• Tidak ada hasil yang ditemukan

upaya meningkatkan kemampuan motorik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "upaya meningkatkan kemampuan motorik"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN PELAJARAN 2018/2019 SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Oleh:

Herwiningsih NIM. T201511080

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JULI 2019

(2)
(3)
(4)











Artinya: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs. An-Nahl: 78)*

* Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: CV.Toha Putra,1989), 237.

(5)

Kupersembahkan skripsi ini kepada:

Ayahanda tercinta Abdullah dan Ibunda tercinta Supriyati yang selalu memberi semangat, nasehat dan tak pernah berhenti mendoakan perjuanganku.

Suamiku tersayang Ahmad Basori yang selalu membangkitkan semangat disaat aku malas, yang selalu menemani malam-malam begadangku dalam mengerjakan

skripsi, dan yang tetap setia mendengarkan keluh kesahku di saat-saat sulit.

Adikku tercinta Herna Rindawati yang juga menjadi penyemangat dan pemberi nasihat, saran dan kritikan selama menempuh perjalanan panjang ini.

Anak ku tersayang ananda Ahmad Rizal Ashari yang selalu menjadi penyemangat dalam hidupku

(6)

rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan atas Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan dan membimbing peradaban manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh ilmu pengetahuan. Puji syukur peneliti sampaikan kepada Allah SWT, karena atas izin-Nya peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar melalui permainan Papan titian bagi anak kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019”

dengan lancar sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana Strata 1 di IAIN Jember. Terlepas dari hal tersebut, kurangnya pengetahuan peneliti tentu berpengaruh terhadap kualitas penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari semua pihak merupakan hal yang berharga bagi peneliti.

Tanpa motivasi, bantuan, bimbingan serta arahan dari berbagai pihak, tentunya penulisan skripsi ini tidak bisa berjalan dengan baik. Seiring dengan itu, peneliti haturkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M. selaku Rektor IAIN Jember yang telah memberikan fasilitas yang memadai selama peneliti menuntut ilmu di IAIN Jember;

(7)

3. H. Mahrus, M. Pd.I selaku Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini IAIN Jember yang telah memberi kemudahan bagi peneliti selama kuliah;

4. Fathiyaturrahmah, M.Ag selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu memberikan arahan dan bimbingan serta bersedia meluangkan waktunya demi kelancaran penulisan skripsi ini;

5. Siti Asia selaku Kepala Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember yang telah meluangkan waktunya bagi peneliti dalam melakukan penelitian.

6. Semua pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan satu-persatu.

Akhirnya hanya kepada Allah SWT peneliti memohon agar selalu dalam lindungan dan hidayah-Nya. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti, mahasiswa, serta bagi masyarakat luas, Aamiin.

Jember, 20 Juni 2019 Peneliti

Herwiningsih T201511080

(8)

perkembangan motorik kasar anak, maka diperlukan suatu upaya yang dilakukan oleh guru agar perkembangan motorik kasar anak dapat berkembang secara optimal. Upaya tersebut dapat dimulai dengan pemahaman guru melalui penerapan permainan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak, salah satunya melalui permainan papan titian.

Fokus penelitian yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1), bagaimana upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak lokomotor melalui permainan Papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019?. 2), bagaimana upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak non lokomotor melalui permainan Papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019?

Tujuan dari penelitian ini adalah: 1), mendeskripsikan upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak lokomotor melalui permainan Papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019. 2), mendeskripsikan upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak non lokomotor melalui permainan Papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif. Lokasi penelitian ini di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember. Teknik penentuan subyek penelitian menggunakan purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis deskriptif yaitu: data reduction, data display, dan verification. Sedangkan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi tehnik.

Penelitian ini menghasilkan: 1), Upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak lokomotor melalui permainan papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019 adalah menyediakan fasilitas permainan papan titian sebagai media dalam meningkatkan perkembangan motorik kasar anak dalam hal keseimbangan dinamis. Adapun bentuk dari upaya peningkatan kemampuan motorik kasar anak pada keseimbangan dinamis melalui media papan titian, yaitu: a), melatih kemampuan berjalan pelan anak. b), melatih kemampuan berlari anak dengan tepat dan lincah. c), melatih kemampuan melompat pendek dengan disertai pendaratan dan keseimbangan yang baik. 2), Upaya peningkatan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak non lokomotor melalui permainan papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019 dilakukan dengan cara guru memberi pemahaman disertai contoh gerakan. Adapun bentuk dari upaya peningkatan motorik kasar anak pada aspek non lokomotor, khususnya keseimbangan statis anak, yaitu: a), membiasakan anak didik memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas papan titian sebagai gerakan dasar dalam melatih keseimbangan tubuh. b), menyediakan media kursi plastik, dimana anak didik dapat mendorong dan menarik kursi sebagai upaya melatih otot tangan dan melatih keseimbangan. c), melatih anak didik agar memiliki kelincahan, dengan melakukan gerakan membungkuk kemudian dilanjutkan dengan gerakan menekuk lutut sambil berdiri di atas satu kaki dengan posisi tetap di atas papan titian.

(9)

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Definisi Istilah ... 10

F. Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 14

A. Penelitian Terdahulu ... 14

B. Kajian Teori ... 17

(10)

C. Subyek Penelitian ... 53

D. Teknik Pengumpulan Data ... 54

E. Teknik Analisis Data ... 57

F. Keabsahan Data ... 59

G. Tahap-Tahap Penelitian ... 60

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 64

A. Gambaran Objek Penelitian ... 64

B. Penyajian dan Analisis Data ... 76

C. Pembahasan Temuan ... 95

BAB V PENUTUP ... 102

A. Kesimpulan ... 102

B. Saran ... 104

DAFTAR PUSTAKA ... 105 LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1: Matrik Penelitian Lampiran 2: Pedoman Penelitian Lampiran 3: Surat Tugas Penelitian Lampiran 4: Dokumentasi Penelitian Lampiran 5: Jurnal Penelitian

Lampiran 6: Surat Keterangan Selesai Penelitian Lampiran 7: Keaslian Tulisan

Lampiran 8: Biodata Penulis

(11)

2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian... 17 2.2 Karakteristik Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 4-6 Tahun .. 37 4.1 Data Pendidik Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis ... 70 4.2 Data Anak Didik Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis ... 70 4.3 Data Nama Anak Didik Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis . 71 4.4 Sarana Fisik Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis ... 75 4.5 Sarana Penunjang Pembelajaran ... 75 4.6 Hasil Penilaian Kompetensi Dasar dan Indikator Anak Didik pada

Aspek lokomotor pada kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul

Ulum Jember ... 85 4.7 Hasil Penilaian Kompetensi Dasar dan Indikator Anak Didik pada

Aspek Non Lokomotor pada Kelompok B di Raudhatul Athfal

Bustanul Ulum 13 Pakis Jember ... 94

(12)

4.1. Kegiatan peningkatan kemampuan motorik kasar anak dalam melatih keterampilan berjalan di atas papan titian ... 80 4.2 Upaya peningkatan kemampuan motorik kasar anak dalam melatih

keterampilan mendorong dan menarik di atas papan titian ... 92

(13)

A. Latar Belakang Masalah

Anak usia dini merupakan sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamen bagi kehidupan selanjutnya. Pada masa ini, proses pertumbuhan dan perkembangan anak dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia dan terjadi pematangan fungsi fisik dan psikis.1

Anak-anak ketika mencapai tahapan usia 5 - 6 tahun, terdapat ciri yang sangat berbeda dengan usia bayi, perbedaanya terletak pada penampilan, proporsi tubuh, berat dan panjang badan serta ketrampilan yang dimiliki.

Pada anak usia dini, telah tampak otot-otot tubuh yang berkembang sehingga memungkinkan mengembangkan keterampilan gerak dasar sebagai stimulasi motorik bagi anak-anak dengan melakukan berbagai jenis keterampilan melalui media permainan yang didesain khusus oleh lembaga pendidikan Raudhatul Athfal.

Mengingat betapa pentingnya pendidikan yang dimulai sejak dini, untuk itu pemerintah mengaturnya dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 pasal 1 butir 14 yang mengemukakan bahwa:

“Pendidikan anak usia dini adalah pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan

1 Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: PT Indeks, 2009), 2.

(14)

pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan lebih lanjut”2

Dengan demikian menjadi jelas, jika pendidikan menjadi keperluan mendasar bagi kelangsungan hidup anak. Program pendidikan usia dini untuk anak–anak pada masa pra sekolah bertujuan untuk memberikan kristalisasi moral dan norma yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat yang kelak akan menjadi pandangan hidup dan sikap anak. Kelak anak tidak lagi memerlukan pengawasan dari luar individunya dan memberikan kesempatan bagi terciptanya keterlibatan anak dan orang tuanya secara aktif dalam suatu proses pembelajaran yang berkelanjutan berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah dengan keimanan yang teguh kepada Allah Swt dalam kasih sayang dan tuntunan-Nya.

Pada kajian teori yang lain, Apriyanti Yofita Rahayu juga mengemukakan, bahwa pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.3

2 Tim Penyusun, Sistem Pendidikan Nasional UU RI No. 20 Tahun. 2003 (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), 5.

3 Apriyanti Yofita Rahayu, Menumbuhkan Kepercayaan Diri melalui Kegiatan Bercerita (Jakarta:

Indeks, 2013), 2.

(15)

dilaksanakan, tentunya memiliki dasar hukum baik itu yang berasal dari dasar naqliyah maupun dasar aqliyah. Begitu juga halnya dengan pelaksanaan pendidikan pada anak usia dini. Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan anak usia dini, dapat dibaca dalam firman Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 78:

































Artinya: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.4

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa anak lahir dalam keadaan lemah tak berdaya dan tidak mengetahui (tidak memiliki pengetahuan) apapun. Akan tetapi Allah membekali anak yang baru lahir tersebut dengan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani (akal). Dengan kemampuan dan indera tersebut, anak pada perkembangan selanjutnya akan memperoleh pengaruh sekaligus didikan dari lingkungan sekitarnya.

Kemampuan dan indera ini diperoleh seseorang secara bertahap, yakni sedikit demi sedikit. Semakin besar seseorang maka bertambah pula kemampuan pendengaran, penglihatan, dan akalnya.

Dalam perkembangan terkini, pendidikan anak usia dini diartikan sebagai upaya pendidik (orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya) dalam

4 Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahannya (Bandung: Jabal, 2014), 503.

(16)

tahun melalui penyediaan berbagai pengalaman dan rangsangan yang bersifat mengembangkan, terpadu dan menyeluruh sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal sesuai dengan norma kehidupan yang dianut.5

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan anak usia dini merupakan anak yang memiliki usia 0-6 tahun, di mana anak mengalami pertumbuhan dan kemampuan yang pesat. Anak usia dini disebut sebagai golden age atau usia emas. Hal ini karena semua aspek perkembangan anak usia dini akan tumbuh dan berkembang secara optimal melalui stimulasi- stimulasi yang diberikan oleh orang tua dan guru pada usia tersebut dan mengalami peningkatan perkembangan sesuai dengan peningkatan usia anak.

Selain melalui stimulasi tersebut, hal yang perlu diperhatikan adalah makanan yang bergizi yang seimbang dan intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kemampuan anak usia dini. Pertumbuhan dan kemampuan anak menyangkut segala aspek yaitu aspek bahasa, aspek fisik (motorik kasar dan motorik halus), aspek sosial emosional, aspek kognitif, dan aspek nilai moral agama. Kelima aspek itu harus berjalan dengan seimbang dan dengan baik. Dalam konteks penelitian ini, salah satu aspek yang harus ditingkatkan dengan baik adalah aspek fisik motorik kasar anak, di mana aspek tersebut

5 Syafaruddin Dkk, Pendidikan Prasekolah Perspektif Pendidikan Islam dan Umum (Medan:

Perdana Publishing, 2016), 29-30.

(17)

mendukung pertumbuhannya.6

Samsudin berpendapat bahwa motorik kasar adalah kemampuan anak beraktivitas dengan menggunakan otot-otot besar. Kemampuan menggunakan otot-otot besar ini tergolong pada kemampuan gerak dasar. Kemampuan tersebut di antaranya yaitu mendorong, menarik, melempar, menangkap, berlari, skipping, dan meloncat.7

Menurut Rini Hildayani seperti dikutip Samsudin mengungkapkan, bahwa setidaknya ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik maupun orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan fisik-motorik pada anak usia dini, upaya tersebut antara lain:

1. Memperkenalkan dan melatih anak usia dini dengan berbagai permainan yang melibatkan aktivitas motorik kasar dan motorik halusnya.

2. Menyediakan lingkungan bermain yang memungkinkan anak usia dini dapat melatih keterampilan motoriknya.

3. Melatih olah raga (seperti senam) dan keterampilan (menari, melipat, dan menggunting).

4. Tidak menekankan pada kekuatan dan kecepatan kepada anak saat mereka melakukan kegiatan bermain, tetapi memperhatikan gerakan dan postur tubuh yang benar dalam melakukan aktivitas motorik.

6 Rendrawati Parman, Peran Guru dalam Mengembangkan Motorik Kasar Anak. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, (Universitas Negeri Gorontalo, 2014), 7.

7 Samsudin, Pembelajaran Motorik di Taman Kanak-Kanak (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), 9.

(18)

pada saat melakukan kegiatan bermain.

6. Bersabar pada saat mendampingi anak bermain dengan tidak mendikte melainkan hanya sekedar mendampingi dan mengawasi.8

Dalam rangka mengemban tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan perkembangan motorik kasar anak diperlukan suatu upaya yang dilakukan oleh guru agar perkembangan motorik kasar anak dapat berkembang secara optimal. Upaya tersebut dapat dimulai dengan pemahaman guru melalui penerapan permainan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak, salah satunya melalui permainan papan titian.

Adapun permainan papan titian adalah permainan untuk melatih keseimbangan anak, terbuat dari kayu ringan dan kuat, sehingga dapat dipindah pindahkan di area sekolah. Di mana bermain papan titian adalah salah satu kegiatan bermain aktif, yaitu kegiatan yang melibatkan banyak aktivitas tubuh atau gerakan tubuh, baik pada aspek lokomotorik dan non lokomotorik. Kegiatan bermain aktif adalah kegiatan yang dapat memberikan rasa senang atau gembira dan rasa puas bagi anak, karena aktivitas yang telah mereka lakukan sendiri.9 Tegasnya, permainan papan titian merupakan media permainan yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kekuatan otot anak yang pada gilirannya dapat mengoptimalkan perkembangan motorik kasar anak.

8 Samsudin, Pembelajaran Motorik di Taman Kanak-Kanak, 13.

9 Ika PH, Pengembangan Kemampuan Perseptual Motor Anak Menggunakan Outbound Low Impact (Jakarta: Dian Rakyat: 2011), 53.

(19)

meningkatkan kemampuan motorik kasar anak pada aspek gerak lokomotor memang sudah dilakukan tetapi masih kurang optimal. Hal ini terlihat saat guru mengajak anak melakukan kegiatan berjalan jinjit pada garis lurus, berlari bolak- balik, berlari zig-zag dan meloncati benda, anak masih banyak yang mengalami kesulitan dalam mempertahankan posisi kakinya saat berjalan jinjit, dalam mengubah arah ataupun posisi tubuhnya secara teratur juga mengalami kesulitan. Dari total 28 anak, ada 9 anak yang belum bisa menahan keseimbangan kakinya sampai garis akhir, dan selanjutnya, hanya berjalan biasa. Ada juga anak yang masih salah dalam melakukan gerakan meloncat, yaitu saat meloncati benda ada 10 anak yang masih bertumpu pada satu kaki (melompat). Namun dalam perkembangan motorik kasar anak tesebut dipengaruhi beberapa faktor yaitu guru kurang memotivasi anak saat melakukan kegiatan, fasilitas kurang memadai sehingga pembelajaran kurang bervariasi dan kurangnya bimbingan dari guru.10

Dari alasan tersebut, maka peneliti mempunyai ketertarikan dengan mengangkat judul penelitian yaitu “upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar melalui permainan Papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019”.

B. Fokus Penelitian

Perumusan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan istilah fokus penelitian. Bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang

10 Observasi, Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember, (27 Februari 2019).

(20)

disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang dituangkan dalam bentuk tanda tanya.11

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat disimpulkan fokus penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak lokomotor melalui permainan Papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019?

2. Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak non lokomotor melalui permainan Papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Jember Tahun Pelajaran 2018/2019?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada fokus penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya.12 Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak lokomotor melalui permainan papan titian bagi

11 Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah Institut Agama Islam Negeri Jember (Jember: IAIN Jember Press, 2017), 72.

12 Lexy J. Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT.RemajaRosdakarya, 2008), 62.

(21)

Panti Kabupaten Jember tahun pelajaran 2018/2019.

2. Untuk mendeskripsikan upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar pada aspek gerak non lokomotor melalui permainan papan titian bagi kelompok B di Raudhatul Athfal Bustanul Ulum 13 Pakis Kecamatan Panti Kabupaten Jember tahun pelajaran 2018/2019.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang konstribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, seperti kegunaan bagi penulis, instansi, dan masyarakat secara keseluruhan. Kegunaan penelitian harus realistis.13 Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah, memperdalam, dan memperluas kajian ilmiah terkait dengan peningkatan motorik kasar anak melalui permainan papan titian.

b. Penelitian ini dapat menjadi refrensi dan memperkaya khasanah keilmuan di lembaga perguruan tinggi, khususnya di lembaga IAIN Jember terkait dengan peningkatan motorik kasar anak melalui permainan papan titian.

13Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah Institut Agama Islam Negeri Jember, 73.

(22)

a. Bagi Peneliti.

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dari suatu karya ilmiah dan sebagai bekal awal untuk penelitian lain di masa mendatang.

b. Bagi Lokasi Penelitian.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atau masukan yang positif terkait tentang peningkatan motorik kasar anak melalui permainan papan titian, sehingga para guru dan orang tua dapat lebih maksimal melatih kemampuan anak dalam pengendalian gerak tubuh.

c. Bagi IAIN Jember

Penelitian diharapkan dapat menjadi tambahan literatur atau refrensi bagi lembaga IAIN Jember dan mahasiswa yang ingin mengembangkan kajian tentang peningkatan motorik kasar anak melalui permainan papan titian.

F. Definisi Istilah

Definisi operasional berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman makna istilah sebagaimana yang dimaksud oleh peneliti.14 Adapun definisi istilah dalam penelitian ini adalah:

14 Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah Institut Agama Islam Negeri Jember, 73.

(23)

Upaya yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini adalah suatu tindakan yang dilakukan secara sadar demi mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan pengertian motorik kasar yang dimaksud oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pengendalian gerak pada tubuh yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh dengan menggunakan otot-otot besar atau seluruh anggota tubuh.

2. Permainan Papan Titian

Papan titian yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini adalah sejenis permainan bagi anak-anak berupa papan memanjang untuk melatih keseimbangan tubuh dan kekuatan otot kaki.

3. KelompoK B Raudhatul Athfal

Pengertian kelompok B Raudhatul Athfal yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini adalah satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia dini 4 - 6 tahun. Sedangkan kelompok B dalam konteks penelitian ini adalah anak usia dini yang berumur 5 – 6 tahun.

Dari berbagai pengertian tentang definisi istilah di atas, maka yang dimaksud dengan upaya meningkatkan motorik kasar anak melalui permainan papan titian suatu usaha yang dilakukan oleh guru terhadap anak usia dini yang berumur 5 - 6 tahun dalam melatih pengendalian gerak tubuh baik pada aspek gerak lokomotor dan gerak non lokomotor melalui

(24)

Kecamatan Panti Kabupaten Jember tahun pelajaran 2018/2019.

G. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.15 Keseluruhan penulisan skripsi ini terdiri atas beberapa bab, dan setiap bab terbagi menjadi beberapa sub-bab, hal ini merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh. Oleh karena itu, peneliti akan diskripsikan secara singkat mengenai keseluruhan pembahasan.

Bab pertama adalah Pendahuluan. Bab ini berusaha memberikan gambaran secara singkat mengenai keseluruhan pembahasan sekaligus memberikan rambu-rambu untuk masuk pada bab-bab berikutnya. Bab ini dimulai dari latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.

Bab kedua berisi tentang kajian terdahulu dan kerangka teoritik yang berusaha menyajikan landasan teori tentang motorik kasar anak beserta ruang lingkupnya dan kajian teori tentang permainan papan titian.

Bab ketiga berisi metode penelitian. Dalam bab ini dibahas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.

Bab keempat berisi mengenai gambaran objek penelitian, penyajian dan analisis data, serta pembahasan temuan. Bagian ini adalah pemaparan

15Tim Penyusun Revisi STAIN Jember, 45.

(25)

menjawab masalah yang telah dirumuskan.

Bab kelima berisi tentang kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan ini berisi tentang berbagai temuan hasil analisa dari bab-bab sebelumnya, sedangkan saran-saran merupakan tindak lanjut dan bersifat konstruktif.

Selanjutnya skripsi ini diakhiri dengan daftar pustaka dan beberapa lampiran-lampiran sebagai pendukung pemenuhan kelengkapan data skripsi.

(26)

A. Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasan, baik penelitian yang sudah dipublikasikan atau belum dipublikasikan (skripsi, tesis, disertasi dan sebagainya). Dengan melakukan langkah ini, maka akan dapat dilihat sampai sejauh mana orisionalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.16

Adapun kajian yang mempunyai keterkaitan dengan penelitian ini antara lain:

1. Skripsi Nuning Sofiah, Tahun 2012.” Upaya mengembangkan motorik kasar melalui bermain papan titian pada anak kelompok B di Taman Kanak-Kanak Piri Nitikan Yogyakarta”.17 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Dasar. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilakukan secara kolaboratif dan partisipasif.

Subjek penelitian ini semua anak kelompok B TK Piri Nitikan

16Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah Institut Agama Islam Negeri Jember, 73.

17 Nuning Sofiah, Upaya mengembangkan motorik kasar melalui bermain papan titian pada anak kelompok B di Taman Kanak-Kanak Piri Nitikan Yogyakarta, Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta 2012.

(27)

Yogyakarta, yang berjumlah 20 anak, yang terdiri dari 13 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Objek dalam penelitian ini adalah pengembangan motorik kasar anak melalui bermain papan titian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, tes unjuk kerja dan dokumentasi.

Instrumen penelitian yakni panduan observasi dan tes unjuk kerja.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif.

Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan, bermain papan titian dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar pada anak kelompok B TK Piri Nitikan Yogyakarta. Berjalan dengan langkah pendek anak yang memenuhi kriteria bisa berjalan di atas papan titian 4 anak (20%). Berjalan dengan langkah panjang, yang bisa 3 anak (15%) dan berjalan dengan posisi menyamping 3 anak (15%). Pelaksanaan tindakan siklus I kegiatan berjalan dengan langkah pendek, yang bisa 11 anak (55%). Berjalan dengan langkah panjang, yang bisa 10 anak (50%) dan berjalan dengan posisi menyamping 9 anak (45%). Pelaksanaan tindakan siklus 2, berjalan dengan langkah pendek 19 anak (95%). Pada kegiatan berjalan dengan langkah panjang 19 anak (95%) dan berjalan dengan posisi menyamping 18 anak (90%).

2. Skripsi Aprilia Puspitasari, Tahun 2015. ”Upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar melalui permainan tradisional kucing-

(28)

kucingan pada anak kelompok B di Taman Kanak-Kanak Ar-Raihan”.18 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Dasar. Fakultas Ilmu Pendidikan.

Universitas Negeri Yogyakarta.

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) kolaboratif. Subyek penelitian kelompok B yang berjumlah 24 anak. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dan kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan motorik kasar anak kelompok B dari aspek keseimbangan pra tindakan 25.00%, siklus I menjadi 44.45% dan siklus II sebesar 83.33%. Aspek kecepatan pra tindakan sebesar 12,50%, siklus I menjadi 44.44% dan siklus II sebesar 83.34%. Aspek kelincahan pra tindakan 8,33%, siklus I menjadi 36.16% dan siklus II sebesar 79.17% dari jumlah anak. Secara keseluruhan kemampuan motorik kasar anak berada dalam keadaan cukup baik sebesar 65.28% meningkat pada siklus 1 menjadi 77.62% dan meningkat pada siklus II menjadi 93.75% sehingga dari hasil tersebut dapat dikatakan berhasil karena 75% dari jumlah anak mencapai indikator kemampuan motorik kasar pada kriteria baik.

18 Aprilia Puspitasari, Upaya meningkatkan kemampuan motorik kasar melalui permainan tradisional kucing-kucingan pada anak kelompok B di Taman Kanak-Kanak Ar-Raihan, Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta 2015.

(29)

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian

No Nama Peneliti Judul Penelitian Persamaan Perbedaan

1

Nuning Sofiah, (2012)

Upaya

mengembangkan motorik kasar melalui bermain papan titian pada anak kelompok B di Taman Kanak- Kanak Piri Nitikan

Yogyakarta

Sama-sama meneliti tentang morik kasar anak dan tehnik pengumpulan data

Tahun penelitian, Lokasi Penelitian, Fokus penelitian, objek penelitian, pendekatan dan jenis penelitian, metode keabsahan data, dan hasil penelitian

2 Aprilia Puspitasari, (2015)

Upaya

meningkatkan kemampuan motorik kasar melalui

permainan tradisional kucing-kucingan

pada anak

kelompok B di Taman Kanak- Kanak Ar-Raihan

Sama-sama meneliti tentang morik kasar anak dan tehnik pengumpulan data.

Tahun penelitian, Lokasi Penelitian, Fokus penelitian, objek penelitian, pendekatan dan jenis penelitian, metode keabsahan data, dan hasil penelitian B. Kajian Teori

Bagian ini berisi pembahasan tentang teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam penelitian. Pembahasan teori yang terkait dengan penelitian secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Posisi teori dalam penelitian

(30)

kualitatif diletakkan sebagai perspektif, bukan untuk diuji sebagaimana dalam penelitian kuantitatif.19

1. Kajian Teori Tentang Motorik Kasar a. Pengertian Motorik Kasar

Perkembangan aspek fisik anak berkaitan erat dengan aktivitas yang dilakukan anak sehari-hari melalui gerakan-gerakan yang dilakukan anak. Menurut Mansyur, pada anak usia dini pertumbuhan vertical fisik anak pada umumnya tumbuh lebih menonjol dibanding pertumbuhan horizontal. Keterampilan- keterampilan yang menggunakan otot tangan dan kaki sudah mulai berfungsi. Pertumbuhan fisik anak usia dini adalah pertumbuhan otak dan sistem syaraf. Perkembangan fisik anak usia dini meliputi motorik kasar (gross motor skills) dan motorik halus (fine motor skills).20

Motorik merupakan istilah umum yang berarti bentuk perilaku gerak manusia. Kata motorik dalam kajian psikologi, berarti kegiatan, keadaan atau gerakan yang menggunakan otot-otot serta kelenjar dan sekresinya (pengeluaran cairan/getah). Kata motor juga dapat diartikan segala bentuk aktivitas yang menghasilkan atau meningkatkan rangsangan/stimulus terhadap organ-organ fisik manusia.21

19 Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah Institut Agama Islam Negeri Jember, 74.

20 Mansyur. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 23.

21 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 59.

(31)

Menurut Endah seperti dikutip oleh Mansyur mengartikan bahwa motorik kasar (gross motor skill) merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar sebagian atau seluruh anggota tubuh. Menurut Santrock motorik kasar merupakan keterampilan gerak yang menggunakan otot-otot besar seperti menggerakkan lengan dan berjalan.22

Menurut Hurlock, perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Gerakan ini secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus. Keadaan sekitar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan motorik anak, terutama lingkungan keluarga. Selain itu perkembangan motorik juga berarti perkembangan gerak pengendalian jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot-otot yang terkoordinasi.23

Sedangkan menurut Siti Aisyah, motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.24

Keterampilan motorik kasar atau gross motor skill meliputi keterampilan otot-otot besar kaki, lengan, batang tubuh. Gerakan

22 Mansyur. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, 36.

23 Elizabeth. B. Hurlock, Perkembangan Anak (Jakarta: Erlangga, 1978), 150.

24 Siti Aisyah, Perkembangan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), 4.

(32)

motorik kasar merupakan rangkaian dari beberapa otot yang rumit.

Otot kasar atau otot besar (gross muscle) merupakan otot-otot dalam tubuh yang tersusun dari otot lurik. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan dasar tubuh yang terkoordinasi oleh otak.25

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa motorik kasar (gross motor skill) adalah pengendalian gerak pada tubuh yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh dengan menggunakan otot-otot besar atau seluruh anggota tubuh.

b. Unsur-Unsur Motorik Kasar

Aktivitas gerak motorik kasar sasaran yang ingin dicapai dari proses perkembangan motorik pada anak terdiri dari beberapa unsur. Adapun unsur-unsur gerak dalam kemampuan motorik kasar diantaranya sebagai berikut:

1) Koordinasi

Koordinasi adalah proses mensinergikan dan menyeimbangkan segala bagian tubuh dala beraktivitas. Dalam artian, rangkaian dari suatu gerakan motorik kasar, pasti membutuhkan koordinasi dari setiap bagian-bagian tubuh anak, seperti saat melompati simpai, dibutuhkan koordinasi antara mata dan kaki untuk dapat melompati simpai tersebut.

25 Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Hikayat Publishing), 48-49.

(33)

2) Keseimbangan

Keseimbangan adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ saraf ototnya, selama melakukan gerak-gerak yang cepat dengan perubahan letak titik berat badan yang cepat pula baik dalam keadaan statis maupun dalam keadaan dinamis.

Dalam hal ini, keseimbangan dalam pembelajaran motorik kasar, terlihat pada saat mereka mampu untuk mempertahankan posisi tubuhnya agar tidak terjatuh.

3) Fleksibilitas

Fleksibilitas adalah kemampuan tubuh untuk melakukan gerakan melalui ruang gerak sendi secara maksimal. Kemampuan gerak sendi ini berbeda di setiap persendian dan bergantung pada struktur anatomi di sekitarnya, seberapa jauh sendi itu digunakan secara normal, ada tidaknya cedera, dan ketegangan otot serta faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi fleksibilitas.

Fleksibilitas tubuh terlihat dari kelenturan tubuh anak untuk bergerak secara fleksibel pada pembelajaran motorik kasar yang dilakukan anak.

4) Kecepatan

Kecepatan dalam pembelajaran motorik diartikan sebagai kapasitas seseorang agar berhasil melakukan gerakan

(34)

dalam beberapa pola dan dalam waktu yang sangat cepat.

Unsur kecepatan pada anak dapat dilihat dari kemampuan anak saat menyelesaikan tugas dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan teman yang lainnya.

5) Kelincahan

Kelincahan adalah suatu kemampuan anak untuk mengubah arah dan posisi sesuai dengan situasi yang dikehendaki atau dihadapi dengan cara secepat mungkin.

Anak yang aktif memiliki pengalaman gerak yang baik dibandingkan dengan anak yang jarang bergerak. Kelincahan anak dapat diukur dengan kecepatan dan ketepatan dalam mengubah posisi tubuhnya, dari satu posisi ke posisi lain.

6) Ketahanan

Ketahanan adalah kemampuan kondisi tubuh untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama tanpa disertai kelelahan yang berlebihan.

Ketahanan dalam diri anak menjadi salah satu unsur bagaimana anak mampu untuk melakukan suatu gerakan dalam waktu tertentu dengan kemampuan yang ada dalam dirinya.

7) Kekuatan

Kekuatan otot tubuh adalah kemampuan otot yang membantu tubuh untuk bertahan maupun melakukan gerakan.

(35)

Kekuatan merupakan salah satu unsur pokok dalam pembelajaran motorik, yang berhubungan dengan tenaga yang dikeluarkan anak untuk merespon gerak saat mereka menerima stimulus dari luar. Tenaga yang dikeluarkan dalam tubuh membantu kerja otot menghasilkan suatu gerakan dalam bergerak, misalnya pada saat mendorong meja, anak butuh kekuatan otot untuk melakukan gerakan mendorong.

8) Power/Daya Ledak

Power atau daya ledak adalah kekuatan sebuah otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam gerakan yang utuh. Dengan artian, daya ledak yaitu kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sesingkat- singkatnya.26

Power yang ada dalam tubuh anak dapat terlihat dari jumlah gerakan yang dapat dilakukan oleh anak. Jumlah gerakan yang ditampilkan oleh setiap anak tentu berbeda-beda tergantung power yang ada dalam dirinya, misalnya anak dapat melakukan gerakan meloncat 10 kali, sedangkan anak lain mampu meloncat 5 kali.

Dari beberapa pengertian perkembangan motorik kasar di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan motorik kasar

26 Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini,, 50-51.

(36)

merupakan kemampuan gerak tubuh yang menggunakan otot-otot besar untuk melakukan aktivitas seperti berjalan dan melompat.

c. Ragam Gerak Dasar Motorik Kasar

Pada dasarnya, gerakan-gerakan tubuh dalam melakukan aktivitas motorik kasar pada anak diklasifikasikan dalam dua bentuk ragam gerak dasar yaitu lokomotor dan non-lokomotor.

Berkaitan dengan dua macam ragam gerak dasar tersebut, selanjutnya dijelaskan pada bagian di bawah ini:

1) Gerak Lokomotor

Gerak lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya perpindahan tempat di mana bagian tubuh tertentu bergerak atau pindah tempat. Adapun beberapa contoh gerak lokomotor seperti:

a) Berjalan

Berjalan adalah suatu gerakan melangkah kesegala arah yang dilakukan oleh siapa saja dan tidak mengenal usia. Berjalan dilakukan oleh setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam menuju tempat satu ke tempat yang lain.

b) Merangkak

Merangkak ialah bergerak dengan bertumpu pada tangan dan lutut. Merangkak merupakan salah satu kemampuan yang sudah dimiliki anak sejak masih bayi.

(37)

Sebelum anak mampu berjalan, mereka akan melakukan gerakan merangkak terlebih dahulu, hal ini menjadi salah satu cara untuk belajar menguatkan otot-otot kakinya.

Gerakan merangkak dilakukan oleh anak dengan menekuk kakinya di lantai dan menyangga tubuhnya dengan tangannya, kemudian ia berjalan maju.

c) Berlari

Berlari adalah gerak berpindah tempat atau memindahkan tubuh secara cepat dari satu titik ke titik lainnya dengan cara melangkah menggunakan kaki secara bergantian akan tetapi langkah-langkah kaki yang kita gerakan ada saat kedua kaki tidak berhubungan dengan tanah.

Berlari tidak jauh berbeda dengan berjalan, hanya saja gerakannya lebih cepat sampai tujuan dan gerakannya sedikit melayang di udara atau agak melompat.

d) Meloncat

Meloncat adalah suatu gerakan mengangkat tubuh dari suatu titik ke titik yang lain yang lebih jauh atau lebih tinggi dengan ancang-ancang cepat atau lambat. Dengan menumpu dua kaki dan mendarat dengan kaki atau anggota tubuh lainnya dengan keseimbangan yang baik.

(38)

e) Melompat

melompat adalah gerakan yang diawali dengan menggunakan 1 kaki tumpuan untuk berpindah tempat.

Gerak dasar lompat juga terkait dengan gerak dasar lari, yaitu melakukan gerak awalan. Dalam gerak lompat terdapat sejumlah komponen yang dapat dicapai dengan maksimal yaitu kecepatan, kelenturan dan daya tolak otot tungkai.27

Tanpa kemampuan gerak lokomotor yang memadai, aktivitas akan terhambat dan hasilnya tidak optimal. Oleh karena itu, kemampuan ini harus terus dilatih agar kemampuan fisik anak didik tetap terjaga.

2) Gerak Non-Lokomotor

Gerak non-lokomotor adalah gerakan yang tidak menyebabkan terjadinya pindah tempat di mana sebagian anggota tubuh saja yang digerakkan namun tidak berpindah tempat. Dengan kata lain aktivitas tersebut dilakukan ditempat, misalnya:

a) Memutar

b) Mendorong dan Menarik c) Menekuk

27 Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, 53-54.

(39)

Tanpa kemampuan gerak non-lokomotor yang memadai, aktivitas akan terhambat. Memelihara kemampuan ini mutlak dilakukan dalam kehidupan manusia.28

Pada konteks penelitian ini, untuk meningkatkan kemampan motorik kasar pada anak peneliti menggembangkan aktivitas motorik kasar pada aspek gerak dasar gerak lokomotor, dan non-lokomotor.

d. Prinsip-Prinsip Perkembangan Motorik Kasar Anak

Prinsip perkembangan motorik adalah adanya suatu perubahan baik fisik maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya. Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh gizi, status kesehatan, dan perlakuan gerak yang sesuai dengan masa perkembangannya.

Menurut Hurlock, terdapat lima prinsip perkembangan motorik kasar. Adapun lima prinsip perkembangan motorik kasar pada anak antara lain, yaitu:

1) Perkembangan motorik kasar ditentukan oleh kematangan otot dan saraf.

Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh organ otak. Otaklah yang mengatur setiap gerakan yang dilakukan anak. Semakin matangnya perkembangan system syaraf otak

28 Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, 53-54.

(40)

yang mengatur otot, semakin baik kemampuan motorik kasar anak. Hal ini juga didukung oleh kekuatan otot anak yang baik.

2) Perkembangan yang berlangsung secara terus menerus

Perkembangan motorik berlangsung secara terus menerus sejak pembuahan. Urutan perkembangan dapat dilihat pada masa awal bayi, pengendalian gerakan lebih banyak di daerah kepala. Saat perkembangan syaraf semakin baik, pengendalian gerakan oleh batang tubuh kemudian pada bagian kaki. Perkembangan proximodistal dimulai dari gerakan sendi utama sampai gerakan bagian tubuh terpencil.

Misalnya, bayi menggunakan bahu dan siku dalam bergerak sebelum menggunakan pergelangan tangan dan jari tangan.

3) Perkembangan motorik memiliki pola yang dapat diramalkan Perkembangan motorik dapat diramalkan ditunjukkan dengan bukti bahwa ketika usia anak mulai berjalan konsisten dengan laju perkembangan keseluruhannya. Misalnya, anak yang duduknya lebih awal akan berjalan lebih awal ketimbang anak yang duduknya terlambat.

4) Reflek primitif akan hilang digantikan dengan gerakan yang disadari.

Reflek primitive adalah gerakan yang tidak disadari, berlangsung secara otomatis dan pada usia tertentu harus sudah hilang karena dapat menghambat gerakan yang disadari.

(41)

5) Urutan perkembangan pada anak sama namun kecepatannya berbeda

Tahap perkembangan motorik pada setiap anak sama akan tetapi kondisi bawaan dari lingkungan mempengaruhi kecepatan perkembangannya.29

Adapun menurut Gesel Ames dan Illingsworth seperti dikutip oleh Slamet Suyanto, perkembangan motorik pada anak mengikuti beberapa pola, antara lain sebagai berikut:

1) Continuity (bersifat kontinu atau terus-menerus)

Kontinyu adalah sejumlah elemen yang berbeda atau elemen-elemen yang bersambungan menuju suatu kesempurnaan. Perkembangan dari gerak yang sederhana menuju gerak yang lebih kompleks seirirng dengan bertambahnya usia anak.

2) Uniform Sequence (memiliki pola tahapan yang sama)

Uniform Sequence adalah istilah perkembangan di mana semua anak memiliki tahapan perkembangan yang sama tetapi kecepatan setiap anak dalam mencapai tahapan tersebut berbeda.

3) Maturity (kematangan)

Maturity (kematangan) adalah suatu keadaan atau tahap pencapaian proses pertumbuhan atau perkembangan.

29 Hurlock, Elizabeth B, Perkembangan Anak jilid 1, (Jakarta: Erlangga, 1978), 54-55.

(42)

Kematangan juga dapat berarti matangnya suatu fungsi atau potensi mental psikologis akibat proses perkembangan karena pengalaman dan latihan.

Kematangan dipengaruhi oleh perkembangan sel syaraf yang terbentuk ketika lahir tetapi proses mielinasi terus berlangsung beberapa tahun kemudian.

4) Chepalocaudal (dari kepala ke ekor)

Chepalocaudal adalah istilah bagi perkembangan yang mengartikan jika rutan perkembangan bagian atas badan lebih dahulu berfungsi dan terampil digunakan. Misalnya bayi dapat menggerak-gerakkan kepalanya sebelum dapat menggerakkan kakinya.

5) Proximodistal (dari dekat ke jauh)

Proximodistal adalah istilah perkembangan di mana bagian tengah badan lebih dahulu sebelum bagian-bagian disekelilingnya. Otot dan syaraf lengan berkembang lebih dahulu daripada otot jari. Misalnya, anak TK menangkap bola dengan menggunakan lengan bukan dengan jari tangan.

6) Koordinasi bilateral menuju Crosslateral

Koordinasi bilateral adalah koordinasi organ yang sama berkembang lebih dulu sebelum bisa melakukan koordinasi organ bersilangan. Misalnya, ketika anak tk melempar bola tenis, tangan kanan berayun, disertai ayunan dari kaki

(43)

kanan.Berbeda dengan oang dewasa, justru kaki kiri yang maju, diikuti ayunan tangan kanan.30

e. Tujuan Pengembangan Motorik Kasar Anak

Pada dasarnya, tujuan dari pengembangan motorik kasar pada anak adalah untuk memperkenalkan dan melatih gerakan yang melibatkan kemampuan otot besar pada anak. Menurut Yudha M.

Saputra, tujuan dari perkembangan motorik kasar pada anak merupakan penguasaan keterampilan yang tergambar dalam kemampuan menyelesaikan tugas motorik tertentu. Kualitas motorik terlihat dari seberapa jauh anak tersebut mampu menampilkan tugas motorik yang diberikan dengan tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas motorik tinggi, berarti motorik yang dilakukannya efektif dan efisien.31

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 137 Tahun 2014 Tentang Standart Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, pada Pasal 10 ayat 3 menjelaskan tujuan dari pengembangan motorik kasar bagi anak adalah memperkenalkan dan melatih gerakan kasar, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat, sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang sehat, kuat dan terampil. Sesuai dengan tujuan pengembangan jasmani

30 Hurlock, Elizabeth B, Perkembangan Anak jilid 1, (Jakarta: Erlangga, 1978), 54-55.

31 Yudha M. Saputra dan Agus Mahendra, Perkembangandan Belajar Motorik, (Departemen Pendidikan Nasional: Universitas Terbuka, 2006), 66.

(44)

tersebut, anak didik dilatih gerakan-gerakan dasar yang akan membantu perkembangan motoriknya kelak.32

Pengembangan kemampuan dasar anak dilihat dari kemampuan motoriknya, sehingga guru perlu membantu mengembangkan keterampilan motorik anak dalam hal memperkenalkan dan melatih gerakan motorik kasar anak, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat, dan terampil.

Kompetensi anak usia dini yang diharapkan dapat dikembangkan guru saat anak memasuki lembaga pra- sekolah/TK/RA adalah anak mampu melakukan aktivitas motorik secara terkoordinasi dalam rangka kelenturan dan kesiapan untuk menulis, keseimbangan, dan melatih keberanian.

f. Karakteristik Motorik Kasar Anak

Anak usia dini merupakan individu yang berbeda,unik dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya.

Masa usia dini (0-6 tahun) merupakan masa keemasan (golden age) dimana stimulasi seluruh aspek perkembangan berperan penting untuk tugas perkembangan selanjutnya.

32 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 137 Tahun 2014 Tentang Standart Nasional Pendidikan Anak Usia Dini

(45)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 pasal 1 butir 14 yang mengemukakan bahwa:

“Pendidikan anak usia dini adalah pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan lebih lanjut”33

Dengan demikian menjadi jelas, upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak usia 0-6 tahun tersebut dilakukan melalui Pendidikan anak usia dini (PAUD). Pendidikan anak usia dini dapat dilaksanakan melalui pendidikan formal, nonformal dan informal.

Pendidikan anak usia dini jalur formal berbentuk taman kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA) dan bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk kelompokbermain (KB), taman penitipan anak (TPA), sedangkan PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan lingkungan seperti bina keluarga balita dan posyandu yang terintegrasi PAUD atau yang kita kenal dengan satuan PAUD sejenis (SPS).

Dilain sisi, membicarakan anak usia dini tentunya memiliki karakterisitik yang berbeda dengan usia orang dewasa. Dimana anak

33 Tim Penyusun, Sistem Pendidikan Nasional UU RI No. 20 Th. 2003 (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), 5.

(46)

usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya.

Menurut Siti Aisyah, karakteristik dari anak usia dini antara lain adalah:

1) memiliki rasa ingin tahu yang besar 2) merupakan pribadi yang unik 3) suka berfantasi dan berimajinasi 4) masa potensial untuk belajar 5) memiliki sikap egosentris

6) memiliki rentan daya konsentrasi yang pendek 7) merupakan bagian dari mahluk sosial.34

Sementara itu, Desmita seperti dikutip oleh Siti Aisyah menambahkan bahwa karakteristik anak usia 5-6 tahun adalah sebagai berikut:

1) Anak pada masa praoperasional, belajar melalui pengalaman konkret dan dengan orientasi dan tujuan sesaat

2) Anak suka menyebutkan nama-nama benda yang ada disekitarnya dan mendefinisikan kata

3) Anak belajar melalui bahasa lisan dan pada masa ini berkembang pesat

4) Anak memerlukan struktur kegiatan yang lebih jelas dan spesifik.35

34 Siti Aisyah, Perkembangan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini, 36.

(47)

Dengan demikian, kesempurnaan gerak pada anak usia dini sangatlah ditentukan oleh urutan perkembangan yang dialami oleh setiap individu. Begitu juga dengan perkembangan motoriknya yang berlangsung sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan secara meningkat dari yang sederhana, tidak terampil ke arah performa gerak yang lebih kompleks dan terorganisasi dengan baik. Oleh karena itu, perkembangan motorik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan anak usia dini.

Menurut Keogh Seperti dikutip oleh Yudha M. Saputra, mendefinisikan perkembangan motorik yaitu perubahan kemampuan gerak dari mulai masa bayi (infancy) sampai masa dewasa (adulthood) serta melibatkan berbagai aspek perilaku manusia, kemampuan motorik dan aspek perilaku yang ada pada manusia ini mempengaruhi perkembangan motorik dan perkembangan motorik itu sendiri mempengaruhi kemampuan dan perilaku manusia.36

Menurut Soetjiningsih, pada usia pra-sekolah (5-6 Tahun) anak-anak harus aktif melakukan kegiatan motorik dengan melakukan gerakan seperti melempar, menangkap, menendang, berlari, menari dan seterusnya. Dengan melakukan gerak kasar

35 Siti Aisyah, Perkembangan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini, 36

36 Yudha M. Saputra dan Agus Mahendra, Perkembangandan Belajar Motorik, 68.

(48)

keseimbangan tubuh dan koordinasi gerak tangan dan mata menjadi lebih baik.37

Pada usia 4 tahun anak sudah mampu berdiri di atas satu kaki dan menangkap bola yang dilemparkan kepadanya. Selain itu, anak dapat melompat sejauh 60-80 cm. Pada usia 4 tahun anak- anak lebih suka berpetualang dan menunjukkan kemampuan atletisnya. Sedangkan saat usia 5 tahun anak-anak makinmenyukai petualangan dan lebih berani mengambil resiko dengan melakukan aktivitas yang sedikit berbahaya seperti berlari cepat, memanjat dan menyukai balap (racing).38

Dalam kajian teori yang lain, Elizabeth B. Hurlock menjelaskan, ketika berusia 5 atau 6 tahun anak dapat mengendalikan gerakan kasar yang melibatkan seluruh anggota badan seperti gerakan melompat, berlari, berjalan, berenang dan sebagainya. Setelah berumur 5 tahun terjadi perkembangan yang lebih besar dalam pengendalian koordinasi gerak yang melibatkan otot kecil seperti menggenggam, melempar, menangkap bola dan sebagainya.39

Berikut ini akan dijabarkan beberapa tahapan karakteristik dari pengembangan motorik kasar anak usia dini usia 4 - 6 Tahun

37 Christiana Hari Soetjiningsih, Seri Psikologi Perkembangan:Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-Kanak Akhir, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2012), 251.

38 Ibid., 252.

39 Elizabet B. Hurlock, Perkembangan Anank Usia Dini, 225

(49)

menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia:

Tabel 2.2

Karakteristik Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 4-6 Tahun.40

Usia 4 – 5 Tahun Usia 5 – 6 Tahun

1 2

1. Menirukan gerakan binatang, pohon tertiup angin, pesawat terbang, dsb

2. Melakukan gerakan menggantung (bergelayut) 3. Melakukan gerakan

melompat, meloncat, dan berlari secara terkoordinasi 4. Melempar sesuatu secara

terarah

5. Menangkap sesuatu secara tepat

6. Melakukan gerakan antisipasi 7. Menendang sesuatu secara

terarah

8. Memanfaatkan alat permainan di luar kelas

1. Melakukan gerakan tubuh secara terkoordinasi untuk melatih kelenturan,

keseimbangan, dan kelincahan

2. Melakukan koordinasi gerakan mata-kakitangan- kepala dalam menirukan tarian atau senam

3. Melakukan permainan fisik dengan aturan

4. Terampil menggunakan tangan kanan dan kiri 5. Melakukan kegiatan

kebersihan diri

Berdasarkan karakteristik yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diketahui bahwa anak usia 5-6 tahun (kelompok B), mereka dapat melakukan gerakan yang terkoordinasi, perkembangan bahasa sudah baik dan mampu berinteraksi sosial. Usia ini juga merupakan masa sensitif bagi anak untuk belajar menggerakkan kemapuan otot besar dan otot halus. Dengan koordinasi gerakan yang baik anak mampu menggerakan segala kemampuan otot- ototnya.

40 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 137 Tahun 2014 Tentang Standart Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.

(50)

1. Kajian Teori Tentang Permainan Papan Titian a. Pengertian Bermain

Sebagai upaya untuk memudahkan pemahaman pembaca dan menjadikan pembahasan ini agar lebih sistematis, maka perlu kiranya di sini peneliti membahas satu persatu mulai dari pengertian umum tentang bermain / permainan dan pengertian tentang permainan papan titian itu sendiri. Dengan demikian, dapat ditentukan secara pasti apa yang dimaksud dan terkandung dalam permainan papan titian.

Istilah bermain berasal dari kata dasar “main” yang mendapat imbuhan “ber-an”. Dalam kamus besar Indonesia, main adalah berbuat sesuatu yang menyenangkan hati dengan menggunakan alat atau tidak.41

Bermain (play) adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara suka rela tidak ada paksaan dan tidak ada tekanan dari luar atau kewajiban. Sedangkan yag dimaksud dengan alat permainan adalah semua alat yang digunakan anak untuk memenuhi naluri bermainnya.42

Adapun menurut Santrock seperti dikutip Euis Kurniati menjelaskan bahwa pengertian bermain adalah suatu kegiatan yang

41 J.S. Poerwadaminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), 214.

42 Elizabeth. B. Hurlock, 160

(51)

menyenangkan yang dilaksanakan untuk kepentingan kegiatan itu sendiri.43

Senada dengan pengertian di atas, Dockett da Fleer seperti dikutip oleh Euis Kurniati juga menjelaskan bermain adalah suatu aktivitas bermain yang di dalamnya telah memiliki aturan yang jelas dan disepakati bersama.44

Menurut Mayke S. Tedjasaputra, mengungkapkan bahwa bermain adalah berbagai kegiatan yang sebenarnya dirancang dengan maksud agar anak dapat meningkatkan beberapa kemampuan tertentu berdasarkan pengalaman belajar.45

Dari beberapa pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan bermain adalah suatu bentuk kegiatan/aktivitas yang menyenangkan bagi anak yang mampu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Dimana dalam bermain, anak-anak dapat menyalurkan keinginannya melalui alat permainan. Dari pemahaman tersebut, dapat dibedakan antara bermain dengan permainan.

Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan sedangkan permainan menjadi media anak dalam menyalurkan hobinya.

b. Tujuan dari Permainan

Mengingat permainan identik dengan dunia anak-anak, maka diharapkan guru hendaknya dapat memilih jenis permainan yang

43 Euis Kurniati, Permainan Tradisional Dan Perannya Dalam Mengembangkan Keterampian Sosial Anak, 1.

44 Ibid., 1.

45 Mayke S. Tedjasaputra, Bermain dan Permainan untuk Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta:

Grasindo, 2006), 30.

(52)

memiliki nilai edukatif dan sesuai dengan tahapan anak usia dini.

Dimana rangsangan yang diberikan melalui media permainan harus sesuai dengan perkembagan mereka yang meliputi aspek kognitif, bahasa, emosi, sosial, dan aspek perkembangan fisik.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa permainan mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan potensi anak, karena dalam melakukan aktivitas bermain, anak akan menemukan pengalaman belajar yang berguna bagi dirinya. Adapun tujuan dari permainan menurut Mayke S. Tedjasaputra, adalah:

1) Untuk perkembangan aspek fisik

Bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya. Dan juga sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang bila terpendam terus akan membuat anak tegang, gelisah, dan mudah tersinggung.

Maka dari itu, bermain adalah kegiatan yang sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan juga membantu anak dalam perkembangan secara fisiologisnya.

2) Untuk perkembangan motorik kasar dan motorik halus

Anak usia sekitar 4-5 tahun mulai belajar menggambar bentuk-bentuk tertentu yang biasanya merupakan gabungan dari bentuk-bentuk geometri misalnya gambar rumah, orang, dan lain-lain. Aspek motorik kasar juga dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain, misalnya berlari, melompat, dan memanjat.

(53)

3) Untuk perkembangan aspek sosial

Dengan bermain bersama teman sebaya, anak akan belajar berbagai hak milik, menggunakan mainan secara bergilir, melakukan kegiatan bersama, mempertahankan hubungan yang sudah terbina dan mencari cara pemecahan masalah yang sedang dihadapi secara bersama-sama. Melalui permainan pura-pura anak akan belajar bagaimana berlaku sebagai orang tua, guru, pembantu, dokter dan lainnya. Anak akan belajar tentang peran dan tingkah laku apa yang diharapkan dari seorang anak perempuan dan laki-laki.

4) Untuk perkembangan aspek emosi

Dengan bermain anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya karena banyaknya larangan yang dialaminya sehari-hari. Dengan kegiatan bermain yang dilakukan bersama sekelompok teman, anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan-kelebihan yang ia miliki sehingga dapat membantu konsep diri yang positif.

5) Untuk perkembangan aspek kognitif

Aspek kognisi diartikan sebagai pengetahuan yang luas, daya nalar, kreativitas (daya cipta), kemampuan berbahasa, serta daya ingat. Kreativitas (daya cipta) dapat dikembangkan dengan percobaan serta pengalaman yang ia peroleh selama bermain.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pembelajaran motorik kasar pembelajaran diberikan dengan suasana yang menyena ngkan anak tidak hanya melihat guru dalam memberi contoh gerakan, tetapi kalau gerakan ini di

Adapun manfaat kemampuan motorik kasar anak usia dini menurut Hurlock (1978: 162) yaitu melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya untuk memperoleh

Perkembanagan keterampilan motorik kasar ini sangat tepat dilakukan dengan permainan jembatan buayakarena pada usia ini anak masih senang bermain dinama anak melakukan

Melalui penelitian tentang kemampuan motorik kasar anak kelompok A dengan aspek melakukan gerakan melompat, meloncat, dan berlari secara terkoordinasi dinyatakan bahwa

Banyaknya pendapat tentang motorik kasar, dapat disimpulkan bahwa motorik kasar adalah suatu kemampuan fisik dalam melakukan gerakan- gerakan seperti berjalan, meloncat,

Dengan melakukan permainan lompatan kaki gajah, kemampuan motorik kasar anak dapat di stimulasi untuk ditingkatkan dari yang semula motorik kasarnya rendah

Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti inngin melakukan penelitian dengan judul : “Upaya Meningkatkan Perkembangan Motorik Kasar Melalui Permainan Tradisional Egrang Batok

Pengembangan motorik kasar pada anak usia dini bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih gerakan kasar, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta