• Tidak ada hasil yang ditemukan

Valuasi Ekonomi Wisata Budaya Museum Majapahit di Kawasan Situs Trowulan, Mojokerto

N/A
N/A
Ainun Devi Alfia

Academic year: 2024

Membagikan " Valuasi Ekonomi Wisata Budaya Museum Majapahit di Kawasan Situs Trowulan, Mojokerto"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 VALUASI EKONOMI WISATA BUDAYA:

STUDI ATAS MUSEUM MAJAPAHIT DI KAWASAN SITUS TROWULAN, MOJOKERTO

Dini Andriani1 Surjadi2

Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai ekonomi wisata budaya Museum Majapahit dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan ke Museum Majapahit. Penilaian ekonomi terhadap Museum Majapahit ini menggunakan data primer hasil survei terhadap 181 pengunjung dengan menggunakan metode pendekatan Travel Cost Method (TCM) untuk mengestimasi willingness to pay (WTP) dan valuasi ekonomi. Dengan menggunakan metode regresi Ordinary Least Square (OLS) dan Poisson Regression (PR), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi wisata budaya Museum Majapahit mempunyai potensi nilai sebesar Rp. 92.045.361,- (pada OLS) dan Rp. 174.943.226,- (pada PR) apabila WTP pengunjung yaitu Rp. 2.046,18,- (pada OLS) dan Rp. 3.889,01,- (pada PR). Namun, tiket masuk yang diterapkan saat ini adalah Rp. 5.000,-. sehingga, WTP berada dibawah tarif resmi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan wisatawan adalah biaya perjalanan, zona, dan lokasi substitusi. Rekomendasi yang diberikan sebaiknya untuk beberapa tahun ke depan tiket masuk museum tidak dinaikkan.

Kata kunci: Metode biaya perjalanan; museum; valuasi ekonomi; wisata budaya ABSTRACT

This study aims to estimate the economic value of cultural tourism of Majapahit Museum, and analyze factors that influencing visitor’s number of Majapahit Museum. The economic valuation uses primary data from 181 respondents, and applies The Travel Cost Method (TCM) to estimate willingness to pay (WTP) and economic valuation. By using Ordinary Least Square regression (OLS) and Poisson Regression (PR), the results estimates the economic value between 92,045 million rupiah (in OLS) and 174,9 million rupiah (in PR) per year, where the entrance fee in accordance with the visitor’s WTP is 2.046,18 rupiah (in OLS) and 3.889,01 rupiah (in PR). The value of visitor’s WTP is under 5 thousands rupiah which the entrance fee applied at this time. Factors affecting number of visits include the cost of travel, zone, and substitution. The recommendation given for local government in the next few years the museum entrance fee should not raised.

Keywords:The travel cost method; museum; economic valuation; cultural tourism Klasifikasi Journal of Economic Literature (JEL): D46, Z190

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Wacana mengenai pengembangan wisata di Indonesia menjadi tren yang sangat menarik. Hal ini dikarenakan pariwisata telah menjadi salah satu sektor non migas yang memiliki potensi penyumbang pendapatan negara yang cukup besar. Oleh karena itu, studi yang diarahkan sebagai upaya untuk melihat pengembangan sektor ini menjadi sangat strategis.

Dalam melihat kontribusi pariwisata, bukan hanya melihat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tetapi wisatawan nusantara (wisnus) juga memiliki potensi yang sangat besar bagi Indonesia.

Selama Desember 2013 – Mei 2014, 5 (lima) Provinsi Asal dan Tujuan wisnus yang terbesar yaitu provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara (Kemparekraf, 2014). Dari data tersebut terlihat bahwa Jawa Timur sebagai salah satu provinsi yang memiliki potensi sebagai daerah tujuan dan asal perjalanan wisnus, sehingga menjadi hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini.

1Mahasiswa MPKP FE UI

2 Dosen Pembimbing

(2)

2 Sebagai wilayah bagian dari Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Mojokerto juga turut andil dalam menyumbangkan pembangunan ekonomi dan perkembangan wilayahnya. Kabupaten Mojokerto memiliki satuan kawasan wisata yakni Trawas, Pacet, dan Trowulan. Kawasan Trawas dan Pacet lebih berbasis pada wisata alam. Sementara itu, Trowulan memiliki potensi warisan budaya yang merupakan kawasan bekas ibukota Kerajaan Majapahit, antara lain, Candi Wringin Lawang, Candi Brahu, Kolam Segaran, Makam Putri Campa, Komplek Makam Tralaya, Candi Minak Djinggo, Sumur Upas, Candi Kedaton, Candi Tikus, Situs Klinterejo, dan benda-benda lainnya yang disimpan dalam sebuah Museum Purbakala Trowulan/Museum Majapahit (Disporabudparmojokertokab, 2014).

Sejak beratus-ratus tahun yang lalu kawasan Trowulan telah menjadi lokasi penelitian arkeologi dalam bentuk situs dan artefak Kerajaan Majapahit dan banyak temuan tinggalan Arkeologi di Kawasan Situs Trowulan yang disimpan dalam museum, yaitu Museum Trowulan sekarang lebih dikenal dengan Museum Majapahit. Museum memiliki potensi tinggi sebagai daya tarik wisata budaya. Namun permasalahannya sebagaimana eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan menyebabkan degradasi lingkungan yang dapat memicu bencana alam, begitupula dengan sumber daya budaya tinggalan arkeologi jika dilakukan eksploitasi secara berlebihan akan mempercepat kepunahan dan tidak mendukung kelestarian budaya itu sendiri. Penemuan artefak, arca, yoni atau bentuk tinggalan Arkeologi lainnya yang ditemukan masyarakat dan dijual ilegal menjadi bentuk eksploitasi yang berlebihan karena hanya melihat sisi yang memberikan manfaat langsung bagi si penemu. Eksploitasi pada tinggalan situs Arkeologi oleh masyarakat sekitar situs dikarenakan kurangnya awareness masyarakat. Oleh karena itu, valuasi ekonomi terhadap tinggalan budaya yang berada di museum secara menyeluruh menjadi penting karena akan memberikan manfaat langsung dan tidak langsung dari sumber daya budaya tersebut. Selain itu, museum sering hanya ditempatkan dalam posisi yang tak berbeda dengan art shop atau galeri, indah tetapi kurang informatif. Oleh karena itu perlu kiranya mengkaji lebih lanjut Museum Majapahit karena museum tersebut memiliki koleksi tinggalan warisan budaya dalam konteks situs tinggalan Arkeologi yakni Situs Trowulan.

Selain itu, pentingnya penelitian ini dilakukan juga terkait dengan sifat museum yang memiliki nilai historis yang memerlukan pembiayaan publik serta masuk dalam perencanaan suatu kabupaten/kota khususnya bagi Kabupaten Mojokerto yang memiliki potensi warisan budaya.

1.2.Identifikasi dan Perumusan Masalah

Belum adanya tarif resmi untuk mengunjungi situs-situs yang tersebar di Trowulan dapat menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata budaya di daerah tersebut. Penetapan tarif tidak resmi yang bervariasi misalnya untuk berkunjung ke Pendopo Agung, wisatawan hanya dikenakan biaya parkir senilai Rp 3.000,- untuk kendaraan roda dua. Di Candi Bajang Ratu dan Candi Tikus, pengelola tidak menetapkan tarif bagi para pengunjung. Pengunjung diminta untuk memberikan uang seikhlasnya saja. Sementara untuk jasa parkir, pengelola mengenakan tarif Rp 1.000,- untuk kendaraan roda dua (Budi, 2014). Penetapan tarif resmi di kawasan situs baru ada di Museum Majapahit yakni sesuai dengan Peraturan Bupati Mojokerto Nomor 20 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Nomor 71 Tahun 2013 tentang Perubahan Tarif Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga. Dimana terdapat perubahan harga tiket sebelumnya untuk dewasa Rp. 2.500,- dan anak Rp. 1.500,- jika rombongan lebih dari 30 orang memperoleh potongan 25 persen dari tarif biasa, maka berubah menjadi dewasa Rp. 5.000,- dan anak Rp. 2.500,-. Dari potensi jumlah pengunjung, tidak semua pengunjung dikenakan tarif masuk. Berikut ini, jumlah pengunjung dan uang masuk di Museum Majapahit.

Dalam mengembangkan daya tarik wisata berbasis budaya kiranya sangat penting untuk mengestimasi nilai ekonominya, dan banyak studi yang telah dilakukan. Sebagai contoh salah satu studi yang pernah dilakukan oleh Mohammed dan Ohene (2013) tentang valuasi ekonomi warisan budaya dalam konteks artefak yang berada di Museum Istana Asante Manhyia, Ghana. Studi valuasi ekonomi ini menggunakan individual travel cost method yang bertujuan untuk mengidentifikasi beberapa koleksi artefak di museum tersebut, menggunakan raw data untuk mengestimasi nilai rata-rata (mean) dan standard deviasi pengunjung, serta menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan museum dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengunjung. Di Indonesia, beberapa studi nilai ekonomi tinggalan budaya juga pernah dilakukan seperti Syahdin (2010) dan Subanti (2012). Syahdin (2010) menghitung nilai ekonomi Candi Borobudur dengan menggunakan dua metode valuasi, yaitu biaya perjalanan dan choice-based conjoint analysis. Hasil studi menunjukkan bahwa nilai ekonomi Candi Borobudur terletak diantara rentang Rp 2,2 – 9,27 triliun per tahun. Sementara itu, Subanti (2012) mengukur nilai ekonomi objek wisata sejarah dan alam Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang menghasilkan nilai manfaat per tahun Gedong Songo cukup tinggi (Rp. 1,654 miliar) sedangkan surplus konsumen sebesar 12,345 miliar.

(3)

3 Adanya beberapa studi tersebut menunjukkan bahwa dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian ekonomi (valuasi ekonomi), maka setidaknya dapat ditentukan hal-hal yang harus diperbaiki atau dilakukan agar mampu meningkatkan kepuasan (utility) pengunjung sehingga frekuensi kunjungan wisatawan meningkat. Valuasi ekonomi dalam hal ini bukan hanya melihat dari aspek nilai ekonomi suatu warisan budaya tetapi juga harus melihat aspek nilai konservasi. Seperti diketahui dalam upaya konservasi Situs Trowulan khususnya Museum Majapahit bukanlah perkara yang mudah, banyak hambatan yang dihadapi oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah).

Penetapan tarif masuk museum di Indonesia (termasuk Museum Majapahit) terbilang masih relatif rendah bila dibandingkan dengan museum di negara maju, termasuk pendanaannya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Karp and Lavine (1990) dalam (Mohammed & Ohene, 2013): 3) bahwa “a major bottleneck confronting the existence and sustainability of all museums world over is lack of funding”. Kalaupun museum memperoleh dana dari pemerintah, itupun belum mencukupi bagi museum menjalankan tugas dan fungsinya secara maksimal. Museum sebagai historic properties memiliki karakteristik barang publik karena memerlukan pembiayaan publik dan juga masuk dalam perencanaan suatu kota khususnya bagi kota yang memiliki warisan budaya yang potensial (Tunbridge (1999) dalam (Yung, Yu, & Chan, 2013):335)).

Berdasarkan latar belakang diatas, pertanyaan dalam penelitian ini adalah berapakah nilai ekonomi (valuasi ekonomi) wisata budaya Museum Majapahit? Faktor-faktor apa saja yang menentukan nilai ekonomi (valuasi ekonomi) wisata budaya Museum Majapahit?

1.3.Tujuan Penelitian

Mengingat luasnya ruang lingkup wisata budaya, maka penelitian ini dibatasi dengan memfokuskan estimasi nilai ekonomi wisata budaya Museum Majapahit serta faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekonominya. Studi tentang valuasi ekonomi dalam penelitian ini dibatasi dengan Travel Cost Method (TCM) atau metode biaya perjalanan. Maka, tujuan penelitian tesis ini adalah:

a. Mengestimasi nilai ekonomi (valuasi ekonomi) wisata budaya di Museum Majapahit

b. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisata budaya Museum Majapahit.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan Pemerintah Pusat (BPCB Jatim, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) sehingga mampu mengembangkan Kawasan Situs Trowulan khususnya Museum Majapahit sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang berdaya saing dan mampu menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu andalan dalam memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.

Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi peneliti-peneliti lainnya yang mengambil topik berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan pariwisata berbasis budaya dan potensi lokal, ataupun pihak lain yang tertarik dengan permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini.

II. TINJAUAN TEORITIS

Valuasi Ekonomi Wisata Budaya: Konsep dan Cara Perhitungannya

Valuasi ekonomi merupakan suatu upaya melakukan penilaian manfaat secara ekonomi yang biasanya diterapkan dalam konteks pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan (SDAL) mengingat pemanfaatan sumber daya alam memiliki nilai guna secara langsung baik nilai ekonomi maupun nilai finansial disamping berbasis pelestarian (Fauzi, 2014). Fauzi (2014:10-15) dan Patunru (2010) juga mengatakan bahwa valuasi ekonomi SDAL berperan penting dalam menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan publik karena menjadi sumber informasi dalam melakukan analisis biaya manfaat yang lebih tepat, salah satunya dengan mengestimasi willingness to pay (WTP) dari masyarakat. Menurut Patunru (2010), valuasi penting karena hampir semua unsur lingkungan (air,udara, suara, dan lain-lain) adalah barang non-pasar, dimana untuk memperolehnya tidak terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. Karena itu tidak ada harga keseimbangan di pasar, sehingga dibutuhkan teknik valuasi ekonomi untuk menerjemahkan nilainya ke dalam satuan harga.

Apakah valuasi ekonomi SDAL dapat digunakan untuk mengestimasi nilai ekonomi suatu sumber daya budaya? Mazzanti (2003) dan Bedate, dkk (2003) dalam studi mereka mengatakan warisan budaya atau sumberdaya budaya memiliki nilai ekonomi yang penting karena terkait juga dengan konservasi dan kondisi yang mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana halnya dengan sumberdaya alam,

(4)

4 secara khas keduanya dapat dikategorikan sebagai barang publik. Warisan budaya (cultural heritage) selain sebagai barang publik, pada kenyataannya budaya dan warisan budaya juga memiliki manfaat (benefits) dan dapat mensejahterakan masyarakat (well being).

Valuasi ekonomi merupakan pengukuran jumlah maksimum seseorang ingin mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang dan jasa lainnya secara formal. Konsep ini disebut keinginan membayar (willingness to pay atau WTP) seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan Fauzi (2014:10-15). Keinginan membayar (willingness to pay/WTP) seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan (Thorsby 2001:19 dalam (O'Brien, 2010)), biasanya direfleksikan dalam bentuk harga pasar (market prices). Setiap orang selalu lebih memilih WTP daripada harga untuk barang atau jasa itu sendiri dan perbedaan antara harga dan WTP merujuk pada surplus konsumen (consumer surplus).

Surplus konsumen menunjukkan keuntungan yang diperoleh konsumen karena membeli komoditas.

Keuntungan tersebut diperoleh oleh konsumen karena harga yang berlaku pada kondisi keseimbangan lebih rendah daripada harga yang mau mereka bayarkan.

Dalam pembahasan ini valuasi ekonomi sumberdaya lingkungan dapat diadopsi dalam konteks sumberdaya arkeologi atau cagar budaya karena sama-sama memiliki sifat barang publik (public goods).

Barang publik didefinisikan dalam dua karakteristik, yaitu tidak ada persaingan (non-rivalrious) dalam konsumsi dan tidak bisa mengeluarkan (non-excludable) orang lain dalam penggunaan. Sebuah barang dapat dilakukan non-rivalrious dalam konsumsi ketika lebih dari satu orang yang bisa mengambil manfaat dari tingkat supply yang ada pada saat yang sama. Sedangkan, sebuah benda dapat dikatakan non-excludable ketika tidak mungkin dilakukan bagi satu orang untuk menjaga kontrol eksklusif dalam penggunaan benda tersebut (Mankiw, 2011):218). Selain itu, menurut Tunbridge (1999) dalam (Yung, Yu, & Chan, 2013):335) mengatakan bahwa Historic properties memiliki karakteristik barang publik karena memerlukan pembiayaan publik dan juga masuk dalam perencanaan suatu kota khususnya bagi kota yang memiliki potensi warisan budaya yang luar biasa.

Prinsip dasar metode TCM adalah teori permintaan konsumen dimana nilai yang diberikan seseorang pada lingkungan (barang yang tidak terpasarkan/non market goods) dapat disimpulkan dari biaya yang dikeluarkan ke lokasi yang dikunjungi (Fauzi, 2014): 180-195; Pearce et.al dalam (O'Brien, 2010)).

Ditegaskan pula oleh Fleming and Cook (2008) bahwa TCM merupakan prosedur non-pasar yang berusaha untuk menempatkan nilai suatu objek kunjungan dengan menggunakan perilaku konsumsi di pasar terkait.

Secara khusus, metode ini mengkaji “biaya konsumsi” yang dilihat berdasarkan jumlah uang yang di bayar dan waktu yang digunakan untuk mencapai tempat rekreasi. Jumlah uang tersebut mencakup biaya transportasi, biaya masuk, pengeluaran di tempat rekreasi, dan biaya korban waktu yang dikeluarkan seseorang. Menurut Fleming and Cook (2008) jumlah total biaya perjalanan pada awalnya dihitung per rombongan, yaitu meliputi biaya sewa kendaraan bisa didefinisikan sebagai tiket pesawat udara, bus ataupun harga tiket kereta api danbiaya akses masuk lokasi kunjungan setiap rombongan yaitu harga tiket masuk. Biaya per orang dapat diketahui dengan membagi total biaya yang dikeluarkan dalam rombongan dengan jumlah orang dewasa dalam rombongan, sehingga akan didapat biaya perjalanan per orang. Biaya perjalanan direpresentasi sebagai nilai atau harga barang lingkungan tersebut, namun selain biaya perjalanan nilai suatu tempat wisata juga menggunakan variabel biaya perjalanan ke lokasi alternatif, pendapatan rumah tangga, satu set preferensi dan variabel tingkah laku. Dengan demikian dapat dipahami bahwa preferensi individu dapat menjadi sumber bagi pemerintah untuk membuat suatu proses pengambilan kebijakan Mankiw (2014: 140).

Oleh karena TCM berkaitan dengan surplus konsumen, maka dugaan terhadap besaran surplus konsumen dapat dilakukan jika hubungan antara jumlah kunjungan dan besaran biaya diketahui.

Hubungan ini disebut “trip-generation function” (TGF), dimana TGF dapat dituliskan sebagai berikut (Fauzi, 2014): 182-183):

V = f (TC, X) ...(1)

dimana, V adalah jumlah kunjungan ke suatu lokasi, TC merupakan biaya perjalanan, dan X adalah variabel sosial ekonomi lainnya yang diduga akan berpengaruh terhadap jumlah kunjungan.

Secara sederhana, kerangka berpikir pemecahan masalah sebagai berikut:

(5)

5 Gambar 1. Kerangka Analisis Valuasi Ekonomi Wisata Budaya Museum Majapahit

III. METODE PENELITIAN

Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan survei menggunakan kuesioner terhadap pengunjung/wisatawan, wawancara mendalam, dan observasi. Data sekunder diperoleh dari sumber literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.

Dalam penelitian ini digunakan teknik nonprobability sampling (penarikan sampel secara tidak acak) dengan purposive sampling. Menurut Arikunto (2010, hal. 183), purposive sampling dilakukan dengan cara mengambil subyek bukan berdasarkan strata, random atau daerah, tetapi didasarkan atas adanya tujuan penelitian. Dengan demikian, batasan pengambilan sampel/responden yaitu: berstatus pengunjung yang melakukan kegiatan berwisata di Museum Majapahit; berumur minimal 18 (delapan belas) tahun dan diharapkan sudah mampu membuat keputusan dengan logika yang sehat; sudah bekerja/memiliki penghasilan sendiri; jika termasuk dalam kategori rombongan, maka survei dilakukan pada ketua rombongan.

Besaran sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin (Prasetyo & Jannah, 2005): 137- 138); (Suharsaputra, 2012): 119) sebagai berikut:

n =

dimana, n: jumlah sampel, N: jumlah populasi, e: batas toleransi kesalahan (error tolerance).

Jika berdasarkan data jumlah kunjungan wisatawan nusantara dengan kategori umum (diasumsikan pengunjung ini membayar tiket masuk) ke Museum Majapahit pada tahun 2014 diperoleh dari total kunjungan 44.984 wisatawan umum dengan batas toleransi kesalahan ε = 7,5% = 0,075, diperoleh batas minimal sampel sebesar 177 responden. Sementara, jika pengambilan sampel dilakukan berdasarkan jumlah kunjungan kategori umum pada bulan Mei 2014 sebesar 3.827 orang, maka dengan rumus Slovin di atas diperoleh batas minimal sampel sebesar 169,89 ≈ 170 responden.

Dengan mengacu pada kerangka pikir analisis dalam penelitian ini perpaduan model yang digunakan, yaitu:

Vi = f (TCi, Xi, PRi)...(2) Valuasi Ekonomi Wisata Budaya Museum Majapahit

Faktor-faktor yang mempengaruhi valuasi ekonomi wisata budaya Museum Majapahit

Karakteristik Perjalanan

Total Biaya Perjalanan

Preferensi Wisatawan Sosial Ekonomi

Waktu /Lama Kunjungan Tempat tinggal (Zona)

Umur Pendidikan

Substitusi Objek wisata budaya lain

Pendapatan

Persepsi Pengunjung

Hasil Penelitian & Analisis

Kesimpulan & Masukan Kebijakan

Kepuasan Pengunjung

(6)

6 Dimana, Vi adalah jumlah kunjungan, merupakan fungsi dari TCi (biaya perjalanan ke Museum Majapahit), Xi (variabel sosial ekonomi) dan PRi adalah variabel preferensi wisatawan yang diduga akan berpengaruh terhadap jumlah kunjungan. Selain TC, karakteristik perjalanan juga terdiri dari waktu (time/T) dan zona (zone/Z). Variabel sosial ekonomi terdiri dari variabel umur (AGE), pendidikan (education/EDU), dan pendapatan (income/INC). Untuk variabel preferensi terdiri dari lokasi subtitusi (SUBS), persepsi (PERSEP), dan tingkat kepuasan (SAT). Untuk lebih lengkapnya, model dalam penelitian ini yaitu:

Vi = f (TCi, Ti, ZONEi, AGEi, EDUi, INCi, SUBSi, PERSEPi, SATi, ...(3)

Dalam bentuk linear, fungsi permintaan ditulis sebagai berikut:

Vi = β0 + β1TCi + β2Ti + β3ZONEi + β4AGEi + β5EDUi + Β6INCi + β7 SUBSi + β8PERSEPi +

β9SATi + εi ... ...(4) Variabel-variabel yang digunakan dalam estimasi model Travel Cost Method (TCM) dapat dijelaskan dalam tabel Berikut:

Tabel 1.Variabel yang digunakan dalam model penelitian

Vi Variabel dependen, yaitu jumlah kunjungan individu i ke Museum Majapahit dalam satu tahun terakhir (kali)

TCi

Total biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh individu i untuk mengunjungi Museum Majapahit (dalam rupiah), diharapkan mempunyai hubungan negatif dengan variabel dependen (jumlah kunjungan),

Ti Waktu yang dihabiskan oleh individu i pada saat mengunjungi Museum Majapahit (satu kali kunjungan dalam jam),

ZONEi Tempat tinggal asal pengunjung/zona individu i dari rumah (residen) hingga ke Museum Majapahit, bernilai 0 untuk zona di luar Jatim, bernilai 1 untuk zona di dalam Jatim

AGEi Umur individu i (dalam tahun),

EDUi Tingkat pendidikan individu i, bernilai 1 jika lulus SD, 2 jika lulus SMP, 3 jika lulus SMA, 4 jika lulus Diploma, 5 jika lulus S1, dan seterusnya,

INCi Pendapatan individu i per bulan (dalam rupiah),

SUBSi Karakteristik subtitusi yang mungkin ada di tempat lain, bernilai 1 jika ada, bernilai 0 jika tidak ada.

PERSEPi

Total jumlah penilaian individu i terhadap daya tarik dari tempat wisata yang dikunjungi.

Dinyatakan dengan: Sangat Tidak Setuju bernilai 1, Tidak Setuju bernilai 2, Netral bernilai 3, Setuju bernilai 4, dan Sangat Setuju bernilai 5,

SATi

Tingkat kepuasan dari individu i yang berkunjung ke Museum Majapahit, bernilai Sangat Tidak puas maka bernilai 1, Tidak Puas maka bernilai 2, Biasa maka bernilai 3, Puas maka bernilai 4, dan Sangat Puas maka bernilai 5,

εi Error term dari model, β0 Nilai konstanta dari model,

Β1, β2, ...., β12 Koefisien regresi dari masing-masing variabel

Sumber: dari berbagai sumber, diolah sesuai tujuan penelitian

Dikarenakan nilai ekonomi berkaitan dengan surplus konsumen, maka setelah mengetahui fungsi permintaan di atas, selanjutnya akan diukur surplus konsumen yang merupakan proxy dari nilai WTP terhadap Museum Majapahit. Dalam metode biaya perjalanan (TCM) diasumsikan jumlah kunjungan dipengaruhi oleh biaya perjalanan dengan hubungan keduanya negatif yang mengakibatkan kurva permintaan memiliki slope negatif. Untuk menghitung Surplus Konsumen (CS), yaitu:

CS = x alas x tinggi = x α x = ...(3.4)

Maka, fungsi permintaan linier Surplus konsumen tersebut dapat diukur melalui formula sebagai berikut (Fauzi, 2010):

(7)

7 WTP ≈ CS = ... (3.5)

Dimana,

WTP = Willingness to Pay (kesediaan untuk membayar) CS = Consumer Surplus

V = Jumlah kunjungan yang dilakukan oleh individu i dalam satu tahun terakhir β1 = Koefisien regresi dari variabel TC (Total Cost)

IV. MUSEUM MAJAPAHIT

Secara administratif Museum Majapahit terletak di Jalan Pendopo Agung, Dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Museum Majapahit menempati lahan seluas 54.935 m2 dengan topografi relatif landai. Inisiasi pendirian museum dilakukan sejak tanggal 24 April 1924 oleh R.A.A. Kromodjojo Adinegoro (seorang Bupati Mojokerto pada masa itu), bekerja sama dengan Ir. Henri Maclaine Pont (seorang arsitek Belanda), mendirikan Oudheidkundige Vereeniging Majapahit (OVM) yaitu suatu perkumpulan yang bertujuan untuk meneliti peninggalan- peninggalan Majapahit dengan menempati sebuah rumah di kawasan Situs Trowulan yang terletak di jalan raya jurusan Mojokerto-Jombang. Semakin banyaknya temuan Arkeologi di Kawasan Situs Trowulan, maka pada tahun 1926 dibangun sebuah museum yang dikenal dengan nama Museum Trowulan (Kusumajaya, Soviyani, & Nugroho, 2013), sekarang dikenal dengan nama Museum Majapahit. Museum Majapahit dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur (museumindonesia, 2009).

Dikarenakan tugas BP3 Jawa Timur (sejak tahun 2012 menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya/BPCB Jawa Timur) tersebut tidak hanya melaksanakan perlindungan terhadap benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit saja, tetapi seluruh peninggalan kuno di Jawa Timur, menyebabkan koleksinya semakin bertambah banyak. Guna mengatasi hal tersebut museum dipindahkan ke tempat yang lebih luas, berjarak sekitar ± 2 kilometer dari tempat semula namun masih di kawasan Situs Trowulan. Struktur organisasi pengelolaan Museum Majapahit mengacu pada struktur organisasi kelompok kerja yang dibentuk oleh BPCB Jatim. BPCB Jatim sendiri berada dibawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sementara untuk penarikan tarif retribusi/tiket masuk museum dilakukan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Mojokerto dan kemudian disetorkan ke Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kab. Mojokerto sesuai peraturan Bupati Mojokerto. Berikut ini jumlah pengunjung di Museum Majapahit.

Tabel 2. Jumlah Pengunjung di Museum Majapahit Tahun 2009 – 2014

Sumber: Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Museum Majapahit, Laporan Akhir BPCB 2009 - 2014 Berdasarkan Tabel 2. di atas, terlihat jumlah kunjungan di Museum Majapahit Trowulan mengalami dinamika setiap tahunnya. Pada tahun 2009 Pemkab Mojokerto mencanangkan program wajib kunjungan ke Museum Majapahit khususnya untuk kalangan pelajar dan memberikan dukungan dana berupa fasilitas gratis untuk transportasinya (Lathif, 2011). Tahun 2010 dan 2011 program tersebut tidak berjalan lagi dikarenakan adanya pergantian pemerintahan kabupaten yang baru sehingga kebijakan pun berubah.

Tahun 2012 kunjungan di Museum Majapahit kembali meningkat (110.232 orang), bahkan pada tahun 2013 jumlah kunjungan wisatawan (wisnus dan wisman) mengalami peningkatan yang luar biasa hingga mencapai angka 249.676 orang atau naik sebesar 126,5 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan

Tahun Jumlah 2009 117.588

2010 73.800

2011 60.591

2012 110.232 2013 249.676 2014 124.215

(8)

8 karena sejak tahun 2012 dan 2013 pengelola Museum Majapahit melakukan kerjasama dengan agen perjalanan (Majapahit Tour dan Merapi Tour) untuk mendatangkan wisatawan. Selain itu, pengelola Museum Majapahit juga melakukan even-even bekerjasama dengan pihak ketiga/sponsorship dari produk makanan dan minuman, operator seluler, dan lain sebagainya. Namun, pada tahun 2014 total jumlah kunjungan mengalami penurunan sebesar 50,2 persen atau sebesar 124.215 orang karena salah satu agen perjalanan mengundurkan diri dari kerjasamanya, sementara untuk total kunjungan dengan kategori umum sebesar 44.984 orang.

V. HASIL DAN ANALISIS

5.1. Hasil Penelitian

Survei yang dilakukan dalam penelitian ini telah berhasil mengumpulkan data pengunjung Museum Majapahit sebanyak 200 responden. Namun, dari 200 kuesioner tidak seluruhnya dapat dianalisis lebih lanjut. Dengan cara sederhana, dipilih yang dianggap memiliki jawaban lengkap dan bisa dianalisis lebih lanjut sebanyak 181 kuesioner atau 90,5 persen. Jumlah hasil 181 responden ini sudah melebihi dari target yang ditentukan sebelumnya yang dianggap mewakili sampel dari jumlah pengunjung di Museum Majapahit yaitu minimal 177 responden atau 170 responden.

5.1.1. Profil Demografi/Sosio Ekonomi Responden

Dari hasil survei diperoleh gambaran bahwa mayoritas jenis kelamin responden adalah laki-laki sebanyak 104 responden atau 57,46 persen. Sedangkan untuk responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 42,54 persen atau 77 responden. Berdasarkan kelompok umur, mayoritas umur responden berada pada rentang umur antara 18 – 25 tahun yaitu sebesar 29 persen atau 53 responden. Jumlah terbanyak kedua adalah rentang umur antara 26 – 33 tahun dan rentang umur antara 34 – 41 tahun dengan masing-masing sebesar 26 persen atau masing-masing 46 dan 47 responden. Profil responden berdasarkan tingkat pendidikan yaitu mayoritas responden yang datang berkunjung telah menamatkan tingkat pendidikan strata 1 (S1) yaitu sebesar 50,28 persen atau 91 responden, urutan kedua yaitu menamatkan tingkat pendidikan sekolah menengah atas (SMA) sebesar 37 persen atau 66 responden. Sedangkan, berdasarkan asal provinsi pengunjung yaitu mayoritas responden berasal dari Propinsi Jawa Timur dengan jumlah persentase mencapai 86 persen atau 155 responden dan sisanya 14 persen berasal dari luar Provinsi Jawa Timur seperti Bali, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

5.1.2. Preferensi Responden

Preferensi responden dapat dilihat berdasarkan jenis kunjungan responden, lokasi substitusi, dan daya tarik Museum Majapahit Responden sebagian besar cenderung mengunjungi Museum Majapahit secara rombongan atau bersama teman/kerabat/keluarga sebesar 73 persen (132 responden), dan rombongan sebesar 23 persen (42 responden), sisanya adalah jenis kunjungan sendiri/tanpa teman sebesar 4 persen (7 responden). Berdasarkan preferensi responden terhadap lokasi substitusi (mengenal baik) objek wisata budaya lain di Jawa Timur selain Museum Majapahit yaitu dari 181 responden, sebesar 77 persen atau 139 responden menyatakan mengenal baik, sementara 23 persen atau 42 responden menyatakan tidak memiliki substitusi objek wisata budaya lain.

a. Preferensi Responden Berdasarkan Nilai Non Penggunaan Museum Majapahit

Menurut Pearce et.al dalam (O'Brien, 2010), suatu kawasan memiliki nilai ekonomi yang meliputi nilai penggunaan dan nilai non penggunaan. Nilai Non Penggunaan/Nilai Tanpa Penggunaan (non-use value), terdiri dari nilai warisan dan nilai keberadaan. Nilai warisan adalah nilai yang didasarkan pada suatu keinginan individu atau masyarakat untuk mewariskan kawasan kepada generasi yang akan datang.

Sedangkan nilai keberadaan adalah nilai yang diberikan masyarakat maupun pengunjung terhadap kawasan atas manfaat spiritual, estetika dan kultural. Kriteria daya tarik utama di setiap objek wisata tentunya berbeda-beda. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan mengenai preferensi responden terhadap nilai Non-Penggunaan bahwa museum memiliki daya tarik wisata koleksi warisan budaya Kerajaan Majapahit ke generasi selanjutnya, sebagai berikut:

(9)

9 Tabel 3. Persentase Preferensi Responden Terhadap Nilai Non-Penggunaan Museum: Daya Tarik Utama

Koleksi Warisan Budaya Kerajaan Majapahit (n=181)

Preferensi Daya Tarik Utama Jumlah Responden Persentase

Sangat Tidak Setuju 10 5,52

Tidak Setuju 0 0

Netral 4 2,21

Setuju *84 46,41

Sangat Setuju 83 45,86

Sumber: Data primer (2015), data diolah

Dari hasil survei sebagaimana tersaji dalam Tabel 3, diperoleh gambaran tentang preferensi responden terhadap nilai non-penggunaan Museum Majapahit karena koleksi warisan budaya, yang menyatakan setuju sebanyak 84 responden atau 46,41 persen dan sangat setuju sebanyak 83 responden (45,86 persen) dari jumlah responden yang diambil dan yang paling sedikit responden yang menyatakan tidak setuju yaitu 0 responden.

b. Preferensi Responden Berdasarkan Nilai Penggunaan Museum Majapahit

Nilai Penggunaan (use value) adalah nilai ekonomi yang berkaitan dengan pemanfaatan in situ dari suatu sumber daya, seperti pemanfaatan untuk konsumsi atau rekreasi. Nilai penggunaan terdiri dari nilai penggunaan langsung (direct use value) dan nilai penggunaan tidak langsung (indirect use value). Nilai penggunaan langsung biasanya dalam bentuk konsumsi seperti pemanfaatan rekreasi atau sekedar dinikmati sambil jalan-jalan. Nilai penggunaan tidak langsung yakni manfaat yang diperoleh dari sumber daya alam dan jasa lingkungan tanpa harus secara aktual mengonsumsinya (Fauzi, 2014: 23-25). Nilai penggunaan tidak langsung dalam penelitian ini misalnya perlindungan tinggalan budaya Kerajaan Majapahit untuk memperkuat identitas bangsa, memperkokoh rasa cinta tanah air, dan meningkatkan kunjungan wisatawan.

Pada saat berwisata tentunya ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan orang untuk berkunjung ke suatu objek wisata. Aspek nilai penggunaan langsung tersebut diantaranya nilai rekreasi dan nilai edukasi.

Tabel 4. Persentase Penilaian/Persepsi Responden Terhadap Aspek Nilai Penggunaan Langsung Museum Penilaian Responden Sangat Tidak

Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Memiliki nilai rekreasi 5 (2,8%) 28 (15,5%) 39 (21,5%) *85 (47,0%) 24 (13,3%) Memiliki nilai edukasi 4 (2,2%) 3 (1,7%) 26 (14,4%) *95 (52,5%) 53 (29,3%) Sumber: Data Primer (2015), data diolah

Dari Tabel 4. diatas, terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki penilaian yang relatif positif terhadap aspek-aspek yang dimiliki Museum Majapahit. Pada komponen penilaian terhadap Museum Majapahit lebih memiliki nilai rekreasi dibandingkan objek wisata budaya lain di Jawa Timur, responden menilai setuju sebesar 47 persen atau 85 responden. Demikian pula penilaian terhadap Museum Majapahit pada aspek milai rekreasi (setuju 47 persen), nilai edukasi (setuju 52,5 persen). Dalam penelitian ini, juga dilihat preferensi responden terhadap kondisi Museum Majapahit yang dapat mempengaruhi persepsinya.

Penilaian responden dilakukan terhadap lokasi yang strategis, fasilitas yang tersedia di objek wisata, kondisi kebersihan lingkungan, kenyamanan, keamanan, dan harga tiket. Berikut ini penilaian responden terhadap Museum Majapahit:

Tabel 5. Persentase Penilaian/Persepsi Responden Terhadap Kondisi Museum Majapahit Penilaian Responden Sangat Tidak

Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat

Setuju

Lokasi Strategis 0 (0%) 22 (12,2%) *76 (42%) 67 (37%) 16 (8,8%)

Fasilitas lengkap 2 (1,1%) 43 (23,8%) *87 (48,1%) 46 (25,4%) 3 (1,7%)

Kondisi bersih, aman, nyaman 0 (0%) 4 (2,2%) 51 (28,2%) *100 (55,2%) 26 (14,4%)

Informasi mudah 3 (1,7%) 14 (7,7%) *76 (42%) 68 (37,6%) 20 (11%)

Tiket Murah 3 (1,7%) 10 (5,5%) 49 (27,1%) *77 (42,5%) 42 (23,2%)

Sumber: Data Primer (2015), data diolah

(10)

10 Berdasarkan tabel di atas, kondisi museum yang bersih, aman, dan nyaman sebesar 55,2 persen atau 100 responden menyatakan setuju. Demikian pula responden cenderung menjawab netral untuk aspek lokasi strategis (42 persen), ketersediaan fasilitas yang lengkap (48,1 persen), dan kemudahan informasi (42 persen).

Hal ini terlihat bahwa di sisi lain, meskipun responden memiliki penilaian positif terhadap kondisi Museum Majapahit namun responden masih menemui beberapa kesulitan, diantaranya: terlihat bahwa transportasi umum, fasilitas, dan informasi masih dirasakan kurang oleh pengunjung. Kesulitan yang dihadapi responden adalah informasi yang kurang sebesar 24,86 persen atau 45 responden. Informasi yang dimaksud diantaranya berupa tenaga pemandu (tour guide), petunjuk arah keluar/masuk, papan informasi, serta informasi yang tersedia di media elektronik dan cetak (leaflet, brosur, buku). Transportasi juga dirasakan menjadi kendala bagi pengunjung (22,65 persen atau 41 responden. Berdasarkan preferensi dan penilaian responden terhadap daya tarik Museum Majapahit, maka ketika ditawarkan kesediaan responden jika harga tiket masuk dinaikkan diperoleh hasil bahwa responden cenderung tidak setuju sebesar 55 persen (100 responden) dan bersedia dinaikkan sebesar 45 persen (81 responden). Terlihat bahwa sebagian besar responden cenderung tidak bersedia membayar lebih mahal dari harga tiket masuk yang sudah ditetapkan oleh Pemkab Mojokerto.

5.2.Analisis Penelitian

5.2.1. Estimasi dan Analisis Metode Biaya Perjalanan

Estimasi dengan metode biaya perjalanan (TCM) bertujuan melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan Museum Majapahit.

Tabel 6. Hasil Estimasi model biaya perjalanan/Travel Cost Method (TCM) di Museum Majapahit

TCM OLS TCM Poisson

VARIABEL

TC 3.06e-07*** 1.61e-07***

(4.84e-08) (2.23e-08)

T 0.0751443 0.04489

(0.0631086) (0.328651)

ZONE -0.5915392*** - 0.3691377***

(0.2224409) (0.1028515)

AGE 0.0024856 0.0018421

(0.068075) (0.004023)

EDU -0.0479183 -0.0254796

(0.577787) (0.0316576)

INC -2.01e-08 -1.31e-08

(1.48e-08) (1.07e-08)

SUBS 0.4610422** 0.2788811**

(0.1289064) (0.0816784)

PERSEP 0.0242869 0.0133924

(0.168969) (0.009762)

SAT 0.0044372 0.0033482

(0.0966193) (0.0564925)

Constanta 0.6744889 -0.0837291

(0.607711) (0.3409607)

Observations 181 181

Prob>F 0.0000 Prob>Chi2 0.0000

R-Squared 0.1313 0.0197

Robust standard errors in parentheses

Tanda dalam kurung merupakan nilai Robust standar eror Keterangan:

***: signifikan α = 1%, ** : signifikan α = 5%, *: signifikan α = 10%

Sumber: Data Primer (2015), diolah

(11)

11 Berdasarkan Tabel 6, analisis regresi OLS dan Poisson menggunakan robust standard error. Hal ini direkomendasikan oleh Greene (2012), Wooldridge (2002) dan Druker (2003) yang mengatakan bahwa analisis regresi sebaiknya menggunakan robust standard error sehingga hasil estimasi yang disajikan sudah valid dan robust, yang pada akhirnya tidak perlu melakukan uji kelayakan model seperti heteroskedastisitas, autokorelasi, dan normalitas. Selain itu, robust standard error juga digunakan jika dalam data tersebut dimungkinkan adanya data outlier, apalagi data dengan jenis cacah/survei. Sebagai informasi, hasil uji kelayakan model dapat dilihat pada lampiran 2 dalam penelitian ini.

Dari analisis tersebut diperoleh estimasi nilai R2 = 0,1313 (pada OLS) menandakan bahwa variasi dari perubahan nilai jumlah kunjungan (V) mampu dijelaskan serentak oleh variabel-variabel independen sebesar 13,13%, sedangkan sisanya sebesar 86,87% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak masuk dalam model. Sedangkan dalam estimasi PR diperoleh nilai R2 = 0,0197 menandakan bahwa variasi dari perubahan nilai jumlah kunjungan (V) mampu dijelaskan serentak oleh variabel-variabel independen sebesar 1,97%, sedangkan sisanya sebesar 98, 03% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak masuk dalam model. Namun, dalam banyak literatur TCM, indikator R2 sering tidak dijadikan faktor utama untuk membandingkan model yang baik karena melibatkan variabel dependen yang berbeda, sehingga sering nilai R2 yang kecil pun tidak terlalu menjadi masalah utama (Hanley dan Spash 1995; Maille dan Mendelsohn 1993; Khan 2006 dalam Fauzi, 2014:184).

a. Estimasi analisis metode biaya perjalanan dengan Ordinary Least Square (OLS)

Hasil regresi OLS dan PR beserta penjelasannya pada level signifikansi 0,05 dan berdasarkan Tabel 6. dapat diperoleh temuan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah kunjungan secara umum di kawasan Museum Majapahit adalah biaya perjalanan (TC), jarak perjalanan/zona individu i dari rumah hingga ke Museum Majapahit (ZONE), dan adanya substitusi tempat wisata di tempat lain (SUBS).

Interpretasi untuk variabel yang signifikan mempengaruhi jumlah kunjungan (V) di Museum Majapahit yakni dapat dilihat pada koefisien biaya perjalanan (TC) = 3.06e-07 bernilai positif, yang artinya jika variabel TC naik sebesar 1 jutaan rupiah dengan asumsi variabel lain konstan/ceteris paribus, maka jumlah kunjungan wisatawan akan naik sebesar 0,306 kali. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori/studi yang pernah dilakukan, bahwa TC sebaiknya bernilai negatif, dimana semakin tinggi biaya perjalanan (TC) maka jumlah kunjungan semakin berkurang. Hal ini berarti, Museum Majapahit memiliki potensi untuk ditawarkan ke wisatawan yang biaya perjalananya besar seperti wisatawan mancanegara dan wisatawan dari luar kota.

Pada tabel 6, variabel lain yang signifikan adalah variabel ZONE dimana koefisien ZONE= -0,5915 yang artinya jika variabel ZONE naik sebesar 1 kilometer maka variable jumlah kunjungan (V) akan turun sebesar 0,5915 dengan asumsi variabel lain konstan/ceteris paribus. Hal ini berarti, Museum Majapahit memiliki potensi untuk ditawarkan ke wisatawan yang jarak perjalanannya dekat dan masih dalam ruang lingkup Provinsi Jawa Timur.

Faktor penentu jumlah kunjungan yang terakhir adalah karakteristik substitusi objek wisata budaya di tempat lain. Diperoleh koefisien SUBS = 0,4610 yang artinya jika variabel SUBS naik sebesar 1 satuan (1 lokasi substitusi) maka variabel jumlah kunjungan akan naik sebesar 0,4610 dengan asumsi ceteris paribus.

Menurut teori/studi sebelumnya sebaiknya nilai SUBS bersifat negatif, karena semakin wisatawan mempunyai alternatif objek wisata di tempat lain maka akan menurunkan frekuensi jumlah kunjungan ke Museum Majapahit. Namun, dalam penelitian ini diperoleh koefisien SUBS bernilai positif, hal ini berati jika ada tempat wisata budaya lain di Mojokerto berarti akan meningkatkan frekuensi kunjungan ke Museum Majapahit. Lokasi substitusi disini dimungkinkan karena Museum Majapahit terletak di kawasan Situs Trowulan yang memiliki beragam alternatif wisata budaya.

b. Estimasi analisis metode biaya perjalanan dengan Poisson Regression (PR)

Untuk mengurangi bias yang ditimbulkan dari variabel dependen yang mempunyai sifat count variabel yaitu nilai 1, 2, dan 3 maka dilakukan juga estimasi dengan menggunakan Poisson Regression. Hasil estimasi tersaji dalam Tabel 6. Berdasarkan Tabel 6, Poisson regression memiliki hasil yang sama dengan hasil OLS dimana faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah kunjungan secara umum di kawasan Museum Majapahit adalah biaya perjalanan (TC), jarak perjalanan/zona individu i dari rumah hingga ke Museum Majapahit (ZONE), dan adanya substitusi tempat wisata di tempat lain (SUBS). Karena signifikansi hasil dari poisson regression (PR) sama dengan OLS maka hasil yang disajikan dari penelitian ini sudah sangat valid dan robust.

(12)

12 Koefisien TC = 1.61e-07 yang artinya jika variabel biaya perjalanan TC naik sebesar 1 juta maka variable jumlah kunjungan (V) akan naik sebesar 0.161 dengan asumsi ceteris paribus. Nilai TC berdasarkan teori/studi yang pernah dilakukan sebaiknya bernilai negatif. Namun dalam penelitian ini TC bernilai positif. Hal ini berarti, Museum Majapahit memiliki potensi untuk ditawarkan ke wisatawan yang biaya perjalanannya besar seperti wisawatawan mancanegara dan wisatawan dari luar kota.

Pada tabel 6, variabel lain yang signifikan adalah variabel ZONE dimana koefisien ZONE= -0.3691 yang artinya jika variabel ZONE naik sebesar 1 kilometer maka variable jumlah kunjungan (V) akan turun sebesar 0.3691 dengan asumsi variabel lain konstan/ceteris paribus. Hal ini berarti, Museum Majapahit memiliki potensi untuk ditawarkan ke wisatawan yang jarak perjalanannya dekat dan masih dalam ruang lingkup Provinsi Jawa Timur.

Faktor penentu jumlah kunjungan yang terakhir adalah substitusi objek wisata di tempat lain (asal responden). Diperoleh koefisien SUBS = 0.275 yang artinya jika variabel SUBS naik sebesar 1 satuan (1 lokasi substitusi) maka variabel jumlah kunjungan akan naik sebesar 0.275 dengan asumsi ceteris paribus. Menurut teori/studi sebelumnya sebaiknya nilai SUBS bersifat negatif, karena semakin wisatawan mempunyai alternatif objek wisata di tempat lain maka akan menurunkan frekuensi jumlah kunjungan ke Museum Majapahit. Namun, dalam penelitian ini diperoleh koefisien SUBS bernilai positif, hal ini berati jika ada tempat wisata budaya lain di Mojokerto berarti akan meningkatkan frekuensi kunjungan ke Museum Majapahit. Lokasi substitusi disini dimungkinkan karena Museum Majapahit terletak di kawasan Situs Trowulan yang memiliki beragam alternatif wisata budaya. Dengan demikian, pemerintah Kabupaten Mojokerto sebaiknya juga mengembangkan lokasi substitusi yang memungkinkan dapat menaikkan jumlah kunjungan ke Museum Majapahit. Koordinasi dan kerjasama perlu dilakukan dengan BPCB Jatim selaku pengelola kawasan Situs Trowulan (yang didalamnya juga terdapat Museum Majapahit). Misalnya, mengembangkan paket wisata budaya tinggalan Arkeologi bekas Kerajaan Majapahit dengan menggunakan shuttle bus gratis, pengembangan fasilitas wisata di kawasan situs termasuk Museum Majapahit, dan menjadikan Museum Majapahit sebagai hub antar objek wisata budaya menjadi suatu alternatif yang juga dapat dilakukan.

5.2.2. Kesediaan Membayar Pengunjung (Willingness to Pay/WTP) dari Metode Biaya Perjalanan di Museum Majapahit

Sebelum melakukan penghitungan kesediaan membayar pengunjung atas tiket masuk Museum Majapahit, dilakukan penghitungan melalui surplus konsumen terlebih dahulu. Dalam menghitung surplus konsumen, salah satu rumus dasar persamaan di atas yang dipergunakan dalam metode biaya perjalanan adalah rumus pada persamaan (3.4) yaitu WTP ≈ CS = . Dengan menggunakan output regresi tabel 5.6 dihitung nilai surplus konsumen untuk wisatawan yang berkunjung di Museum Majapahit dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 7. Surplus Konsumen dan Populasi Wisatawan Museum Majapahit (dalam rupiah) Jumlah

Kunjungan (V)

Nilai Surplus Konsumen (CS) n % N WTP

OLS PR OLS PR

1 1.633.986,93 3.105.590,06 97 53,59 24.107 67,779 128,82 2 6.535.947,71 12.422.360,25 38 20,99 9.444 692,06 1.315,35 3 14.705.882,35 27.950.310,56 46 25,41 11.432 1.286,33 2.444,83

22.875.816,99 43.478.260,87 181 100 44.984 2.046,18 3.889,01 Keterangan :

V : Jumlah Kunjungan N : Prosentase responden x populasi

wisatawan umum tahun 2014 (44.984)

OLS : Ordinary Least Square WTP : Konsumen surplus (CS/N)

PR : Poisson Regression

n : Jumlah Responden

% : Prosentase responden

Sumber: Data primer (2015), data diolah

(13)

13 Berdasarkan Tabel 7 di atas didapatkan hasil dari model estimasi OLS yaitu jumlah surplus konsumen sebesar Rp. 22.875.816,99,- dengan rata-rata konsumen surplus sebesar Rp. 7.625.272,3,- dan standar deviasi sebesar Rp. 6.603.679,50,-. Sedangkan untuk model estimasi Poisson Regression (PR) diperoleh jumlah surplus konsumen sebesar Rp. 43.478.260,87,- dengan rata-rata konsumen surplus sebesar Rp.

14.492.754,- dan standar deviasi sebesar Rp. 12.551.093,-. Hasil nilai surplus konsumen tersebut dapat disetarakan dengan nilai WTP responden apabila nilai surplus konsumen dibagi dengan jumlah wisatawan pada setiap level frekuensi kunjungan.

Dari Tabel 7, untuk metode OLS diketahui bahwa total WTP sebesar Rp. 2.046,18,- dan nilai rata- rata WTP sebesar Rp.682,06,- dengan nilai standar deviasi Rp. 609,34,-.. Sementara itu, untuk metode PR diketahui bahwa total WTP sebesar Rp. 3.889,01,- dan nilai rata-rata WTP sebesar Rp.1.296,34,- dengan nilai standar deviasi Rp. 1.158,12,-. Nilai total WTP sebesar Rp. 2.046,18,- untuk metode estimasi OLS dan Rp.

3.889,01,- untuk metode PR merupakan nilai optimal yang mampu dibayarkan oleh wisatawan untuk memperoleh kepuasan/utilitas berwisata di Museum Majapahit termasuk tarif masuk yang sudah berlaku saat ini. Nilai tersebut dapat dijadikan sebagai expected value atau nilai pertimbangan penetapan harga tiket masuk Museum Majapahit. Namun, berdasarkan data tersebut terlihat bahwa WTP pengunjung cukup rendah, baik dilihat dari metode OLS maupun PR. Rendahnya WTP tersebut dapat dikarenakan pengambilan sampel yang hanya terbatas pada pengunjung saat penelitian dilakukan. Sehingga, sensitivitas terhadap waktu pengambilan sampel juga perlu diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap hasil WTP yang cenderung akan berbeda pula.

WTP pengunjung bulan Mei 2015 cenderung lebih rendah dari harga tiket resmi yang ditetapkan oleh Pemkab Mojokerto yaitu Rp. 5.000,-. Penetapan harga tiket Rp. 5000,- tersebut memang belum lama diterapkan yakni sejak Bulan September 2014. Sehingga bisa saja expected value pengunjung masih berpatokan pada harga tiket lama yaitu Rp. 2.500,-, bahkan sebagian besar pengunjung cenderung menginginkan gratis. Rendahnya WTP pengunjung di bawah tarif resmi dapat disebabkan, bahwa asumsi yang masih ada di benak pengunjung bahwa museum tidak perlu bernilai profit karena dari sisi pengelolaan masih dikelola oleh pemerintah. Demikian pula halnya, seiring dengan misi BPCB Jatim sebagai pengelola Museum Majapahit yang mengutamakan pelestarian/konservasi dan lebih cenderung ke aspek edukasi. Rendahnya WTP pengunjung terhadap tarif tiket masuk Museum Majapahit juga terkait pada penilaian terhadap museum itu sendiri. Sebagaimana terlihat pada hasil studi yang pernah dilakukan terhadap museum di Indonesia pada umumnya, diantaranya oleh Susantio (2009) dan Ardiwidjaja (2013):

55-60), bahwa persepsi masyarakat terhadap museum belum terbangun dengan baik karena museum identik dengan kualitas yang masih rendah, bangunan kusam, tua, kotor, jauh dari ketertarikan untuk dikunjungi (beda dengan mengunjungi mal atau tempat wisata lain), dan bahkan tidak memberikan manfaat bagi kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politis. Kondisi museum di seluruh Indonesia pada umumnya yang dikelola oleh pemerintah hampir mengalami kondisi yang sama. Jika diibaratkan dengan suatu barang misalnya gado-gado dengan bahan-bahan yang sama, bumbu yang sama, kemasan yang sama dan penjual tersebar di mana-mana pastinya orang akan bersedia membayar dengan harga yang sama.

Kecuali di dalamnya ada sesuatu yang berbeda/unik/istimewa yang membuat orang bersedia membayar lebih mahal.

5.2.3. Nilai Ekonomi Dengan Menggunakan Metode Biaya Perjalanan di Museum Majapahit

Meskipun WTP pengunjung Museum Majapahit cukup rendah, perlu kiranya menghitung nilai ekonomi berdasarkan metode biaya perjalanan yang tersaji dalam tabel berikut:

Tabel 8. Nilai ekonomi dengan menggunakan metode biaya perjalanan

Metode Biaya Perjalanan Rata-rata

OLS PR

WTP 2.046,18 3.889,01 2.967,60

Jumlah Pengunjung (umum) 44.984

Nilai Ekonomi per tahun 92.045.361 174.943.226 133.494.293,48 Keterangan : OLS (ordinary least square), PR (poisson regression)

Berdasarkan tabel 8, diketahui bahwa nilai ekonomi dengan menggunakan metode biaya perjalanan baik dengan estimasi OLS maupun PR mempunyai potensi nilai yang cukup besar yakni Rp. 92.045.361,-

(14)

14 pertahun (pada OLS) dan Rp. 174.943.226,- per tahun (pada PR) apabila diterapkan tarif tiket masuk sesuai dengan WTP pengunjung yaitu Rp. 2.046,18,- (pada OLS) dan Rp. 3.889,01,- (pada PR). Sehingga diperoleh rata-rata nilai ekonomi per tahun sebesar Rp. 133.494.293,48,-. Jika dibandingkan dengan data pada tahun 2010 – 2012 jumlah penerimaan tiket masuk Museum Majapahit dari pengunjung yang membayar mencapai Rp. 46 juta hingga Rp. 92,5 juta (lihat Bab 1). Angka tersebut hampir mendekati nilai Rp. 92,045 juta dalam perhitungan penelitian ini, meskipun WTP pengunjung ternyata berada di bawah harga resmi yang ditetapkan Pemkab Mojokerto.

VI. PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Pertama, nilai ekonomi dengan menggunakan metode biaya perjalanan melalui model estimasi ordinary least square (OLS) adalah Rp. 92.045.361,- per tahun dan melalui estimasi poisson regression (PR) adalah Rp. 174.943.226,- per tahun. Maka, diperoleh rata-rata nilai ekonomi wisata budaya Museum Majapahit dari kedua estimasi tersebut yaitu Rp. 133.494.293,48,- per tahun. Namun, nilai ini hanya menunjukkan nilai ekonomi jika menggunakan perhitungan sampel responden pada bulan Mei 2015. Jika dihitung dengan sampel yang lebih besar dan waktu survei yang lebih lama kemungkinan akan dapat menghasilkan nilai ekonomi wisata budaya Museum Majapahit yang sebenarnya.

Kedua, berdasarkan analisis yang telah dilakukan harga tiket yang berlaku saat ini (Rp.5.000,-) dinilai masih terlalu tinggi oleh pengunjung. Terlihat WTP pengunjung jika berdasarkan rata-rata dari estimasi OLS dan PR hanya sebesar Rp. 2.967,60,-. Hal ini menunjukkan bahwa pengunjung tidak mengalami surplus atas harga yang dibayarkannya untuk mendapatkan sejumlah utilitas dari apa yang diharapkannya. Nilai WTP yang dihasilkan dalam penelitian ini belum mencerminkan nilai dari seluruh pengunjung per tahun, tetapi hanya pengunjung pada bulan Mei 2015. Ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan ke Museum Majapahit berdasarkan estimasi OLS dan PR adalah biaya perjalanan (TC), jarak/zona (ZONE), dan adanya lokasi substitusi tempat wisata budaya di tempat lain (SUBS). Biaya perjalanan merupakan faktor penentu dari metode biaya perjalanan dalam perhitungan valuasi ekonomi karena transportasi menuju Museum Majapahit masih menjadi kendala sampai saat ini. Demikian pula dengan lokasi substitusi wisata budaya, seperti diketahui bahwa Museum Majapahit terletak di kawasan Situs Trowulan yang jumlahnya tidak sedikit dan tersebar di beberapa lokasi. Sehingga memungkinkan pengunjung melakukan kunjungan ke suatu candi/situs tetapi tidak mengunjungi Museum Majapahit.

6.2. Rekomendasi

6.2.1. Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan nilai WTP individu, maka harga tiket yang berlaku di Museum Majapahit saat ini masih dinilai cukup tinggi oleh pengunjung. Sehingga untuk beberapa tahun ke depan Pemkab Mojokerto tidak perlu melakukan kenaikan tiket masuk, kecuali jika ada penambahan fasilitas layanan wisata yang lebih menarik dan unik guna menambah nilai utilitas yang diperoleh pengunjung.

Berdasarkan hasil analisis atas tiga variabel yang siginifikan, maka beberapa hal yang perlu dilakukan bagi Pemkab Mojokerto dan BPCB Jatim, Koefisien regresi biaya perjalanan (TC) dan jumlah kunjungan (V) bernilai positif. Hal ini berarti, Museum Majapahit memiliki potensi untuk dipromosikan/ditawarkan ke wisatawan yang biaya perjalanannya besar seperti wisatawan mancanegara dan wisatawan dari luar kota. Koefisien ZONE bernilai negatif artinya Museum Majapahit juga memiliki potensi besar untuk dipromosikan/ditawarkan ke wisatawan dengan jarak perjalanannya dekat dan masih dalam ruang lingkup Provinsi Jawa Timur. Selain itu, pemerintah perlu mengembangkan infrastruktur seperti akses jalan dan moda transportasi yang baik, pembangunan jalan tol dari Surabaya atau Yogyakarta, penyediaan bis wisata atau kereta wisata, sehingga waktu tempuh perjalanan wisatawan menuju lokasi lebih cepat dan lebih nyaman. Koefisien SUBS bernilai positif, hal ini berarti jika ada tempat wisata budaya lain di Mojokerto maka akan meningkatkan frekuensi kunjungan ke Museum Majapahit. Lokasi substitusi disini dimungkinkan karena Museum Majapahit terletak di kawasan Situs Trowulan yang memiliki beragam alternatif wisata budaya dan jenis wisata lainnya, ditambah sifat perjalanan wisatawan yang umumnya melakukan perjalanan yang multitrip. Sehingga, Pemerintah Kabupaten Mojokerto sebaiknya juga mengembangkan lokasi substitusi yang memungkinkan dapat menaikkan jumlah kunjungan ke Museum Majapahit. Misalnya melalui pengembangan paket wisata budaya tinggalan Arkeologi bekas Kerajaan

(15)

15 Majapahit dengan menggunakan shuttle bus gratis, peningkatan penyediaan atraksi dan fasilitas wisata di kawasan situs termasuk Museum Majapahit, menjadikan Museum Majapahit sebagai hub antar objek wisata budaya, pengembangan zona wisata di area situs Trowulan khususnya seperti souvenir, kuliner, kerajinan rakyat, kesenian rakyat, dan lain-lain.

Guna menunjang pengembangan wisata budaya Museum Majapahit perlu dilakukan peningkatan koordinasi yang lebih intensif antara Pemkab Mojokerto dan BPCB Jatim dalam mengomunikasikan tinggalan/warisan situs bekas Kerajaan Majapahit (terutama yang ada di Museum Majapahit) kepada masyarakat luas. Komunikasi biasanya dalam bentuk promosi yaitu penyediaan website yang lebih menarik dan informatif, misalnya informasi peta wisata, biaya perjalanan, rute kendaraan, lama waktu perjalanan yang dibutuhkan, tempat menginap beserta biayanya, jadwal transportasi umum (darat, laut, udara), dan lain-lain. Disporabudpar dan BPCB Jatim perlu meningkatkan penyediaan fasilitas lingkungan internal Museum, misalnya peningkatan ketersediaan informasi (peningkatan SDM pemandu, website, leaflet, brosur, buku), penyediaan toilet yang bersih dan memadai, penyediaan tempat duduk/tempat istirahat di area museum, dan perbaikan sekaligus penambahan fasilitas pendukung wisata budaya lainnya. Perlunya meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengembangan paket wisata budaya Museum Majapahit, serta melibatkan masyarakat lokal dalam setiap even yang dilakukan di Museum Majapahit.

6.2.2. Rekomendasi untuk Penelitian Berikutnya

Melakukan penelitian yang membedakan jenis wisatawan antara wisatawan nusantara dan mancanegara sehingga bisa diidentifikasi bagaimana pengaruh biaya perjalanan bagi wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Selain itu, melakukan penelitian mengenai nilai ekonomi Museum Majapahit menggunakan metode lain seperti Contingent Valuation, Contingent Choice, dan metode lainnya agar bisa dilakukan perbandingan dengan penelitian nilai ekonomi dengan metode biaya perjalanan (travel cost method/TCM). Serta melihat nilai ekonomi keberadaan Museum Majapahit terhadap masyarakat sekitar/nilai lingkungan.

6.3. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan yang ada dalam penelitian ini diantaranya adalah valuasi ekonomi wisata budaya Museum Majapahit hanya didekati dari nilai ekonomi dari jasa wisata. Biaya perjalanan hanya dihitung dari pengunjung yang datang di Museum Majapahit pada minggu kedua bulan Mei 2015 dan diasumsikan pengunjung hanya melakukan perjalanan tunggal (single trip), sementara dimungkinkan adanya multitrip pengunjung. Maka, perlu dilakukan penyesuaian terhadap waktu penelitian karena ada sensitivitas waktu dalam menentukan biaya perjalanan atau jumlah kunjungan. Selain itu, dalam data biaya perjalanan perlu dilakukan pemisahan besaran biaya perjalanan yang benar-benar dikeluarkan untuk menempuh biaya perjalanan. Sehingga, bias terhadap jawaban responden dapat dihindari.

WTP dan nilai manfaat yang dihitung hanya terkait penilaian penggunaan langsung dari TCM dan lebih spesifik hanya terkait dengan tarif masuk museum. Padahal nilai ekonomi tidak hanya dilihat dari besaran tarif saja. Tetapi, ada nilai-nilai ekonomi lain seperti nilai non penggunaan seperti warisan budaya dan nilai penggunaan tidak langsung seperti memperkuat identitas bangsa, memperkokoh rasa cinta tanah air, dan meningkatkan kunjungan wisatawan. Dikarenakan keterbatasan biaya dan waktu penelitian, maka penentuan nilai kritis pengambilan sampling hanya ditentukan 7,5 persen. Kemungkinan terjadinya selection bias dalam pemilihan sampel, dimana bila sampel yang dipilih berbeda dan dalam periode waktu yang berbeda maka hasilnya juga akan berbeda. Data primer yang digunakan dalam studi ini adalah data primer atas survei yang dilakukan selama penelitian saja yaitu minggu ke-2 bulan Mei 2015.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiwidjaja. Roby. (2013). Pengembangan Daya Tarik Museum: Museum Sumber Inspirasi Industri Kreatif.

Yogyakarta: Kepel Press.

Arikunto, Suaharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Bedate, Ana., Herrero, Luis Cesar., & Sanz, Jose Angel. (2003). Economic Valuation of the Cultural Heritage:

Application to Four Case Studies in Spain. Journal of Cultural Heritage. Vol.5 Issue 1. Jan - March 2004.

p. 101-111.

BPCBJatim. (2009-2013). Laporan Tahunan BPCB Jawa Timur. Mojokerto: BPCB Jawa Timur, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan.

BPSKabMojokerto. (2014). Statistik Daerah Kecamatan Trowulan 2014. Mojokerto: BPS Kabupaten Mojokerto.

(16)

16 BPSMojokerto. (2014). Kecamatan Trowulan Dalam Angka. Kabupaten Mojokerto: BPS Kabupaten Mojokerto.

BPSMojokerto. (2013). PDRB Kabupaten Mojokerto Menurut Lapangan Usaha 2010-2013. Mojokerto: CV.

Anindita Pratama, Mojokerto.

Budi, Anto. (2014, Maret 31). Libur Nyepi, Wisata Sejarah di Trowulan Ramai Dikunjungi Wisatawan. Dipetik Desember 22, 2014, dari http://jatimupdate.com: http://jatimupdate.com/berita-libur-nyepi- wisata-sejarah-di-trowulan-ramai-dikunjungi-wisatawan.html#ixzz3MtGEvXrI

Depbudpar. (2008). Monografi Museum Jawa dan Bali. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Disporabudparmojokertokab. (2014). Pariwisata. Dipetik Desember 2, 2014, dari http://disporabudpar.mojokertokab.go.id:

http://disporabudpar.mojokertokab.go.id/pariwisata_2_satuan-kawasan-wisata.aspx

Drukker, D. M. 2003. Testing for serial correlation in linear panel-data models. Stata Journal (3)2: 168-177 Fauzi, Akhmad. (2014). Valuasi Ekonomi dan Penilaian Kerusakan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Bogor: PT.

Penerbit IPB Press.

Fauzi, Ridwan. (2013). Valuasi Ekonomi Taman Nasional Kelimutu Melalui Pendekatan Nilai Ekonomi Wisata, Tesis Program Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, Depok.

Fleming, C.M. and Cook, A. (2008). The Recreational Value of Lake McKenzie, Fraser Island: an Application of the Travel Cost Method. The Journal of Tourism Management, 29. pp. 1197 - 1205.

Greene, W. H. (2002). Econometric Analysis. 7th ed. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. 198-200.

Gujarati, Damodar.N. (2004). Basic Econometrics, Fourth Edition. New York: The McGraw-

ICOM. (2010 - 2015). Museum Definition. Dipetik Maret 31, 2015, dari www.icom.museum:

http://icom.museum/the-vision/museum-definition/

Kemparekraf. (2014). Rekapitulasi Wisnus 2009 - 2013. Dipetik November 30, 2014, dari www.parekraf.go.id:

http://www.parekraf.go.id/userfiles/file/B_1%20Rekapitulasi%20Wisnus%202009%20-2013(1).pdf Kusumajaya, I. Made., Aris, Soviyani., & Nugroho, Wicaksono. Dwi. (2013). Buku Panduan 'Mengenal

Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan'. Dipetik Mei 5, 2015, dari http://museummajapahit.blogspot.com/: http://museummajapahit.blogspot.com/

Kuswanto (2013), Kajian Konsep Open-Air Museum Studi Kasus Kawasan Cagar Budaya Trowulan, Tesis. tidak diterbitkan. Program Studi S2 Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok.

Lathif, Abdul. (2011, September 30). Kalangan Pelajar Dominasi Kunjungan Museum Majapahit. Dipetik April

06, 2015, dari www.tekno.kompas.com:

tekno.kompas.com/read/2011/09/3017522310/kalangan.pelajar.dominasi.kunjungan.museum.maja pahit

Maddison, David., & Foster, Telly. (2003). Valuing Congestion Costs in The British Museum. Oxford Journals, Oxford Economic Papers, Vol. 55 No.1, January , 173-190.

Mankiw, N. Gregory. (2011). Principles of Microeconomics. Sixth Edition. Kanada: Harvard University.

Mazzanti, Massimiliano. (2003). Valuing Cultural Heritage in A Multi-Attribute Framework Microeconomic Perspectives and Policy Implications. Journal of Socio-Economics 32. www.elsevier.com , 549-569.

Mohammed, Jamal., & Ohene, Kwasi. Amoako. (2013). Economic Valuation of The Cultural Heritage: The Context of Viewing Artifacts Located at The Asante Manhyia Palace Museum. Researchjournali's Journal of Economics, Vol.1|No.2 December|2013 ISSN 2347-8233 , 1-14.

museumindonesia. (2009). Pusat Informasi Majapahit. Dipetik Maret 30, 2015, dari www.museumindonesia.com:

http://www.museumindonesia.com/museum/53/1/Pusat_Informasi_Majapahit_Trowulan,_Mojo kerto

O'Brien, Dave. (2010). Measuring the Value of Culture: a Report to the Department for Culture and Media Sport.

UK: DCMS & ESRC & Arts & HUmanities Research Council.

Patunru, Arianto A. (2010). Valuasi Ekonomi Untuk Lingkungan. Dipetik 8 Juni 2015, dari www.patunru.org/site/Articles_files/Valuasi.pdf

Prasetyo, Bambang., & Jannah, Miftahul. (2005). Metode Penelitian Kuantitatif Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada.

Richards, Greg., & Munsters, Wil. (2010). Development and Perspectives in Cultural Tourism Research. Dalam G.

Richards, & W. Munsters, Cultural Tourism Research and Methods (hal. 3). London, UK: CABI Organization.

Sewoyo, Hendro. (2004). Pariwisata Sebagai Pilihan Bentuk Pemanfaatan Warisan Budaya Situs Trowulan: Sebuah Gagasan Awal. Dipetik Desember 20, 2014, dari www.duniaesai.com:

Referensi

Dokumen terkait

Pengembangan museum situs di desa dayu sebagai kawasan wisata interaktif kehidupan manusia purba adalah perencanaan bangunan dan lingkungan yang berfungsi sebagai tempat

memberikan rahmat, berkah, dan anugerah kepada penulis sehingga penulis dapat menyeleseikan skripsi yang berjudul “VALUASI EKONOMI OBJEK WISATA MUSEUM PURBAKALA TRINIL DI

1) Lokasi yang strategis, dimana sarana transportasi yang mudah didapat dan kondisi jalan yang cukup baik, serta jaraknya yang hanya ± 12 km dari kota mojokerto

Sedangkan wilayah merupakan satu kesataun alam, yaitu alam yang serba sama, atau homogen atau segaram dan kesatuan manusia yaitu masyarakat serta kebudayaan yang serba sama

Kawasan cagar budaya Trowulan dibagi menjadi 3 zona, yiutu zona inti, oendukung langsung, dan pendukung tidak langsung untuk pembedaan arahan dalam tiap-tiap zona. Zona

Museum Karst Indonesia yang dibangun dengan tiga tujuan utama yaitu rekreasi, edukasi dan konservasi (Amarulaziz, 2017) sudah tentu menjadikan tujuan museum untuk tempat wisata

“Arah Pengembangan Kampung Majapahit sebagai Desa Wisata pada Kawasan Cagar Budaya Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto”.. Jurnal

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Permintaan Wisatawan di Wisata Alam Teluk Ijo Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh