Dalam proses penciptaan teater, setidaknya ada empat unsur penting di dalamnya, yaitu sebagai berikut:
● Lakon atau cerita yang ditampilkan, dapat berwujud naskah, skenario tertulis, atau skenario tidak tertulis/lisan (dalam teater kerakyatan).
● Pemain, yaitu orang yang membawakan lakon.
● Sutradara, sebagai penata pementasan di panggung.
● Penonton, yaitu sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari waktunya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya.
Berdasarkan uraian tersebut, bahwa unsur utama dan yang pertama dalam pementasan teater adalah lakon. Dalam lakon, akan dijumpai dua hal yang sangat penting, yaitu peran dan konflik. Tokoh adalah individu yang mengalami peristiwa atau pelaku cerita, sedangkan penokohan adalah penciptaan karakter antar tokoh.
B. Karakter
Karakter adalah jenis peran yang akan dimainkan. Karakter diciptakan oleh penulis lakon berdasarkan perkembangan tertentu. Biasanya, mengacu pada perkembangan pribadi manusia. Karakter berbeda dengan penokohan. Penokohan adalah proses kerja untuk memainkan peran yang ada dalam naskah lakon. Penokohan biasanya didahului dengan menganalisis peran tersebut sehingga dapat dimainkan.
1. Jenis Karakter
Karakter dalam teater ada empat macam, yaitu:
a. Flat Character
Flat character atau karakter datar adalah jenis karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam-putih. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu tetapi diperlukan dalam sebuah lakon.
b. Round Character
Round character adalah jenis karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna.
Karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Round character adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan, baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Karakter ini biasanya terdapat pada karakter tokoh utama, baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis.
1 | M a t e r i S e n i T e a t e r
c. Teatrikal
Teatrikal adalah jenis karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.
Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis, tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan nonrealis. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat, suasana, dan keadaan zaman yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia.
d. Karikatural
Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar, satiris, dan cenderung menyindir.
Karakter ini sengaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan, serta antara ketegangan dan keriangan suasana. Sifat karikatural ini dapat berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh, atau berupa tingkah laku, bahkan perpaduan antara ucapan dan tingkah laku.
2. Dimensi Karakter
Karakter dalam sebuah lakon sengaja diciptakan oleh penulis berdasarkan kepribadian dan watak tertentu. Oleh karena itu, karakter memiliki dimensi-dimensi yang khas dalam penciptaannya. Terdapat tiga dimensi yang menyertai karakter tokoh, yaitu :
a. Dimensi fisiologis
Dimensi fisiologis adalah dimensi karakter berdasarkan ciri-ciri badaniah seorang tokoh, seperti usia, jenis kelamin, keadaan fisik, dan ciri-ciri muka. Contohnya, tokoh kakek yang berusia 70 tahun umumnya diberi karakter penyayang keluarga, bijaksana, kuno, atau bersifat konvensional. Tokoh yang memiliki wajah tampan umumnya diberi karakter baik, perkasa, dan pelindung; sebaliknya, tokoh yang berwajah menyeramkan diberi karakter menakutkan, sadis, dan jahat.
b. Dimensi sosiologis
Dimensi sosiologis adalah dimensi karakter berdasarkan latar belakang sosial kemasyarakatan yang meliputi status sosial, pekerjaan, jabatan, pendidikan, pandangan hidup, ideologi, agama, aktivitas sosial, organisasi, hobi, suku, ras, dan keturunan.
Contohnya, tokoh yang kaya raya dapat diberi karakter sombong, semena-mena, atau kikir.
c. Dimensi psikologis
Dimensi psikologis adalah dimensi karakter berdasarkan latar belakang kejiwaan yang dimiliki oleh seorang tokoh, seperti tentang mentalitas, temperamen, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosional. Karakter juga dapat diciptakan berdasarkan latar belakang psikologis tokohnya. Contohnya, tokoh yang menderita karena mengalami kekerasan saat masih kecil umumnya diberi karakter pemurung, curiga, atau pendendam.
2 | M a t e r i S e n i T e a t e r