Reliabilitas dan Validitas Indikator Ketahanan Keluarga di Indonesia Herien Puspitawati, Tin Herawati dan Ma'mun Sarma. Reliabilitas dan Validitas Indikator Ketahanan Keluarga di Indonesia 1-14 Herien Puspitawati, Tin Herawati dan Ma'mun Sarma. 52 Tahun 2009 tentang Pembangunan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, belum ada indikator universal yang dapat menggambarkan tingkat ketahanan keluarga di Indonesia.
Tujuan artikel ini adalah untuk (i) menganalisis perbedaan kategori ketahanan keluarga utuh dan keluarga tunggal; (ii) menguji reliabilitas dan validitas indikator ketahanan keluarga; dan (iii) menganalisis pengaruh struktur keluarga terhadap ketahanan keluarga. Selain itu, keluarga utuh menunjukkan ketahanan keluarga yang lebih baik dibandingkan keluarga tunggal, baik pada setiap komponen maupun secara keseluruhan. Kajian ini merekomendasikan validasi indikator ketahanan keluarga dengan cakupan yang lebih luas dan mengkaji perbedaan kondisi demografi dan sosial ekonomi di wilayah tersebut.
JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA
RELIABILITAS DAN VALIDITAS INDIKATOR KETAHANAN KELUARGA DI INDONESIA
RELIABILITY AND VALIDITY OF FAMILY RESILIENCE INDICATORS IN INDONESIA)
Konsep ketahanan keluarga juga terkait dengan kesulitan keluarga menghadapi trauma (Again, Landau, & Agani, 2010). Hampir seluruh keluarga utuh (>90%) memiliki akta nikah yang dikeluarkan oleh KUA dan tinggal dalam satu rumah (semua anggota keluarga). Selain itu, berdasarkan hasil uji beda antara struktur keluarga utuh dan keluarga tunggal, diperoleh hasil yang berbeda dan signifikan untuk komponen ketahanan keluarga.
Artinya struktur keluarga yang utuh dinilai lebih tangguh membentuk ketahanan keluarga dibandingkan dengan keluarga tunggal. Keadaan ketahanan keluarga yang lebih baik pada keluarga utuh dibandingkan dengan keluarga tunggal dapat dijelaskan dengan pendekatan teori struktural-fungsional. Keadaan ini menunjukkan bahwa ketahanan keluarga pada keluarga utuh lebih baik dibandingkan pada keluarga tunggal, baik ditinjau dari komponennya masing-masing maupun secara keseluruhan.
MENILIK ULANG ARTI KELUARGA PADA MASYARAKAT INDONESIA (REVISITING THE CONCEPT OF FAMILY IN INDONESIAN SOCIETY)
Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif definisi yang dapat menggambarkan keragaman situasi keluarga di Indonesia saat ini. Kami berharap kajian ini dapat memberikan perspektif baru tentang kajian keluarga di Indonesia dengan membahas dinamika sosial keluarga, khususnya dalam perkawinan, letak geografis, dan budaya. Memahami dinamika dan keragaman keluarga diharapkan dapat membantu pemerintah meredefinisi makna keluarga di Indonesia.
Rohman (2013) menyatakan bahwa poligami masih menjadi isu sensitif di Indonesia saat ini, namun keberadaannya tidak dapat disangkal. Rohman (2013) menjelaskan bahwa acara tersebut bertujuan untuk mengkampanyekan praktik poligami di Indonesia dan pemenangnya mendapatkan hadiah berupa uang. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum dapat menerima pasangan sesama jenis sebagai keluarga, meskipun dalam praktiknya keluarga seperti ini ada di Indonesia.
Hal paling umum yang bisa ditemui di Indonesia adalah pasangan yang menikah meski berbeda agama. Seiring berjalannya waktu, keluarga dengan kondisi seperti di atas banyak ditemukan di Indonesia dan masyarakat sudah dapat menerimanya. Penjelasan tentang kondisi keluarga di Indonesia terkait dengan perkembangan dan modernisasi, perkawinan, letak geografis dan budaya menunjukkan adanya perubahan struktur dan komposisi keluarga dalam masyarakat Indonesia.
Merujuk pada UU Perkawinan, syarat untuk membentuk keluarga di Indonesia melalui perkawinan adalah laki-laki dan perempuan berbeda jenis kelamin dan menganut agama dan kepercayaan yang sama. Keberagaman dalam bentuk perkawinan ini merupakan bagian penting dari pengertian keluarga di Indonesia, karena negara berkewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama kepada warga negaranya. Berdasarkan fenomena yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini, kedudukan keluarga di Indonesia juga sejalan dengan konsep kajian antropologi terkait interseksionalitas.
Berdasarkan konsep komunitas imajiner dan interseksionalitas, dapat disimpulkan bahwa konsep keluarga di Indonesia tidak lagi dibatasi oleh struktur, lokasi, dan pembagian peran.
DINAMIKA PEMAKAIAN KONTRASEPSI MODERN DI INDONESIA (ANALISIS DATA SUSENAS 2015)
THE DYNAMIC OF MODERN CONTRACEPTIVE USE IN INDONESIA (ANALYSIS OF SUSENAS 2015 DATA)
Metode kontrasepsi jangka panjang juga dapat meminimalisir terjadinya dropout penggunaan kontrasepsi yang sering terjadi pada penggunaan metode kontrasepsi jangka pendek, seperti suntik dan pil. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2015 menunjukkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang di Indonesia baru mencapai 10,2%. Kondisi ini menunjukkan bahwa metode kontrasepsi jangka pendek masih menjadi pilihan utama pelayanan KB di Indonesia.
Dinamika penggunaan kontrasepsi modern…| Mario Ekoriano dan Firma Novita Transisi ke metode kontrasepsi suntik juga dilakukan. Hal lain yang dapat diamati dari Tabel 1 adalah rendahnya tingkat peralihan dari metode kontrasepsi jangka pendek ke metode jangka panjang. Keadaan ini sesuai dengan penelitian Rahar (2011) yang menemukan bahwa proporsi metode kontrasepsi jangka pendek dan jangka panjang relatif kecil.
Angka putus sekolah terkait dengan beralih metode kontrasepsi biasanya terjadi pada wanita dengan jumlah anak tertentu (Fathonah, 1996). Studi ini kemudian mengamati pergeseran penggunaan metode kontrasepsi (Tabel 2) berdasarkan karakteristik sosio-demografi pengguna. Sedangkan beralih atau mengganti metode dengan metode kontrasepsi jangka panjang lainnya relatif lebih rendah.
Sedangkan PUS yang memutuskan untuk beralih menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang lainnya seperti MOW. Distribusi responden berdasarkan perpindahan alat kontrasepsi modern di Provinsi Gorontalo (%) Alat kontrasepsi yang digunakan saat ini. Untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang berupa implan dan IUD persentase tertinggi ditemukan pada PUS yang memiliki 0-2 anak.
Perubahan pola pikir PUS mengenai jumlah anak yang akan dilahirkan merupakan awal peralihan penggunaan kontrasepsi jangka panjang seperti metode kontrasepsi MOW, MOP, IUD dan implan.
DETERMINAN PERILAKU KESEHATAN IBU PADA MASA KEHAMILAN
KASUS KOTA MEDAN
DETERMINANT OF MATERNAL HEALTH BEHAVIOR DURING PREGNANCY
CASE OF MEDAN CITY)
Indikator perilaku kesehatan ibu selama kehamilan meliputi (i) pemeriksaan kehamilan lengkap (K4); (ii) pemeriksaan ultrasonografi (UZG); dan (iii) konsumsi tablet asam folat dan tablet besi selama kehamilan. Pada penelitian ini akan dikaji perilaku kesehatan ibu selama kehamilan berdasarkan antenatal care (ANC), pemeriksaan USG (USG) dan konsumsi tablet asam folat dan tablet besi selama kehamilan. Penentu perilaku kesehatan ibu selama periode...| Pemeriksaan USG Yuly Astuti dan Widayatun selama ini.
Setelah melewati proses penimbangan, diperoleh gambaran perilaku kesehatan ibu selama hamil menurut kategori baik, sedang dan buruk. Distribusi Perilaku Kesehatan Ibu Selama Hamil Menurut Kategori Baik, Sedang dan Buruk, Kota Medan Tahun 2017. KESEHATAN IBU DALAM KEHAMILAN Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku kesehatan ibu selama kehamilan.
Dengan menggunakan uji chi-square, beberapa variabel independen secara signifikan (p-value < 0,05) berhubungan dengan perilaku kesehatan ibu selama kehamilan. Determinan Perilaku Kesehatan Ibu Pada Periode...| Yuly Astuti dan Widayatun Hasil analisis inferensial dengan metode regresi logistik. Dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada satu variabel independen yang mempengaruhi perilaku kesehatan ibu selama kehamilan.
Kepemilikan asuransi merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan ibu selama kehamilan di Kota Medan. Selain itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan juga mempengaruhi perilaku kesehatan ibu selama kehamilan. Dengan demikian, dukungan pelayanan kesehatan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mewujudkan perilaku kesehatan ibu yang baik selama masa kehamilan.
Penelitian ini menemukan bahwa kualitas pelayanan yang buruk (ketidaklengkapan) mempengaruhi perilaku kesehatan ibu.
ANALISIS KETIMPANGAN GENDER DI PROVINSI SUMATERA BARAT (GENDER INEQUALITY ANALYSIS IN WEST SUMATERA PROVINCE)
Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan dan partisipasi dalam ekonomi semakin setara dengan laki-laki. Hal ini menggambarkan bahwa peluang perempuan dalam dunia kerja masih jauh tertinggal dari laki-laki. Meskipun menunjukkan peningkatan IDG, komponen IDG berupa keterwakilan perempuan di parlemen dan kontribusi pendapatan perempuan di Sumatera Barat masih lebih rendah dibandingkan laki-laki atau masih di bawah 50% (Gambar 2).
Variabel IDG rata-rata adalah 7,43% untuk keterwakilan perempuan di parlemen, 57,12% untuk posisi perempuan sebagai profesional, manajer, administrasi, teknisi, dan 34,18%. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) laki-laki dan perempuan tampak stagnan dan peluang pasar tenaga kerja perempuan masih tertinggal jauh dibandingkan laki-laki. Daerah dengan keterwakilan perempuan di parlemen di Sumbar paling rendah adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kabupaten Solok Selatan.
Namun, secara umum tidak ada kabupaten/kota yang persentase keterwakilan perempuan di parlemen mendekati 30%. Dapat diartikan bahwa keterwakilan perempuan di parlemen diantara 19 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat memiliki keragaman yang tinggi terutama di Kota Padang, Kota Sawah Lunto dan Kota Padang Panjang. Selanjutnya, vektor kontribusi pendapatan dan vektor keterwakilan perempuan di parlemen membentuk sudut yang agak tajam, yang menunjukkan korelasi positif antara kedua variabel tersebut.
Kelompok kedua ini memiliki afinitas yang sama dan karakteristik yang hampir sama pada variabel kontribusi pendapatan perempuan dan keterwakilan perempuan di parlemen. Kelompok kedua ini memiliki kedekatan yang sama dan karakteristik yang hampir sama yaitu kontribusi perempuan dalam pendapatan dan keterwakilan perempuan di parlemen dalam kategori sedang. Salah satu ciri yang mencolok dari kelompok ini adalah keterwakilan perempuan yang lebih besar di parlemen dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Barat.
Meski ketiga kota tersebut memiliki proporsi penduduk perempuan yang cukup besar, namun persentase keterwakilan perempuan di parlemen masih di bawah 30 persen.
PENDUDUK DAN AKSES AIR BERSIH DI KOTA SEMARANG (POPULATION AND ACCESS TO CLEAN WATER IN SEMARANG CITY)
POPULASI DAN AKSES AIR BERSIH DI KOTA SEMARANG. Dengan latar belakang permasalahan di atas, tulisan ini mengkaji akses penduduk terhadap air bersih di Kota Semarang. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk memperoleh gambaran tentang ketersediaan dan kesulitan masyarakat setempat dalam memperoleh air bersih di Kota Semarang.
Pada umumnya pengelolaan air bersih di Kota Semarang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai badan usaha milik daerah. Pengelolaan air bersih di Kota Semarang dibagi menjadi dua sistem, yaitu: (i) sistem jaringan perpipaan yang dikelola oleh PDAM; (ii) sistem pipeless yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Kebutuhan air bersih di Kota Semarang terdiri dari tiga sektor yaitu sektor domestik (penduduk dan fasilitas umum), industri dan perhotelan.
Sebagai salah satu kota metropolitan terpadat di Indonesia, kebutuhan air bersih penduduk kota Semarang mencapai 150 liter/orang/hari (Dinas Perumahan dan Prasarana, 2003). PDAM Kota Semarang juga menggunakan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih dengan total 12 juta m3. Oleh karena itu ketersediaan air bersih yang didukung dengan kualitas distribusinya harus dapat menjangkau seluruh wilayah Kota Semarang.
Pemerintah Kota Semarang juga membangun Waduk Jatibarang dan menormalisasi Kali Garang/ Kanal Banjir Barat untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kota Semarang dan sekitarnya (Dahlan, 2007). Pengelolaan air bersih di Kota Semarang menghadapi berbagai permasalahan, terutama jika dikaitkan dengan masalah kependudukan. Hingga saat ini, Pemkot Semarang belum mampu memenuhi kewajibannya menyediakan air bersih bagi setiap warganya.
Penyediaan pamsimas (penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat) di kecamatan yang berpotensi krisis air bersih.