UJIAN AKHIR SEMESTER SR 2104 PENGANTAR SENI RUPA
Nama Inas Annisa Aulia
NIM 17020009
PROGRAM STUDI SENI RUPA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Desember 2021
Jika membayangkan mengenai seni dalam 5, 10, 15 tahun ke depan, Saya memiliki beberapa imajinasi. Yang pertama adalah teknis dari pameran seni rupa yang merupakan kolaborasi dari pameran seni rupa dengan teknologi virtual reality. Di masa depan, dalam imajinasi Saya semua orang sudah sangat umum dan memiliki device virtual reality yang
canggih seperti memiliki smartphone pada masa sekarang. Pameran seni rupa akan dilaksanakan secara virtual menggunakan virtual reality dengan karya perbandingan 1:1 dengan aslinya dan kualitas full high definition (FHD), sehingga unsur-unsur mendetail seperti garis tipis hingga tekstur dalam karya juga dapat dilihat. Hal tersebut sangat menarik jika dapat dilakukan di masa depan karena bukan hanya pameran bagi para seniman dalam negeri, namun bayangkan jika seniman-seniman di dunia dapat memamerkan karya ataupun berkolaborasi dengan cara seperti ini. Pengalaman yang didapatkan oleh apresiator tidak akan berbeda dengan pengalaman yang mereka dapatkan ketika melihat karya secara langsung sehingga meskipun karya merupakan
‘imitasi dari imitasi’, namun tidak akan teralienisasi dan tetap bisa muncul nilainya sebagai karya yang meninggalkan pengalaman estetis.
Kemudian, dalam karya seni drawing Saya juga membayangkan adanya interseksi dengan ranah teknologi. Saya terinspirasi dari film berjudul “Hugo” yang menceritakan tentang ada sebuah robot yang khusus untuk menciptakan satu gambar yang spesifik. Saya membayangkan seniman misalnya membuat suatu karya drawing dari berbagai media seperti grafit, charcoal, maupun watercolor, lalu ia bisa membuat beberapa cetakan dari karya tersebut dengan media yang sama dari ‘robot’ tersebut. Dengan begitu, seniman yang berkarya dengan teknik drawing dapat memiliki beberapa edisi dari karyanya seperti seniman yang berkarya dengan teknik cetak grafis. Dengan teknologi ‘robot’ drawing tersebut Saya juga berimajinasi bahwa teknologi tersebut dapat digunakan untuk membuat sebuah video atau film. Robot tersebut dapat memperbanyak gambar yang nantinya bisa dimodifikasi ulang oleh seniman sehingga dapat membuat video atau film dengan teknik stop motion. Video atau film tersebut lalu dapat dikategorikan sebagai bentuk seni kontemporer ‘video art’
Pada ranah seni lukis, Saya melihat percampurannya dengan teknologi sudah mulai terlihat. Saat saya berkunjung ke pameran Art Jakarta pada tahun 2019, Saya melihat karya Naufal Abshar, visualnya berupa hasil lukisan cat minyak, namun seperti digabungkan dengan instalasi karena terdapat tombol untuk menyalakan mesin yang membuat bagian ‘mata’ pada karya misalnya mengeluarkan cahaya atau bagian tertentu mengeluarkan suara. Saya
membayangkan, di masa depan karya lukis (cat minyak, akrilik, dan lainnya) digabungkan dengan teknologi serupa, namun bukan sekedar berbunyi atau mengeluarkan cahaya tetapi
‘bergerak’. Karya lukis yang selama ini ‘bergerak’ terbatas dari hanya unsur rupa akan bergerak secara nyata, hal itu dapat diwujudkan misalnya dengan kanvas yang di dalamnya terdapat struktur-struktur ‘sendi’ tertentu yang sehingga ketika seniman telah melukis di atas bagian tertentu akan dapat bergerak. Teknologi kanvas seperti itu misalnya meniru strukturisasi pada mesin jam yang di dalamnya terdapat roda-roda yang saling bertemu untuk menggerakan bagian tertentu. Saya membayangkan misalnya seorang seniman melukiskan seekor kuda yang berlari, maka di bagian kaki, ekor, dan beberapa bagian otot kuda diberi teknologi tersebut sehingga dapat terlihat bergerak.
Setelah itu, pada karya seni patung yang medianya berupa tanah liat, kayu, batu, logam atau perunggu Saya membayangkan adanya percampuran dengan teknologi. Seniman bukan hanya mempertimbangkan proses pembuatan patung namun juga bagaimana menempatkan
‘mesin’ ini di dalamnya. Mesin tersebut bisa membuat karya patung dapat bergerak secara terbatas. Saya membayangkan hal ini diaplikasikan kepada patung-patung era Renaissance seperti “Statue of David”, “Statue of Atlas”, atau “The Pieta”. Akan terlihat menakjubkan bila
“Statue of David” diberikan teknologi seperti itu sehingga ia bisa terkesan melambai-lambai ke apresiator, atau ketika sosok Bunda Maria dalam “The Pieta” mengelus kepala jenazah Yesus Kristus yang ia pangku, atau mungkin sesederhana pergerakan “Statue of Atlas” yang berusaha mengangkat bola dunia di atas tubuhnya. Namun, di sisi lain menurut Saya, percampuran seni patung dengan teknologi tersebut juga tidak menutup kemungkinan bahwa ‘masa depan’ dari masa depan karya seni ini akan ‘membias’ dengan karya seni instalasi robot.
Pada karya seni patung saya juga pernah berimajinasi, bagaimana patung-patung di masa depan yang selama ini cenderung dibuat jarang sekali berwarna, di masa depan dapat dibuat menjadi berwarna. Dikutip dari Vox, “..Ancient buildings and sculptures were actually really colorful. The Greeks and Romans painted their statues to resemble real bodies..” Diakses pada 9 Desember 2021, merupakan salah satu sumber yang membuat Saya terinspirasi. Di masa depan, dalam imajinasi Saya, patung-patung bukan hanya sekedar warna tunggal monokrom, namun diisi dengan warna-warna yang lebih hidup seperti merah, hijau, biru, kuning, dan lainnya.
Petung-patung tersebut bukan hanya sekedar berwarna hidup, namun juga dapat berubah warna.
Dalam hal ini, Saya berpikir warna pada patung tersebut dapat berubah sesuai suhu ruangannya,
jika di terik matahari dengan malam hari yang dingin maka warnanya akan berbeda. Menurut Saya, di masa depan tidak mustahil sama sekali ‘cat’ atau bahan pewarna ditemukan khusus untuk hal tersebut. Dengan begitu, karya seni patung dapat juga merefleksikan warna-warna yang ada di alam sekitarnya. Hal tersebut dapat menambah nilai pada karya seni karena mengandung unsur ‘dekat’ dengan manusia, yaitu alam.
Dalam bidang seni cetak grafis, seperti yang sekarang sudah mulai digagaskan yaitu
‘ekspansi seni grafis’, imajinasi Saya di masa depan berangkat dari salah satu karya dari pameran bertajuk “Printmaking Today” yang diselanggarakan baru-baru ini di Selasar Sunaryo Art Space.
Karya yang membuat Saya terinspirasi adalah “Disrupsi” karya Bapak Oco Santoso, dalam deskripsi karya tersebut secara teknis dijelaskan menggunakan teknik linocut dengan tinta hitam di atas kertas yang telah dicetak graphic art visual matahari sehingga menimbulkan kesan siluet di depan matahari dari dekat dan menyala-nyala dengan warna naturalnya yang bersaturasi tinggi cenderung oranye merah. Bagi saya, hal yang dilakukan seniman tersebut sudah termasuk ekspansi seni cetak grafis karena dalam proses pengkaryaannya terdapat unsur teknologi.
Di masa depan, saya membayangkan bahwa seni cetak grafis ini sudah lebih canggih, walaupun tetap dikerjakan secara konvensional agar tidak menghilangkan esensi dari seni cetak grafis namun media di mana karya dicetaknyalah yang akan lebih berkembang. Salah satunya klise dicetakkan di atas layar kaca atau screen. Hal ini terpikir oleh Saya karena saat melihat karya “Disrupsi” Bapak Oco Santoso, karya tersebut menimbulkan pengalaman estetis yang menurut Saya luar biasa. Efek siluet dengan kontras warna merah oranye matahari yang menyala sangat dramatis dan terkesan puitis dan berusaha memberikan pesan dan bercerita tentang sesuatu (gagasan seniman). Saya berpikir, jika siluet ini atau karya grafis tertentu suatu hari dapat dicetak di atas permukaan screen maka efeknya akan lebih ‘dalam’ lagi. Saya berimajinasi karya yang akan muncul misalnya diawali dengan screen yang menayangkan visual hitam, sehingga menjadi berkamuflase dengan hasil cetakan, lalu ketika media diputar akan
menyesuaikan satu persatu dengan karya grafis yang dicetakkan di atasnya, menurut Saya hal itu sangat artistik namun sekaligus menggandeng unsur teknologi.
Terakhir, ada salah satu imajinasi Saya mengenai bidang seni dengan teknologi, hal ini terinspirasi dari ‘deskripsi karya’ yang biasanya sering kita lihat di berbagai pameran-pameran.
Deskripsi karya ada yang singkat, dan ada juga yang panjang dan filosofis. Untuk beberapa seniman, sebuah penciptaan sebuah karya memakan waktu yang lama karena penciptaan tersebut
merupakan perjalanannya ‘mendapatkan’ dan ‘memahami’ sebuah gagasan yang ia dapat atau miliki. Beberapa seniman berkarya dulu baru membuat deskripsi filosofis pada karyanya, namun beberapa seniman lainnya malah sebaliknya. Terkadang Saya berpikir, di masa depan akan diciptakan sebuah alat yang dapat ‘memvisualisasikan’ kata-kata. Alat tersebut merupakan hasil dari rancangan teknologi yang canggih, ilmu-ilmu psikologi manusia tertentu, serta digabungkan dengan sentuhan ‘artistik’ dari bahasa rupa. Dengan begitu seniman tinggal ‘mengucapkan’
gagasannya yang filosofis tersebut terhadap alat itu, lalu ia akan mulai memvisualisasikannya secara otomatis. Namun karena seni bersifat subjektif, hasil karya dari alat ini bersifat fleksibel, sehingga karya yang telah dibuat alat tersebut masih bisa dimodifikasi lagi oleh
seniman. Begitulah berbagai imajinasi Saya mengenai seni yang telah berkolaborasi atau interseksi dengan ranah teknologi dan ilmu pengetahuan di masa yang akan mendatang.