1 UPAYA PEMERINTAH DAERAH KOTA SALATIGA DALAM
MEMPERTAHANKAN OPINI WAJAR TANPA PENGECUALIAN ATAS LAPORAN KEUANGAN BERBASIS AKRUAL
Reynata Putri Purwaningtyas
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kesatuan yang berbentuk republik dengan sistem pemerintahan presidensial yang bersifat parlementer. Pemerintahan di Indonesia terbagi antara pusat dan daerah. Sejak adanya reformasi, otonomi daerah semakin berkembang dan Pemerintah Daerah telah dibentuk untuk menangani urusan pemerintahan melalui Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang berpegang pada prinsip asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Pemerintah Daerah memiliki kewenangan penuh untuk mengatur daerahnya. Kewenangan tersebut menuntut untuk transparan dan akuntabel dengan memperhatikan kualitas dan memiliki tanggung jawab kepada para pemangku kepentingannya (stakeholder) dengan membuat laporan keuangan.
Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah mencerminkan prinsip transparansi dan akuntabilitas pada pengelolaan keuangan yang disajikan secara wajar dan berkualitas (Labasido & Darwanis, 2019). Laporan keuangan bisa dikatakan wajar jika tidak ada salah saji material. Evaluasi atas kewajaran laporan keuangan dilakukan oleh auditor independen dan disajikan dalam bentuk laporan audit. Laporan keuangan dapat dianggap relevan jika dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan (Suhartanto, 2013).
Sistem tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) harus menghasilkan laporan keuangan dengan menerapkan akuntansi berbasis akrual (Afrarudin & Kurniati, 2016). Implementasi akuntansi berbasis akrual dalam pelaporan membantu menilai kinerja pemerintah dalam hal biaya jasa layanan, efisiensi dan pencapaian kinerja (Henukh et al., 2020). Akuntansi berbasis akrual sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 (Peraturan Pemerintah
2 Nomor 71 tahun, 2010) tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) Pemerintah Pusat dan Daerah. SAP adalah panduan untuk mengintegrasikan persepsi, pengolahan, pengguna dan auditor yang digunakan sebagai acuan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan. Di Pemerintah Daerah, penggunaan SAP berbasis akrual diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 (Republik Indonesia, 2013).
Laporan audit dikeluarkan oleh auditor independen pemerintah yaitu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan memberikan keyakinan kepada pemangku kepentingan atas kewajaran informasi yang diberikan oleh pemerintah daerah.
Menurut (Amyulianthy, 2020) ada lima jenis opini yang diberikan oleh BPK yaitu opini wajar tanpa pengecualian (WTP), opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf sejenis (WTP-DPP), opini wajar dengan pengecualian (WDP), opini tidak wajar (TW) dan tidak memberikan pendapat (TMP).
Opini wajar tanpa pengecualian (WTP) merupakan nilai tertinggi atas kualitas pengelolaan keuangan dan memastikan bahwa informasi keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang berlaku (Budiman et al., 2014). Opini WTP memiliki peran strategis yang berpengaruh secara signifikan terhadap pengakuan dan pembuktian kepada seluruh negara di Asia Tenggara dan Internasional (Atmaja W & Probohudono, 2018). Pencapaian opini WTP merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan dana insentif bagi Pemerintah Daerah dengan menyajikan laporan keuangan yang wajar dan berkualitas. Dana insentif daerah adalah dana yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan memperhatikan kriteria pelaksanaan fungsi pendidikan (Januarti, 2012). Selain itu, Pemerintah Pusat akan mengizinkan Pemerintah Daerah yang telah mendapatkan opini WTP sebanyak dua kali berturut-turut untuk menerbitkan obligasi daerah sebagai penerima dana insentif (Muttaqin et al., 2017).
Capaian opini WTP ditargetkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara (RPJMN) tahun 2020-2024 di bidang tata kelola dan reformasi sistem akuntabilitas kinerja instansi Pemerintah Pusat. Target yang ditetapkan dalam RPJMN untuk Pemerintah Daerah yaitu rata-rata nasional capaian opini WTP sebesar 77% di kabupaten sedangkan kota sebesar 91%. Target capaian opini
3 WTP telah dicapai oleh Pemerintah Daerah tahun anggaran 2020 sebesar 88%
untuk kabupaten dan kota sebesar 95%. Target ini mengalami peningkatan dari tahun anggaran 2016 untuk kabupaten sebesar 66% dan kota sebesar 77%. Hal tersebut menunjukkan pencapaian opini WTP LKPD tahun anggaran 2020 berhasil meraih target RPJMN dalam bidang tata kelola dan reformasi sistem akuntabilitas kinerja instansi Pemerintah Pusat tahun 2020.
Tabel 1.1
Perbandingan Capaian Opini oleh LKPD di Indonesia Tahun anggaran 2018-2020
Tahun Jumlah LKPD/Tahun
Rata-Rata Target WTP
WTP WDP TMP TW Keterangan
2018 542 378 443 86 13 - -
2019 542 378 485 50 6 - -
2020 541 378 486 49 4 2 Masih Ada yang
belum melaporkan laporan keuangan.
Sumber : IHPS Semester II tahun 2019-2020 dan IHPS Semester I tahun 2021 Tahun anggaran 2019 menunjukkan LKPD mengalami kenaikan opini WTP sebesar 42 LKPD dan opini WDP berkurang 36 LKPD, opini TW tidak ada dan opini TMP berkurang sebesar 7 LKPD. Peningkatan tersebut berlanjut pada tahun anggaran 2020, dengan opini WTP meningkat sebesar 1 LKPD. Jumlah keseluruhan opini atas LKPD tahun anggaran 2020 opini WTP mencapai 90% dari total LKPD, opini WDP mencapai 9% dari total LKPD, opini TMP mencapai 0,7%
dari total LKPD, dan opini TW 0,3% dari total LKPD. Peningkatan opini WTP dan penurunan pada opini WDP, TMP dan TW serta kualitas LKPD di Jawa Tengah dicapai setelah Pemerintah Daerah menerapkan SAP berbasis akrual (Effendi, 2021). Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dalam tata kelola keuangan Pemerintah Daerah.
4 Tabel 1.2
Capaian Opini oleh LKPD Kabupaten/Kota Jawa Tengah Tahun anggaran 2017-2021
No Nama Kabupaten/ Kota Tahun Perubahan
2017 2018 2019 2020 2021
1 Prov.Jawa Tengah WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
2 Kab. Banjarnegara WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
3 Kab. Banyumas WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
4 Kab. Batang WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
5 Kab. Blora WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
6 Kab. Boyolali WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
7 Kab. Brebes WDP WDP WTP WTP WTP Meningkat
8 Kab. Cilacap WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
9 Kab. Demak WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
10 Kab. Grobogan WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
11 Kab. Jepara WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
12 Kab. Karanganyar WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
13 Kab. Kebumen WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
14 Kab. Kendal WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
15 Kab. Klaten WDP WTP WTP WTP WTP Meningkat
16 Kab. Kudus WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
17 Kab. Magelang WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
18 Kab. Pati WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
19 Kab. Pekalongan WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
20 Kab. Pemalang WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
21 Kab. Purbalingga WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
22 Kab. Purworejo WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
23 Kab. Rembang WDP WTP WTP WTP WTP Meningkat
24 Kab. Semarang WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
25 Kab. Sragen WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
26 Kab. Sukoharjo WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
27 Kab. Tegal WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
28 Kab. Temanggung WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
29 Kab. Wonogiri WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
30 Kab. Wonosobo WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
31 Kota Magelang WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
32 Kota Pekalongan WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
33 Kota Salatiga WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
34 Kota Semarang WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
35 Kota Surakarta WTP WTP WTP WTP WTP Tetap
36 Kota Tegal WDP WTP WTP WTP WTP Meningkat
Sumber: IHPS Semester I tahun 2021 dan https://jateng.bpk.go.id/lhp-lkpd/
5 Berdasarkan tabel di atas, hasil capaian opini WTP menunjukkan konsistensi selama lima tahun berturut-turut. Sebanyak 4 Pemerintah Daerah meningkatkan pencapaian peringkat opini WTP dan 32 Pemerintah daerah mencapai peringkat opini WTP yang konsisten. Pencapaian opini WTP mencerminkan akuntabilitas yang merupakan langkah awal untuk meningkatkan kinerja pemerintah daerah menjadi lebih baik (Muttaqin et al., 2017).
Perolehan opini atas laporan keuangan di Jawa Tengah cenderung meningkat dari tahun 2017 hingga tahun 2021, namun karena adanya perbedaan penyajian laporan keuangan dengan SAP, maka opini WDP pada tahun sebelumnya seperti kota Tegal, Kabupaten Rembang, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Brebes masih menerima. SPI yang masih menjadi titik lemah dan belum sesuai dengan perundang-undangan. Masalah utama ketidaksesuaian penyajian dengan SAP terletak pada pengelolaan aset tetap milik Pemerintah daerah, yakni inkonsistensi aset fisik. Masalah ini berujung pada penyelidikan BPK di Kota Tegal. Artinya masih terdapat ketidaksesuaian antara aset fisik daerah dengan catatan dalam neraca (BPK RI, 2017) . Dalam laporan keuangan, akun aset tetap memberikan kontribusi besar terhadap neraca sehingga mempengaruhi pemberian opini audit oleh BPK (Muttaqin et al., 2017).
Kelemahan SPI ditemukan pada pengelolaan aset tetap yang belum memadai di Kabupaten Rembang. Hal ini karena aset tetap tidak dapat ditemukan dan nilainya tidak diketahui. Selain itu, pengelolaan piutang dan pengelolaan penerimaan pajak belum memadai. Pengelolaan piutang meliputi pengendalian piutang dan pendapatan pajak mineral bukan logam, namun masih belum optimal dan pemeriksaan pajak daerah tidak dilakukan secara memadai (PEMDA REMBANG, 2016).
Penyediaan jasa pelaksanaan pekerjaan di Dinas Pendidikan menjadi temuan di Kabupaten Klaten. Temuan yang dicatat oleh BPK adalah pengadaan buku dan renovasi ruang kelas dari APBD 2016 tidak sesuai. Proyek yang dikelola swakelola tetapi melibatkan pihak ketiga. Kendala kedua yang diterima oleh Kabupaten Klaten adalah bahwa adanya hibah khusus tidak dimasukkan dalam kebijakan umum anggaran dan prioritas anggaran sementara (Hamidayanti, 2018).
6 Permasalahan ketidakpatuhan SAP untuk aset tetap dapat diatasi. Salah satunya dengan menerapkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) (Wuysang et al., 2016). Sistem ini membantu meningkatkan akuntabilitas keuangan dan kinerja pemerintah daerah, dengan tujuan memberikan akses mudah kepada pemerintah daerah ke data aset daerah dari input dan pemantauan. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan penatausahaan, maka mudah diketahui. Sistem yang baik membutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Menurut (Simanjuntak, 2005) faktor kunci keberhasilan implementasi SAP berbasis akrual adalah ketersediaan tenaga akuntansi yang kompeten dan andal, yaitu pemahaman tentang sarana terkait SAP berbasis akrual dan latar belakang pendidikan yang diperoleh. Selain itu, diperlukan sistem aplikasi teknologi komputer yang terintegrasi, inventarisasi aset dan utang serta penyampaian laporan keuangan yang tepat waktu dalam entitas (Darwanis & Mahayani, 2009).
Mengingat kerentanan SPI (Satuan Pengawasan Intern) tersebut, maka perlu disusun sebuah SPI untuk melaksanakan seluruh proses kegiatan untuk mengendalikan proses penyusunan laporan keuangan di pemerintahan daerah.
Pengendalian mencakup pengendalian kas, persediaan, piutang, aset tetap, belanja dan pengendalian lain yang memerlukan pengawasan yang lebih efektif atas pelaksanaan anggaran (Januarti, 2012). Pimpinan mempunyai tanggung jawab melalui proses pembinaan, pemantauan dan pengendalian. Keterlibatan kepemimpinan organisasi dipercayakan dengan pengawasan dan pengendalian pengelolaan keuangan maupun pengelolaan aset tetap, hal ini memperlukan koordinasi yang intensif antar SKPD. Pihak Inspektorat mempunyai peran dalam meningkatkan quality assurance dengan membuat reviu atas laporan keuangan sebelum diserahkan ke BPK. Inspektorat mendampingi saat BPK melakukan pemeriksaan di pemerintah daerah. (Puspa & Prasetyo, 2020)
Kepatuhan terhadap undang-undang dapat dicapai melalui penyusunan dan penetapan peraturan yang secara khusus mengatur perencanaan, pelaporan dan evaluasi belanja hibah. Penyimpangan administratif merupakan salah satu bentuk ketidakpatuhan perundang-undangan. Hal ini dapat menyebabkan kerugian negara.
Penyimpangan tersebut berulang kali merupakan hasil pemeriksaan BPK, sekaligus menjadi bahan pembenahan institusi pemerintahan yang lain. Tindak lanjut dari
7 temuan BPK tersebut merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki tata kelola organisasi pemerintahan yang bersangkutan (Aziiz, 2019).
Pemerintah daerah Kota Salatiga telah menerima opini WDP selama sepuluh tahun anggaran (2006-2015). Sejak diterapkannya SAP berbasis akrual pada tahun 2015 sesuai Permendagri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan SAP berbasis akrual, laporan keuangan yang diajukan tetap menerima opini WDP.
Permasalahan Pemda Kota Salatiga bersama dengan tujuh Pemerintah daerah lainnya di Jawa Tengah menerima opini WDP tahun anggaran 2015 sesuai dengan pernyataan BPK, yaitu 1) kekurangan kas yang belum ditetapkan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kekurangan tersebut; 2) BUMD memiliki piutang tak tertagih yang menunggu penuntutan dan jumlah pasti yang belum diketahui; 3) Aset tanah yang kewajaran dan keberadaannya tidak diketahui, bersertifikat ganda, dan tidak bisa dibandingkan dengan Kartu Inventaris Barang, ada aset tetap peralatan dan mesin tidak terinci unit, jenis dan jumlah, serta tidak diketahui aset tetap seperti jalan, irigrasi, jaringan dan pengendalian internal atas pencatatan dan pelaporan aset tetap masih lemah; 4) pengendalian internal atas pencatatan dan pelaporan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang masih lemah.
Pada tahun 2016, Kota Salatiga memperoleh Opini Wajar Tanpa Pengecualian berdasarkan tindak lanjut yang direkomendasikan oleh Badan Pengelolaan Keuangan. Diperolehnya Opini WTP LKPD Kota Salatiga menunjukkan bahwa kualitas pelaporan keuangan disajikan secara wajar dan disusun sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan SAP berbasis akrual, sehingga ada perbaikan mengenai tata kelola Pemerintah Daerah Kota Salatiga. Maka perolehan opini tidak sama setiap tahunnya, sehingga perlu adanya strategi pemerintah daerah untuk mempertahankan opini WTP di tahun berikutnya. Pemerintah Daerah Kota Salatiga telah mempersiapkan untuk mempertahankan opini WTP dengan membuat komitmen dari pemimpin dan pegawai dengan menandatangani dokumen kontrak kinerja dan sosialisasi terkait kebijakan umum pemerintah. Dengan melakukan persiapan tersebut, Pemerintah Daerah Kota Salatiga kembali menerima opini WTP ditahun anggaran 2017.
Pencapaian opini WTP tidak terlepas dari upaya yang dilakukan untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang disajikan memenuhi standar yang ditetapkan oleh
8 BPK yang menghasilkan opini wajar dan bebas salah saji material (Amyulianthy, 2020).
Pada Pemerintah Daerah Kota Salatiga masih terdapat adanya mutasi jabatan para aparatur daerah dan penggunaan aplikasi sistem informasi administrasi persediaan (SIAP) yang belum optimal sehingga, penelitian ini bertujuan menganalisis upaya Pemerintah Daerah Kota Salatiga dalam mempertahankan opini wajar tanpa pengecualian yang diraih sejak tahun 2016 serta dapat mengetahui upaya yang disiapkan dan diterapkan pemerintah dalam mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis yakni, dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan di bidang ilmu akuntansi sektor publik, dimana hasil dari penelitian dapat dijadikan bahan rujukan bagi peneliti lainnya yang akan melakukan penelitian sejenis terutama dalam mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual. Manfaat praktis penelitian ini, dapat menjadi bahan evaluasi karena memberikan informasi tentang upaya Pemerintah Daerah Kota Salatiga dalam rangka mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual dan dapat memberikan referensi upaya bagi entitas pemerintah daerah yang telah memperoleh opini WTP di tahun sebelumnya sehingga kedepannya dapat menjalankan strategi tersebut untuk mempertahankan opini WTP.
Penelitian sejenis dilakukan (Muttaqin et al., 2017) dengan menerapkan SAP berbasis akrual sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 dan merancang strategi untuk memperoleh opini WTP. Penelitian ini berfokus pada tekanan untuk meningkatkan akuntabilitas pelaporan keuangan dan mengurangi resistensi pihak terkait dengan perubahan organisasi. Perbedaannya dimana peneliti berfokus dari sisi pemerintah daerah dalam mempertahankan opini WTP setelah menerapkan SAP berbasis akrual sedangkan peneliti terdahulu mempertahankan opini WTP sebelum menerapkan SAP berbasis akrual. Mengingat prospek tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dalam mengembangkan strategi masa depan untuk mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual.
9 TINJAUAN PUSTAKA
Pemeriksaan Keuangan
Pemerintah daerah sedang mengalami berada di paradigma untuk mencapai tata kelola pemerintah yang baik (good governance). Tujuanya adalah pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Tata kelola pemerintahan yang baik terlihat dalam pengelolaan keuangan, penyajian laporan keuangan dan akuntabilitas keuangan (Muttaqin et al., 2017).
Pemeriksaan (audit) keuangan negara adalah proses mengidentifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen, objektif serta profesional yang dilaksanakan berdasarkan standar pemeriksaan yang telah ditentukan untuk menilai keakuratan, integritas dan keandalan informasi terkait pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara (DPR, 2004). Dalam proses pemeriksaan laporan keuangan dilakukan untuk meyakinkan pengguna laporan keuangan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar.
Lembaga negara yang berwenang melakukan pemeriksaan keuangan negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). BPK bertindak sebagai auditor eksternal bagi pemerintah. Pemeriksaan keuangan negara terdiri dari beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan sesuai dengan tujuannya. Jenis pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan oleh BPK :
1. Pemeriksaan Kinerja
Pemeriksaan kinerja merupakan pemeriksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi yang terdiri dari pemeriksaan ekonomi, efektivitas dan efisiensi yang dilakukan oleh suatu manajemen untuk memahami dan meningkatkan kebutuhan kinerja lembaga yang diaudit. Hasil dari pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan kinerja yang berisi temuan, kesimpulan dan rekomendasi kepada instansi pemerintah. Laporan hasil evaluasi kinerja akan disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD.
2. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Pemeriksaan dengan tujuan tertentu merupakan pemeriksaan selain pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja. Pemeriksaan ini dilakukan untuk tujuan khusus tertentu sebagai tindak lanjut pemeriksaan yang telah dilakukan karena adanya hal penting yang harus diselesaikan yang berkaitan dengan
10 pemeriksaan investigatif untuk mendapatkan kesimpulan pemeriksaan. Laporan hasil yang memuat tujuan tertentu akan disampaikan DPR/DPD/DPRD setelah berkonsultasi dengan instansi terkait. Misalnya, ada dugaan unsur pidana dalam tindakan keuangan suatu instansi atau juga memeriksa pelaksanaan suatu rekomendasi dari BPK kepada instansi terperiksa.
3. Pemeriksaan keuangan
Pemeriksaan atas laporan keuangan pusat dan daerah menghasilkan pendapat atas tingkat kewajaran informasi yang dimuat dalam laporan keuangan pemerintah. Hasil pemeriksaan dirangkum dan disajikan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaaan atas laporan keuangan pemerintah. Ruang lingkup pemeriksaan keuangan yang dilakukan oleh BPK meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban serta pengawasan. Berdasarkan hasil audit keuangan, BPK akan memberikan opini auditor atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. BPK memberikan pernyataan opini sesuai dengan (Auditing ASA, n.d.) Standar Auditing (508:4). Ada 5 opini yaitu :
A. Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
Opini WTP diberikan oleh auditor ketika laporan keuangan disajikan secara wajar dalam semua aspek material, posisi keuangan dan arus kas suatu perusahaan tertentu sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Hal tersebut yang menyatakan opini WTP menjadi opini tertinggi atas laporan keuangan.
B. Opini Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan (WTP-DPP) Opini yang disimpulkan auditor mengenai laporan keuangan telah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, akan tetapi ada beberapa keadaan yang perlu menambahkan paragraf penjelas ke dalam laporan auditnya.
C. Opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP)
Opini auditor tentang apakah laporan keuangan menyajikan secara wajar dalam semua aspek material, posisi keuangan, dan arus kas suatu entitas tertentu sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku kecuali untuk hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan.
D. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat (TMP)
11 Auditor menyimpulkan tidak akan menyatakan opini atas laporan keuangan yang diaudit jika masih terdapat lingkup audit yang material dan auditor tidak independen kepada klien.
E. Opini Tidak Wajar (TW)
Opini tersebut menyatakan bahwa laporan keuangan tidak secara wajar dalam posisi keuangan dan arus kas perusahaan tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi.
Kriteria Dalam Pemberian Opini Pemeriksaan Keuangan
Memberikan opini kepada pemerintah daerah berdasarkan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004. Semakin banyak kriteria terpenuhi, semakin tinggi opini pemerintah daerah. Kriteria untuk memberikan opini pemerintah daerah :
1. Kesesuaian Dengan Standar Akuntansi Pemerintah
Penyajian laporan keuangan pemerintah daerah harus dapat dipertanggungjawabkan dan transparan dengan menerapkan akuntansi berbasis akrual. Standar diperlukan karena pelaporan keuangan digunakan oleh pihak eksternal, auditor eksternal, dan praktisi pelaporan keuangan. Sebagai alat untuk menyatukan persepsi pengguna informasi, standar disajikan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Menurut PP No. 71 Tahun 2010, standar akuntansi yang berlaku umum bagi instansi pemerintah adalah Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), yang merupakan prinsip akuntansi untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan pemerintah.
SAP merupakan pedoman yang berlaku untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan pemerintah dan digunakan untuk mencapai persepsi antara penyusun, pengguna dan auditor. SAP diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yang mengatur bahwa semua perusahaan pelapor wajib menggunakan SAP. Kami telah menggunakan SAP berbasis akrual sejak 2015 untuk mengakui pendapatan, pengeluaran, aset, kewajiban dan ekuitas dalam pelaporan keuangan akrual dan untuk melacak pendapatan saat melaporkan pelaksanaan anggaran dasar yang ditentukan dalam APBN/APBD (Afrarudin & Kurniati, 2016).
12 Diimplementasikan dengan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010, SAP terdiri dari kerangka kerja konseptual dan pernyataan standar akuntansi. Sebuah PSAP terdiri dari 12 pernyataan adalah :
a. PSAP 01 : Penyajian laporan keuangan b. PSAP 02 : Laporan Realisasi Anggaran c. PSAP 03 : Laporan Arus Kas
d. PSAP 04 : Catatan atas Laporan Keuangan e. PSAP 05 : Akuntansi Persediaan
f. PSAP 06 : Akuntansi Investasi
g. PSAP 08 : Akuntansi Konstruksi dalam pengerjaan h. PSAP 09 : Akuntansi Kewajiban
i. PSAP 10 : Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi. Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa
j. PSAP 11 : Laporan Keuangan Konsolidasi k. PSAP 12 : Laporan Operasional
Selain penerapan akuntansi akrual pada laporan keuangan, SAP akrual mengatur bahwa proses penganggaran tetap dilakukan secara kas basis. Basis kas digunakan saat mencatat pendapatan dan beban saat menggunakan kas yang terdiri dari laporan pelaksanaan anggaran, laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan.
Pelaporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan negara/daerah untuk jangka waktu tertentu. Laporan keuangan adalah laporan terstruktur dari situasi keuangan dan transaksi yang dilakukan oleh entitas pelaporan. Penyajian laporan keuangan sesuai dengan SAP yang berlaku untuk meningkatkan komparabilitas laporan keuangan antara anggaran, periode dan entitas.
Laporan keuangan berbasis akrual memberikan informasi tentang entitas pelaporan: Aset, Kewajiban, Ekuitas, Pendapatan LRA, Beban, Transfer, Pendanaan, Saldo Surplus Anggaran, Pendapatan LO, Beban, dan Arus Kas.
Informasi tersebut muncul di bagian komponen laporan keuangan. Dengan penerapan basis akrual berdasarkan PP No. 71 Tahun 2010, komponen laporan
13 keuangan mengalami perubahan. Perbandingan komponen laporan keuangan antara berbasis kas menuju akrual, dan berbasis akrual ditujukan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1
Perbandingan komponen laporan keuangan
PP Nomor 24 Tahun 2005 (Berbasis Kas Menuju Akrual)
PP No 71 Tahun 2010 (Berbasis Akrual)
Laporan Keuangan Pokok:
a. Laporan Realisasi Anggaran
(LRA)
b. Neraca
c. Laporan Arus Kas
d. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Laporan Keuangan Pokok:
a. Laporan Realisasi Anggaran
b. Laporan Perubahan SAL
c. Neraca
d. Laporan Operasional
e. Laporan Arus Kas
f. Laporan Perubahan Ekuitas
g. Catatan atas Laporan Keuangan Memberikan opsi laporan yang
bersifat opsional:
a. Laporan Kinerja Keuangan
b. Laporan Perubahan Ekuitas
Sumber: Modul Penerapan Akuntansi Berbasis Akrual Pemerintah Daerah Berdasarkan perbandingan ini, Komponen Pelaporan Akrual memiliki tiga Komponen Pelaporan Keuangan tambahan: Neraca, Laporan Operasional, Laporan Ekuitas, dan opsi pelaporan opsional tambahan. Berikut penjelasan dari setiap laporan keuangan pokok yang harus disajikan oleh pemerintah :
A. Laporan realisasi anggaran (LRA)
Laporan Realisasi Anggaran adalah laporan yang memuat informasi realisasi LRA penerimaan, belanja, transfer, LRA surplus/defisit, pendanaan, dan sisa dana lebih/kurang yang masing-masing dibandingkan dengan anggaran periode berjalan (Republik Indonesia, 2013). LRA memberikan gambaran tentang sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikendalikan pemerintah, menunjukkan perbandingan anggaran dan realisasi selama periode pelaporan.
Manfaat LRA menginformasikan pengguna pelaporan saat mengevaluasi keputusan terkait alokasi sumber daya keuangan, akuntabilitas, dan kepatuhan anggaran oleh entitas pelapor
B. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL)
14 Laporan Perubahan SAL adalah laporan yang memuat informasi kenaikan atau penurunan SAL pada tahun pelaporan dan terdiri dari SAL Awal, SiLPA/SiKPA, Modifikasi dan SAL Akhir (Republik Indonesia, 2013) (Permendagri No. 64 Tahun 2013). Laporan perubahan SAL memuat nilai SiLPA/SiKPA yang menunjukkan uang tunai, sehingga terkait dengan LRA.
C. Neraca
Neraca adalah laporan yang memuat informasi tentang posisi keuangan suatu entitas pelapor dalam hal aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu (Republik Indonesia, 2013). Dalam neraca, aset dan kewajiban dibagi menjadi beberapa kategori. Aset dibagi menjadi aset tidak lancar dan aset lancar, dan kewajiban dibagi menjadi kewajiban tidak lancar dan kewajiban lancar. Modal dana memberikan informasi tentang kekayaan negara.
D. Laporan Operasional (LO)
Laporan yang menyajikan informasi seluruh aktivitas operasi keuangan entitas pelapor yang tercermin dari pendapatan, beban, dan surplus/defisit LO entitas pelapor yang penyajiannya dibandingkan dengan periode sebelumnya (Republik Indonesia, 2013) (Permendagri No. 64 Tahun 2013). LO memberikan gambaran tentang sumber daya ekonomi penggalangan modal dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk kegiatan administrasi pemerintah pada periode pelaporan (Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan). Item LO termasuk pendapatan LO, pengeluaran, transfer, dan item khusus.
Penyajian LO dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang aktivitas operasi keuangan yang tercermin dalam pendapatan LO, pengeluaran, dan surplus/defisit LO entitas pelapor (PSAP 12). Informasi LO tahun berjalan dibandingkan dengan periode sebelumnya untuk perbandingan. Pengguna laporan menggunakan LO sebagai skor penjualan untuk memandu lembaga pemerintah.
E. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas adalah laporan yang memberikan informasi tentang sumber, penggunaan, dan perubahan kas dan setara kas selama suatu periode akuntansi serta saldo kas dan setara kas pada tanggal neraca (Republik Indonesia, 2013) (Permendagri No. 64 Tahun 2013). Laporan arus kas berisi informasi kas yang terkait dengan operasi, investasi pada aset non-keuangan, cadangan, transaksi
15 pendanaan dan non-anggaran, dan merupakan neraca pembuka pemerintah pusat/daerah untuk periode tertentu, pendapatan, pengeluaran, dan akhir saldo kas.
Berdasarkan PSAP nomor 3, laporan arus kas memberikan informasi tentang kas perusahaan yang beredar yang dapat digunakan sebagai indikator likuiditas perusahaan di masa yang akan datang. Selain itu, Anda dapat menggunakan laporan arus kas untuk menilai keakuratan perkiraan arus kas yang dibuat sebelumnya.
F. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
Laporan yang memuat informasi perubahan modal yang terdiri dari modal awal, LO surplus/defisit, koreksi dan modal akhir (Republik Indonesia, 2013) (Permendagri No. 64 Tahun 2013). LPE menyajikan informasi kenaikan atau penurunan modal tahun laporan dibandingkan tahun laporan sebelumnya.
G. Catatan atas laporan keuangan (CaLK)
Laporan yang berisi informasi untuk menjelaskan, merinci atau menganalisis nilai pos-pos yang disajikan dalam LRA, LPSAL, LO, LPE, neraca dan LAK, dalam kaitannya dengan pengungkapan yang tepat(Republik Indonesia, 2013) (Permendagri nomor 64 tahun 2013). Tujuan penyajian CaLK adalah untuk meningkatkan transparansi laporan keuangan dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang informasi keuangan pemerintah. CaLK memberikan deskripsi deskriptif tentang angka-angka yang muncul dalam unsur-unsur laporan keuangan dan memberikan informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pelaporan.
Laporan keuangan yang disiapkan oleh pemerintah daerah digunakan oleh pemangku kepentingan dan auditor eksternal sebagai dasar pengambilan keputusan dan memerlukan laporan keuangan yang berkualitas tinggi. Pelaporan keuangan yang berkualitas berdasarkan UU No. 71 Tahun 2010 ditandai dengan relevansi, keandalan, daya banding, dan keterpahaman.
Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP)
Sistem pengendalian internal (SPI) dirancang untuk memastikan otoritas yang wajar untuk mencapai tujuan organisasi melalui operasi yang efektif dan efisien, kredibilitas pelaporan keuangan, perlindungan aset pemerintah, dan memastikan kepatuhan. Ini adalah proses integral untuk tindakan berkelanjutan
16 oleh manajemen dan semua para karyawan. PP No. 60 Tahun 2008 menerapkan SPI di seluruh lingkungan dikenal sebagai Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP).
SPI sendiri merupakan proses yang melibatkan dewan direksi, manajemen, dan karyawan lainnya untuk mencapai tiga tujuan: efektivitas dan efisiensi operasional, pelaporan keuangan yang andal, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku (Chairina & Wehartaty, 2019).
COSO (commite of sponsoring organization of the treadway commission) berpendapat bahwa SPI sebagaimana diatur dalam PP No. 60 tahun 2008 efektif dan efisien dalam mencapai tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, keandalan pelaporan keuangan, perlindungan aset negara, kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan. Implementasi SPI dilaksanakan oleh instansi pemerintah berdasarkan lima komponen COSO antara lain :
1) Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian memberikan arahan dan mempengaruhi persepsi pengendalian orang-orang dalam organisasi. Lingkungan pengendalian merupakan landasan bagi semua komponen pengendalian internal dan memberikan disiplin dan struktur. Pemimpin institusi memiliki tugas untuk menciptakan dan memelihara lingkungan yang terkendali yang menumbuhkan perilaku positif dan kondusif.
2) Penilaian risiko
Sebuah penilaian risiko adalah penilaian kemungkinan risiko yang terjadi ketika tujuan dan sasaran lembaga tercapai. Penilaian risiko dibagi menjadi dua bagian: identifikasi risiko dan analisis risiko. Dalam konteks penilaian risiko, pimpinan lembaga menerapkan tujuan yang jelas dan konsistensi yang tinggi baik di tingkat unit maupun aktivitas. Selain itu, lembaga secara efektif dan efisien mengidentifikasi risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan tersebut.
Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Risiko yang teridentifikasi dianalisis untuk menentukan dampaknya terhadap pencapaian tujuan.
3) Kegiatan pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah penetapan dan penerapan kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa manajemen diinstruksikan bahwa langkah- langkah manajemen risiko telah diterapkan secara efektif. Dalam melaksanakan
17 kegiatan pengendalian disesuaikan dengan ruang lingkup, kompleksitas dan jenis tugas dan fungsi masing-masing lembaga nasional. Unsur-unsur kegiatan pengendalian adalah peninjauan kinerja instansi pemerintah terkait, pengembangan sumber daya manusia, pengendalian manajemen sistem informasi, pengendalian fisik aset, penetapan dan peninjauan indikator dan indikator kinerja, pemisahan tugas, transaksi signifikan dan persetujuan peristiwa dan catatan yang akurat dan transaksi dan kejadian yang tepat waktu, pembatasan akses ke sumber daya dan catatannya, akuntabilitas sumber daya dan catatannya, pengendalian internal dan dokumentasi yang tepat dari transaksi dan peristiwa penting.
4) Informasi dan komunikasi
Eksekutif pemerintah perlu mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan informasi berkualitas tinggi yang tepat waktu untuk menerapkan pengendalian internal yang efektif. Komunikasi informasi yang efektif dicapai melalui penyediaan dan penggunaan berbagai format dan sarana komunikasi, serta pengelolaan, pengembangan, dan pemutakhiran sistem informasi yang berkelanjutan.
5) Pemantauan
Pemantauan adalah proses evaluasi kualitas kinerja SPI dan memastikan bahwa temuan audit dan evaluasi lainnya ditindaklanjuti dengan segera.
Pemantauan dilakukan melalui pemantauan terus menerus, penilaian individu, tindak lanjut rekomendasi dari temuan audit, dan review lainnya. Pemantauan berkelanjutan dilakukan melalui kegiatan administrasi rutin, pemantauan, perbandingan, penyesuaian dan tindakan terkait lainnya dalam pelaksanaan tugas.
Penilaian individu dilakukan melalui penilaian sendiri, validasi, dan uji efektivitas SPI. Hal ini dapat dilakukan oleh petugas pengendalian internal pemerintah atau pihak eksternal pemerintah dengan menggunakan daftar tes pengendalian internal.
Kegiatan tindak lanjut atas temuan audit dan rekomendasi review lainnya segera diselesaikan dan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan untuk menyelesaikan temuan audit dan rekomendasi review lainnya.
Komponen SPIP berfungsi sebagai pedoman untuk menguji efektivitas dan efisiensi SPIP. Selanjutnya, penerapan SPIP membutuhkan proses yang kohesif dan terintegrasi dengan otoritas. SPIP tunduk pada sumber daya manusia dan
18 memberikan kepercayaan yang wajar kepada pemerintah internal. Selain komponen, diperlukan elemen penguat lainnya, seperti Efektivitas dan efisiensi pelaksanaan SPI melalui pengawasan internal dan pengembangan pelaksanaan SPIP (Darwanis & Chairunnisa, 2013).
Pembatasan SPIP disebabkan oleh pengendalian internal tergantung pada evaluasi fungsinya, sehingga dapat dirusak, otorisasi dapat diabaikan oleh seseorang yang berada pada posisi tinggi atau tertentu, dan kecerobohan dan kelelahan dapat menyebabkan pemesanan.
Pelanggaran hukum yang diidentifikasi selama audit keuangan dipublikasikan dalam laporan kepatuhan. John dan Setiawan (2009 : 02) menyatakan bahwa laporan kepatuhan mengungkapkan:
a. Kegagalan untuk mematuhi persyaratan hukum, termasuk pengungkapan dokumen administratif, pelanggaran kewajiban perdata, atau penyimpanan unsur pidana.
b. Ketidakpatuhan yang signifikan jika pemeriksaan tidak ditemukan ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan maka laporan atas kepatuhan tidak diterbitkan. Ketidakpatuhan memiliki peran dalam mempengaruhi pemberian opini oleh auditor
Upaya Penerapan Dalam Rangka Mempertahankan Opini WTP
Diperolehnya laporan WTP dari audit BPK menunjukkan bahwa kualitas manajemen telah membaik, dengan harapan dapat mengurangi korupsi.
Memperoleh peringkat WTP memerlukan strategi, karena memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk menerima dana insentif dan membantu mencapai rencana pembangunan jangka panjang negara. Strategi adalah alat untuk melihat secara objektif situasi internal dan eksternal, memprediksi perubahan lingkungan eksternal, dan mencapai tujuan. Jika terdapat kesenjangan antara regulasi dan kondisi, maka strategi dapat disusun menjadi langkah-langkah yang akan diimplementasikan. Proses manajemen strategi terdiri dari tiga fase: perumusan strategi, eksekusi strategi dan evaluasi strategi. Fase pengembangan strategi menetapkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan tantangan yang dihadapi organisasi dari perspektif eksternal. Hal ini dapat dicapai dengan merumuskan dan memilih strategi tertentu. Tahap implementasi strategi melibatkan penetapan tujuan
19 tahunan, memotivasi karyawan, menetapkan kebijakan, dan menentukan otoritas pengambilan keputusan untuk alokasi sumber daya. Selama fase ini, strategi untuk sistem informasi dikembangkan dan struktur organisasi direncanakan. Sebuah fase di mana strategi yang direncanakan dievaluasi untuk menentukan apakah itu berhasil.
Pemerintah daerah memiliki tujuan untuk mendapatkan opini WTP. Tujuan ini secara tepat mengidentifikasi regulasi yang ingin dicapai dan situasi terkini untuk memfasilitasi rancangan pengelolaan keuangan yang optimal. Jika ada kesenjangan di keduanya, strategi dikembangkan untuk menutup kesenjangan. Di bawah ini adalah proses pemikiran untuk membangun manajemen keuangan : Gambar 2.1 Alur Pikir Penataan Pengelolaan Keuangan Menuju Opini WTP
Strategi dibuat berdasarkan kondisi dan regulasi. Strategi yang dikemukakan Suwanda (2010:145) tidak hanya mencakup penjabaran rencana aksi, tetapi juga penjabaran aspek pendukung lainnya. Ini mencantumkan sembilan strategi untuk mendapatkan opini WTP, sebagai berikut:
1. Komitmen pimpinan
Keterlibatan kepemimpinan adalah level paling dasar dari input WTP.
Pimpinan daerah meliputi kepala daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai pengambil kebijakan, pengambil keputusan dan regulator di daerahnya masing-masing. Keterlibatan dicapai dengan memberikan bimbingan, arahan dan bimbingan dalam semua kegiatan teknis, sosialisasi dan pelatihan lainnya. Komitmen kepemimpinan memacu pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan membuat kesepakatan integritas.
2. Membentuk tim
IMPLEMENTASI
Penyusunan rencana aksi daerah
Strategi
Visi Misi
Renstra APBD
Peraturan Perundang- undangan
Regulasi
Hasil Pemeriksaan BPK Hasil Pengawasan Inspektorat Fakta yang Alami
Kondisi
20 Tahapan berikutnya, pemerintah wilayah melakukan pembentukan tim. Tim ini terdiri atas tim pengawasan & monitoring pelaksana planning aksi dalam taraf kota yang bertugas pada menaikkan pengelolaan LKPD & pendampingan secara pribadi implementasi rencana aksi di lapangan. Selanjutnya, masih ada tim penyelenggaraan akuntansi, pengelolaan barang milik wilayah & tindak lanjut temuan BPK dalam taraf SKPD.
3. Membuat rencana aksi
Rencana aksi disusun buat mengantisipasi inspeksi BPK yang akan dilakukan sinkron baku normatif inspeksi BPK antara lain penekanan pada pemugaran SPI, antisipasi temuan mengenai ketaatan dalam perundang-undangan, kecukupan pengungkapan & kesesuaian SAP. Rencana aksi bertujuan supaya semua jajanan Pemda mengetahui persyaratan sebagai akibatnya opini WTP bisa tercapai menggunakan disusunnya jadwal pelaksanaan. Rencana aksi ini mencakup langkah yang dilakukan, pihak pelaksana, ketika pelaksanaan, input yang diharapkan & hasil yang dihasilkan. Rencana aksi mencakup tindak lanjut atas penyelesaian temuan dalam periode kini & antisipasi temuan pada tahun-tahun mendatang.
4. Menyiapkan anggaran
Pemerintah daerah diharuskan menganggarkan sebagian dari biaya rencana aksi untuk melaksanakan kegiatan. Anggaran yang dikeluarkan untuk pemantauan pelaksanaan rencana aksi dan penelusuran hasil BPK terkait tim pemantau dan pembukuan, pengelolaan kepemilikan daerah, OPD dan biaya lainnya. Usulan anggaran harus telah disetujui oleh pejabat yang berwenang pada saat penyusunan anggaran dan dianggap cukup untuk melakukan pengendalian keuangan masing- masing OPD.
5. Rancangan sistem pengendalian internal
Perancangan sistem manajemen internal untuk melaksanakan seluruh kegiatan pengelolaan proses pengelolaan pelaporan keuangan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Tim dapat menyiapkan surat edaran untuk disampaikan kepada kepala OPD atas nama kepala daerah untuk menata dan mengembangkan pengelolaan sistem pengendalian intern masing-masing OPD.
21 6. Perbaikan sistem akuntansi keuangan serta sistem informasi manajemen
barang daerah
Perbaikan sistem akuntansi keuangan wajib mengacu dalam SAP dan adanya peraturan pendukung lainnya yang berpengaruh aplikasi penyusunan LKPD. Di samping itu sistem kabar manajemen barang wilayah menjadi penunjang pada menaruh kabar menjadi dasar penyusunan neraca dan perencanaan kebutuhan
& penganggaran.
7. Peningkatan sumber daya manusia
Sumber daya manusia sebagai perseteruan pada memperoleh opini WTP.
Pertarungan yang terjadi antara lain perseteruan kuantitas & kualitas sumber daya insan. Pertarungan yang terjadi kekurangan energi pegawai & ketidak seragaman pemahaman dalam masing-masing individu. Perlunya solusi dalam mengatasi perseteruan tadi pada bentuk pelatihan, bimbingan teknis, workshop, seminar, pembentukan tim gabungan, melaksanakan kerja sama menggunakan pihak ketiga
& sebagainya
8. Optimalisasi peran APIP
Periksa sebagai lembaga yang akrab dengan pengawasan di lingkungan kota.
Regulator bertindak sebagai tim pendukung selama pemeriksaan BPK. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi antara BPK dengan pemerintah. Tim pendukung sebagai fasilitator dan moderator selama ujian untuk memastikan ujian berjalan dengan lancar. Selain memberikan bantuan, regulator dapat meninjau laporan keuangan. Review adalah proses pelacakan numerik laporan keuangan, penelitian dan analisis sebagai dasar untuk memberikan jaminan terbatas bahwa tidak ada perubahan material yang perlu dilakukan untuk membawa laporan keuangan sesuai dengan SAP.
9. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana aksi
Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan rencana aksi sebagai semacam sistem penjaminan mutu yang diselenggarakan oleh tim pengawas berlangsung secara terprogram dengan prosedur yang jelas. Hal ini untuk memberikan keyakinan bahwa suatu kegiatan atau program OPD konsisten dengan rencana aksi yang telah ditetapkan. Hasil kegiatan ini dicatat dalam laporan dan dilaksanakan secara bertahap sesuai kebutuhan tim manajemen yang bertanggung jawab.
22 Penelitian ini membahas bagaimana upaya dalam mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual pada Pemerintah Daerah Kota Salatiga.
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh (Muttaqin et al., 2017) yang bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan organisasi yang terjadi pada Pemerintah Kota Pekalongan dalam rangka penerapan SAP akrual dan perolehan opini WTP dilihat dari aspek persiapan serta strategi yang dilakukan berdasarkan tahapan movement. Dalam mempersiapkan SAP berbasis akrual, Pemerintah Daerah Kota Pekalongan menetapkan Perwal Nomor 34 Tahun 2014 dan Perwal Nomor 35 Tahun 2014. Strategi Kota Pekalongan untuk memperoleh opini WTP, dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kerja, meningkatkan dan memelihara komitmen bersama. Strategi yang digunakan bertujuan untuk mencapai laporan WTP tahun 2015. Studi ini juga mencakup perubahan SAP kas menuju akrual menjadi SAP berbasis akrual.
Dalam Penelitian yang dilakukan (Effendi, 2021) bertujuan memberikan upaya dalam pencapaian opini WTP Pemda Kabupaten Bondowoso pada Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual yang memanfaatkan analisis SWOT untuk mendapatkan strategi yang diperdalam menggunakan wawancara.
Hasil penelitian dari SWOT bahwa kekuatan primer Pemda Kabupaten Bondowoso pada mencapai opini WTP memakai komitmen & integritas yang tinggi berdasarkan Bupati Bondowoso bersama jajaran pimpinan Instansi yang berwenang. Kekuatan lainnya adalah penyajian laporan keuangan berdasarkan SAP berbasis akrual & SPI yang memadai akibatnya pelanggaran terhadap perundang- undangan bisa dicegah.
Studi yang dilakukan oleh (Gunawan Putri et al., 2021) melakukan survei di pemerintah kota Brebes untuk menganalisis upaya yang dilakukan mendapatkan opini WTP atas laporan keuangan pemerintah. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT serta pengumpulan data. Upaya untuk mendapatkan dan mempertahankan opini WTP dengan mengeluarkan regulasi dan kebijakan daerah sebagai panduan serta sarana prasarana seperti dukungan teknologi, pengembangan SDM dan aplikasi untuk membantu memperoleh opin WTP.
23 METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian kualitatif yaitu penelitian untuk memahami fenomena yang terjadi dan dialami oleh subjek penelitian dengan menjelaskan secara deskriptif pada konteks alamiah dan metode alamiah (Lexy J, 2018) peneliti menerapkan pendekatan kualitatif karena pemahaman mendalam terkait upaya untuk mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan pemerintah wilayah Kota Salatiga. Penelitian ini bersifat naratif lantaran data yang dikumpulkan pada bentuk istilah-istilah bukan angka.
Metode penelitian kualitatif menerapkan pendekatan kualitatif dengan pertimbangan data yang diperoleh di lapangan berupa data dalam bentuk fakta yang perlu adanya analisis secara mendalam. Maka pendekatan kualitatif akan lebih mendorong pada pencapaian data yang bersifat lebih mendalam terutama dengan keterlibatan peneliti sendiri di lapangan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti menjadi instrumen utama dalam mengumpulkan data yang dapat berhubungan langsung dengan instrumen atau objek penelitian. Peneliti ingin mengetahui bagaimana upaya dalam mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual pada pemerintah daerah Kota Salatiga. Secara teknis peneliti tidak memiliki kontrol atas pelaksanaan strategi yang diterapkan Pemerintah Daerah Kota Salatiga dalam mempertahankan opini WTP. Kota Salatiga merupakan salah satu dari Pemerintah Daerah di Indonesia yang berupaya dalam mempertahankan opini WTP sejak tahun 2017.
Lokasi Penelitian
Penetapan lokasi penelitian merupakan bagian penting yang digunakan dalam memperoleh data. Penelitian ini mengambil lokasi penelitian pada Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Kelurahan Kalicacing, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah, dikarenakan Pemerintah Kota Salatiga telah menerapkan SAP berbasis akrual sejak tahun 2015 dan berhasil mendapatkan opini WTP dari hasil pemeriksaan keuangan BPK di tahun 2016 dan mengupayakan untuk mempertahan opini WTP. Selain itu, juga terdapat wacana dalam situs
24 website Pemerintah Daerah Kota Salatiga dalam upaya mempertahankan oppini WTP dengan membuat sebuah komitmen dari pimpinan hingga jajarannya dengan penandatanganan dokumen perjanjian kinerja dan penelitian dilakukan karena Pemerintah Kota Salatiga menyediakan akses untuk meneliti hal tersebut.
Jenis dan Sumber Data
Sumber data meliputi sumber data primer dan data sekunder, di mana sumber data primer peneliti mendapatkan dari sumber pertama yang ada di lapangan atau data yang diperoleh langsung dari objek penelitian yang berasal dari observasi dan juga wawancara, dalam penelitian ini data primer diperoleh peneliti dari aparatur pada Kantor Pemerintah Kota Salatiga. Sedangkan, data yang kedua data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari buku-buku dan situs internet yang berisi tentang upaya mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual pada Pemerintahan Daerah Kota Salatiga.
25 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini, peneliti menjelaskan temuan dan argumen yang dilakukan untuk mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan berbasis akrual. Pemberi informasi menjadi sumber utama dalam peneilitian ini bekerja di Badan Keuangan Daerah (BKD) dan Inspektorat. Kedua bidang tersebut mempengaruhi dalam pencapaian opini WTP. Hasil penelitian ini diperoleh dari proses pengumpulan data berbasis wawancara. Peneliti kemudian merinci upaya apa saja yang dilakukan Kota Salatiga untuk mempertahankan opini WTP tersebut
Gambaran Umum Pemerintah Kota Salatiga
Pemerintah Kota Salatiga salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 54,98 km2, terdiri dari 4 kecamatan, 23 kelurahan dan berpenduduk 196.082 jiwa. Kota Salatiga menyajikan pemandangan alam yang indah melalui Gunung merbabu, telomoyo dna gajah mungkur. Sementara itu, batas wilayah Pemerintah Kota Salatiga dikelilingi oleh wilayah pemerintah daerah kabupaten semarang dengan Batasan kecamatan pabelan dan tuntang untuk sebelah utara, kecamatan tengaran sebelah timur, kecamatan getasan sebelah selatan dan barat. Pemerintah Kota Salatiga dipimpin oleh Walikota yang menjabat sebagai kepala daerah dan mempunyai target yang ingin dicapai selama periode jabatannya yang terpapar dalam visi dan misi.
Visi dan Misi Kota Salatiga
Visi merupakan gambaran atau tujuan yang ingin dicapai suatu organisasi dimasa depan dalam kurun waktu tertentu. Visi dari Pemerintah Daerah Kota Salatiga dibuat untuk jangka tahun sampai 20 tahun. Visi Pemerintah Kota Salatiga tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2017-2022 yaitu “SALATIGA HATI BERIMAN YANG SMART”.
Salatiga HATI BERIMAN yang SMART mencerminkan Kota Salatiga menuju kota yang mandiri dan sejahtera. Visi ini serupa dengan RPJMN dan RPJMD Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang mandiri, sejahtera dan berdikari.
Tercapainya visi Pemerintah Daerah Kota Salatiga sangat berpengaruh dalam menentukan strategi yang direncanakan dalam bentuk misi. Misi merupakan
26 langkah-langkah yang telah ditetapkan untuk mencapai visi. Adapun sembilan misi yang ditetapkan Pemerintah Daerah Kota Salatiga sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, mewujudkan SDM yang handal dan menjunjung tinggi nilai budaya.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan Kesehatan masyarakat dan kelaurga berencana.
3. Meningkatkan ketentraman, ketertiban dan kondusifitas wilayah.
4. Meningkatkan kualitas penataan ruang dan infrastruktur perkotaan yang berwawasan lingkungan.
5. Meningkatkan kualitas pelayanan air bersih, sanitasi dan lingkungan permukiman kota.
6. Mengembangkan ekonomi kerakyatan yang berorientasi pada Usaha Menengah, Kecil dan Mikro.
7. Meningkatkan kerjasama, daya saing daerah dan daya tarik investasi dan memperluas akses lapangan pekerjaan
8. Meningkatkan kesejahteraan sosial, kesetaraan gender dan perlindungan anak.
9. Meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan tatakelola pemerintahan yang baik (good governance).
Organisasi perangkat daerah
Pemerintah Kota Salatiga menyelenggarakan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Walikota sebagai pimpinan daerah dan perangkat daerah yang membantu Walikota dalam melaksanakan tugasnya. Organisasi daerah disebut dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), namun namanya diubah dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Berdasarkan peraturan pemerintah, SKPD diubah menjadi Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pemerintah Kota Salatiga telah mengeluarkan turunan dari Peraturan Pemerintah tersebut dengan diterbitkannya Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah. Peraturan ini mengatur jumlah dan komposisi OPD berdasarkan urusan pemerintahan. Seperti yang diutarakan oleh Agus munazil (Ketua Bidang Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Daerah) :
27
“Iya mbak, memang seperti itu SKPD itu yang dulu sekarang sudah diganti OPD sejak tahun 2017 yang dipecah berdasarkan sesuai dengan urusan di berbagai bidang karena di sini ada enam bidang untuk menyesuaikan dengan urusannya.”
Pernyataan yang diutarkan menjelaskan bahwa urusan pemerintah terbagi menjadi enam bidang yang didasarkan beban kerja masing-masing OPD ada 33 OPD dalam membantu melaksanakan urusan pemerintahan kota Salatiga di tahun 2021. Seperti yang disampaian agus munazil (kabid akuntansi BKD):
“dulu hanya ada 26 OPD sekarang mencapai 33 OPD jadi dengan bertambah OPD pasti juga nambah pejabat di dalam SOTK… SOTK itu susunan organisasi dan tata kerja.”
Hal ini disimpulkan terdapat 33 OPD terutama bagian akuntansi yang melakukan pencatatan dan pelaporan. Berdasarkan kedua pernyataan diatas 33 OPD adalah hasil dari kebutuhan Pemerintah Kota Salatiga yang terdiri dari Sekretaris Daerah, Sekretariat DPRD, Inspektorat, Rumah Sakit Umum Daerah, 21 Dinas, 4 Badan dan 4 Kecamatan. Pejabaran OPD dinas, badan dan kecamatan pada tabel 4.1.
Dalam menjalankan segala urusan pemerintahan, setiap OPD memiliki tugas dan fungsi yang di atur dalam Peraturan Walikota. Pelaksanaan fungsi dan tugas memerlukan penunjang seperti sarana prasarana, administrasi dan pelatihan agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Maka Pemerintah Daerah Kota Salatiga membutuhkan dana yang bersumber dari pendapatan dan akan dibelanjakan untuk memenuhi urusan pemerintahan.
28 Tabel 4.1
Daftar OPD Dinas, Badan, Kecamatan Pemerintah Daerah Kota Salatiga No Nama OPD
1 Dinas Pendidikan 2 Dinas Kesehatan 3 Dinas Sosial
4 Satuan Polisi Pamong Praja
5 Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman 6 Dinas Lingkungan Hidup
7 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
8 Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 9 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
10 Dinas Kepemudaan dan Olahraga
11 Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu 12 Dinas Komunikasi dan Informatika
13 Dinas Perdagangan
14 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 15 Dinas Pangan
16 Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah 17 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
18 Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana 19 Dinas Perhubungan
20 Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja 21 Dinas Pertanian
22 Badan Keuangan Daerah
23 Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah 24 Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah 25 Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
26 Kecamatan Argomulyo 27 Kecamatan Sidomukti 28 Kecamatan Sidorejo 29 Kecamatan Tingkir
Sumber : https://salatiga.go.id/pemerintahan/opd/
1. Pendapatan
Pendapatan atau penerimaan daerah merupakan penambahan nilai kekayaan yang diguankan untuk menunjang kebutuhan pelaksaanan urusan pemerintahan.
Besaran pendapatan yang diterima akan menentukan kemampuan pemerinatah untuk melakukan urusan baik dalam operasional atau pembangunan. Pendapatan dapat diterima dari pendapatan asli daerah, pendapatan transfer dan pendapatan lain- lain yang sah. Berdasarkan kebutuhan yang semakin bertambah memerlukan dana yang mencukupi sehingga pendapatan daerah harus dikelola secara tepat agar tercapai tujuan dari pemerintah tersebut. Berikut realisasi
29 pendapatan di pemerintah daerah kota salatuga setiap tahunnya mengalami peningkatan tetapi di tahun 2020 dikarenakan ada pandemi mengalami penurunan penerimaan pendapatan daerah ditunjukkan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2
Realisasi pendapatan daerah Kota Salatiga Tahun anggaran 2019-2021
(dalam satuan rupiah)
NO Uraian 2019 2020 2021
1 Pendapatan Asli Daerah
236.086.218.372 219.533.318.240 280.685.598.176
2 Dana Perimbangan 672.829.280.778 651.166.165.693 646.902.627.178
3 Lain – Lain
Pendapatan yang sah
19.104.400.000 19.504.200.000 18.148.708.749
TOTAL 928.019.899.150 890.223.683.933 945.736.934.104
Sumber : RPJMD kota Salatiga 2019-2021
Berdasarkan tabel tersebut pendapatan cenderung meningkat hanya ada sedikit penurunan di tahun 2020 dikarenakan pandemi covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa pendaptan telah dikelola secara optimal berdasarkan standar dan prosedur yang memadai. Pendapatan daerah dialokasikan unuk kebutuhan operasional baik dalam pelayanan publik atau kegiatan penunjang yang lain.
2. Belanja
Belanja digunakan untuk memenuhi kebutuhan daerah yang bersifat tidak diperoleh pembayaran kembali. Belanja memiliki tujuan dalam meingkatkan pelayanan public yang diberikan OPD dalam urusan pemerintahan. Pemanfaatan belanja menerapkan prinsip efektif, akuntabilitas dan efiesien dalam rangka mendukung penerapan anggaran berbasis kinerja. Maka, belanja harus dikelola dengan baik. Berikut realisasi belanja pemerintah daerah kota Salatiga ditunjukkan pada tabel 4.3
30 Tabel 4.3
Relalisasi belanja daerah Kota Salatiga 2019-2021 Tahun anggaran 2019-2021
(dalam satuan rupiah)
NO Uraian 2019 2020 2021
1 Belanja tidak langsung
395.441.115.153 408.758.950.860 426.866.275.414
2 Belanja langsung 547.246.311.440 536.195.262.044 529.636.029.318 TOTAL 942.687.426.593 944.954.212.904 956.502.304.732
Sumber : RPJMD kota Salatiga 2019-2021
Berdasarkan tabel tersebut belanja pemerintahan mengalami peningkatan.
Belanja yang dilakukan OPD diperlukan pengelolaan sehingga semua kebutuhan OPD terpenuhi. Pengelolaan belanja dilakukan dengan membuat rancangan tahunan yang disatukan dalam APBD.
APBD tahunan merupakan perencanaan yang dapat melaksanakan urusan pemerintahan dengan baik. Perencanaaan ini diimplementasikan dalam satu periode oleh OPD, implementasi ini telah sesuai atau tidak sesuai diperlukan pertanggungjawaban dengan melaksanakan penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
Opini Wajar Tanpa Pengecualian atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Salatiga
Laporan keuangan disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban pada pengelolaan keuangan selama satu periode. Penyusunan laporan keuangan yang tersaji tidak hanya realisasi anggaran, tetapi menaruh fakta tentang posisi keuangan arus kas & kinerja keuangan pemerintah selama satu periode yang dipakai stakeholder. Laporan keuangan bisa dipakai stakeholder wajib berkualitas sebagai akibatnya diharapkan keyakinan berdasarkan pihak ketiga pada bentuk pemberian opini. Opini yang diterima pemerintah daerah kota Salatiga selama 7 tahun ditujukkan pada tabel 4.4
31 Tabel 4.4
Perkembangan opini audit LKPD Kota Salatiga Tahun Anggaran 2015 sampai 2021 Tahun Opini audit yang diterima SAP yang digunakan
2015 WDP SAP berbasis KAS menuju Akrual
2016 WTP
SAP berbasis Akrual 2017 WTP
2018 WTP 2019 WTP 2020 WTP 2021 WTP
Sumber : ikhtisar hasil pemeriksaan BPK semester I dan website Kota Salatiga Berdasarkan tabel tersebut, informasi mengenai hasil pemeriksaan laporan keuangan sampai tahun anggaran 2015 masih mendapatkan opini WDP. Hal ini karena ada temuan dari BPK yang bersifat materialitas sehingga tidak tercapai opini WTP di tahun anggaran 2015. Temuan BPK yang menyebabkan perolehan opini WDP di tahun anggaran 2015 telah diperbaiki sehingga LKPD Kota Salatiga tahun anggaran 2016 mendapatkan opini WTP. Opini WTP yang diperoleh setelah tahun anggaran 2016, Pemerintah Daerah Kota Salatiga tetap meningkatkan pengelolaan keuangan baik adanya rekomendasi dari BPK ataupun dipengaruhi oleh peraturan yang lain. Peningkatan pengelolaan keuangan ini menghasilkan opini WTP tahun anggaran 2017. Peningkatan pengelolaan keuangan tersebut harus dipertahankan agar tahun mendatang mendapatkan opini WTP.
Pencapaian WTP menjadi target pemerintah kota Salatiga, hal tersebut tercantum dalam RPJMD tahun 2017-2022 diatur dalam Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 1 tahun 2018. RPJMD disusun berdasarkan visi dan misi yang sudah disepakati oleh walikota yang menjabat sejak tahun 2016-2021 yang dijabarkan dalam bentuk strategi, arah kebijakan dan program.
Peraturan yang digunakan pemerintah daerah kota Salatiga dalam Menyusun dan menyajikan laporan keuangan
Kriteria yang digunakan BPK dalam pemberian opini harus sesuai dengan SAP dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan. Dasar hukum pengelolaan
32 keuangan diatur dalam undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara, seperti yang disampaikan agus munazil (kabid akuntansi bkd) :
“ kalau ini Peraturan Pemerintah nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dasar hukum untuk undang-undnag keuangan negara, perbendaharaan negara,SAP,Pemerintah dalam negeri dan juga ada perwali sebagai acuan kebijakan akuntansi.”
Berdasarkan penjelasan tersebut pengelolaan keuangan yang baik sudah diatur dalam undang-undang yang menjadi landasar penyusunan laporan keuangan, penyajian laporan keuangan maupun pengelolaan pada tiap pos laporan keuangan.
Urutan dari undang-undang nomor 17 tahun 2003 terdiri dari Standar Akuntansi Pemerintah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah nomer 24 tahun 2005 yang dirubah dengan diterbitkan Peraturan Pemerintah nomor 71 tahun 2010 yang mengatur pener