• Tidak ada hasil yang ditemukan

UTS PRANATA PEMBANGUNAN

N/A
N/A
Rahardyan Anindito Putra

Academic year: 2024

Membagikan " UTS PRANATA PEMBANGUNAN "

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

UTS PRANATA PEMBANGUNAN

Nama : Rahardyan Anindito Putra NIM : 152012221007

Dosen : Dr. Retna Ayu Puspatasari, ST.MT Ar. Puguh Harijono, MM, IAI

1. Pada Pasal 4 ayat (2) tentang fungsi bangunan belum dijelaskan tentang jenis fungsi hunian. Coba Anda uraikan dan jelaskan tujuan dibangunnya jenis hunian tersebut ! Jawaban;

Fungsi hunian yang dimaksud dalam ayat (1) meliputi bangunan untuk rumah tinggal tunggal, rumah tinggal deret, rumah susun, dan rumah tinggal sementara.

a. Rumah Tinggal tunggal

Adalah hunian yang berdiri sendiri, dan terpisah dari bangunan lainnya secara lingkungan dan strukturnya. Tujuan dibangun rumah tunggal antara lain;

- Umumnya sebagai hunian yang menawarkan kenyamanan dan privasi yang tinggi.

b. Rumah Tinggal deret

Berdasarkan SNI 03 -1733-2004, Rumah tinggal deret adalah Hunian yang bergandengan antara satu unit dengan unit lainnya.Tujuan dibangun rumah deret antara lain;

- Mengatasi kekumuhan karena mampu menyediakan rumah bagi masyarakat padat huni dengan memanfaatkan ruang-ruang yang sempit

c. Rumah Susun

Berdasarkan UU UU No. 16/1985, Rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masingmasing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah,Tujuan dibangun rumah susun antara lain;

- Meningkatkan daya guna lahan di perkotaan untuk menciptakan permukiman yang lengkap

- Memenuhi kebutuhan perumahan yang layak bagi rakyat, terutama golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah/MBR, yang menjamin kepastian hukum dalam pemanfaatannya

d. Rumah Tinggal sementara

Rumah tinggal sementara adalah Hunian yang berfungsi sebagai tempat tinggal dalam keadaan darurat pada situasi dan kondisi tertentu yang pembangunannya menggunakan sistem fabrikasi. Tujuan dibangun rumah tinggal sementara antara lain;

- Hunian yang digunakan hanya sementara waktu karena kebutuhan tertentu/kondisi yang darurat seperti bencana alam/kontruksi.

(2)

2. Di dalam kontrak kerja konstruksi, para pihak bisa saja terjadi saling ketidakcocokan sehingga terjadi sengketa dan dispute. Bagaimana dan apa saja urut-urutan yang harus dilakukan oleh para pihak dari sebelum kontrak hingga terjadi sengketa ? Mengapa ? Jawaban;

- Kontrak Biasa

- Kontrak Biasa adalah bentuk kontrak yang lingkup pekerjaannya terdiri dari

merancang, mengawasi, dan membangun - KAK disusun oleh Pemilik Proyek/Pemberi

Tugas

- Masing-masing para pihak yang terlibat langsung memiliki kontrak dengan Pemilik Proyek

- Kontrak semacam ini memberikan kesempatan pada masing-masing pihak untuk bekerja dengan memiliki

otoritas/wewenang sendiri-sendiri dan hanya bertanggung jawab kepada Pemilik Proyek semata

- Bentuk kontrak semacam telah lazim dilakukan, baik untuk proyek-proyek kecil, menengah, dan besar

Kontrak Kerja Konstruksi

- Kontrak Rancang – Bangun ( Design & Built Contract )

- Kontrak Rancang Bangun adalah bentuk kontrak yang lingkup pekerjaannya terdiri dari merancang dan membangun;

- KAK disusun oleh pemilik proyek/pemberi tugas;

- Kontraktor pelaksana memiliki tugas untuk melakukan pekerjaan perancangan dan pelaksanaan dapat menunjuk konsultan perencananya sendiri;

- Kontrak semacam ini dapat memperkecil resiko kesalahan dalam perhitungan harga karena kontraktor pelaksana terlibat langsung dalam proses perancangannya;

- Kementrian PUPR dan Pemprov DKI Jakarta telah melaksanakan pola Kontrak Rancang – Bangun ini sejak lama.

(3)

Sengketa konstruksi dapat timbul antara lain disebabkan karena merasa yang tidak dilayani misalnya:

 Komunikasi yang buruk (Poor Communication)

 Informasi desain yang tidak tepat (delayed design information)

 Informasi design yang tidak sempurna (Inadequate design information)

 Investigasi lokasi yang tidak sempurna (Inadequate site insvetigation)

 Reaksi client yang lambat (Slow client response)

 Sasaran waktu yang tidak realistis (Unrealistic time targets)

 Administrasi kontrak yang tidak sempurna (Inadequate contract administration)

 Kejadian ekstern yang tidak terkendali (Uncontrollabe external events)

 Informasi tender yang tidak lengkap (incomplete tender information)

 Alokasi resiko yang tidak jelas (Unclear risk allocation)

 Keterlambatan – Tidak tepat janji dalam pembayaran (Lateness non-payment)

3. Meskipun substansi sama, jelaskan perbedaan prinsip antara Izin Pemanfaatan Ruang dan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang!

Jawaban;

Izin Pemanfaatan Ruang dan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang adalah dua konsep yang berbeda dalam konteks pengaturan penggunaan lahan atau ruang.

 Izin Pemanfaatan Ruang adalah proses formal untuk memperoleh izin/persetujuan dari pihak berwenang untuk menggunakan lahan atau ruang tertentu untuk tujuan tertentu.

Izin ini dikeluarkan berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan dan harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Izin pemanfaatan ruang ini bertujuan untuk memastikan bahwa penggunaan lahan atau ruang tersebut sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku dan tidak merugikan masyarakat atau lingkungan sekitar.

 Lalu, Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang berkaitan dengan kelayakan dan kesesuaian penggunaan lahan atau ruang tertentu dengan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan di dalamnya. Penilaian kesesuaian ini melibatkan evaluasi terhadap potensi dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari kegiatan yang akan dilakukan di lahan atau ruang tersebut. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan di lahan atau ruang tersebut sesuai dengan kondisi dan karakteristik lingkungan sekitarnya, serta tidak menimbulkan dampak negatif yang signifikan.

Maka dari itu perbedaan antara Izin Pemanfaatan Ruang dan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang terletak pada fokusnya. Izin pemanfaatan ruang adalah proses formal untuk memperoleh izin atau persetujuan untuk menggunakan lahan atau ruang tertentu, sementara kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang berkaitan dengan kelayakan dan kesesuaian penggunaan lahan atau ruang tertentu dengan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan di dalamnya.

(4)

4. Berbeda dengan Perizinan Rusun/Apartemen di perkotaan yang lebih baku dan lebih jelas, perizinan perumahan landed house dan kawasan permukiman menjadi lebih rumit karena ketentuan dan peraturan yang dibuat oleh Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota) setempat. Jelaskan kendala kendala yang dihadapi para pelaku usaha di dalam menghadapi problem ini !

Jawaban;

Para pelaku usaha/bisnis dalam menghadapi masalah perizinan perumahan landed house dan kawasan permukiman dihadapkan pada beberapa masalah, antara lain:

 Ketentuan dan Peraturan yang Berbeda-Beda di Setiap Daerah

Setiap Pemerintah Daerah memiliki aturan dan ketentuan sendiri dalam pemberian izin perumahan landed house dan kawasan permukiman, sehingga para pelaku usaha harus memahami dan mematuhi peraturan yang berbeda-beda di setiap daerah. Hal ini bisa memakan waktu dan biaya yang cukup besar untuk melakukan konsultasi dan mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang.

 Persyaratan dan Standar yang Tinggi

Pemerintah Daerah seringkali menetapkan persyaratan dan standar yang tinggi untuk memperoleh izin perumahan landed house dan kawasan permukiman. Persyaratan tersebut bisa meliputi aspek teknis seperti tata letak bangunan, keamanan, lingkungan, dan fasilitas umum. Hal ini membutuhkan biaya yang cukup besar dan bisa menjadi kendala bagi pelaku usaha yang bermodal kecil.

 Perizinan yang Lambat dan Mahal

Proses pemberian izin perumahan landed house dan kawasan permukiman seringkali memakan waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Hal ini bisa menghambat pelaku usaha dalam memulai atau menyelesaikan proyek perumahan. Selain itu, biaya perizinan yang mahal juga bisa meningkatkan biaya investasi dan mengurangi profitabilitas bisnis.

 Persaingan dengan Pelaku Usaha Lain

Persaingan antara pelaku usaha untuk memperoleh izin perumahan landed house dan kawasan permukiman bisa sangat ketat. Hal ini bisa menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan merugikan pelaku usaha yang tidak memiliki akses atau hubungan yang baik dengan pihak berwenang.

 Konflik dengan Masyarakat atau Pemilik Tanah

Proyek perumahan landed house dan kawasan permukiman seringkali memerlukan lahan yang cukup luas. Hal ini bisa menimbulkan konflik dengan masyarakat atau pemilik tanah yang tidak ingin menjual atau menyewakan tanah mereka. Konflik ini bisa memperlambat atau bahkan menghentikan proyek perumahan secara keseluruhan.

(5)

5. Didalam 49 PP dari UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, terkesan pemerintah berusaha menghindari kata izin dan persyaratan, mengapa ? Jelaskan jawaban Anda!

Jawaban;

 Dalam 49 Pasal Penjelasan Peraturan Pemerintah (PP) dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, terdapat upaya dari pemerintah untuk menghindari kata "izin" dan "persyaratan" yang berlebihan. Tujuannya adalah untuk mempermudah dan mempercepat proses perizinan serta meningkatkan daya saing Indonesia di dunia usaha.

 Pemerintah berpendapat bahwa aturan yang terlalu banyak dan rumit mengenai persyaratan dan perizinan dapat menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, dalam Omnibus Law Cipta Kerja ini, pemerintah berusaha untuk mengurangi jumlah izin dan persyaratan yang diperlukan dalam beberapa sektor tertentu, seperti sektor investasi dan ketenagakerjaan agar dapat memudahkan penyerapan tenaga kerja dan ekonomi negara.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan penyusunan kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang, dalam hal ini adalah proses prijinan/rokemendasi aspek tata ruang dan persetujuan prinsip untuk pembangunan

Peraturan zonasi berisi ketentuan yang harus, boleh, dan tidak boleh dilaksanakan pada zona pemanfaatan ruang yang dapat terdiri atas ketentuan tentang amplop ruang (koefisien

Dari analisis ini akan diperoleh masukan untuk proses penyusunan rencana tata ruang wilayah khususnya yang berkaitan dengan :. • Perencanaan distribusi

Izin Peruntukan Penggunaan Tanah atau disingkat IPPT menjadi tolak ukur bagi keberhasilan sebuah produk tata ruang ditinjau dari kesesuaian penggunaan lahan dengan rencana

 KKKPR Konfirmasi Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKKPR) : adalah dokumen yang menyatakan kesesuaian antara rencana kegiatan pemanfaatan ruang dengan Rencana Detail Tata

(1) Fasilitasi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang di Perairan Pesisir, wilayah perairan, dan wilayah yuridiksi diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada

(20) Persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilimpahkan kepada pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan

Izin Peruntukan Penggunaan Tanah atau disingkat IPPT menjadi tolak ukur bagi keberhasilan sebuah produk tata ruang ditinjau dari kesesuaian penggunaan lahan dengan rencana