• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - OJS UNPATTI - Universitas Pattimura

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - OJS UNPATTI - Universitas Pattimura"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

Siswa dengan gaya kognitif field-dependent terutama bergantung pada pujian guru atas jawaban mereka. Fakta inilah yang membuat penulis yakin bahwa pemecahan masalah dan gaya kognitif akan tetap diperhatikan dalam kurikulum 2013.

Abstrak

KAJIAN PUSTAKA

  • Pengertian Belajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar
  • Hasil Belajar
  • Model Pembelajaran Kooperatif
  • Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Send A Problem

Model pembelajaran kooperatif tipe send a problem dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1989 pada staf pusat pengembangan Howard Country, Maryland. Dhuhaa mengatakan bahwa pengarah model pembelajaran kooperatif tipe masalah adalah model pembelajaran berkelompok, dimana setiap kelompok (dalam hal ini masing-masing kelompok mula-mula bertindak sebagai kelompok pengarah) menerima suatu masalah, mencoba menyelesaikannya, kemudian masalah tersebut dan memberikannya. solusinya. kelompok lain (kelompok penerima). Menurut Dhuhaa, persiapan yang harus dilakukan guru sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe send-a-problem adalah menentukan jumlah soal/masalah yang diperlukan agar semua kelompok dapat bekerja secara bersamaan.

Dari pendapat para ahli di atas dan berdasarkan persiapan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe send-a-problem, maka dapat disimpulkan bahwa sintaksis model pembelajaran kooperatif tipe send-a-problem yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

METODE PENELITIAN 1. Tipe Penelitian

  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Data, Sumber Data, dan Subjek Penelitian
  • Perangkat Pembelajaran
  • Prosedur Penelitian
  • Instrumen Penelitian a. Instrumen Tes
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 14 Ambon tahun pelajaran 2013/2014 dan guru matematika pada kelas tersebut. Sumber belajar yang disiapkan dalam penelitian ini terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bahan Ajar (BA) dan Lembar Kerja Siswa (LKS), berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Observasi sumber penelitian dilakukan oleh 5 orang pengamat, yaitu 1 orang guru senior yang mengamati aktivitas guru selama proses pembelajaran, dan 4 orang pengamat yang terdiri dari peneliti dan 3 orang teman sekelas yang mengamati dengan cermat aktivitas siswa yang berlangsung secara berkelompok.

Dalam penelitian ini siswa dikatakan berhasil jika 65% siswa mencapai nilai ketuntasan belajar yang ditetapkan sekolah, yaitu ≥70.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil

Dalam menyelesaikan LKS nomor 1 terlihat bahwa (SA) sangat memahami cara mengganti fungsi L(x+h) dan fungsi L(x) pada definisi turunan dari fungsi yang diberikan. Setelah berhasil menyelesaikan soal yang diberikan, siswa (SP) memasukkan kembali lembar soal kelompok I dan lembar penyelesaiannya ke dalam amplop, sambil menunggu isyarat dari guru. Saat guru memberi isyarat, siswa (MP) mewakili kelompok untuk mengirimkan amplop ke kelompok berikutnya (kelompok V) dan siswa (MT 1) mewakili kelompok yang menerima amplop berisi soal baru (dari kelompok III) . . HM) dan (MT 2) tampak aktif pada soal baru yang diberikan.

Saat guru memberi aba-aba, siswa (FT) mewakili kelompoknya untuk mengirimkan amplop kepada kelompok berikutnya (kelompok I) dan siswa (GP) mewakili kelompok yang menerima amplop berisi soal baru (dari kelompok IV). FT) dan (VP) tampil aktif dan bekerja sama dalam permasalahan baru yang diberikan.

Seluruh anggota kelompok II menunjukkan sikap dan perhatian yang sangat baik dalam memperhatikan penjelasan guru. Hal yang sama pun ditunjukkan

Pada saat menyelesaikan soal pada LKS, penyelesaian yang diberikan sudah cukup baik, namun masih terdapat beberapa kekurangan seperti belum ada kesimpulan untuk soal nomor 2 dan 4. Setelah amplop dikembalikan kepada kelompok pengirim, anggota kelompok I menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi solusi yang diterima. Salah satu siswa diminta oleh guru untuk mewakili kelompoknya dan menyajikan solusi yang menurutnya paling benar dan tepat untuk permasalahan yang diberikan kepada kelompok V.

Aktivitas dan antusias dalam memperhatikan penjelasan guru yang diperlihatkan kelompok III sangat baik, begitu pula kerjasama seluruh anggota

Pembahasan

Data nilai tes siklus I yang diperoleh setelah tindakan pada pertemuan pertama menunjukkan bahwa siswa yang telah tuntas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) lebih dari sama dengan 70 (≥ 70) sebanyak 11 siswa dengan persentase 61,1% dan siswa yang belum tuntas. KKM kurang dari 70 (<70) berjumlah 7 siswa dengan persentase 38,9. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan meskipun hasil belajar siswa yang diinginkan pada siklus I belum tercapai sesuai KKM. Hasil refleksi pada siklus I menunjukkan bahwa terdapat kekurangan dan kelemahan yang terjadi pada siklus ini.

Berdasarkan hasil tes akhir siklus II terlihat bahwa pelaksanaan tindakan siklus II telah terlaksana dengan baik dan KKM yang ditetapkan telah terpenuhi yaitu 65% siswa harus mencapai nilai skor lebih dari atau sama dengan 70 (≥ 70).

KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

  • Saran

Kelemahan tersebut adalah setiap siklus hanya terdiri dari satu pertemuan, jumlah soal kurang seimbang, hampir semua soal berkaitan dengan perhitungan kecepatan, sehingga belum termasuk model pembelajaran kooperatif tipe send-a-problem untuk investigasi dan ulasan tidak. konsep dan soal turunan fungsi aljabar yang tidak mempunyai variasi. . Dalam proses pembelajaran, guru diharapkan mengajak siswa untuk berpartisipasi secara aktif sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dan dapat selalu memikirkan apa yang akan diperolehnya selama pembelajaran. Efektivitas model pembelajaran think pair Share and send dengan pendekatan konstruktivis berbantuan LKS terhadap hasil belajar Matematika.

Peningkatan hasil pengukuran menggunakan pendekatan RME (Realistic Mathematical Education) pada siswa Kelas II SD Negeri 2 Galala.

Oleh: La Moma

PENDAHULUAN

Selain itu, dalam kurikulum juga dijelaskan bahwa salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah mengembangkan kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kreatif. Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran matematika yang dianggap cocok untuk mengembangkan kebiasaan berpikir matematis siswa. Salah satu model pembelajaran yang diyakini mampu mengembangkan kebiasaan berpikir matematis siswa sekolah menengah pertama dalam pembelajaran matematika adalah pembelajaran generatif.

Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti mencoba melakukan penelitian terkait kebiasaan berpikir matematis siswa SMP dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran gemenratif.

PEMBAHASAN A. Habits Of Mind (MOM)

  • Tahap-Tahap Pembelajaran Generatif
  • Karakteristik Model Pembelajaran Generatif
  • Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Generatif

Misalnya topik yang akan dibahas adalah SPLDV, maka guru memperbolehkan siswa untuk menyarankan solusi/strategi penyelesaian masalah terkait SPLDV. Memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi ide-idenya dalam diskusi kelompok kecil untuk mencapai tujuan bersama. Pada tahap ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan baru yang dipahaminya pada situasi lain.

Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk peduli terhadap keyakinan aslinya (terutama siswa yang mempunyai miskonsepsi), diharapkan siswa dapat mewaspadai miskonsepsi yang ada dalam pikirannya dan berusaha untuk memperbaiki miskonsepsi tersebut.

Tabel 1. Deskripsi Kebiasaan Berpikir (Habits of Mind) Menurut Costa & Kellick  (2000)
Tabel 1. Deskripsi Kebiasaan Berpikir (Habits of Mind) Menurut Costa & Kellick (2000)

Keterkaitan Habits of Mind Matematisdalam Pembelajaran Generatif

  • PENUTUP
  • Pendahuluan
  • METODE
  • HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Penutup

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan Model Auditory Intellectual Repetition (Air) dan pembelajaran konvensional. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji beda rata-rata (uji-t) untuk mengetahui perbedaan hasil belajar. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol.

Dengan demikian, hipotesis alternatif H1 yang menyatakan terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 3 Leihitu pada materi tabung dan kerucut yang mendapat pembelajaran matematika melalui model pembelajaran auditory intelektual repetitif (AIR) dan model konvensional adalah diterima.

Tabel 3.1.Nilai Tes Hasil Belajar Siswa  Kualifikasi  Nilai
Tabel 3.1.Nilai Tes Hasil Belajar Siswa Kualifikasi Nilai

Kesimpulan

Setelah dilakukan tes hasil belajar pada pertemuan terakhir, hasil belajar yang dicapai siswa pada kelas kontrol yang diajar dengan model pembelajaran konvensional pada materi tabung dan kerucut adalah 52,31, dengan jumlah siswa 5 orang untuk kualifikasi tinggi, 5 orang untuk kualifikasi tinggi, 5 orang untuk kualifikasi tinggi, dan 5 orang untuk kualifikasi tinggi. kualifikasi sedang, 15 orang untuk kualifikasi rendah, dan 7 orang untuk kualifikasi sangat rendah.

Saran

  • PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
    • Tujuan Penelitian
    • Populasi
    • Sampel
    • Teknik Analisa Data
  • Hasil dan Pembahasan 1. Hasil
  • Kesimpulan
  • PEMBAHASAN A. Berpikir

PERBEDAAN HASIL BELAJAR PELAJARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar pembelajaran H0 : 𝜇1= 𝜇2 : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar kelas

H1 : 𝜇1 ≠ 𝜇2 : Terdapat perbedaan hasil belajar kelas

Tabel 1.1  Konversi Nilai
Tabel 1.1 Konversi Nilai

Proses Berpikir

Dengan demikian, “Proses berpikir adalah kemampuan menggunakan akal (keterampilan berpikir) untuk melakukan proses-proses yang meliputi penerimaan (dari luar atau dari dalam diri siswa) mengolah, menyimpang, dan mengambil informasi dari ingatan siswa.” Proses berpikir konseptual merupakan proses berpikir yang menggunakan konsep-konsep yang telah dimiliki berdasarkan hasil pembelajaran sebelumnya. Proses berpikir komputasional memiliki sifat yang berkebalikan dengan proses berpikir konseptual dan/atau sekuensial.

Proses berpikir komputasional adalah proses berpikir yang menyelesaikan permasalahan atau pertanyaan tanpa menggunakan konsep, padahal penyelesaiannya secara komputasi benar.

Proses Berpikir dalam Pemecahan Masalah Matematika

Proses berpikir sekuensial merupakan proses berpikir yang memecahkan masalah secara langsung tanpa memperhatikan hubungan konsep-konsep dalam menyelesaikan masalah atau masalah tersebut. Di bawah ini adalah contoh proses berpikir siswa kelas IV SD ketika menyelesaikan masalah matematika khususnya materi ukur. Proses berpikir seseorang dalam menyelesaikan masalah matematika dapat dilihat berdasarkan tiga ciri, yaitu ciri proses berpikir konseptual, proses berpikir sekuensial, dan proses berpikir komputasi.

Pengembangan Sikap Kreatif, Inovatif dan Khas melalui Pembelajaran Matematika dalam Implementasi Kurikulum Proses Berpikir Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berbentuk SPLDV pada Siswa Kelas VII Sltp Negeri 5 Ambon”.

Pendahuluan

Model pembelajaran yang dianggap cocok dan efektif adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta direkomendasikan oleh para ahli pendidikan. Oleh karena itu diharapkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dalam proses pembelajaran materi operasi aritmatika aljabar di kelas dapat membantu siswa dalam memahami materi yang diberikan sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa. ' hasil belajar.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Ambon yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan model pembelajaran konvensional berbasis aritmatika aljabar. operasi. .

Metodologi

Data yang diperoleh kemudian dilakukan perhitungan statistik untuk mengetahui kontribusi model pembelajaran TPS dan model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar siswa pada materi operasi aritmatika aljabar. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar kedua kelas setelah diberi perlakuan model pembelajaran TPS dan model pembelajaran langsung digunakan uji-t. H0 : µ1 = µ2 yaitu tidak terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Ambon yang diajar menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan model pembelajaran konvensional pada materi operasi aritmatika aljabar .

H1 : µ1 ≠ µ2 yaitu terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Ambon yang diajar menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan model pembelajaran konvensional pada materi operasi aritmatika aljabar .

Hasil dan Pembahasan Hasil

Perbandingan nilai rata-rata hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada diagram di bawah ini. Ambon diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dan model pembelajaran konvensional pada operasi hitung aljabar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Ambon yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dan model pembelajaran konvensional pada materi aritmatika aljabar. operasi.

Model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional, karena model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami materi pembelajaran secara lebih mendalam dengan melibatkan siswa secara aktif selama fase berpikir. ) dan memasangkan (paired ) lalu membagikan (share).

Kesimpulan dan Saran

Pengembangan sikap kreatif, inovatif dan berkarakter melalui pembelajaran matematika pada implementasi kurikulum 2013. 2-tailed) kurang dari nilai 𝛼 = 0,05 masing-masing 0,004 sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan hasil belajar matematika. pembelajaran eksperimental siswa. kelas diajarkan menggunakan model pembelajaran kolaboratif Think Pair Share (TPS) dan kelas kontrol diajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional.

Daftar Pustaka

Gambar

Gambar 1.1  Hasil Pekerjaan Siswa
Tabel 1. Deskripsi Kebiasaan Berpikir (Habits of Mind) Menurut Costa &amp; Kellick  (2000)
Tabel 2. Habits of Mind Menurut Marzano (1993)  No.   Kebiasaan berpikir
Tabel 3.1.Nilai Tes Hasil Belajar Siswa  Kualifikasi  Nilai
+7

Referensi

Dokumen terkait

Seminar Nasional Pendidikan Matematika 2013 Pendidikan Matematika yang Berkualitas untuk Membentuk Karakter Bangsa PENUTUP Matematika sebagai disipiln ilmu yang memiliki