• Tidak ada hasil yang ditemukan

UTS PJ SIG Kajian Desa Disha, Early, Fajar

N/A
N/A
Fajar Rizky Ramadhan

Academic year: 2025

Membagikan "UTS PJ SIG Kajian Desa Disha, Early, Fajar"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN UJIAN TENGAH SEMESTER

Disusun Untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kuliah PJ SIG untuk Kajian Desa Dosen Pengampu:

Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T.

Zahara Sitta Iskandar, M. P.W.K

Disusun Oleh:

Early Azhar Diwarya 2205856 Disha Fadila Aprilia 2200531 Fajar Rizky Ramadhan 2210174

SAINS INFORMASI GEOGRAFI

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2025

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...2

BAB I PENDAHULUAN... 3

BAB II METODE...5

2.1 Metode Pengumpulan Data...5

2.2 Teknik Analisis Data dan Tahapan Kerja...6

2.3 Diagram Alir... 9

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN...10

3.1 Tutupan Lahan... 10

3.2 Kemiringan Lereng... 13

3.3 Curah Hujan... 15

3.4 Jenis Tanah...16

3.5 Jumlah Penduduk... 17

3.6 Potensi Pengembangan Kawasan Agropolitan... 19

3.7 Potensi Komoditas... 21

3.8 Aksesibilitas dan Distribusi Produk...23

3.9 Limitasi dan Strategi yang Dilakukan...24

BAB IV PENUTUP...26

4.1 Kesimpulan... 26

4.2 Saran Kebijakan Pengembangan Desa Agropolitan... 27

DAFTAR PUSTAKA... 28

(3)

BAB I PENDAHULUAN

Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bandung Barat No. 7 Tahun 2019 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan bahwa kriteria tersebut telah dibagi ke 3 bagian yaitu berdasarkan luas hamparan, berdasarkan potensi teknis dan kesesuaian lahan, serta berdasarkan persyaratan lahan. Kebijakan agropolitan telah diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 2002 di kabupaten Cianjur yang sudah ditetapkan melalui surat menteri Pertanian No. 144/OT.210-A/V-2002 Tentang Penunjukkan salah satu Kabupaten Wilayah pengembangan Agropolitan, dan Penetapan Master Plan Keputusan Bupati No. 521.3/Kep.140-Pe2002.

Agropolitan adalah suatu konsep pembangunan yang tujuannya tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengembangkan segala aspek kehidupan sosial, dan juga yang memadukan pembangunan pertanian berbasis pedesaan dengan sektor industri.

Pengembangan kawasan agropolitan, merupakan kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani dan mendorong, menarik, serta menghela kegiatan pembangunan pertanian di wilayah sekitarnya. Pengembangan agropolitan bukan hanya dilakukan di kota-kota tertentu saja, tetapi lebih luas lagi, yaitu dengan mengembangkan daerah pedesaan. Tujuannya bukan untuk memindahkan penduduk desa ke kota, melainkan agar masyarakat tetap tinggal di desa sambil usaha untuk pengembangan pertanian demi keberlangsungan ekonomi.

Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu wilayah penghasil produksi pertanian di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Bandung Barat telah menjadi sentra sektor pertanian hortikultura yang mengekspor dan mendapatkan bantuan pembangunan dari pemerintah dengan ekspor hortikultura Nasional. Salah satu wilayah yang memiliki potensi tinggi dalam sektor pertanian adalah Kecamatan Lembang. Kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani (Ramayana Ritonga, 2019).

Rata-rata petani yang ada di kecamatan Lembang menggunakan teknik budidaya pertanian organik dan memproduksi hortikultura organik tertinggi di Indonesia sebanyak 25.784.138 ton (BPS, 2018). Jika dilihat berdasarkan letak geografisnya, Kecamatan Lembang terletak berbatasan dengan Kota Bandung di wilayah selatan. Perlu diketahui bahwa Kota Bandung merupakan salah satu kota yang sangat bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain akibat

(4)

tidak memiliki cukup lahan pertanian. Oleh karena itu, Kecamatan Lembang memiliki potensi yang cukup tinggi dalam pengembangan agropolitan.

Studi ini mencakup analisis pengembangan desa agropolitan berbasis data spasial di Kecamatan Lembang dengan menitikberatkan pada identifikasi potensi wilayah dan aspek distribusi komoditas pertanian. Ruang lingkup penelitian meliputi pengidentifikasian desa-desa yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai kawasan agropolitan berdasarkan kondisi lahan, komoditas unggulan, serta dukungan infrastruktur yang tersedia.

Dari segi distribusi, penelitian ini akan mengevaluasi aksesibilitas lahan produksi terhadap pasar dan sarana perdagangan untuk mengetahui jalur distribusi yang ada. Studi ini juga mencakup analisis rute optimal dalam distribusi produk agropolitan guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam rantai pasok pertanian.

Batasan penelitian ini meliputi cakupan wilayah yang hanya difokuskan pada Kecamatan Lembang, serta aspek analisis yang terbatas pada pemanfaatan data spasial dalam mendukung pengembangan agropolitan. Studi ini tidak mencakup aspek sosial-ekonomi secara mendalam selain dari relevansinya terhadap distribusi dan aksesibilitas produk pertanian, seperti jumlah penduduk dan data statistik produksi pertanian.

(5)

BAB II METODE 2.1 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber resmi. Data sekunder dipilih karena dapat memberikan cakupan informasi yang luas serta mendukung analisis berbasis data spasial dalam mengidentifikasi potensi pengembangan desa agropolitan di Kecamatan Lembang.

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai instansi dan platform berbasis data spasial. Data yang dikumpulkan mencakup informasi terkait produksi pertanian, tutupan lahan, jaringan jalan, infrastruktur pendukung dan lain-lainya yang dijelaskan pada tabel 1 berikut ini:

Tabel 1. Data yang digunakan

No Data Tipe Resolusi Temporal Sumber

1 Tutupan Lahan Vektor 1:250.000 2022 KLHK

2 Data Curah Hujan Tabular Kabupaten/Kota 2014-2024 BMKG

3 Data Jumlah Penduduk Tabular Desa 2023 BPS

4 DEMNAS Raster 8,1 m/0,27 arcsec 2024 BIG

5 Citra Landsat Raster 30 m 2023 USGS

6 Batas Administrasi Vektor 1:25.000 2022 BIG

7 Data Produksi Pertanian Tabular Kecamatan 2020-2023 BPS

8 Jaringan Jalan Vektor 1:25.000 2022 BIG

9 Titik Pasar/Infrastruktur

Transportasi Vektor - 2025 Google Maps

(6)

2.2 Teknik Analisis Data dan Tahapan Kerja

Setelah pengumpulan data, yang dilakukan adalah pengolahan dengan terdiri dari parameter Penggunaan Lahan, Kemiringan Lereng, Curah Hujan, Jenis Tanah, Jumlah Penduduk menggunakan software ArcGIS yang mencakup proses digitasi, overlay, clip, skoring, bobot, dengan menggunakan standar acuan referensi jurnal yang dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 2. Skoring Seluruh Parameter

Skor Nilai Kumulatif 1 Tidak Sesuai

2 Sesuai

3 Sangat Sesuai

Berikut merupakan penjelasan skoring pada setiap parameternya:

1. Penggunaan Lahan

Tabel 3. Skoring Penggunaan Lahan

Penggunaan Lahan Skor

Pemukiman 1

Sawah 1

Perkebunan 1

Rawa 2

Hutan Tanaman Industri

1

Semak Belukar 3

Tambak 1

Pertanian Lahan Kering 1

Pertanian Campur 1

Tanah Terbuka (Lahan

Kosong) 3

Hutan Mangrove 1

(7)

2. Kemiringan Lereng

Tabel 4. Skoring Kemiringan Lereng

Kemiringan Lereng Skor

0 - 10% 3

11 - 20% 3

21 - 30% 2

31 - 40% 1

41 - 50% 1

3. Curah Hujan

Tabel 5. Skoring Curah Hujan

Curah Hujan (mm) Skor

1500 - 2000 3

2000 - 2500 2

2500 - 3000 1

4. Jenis Tanah

Tabel 6. Skoring Jenis Tanah

Jenis Tanah Skor

Andosol 3

Kambisol 2

5. Jumlah Penduduk

Tabel 7. Skoring Jumlah Penduduk

Jumlah Penduduk Skor

< 15.000 3

15.000 - 25.000 2

(8)

> 25.000 1

Setelah dilakukan skoring, akan ada klasifikasi baru untuk melihat bagaimana pembobotan kepada setiap parameter, bobot untuk setiap parameter berbeda dan akan dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 8. Pembobotan Parameter

Parameter Bobot (%)

Penggunaan Lahan 30

Kemiringan Lereng 15

Curah Hujan 15

Jenis Tanah 20

Jumlah Penduduk 20

Hasil dari parameter tersebut akan di overlay dan akan menjadi peta Potensi Pengembangan Kawasan Agropolitan serta Aksesibilitas dan Distribusi Produk. Selanjutnya menginterpretasi dan menganalisis hasil dari pemetaan bagaimana kondisi fisik, cuaca, sosial, dan data tabular yang mendukung mengenai data produksi pertanian di Kecamatan Lembang mendukung pembangunan kawasan agropolitan. Analisis lainnya disambungkan dengan potensi desa mana saja yang cocok sebagai area pengembangan kawasan pertanian, potensi komoditas nya, serta komoditas tersebut dapat diakses untuk didistribusikan ke wilayah lain. Output dari hasil analisis keseluruhan akan merekomendasikan area berdasarkan hasil pemetaan untuk meningkatkan kebijakan pengembangan kawasan agropolitan dan aksesibilitas komoditas pertanian di Kecamatan Lembang

(9)

2.3 Diagram Alir

Gambar 1. Diagram Alir

(10)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Tutupan Lahan

Gambar 2. Peta Tutupan Lahan Tahun 2022 di Kecamatan Lembang

Kecamatan Lembang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan agropolitan berdasarkan analisis tutupan lahan yang diperoleh dari peta dan tabel luas tutupan lahan.

Sebagian besar wilayahnya didominasi oleh pertanian lahan kering, terutama di desa-desa seperti Pagerwangi, Cikidang, Mekarwangi, dan Wangunharja dengan total luas mencapai 4.280,26 hektare. Keberadaan lahan pertanian yang luas ini menjadi modal utama bagi pengembangan sektor agribisnis. Selain itu, beberapa wilayah juga memiliki lahan terbuka dan semak belukar dapat berpotensi untuk direhabilitasi menjadi lahan produktif guna mendukung sistem pertanian.

(11)

Tabel 9. Luas Tutupan Lahan Berdasarkan Desa

No. Desa Tutupan Lahan Luas (ha)

1. Cibodas

Hutan Tanaman Industri 80,45

Perkebunan 69,10

Permukiman 69,79

Pertanian Lahan Kering 359,07

2. Cibogo

Hutan Lahan Kering 0,12

Permukiman 81,80

Pertanian Lahan Kering 231,58

3. Cikahuripan

Hutan Lahan Kering Sekunder 100,18 Hutan Tanaman Industri 232,45

Lahan Terbuka 19,35

Permukiman 122,26

Pertanian Lahan Kering 287,17

4. Cikidang

Hutan Tanaman Industri 422,50

Perkebunan 0,43

Permukiman 35,59

Pertanian Lahan Kering 429,98

5. Cikole

Hutan Tanaman Industri 397,80

Permukiman 85,37

Pertanian Lahan Kering 306,44

6. Gudangkahuripan Permukiman 123,03

Pertanian Lahan Kering 209,57

7. Jayagiri

Hutan Lahan Kering Sekunder 89,63 Hutan Tanaman Industri 561,76

Lahan Terbuka 4,36

Permukiman 128,76

(12)

Pertanian Lahan Kering 159,90

8. Kayuambon Permukiman 136,04

Pertanian Lahan Kering 56,09

9. Langensari

Hutan Tanaman Industri 8,48

Perkebunan 5,59

Permukiman 72,90

Pertanian Lahan Kering 293,80

10. Lembang Permukiman 168,12

Pertanian Lahan Kering 48,98

11. Mekarwangi

Hutan Tanaman Industri 143,52

Perkebunan 10,29

Permukiman 6,23

Pertanian Lahan Kering 305,52

12. Pagerwangi Permukiman 102,19

Pertanian Lahan Kering 409,60

13. Sukajaya

Hutan Lahan Kering Sekunder 99,97 Hutan Tanaman Industri 128,41

Lahan Terbuka 1,54

Perkebunan 19,67

Permukiman 169,43

Pertanian Lahan Kering 183,60

14. Suntenjaya

Hutan Lahan Kering Sekunder 655,91 Hutan Tanaman Industri 712,14

Perkebunan 60,41

Permukiman 35,83

Pertanian Lahan Kering 409,10 Pertanian Lahan Kering Bercampur 28,24

(13)

Pengembangan kawasan agropolitan juga harus mempertimbangkan aspek tata ruang dan keberlanjutan lingkungan. Beberapa desa seperti Cikidang, Cikole, dan Jayagiri didominasi oleh hutan tanaman industri dan perkebunan. Tutupan lahan tersebut lebih sesuai untuk konsep agroforestri atau ekowisata berbasis pertanian daripada ekspansi pertanian. Sementara itu, Lembang, Kayuambon, dan Mekarwangi mengalami tekanan pembangunan akibat perluasan permukiman yang dapat berisiko terhadap konversi lahan pertanian menjadi area perumahan atau komersial.

3.2 Kemiringan Lereng

Untuk pemetaan kemiringan lereng, menggunakan DEMNAS yang berasal dari platform BIG lalu diproses dengan menggunakan acuan persen dari jurnal yang telah dicantumkan tabel nya dibawah. Untuk hasil Hasil yang didapatkan seperti gambar peta di bawah.

Tabel 10. Kemiringan Lereng dengan Semak

Semak Belukar 84,70

15. Wangunharja

Hutan Tanaman Industri 291,54

Perkebunan 61,86

Permukiman 37,30

Pertanian Lahan Kering 326,04

16. Wangunsari Permukiman 43,41

Pertanian Lahan Kering 263,81

No. Kemiringan Lereng Klasifikasi Keterangan

1. 0 - 10% Sangat Landai Sangat Layak

2. 11 - 20% Landai Sangat Layak

3. 21 - 30% Agak Curam Layak

4. 31 - 40% Curam Tidak Layak

5. 41 - 50% Sangat Curam Tidak Layak

(14)

Berdasarkan acuan jurnal, jika kemiringan kurang dari 8% artinya semakin bagus untuk dijadikan kawasan pertanian. Dan jika melihat peta dibawah, dapat terlihat kawasan yang cocok untuk dijadikan pembangunan agropolitan adalah bagian Tengah sampai dengan Barat.

Gambar 3. Peta Kemiringan Lereng di Tahun 2024 Kecamatan Lembang

Hasil pemetaan dapat terlihat bahwa Kecamatan Lembang ini di dominasi oleh klasifikasi Agak curam yang berarti di lokasi tersebut berada di kemiringan 21-30%, dengan melihat kemiringan tersebut artinya di Kecamatan Lembang dapat dikatakan sebagai lokasi yang ‘Layak’

untuk dijadikan pembangunan kawasan agropolitan. Berdasarkan hasil pemetaan, wilayah bagian Timur Kecamatan Lembang dapat dikatakan sebagai ‘Tidak Layak’ menjadi lokasi pertanian karena sangat curam berada di kemiringan 41-50% atau lebih dari 40%. Jika kita melihat ke arah Tengah sampai dengan Barat, didominasi oleh klasifikasi sangat landai, sehingga dapat dikatakan

‘Sangat Layak’ untuk dijadikan kawasan agropolitan..

(15)

3.3 Curah Hujan

Curah hujan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kelayakan suatu wilayah untuk dikembangkan sebagai kawasan agropolitan. Berdasarkan data curah hujan dari Stasiun Geofisika Bandung selama periode 2014–2024, rata-rata curah hujan tahunan tercatat sebesar 2.371,85 mm/tahun. Mengacu pada standar kriteria kelayakan curah hujan, wilayah dengan curah hujan antara 2000–2500 mm/tahun memperoleh skor 2, yang menunjukkan tingkat kelayakan menengah untuk pengembangan kawasan agropolitan.

Tabel 11. Data Curah Hujan 2014-2024

Stasiun Tahun Curah Hujan (mm/tahun)

Stasiun Geofisika Bandung

2014 1955,1

2015 2881,9

2016 3406,2

2017 2154,4

2018 2187,8

2019 2192

2020 2418,4

2021 2189,2

2022 2281,7

2023 2281,4

2024 2142,3

Rata-Rata 2371,85

Intensitas curah hujan rendah cenderung lebih layak untuk dijadikan kawasan agropolitan karena risiko erosi dan banjir yang lebih rendah (Bahasoan, H. 2021). Hal ini disebabkan oleh minimnya volume air yang dapat menyebabkan degradasi tanah dan genangan berlebih, sehingga mendukung aktivitas pertanian. Sebaliknya, wilayah dengan curah hujan tinggi menghadapi tantangan dalam pengelolaan air dan konservasi tanah. Tingginya intensitas hujan dapat meningkatkan risiko erosi dan banjir. Hal tersebut dapat berpotensi merusak lahan pertanian dan infrastruktur pendukung. Oleh karena itu, dalam konteks pengembangan kawasan agropolitan,

(16)

mempertimbangkan intensitas curah hujan menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas kegiatan agribisnis (KLHK, 2017).

3.4 Jenis Tanah

Untuk proses jenis tanah, pemetaannya menggunakan citra landsat 8 dengan band 5, 6, dan 4 saja untuk menganalisa bagaimana jenis tanah yang ada di wilayah Kecamatan Lembang.

Hasil yang didapatkan seperti gambar peta di bawah.

Gambar 4. Peta Jenis Tanah di Tahun 2023 Kecamatan Lembang

Jenis tanah yang ada di cakupan Kecamatan Lembang ini didominasi oleh jenis tanah Andosol, terlihat pada peta yang memiliki visualisasi berwarna Coklat adalah jenis tanah Andosol yang dimana andosol ini dikenal sebagai tanah yang subur karena berasal dari material vulkanik dan memiliki kandungan bahan organik serta dapat memberikan penyimpanan air yang baik untuk akar tanaman. Sedangkan yang berwarna orange adalah jenis tanah Kambisol, yang dimana kambisol ini memiliki struktur tanah yang cukup gembur sehingga memudahkan akar tanaman, dan di dalam horizonnya lebih lempung sehingga dapat menyimpan air dalam waktu yang lama, namun kesuburan dari tanah ini tidak setinggi tanah andosol. Untuk informasi lanjutan, ada pada tabel berikut:

(17)

Tabel 12. Jenis Tanah

Sehingga kedua jenis tanah ini dapat dikatakan cocok untuk dijadikan kawasan pertanian.

Jika melihat peta, lebih baik pembangunan kawasan agrowisata itu berada di jenis tanah Andosol saja.

3.5 Jumlah Penduduk

Gambar 5. Peta Jumlah Penduduk Per Desa Tahun 2023 di Kecamatan Lembang

Penduduk atau masyarakat setempat akan selalu memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap suatu wilayah. Oleh karena itu, jumlah penduduk sangat diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk suatu kawasan. Dalam konteks kesesuaian lahan untuk

No. Jenis Tanah Luas (ha) Keterangan 1. Andosol 8.782,05 Sangat Layak 2. Kambisol 1.218,8 Layak

(18)

kawasan agropolitan, wilayah dengan jumlah penduduk yang sedikit lebih dinilai layak bila dibandingkan dengan wilayah yang jumlah penduduknya lebih banyak. Tentu banyak sekali faktor yang mendukung pernyataan tersebut. Semakin sedikit jumlah penduduk pada suatu wilayah, maka semakin sedikit pula jumlah lahan yang akan terpakai untuk permukiman. Oleh sebab itu, lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai area pertanian, agribisnis, dan infrastruktur pendukung distribusi produksi tani. Selain itu, dengan jumlah penduduk yang rendah, potensi peralihan lahan pertanian menjadi kawasan industri atau pemukiman akan lebih kecil. Hal ini dapat menjadi pertimbangan dalam kestabilan lahan dalam pengembangan agropolitan.

Tabel 13. Jumlah Penduduk

Desa Jumlah Penduduk (jiwa)

Sukajaya 14.996

Cikahuripan 12.964

Gudangkahuripan 14.036

Jayagiri 18.547

Lembang 14.154

Kayuambon 8.974

Wangunsari 12.803

Cibogo 12.819

Cikole 14.470

Pagerwangi 10.528

Langensari 13.438

Mekarwangi 6.236

Cikidang 8.532

Wangunharja 8.886

Cibodas 12.135

(19)

Suntenjaya 8.126

Berdasarkan tabel diatas, rata-rata jumlah penduduk setiap desa yang berada di Kecamatan Lembang adalah sedikit. Jika dilihat pada tabel 7, jumlah penduduk dibawah 15.000 masuk ke dalam kategori skor yang besar. Dalam tabel 8, hampir semua desa di Kecamatan Lembang memiliki jumlah penduduk dibawah 15.000, kecuali Desa Jayagiri. Dapat dilihat bahwa Desa Jayagiri memiliki jumlah penduduk sebanyak 18.547 jiwa. Oleh karena itu, hanya Desa Jayagiri yang masuk ke dalam skoring sesuai atau 2, sedangkan seluruh desa lainnya masuk ke dalam kategori skoring sangat sesuai atau 1 untuk kawasan agropolitan.

3.6 Potensi Pengembangan Kawasan Agropolitan

Gambar 6. Peta Kesesuaian Lahan Untuk Kawasan Agropolitan di Kecamatan Lembang

Berdasarkan peta yang tertera pada gambar 6, Kecamatan Lembang memiliki cukup banyak lahan yang sesuai untuk dijadikan pengembangan kawasan agropolitan. Hal ini tentu saja berdasarkan lima parameter yang telah dijelaskan dalam teknik analisis, yaitu penggunaan lahan,

(20)

jumlah penduduk, kemiringan lereng, curah hujan, dan jenis tanah. Kawasan yang lahannya sesuai untuk pengembangan kawasan agropolitan berada pada desa-desa yang berada di tengah wilayah. Berikut merupakan tabel luas kesesuaian lahan secara keseluruhan dan per desa:

Tabel 14. Luas Kesesuaian Lahan Untuk Agropolitan di Kecamatan Lembang

Kesesuaian Lahan Luas lahan (𝑚2)

Tidak sesuai 40.594,44

Sesuai 22.458.989,6

Sangat sesuai 77.417.953,3

Tabel 15. Luas Kesesuaian Lahan Berdasarkan Desa

Desa Luas Kesesuaian Lahan (𝑚2)

Jumlah (𝑚2) Sesuai Sangat Sesuai

Sukajaya 465.589 5.560.561,56 6.026.151

Cikahuripan 880.606 6.733.473,47 7.614.079

Gudangkahuripan 832.527,53 2.493.446,08 3.325.974

Jayagiri 2.935.863,68 6.508.211,09 9.444.075

Lembang 32.412,57 2.138.608,78 2.171.021

Kayuambon 15.343,44 1.905.999,62 1.921.343

Wangunsari 988.223,9 2.083.979,52 3.072.203

Cibogo 516.259,81 2.618.698,96 3.134.959

Cikole 918.965,61 6.977.185,46 7.896.151

Pagerwangi 1.516.788,04 3.601.033,64 5.117.822

Langensari 614.838,38 3.192.884,18 3.807.723

Mekarwangi 2.723.838,28 1.931.746,48 4.655.585

Cikidang 1.577.006,88 7.308.094,52 8.885.101

(21)

Wangunharja 1.823.241,99 5.344.212,13 7.167.454

Cibodas 879.781,08 4.894.250,93 5.774.032

Suntenjaya 5.737.703,39 14.125.566,85 19.863.270

Berdasarkan tabel 14 di atas, dapat terlihat bahwa Kecamatan Lembang memiliki didominasi oleh lahan yang sangat sesuai untuk kawasan agropolitan. Total luas lahan sangat sesuainya sendiri mencapai 77.417.953,3 𝑚2. Jika dilihat berdasarkan administrasi desa, tabel 15 telah menjelaskan secara rinci mengenai total luas lahan yang sesuai dan sangat sesuai untuk kawasan agropolitan. Dalam tabel tersebut telah terhitung bahwa Desa Suntenjaya merupakan desa dengan luas lahan terbesar yang memiliki klasifikasi sesuai dan sangat sesuai untuk kawasan agropolitan. Sedangkan, Desa Kayuambon merupakan desa yang memiliki luas lahan terkecil sebagai lahan yang sesuai untuk kawasan agropolitan.

3.7 Potensi Komoditas

Gambar 7. Peta Potensi Komoditas Agropolitan di Kecamatan Lembang

(22)

Berdasarkan analisis tutupan lahan Kecamatan Lembang tahun 2022 serta estimasi produksi pertanian dari data BPS 2020-2023 dapat diestimasikan potensi komoditas unggulan di wilayah ini.

Tabel 16. Komoditas Unggulan Berdasarkan Tutupan Lahan

Tutupan Lahan Komoditas Jumlah

Hutan Lahan Kering Sekunder Jahe 31,31 ton

Serai 12,88 ton

Pertanian Lahan Kering Tomat 91,235 ton

Cabe Rawit 73,55 ton

Perkebunan Alpukat 95,009 ton

Pisang 65,246 ton Pertanian Lahan Kering Bercampur

dengan Semak

Krisan +7,8 juta tangkai Mawar +5,1 juta tangkai Hutan Tanaman Industri Pohon Berkayu Tidak ada data Sumber: Badan Pusat Statistik

Tutupan lahan yang dominan di Lembang meliputi hutan tanaman industri (2.979,17 ha), pertanian lahan kering (4.280,26 ha), dan perkebunan (1.417,04 ha). Komoditas utama yang dapat dikembangkan sesuai dengan jenis tutupan lahannya mencakup:

1. Hutan Lahan Kering Sekunder (945,69 ha) memiliki potensi produksi jahe sebesar 31,31 ton.

2. Pertanian Lahan Kering (4.280,26 ha) berkontribusi terhadap produksi tomat (91,235 ton), cabe rawit (73,55 ton), dan serai (12,88 ton), menjadikannya sebagai sektor strategis untuk hortikultura.

3. Perkebunan (1.417,04 ha) berpotensi menghasilkan alpukat (95,009 ton) dan pisang (65,246 ton), yang cocok untuk ekspor maupun konsumsi lokal.

4. Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak (28,24 ha) memiliki peluang untuk pengembangan krisan (+7,8 juta tangkai) dan mawar (+5,1 juta tangkai) yang mendukung sektor florikultura di Lembang.

(23)

5. Hutan Tanaman Industri (2.979,17 ha) berfungsi sebagai penyedia pohon berkayu, meskipun belum tersedia data produksi spesifik.

Dari data di atas, Kecamatan Lembang memiliki keunggulan dalam hortikultura dan perkebunan, khususnya pada tanaman hortikultura, seperti tomat, cabe rawit, dan jahe.

3.8 Aksesibilitas dan Distribusi Produk

Gambar 8. Peta Keterjangkauan Jalan Arteri-Kolektor Kecamatan Lembang dan Sekitarnya

Berdasarkan peta keterjangkauan jalan arteri-kolektor, aksesibilitas utama di Kecamatan Lembang didukung oleh jalur kolektor yang menghubungkan desa-desa seperti Kayuambon, Cibogo, Cikole, dan Cikidang ke pusat perdagangan di Kecamatan Lembang. Jalan ini memungkinkan pergerakan hasil pertanian dalam jumlah besar, karena dapat menampung transportasi besar.

(24)

Gambar 9. Peta Persebaran Sarana Perdagangan di Kecamatan Lembang dan Sekitarnya

Sementara itu, peta persebaran sarana perdagangan menunjukkan bahwa beberapa desa di Kecamatan Lembang memiliki akses ke pasar-pasar utama seperti Pasar Buah Lembang dan Griya Lembang yang menjadi titik distribusi hasil pertanian. Desa-desa seperti Kayuambon dan Cibogo mendapatkan keuntungan dari kedekatan dengan pasar ini, karena memudahkan petani dalam menjual produknya. Namun, desa yang lebih jauh dari pusat perdagangan, seperti Suntenjaya, masih menghadapi tantangan dalam distribusi hasil pertanian, terutama karena keterbatasan jalan lokal yang menghubungkan ke jalur kolektor atau arteri.

3.9 Limitasi dan Strategi yang Dilakukan

Dalam proses pengerjaan, kelompok kami mengalami kendala yang pertama dalam untuk pencarian data dalam skala Desa, meskipun rata-rata diambil dari data sekunder yang bersumber dari website pemerintah, namun data terbaru dan terlengkap informasinya berada di tahun 2023 termasuk untuk data jumlah penduduk. Selain itu citra yang digunakan adalah Landsat 8 tahun

(25)

2023 karena data citra yang digunakan merupakan hasil dari interpretasi pengolahan data disertai dengan melihat tutupan awan yang tidak terlalu banyak sehingga memilih data citra tahun tersebut.

Kendala yang kedua dalam hasil analisis parameter, data yang tersedia dan yang kami gunakan merupakan tahun 2022 sampai dengan tahun 2024 yang artinya bukan data terbaru.

Seperti pada parameter penggunaan lahan, jenis tanah, jumlah penduduk, dan curah hujan, yang kami analisis merupakan data tahun sebelumnya sehingga belum pasti menggambarkan kondisi secara akurat sesuai dengan kondisi di tahun 2025.

Kendala yang ketiga dalam metode, untuk pemilihan parameternya kelompok kami terlalu mengacu kepada jurnal sehingga tidak menggunakan parameter tambahan lainnya dan kurang mempertimbangkan aspek kebencanaan seperti longsor, dan gempa. Strategi yang dilakukan oleh kelompok kami dengan tetap menggunakan data tahun yang tersedia disertai dengan menggunakan parameter tambahan berupa data tabular dan citra yang fungsinya untuk melihat bagaimana solusi pengembangan kawasan area agropolitan di Kecamatan Lembang.

(26)

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Hasil analisis menunjukkan bahwa parameter yang digunakan mampu mengidentifikasi berbagai aspek penting dalam suatu wilayah, seperti kondisi fisik, jumlah penduduk, dan area kawasan pertanian yang cocok. Sebagian besar wilayahnya didominasi oleh pertanian lahan kering, area kemiringan curam (21-30%), jenis tanah andosol, curah hujan yang menunjukkan skor 2 dengan tingkat kelayakan menengah, disertai dengan parameter pendukung dari jumlah penduduk dibawah 15.000 yang tercantum ke dalam kategori skor yang besar. Berdasarkan hasil overlay, didapatkan hasil bahwa Kecamatan Lembang memiliki lahan yang cukup luas dalam klasifikasi lahan yang sesuai untuk kawasan agropolitan. Total luas lahan yang sesuai untuk kawasan agropolitan adalah sebesar 2.245,9 ha dan lahan yang sangat sesuai adalah sebesar 7.7417,9 ha. Oleh karena itu, jika ditinjau dari segi kesesuaian lahan, Kecamatan Lembang memiliki potensi yang tinggi untuk pengembangan kawasan agropolitan.

Melihat hasil potensi dari Kecamatan Lembang, memiliki cukup banyak lahan yang sesuai untuk dijadikan pengembangan kawasan agropolitan. Terutama melihat dari potensi komoditasnya yaitu Pertanian lahan kering (4.280,26 ha) menjadi sektor strategis dengan produksi utama tomat (91,235 ton), cabe rawit (73,55 ton), dan serai (12,88 ton). Perkebunan (1.417,04 ha) berpotensi menghasilkan alpukat (95,009 ton) dan pisang (65,246 ton). Hutan lahan kering sekunder (945,69 ha) mendukung produksi jahe (31,31 ton), sementara pertanian lahan kering bercampur semak (28,24 ha) berkontribusi pada florikultura krisan (+7,8 juta tangkai) dan mawar (+5,1 juta tangkai). Dengan keunggulan tersebut, Lembang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan agropolitan berbasis hortikultura dan perkebunan

Selain potensi lahan dan komoditasnya, aksesibilitas di Kecamatan Lembang mendukung pengembangan agropolitan. Jalur kolektor utama menghubungkan desa-desa seperti Kayuambon, Cibogo, Cikole, dan Cikidang ke pusat perdagangan, mempermudah distribusi hasil pertanian.

Pasar utama seperti Pasar Buah Lembang dan Griya Lembang menjadi titik distribusi strategis, terutama bagi desa yang berdekatan. Namun, desa yang lebih jauh seperti Suntenjaya masih menghadapi kendala dalam akses distribusi akibat keterbatasan infrastruktur jalan.

(27)

Secara garis besar area kawasan di Kecamatan Lembang ini hampir seluruhnya merupakan area layak untuk digunakan sebagai kawasan pengembangan agropolitan. Selain itu, dalam proses pengerjaannya terdapat beberapa tantangan dalam proses pengumpulan data skala desa, di antaranya keterbatasan dalam data terbaru. Sehingga hasil analisis tersebut belum tentu betul berdasarkan kondisi terbaru di tahun ini.

4.2 Saran Kebijakan Pengembangan Desa Agropolitan

Dalam konteks pengembangan agropolitan, pendekatan berbasis klaster yang mengintegrasikan pertanian, pemasaran, dan industri pengolahan hasil pertanian menjadi strategi yang tepat. Wilayah dengan dominasi pertanian lahan kering, seperti Pagerwangi dan Mekarwangi, dapat difokuskan sebagai sentra produksi hortikultura, sementara daerah dengan potensi agroforestri, seperti Cikidang dan Cikole, dapat diarahkan untuk ekowisata berbasis pertanian. Dengan strategi ini, Kecamatan Lembang tidak hanya dapat berkembang sebagai kawasan agropolitan yang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga tetap menjaga keseimbangan ekologis serta keberlanjutan pertanian di masa depan.

Selain aspek tutupan lahan, aksesibilitas juga menjadi faktor kunci dalam pengembangan agropolitan. Desa yang memiliki akses langsung ke jalan kolektor dan dekat dengan pasar memiliki potensi lebih besar untuk berkembang sebagai pusat produksi dan distribusi pertanian.

Oleh karena itu, selain optimalisasi tata guna lahan, strategi pengembangan agropolitan perlu mencakup peningkatan jaringan jalan lokal agar seluruh desa di Kecamatan Lembang mendapatkan akses yang lebih baik ke pasar dan jalur distribusi utama. Hal tersebut sejalan dengan konsep agropolitan yang menekankan konektivitas antara pusat produksi, distribusi, dan konsumsi, sehingga dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok pertanian.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2024). Kecamatan Lembang Dalam Angka Tahun 2024.

Dokumen Peraturan Perundang-Undangan. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Barat Nomor 7 Tahun 2019 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Erma Yunita, Mubarokah, & Sri Widayanti. (2022). Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH. Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan Berbasis Tanaman Pangan di Kabupaten Sidoarjo, Vol. 9(No. 3).

Hidayat, A., Suratman, S., & Hadmoko, D.S. (2021). Analisis Pengembangan Kawasan Agropolitan Di Kecamatan Sinjai Barat. JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi).

Husen Bahasoan. (2021). Uniqbu Journal of Exact Sciences (UJES). Potensi Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Serang Dengan Menggunakan Model Weighted Overlay, Vol. 2(No. 2), 1-9.

Pandawa Agri Indonesia. (n.d.). Sektor kehutanan. Pandawa Agri Indonesia. Diakses pada 28 Maret 2025, dari https://pandawaid.com/id/sektor/forestry/.

Perhutani. (n.d.). Pinus yang menggiurkan. Perhutani. Diakses pada 28 Maret 2025, dari https://www.perhutani.co.id/en/pinus-yang-menggiurkan/.

Ritonga Ramayana. (2019). Profil Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Sukses di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Repository Universitas Pendidikan Indonesia.

Saleh, M. M. (2018). Analisis Ketersediaan Infrastruktur Kawasan Perdesaan dalam Mendukung Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Enrekang. UIN Alauddin Makassar, 56-116.

(29)

Sintaningrum, & Tomi Setiawan. (2017). Jurnal Manajemen Pelayanan Publik. Quo Vadis Kebijakan Kawasan Agropolitan di Indonesia?, Vol. 1(No. 1).

Talumewo, R. M., Egam, P. P., & Tarore, R. C. (2023). Analisis Pengembangan Infrastruktur Pendukung Kawasan Agropolitan di Langowan. SPASIAL, 11(1), 110-120.

Gambar

Tabel 1. Data yang digunakan
Tabel 5. Skoring Curah Hujan
Tabel 4. Skoring Kemiringan Lereng
Tabel 8. Pembobotan Parameter
+7

Referensi

Dokumen terkait

Potensi Pengembangan dan Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Kentang ( Solanum tuberosum. L) di Kawasan Agropolitan Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.. Di bawah

Metode analisis dalam penelitian ini yaitu dengan menganalisis peta hasil akhir berupa peta potensi lahan sawah di Kabupaten Wonosobo.. Analisis peta tersebut

Berdasarkan analisis overlapping peta Fungsi Kawasan dan peta Penyebaran Kebun Sawit, diperoleh lahan sisa yang dapat dimanfaatkan dalam status APL untuk seluruh

Sumber : Analisis peta lahan kritis, 2005 Secara keseluruhan, berdasarkan hasil analisis data digital, luas lahan kritis di dalam kawasan hutan di wilayah SWP DAS Agam Kuantan

Data yang diperoleh kemudian dianalisis kesesuaian lahan dan analisis SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity dan Thread ). Potensi ekowisata yang terdapat pada

Hasil yang diperoleh adalah peta tutupan lahan dan perubahannya untuk kondisi sebelum terjadinya semburan pada tahun 2002 dan sesudah semburan tahun 2006 dan 2007 yang

Untuk memperoleh tipe tutupan lahan pada sumberdaya hutan Gayo Lues digunakan peta citra landsat tahun 2009, dan berdasarkan analisis citra landsat tersebut

Parameter yang untuk analisis Indeks Potensi Lahan adalah jenis tanah, kemiringan lereng yang diturunkan dari peta topografi, jenis batuan, air permukaan, dan