesik Non Opioid. Analgesik narkotik atau analgesik opioid merupakan obat-obatan yang beraksi terhadap reseptor opioid di SSP.

(Edy, A. J., dan Nugroho, 2019).

2.2.1 Klasifikasi Golongan Analgesik 2.2.1.1 Analgesik Opioid

Analgesik opioid merupakan sekelompok obat-obatan yang mempunyai karakteristik layaknya opium (candu) atau morfin. Contoh Analgesik opioid yaitu kodein, morfin, nalokson, metadon, dll (Wardoyo, A. V., dan Oktarlina, 2019).

Mekanisme kerja obat golongan analgesik opioid dihasilkan melalui ikatan antar obat dengan reseptor spesifik yang berlokasi di otak serta sumsum tulang belakang sehingga bisa memberikan efek euforia dan rasa mengantuk (Siswandono, 2016).

2.2.1.2 Analgesik Non Opioid

Obat analgetik non narkotik/perifer merupakan obat-obatan yang tidak bersifat narkotik dan bekerja di syaraf perifer sehingga tidak berpengaruh terhadap

(16)

tingkat kesadaran dan tidak menimbulkan ketergantungan (Tjay, 2007) Analgesik non opioid terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: parasetamol, salisilat, (asetosal, salisilamida, dan benorilat), Penghambat prostaglandin (NSAID) ibuprofen, turunan asam mefenamat antranilat, turunan pirazolinon (aminofenazon, isoprofil penazon, isopropilamino fenazon), benzidamin lainnya. Cara kerja obat analgesik non opioid dihasilkan dengan menghambat enzim pada susunan sistem saraf pusat melalui katalisator biosintesis prostaglandin, selanjutnya menginaktifasi mediator- mediator nyeri agar efek analgesik dapat terjadi (Siswandono, 2016).

2.3 Tinjauan Enzim Siklooksigenase

Efek yang dihasilkan oleh obat-obatan yang memiliki efek analgesik opioid maupun non-opioid, utamanya disebabkan oleh reaksi penghambatan pada enzim Siklooksigenase (COX), Siklooksigenase atau yang dikenal prostaglandin H sintase merupakan enzim kunci dalam sintesis prostaglandin. Dalam enzim Siklooksigenase dibagi lagi menjadi 2 bentuk (isoform) (COX-1 dan COX-2).

(Prasetya, 2015). Aktivasi siklooksigenase (COX) terlibat dalam proses fisiologis peradangan dan nyeri. Meskipun kedua enzim pada dasarnya bekerja dengan cara yang sama, penghambatan selektif dapat menghasilkan perbedaan efek samping (Rachmania et al., 2018)

COX-1 merupakan enzim konstitutif yang bekerja dengan mengkatalis pembentukan prostanoid regulatoris pada berbagai jaringan, terutama pada selaput lendir traktus gastrointestinal, ginjal, platelet dan epitel pembuluh darah.

Berkebalikan dengan COX-1, COX-2 tidak konstitutif namun dapat diinduksi, apabila terdapat stimuli radang, mitogenesis atau onkogenesis. Kedua isoform COX hampir identik dalam struktur, tetapi memiliki perbedaan penting dalam substrat dan selektif inhibitor dan lokasi-lokasi intraseluler (Prasetya, 2015)

COX-2 diketahui merupakan enzim yang paling berperan dalam proses terjadinya rasa nyeri. Dalam proses pembentukan enzim COX-2 akan menghasilkan Prostaglandin H2 (PGH2). Selain Prostaglandin H2, proses pembentukan juga menghasilkan Prostaglandin E2 (PGE2). Prostaglandin E2 ini berperan dalam proses inflamasi seperti vasodilatasi pembuluh darah, nyeri dan edema (Prasetya, 2015).

(17)

12

2.4 Tinjauan Asam Salisilat

Gambar 2.1 Struktur senyawa asam salisilat

Asam salisilat merupakan suatu asam karboksilat sederhana yang sudah banyak sekali digunakan dalam dunia kesehatan, senyawa ini memiliki rumus kimia C7H6O3 dengan bentuk struktur kimia seperti pada gambar 2.2. Senyawa ini memiliki efek analgesik, antipiretik dan antiinflamasi yang banyak digunakan untuk mengatasi nyeri dan peradangan pada tubuh. Namun karena efek samping senyawa ini pada tubuh sangat berbahaya, sehingga senyawa ini jarang digunakan secara oral. Asam salisilat yang tertelan dapat menyebabkan keracunan dengan gejala seperti mual dan muntah, atau dapat menyebabkan efek yang lebih buruk seperti asisodis metabolik (Santoso et al., 2019). Dari efek samping yang sangat tidak menguntungkan tersebut, kemudian senyawa ini lebih digunakan dalam sediaan topikal pada permukaan tubuh, efek keratolitikum dan anti-fungal pada senyawa ini relatif aman digunakan secara topikal untuk mengatasi berbagai penyakit seperti kalus, psoriasis, dan juga panu. Selain itu dalam dunia kosmetik asam salisilat digunakan untuk mengangkat sel kulit mati, sehingga kulit dapat terlihat menjadi lebih cerah (Gultom, 2020).

2.5 Tinjauan Asam Asetilsalisilat

Asam Asetilsalisilat atau yang lebih dikenal dengan asetosal, merupakan senyawa kimia dengan rumus C9H8O4. Asam asetilsalisilat merupakan senyawa ester salisilat yang dikenal memiliki khasiat sebagai analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi. Asetosal termasuk didalam golongan obat analgesik non-steroid atau NSAID, senyawa ini dibuat dari sintesis antara asam salisilat dengan asam asetat.

Obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase 1 dan 2, enzim siklooksigenase berperan dalam mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin.

(18)

Karena sintesa dari prostaglandin dihambat menjadikan kadarnya berkurang dalam tubuh dan mengakibatkan efek samping berupa iritasi pada lambung (Santoso et al., 2019). Dewasa ini, penggunaan asetosal sebagai analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi sudah jarang digunakan. Senyawa ini, sekarang lebih banyak digunakan sebagai anti-platelet atau biasa disebut dengan obat pengencer darah pada penderita stroke dan penyakit jantung (Purwaningsih, 2015).

2.6 Tinjauan 5 Metoksi salisilat

Asam-5-Metoksisalisilat memiliki rumus kimia C8H8O4 Asam 5- metoksisalisilat merupakan asam metoksisalisilat yaitu asam salisilat yang membawa gugus metoksi pada posisi 5. Berperan sebagai metabolit bakteri dan metabolit urin manusia. Asam 5-metoksisalisilat adalah produk alami yang ditemukan di Thalictrum fargesii, Amycolatopsis, dan Conyza bonariensis (Pubchem,2023).

2.7 Tinjauan Benzoil Klorida

Benzoil Klorida merupakan suatu cairan transparan atau tidak berwarna yang mudah terbakar, memiliki bau busuk, serta uap yang bersifat iriatif terhadap mukosa. Benzoil klorida digunakan sebagai zat antara kimia dalam pembuatan pewarna dan produk farmasi tertentu dan sebagai pengembang fotografi. Efek akut (jangka pendek) benzoil klorida dari paparan inhalasi pada manusia terdiri dari iritasi parah pada saluran pernapasan bagian atas, kulit, mata, dan selaput lendir, dan kerusakan paru-paru bersama dengan edema paru (cairan di paru-paru).

Paparan konsentrasi tinggi juga menyebabkan efek pada sistem saraf pusat (SSP) (Pubchem, 2024).

2.8 Celecoxib

Celecoxib merupakan obat golongan anti-inflamasi non-steroid (NSAIDs) yang spesifik dalam menghambat kerja enzim siklooksigenase 2 (COX-2). Obat ini memiliki efek farmakologis sebagai anti-inflamasi, antipiretik, analgesik, dan penghambat platelet atau trombosit sehingga digunakan untuk mengobati penyakit osteoartritis, arthritis rheumatoid, spondilitis ankilosa, polip kolorektal, arthritis juvenile, dismenor, nyeri dan pengobatan kanker. Celecoxib merupakan padatan kristal berbentuk jarum yang berwarna kuning pucat; serbuk atau serbuk kristal

(19)

14

berwarna putih. Celecoxib sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam pelarut organik seperti methanol, etanol, dimetilsulfoksida (DMSO), dan dimetilformaldehid (DMF) (Pubchem 2024).

2.9 Tinjauan Pengembangan Obat (Drug Design)

Pada pengembangan obat dan penemuan obat baru biasanya memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama. Proses penemuan obat baru menggunakan metode skrining komputasi sedang terus dikembangkan upaya dalam peningkatan pengembangan obat bisa dengan menggunakan pendekatan komputasi atau lebih dikenal dengan computer aided drug design atau disingkat menjadi CADD, biasanya digunakan untuk pengembangan obat bisa berdasarkan dari informasi obat dan penyakit yang sudah ada, digunakan juga untuk mengidentifikasi calon obat aktif, dalam pemilihan dan optimasi senyawa induk meliputi untuk peningkatan sifat fisiko kimia obat, farmakokinetika dari obat, farmasetika dari obat dilakukan dengan cara memodifikasi struktur senyawa. Pada pendekatan CADD (computer aided drug design) dapat melalui dua metode yaitu Structure base drug design (SBDD) dan Ligan base drug design (LBDD). Pendekatan CADD (computer aided drug design) adalah teknik yang dapat dievaluasi atau dapat disesuaikan dengan kebutuhan dengan design obat berdasarakan struktur dan design obat berdasarakan ligan merupakan teknik efisien dan kuat dalam pengembangan obat dan penemuan obat baru, metode ini dapat dilakukan dengan pengabungan molekul melalui skrining virtual atau sering disebut SN2 Virtual digunakan untuk mengidentifikasi dan pengoptimalan ligan-reseptor yang dipakai untuk acuan dalam mengamati calon obat secara komputasi (Prasetiawati et al., 2021).

2.9.1 Tinjauan Metode Topliss

Salah satu metode yang digunakan untuk mengembangkan senyawa obat baru yang paling sering digunakan yaitu metode Topliss. Metode Topliss merupakan metode modifikasi molekul yang menggunakan prinsip dasar pendekatan hubungan struktur aktivitas model Hansch untuk memodifikasi struktur molekul senyawa penuntun yang sudah diketahui aktivitasnya. Prinsip kerja dari tertentu pada posisi yang memberikan aktivitas lebih tinggi, sama atau lebih rendah dibanding dengan aktivitas senyawa penuntun (Res et al., 2019).

(20)

Model pendekatan Topliss dibagi menjadi dua kategori yaitu modifikasi struktur pada cincin aromatik dan pada rantai samping gugus alkil. Modifikasi struktur cincin aromatik berfokus pada sifat lipofilik, (+)π atau (-)π dan sifat elektronik, (+)σ atau (-)σ yang berasal dari subtituen yang dimasukkan dalam struktur penuntun. Pada perubahan struktur rantai samping perubahan aktivitas dipengaruhi oleh sifat lipofilik (π) dan elektronik (σ) substituent (Harjono et al., 2016).

Gambar 2.2 Skema operasional substitusi aromatik Bagan Topliss Keterangan: L: lebih aktif; S: sama aktif; K: kurang aktif;

Tanda [] menunujukkan gugus alternatif 2.9.2 Structure Based Drug Design (SBDD)

SBDD adalah salah satu metode dalam CADD yang digunakan apabila reseptor yang sudah diketahui, sebagai tempa interaksi antara Obat dan Reseptor sudah tersedia. Dengan menggunakan struktur 3D dari target obat yang didapat dari web Protein data Bank (PDB) yang prinsipnya saling melengkapi antara ligan dan makromolekul yang dapat digambarkan seperti gembok dan kunci. Cara kerja dari SBDD yakni menghitung afinitas pengikatan antara ligan dan protein target, menggunakan struktur ligan dan protein target. Pendekatan ini termasuk docking

(21)

16

molekuler, docking berbasis fragmen, dan dinamika molekuler simulasi untuk prediksi afinitas pengikatan (Harjono et al., 2016).

Metode SBDD yaitu memanfaatkan informasi dari struktur protein target guna mencari sisi aktif protein yang berikatan dengan senyawa. Kemudian berdasarkan prediksi sisi aktif dapat dirancang senyawa yang diharapkan berikatan dengan protein target tersebut dan memiliki aktivitas biologis. Sudah banyak obat yang dikembangkan atau sedang dalam uji klinis melalui metode SBDD dan Berhasil dikembangkan lebih lanjut (Shaker et al., 2021)

2.9.3 Ligand Based Drug Design (LBDD)

Untuk metode LBDD, merupakan salah satu metode CADD yang berkebalikan dari SBDD, yaitu pendekatan tanpa menggunakan atau tanpa memiliki infromasi 3D reseptor. Metode seperti pemodelan farmakofor dan QSAR yang memberikan informasi tentang interaksi antar target dan ligan. Pendekatan LBDD memanfaatkan informasi yang sudah tersedia sebelumnya tentang obat aktif seperti fitur struktural, fisik, dan kimianya untuk memprediksi obat baru senyawa dengan efek biologis yang serupa. Dan diharapkan senyawa di bawah yang memiliki kesamaan struktural dan fisikokimia tinggi lebih cenderung memiliki aktivitas biologis yang serupa (Shaker et al., 2021).

2.10 Tinjauan Hukum Lipinski

Untuk memajukan penemuan dan pengembangan obat baru, salah satu upaya yang dilakukan untuk mengevaluasi sifat molekul obat yang serupa pada tahap awal proses penemuan-penelitian menggunakan Hukum Lipinsky atau bisa disebut juga Rule of 5s. Hukum Lipinski merupaka suatu aturan yang dikembangkan pada tahun 1997 oleh Christopher Lipinski. Hukum 5 lipinski adalah suatu aturan praktis untuk mengevaluasi kemiripan obat atau menentukan apakah suatu senyawa kimia dengan aktivitas farmakologis atau biologis tertentu memiliki sifat kimia dan sifat fisik yang dapat menjadi obat aktif dan bisa digunakan pada manusia (Ivanović et al., 2020).

Hukum Lima Lipisnki meliputi Massa molar >500 (Apabila Berat molekul yang lebih dari 500 g/mol tidak bisa berdifusi menembus membrane sel), Jumlah donor ikatan-H > 5, Jumlah akseptor ikatan-H >10 (Jumlah H donor tidak lebih dari

(22)

5 dan H aseptor tidak lebih dari 10 agar memiliki permeabilitas yang baik.), LogP>5 (atau MlogP>4,15) (Nilai log P menggambarkan kemampuan senyawa untuk dapat larut dalam cairan membrane biologis (kelarutan oktanol/air). Semakin besar nilai log P, maka semakin hidrofobik molekul tersebut.). Ro5 menjelaskan sifat molekul penting untuk a farmakokinetik obat dalam tubuh manusia, termasuk penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresi ("ADME") (Ivanović et al., 2020).

2.11 Tinjauan Farmakokinetik

Farmakokinetika adalah ilmu yang mempelajari secara khusus perubahan jumlah obat dalam tubuh. Untuk lebih spesifik pembahasan farmakokinetika dilakukan dengan mengamati fenomena absorbsi, distribusi, metabolisme, eliminasi dan Toksisitas obat secara kuantitatif. Studi farmakokinetik melibatkan pendekatan eksperimental dan teoritis. Aspek eksperimental farmakokinetik melibatkan pengembangan teknik pengambilan sampel biologis, metode analisis untuk pengukuran obat dan metabolit, dan prosedur yang memfasilitasi pengumpulan dan manipulasi data. Aspek teoritis farmakokinetik melibatkan pengembangan model farmakokinetik yang memprediksi disposisi obat setelah pemberian obat (Notario, 2018).

2.11.1 Absorbsi

Absorpsi merupakan salah satu proses masuknya obat dari awal tempat diberikan hingga obat masuk dalam sirkulasi darah tubuh. Absorbsi obat mencakup proses obat dari awal masuknya obat ke dalam tubuh hingga masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Tempat pemberian obat umumnya melalui saluran cerna (mulut hingga dengan rektum), kulit, paru, otot, dan lain-lain. Penyerapan obat dari saluran pencernaan dianggap sebagai mekanisme yang kompleks karena sejumlah faktor yang terutama diklasifikasikan ke dalam efek fisiologis, fisikokimia, dan farmasi.

Oleh karena itu, memprediksi penyerapan obat merupakan kendala utama yang dihadapi peneliti dan calon pengembang obat (Bylund dan Enna, 2018).

2.11.2 Distribusi

Farmakokinetik suatu obat ditentukan oleh berbagai parameter, salah satunya distribusi. Distribusi merupakan proses obat disalurkan dari sirkulasi sistemik ke

(23)

18

cairan tubuh dan jaringan. Distribusi obat dipengaruhi beberapa faktor yaitu aliran darah, efek pengikatan dengan protein, dan afinitas atau kekuatan penggabungan terhadap jaringan yang akan berpengaruh pada farmakokinetik obat. Oleh karena itu, untuk memprediksi secara akurat parameter farmakokinetik obat in vivo, parameter distribusi jaringan harus diprediksi selama pengembangan obat (Chandrasekaran et al., 2018).

2.11.3 Metabolisme

Metabolisme adalah salah satu proses yang dialami obat didalam tubuh sebelum dieksresikan. Metabolisme merupakan proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Berbagai aspek metabolisme obat dioptimalkan pada awal pengembangan, termasuk kimia, biokimia, mekanisme detoksifikasi dan toksifikasi, dan interaksi metabolic. Umumnya metabolisme obat terjadi di hati, yaitu di membran retikulum endoplasma (mikrosom) dan di sitosol.

Metabolisme obat dilakukan dengan mengubah obat yang nonpolar (larut lemak) menjadi polar (larut air) sehingga dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu (Chandrasekaran et al., 2018).

2.11.4 Ekskresi

Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh. Ekskresi mengacu pada proses di mana tubuh membuang limbah atau produk beracun. Zat hasil metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui alat ekskresi yang terdiri dari ginjal, kulit, hati, dan paru-paru. Organ terpenting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk metabolitnya. Setelah memprediksi profil ekskresi suatu obat, informasi yang dikumpulkan dapat digunakan untuk menggambarkan perilaku dari suatu obat yang sedang dikembangkan (Chandrasekaran et al., 2018).

2.11.5 Toksisitas

Toksisitas adalah suatu keadaan yang menandakan adanya efek toksik atau beracun yang terdapat pada suatu bahan sebagai sediaan dosis tunggal atau campuran. Untuk mengetahui apakah bahan kimia atau obat-obatan dapat mengakibatkan keracunan, perlu dilakukan Uji Toksisitas. Tujuan dilakukan uji toksisitas adalah untuk mengetahui informasi yang dapat mencegah dan melindungi

(24)

keselamatan masyarakat yang menggunakan sediaan obat terhadap efek samping berbagai bahan kimia dan obat-obatan yang akan digunakan. Beberapa faktor seperti lokasi paparan (oral, kulit, inhalasi, dll.), dosis (konsentrasi), frekuensi/lama paparan, karakteristik ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi) /eliminasi), sifat fisiologis dan biologis (berat, umur, jenis kelamin) dan sifat kimia mempengaruhi dapat mempengaruhi toksisitas bahan kimia atau obat ( Chandrasekaran et al., 2018).

2.12 Tinjauan Farmakodinamik

Farmakodinamik adalah studi tentang efek obat pada tubuh, efek obat pada pasien, termasuk mekanisme kerjanya, efek menguntungkan dan merugikan, dan aplikasi klinisnya (Shargel, L., Yu, A.B.C., 2016).

2.12.1 Tinjauan Ligan

Ligan meupakan suatu zat yang berupa mikromolekul, yang dapat membentuk kompleks kimia bersama molekul biologis untuk mencapai tujuan biologis. Ligan terdiri dari berbagai jenis seperti, protein, DNA atau RNA pendek, bagian dari virus atau bakteri, atau senyawa dan obat buatan manusia. Dalam Ligan terkandung bagian pengenal yang bisa lebih dari satu, dengan demikian Ligan dapat mengikat reseptor dalam bentuk kelompok. Pengikatan secara berkelompok dapat memberi peningkatan signifikan pada afinitas interaksi reseptor-ligan. Ligan berkaitan erat dengan Reseptor. Dimana perubahan sekecil apapun yang disebakan oleh aktivitas ligan pada reseptor di sel dapat menyebabkan respons fisiologis yang berpengaruh pada bioaktivitas berbagai biomolekul, serta aksi obat (Bylund dan Enna, 2018)

2.12.2 Tinjauan Reseptor

Reseptor merupakan suatu protein spesifik yang terdapat dalam tubuh yang akan berinteraksi dengan obat-obatan, neurotransmiter, hormon, limfokin, dan lektin sebagai pembawa pesan molekuler (molecular messenger). Reseptor dapat juga berupa makromolekul yang larut dalam air, kebanyakan terletak pada luar membran, atau tertanam dalam membran. Reseptor merupakan tempat molekul obat berinteraksi membentuk suatu kompeks yang reversibel sehingga pada akhirnya menimbulkan respon. Salah satu faktor penting pada resptor yaitu bentuknya.

(25)

20

karena, seperti enzim, reseptor bekerja dengan cara mengikat senyawa molekul kecil lainnya (ligan). Reseptor bertindak sebagai sakelar yang dapat dihidupkan atau dimatikan. Ketika diaktifkan, reseptor memulai proses perubahan fungsi fisiologis, yang pada akhirnya mengarah pada respons biologis (Chandrasekaran et al., 2018).

2.12.3 Tinjauan Interaksi Ligan dan Reseptor

Hubungan antara reseptor dan ligan dijelaskan sebagai berikut, yaitu reseptor berfungsi untuk mengenal dan mengikat suatu ligan dengan spesifisitas tinggi. Pengikatan antara ligan dan reseptornya bergantung pada susunan kedua molekul tersebut. Semakin mirip antar ligan dan reseptor, maka semakin tinggi afinitas dan semakin kuat interaksi yang terbentuk. Ikatan antara ligan dan reseptor bersifat spesifisitas, yaitu suatu ligan mengikat satu jenis reseptor tertentu. Apabila ligan dapat berikatan dengan beberapa jenis reseptor maka ligan dinyatakan tidak spesifik. Terdapat dua jenis Spesifisitas yaitu kimiawi dan biologis. Spesifisitas kimiawi berkaitan pada perubahan struktur kima yang mempengaruhi efek farmakologinya. Sedangkan spesifisitas biologis berupa efek yang berasal dari interaksi antara ligan dan reseptor yang sama, dengan kekuatannya berbeda apabila terdapat pada jaringan yang lain (Ikawati, 2018).

Terdapat beberapa bentuk ikatan antara reseptor dan ligan, antara lain gaya Van der Waals, interaksi hidrofobik, ikatan ionik atau elektrostatik, yang membentuk kompleks dengan ikatan non-kovalen yang relatif stabil, Jenis interaksi ini tergantung pada kompatibilitas struktural dan energi dari agen biologis.

Reseptor-ligan terbentuk melalui proses yang cukup kompleks. Contoh dari pembentukan pasangan ligan-reseptor yang cukup kompleks yaitu interaksi protein- protein, melibatkan Pengenalan utama reseptor oleh ligan yang sesuai, Orientasi dan konformasi untuk mencapai posisi yang tepat, dan ikatan fisik antara dua molekul (Guryanov et al., 2016).

2.12.4 Ikatan Kovalen

Ikatan kovalen terbentuk ketika dua atom menggunakan sepasang electron untuk berinteraksi satu sama lain. Ikatan ini adalah yang paling kuat dengan kekuatan rata-rata 100 kkal/mol. Ikatan ini hanya dapat pecah oleh pengaruh katalisator enzim tertentu karena mereka ireversibel. Interaksi obat-reseptor yang

(26)

terjadi melalui ikatan kovalen menghasilkan kompleks yang cukup stabil, dan sifat- sifat ini dapat digunakan untuk tujuan pengobatan tertentu. Obat yang mengandung kovalen termasuk mekloretamin, siklofosfamid, klorambusil, tiotepa, turunan penisilin dan sefalosporin, salvarsan, karbason, merkatopmerin, klormerodrin, dan asam etakrinat (Siswandono,2016).

2.12.5 Ikatan Ion

Daya tarik menarik elektrostatik antara ion yang muatannya berlawanan membentuk ikatan ionik. Kekuatan tarik menarik berkurang seiring jarak antara ion, dan pengurangan ini berbanding terbalik dengan jarak. Obat yang mengandung ikatan ionic termasuk 9-aminotetrahidroakridin, 4-aminokuinolin, akriflavin, aminakrin, proflavin, dekualinium klorida, benzalkonium klorida, dan setilpiridinium klorida (Siswandono,2016)

2.12.6 Ikatan Ion Dipol atau Dipol-Dipol

Adanya perbedaan kelektronegatifan atom C dengan atom yang lain seperti O dan N akan membentuk distribusi electron tidak simetrik atau dipol. Ini dapat membentuk ikatan dengan ion atau dipol lain yang memiliki daerah kerapatan elektron tinggi atau rendah.. Contoh obat yang melibatkan ikatan ion dipol adalah turunan metadon (Siswandono,2016).

2.12.7 Ikatan Hidrogen

Ikatan hydrogen adalah suatu ikatan antara atom H yang mempunyai muatan positif parsial dengan atom lain yang elektronegatif dan mempunyai sepasang electron bebas dengan oktet lengkap, seperti O, N, dan F. Atom yang bermuatan positif parsial dapat berinteraksi dengan atom negatif parsial dari molekul atau atom lain yang berbeda ikatan kovalennya dalam satu molekul.

Contoh obat dari ikatan hidrogen yaitu turunan pirazolon, asam salisilat, metil salisilat, nipagin, klorotiazid, hidroklorotiazid, dan hidroflumetiazid (Siswandono,2016)

2.12.8 Ikatan Van Deer Waals

Ikatan van der Waal’s adalah kekuatan Tarik menarik antar molekul atau atom yang tidak bermuatan, dan letaknya berdekatan atau jaraknya (4-6A°). Ikatan ini terjadi karena sifat kepolarisasian molekul atau atom. Contoh obat yang

(27)

22

melibatkan ikatan Van deer Waal’s yaitu turunan isatin-β-tiosemikarbazon (Siswandono,2016)

2.12.9 Ikatan Hidrofobik

Ikatan Hidrofobik adalah salah satu kekuatan penting pada proses penggabungan daerah non polar molekul obat dengan daerah non polar reseptor biologis. Daerah non polar molekul obat yang tidak larut dalam air dan molekul- molekul air disekelilingnya, akan bergabung melalui ikatan hidrogen membentuk struktut quasi-crystalline (icebergs) (Siswandono,2016)

2.12.10 Transfer Muatan

Kompleks yang terbentuk antara dua molekul melalui ikatan hidrogen merupakan kasus khusus dari fenomena umum kompleks donor-aseptor yang distabilkan melalui daya tarik menarik elektrostatik antara molekul donor electron dan molekul aseptor electron (Siswandono,2016)

2.13 Tinjauan In silico

Pendekatan In silico dalam bidang pengembangan obat baru-baru ini menarik minat yang cukup besar karena dapat mempersingkat proses pengembangan obat baru dalam waktu, tenaga, dan biaya. Keuntungan utama dari metode ini yaitu efisien biaya dan waktu. Dengan bantuan komputer, penelitian yang bisa memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang cukup besar, dapat sedikit dipangkas.

Penggunaan uji in silico banyak dipilih daripada metode lain seperti in vitro dan in vivo karena selain mudah dan hemat waktu, uji in silico dapat memprediksi dan memberikan hipotesis tentang aktivitas ligan atau senyawa dimana pada proses in vitro dan in vivo akan sedikit sulit untuk menjelaskan terjadinya mekanisme ligan dan target secara sederhana Karena kelebihan yang ditawarkan dari pengembangan obat melaui uji in silico ini sangat banyak dan menguntungkan, maka penggunaan metode in silico semakin sering digunakan oleh peneliti. Banyak senyawa obat baru yang telah berhasil dikembangkan melalui metode komputasi (Alves et al., 2018).

Uji in silico adalah istilah untuk percobaan atau uji yang dstimulasi dengan bantuan media komputer. Uji in silico dilakukan dengan melakukan penambatan molekul (molecular docking) calon obat dengan reseptor terpilih. Molecular docking dilakukan untuk menyelaraskan molekul calon obat (ligan = molekul kecil)

(28)

ke dalam reseptor (biomakromolekul) yang merupakan molekul besar protein, dengan memperhatikan sifat keduanya. Umumnya metode In silico digunakan bersamaan dengan pembuatan data in vivo dan in vitro untuk pemodelan dan validasi yang tepat dari berbagai aspek mulai dari bentuk desain dan pengoptimalisasi ligan, hingga sifat farmakologi dasar molekul seperti absorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (ADMET) (Akhoon et al., 2019).

2.14 Tinjauan Tentang Perangkat Lunak 2.14.1 Autodock

AutoDock sebuah program docking protein-ligan yang paling sering digunakan. Karena program ini tersedia secara gratis dan tersedia di bawah lisensi open source, menjadikanya populer bagi banyak penelitian, khususnya di kalangan akademisi. Salah satu fungsinya untuk memprediksi interaksi antara molekul kecil dengan makromolekul (target) dalam analisis secara struktural atau fungsional dalam mendesain molekul obat. Program AutoDock bekerja dengan mengevaluasi energi bebas, torsional bebas dari konformasi ikatan yang terbentuk antara reseptor dan ligan berdasarkan energi forcefield pada algoritma, serta kekuatan kompleks ligan-protein yang terbentuk secara kuantitatif. Nilai docking semakin rendah, maka menunjukkan konformasi yang terbentuk di antara ligan dan enzim lebih stabil (Guryanov et al., 2016).

AutoDock menggabungkan model konformasi eksplisit secara spesifik dari rantai samping yang ditentukan dengan reseptor yang akan menjadi tempat berikatan.Di AutoDock, parameter yang yang digunakan termasuk ukuran dan posisi kotak, jumlah titik grid dan jarak, jumlah algoritma genetika (GA) berjalan, ukuran populasi, dan jumlah maksimum evaluasi energi. Pengunaan autodock terbukti efisien, diamana mampu melakukan program dengan cepat dan akurat untuk memprediksi konformasi pengikatan dan energi pengikatan ligan ke target makromolekul. Pada penelitian kali ini autodock menggunakan aplikasi Pyrx, Yaitu software yang digunakan untuk membantu pengguna melakukan penambatan molekuler dengan AutoDock dan Vina dalam skala besar untuk. Pendekatan PyRx berupa pendekatan berbasis struktur (Usha et al., 2014; Xue et al., 2022).

(29)

24

2.15 Avogadro

Avogadro adalah software yang dikembangkan untuk mempermudah pengembangan molekul obat baru, dimana hasil dari Avogadro akan digunakan ketika moekular docking. Dengan visual antarmuka yang tidak terlalu rumit, sehingga dapat digunakan dengan mudah oleh pengguna. Dengan kemudahan yang ditawarkan pengguna dapat membangun model molekul dan untuk visualisasi struktur dan spektrum molekul. Avogadro meningkatkan simbolisme molekuler dengan model bola-dan-tongkat, sketsa dua dimensi atau persamaan seperti aljabar.

Avogadro tersedia secara bebas untuk penggunaan akademik, pengguna dapat mengunduhnya dilaptop dan dapat digunakan tanpa masalah lisensi (Bylund dan Enna, 2018).

Pemanfaatan software Avogadro untuk membantu Autodock dalam menemukan struktur geometris paling stabil dari struktur kimia sebelum dilakukan proses docking senyawa. Alat ini dapat membantu pengguna lebih memaahami bentuk molekul, mengeksplorasi detail molekul pada tingkat mikroskopis dan membantu penguna lebih memahami hukum kimia, sifat kimia, reaksi reaksi kimia dan fenomena kimia lainnya (Rayan dan Rayan, 2017).

2.16 Biovia Discovery studio

Biovia Discovery studio merupakan salah satu software yang dikembangkan oleh erusahaan Dassault Systemes sains untuk membantu penelitian dalam bidang biologi, kimia, dan material secara kolaboratif ilmiah tingkat lanjut. Salah satunya dalam bidang molekuler. karena kemampuannya untuk mengembangkan, mensimulasikan, dan menghasilkan terobosan pada penelitian ditingkat molekuler, yang dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas dan kepatuhan, mengurangi biaya dan mempercepat waktu penelitian (BIOVIA, 2020).

Prinsip kerja dari BIOVIA yaitu pemodelan, simulasi dan identifikasi target secara in silico serta pengoptimalan dari suatu senyawa yang sedang diteliti.

Metode pemodelan dan simulasi. memungkinkan para ilmuwan untuk melakukannya melakukan perhitungan sifat kimia, biologi dan material yang lebih cepat dan menekan biaya penelitian yang mahal. Hasilnya dari pengunaan software

(30)

ini nantinya dapat dikomunikasinkan dengan Ilmuwan lain sehingga dapat menyelidiki dan menguji hipotesis secara in silico (Fakih dan Dewi, 2020).

2.17 Marvin Sketch

Marvin Sketch merupakan software kimia canggih yang dikembangkan oleh Chemaxon, Fungsi utama dari Marvisketch yaitu untuk mendesai struktur kimia dan molekul secara 2D. MarvinSketch memiliki antarmuka yang cukup simple dan mudah dimengerti sehingga peneliti atau mahasiswa dapat dengan mudah meralisasikan gambar struktur kimia dengan cepat. Dengan fungsi yang cukup luas maka dapat mendesain senyawa kimia dan struktur molekul yang cepat dan akurat.

(Chemaxon, 2022).

2.18 pkCSM

PkCSM, metode baru untuk memproyeksi dan mengoptimalkan sifat farmakokinetik dan toksisitas yang bergantung pada distance-based graph signatures. PkCSM dikembangkan untuk melihat dan menganalisa struktur molekul kecil dan kimia dan digunakan untuk memprediksi sifat farmakokinetik dan toksisitas dari suatu senyawa. Dalam pkCSM terdapat 30 prediktor yang dibagi menjadi lima kelas utama: penyerapan (7 prediktor), distribusi (4 prediktor), metabolisme (7 prediktor), ekskresi (2 prediktor), dan toksisitas (10 prediktor).

Kelebihan yang ditawarkan oleh PkCSM ini, pertama karena pkcsm ini berbasis web maka siapapun baik peneliti atau pun akademisi dapat dengan mudah mengaksesnya. Lalu skalabilitasnya dari pkCSM, yaitu dapat menangani data dengan ukuran yang cukup besar. Dengan program pkCSM diharapkan dapat membantu mencapai keseimbangan antara keamanan, dan sifat farmakokinetik senyawa. Penggunaan pkCSM memiliki performa cukup bagus dan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan metode in silico lain yang tersedia seperti hubungan kuantitas struktur dan aktivitas (HKSA) dan 3D HKSA (Pires et al., 2015; Shaker et al., 2021).

(31)

75

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian

Dalam pengembangan dan penemuan obat baru sedari dulu telah dilakukan, pengembangan obat dengan bantuan komputer atau disingkat Computer-aided drug discovery (CADD) telah menarik minat banyak penelitian karena membantu dalam mengurangi durasi waktu, tenaga dan menekan biaya yang digunakan dalampendekataneksperimentalkonvensional. Selain dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya, metode ini juga dapat memberikan prediksi yang cepat pada senyawa yang diteliti (Bare et al., 2019).

Metode simulasi komputer ini dikenal dengan istilah in silico, metode ini diperlukan sebagai uji pendahuluan untuk menemukan senyawa obat baru dan meningkatkan efisiensi optimalisasi aktivitas senyawa induk, menentukan interaksi dan afinitas senyawa biologis, serta mempelajari profil senyawa uji, farmakokinetik dan toksikologi. Metode in silico mengacu pada metode atau prediksi yang menggunakan metode komputasi. Keuntungan dari metode ini adalah dapat dengan cepat memprediksi sejumlah besar senyawa dengan waktu yang relatif singkat (La Kilo et al., 2019).

Didalam suatu uji in silico, proses desain dan pengembangan obat menggunakan computer disebut dengan istilah computer-aided drug discovery (CADD), dalam CADD terdapat dua metode yang digunakan yaitu Structure-Based Drug Design (SBDD) dan Ligand-Based Drug Design (LBDD) (Shaker et al., 2021).

SBDD menggunakan bentuk dan struktur 3D protein sebagai dasar untuk merancang obat baru. SBDD digunakan apabila terdapat struktur 3D dari target obat yang kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan inhibitornya. Sedengkan penelitian ini menggunakan pendekatan LBDD karena dapat memperkirakan adanya aktivitas terhadap ligan yang terikat terhadap protein target yang serupa.

Pendekatan LBDD digunakan karena ligan yang berikatan dengan protein target yang sudah diketahui melalui eksperimen (Shaker et al., 2021).

Pada penelitian ini turunan hasil sintesis senyawa turunan asam-O- benzoil-5-metoksi salisilat (II) yang akan diprediksi aktivitas analgesiknya, telah dirancang sebelumnya melalui pendekatan topliss. Melalui pendekatan ini dapat ditentukan pilihan substituen yang akan digunakan dalam pembuatan senyawa hasil

(32)

sintesis turunan asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) yang kemudian akan diprediksi aktivitas biologisnya, farmakologis dan farmakokinetika dari suatu senyawa obat dapat diprediksi melalui uji secara in silico. Salah satu cara untuk memprediksi aktivitas biologis senyawa hasil sintesis turunan asam-O-benzoil-5- metoksi salisilat (II) adalah dengan melakukan molecular docking kandidat senyawa obat dengan reseptor yang dipilih. Dalam melakukan molecular docking perlu dilakukan preparasi senyawa, Preparasi senyawa yang dilakukan dalam penelitian ini adalah preparasi secara virtual pada ke empat senyawa turunan ini.

Ke-4 senyawa turunan hasil sintesis asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) sudah pernah disintesis dan diuji secara in vivo yaitu O-(4-metilbenzoil)-5 metoksisalisilat (ED50 = 41,2 mg/kgBB), O-(4-nitrobenzoil)-5-metoksisalisilat (ED50=,65,92 mg/kgBB), O-(4-tersierbutilbenzoil)-5-metoksisalisilat (ED50 = 39,4 mg/kgBB), O-(4-bromobenzoil)-5-metoksisalisilat (ED50 = 47,18 mg/kgBB).

Berdasarkan ED50 yang didapatkan nilai ED50 senyawa turunan asam-O-benzoil- 5-metoksi salisilat lebih kecil dari nilai ED50 senyawa pembanding yaitu Asam Asetilsalisilat dengan ED50 142 mg/kgBB, yang artinya aktivitas analgesic senyawa turunan ini lebih tinggi dibandingkan senyawa pembanding. Tetapi senyawa turunan hasil sintesis asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) belum pernah dilakukan uji secara in silico. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dilakukan uji secara in silico untuk mengetahui apakah aktivitas analgesic hasil sintesis secara in vivo sama dengan in silico, jika aktivitas analgesik tinggi apakah sifat farmakokinetikanya baik, dan untuk mengetahui toxisitas senyawa hasil sintesis ini apakah lebih rendah dari hasil uji secara in vivo.

Dalam proses pengembangan obat ini, metode uji in silico yang dilakukan dengan simulasi komputer digunakan untuk menganalisis suatu senyawa kimia dengan sifat kimiawi (Hardjono,2013). Salah satu uji in silico yang sering digunakan adalah Molecular docking, Molecular docking merupakan suatu upaya untuk menyelaraskan antara ligan yang merupakan molekul kecil ke dalam reseptor yang merupakan molekul protein yang besar, dengan memperhatikan sifat keduanya. Sebelum docking, validasi dilakukan terlebih dahulu dengan memeriksa nilai RMSD yang digunakan untuk memastikan apakah prediksi tersebut berhasil dan penting untuk validasi program docking. Nilai RMSD dianggap baik jika ≤ 2

(33)

26

A. (Pratama et al.,2021). Molecular docking senyawa turunan hasil sintesis asam- O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) dilakukan dengan enzim COX2. Struktur dari enzim COX 2 dapat diperoleh dari database protein (Protein Data Bank, PDB) dengan kode 3LNI (celecoxib). Pada penelitian ini juga menggunakan bantuan perangkat lunak seperti AutoDock yaitu perangkat lunak simulasi pemodelan molekul yang efektif untuk docking ligan protein dan merupakan salah satu alat docking paling akurat. tersedia untuk umum tanpa biaya (Ikawati et al., 2014).

Untuk memprediksi profil farmakokinetika seperti absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dari senyawa turunan hasil sintesis asam-O- benzoil-5-metoksi salisilat (II), maka dilakukan dengan menggunakan pkCSM web server dengan memasukkan kode smiles. Prediksi ADME sangat penting untuk dilakukan dalam pengembangan obat karena untuk mencegah kegagalan uji klinis karena efek samping dan toksisitas obat yang tidak diinginkan. pkCSM juga bisa digunakan untuk memprediksi nilai toksisitas (Pires et al., 2015).

Dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan senyawa turunan hasil sintesis asam-O-benzoil-5-metoksi salisilat (II) memiliki prediksi aktivitas analgesik dan ADME yang lebih baik serta dengan toksisitas yang rendah dibandingkan dengan senyawa pembandingnya, sehingga diharapkan hasil dari uji in silico sesuai dengan uji in vivo yang pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya.

(34)

3.2 Skema Kerangka Konseptual

Molecular Docking (Autodock PyRx

ADMET (pKCSM)

Prediksi Farmakokinetika

dan toksisitas senyawa Prediksi Aktifitas

dan afinitas senyawa SBDD

LBDD Pengembangan Obat Baru

(Drug Design)

Sintesis

CADD

Senyawa Turunan Hasil Sintesis Asam-O-Benzoil-5-Metoksi Salisilat (II)

- O-(4-metilbenzoil)-5-metoksisalisilat ED50 = 41,2 - O-(4-Nitrobenzoil)-5-metoksisalisilat ED50 = 65,92 - O-(4-tersierbutilbenzoil)-5-metoksisalisilat ED50 = 39,4 -O-(4-Bromobenzoil)-5-metoksisalisilat ED50 = 47,18

Uji In Silico

Senyawa Turunan

R

R = (4-CH3; 4-NO2; 4-C(CH3)3; 4-Br)

Aktivitas analgesik tinggi

Hipotesis

1. Senyawa turunan hasil sintesis Asam-O-Benzoil-5-Metoksi Salisilat (II) secara in vivo diprediksi memiliki aktivitas analgesik yang sama dengan in silico

2. Senyawa turunan hasil sintesis Asam-O-Benzoil-5-Metoksi Salisilat (II) memiliki prediksi ADME yang lebih baik dibandingkan senyawa asetosal secara in silico

3. Senyawa turunan hasil sintesis Asam-O-Benzoil-5-Metoksi Salisilat (II) memiliki prediksi tingkat Toksisitas yang lebih rendah dibandingkan senyawa asetosal secara in silico

Keterangan :

Dilakukan Penelitian : Tidak dilakukan penelitian :

Gambar

Gambar 2.2 Skema operasional substitusi aromatik Bagan Topliss  Keterangan:  L: lebih aktif; S: sama aktif; K: kurang aktif;
Tabel 4.1 Senyawa turunan asam-5-metoksi salisilat (II)
Gambar 4.1 Kerangka operasional penelitian
Gambar 4.3 Langkah terakhir menyimpan file dengan format .sdf  Tabel 4.2 Daftar nama dan bentuk struktur dua dimensi (2D) Turunan Hasil
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

UJI EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK KULIT MANGGIS TERHADAP Pseudomonas aeruginosa SECARA IN VITRO..

Hasil dari uji in vivo memiliki kesesuaian dengan hasil uji in silico yaitu ekstrak daun salam dosis 300 mg/KgBB memiliki daya antiinflamasi yang tidak berbeda

- Tujuan uji toksisitas subkronis oral adalah untuk memperoleh informasi adanya efek toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas akut ; informasi kemungkinan adanya efek

optimal pada uji pH, uji viskositas, uji lama merekat, uji pengembangan gel, dan uji pelepasan sediaan nasal gel in-situ agar dapat memenuhi persyaratan... Flynn, 1990,

toksiknya bagi tubuh.Berdasarkan alasan tersebut peneliti juga melakuan uji sitotoksik secara in vitro .Uji sitotoksisitas dilakukan terhadap sel Vero (sel normal yang

untuk melakukan uji kultur bersama dan uji penghambatan faktor virulensi secara in vitro antara bakteri AQS dengan Aeromonas hydrophila sebagai patogen yang menyebabkan Motile

Waxaa loo yaqaan karto ku dhaqanka loo yaqaan iyadoo loo yaqabaa sanadkani loo yaqabaa horumarinta iyo

KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji in vitro, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sediaan tabir matahari krim W/O dan W/O yang mengandung kombinasi rutin 7 % dan etil para